ANTARA BUDAYA DAN TANTANGAN
Perang Topat dan Arus Perubahan
Dimana kondisi komunikasi antar budaya pada masa perang Topati cukup menarik untuk dikaji dari berbagai sudut pandang. Lihat Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antar Budaya, Panduan Berkomunikasi dengan Orang Berbeda Budaya, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), hal.
Budaya dan Konstruksi Sosial
13 Karena budaya merupakan konstruksi sosial yang di dalamnya individu berperan, demikian pula halnya dengan adu topat di Lingsar, Lombok Barat. Konstruksi sosial yang disebutkan dalam tradisi perang Topati adalah suatu proses sosial melalui tindakan dan interaksi, dimana individu secara terus-menerus menciptakan suatu realitas yang dimiliki dan dibagikan secara subyektif.
Budaya dan Tantangan Perubahan
Bersamaan dengan upacara sembahyang umat Hindu, komunikasi rangkaian upacara perang topat antara umat Islam dan umat Hindu pun dimulai. Perang Topat sendiri merupakan simbol interaksi umat Islam dan Hindu dengan cara saling melempar topat.
KONSEP DASAR KOMUNIKASI
Hakekat Komunikasi Antarbudaya
Konsep komunikasi antarbudaya secara luas mencakup semua bentuk komunikasi antara orang-orang dari kelompok yang berbeda. Menurut Devito, komunikasi antarbudaya mengacu pada komunikasi antara orang-orang yang memiliki keyakinan budaya, nilai, cara berperilaku yang berbeda.
Komponen Komunikasi Antarbudaya
Salah satu faktor penting dalam komunikasi antarbudaya adalah suasana, yang kadang disebut lingkungan komunikasi. Interferensi dalam komunikasi antarbudaya adalah segala sesuatu yang menghambat kecepatan pertukaran pesan antara komunikator dan komunikator.
Hambatan Komunikasi Antarbudaya
Kajian komunikasi antarbudaya tidak hanya sekedar menggambarkan pola budaya yang ada dalam masyarakat. Komunikasi transaksional mencakup tiga unsur penting yaitu; (1) keterlibatan emosional yang tinggi, yang terjadi secara terus-menerus dan berkesinambungan dalam pertukaran pesan; (2) peristiwa komunikasi mencakup suatu rangkaian waktu, artinya berkaitan dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan; dan (3) partisipan dalam komunikasi antarbudaya memenuhi peran tertentu.
Keefektifan Komunikasi Antarbudaya
Oleh karena itu, dalam komunikasi antar budaya, meskipun latar belakang budaya seseorang mempengaruhi kepribadian individu tersebut, namun perilaku komunikasi setiap individu tidak akan sama persis dengan bentuk budaya yang dianutnya. Artinya pemahaman dan penerimaan kita terhadap budaya masyarakat lain yang berbeda budaya menjadi landasan dalam membangun komunikasi yang efektif. Sehingga konvergensi merupakan suatu strategi bagi individu untuk beradaptasi dalam berkomunikasi satu sama lain atau kecenderungan dua atau lebih individu dari dua budaya yang berbeda untuk membangun pemahaman simbolik yang sama, menggerakkan dunia simbol dari dua budaya yang berbeda tersebut ke satu titik perhatian atau fokus yang bertemu dan bertepatan. .
Dari skema di atas dijelaskan bahwa dua budaya yang berbeda dapat membangun realitas sosial yang sama melalui saling pengertian di antara keduanya. Dimana dampak dari perubahan tersebut menunjukkan adanya kesamaan antara budaya A (Muslim) dan budaya B (Hindu) sehingga menghasilkan simbol-simbol baru yang mendekati ciri simbol dari dua budaya yang berbeda tersebut. Sehingga dalam interaksi budaya yang berbeda, mereka menggunakan simbol-simbol baru yang tercipta dalam proses konvergensi yang disepakati bersama.
Teori Komunikasi Antarbudaya
Umat Islam dan Hindu meyakini kebon odeq merupakan simbol menak atau garis keturunan suci raja-raja dalam perang topat.5. Umat Islam dan Hindu mulai mempersiapkan peralatan pada siang hari untuk upacara perang topat dan doa pujawali. Umat Muslim dan Hindu bekerja sama dalam Upacara Perang Topat untuk memastikan upacara berjalan sesuai keinginan.
