PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Biaya operasi yang dikeluarkan oleh PT Industri Kapal Indonesia (Persero) pertama-tama terdiri dari biaya operasi langsung, yaitu biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam melakukan kegiatan operasi langsung. Kedua biaya operasi tidak langsung merupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan sebagai akibat dari koordinasi kegiatan operasional. Dalam hal ini, biaya operasional PT Industri Kapal Indonesia (Persero) harus dikendalikan agar biaya operasional dikeluarkan seefisien mungkin dan pendapatan perusahaan dapat meningkat.
Berikut adalah data laporan biaya operasional PT Industri Kapal Indonesia (Persero) 2 tahun terakhir yang dapat disajikan pada tabel 1.1 yaitu sebagai berikut. Kemudian pada tahun 2019 biaya operasional perusahaan PT.industri perkapalan Indonesia terus tumbuh sebesar 2% dari Rp. Berdasarkan uraian yang telah diuraikan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Biaya Operasional Terhadap Tingkat Profitabilitas Pada PT Industri Kapal Indonesia (Persero)”.
Rumusan Masalah
Dalam pengeluaran biaya operasi diharapkan perusahaan dapat menggunakannya secara efisien, sehingga perusahaan dapat mencapai laba yang optimal. Apabila dalam perusahaan terjadi penurunan atau peningkatan biaya operasi, maka perusahaan mengalami hambatan untuk mencapai laba yang maksimal yang berakibat pada penurunan profitabilitas perusahaan.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Kerangka Teori
- Pengertian Manajemen Keuangan
- Tujuan Manajemen Keuangan
- Fungsi Manajemen Keuangan
- Biaya
- Pengertian Biaya
- Penggolongan Biaya
- Klasifikasi Biaya
- Pengertian Operasional
- Pengertian Biaya Operasional
- Unsur-unsur Biaya Operasional
- Tujuan Biaya Operasional dan Analisis Biaya Operasional
- Manfaat Data Biaya Operasional
- Elemen-elemen Biaya Operasional
- Pengertian Profitabilitas
- Efisiensi Biaya
- Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas
- Tujuan dan Manfaat Profitabilitas
- Hubungan Biaya Operasional Dengan
Biaya produksi merupakan biaya yang dikeluarkan untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Biaya langsung (direct cost) adalah biaya yang terjadi yang satu-satunya penyebabnya adalah sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung (indirect cost) adalah biaya yang tidak timbul hanya sebagai akibat dari sesuatu yang dibiayai.
Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisaran perubahan jumlah aktivitas tertentu. Biaya variabel adalah biaya yang perubahan totalnya berubah sehubungan dengan perubahan volume aktivitas. Biaya langsung adalah biaya yang terjadi dimana satu-satunya alasan adalah karena sesuatu perlu dibiayai.
Biaya tidak langsung (indirect cost) adalah biaya yang dikeluarkan bukan hanya karena sesuatu yang dibiayai, tetapi dalam kaitannya dengan produk, biaya tidak langsung dikenal dengan biaya overhead pabrik. Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan dalam pengoperasian sistem atau pengelolaan sistem. Biaya tambahan adalah biaya yang dikeluarkan sebagai akibat dari peningkatan atau penurunan output (biasanya akibat dari kegiatan produksi/operasional).
Biaya hangus adalah biaya yang telah dikeluarkan dan tidak lagi relevan dengan perhitungan biaya dan imbalan. Secara umum, biaya operasional didefinisikan sebagai biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan operasi yang dilakukan oleh perusahaan dan diukur dalam satuan moneter. Menurut Yusuf dalam Dita Juliana (2017:33) biaya operasional adalah biaya yang tidak berhubungan langsung dengan produk perusahaan, tetapi berhubungan dengan kegiatan operasional perusahaan sehari-hari.
22 Singkatnya, biaya operasional adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk melanjutkan kegiatan atau operasi bisnis perusahaan. Efisiensi biaya berarti bahwa biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan laba lebih kecil daripada manfaat yang timbul dari penggunaan. Beban usaha perusahaan dapat diartikan sebagai biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan utama perusahaan untuk proses penciptaan pendapatan yang pada hakekatnya mempunyai masa manfaat tidak lebih dari satu tahun.
