• Tidak ada hasil yang ditemukan

diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember"

Copied!
143
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Fokus Penelitian

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Kami berharap hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan khususnya mengenai nilai-nilai pendidikan Islam dan seni tari Glipang, serta dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya yang serupa dengan penelitian ini. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan menambah pengetahuan tentang nilai-nilai pendidikan Islam dan seni tari Glipang pada masyarakat Desa Pendil Kabupaten Probolinggo.

Definisi Istilah

Sebagai bahan kajian untuk melengkapi literatur-literatur yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan Islam dan seni tari Glipang. Dapat disimpulkan bahwa seni tari Glipang yang disebutkan dalam penelitian ini merupakan karya yang dihasilkan dalam bentuk tari yang sudah menjadi kegiatan umum masyarakat Desa Pendil Kabupaten Probolinggo.

Sistematika Pembahasan

KAJIAN KEPUSTAKAAN

Kajian Teori

Jadi, nilai-nilai pendidikan Islam adalah ciri-ciri atau hal-hal yang melekat pada pendidikan Islam, yang dijadikan landasan manusia untuk mencapai tujuan hidup manusia, yaitu pengabdian kepada Allah (swt). Malaikat adalah makhluk yang tidak pernah berbuat dosa dan selalu bertakwa dan taat kepada Allah SWT.

METODE PENELITIAN

  • Lokasi Penelitian
  • Subyek Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Analisis Data
  • Keabsahan Data
  • Tahap-tahap penelitian

Kemudian data tersebut dianalisis secara kualitatif untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan Islam dalam seni Tari Glipang di Desa Pendil Kabupaten Probolinggo. Ia berharap seni Tari Glipang dapat berkembang di Desa Pendil, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo. Fungsi Seni Tari Glipang di Desa Pendil Kabupaten Probolinggo. Setiap seni mempunyai fungsinya masing-masing.

PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

Gambaran Umum Lokasi Penelitian dan Kependudukan

Jika lokasi kampung Pendil dari Surabaya bisa melalui Jalan Pantai Utara (Pantura) menuju ke arah Banyuwangi; Masuk kawasan Probolinggo berhenti di Kecamatan Gending yang juga terkenal dengan pabrik gulanya yang berjarak ± 6 km dari kota Probolinggo, kemudian bergerak ke arah selatan hingga melintasi Kabupaten Banyuyanyar dan masih terus berjalan ± 7 km dan akan sampai di Desa Pendil. 92. Batas Desa Pendil berbatasan dengan Desa Pikatan di sebelah utara, Desa Tarokan di sebelah selatan, Desa Sebaung dan gapura di sebelah barat. Dari data di atas terlihat bahwa penduduk di Desa Pendil Kecamatan Banyuyanyar Kabupaten Probolinggo masih memiliki jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan.

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk berdasarkan Umur
Tabel 4.1 Jumlah Penduduk berdasarkan Umur

Sosial Budaya

Dengan demikian dapat dilihat bahwa sebagian besar penduduk Desa Pendil Kecamatan Banyuyanyar Kabupaten Probolinggo telah mengenyam pendidikan formal, dan jenjang pendidikan tertinggi dipegang oleh lulusan sekolah dasar. Berdasarkan informasi yang diperoleh, masyarakat Desa Pendil Kecamatan Banyuyanyar Kabupaten Probolinggo mayoritas menganut agama Islam. Tempat ibadah di Desa Pendil, Kecamatan Banyuyanyar, Kabupaten Probolinggo meliputi 4 buah masjid dan 31 musala.

Dari tabel diatas terlihat bahwa mayoritas penduduk Desa Pendil Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo beragama Islam. Warga Desa Pendil, Kecamatan Banyuyanyar, Kabupaten Probolinggo memiliki berbagai jenis mata pencaharian yang mereka jalani untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk mengetahui keberagaman mata pencaharian masyarakat Desa Pendil Kecamatan Banyuyanyar Kabupaten Probolinggo dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Pendil Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo bermatapencaharian sebagai pegawai. Ada sebuah kesenian yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Pendil Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo yaitu tari Glipang. Daftar kesenian yang ada di Desa Pendil Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.3 Jenis Pendidikan
Tabel 4.3 Jenis Pendidikan

Sejarah Tari Glipang di Desa Pendil

Bentuk kesenian Glipang pada mulanya berupa gerak-gerak silat lengkap, yang pada perkembangan selanjutnya dimasukkan ke dalam tarian. Oleh masyarakat pada masa itu, kesenian Glipang banyak digunakan sebagai hiburan dan seni pertunjukan pada hari-hari besar Islam. Pada tahun 1950, di bawah kepemimpinan Kartodirjo dibantu istrinya Asiah, kesenian Glipang terus berkembang pesat.