Simbol-simbol dalam upacara perang Topat merupakan segala bentuk kearifan lokal yang membentuk identitas kuat yang membentuk kesatuan warga Muslim dan Hindu. Nilai-nilai dalam simbol terus digunakan oleh umat Islam dan Hindu dalam setiap upacara perang topat untuk saling menandai. Implementasi Komunikasi Antarbudaya Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Perang Topat di Lingsar Lombok Barat (DIPA UIN Mataram 2019).
LINGSAR DALAM PUSARAN BUDAYA
Potret Masyarakat Islam dan Hindu di Lingsar
Desa Lingsar adalah sebuah desa di Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Secara geografis Desa Lingsar mempunyai ketinggian 116 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan 134 mm/tahun. Dengan adanya Desa Lingsar yang terletak di dataran rendah dan dekat kaki Gunung Rinjani, menjadikan kawasan ini menjadi kawasan subur yang dipenuhi pepohonan rindang dan banyak sumber mata air di berbagai kawasan Lingsar.
Di Desa Lingsar terdapat 14 bendungan, 7 saluran air, 7 saluran desa, dan 75 bendungan yang menjadi tempat para petani bercocok tanam. Pada saat itu Desa Lingsar masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram, sehingga tanah di kawasan Lingsar sebagian besar dikuasai oleh umat Hindu. Merupakan kebiasaan umat Hindu membangun tempat ibadah di dekat sumber air, yang secara tidak langsung berarti banyak terdapat sumber mata air di wilayah desa Lingsar.
Sejarah Perang Topat
Dalam sejarah turun temurun, asal muasal perang Topat berawal dari adanya perlawanan terhadap pembangunan candi sebagai tempat ibadah umat Hindu, namun justru perlawanan dari umat Islam. Penolakan ini mengakibatkan ketegangan antara umat Islam dan Hindu sehingga berujung pada keputusan berperang. Sejak saat itu, Perang Topat diadakan setiap tahun untuk melestarikan kenangan akan pentingnya hidup rukun antara umat Islam dan Hindu.
Di kawasan ini terdapat dua bangunan yang disakralkan masing-masing masyarakat yaitu Pura Gaduh yang merupakan bangunan suci bagi umat Hindu dan bangunan Kemaliq yang disakralkan bagi umat Islam. Kedua bangunan ini sepertinya sengaja dibangun sebagai simbol kerukunan umat Hindu dan Islam yang sudah berdiri sejak zaman kerajaan. Pada malam bulan purnama merupakan waktu yang tepat bagi umat Hindu untuk melakukan ritual pujawali, sedangkan bagi umat Islam merupakan waktu yang tepat untuk berziarah ke gedung Kemaliq untuk mengenang jasa-jasa seorang da'i Islam di pulau tersebut. Lombok bernama Raden Mas Sumilir.
Filosofi Perang Topat
Pada saat upacara perang Topat, umat Islam dan Hindu mempunyai ruang pergaulan yang lebih intens karena kondisi yang mengharuskan para komunikan untuk ikut serta dalam kegiatan bersama. Para mediator yang beragama Islam dan Hindu dalam upacara perang Topat berbaur secara sukarela dan ikhlas, sehingga mengikat rasa solidaritas yang disebut dengan nilai kebersamaan. Di sisi lain, umat Hindu meyakini bahwa upacara perang topat merupakan wujud atau implementasi kearifan lokal praktik toleransi antara agama Islam dan Hindu.
Simbol-simbol luhur dalam adu topat memberi jalan untuk bertindak sesuai dengan apa yang dimaksud oleh umat Islam dan Hindu dengan situasi yang mereka hadapi. Dalam upacara perang Topati, umat Islam dan Hindu mempunyai ruang persatuan yang lebih intens, karena kondisi yang mengharuskan para komunikan tersebut untuk ikut serta dalam kegiatan bersama. Para komunikan beragama Islam dan Hindu pada upacara perang Topati berbaur rela dan ikhlas menjalin ikatan atas rasa solidaritas yang disebut dengan nilai persatuan.
MENGENAL LEBIH DEKAT TRADISI
Prosesi Pelaksanaan Perang Topat
Meski umat Islam dan Hindu sama, namun keduanya melakukan aktivitas berbeda terkait agama dan kepercayaannya masing-masing. Warga Muslim dan Hindu memulai komunikasi ritual tracking mudik dari persinggahan Datu Sumilir, kemudian mereka mengelilingi Kemaliq dan Gadoh sebanyak tiga kali. Petugas yang menyembelih kerbau tersebut diambil dari umat Islam atas kesepakatan bersama antara umat Islam dan umat Hindu.
