Bhineka Tunggal Ika: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN Volume 09, No. 2, November 2022, pp. 209-217
Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 209
DIGITALISASI MATERI PANCASILA BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MEMPERKUAT KOHESI NILAI-NILAI PANCASILA PADA MAHASISWA
Triyani1, Eli Karliani2, Sekar Dwianti3, Ahmad Satria4
1,2,3,4 Program Studi PPKn, FKIP, Universitas Palangka Raya
Kata kunci:
Digitalisasi, Materi Pancasila, Problem Based Learning
Keywords:
Digitization, Pancasila Materials, Problem Based Learning
ABSTRAK
Tahapan terpenting dalam proses pembelajaran salah satunya yakni mengkonstruksi materi yang mampu mengkondisikan mahasiswa memahami serta mengimplementasikan hasil belajar dalam tataran praksis. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan materi berbasis Problem Based Learning (PBL) pada mata kuliah Pancasila. Metode yang digunakan dalam riset ini yakni jenis penelitian pengembangan (R&D) dengan tahapan analisis kebutuhan pasar, pengembangan, pengujian dan revisi produk. Bentuk pelaksanaan riset ini dapat dijabarkan sebagai yakni (1) Workshop Analisis Kurikulum Mata Kuliah Pancasila (CPMK, substansi materi, alat evalusi; (2) Workshop Pengembangan materi berbasis Problem Based Learning (PBL); (3) FGD Validasi Pakar materi Pancasila berbasis Problem Based Learning (PBL); (4) Uji coba materi Pancasila berbasis Problem Based Learning (PBL); (5) Workshop Revisi materi berbasis Problem Based Learning (PBL) Pada Mata Kuliah Pancasila; dan (6) Penyusunan Laporan Akhir Penelitian.Berdasarkan hasil penilaian expert, produk yang dikembangkan mendapatkan skor 8.75 atau dalam kategori
“Baik”. Berdasarkan hasil dari implementasi dan refleksi kepada mahasiswa diperoleh hasil, Pertama, siswa lebih senang ketika pembelajaran menggunakan audio visual. Kedua, materi yang dikemas dalam video pembelajaran membuat mereka lebih memahami dalam menganalisis fenomena yang terjadi di masyarakat terkait dengan aktualisasi nilai-nilai Pancasil dan berpikir kritis.
ABSTRACT
That is able to condition students to understand and implement learning outcomes at the practical level. The purpose of this research is to develop material based on Problem Based Learning (PBL) in Pancasila courses. The method used in this research is the type of development research (R&D) with stages of market needs analysis, development, testing and product revision. The form of the implementation of this research can be described as (1) Workshop on Pancasila Course Curriculum Analysis (CPMK, material substance, evaluation tool; (2) Workshop on Problem Based Learning (PBL) development of material;
(3) FGD Expert Validation of Problem-based Pancasila material. Based Learning (PBL);
(4) Trial of Pancasila-based Problem Based Learning (PBL) materials; (5) Workshop on Revision of Problem Based Learning (PBL) materials in Pancasila Courses; and (6) Compilation of Final Research Reports. expert assessment, the product developed gets a score of 8.75 or in the "Good" category. Based on the results of implementation and reflection on students, the results obtained are, First, students are more happy when learning using audio visuals. Second, the material packaged in learning videos makes them understand more in analyzing the phenomena that occur in society related to the actualization of Pancasila values contained in the video makes students think critically.
210 Pendahuluan
Seiring dengan berjalannya waktu, pesatnya perkembangan globalisasi, modernisasi dan pesatnya era teknologi informatika, nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila mulai terkikis dan mengalami kemunduran yang signifikan. Indikasi dari kemunduran implementasi nilai-nilai Pancasila pada tataran praksis terlihat dari menipisnya semangat kebangsaan, banyak perilaku yang menyimpang dari nilai-nilai Pancasila, serta kesadaran memiliki bangsa Indonesia yang mulai diabaikan pada hampir semua generasi bangsa Indonesia. Merebaknya perilaku amoral yang dapat dilihat dari perilaku anak muda zaman sekarang, seperti merebaknya narkoba, seks bebas, kekerasan dan lain sebagainya. Kondisi tersebut, tentunya berdampak pada kemajuan bangsa. Remaja merupakan generasi penerus yang harus senantiasa membekali dirinya dengan nilai-nilai yang positif (Prasasti, 2017). Tidak hanya itu, perilaku amoral dapat dilihat dari semakin kaburnya moral baik dan buruk.