Kerangka Pikir
Hipotesis
METODE PENELITIAN
- Daerah dan Waktu Penelitian
- Metode Pengumpulan Data
- Jenis dan Sumber Data
- Metode Analisis
- Definisi Operasional
Operating cost of operating income (BOPO) digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengendalikan beban operasi relatif terhadap laba operasi. Biaya operasi (X) adalah pengelolaan elemen biaya yang dihitung secara tepat, yang menjadi dasar bagi perusahaan untuk menghitung berapa sebenarnya biaya yang dikeluarkan. Dengan demikian, PT Industri Kapal Indonesia (Persero) selalu menjaga kualitas produk yang dihasilkan perusahaan.
Dalam menganalisis data biaya operasional pada tingkat profitabilitas, akan disajikan data yang diperoleh dari PT Industri Kapal Indonesia (Persero) yang merupakan data internal berupa laporan keuangan tahun 2016 sampai dengan tahun 2019. Analisis biaya operasional pada tingkat profitabilitas adalah dilakukan menurut metode biaya Laba Operasional (BOPO) dan Net Profit Margin (NPM). Operating Expenses Operating Income (BOPO), yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengendalikan beban operasional relatif terhadap pendapatan operasional.
Fungsi beban usaha adalah untuk melihat masa depan usaha tersebut, apakah usaha tersebut masih dapat berjalan dengan lancar atau tidak. 51 Analisis biaya operasional PT Industri Kapal Indonesia (Persero) selama empat tahun terakhir (2016 – 2019). Sedangkan pada tahun 2019, BOPO menghasilkan 0,241 atau 24,1% dari beban usaha dan hasil bagi hasil usaha.
Pendapatan Operasional Biaya Operasional (BOPO) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengendalikan biaya operasi terhadap pendapatan operasi Dari tabel 4.3 diketahui bahwa pendapatan operasi biaya operasi (BOPO) PT Industri Kapal Indonesia (Persero) terus berubah setiap tahunnya. Biaya operasional pada PT Industri Kapal Indonesia (Persero) berdasarkan hasil perhitungan dengan rumus BOPO kurang efisien pada tahun tersebut dan angka yang dihasilkan sebesar 24,1%. Pengaruh Likuiditas dan Biaya Operasional Terhadap Profitabilitas (ROA) (Survei Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun Terpilih 2020.
Pengaruh Biaya Operasional dan Volume Penjualan Terhadap Laba Bersih dengan Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai Variabel Pemoderasi (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Barang Konsumsi Sub Rokok Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2009-2016).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum
- Sejarah Singkat Perusahaan
- Tujuan Perusahaan
- Visi Dan Misi
- Struktur Organisasi
- Uraian Tugas Dan Tanggung Jawab
Pada tahun 1962 di Makassar telah dimulai pembangunan dua proyek galangan kapal, yaitu proyek galangan kapal Paotere dan proyek galangan kapal Tallo. Sedangkan galangan kapal Tallo dibangun oleh Departemen Urusan Veteran dan Demobilitas yang dimaksudkan untuk memproduksi kapal kayu dengan bobot mati hingga 300 ton. Proyek pekarangan Paotere tidak memiliki peralatan sama sekali pada saat itu, sedangkan proyek pekarangan Tallo sudah memiliki peralatan mesin dan perlengkapan lainnya yang diimpor dari Polandia.
Galangan Kapal Makassar tahap pertama diresmikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian yang saat itu mewakili Kementerian Pertambangan pada tanggal 7 Maret 1970. Galangan Kapal Makassar ini memiliki slipway horizontal yang terletak di Pantai Paotere, Kecamatan Tallo , Kota Makassar bagian utara dengan luas 250.000 m2. Industri Kapal Indonesia (Persero) atau disingkat PT.IKI didirikan berdasarkan Akta Pendirian No.122 tanggal 29 Oktober 1977, yang dibuat dihadapan notaris Sitske Limowa, SH di Makassar, yang kemudian diubah dengan akta tanggal 28 Februari 1979 No.40 dibuat dihadapan notaris dan disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.YA5/374/16 tanggal 5 Agustus 1980 dan dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 64 tanggal 11 Agustus 1981 dengan tambahan No.637.