Sore harinya, paha dan kepala kerbau diambil dan direbus kembali untuk dimakan bersama oleh umat Islam dan Hindu. Pada hari ketiga setelah salat pujawali dan perang topat, umat Islam dan umat Hindu mengadakan prosesi beteteh atau yang umat Hindu sebut dengan ngelukar. Warga beragama Islam dan Hindu membuang peralatan dan perlengkapannya ke sumber air Sarasute yang berjarak sekitar 1 km dari Taman Lingsar.
Konstruksi Nilai-Nilai dalam Perang Topat
Nilai religius atau sakral tersebut terlihat pada keceriaan warga Hindu sebagai komunikator yang melakukan upacara adu topat. Pada dasarnya masyarakat Lingsar yang beragama Islam dan Hindu menganggap agama sebagai sesuatu yang sangat penting dan paling berharga dalam segala aspek kehidupan mereka, termasuk dalam upacara perang Topati. Hal inilah yang mendasari keyakinan masyarakat Hindu dalam berkomunikasi dengan umat Islam pada saat upacara adu topat agar terjadi komunikasi lintas budaya yang memudahkan dan mensukseskan acara tersebut.
Proses komunikasi interaktif yang terkoordinasi melalui musyawarah yang dilakukan warga beragama Islam dan Hindu menjadikan prosesi upacara perang topat lebih komunikatif, tertib dan disiplin sehingga berjalan lancar sesuai keinginan. Setiap hal yang dilakukan demi kelancaran proses upacara perang Topat selalu dikomunikasikan secara intens oleh para komunikator dari warga Muslim hingga warga Hindu. Nilai kearifan lokal dalam implementasi komunikasi antarbudaya dalam tradisi perang Topat di Lingsar Lombok Barat (Jurnal Lentera: Jurnal Dakwah dan Ilmu Komunikasi IAIN Samarinda, 2020).
DIALEKTIKA KOMUNIKASI ANTARBUDAYA. 105
Komunikasi Interaktif Perang Topat
Dari berbagai fungsi di atas, dalam ritual perang Topat, komunikasi antar budaya berperan sebagai jembatan pemersatu kedua suku dalam tradisi perang Topat. Selain itu ritual perang topat juga menunjukkan fungsi komunikasi antar budaya sebagai sosialisasi nilai dan fungsi hiburan. Hasil kesepahaman tersebut nantinya akan menjadi mekanisme pengikat antara seluruh pihak yang berkepentingan dan terlibat dalam perayaan Perang Topat.5.
Proses komunikasi antarbudaya yang dilakukan dalam pawai perang topat mengandung simbol-simbol yang sejalan dengan asumsi dasar teori interaksi simbolik. Selain itu, upacara perang topat merupakan implementasi dari ajaran toleransi beragama yaitu lakum dinukum waliayadin. Warga Muslim dan Hindu dalam upacara perang Topat mempunyai prosesi yang dilakukan secara bersama-sama atau terpisah satu sama lain, namun pada dasarnya warga Hindu dan warga Muslim yang berada di Lingsar pada saat upacara berlangsung mempunyai konsep diri yang sangat kuat subjektivitas dan objektivitas mereka untuk saling memandang dan menghargai satu sama lain.
Komunikasi Transaksional Perang Topat
Tradisi perang topat merupakan sarana untuk mengkonstruksi sikap dan pengalaman etnis dan sosial keagamaan suatu masyarakat. Dalam rangkaian prosesi perang topat yang dilakukan terdapat tindakan komunikasi antar budaya yang terdiri dari komunikasi verbal dan komunikasi non verbal dengan model komunikasi transaksional. Komunikasi yang terbuka dan toleransi yang tinggi diperlukan untuk mempersatukan dan menjaga keberagaman, seperti yang terjadi pada tradisi perang tingkat atas.
Oleh karena itu Prosesi Perang Topat mengandung nilai edukasi bahwa untuk mencapai kebahagiaan harus dicapai melalui kesepakatan dan komunikasi terbuka antara kedua suku. Mereka dengan sukarela membantu satu sama lain menyelesaikan setiap tahapan Prosesi Perang Topatik. Selain itu, komunikasi antar budaya yang dilakukan dalam prosesi perang Topat mengandung simbol-simbol yang sejalan dengan asumsi dasar teori interaksionisme simbolik.