Kesenian Glipang sangat populer di kalangan masyarakat baik di Desa Pendil maupun diluar Desa Pendil seperti Pasuruan, Lumajang, Jember dan Banyuwangi. Sekitar tahun 1964, kesenian Glipang sempat dipentaskan di Kabupaten Banyuwangi, namun sayang bagi rombongan, kendaraan yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan sekembalinya dari pementasan dan terjatuh ke jurang. Sejak saat itu kesenian Glipang hampir punah, baru setelah tahun 1970-an kesenian Glipang mulai hidup kembali, di bawah kepemimpinan Soeparmo, putra Asiah.

Saat itu kesenian Glipang belum mendapat perhatian dari pemerintah, berkat kerja keras Soeparmo dan kawan-kawan berhasil menghimpun orang-orang yang mempunyai jiwa seni. Kesenian Glipang, tepatnya pada tanggal 5 Februari 1985 Sanggar Andhika Jaya resmi terdaftar di Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur. Hingga saat ini kesenian Tari Glipang telah menjadi warisan budaya yang ada di Probolinggo dan tidak bisa ditinggalkan sebagai suatu kebiasaan masyarakat Probolinggo khususnya masyarakat Desa Pendil.

Fungsi kesenian Tari Glipang di Desa Pendil

Dari hasil observasi peneliti yaitu Bpk. Soeparmo selaku ketua paguyuban seni tari Glipang, saat azan dikumandangkan, bergegas menuju masjid dan salat berjamaah. Hal ini menggambarkan bahwa Pak. Soeparmo selalu salat tepat waktu sehingga menjadi teladan yang baik bagi anak-anak.100.

Unsur-unsur dalam Kesenian Tari Glipang di Desa Pendil

Dilihat dari segi teknisnya, gerak-gerik seni tari Glipang bersifat sederhana dan hanya berupa gerakan-gerakan yang berulang-ulang. Jumlah penari dalam seni tari Glipang pada umumnya terdiri dari 4 (empat) orang penari, namun bisa juga lebih dari 4 (empat) orang penari tergantung permintaan dan luas atau besarnya panggung. Namun sesuai dengan perkembangan kondisi masyarakat yang semakin maju, seni tari Glipang dapat dibawakan oleh penari wanita.

Tata cara berpakaian dimaksudkan agar penari terlihat sopan sehingga pemilihan busana dalam seni tari Glipang mendapat perhatian yang besar. Berdasarkan hasil observasi, pakaian yang digunakan dalam penyajian seni tari Glipang pada masa lalu sebenarnya tidak berbeda dengan pakaian pada masa sekarang, yaitu :. Tidak ada perbedaan pakaian yang digunakan dalam tari Glipang antara penari yang satu dengan penari yang lain karena tidak ada perbedaan watak atau peran dalam kesenian tersebut.

Dalam seni tari Glipang juga harus memperhatikan unsur tata rias, agar tampilannya menarik dan sesuai dengan apa yang dibawakan. Jadi dapat kita lihat bahwa dalam seni tari Glipang terdapat unsur-unsur pendukungnya dan setiap unsur baik gerak, pengiring, tata rias maupun busana mempunyai nilai estetis. Alat musik dalam tari Glipang terlihat dari pola ketukan atau pengiring yang dibawakan sehingga pola geraknya mengikuti pola pengiring.

Gambar 4.1 Jelen Glipangan                    Gambar 4.2 Prapatan       Gambar 4.3 Sembahan                                      (Dokumentasi: Erfan Prasetyo, 07 Januari 2018)
Gambar 4.1 Jelen Glipangan Gambar 4.2 Prapatan Gambar 4.3 Sembahan (Dokumentasi: Erfan Prasetyo, 07 Januari 2018)

Penyajian Data dan Analisis

  • Nilai Akidah dalam Kesenian Tari Glipang
  • Nilai Ibadah dalam Kesenian Tari Glipang
  • Nilai Akhlak dalam Kesenian Tari Glipang

Bagian seni tari Glipang yang berkaitan dengan kepercayaan juga dilambangkan dengan pemilihan jumlah alat musik yaitu jidor yang. Tujuan dari nilai-nilai aqidah dalam seni tari Glipang adalah agar anak lebih memahami dan mengimani Keesaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta.” 111. Kemudian dari hasil observasi peneliti mengenai proses penanaman nilai-nilai keagamaan nilai-nilai dalam seni tari Glipang, Pak Soeparmo selalu mengingatkan anak-anak untuk berdoa terlebih dahulu sebelum latihan menari.

Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dapat diketahui bahwa proses penanaman nilai religi pada seni tari Glipang adalah pertama-tama yang dilakukan adalah berdoa terlebih dahulu kepada Allah SWT sebelum melakukan latihan tari Glipang ( terlampir) : lampiran 5, gambar 7). Menurut saya, tujuan penanaman nilai ibadah dalam seni tari Glipang adalah agar anak selalu mendekatkan diri dan berserah diri kepada Allah SWT dengan selalu berdoa kepada Allah SWT.” 121. “Dengan tujuan menanamkan nilai-nilai ibadah kepada Allah SWT.” ​beribadah dalam seni tari Glipang, agar anak-anak terbiasa untuk selalu mendekatkan diri dan berserah diri kepada Allah SWT dengan selalu berdoa kepada-Nya.” 123.

Proses penanaman nilai ibadah dalam seni tari Glipang, yaitu sebelum anak berlatih tari Glipang, anak berkumpul bersama temannya kemudian membacakan Surat Al-. Berikut syair-syair yang terdapat dalam seni tari Glipang berupa kata-kata santun yang menunjukkan ajaran agama Islam terkait dengan akhlak.129. “Berkaitan dengan moralitas dalam seni tari glipang, tujuannya adalah untuk menanamkan pada diri anak agar mempunyai budi pekerti yang baik dan menghormati orang yang lebih tua.” 132.

Pembahasan Temuan

Hasil survei nilai-nilai pendidikan Islam pada seni tari Glipang di desa Pendil provinsi Probolinggo menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai pendidikan Islam yaitu agama, ibadah dan akhlak. Pada bagian ini akan dibahas tentang nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam seni tari Glipang. Kemudian nilai keimanan dalam seni tari Glipang terdapat pada kebiasaan berdoa terlebih dahulu kepada Allah SWT sebelum berlatih tari Glipang.

Tujuan seni tari Glipang diadakan adalah supaya kanak-kanak lebih memahami dan meyakini keesaan Tuhan sebagai pencipta alam. Nilai ibadah dalam seni tari Glipang terdapat pada kebiasaan berdoa ketika memulakan latihan tari Glipang dengan membaca Surah Al-Fatihah, berdoa tiga kali dan mengucapkan kalimah Hamdalah selepas memulakan latihan tari Glipang yang dilakukan dan terdapat dalam gerakan Ngong Ngang Salang dengan melafazkan kalimah Allahu Akbar dalam hati Nilai keimanan dalam seni tari Glipang terdapat dalam puisi dalam muzik yang mengandungi tentang Keesaan Tuhan, gerakan Ngong Ngang Salang yang melambangkan lafaz Tuhan dan 30 juz al-Quran dilambangkan dengan satu jidor melambangkan keesaan Tuhan dan dua ketipung melambangkan dua kalimah syahadat dan adat berdoa kepada Allah SWT terlebih dahulu sebelum mengamalkan tarian Glipang.

Nilai ibadah dalam seni tari Glipang terdapat pada kebiasaan berdoa pada saat memulai latihan tari Glipang dengan membaca Al-Fatihah, berdoa sebanyak tiga kali dan mengucapkan kalimat hamdalah setelah berlatih tari Glipang dan juga dalam Ngong Ngang Salang. gerakan sambil membaca kalimat Allahu Akbar dalam hati. Kesenian ini patut mendapat perhatian lebih terutama dalam hal pemberian subsidi atau pendanaan bagi pengembangan seni tari Glipang. Sebab seni tari Glipang berasal dari seni Islam yang mengandung nilai-nilai pendidikan Islam.

PENUTUP

Saran-saran

Mempromosikan lebih lanjut keberadaan seni tari Glipang agar masyarakat luas dapat mengetahui dan menyukainya serta semakin banyak orang yang mengundangnya pada acara hajatan, pernikahan dan lain sebagainya. Diharapkan para seniman dapat terus menjaga eksistensi seni tari Glipang dan dapat mengajak generasi baru untuk berpartisipasi. Dengan judul skripsi “Nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam tradisi desa Selametan pada masyarakat desa Watutulis kecamatan Prampon kabupaten Sidoarjo”.

Seni tari Glipang di Kabupaten Probolinggo, kajian deskriptif makna simbolik tari Glipang dari sudut pandang senimannya. Dengan judul skripsi Tradisi Tumpeng Sewu Sebagai Media Transformasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Pada Masyarakat Desa Kemiren Banyuwangi.”

Gambar 1.Kondisi objek penelitian
Gambar 1.Kondisi objek penelitian

Referensi

Dokumen terkait