Melihat hal tersebut, mengharuskan kita melindungi dan menyelamatkan bangsa dari kehancuran (Dewantara & Rahman, 2021).
Melihat fakta ini, perlu adanya upaya untuk mengangkat kembali nilai-nilai kebangsaan khusunya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Hal ini tidak lain ditujukan untuk meneguhkan kembali jati diri bangsa ditengah terpaan arus globalisasi dan modernisasi yang bersifat multidimensional. Dengan mengkiblatkan perilaku kepada nilai-nilai Pancasila dapat menjadi solusi dalam membentuk karakteristik yang baik dalam diri anak bangsa, serta diharapkan mampu memberikan perubahan mendasar dalam mentalitas, cara berpikir, cara merasa dan cara mempercayai yang menjelma dalam perilaku dan tindakan keseharian (Desmita, 2016).
Salah satu cara untuk merawat nilai-nilai Pancasila yakni mewariskannya kepada generasi bangsa Indonesia, tidak terkecuali pada mahasiswa melalui instrumen pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu aspek terpenting dalam membangun negara (Putri, Charista & Trisiana, 2020).
Dalam mengembangkan pendidikan perlu diterapkan nilai-nilai Pancasila agar pendidikan dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pemerintah menilai sosialisasi Pancasila paling efektif yang dengan cara mengintegrasikannya dalam kurikulum Pendidikan (Darmadi, 2020).
Dampak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat dirasakan dalam kehidupan manusia. Dengan semakin konvergennya batas antara manusia, mesin, teknologi informasi dan komunikasi berimbas pada berbagai sektor kehidupan, salah satunya terhadap sistem Pendidikan di Indonesia. Manusia dan teknologi diselaraskan untuk menciptakan peluang-peluang baru dengan kreatif dan inovatif, salah satunya yakni melalui media pembelajaran yang efektif (Fisk, 2022). Salah satu solusi untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan menarik yakni dengan mengadaptasi teknologi kedalam pembelajaran. Selain mengintegrasikan teknologi kedalamm proses pembelajaran terutama dalam mengkonstruksi materi, tentunya harus memilih metode yang tepatt untuk menyampaikan materi tersebut. Salah satu metode yang tepat untuk diterapkan dalam proses pembelajaran yakni Problem Based Learning (PBL). Melalui PBL mahasiswa memperoleh pengalaman dalam menangani masalah- masalah yang realistis, dan menekanan pada penggunaan komunikasi, kerjasama,dan sumber-sumber yang ada untuk merumuskan ide dan mengembangkan keterampilan penalaran. Diharapkan dengan metode PBL mahasiswa mampu memahami materi, menginternalisasi serta mempraktikkan pada tataran praksis.
Metode
Metode yang digunakan dalam riset ini yakni jenis penelitian pengembangan (R&D) dengan tahapan analisis kebutuhan pasar, pengembangan, pengujian dan revisi produk. Produk yang akan dikembangkan dalam riset ini yakni materi pada mata kuliah berbasis Problem Based Learning (PBL).
Adapun rincian program dalam kegiatan riset ini terdiri dari:
1. Analisis capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK) mata kuliah Pancasila.
211
2. Analisis kedalaman susbstansi materi mata kuliah Pancasila
3. Analisis materi diintegrasikan dengan model Problem Based Learning (PBL) mata kuliah Pancasila.
4. Pengembangan materi berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk memperkuat kohesi nilai-nilai Pancasila pada Mahasiswa
5. Uji coba materi Pancasila berbasis Problem Based Learning (PBL) 6. Revisi materi Pancasila berbasis Problem Based Learning (PBL) 7. Prototipe draf materi Pancasila berbasis Problem Based Learning (PBL)
Bentuk pelaksanaan riset ini dapat dijabarkan sebagai berikut.
1. Workshop Analisis Kurikulum Mata Kuliah Pancasila (CPMK, substansi materi, alat evalusi yang sudah dikembangkan)
Analisis kurikulum mata kuliah diperlukan karena harus melihat CPMK, kedalaman substansi materi, dan alat evaluasi yang sudah ada pada mata kuliah Pancasila.
2. Workshop Pengembangan Materi Berbasis PBL dalam Mata Kuliah Pancasila
Selama ini banyak materi yang sudah tersedia pada mata kuliah Pancasila, namun materi masih sebatas informasi kognitif yang belum mengkondisikan mahasiswa untuk berpikir kritis.
Pengembangan materi Pancasila berbasis Problem Based Learning yang dikemas dalam bentuk digital membutuhkan kajian yang mendalam terhadap substansi materi dan permasalahan yang terjadi yang terkait dengan meteri yang dikembangkan sehingga diperlukan penelitian ini untuk menghasilkan prototipe draf materi berbasis PBL mata kuliah Pancasila.
3. FGD Validasi Pakar Materi Berbasis Problem Based Learning (PBL) Dalam Mata Kuliah Pancasila
Validasi pakar (expert judgment) dari pakar atau ahli materi diperlukan untuk memvalidasi materi tersebut sehingga memenuhi kriteria validasi yang nantinya materri tersebut dapat digunakan oleh semua kriteria yang sama.
4. Uji coba dan Refleksi Materi Berbasis Problem Based Learning (PBL) Dalam Mata Kuliah Pancasila
Uji coba pengembangan materi berbasis Problem Based Learning (PBL) pada mata kuliah Pancasila pada kelas terbatas dilakukan pada kelas kecil (satu prodi) mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pancasila. Hasil ujicoba diolah untuk mendapatkan validasi lapangan materi yang telah dikembangkan.
5. Revisi Pengembangan Materi Berbasis Problem Based Learning (PBL) Dalam Mata Kuliah Pancasila
Tim peneliti melakukan revisi terhadap pengembangan materi berbasis PBL pada mata kuliah Pancasila yang telah diujicobakan sesuai dengan hasil validasinya. Kegiatan ini akan menghasilkan prototipe materi berbasis Problem Based Learning (PBL) pada mata Pancasila.
212
Gambar 1. Diagram Alur Penelitian
Hasil dan Pembahasan
Deskripsi data penelitian dan pengembangan diuraikan berdasarkan tahapan penelitian dan pengembangan instrumen evaluasi yang dikembangkan. Uraian data yang disajikan berdasarkan hasil setiap tahapan proses penelitian dan pengembangan yang meliputi: analisis CPMK mata kuliah Pancasila; mengembangkan materi Pancasila berbasis Problem Based Learning (PBL), menguji materi Pancasila berrbasis Problem Based Learning (PBL) dan merevisi hasil pengujian materi Pancasila yang telah dikembangkan.
Pertama, workshop analisis kurikulum mata kuliah Pancasila. Analisis kurikulum mata kuliah diperlukan karena harus melihat CPMK, kedalaman substansi materi, dan alat evaluasi yang sudah ada pada mata kuliah Pancasila. Selama ini masih terdapat kecenderungan pembelajaran Pancasila dan evaluasi yang dilakukan lebih menekankan pada aspek pengetahuan mahasiswa dan masih bersifat teoritis normatif dan lebih menekankan pada kemampuan menghafal begitupula dalam melakukan evaluasi. Hal tersebut menimbulkan dilema, sebab orientasi utama diadakannya mata kuliah Pancasila yakni untuk mengembangkan karakter mahasiswa yang sesuai nilai-nilai luhur bangsa Indonesia serta membentuk karakter warga negara yang baik (good citizen) atau yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Hal tersebut mengandung makna bahwa dengan diadakannya mata kuliah Pancasila ditujukan untuk mengembangkan pengetahuan yang dibarengi dengan sikap dan perilaku positif mahasiswa khususnya mahasiswa Prodi PPKn FKIP Universitas Palangka Raya.
Substansi materi dan evaluasi dalam mata kuliah Pancasila pada umumnya bersifat teoritis normatif, sehingga dalam proses implementasi pembelajaran di kelas kurang menarik minat dan motivasi mahasiswa yang belajar atau dosen yang mengajar. Oleh karena itu, perlu upaya bagaimana mengemas materi dan evaluasi pembelajaran Pancasila agar sesuai dengan
5.Revisi
Prototipe Pengembangan Materi Pancasila Berbasis Problem Based Learning
1. Workshop
Analiais Kurikulum Mata Kuliah Pancasila(CPMK, substansi materi, alat evaluasi)
2. Workshop
Pengembangan Materi Pancasila Berbasis Problem
Based Learning
3. FGD
Validasi Pakar Pengembangan Materi Pancasila Berbasis Problem Based Learning
4.Ujicoba &
Refleksi
Pengembangan Materi Pancasila Berbasis Problem
Based Learning
213
kebutuhan mahasiswa dan perkembangan zaman. Mahasiswa memiliki sumber belajar yang luas sehingga memungkinkan pertanyaan-pertanyaan kritis terkait materi pembelajaran yang diberikan oleh dosen dapat berkembang serta mampu mengembangkan sikap kritis mahasiswa.
Hasil workshop berupa Analisis Kurikulum Mata Kuliah Pancasila (CPMK, substansi materi, alat evalusi) menghasilkan pemetaan kurikulum dan materi serta evaluasi apa yang direncanakan terkait hasil analisis CPMK terhadap materi Pancasila.
Kedua, workshop pengembangan materi Pancasila berbasis PBL. Selama ini banyak materi yang sudah tersedia pada mata kuliah Pancasila, namun materi tersebut belum mengacu atau mengarah kepada PBL yang mengembangkan kompetensi kognitif mahasiswa menganalisis, mengevaluasi dan mencipta serta belum berorientasi pada critical digital citizenship. Pengembangan materi berbasis Problem Based Learning membutuhkan kajian yang mendalam terhadap substansi materi dan permasalahan yang terjadi yang terkait dengan meteri yang dikembangkan sehingga diperlukan penelitian ini untuk menghasilkan prototipe draf materi berbasis PBL pada pata kuliah Pancasila materi Pancasila Dalam Arus Sejarah Bangsa Indonesia, Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia, Pancasila Sebagai Ideologi Negara, Pancasila Sebagai Sistem Filsafat, Pancasila Sistem Sistem Etika, Pancasila Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Pengembangan materi berbasis PBL dalam mata kuliah Pancasila ditunjukkan untuk melatih mahasiswa untuk berpikir ktiris dan lebih menekankan kepada mahasiswa untuk berpikir dengan menyelesaikan masalah dengan analisis PBL. Dengan dikembangkannya kemampuan mahasiswa untuk berpikir tingkat tinggi diharapkan mampu merespon permasalahan faktual yang terjadi di masyarakat. Untuk menghimpun berbagai kasus atau permasalahan faktual yang terjadi di masyarakat yang kemudian diselaraskan dengan substansi materi yang telah disusun yakni Pendidikan Pancasila.
Mekanisme kegiatan workshop pengembangan materi berbasis PBL dalam mata kuliah Pancasila yakni tim peneliti penelitan pengembangan inovatif menyusun kisi-kisi kasus permasalahan faktual yang akan dijadikan alat pengembangan materi. Permasalahan faktual harus sinkron dengan substansi materi Pendidikan Pancasila yang disusun. Materi yang diambil yakni tujuh bab materi Pendidikan Pancasila yakni Pancasila Dalam Arus Sejarah Bangsa Indonesia, Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia, Pancasila Sebagai Ideologi Negara, Pancasila Sebagai Sistem Filsafat, Pancasila Sistem Sistem Etika, Pancasila Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Hasil yang dicapai dalam kegiatan workshop pengembangan materi berbasis PBL dalam mata kuliah Pancasila yakni prototipe pengembangan materi berbasis PBL dalam mata kuliah Pancasila yang dikembangkan terkait dengan materi Pendidikan Pancasila yakni Pancasila Dalam Arus Sejarah Bangsa Indonesia, Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia, Pancasila Sebagai Ideologi Negara, Pancasila Sebagai Sistem Filsafat, Pancasila Sistem Sistem Etika, Pancasila Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Keberhasilan kegiatan workshop pengembangan materi berbasis PBL dalam mata kuliah Pancasila yakni tersusunnya pengembangan materi berbasis PBL dalam mata kuliah Pancasila. Materi yang dihasilkan dari kegiatan workshop ini berupa materi dan soal uraian yang dikombinasikan dengan video dan dikontekstualkan dengan masalah kekinian yang tejadi di masyarakat.
Ketiga, validasi pakar (expert judgment) dari pakar atau ahli evaluasi diperlukan untuk memvalidasi pengembangan materi berbasis PBL tersebut sehingga memenuhi kriteria valid
214
yang nantinya soal tersebut dapat digunakan oleh semua mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pendidikan Pancasila. Idealnya dalam sebuah pembelajaran yang dikembangkan tidak sebatas pada materi, metode, dan media. Akan tetapi perlu materi yang sesuai dengan model yang dikembangkan. Sebuah prototipe yang dikembangkan harus memenuhi kriteria kevalidan.
Oleh karena itu, diperlukan validitas terhadap prototipe yang dikembangkan dengan melakukan FGD dengan pakar evaluasi pendidikan. Untuk memvalidasi dan menyempurnakan prototipe pengembangan materi berbasis PBL yang akan digunakan untuk mengukur ketercapaian hasil belajar mahasiswa. Dalam kegiatan FGD validasi pakar menilai kelayakan draf prototipe pengembangan materi berbasis PBLyang akan digunakan untuk mengukur ketercapaian hasil belajar mahasiswa pada pembelajaran Pendidikan Pancasila. Berikut hasil penilaian pakar ahli terhadap Materi berbasis PBL yang telah tim kembangkan.
Tabel 1. Rekapitulasi Penilaian Pakar Pengembangan Materi Berbasis Problem Based Learning Skill dalam Mata Kuliah Pancasila
No. Nama Jabatan/Unit
Kerja/Instansi
Rata-Rata Skor
1. Expert Judgement Dosen 8.75
Rata-Rata 8.75
Berdasarkan Tabel, penilaian pakar pengembangan materi berbasis PBL menunjukkan bahwa prototipe pengembangan materi berbasis PBL dalam kategori baik. Merujuk kepada penilaian pakar ahli dapat disimpulkan bahwa prototipe pengembangan materi berbasis PBL dalam mata kuliah Pancasila layak digunakan dengan revisi sesuai masukan pakar ahli.
Hasil yang dicapai dalam kegiatan FGD Prototype pengembangan materi berbasis PBL yakni setiap pokok bahasan pada mata kuliah Pendidikan Pancasila yakni tersusunnya materi yang berorientasi pada kemampuan tingkat tinggi yang akan digunakan untuk mengukur ketercapaian hasil belajar mahasiswa. Materi yang dihasilkan berupa materi berbasis PBL yang dikontekstualkan dengan berbagai masalah/problem yang terjadi di masyarakat. Masukan peserta FGD dan saran dari pakar ahli yang telah memberikan masukan kemudian disusun prototipe materi berbasis PBL sesuai dengan substansi materi Pendidikan Pancasila serta mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas.
Keberhasilan kegiatan FGD yakni tersusunnya materi Pancasila berbasis PBL pada materi Pancasila Dalam Arus Sejarah Bangsa Indonesia, Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia, Pancasila Sebagai Ideologi Negara, Pancasila Sebagai Sistem Filsafat, Pancasila Sistem Sistem Etika, Pancasila Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Keempat, uji coba pengembangan materi berbasis PBL pada mata kuliah Pancasila pada mahasiswa prodi PPKn. Hasil uji coba diolah untuk mendapatkan validasi lapangan materi yang telah dikembangkan. Belum tersedianya pengembangan materi berbasis PBL dalam mata kuliah Pancasila menjadi alasan peneliti untuk terus mengembangkan pengembangan materi berbasis PBL. Sudah tidak zamannya materi pembelajaran hanya sebatas menghafal dan mengingat saja,akan tetapi lebih dititikberatkan pada kemampuan menganalisis dan mensisntesis suatu
215
soal. Oleh karena itu tim peneliti mencoba mengembangkan pengembangan materi berbasis PBL dengan harapan memudahkan dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran Pancasila.
Dalam tahapan pengujian prototipe diperlukan kegiatan refleksi sebagai kegiatan pengembangan materi berbasis PBL.
Sebuah penelitian pengembangan memerlukan tahap implementasi untuk mengembangkan materi secara praksis sejauh mana indikator keberhasilan produk yang dikembangkan dapat tercapai. Di samping itu, tim pelaksana kegiatan perlu melakukan kegiatan refleksi perkuliahan. Dalam refleksi tersebut tim pelaksana menyebarkan beberapa instrumen penilaian mahasiswa terhadap materi yang dikembangkan. Mekanisme kegiatan implementasi dan refleksi pengembangan materi berbasis PBL yakni tim menetapkan kelas yang akan dipakai untuk kegiatan implementasi dalam hal ini mahasiswa Prodi PPKn yang mengambil mata kuliah Pancasila sebanyak kurang lebih 50 mahasiswa melalui googleform.
Akan tetapi pada uji coba sebanyak 43 mahasiswa yang menjawab soal. Mahasiswa dapat melakukan penilaian dengan mengisi kuis yang berupa soal-soal yang terkait materi Pancasila dalam bentuk soal PBL yang harus dijawab langsung oleh mahasiswa. Berikut hasil uji coba pengembangan materi berbasis Problem Based Learning pada mata kuliah Pancasila.
Salah satu cara untuk merawat nilai-nilai Pancasila yakni mewariskannya kepada generasi bangsa Indonesia, tidak terkecuali pada anak usia dini melalui instrumen pendidikan.
Pendidikan merupakan salah satu aspek terpenting dalam membangun negara (Rahmah &
Muharni, 2019). Dalam mengembangkan pendidikan perlu diterapkan nilai-nilai Pancasila agar pendidikan dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pemerintah menilai sosialisasi Pancasila paling efektif yang dengan cara mengintegrasikannya dalam kurikulum Pendidikan. Penanaman nilai-nilai Pancasila ke dalam kurikulum Pendidikan Tinggi merupakan hal yang sangat penting dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.
Pendidikantentang nilai-nilai Pancasila sangatlah tepat bila ditanamkan pada mahasiswa, inidimaksudkan agar mereka akan terbiasa dengan perbuatan, sikap dantingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila (Ruslan, Rezkiah & Erpin, 2020).
Salah satu cara untuk menginternalisasi nilai-nilai Pancasila yakni dengan mengintegrasikan materi Pancasila dengan metode pembelajaran yang tepat. Prpblem Based Learning (PBL). Problem Based Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan mengajukan masalah dan dilanjutkan dengan menyelesaikan masalah tersebut. Untuk menyelesaikan masalah peserta didik memerlukan pengetahuan baru untuk menemukan solusinya (Nugroho, Chotim & Dwianto, 2013). Masalah tersebut dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang di dalamnya mencakup kemampuan berfikir analitis. Menurut filsuf dan pendidik (John Dewey) bahwa “masalah adalah stimulus untuk berpikir” (Miller, 2004).
PBL atau biasa disebut kepentingkan pendidikan tingkat tinggi mengacu pada pendekatan pembelajaran yang berfokus pada proses pemecahan masalahdengan yang peserta didik memperoleh pengetahuan yang diperlukan. PBL adalah metode pembelajaran di mana siswa belajar dengan inspirasi, pemikiran kelompok, dan menggunakan informasi terkait. Untuk mencoba untuk memecahkan masalah baik yang nyata maupun hipotetis, siswa dilatih untuk mensintesis pengetahuan dan keterampilan sebelum mereka menerapkannya ke masalah. PBL bermanfaat untuk mempersiapkan para pemimpin sekolah dengan berkontribusi terhadap kemampuan berfikir analitis dan strategis mereka (Sherwood, 2004).
216
Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan untuk penataan kurikulum yang melibatkan menghadapi siswa dengan masalah dari praktek yang memberikan stimulus untuk belajar. Model ini mendorong siswa untuk menggunakan pengalaman masa lalu untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Siswa dengan demikian menyadari proses untuk mengelola pembelajaran sebagai masalah yang harus dipecahkan dan proses yang harus dilaluinya. Dalam hal ini guru memfasilitasi siswa untuk bekerja mandiri maupun kelompok untuk menganalisis masalah dan memecahkannya berdasarkan informasi yang telah mereka gali dari berbagai sumber yang relefan (Gijbels dkk, 2005; Werth, 2009).
Simpulan
Mengkonstruksi materi yang mampu mengkondisikan mahasiswa memahami serta mengimplementasikan hasil belajar dalam tataran praksis merupakan rangkaian proses pembelajaran yang penting. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan materi berbasis Problem Based Learning (PBL) pada mata kuliah Pancasila. Materi yang dikembangkan diharapkan tidak hanya sebatas mengembangkan kemampuan menghafal dan mengingat, tetapi lebih kepada kemampuan menganalisis dan mensintesis. Untuk itu perlu dikembangkan materi berbasis PBL. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan materi Pancasila berbasis PBL untuk memperkuat kohesi nilai-nilai Pancasila pada mahasiswa. Hasil penelitian pengembangan materi Pancasila berbasis PBL yaitu materi yang valid dan tepat untuk digunakan dalam proses pembelajaran Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi. Hal ini didasarkan pada penilaian ahli dan hasil masukan dan saran dari siswa.
Ucapan Terima Kasih (Optional)
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Palangka Raya yang telah memberikan dukungan moril dan dana untuk program penelitian ini.
Referensi
Darmadi H.(2020). Apa Mengapa Bagaimana Pembelajaran Pendidikan Moral Pancasila Dan Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan (PPKn): Konsep Dasar Strategi Memahami Ideologi Pancasila Dan Karakter Bangsa. Desmita D. (2016). Revolusi Mental Dan Revolusi
Etos Kerja: Upaya Membangun Bangsa
Indonesia Yang Lebih Bermartabat. Ta'dib. 18(1). P. 1-12.
Dewantara J.A, Nurgiansah TH & Rachman F. (2021) Mengatasi Pelanggaran Hak Asasi Manusiadengan Model Sekolah Ramah HAM (SR-HAM). Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan.
3(2). P. 261-269.
Fisk, P. (2022). Education 4.0 ... the Future of Learning Will Be Dramatically Different, in School and throughout Life; 2017. (Dikutip 11 Februari 2022). Tersedia Online:
http://www.thegeniusworks.com/2017/01/ future-education-young-everyone- taughttogether/.
Gijbels, D., Dochy, F., Bossche, P. V., & Segers, M. (2005). Effects of Problem-Based Learning: A Meta-Analysis From the Angle of Assessment. 75(1), 27–61.
Nugroho, I. A., Chotim, M., & Dwijanto. (2013). Keefektifan Pendekatan Problem Based Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik. Unnes Journal Mathematics of Education, 2(1), p. 49-54.
Miller, J. S. (2004). Problem-Based Learning In Organizational Behavior Class: Solving Students’ Real Problems. Management Education , 28(5), 578-590.Prasasti, S. (2017). Kenakalan Remaja dan Faktor Penyebabnya. In Prosiding Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling. p. 28-45.
217
Putri AL, Charista FDF, Lestari S & Trisiana A. (2020). Implementasi Pancasila Dalam Pembangunan Dibidang Pendidikan. TERAMPIL: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar.
7(1). p.13-22.
Rahmah, A. N., & Muharni, L. P. J. (2019). Identifikasi Soal Tipe Higher Order Thinking Skills (HOTS) Pada Buku Matematika Materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel. Edu Math Journal Prodi Pendidikan Matematika, 7(1), 1-8.
Ruslan, Rezkiah & Erpin, (2020). Penanaman Pendidikan Moralitas Dan Nilai Pancasila Anak Usia Dini Dalam Perkembangan Iptek, Abdimas: Papua Journal of Community Servic.
2(1). p.11-17.
Sherwood, A. L. (2004). Problem-Based Learning In Management Education: A Framework For Designing Context. Management Education, 28(5), 536-557.
Werth, E. P. (2009). Student Perception of Learning Through A Problem-Based Learning Exercise: An Exploratory Study. Policing: An International Journal of Police Strategies & Management, 32(1), 21-37.