Sesuai dengan amandemen UU No. 23 tanggal 3 Oktober 1984 yang dibuat dihadapan Notaris Sitske Limowa, SH di Makassar dan selanjutnya mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia pada tanggal 18 Maret 1985 sesuai Surat Keputusan No. C2-1440-HT.01.04 Tahun 1985 dan dimuat dalam Berita Negara RI No.73 tanggal 09/10/1985, dimana perusahaan ini telah mengalami perubahan menjadi PT. PT Industri Kapal Indonesia (Persero) memiliki visi menjadi perusahaan galangan kapal dan engineering yang tangguh dan berdaya saing tinggi. Direktur Keuangan/SDM bertanggung jawab kepada Direktur Utama dan membawahi Kepala Biro Keuangan/Akuntansi, Kepala Sekretariat dan Biro SDM.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis bertanggung jawab kepada Chief Executive Officer dan memimpin kepala kantor Pemasaran/Logistik. Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis, bersama dengan Chief Executive Officer, Direktur Keuangan/SDM dan Direktur Teknologi dan Produksi, menetapkan kebijakan utama perusahaan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, dan bertanggung jawab atas pemasaran dan penjualan produk. produk yang dihasilkan satu. Direktur Teknologi dan Produksi bertanggung jawab kepada Kepala Pelaksana dan membawahi Kepala Kantor Produksi dan Kepala Unit.
Direktur Teknologi dan Produksi bersama-sama dengan Chief Executive Officer, Direktur Keuangan/SDM dan Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha menetapkan kebijakan pokok perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang serta bertanggung jawab dalam pengendalian produksi baik segi dari kualitas dan kuantitas. produk yang diproduksi.
Hasil Penelitian
- Analisis Data
- Biaya Operasional
- Tingkat Profitabilitas
Pada penelitian ini untuk mengukur tingkat profitabilitas menggunakan Net Profit Margin (NPM) yang merupakan rasio yang akan digunakan dalam menganalisis profitabilitas perusahaan. Margin laba bersih (NPM) adalah rasio profitabilitas yang mengukur persentase laba bersih perusahaan relatif terhadap penjualan bersihnya. 55 Menganalisis tingkat profitabilitas PT Industri Kapal Indonesia (Persero) selama empat tahun terakhir (2016 – 2019).
Pada tahun 2016, NPM menghasilkan laba bersih sebesar 9,8% dari total penjualan, yang berarti setiap Rp 1 menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,098. Pada tahun 2017, NPM menghasilkan laba bersih sebesar 11,1% dari total penjualan, yang berarti setiap Rp 1 menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,111. Pada tahun 2018, NPM menghasilkan laba bersih sebesar 2,4% dari total penjualan, yang berarti setiap Rp 1 menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,024.
Pembahasan
Kesimpulan dari komponen perhitungan tahunan BOPO menunjukkan kondisi PT Industri Kapal Indonesia (Persero) kurang optimal, meskipun BOPO otomatis berfluktuasi. Margin laba bersih (NPM) adalah rasio yang mengukur persentase laba bersih perusahaan yang terkait dengan penjualan. Dari tabel 4.6 diketahui bahwa Net Profit Margin (NPM) PT Industri Kapal Indonesia (Persero) maupun BOPO mengalami perubahan, NPM juga terus mengalami perubahan setiap tahunnya.
Pada tahun 2017, tingkat persentase MKP meningkat sebesar 11,1% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 9,8%, hal ini juga disebabkan oleh peningkatan laba bersih perusahaan. Pada tahun 2018, perusahaan mengalami persentase NPM terendah yaitu sebesar 2,4%, hal ini dikarenakan penjualan dan laba bersih yang turun serta pendapatan sendiri perusahaan digunakan untuk pembangunan gedung baru, dan akhirnya pengeluaran lebih banyak daripada untuk keuntungan. . Dari komponen laporan keuangan NMP dapat disimpulkan bahwa PT Industri Kapal Indonesia (Persero) berada dalam kondisi kurang optimal meskipun NPM otomatis berfluktuasi.
Yang mengalami efisiensi adalah pada tahun 2017 yang hasilnya 14,0%, karena biaya yang dikeluarkan pada tahun 2017 tidak terlalu besar. Tingkat profitabilitas PT Industri Kapal Indonesia (Persero) berfluktuasi, menurut hasil perhitungan dengan formula NPM, laba tertinggi dicapai pada tahun 2017, dimana hasilnya sebesar 11,1%, dan laba perusahaan terendah dicapai pada tahun 2018 yaitu dimana diperoleh hasil sebesar 2,4%. PT Industri Kapal Indonesia (Persero) perlu mempertahankan keuntungan yang meningkat dan memperhatikan keuntungan yang menurun akibat peningkatan penjualan.
Pengaruh biaya produksi, biaya operasional, struktur modal dan pertumbuhan perusahaan terhadap profitabilitas perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2010-2014. Diambil dari http://repo.iba.ac.id/index.php?p=fstream-pdf&fid=203&bid=709 Bambang, Riyanto. Analisis efektivitas biaya operasional terhadap profitabilitas pada sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011-2014.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran