• Tidak ada hasil yang ditemukan

dilema keadilan dan keberhasilan pasca tax amnesty

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "dilema keadilan dan keberhasilan pasca tax amnesty"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1

DILEMA KEADILAN DAN KEBERHASILAN PASCA TAX AMNESTY Aileen Griselda (20141112009)

Abstrak: Pemerintah memberlakukan tax amnesty karena hingga tahun 2015 hanya 22,61%

angkatan kerja yang terdaftar sebagai Wajib Pajak. Tax amnesty di Indonesia dilakukan dalam tiga periode yaitu Juli – September 2016, Oktober – Desember 2016, dan Januari – Maret 2017.

Penelitian ini bertujuan mengetahui keadilan pajak, ketakutan dalam pengungkapan harta dan persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty. Populasi dalam penelitian ini adalah Wajib Pajak orang pribadi yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Teknik penentuan sampel ini menggunakan purposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 100 orang berdasarkan rumus slovin. Data diperoleh dengan metode kuesioner dengan menggunakan skala likert. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, uji regresi linier berganda, uji kelayakan model (uji f), uji koefisien determinasi (uji R2), uji hipotesis (uji t).

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa keadilan pajak dan persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty memiliki pengaruh dan hubungan positif terhadap tax amnesty oleh Wajib Pajak orang pribadi yang bekerja atau bertempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha di Jakarta, sedangkan ketakutan dalam pengungkapan harta tidak memiliki pengaruh negatif terhadap tax amnesty oleh Wajib Pajak orang pribadi yang bekerja atau bertempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha di Jakarta.

Kata Kunci: keadilan pajak, ketakutan dalam pengungkapan harta, persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty, tax amnesty

ABSTRACT: The government recently impose tax amnesty because until 2015 only 22,61% of the labor force registered as taxpayers. Tax amnesty in Indonesia was conducted during three periods,

that is July – September 2016, October – December 2016, and January – March 2017.

The purpose of this study is to determine tax justice, fear in exposing asset and public perception of the success of the tax amnesty program. The population in this research is the individual taxpayer who has a taxpayer identification number (NPWP). This sampling technique uses purposive sampling. The number of samples is 100 people based on slovin formula. Data is obtained by the quesionnaire method with likert scale. Data analysis methods used in this research is done by using validity, reliability, classic assumption test, multiple regression analysis, stimultan regression test (Test F), the coefficient of determination (R2 test), and partial regression test (t test). The result of this study shows that tax justice and public perception of the success of tax amnesty program has influence and positive effect to tax amnesty by individual taxpayer who works or reside in or domiciled or business activity in Jakarta, while fear in exposing asset haven’t negative affect to tax amnesty by individual taxpayer who works or reside in or domicile or business activity in Jakarta.

Keyword: tax justice, fear in exposing asset, public perception of the success of tax amnesty program, tax amnesty

(2)

2 1 Pendahuluan

Menurut Undang-Undang nomor 16 tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pendapatan negara berasal dari pajak dan bukan pajak.

Tabel 1.1 menerangkan bahwa APBN dan realisasi pendapatan pajak dalam negeri tahun 2016 lebih besar dari tahun 2015 dan 2017. Hal ini dikarenakan berlakunya Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak. Pengampunan pajak adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan saksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara mengungkap harta dan membayar uang tebusan sebagaimana diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 2016.

Tabel 1.1

APBN dan Realisasi Pajak

2015 2016 2017

APBN (Triliun)

Realisasi APBN (Triliun)

Realisasi APBN (Triliun)

Realisasi

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Pendapatan Negara dan Hibah

1.761,6 1.504,5 85,4 1.786,2 1.555,1 87 1.750,3 1.655,8 94,6

Penerimaan Pajak

1.489,3 1.240,4 83,3 1.539,2 1.285 83,5 1.498,9 1.339,8 89,7 Pajak Dalam

Negeri

1440 1.205,5 83,7 1.503,3 1.249,5 83,1 1.284 1.221 95,1 Pajak

Perdagangan Internasional

49,3 34,9 70,9 35,9 35,5 98,9 214,9 118,8 55,3

Penerimaan Bukan Pajak

269,1 253,7 94,3 245,1 261,9 106,9 250 308.4 88,9

Hibah 3,3 10,4 314,9 2 8,2 417 1,4 7,6 542,8

Sumber : Kemenkeu (2017) dan Kompas (2017)

Pemerintah memberlakukan pengampunan pajak (tax amnesty) karena hingga tahun 2015, Wajib Pajak yang terdaftar dalam sistem administrasi Direktorat Jendral Pajak (DJP) mencapai 30.044.103 Wajib Pajak, yang terdiri atas 2.472.632 Wajib Pajak badan, 5.239.385 Wajib Pajak orang pribadi non karyawan, dan 22.332.086 Wajib Pajak orang pribadi karyawan. Menurut data Badan Pusat Statistik penduduk Indonesia berjumlah 258.200.000 jiwa dengan 121.900.000 angkatan kerja, maka hanya 22,61% (dua puluh dua koma enam puluh satu persen) angkatan kerja yang terdaftar sebagai Wajib Pajak. Menurut Bambang Brodjonegoro selaku Menteri Keuangan periode 2014 – 2016 bahwa tujuan lain diterapkan tax amnesty yaitu repatriasi atau menarik dana warga negara Indonesia yang ada di luar negeri, meningkatkan pertumbuhan nasional, meningkatkan basis perpajakan nasional, dan meningkatkan penerimaan pajak tahun 2016 (Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan). Tax amnesty dilakukan dalam tiga periode yaitu Juli – September 2016, Oktober – Desember 2016, dan Januari – Maret 2017.

Menurut data Direktorat Jendral Pajak (DJP), program tax amnesty telah menambah setoran kas negara sebesar Rp. 135.000.000.000.000 (Seratus Tiga Puluh Lima Trilun Rupiah).

Setoran itu terdiri dari uang tebusan Rp.114.100.000.000.000 (Seratus Empat Belas Triliun Seratus Miliar Rupiah), Pembayaran uang tunggakan pajak Rp 18.800.000.000.000 (Delapan Belas Triliun Delapan Ratus Miliar Rupiah) dan pembayaran bukti pemeriksaan sebesar Rp.

1.750.000.000.000 (Satu Triliun Tujuh Ratus Lima Puluh Miliar Rupiah). Hasil ini jauh dibawah target yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp. 165.000.000.000.000 (Seratus Enam Puluh Lima Trilun Rupiah).

(3)

3

Di penelitian sebelumnya yang dijadikan referensi dalam penelitian ini, 3 (tiga) diantaranya menggunakan data kuantitatif dan 3 (tiga) menggunakan data kualitatif. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu tersebut, maka kajian ini dimaksudkan untuk menguji sisi keadilan, ketakutan dan keberhasilan tax amnesty menurut sudut pandang Wajib Pajak orang pribadi.

2 Landasan Teori dan Pengembangan Hipotesis 2.1. Teori Atribusi

Teori atribusi menjelaskan perilaku manusia dapat dipengaruhi oleh penyebab-penyebab dari internal atau karena faktor ekternal (Heider, 1958). Menurut Luthans (2005) dalam Parasayu dan Rohman (2014), Teori ini mengacu tentang bagaimana seseorang menjelaskan penyebab perilaku orang lain atau dirinya sendiri yang ditentukan apakah dari internal misalnya sifat, karakter, sikap, maupun eksternal misalnya tekanan situasi atau keadaan tertentu yang akan memberikan pengaruh terhadap perilaku indvidu.

Alasan pemilihan teori ini adalah bagaimana Wajib Pajak melakukan penilaian dari sisi keadilan, ketakutan dan keberhasilan terhadap diri sendiri dan/atau orang lain yang mengikuti tax amnesty.

2.2. Pajak

Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan menyebutkan pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro dalam Resmi (2013), pajak adalah iuran rakyat kepada negara berdasarkan Undang-Undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapatkan jasa timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukan, dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

2.3. Tax Planning

Tax Planning sebagai proses mengorganisasi usaha Wajib Pajak atau sekelompok Wajib Pajak sedemikian rupa sehingga utang pajak, baik PPH maupun beban pajak yang lainnya berada pada posisi yang seminimal mungkin (Suandy, 2008). Tujuan tax planning adalah untuk merekayasa usaha Wajib Pajak agar beban pajak dapat ditekan serendah mungkin dengan memanfaatkan celah-celah peraturan perpajakan yang ada untuk memaksimalkan jumlah laba setelah pajak (Mangoting, 1999). Perencanaan pajak adalah tahap awal dalam penghematan pajak (Suandy, 2011). Menurut Suandy (2011), jenis tax planning terbagi menjadi perencanaan pajak nasional dan perencanaan pajak internasional.

2.4. Tax Amnesty

Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang No.11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak, tax amnesty atau pengampunan pajak adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak

dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara mengungkapkan harta dan membayar uang tebusan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Baer dan Borgne (2008) menyatakan tax amnesty adalah kesempatan terbatas yang diberikan pemerintah kepada kelompok pembayar pajak tertentu untuk membayar jumlah yang telah ditetapkan, sebagai pertukaran atas pengampunan dari kewajiban pajak (termasuk bunga dan hukuman) yang berkaitan dengan masa pajak sebelumnya, serta kebebasan tuntutan hukum pidana.

2.5. Keadilan Pajak

Keadilan dalam perpajakan memiliki dua dimensi menurut Davey dalam Murandika (2014) yaitu keadilan horizontal dan vertikal. Keadilan horizontal yaitu pemungutan pajak adil secara horizontal apabila beban pajaknya sama atas semua Wajib Pajak yang memperoleh penghasilan

(4)

4

yang sama dengan jumlah tanggungan yang sama, tanpa membedakan jenis penghasilan atau sumber penghasilan. Sedangkan keadilan vertikal yaitu secara umum, pajak itu dikatakan baik jika pajak tersebut Progresif. Artinya, presentase pendapatan seseorang yang dibayarkan untuk pajak bertambah sesuai dengan tingkat pendapatnya.

Keadilan dianggap sesuatu hal yang penting bagi Wajib Pajak. Menurut Dibyo Prabowo dalam penelitiannya yang berjudul ”The Successful Tax Amnesty 2016 in Indonesia (Study in Tax Service Office Kendari)”, bahwa terjadi kesalahpahaman yang muncul dalam masyarakat, dimana masyarakat beranggapan bahwa program tax amnesty membuat rasa ketidakadilan bagi Wajib Pajak yang taat. Penelitian lainnya juga mengemukakan pendapat serupa bahwa program tax amnesty di Turki diterapkan untuk melindungi beberapa pembayar pajak (İpek, Öksüz, & Özkaya, 2012). Hal ini menyebabkan timbulnya rasa ketidakadilan bagi Wajib Pajak yang taat membayar pajak dan melaporkan pajaknya. Maka hipotesis pertama penelitian ini sebagai berikut:

H1: keadilan pajak berpengaruh positif terhadap tax amnesty 2.6. Teori Ketakutan

Menurut Tony Whitehad, dalam bukunya yang berjudul “Fears and Phobias Overcoming Common Problems Service”, definisi takut adalah sesuatu yang sedikit kompleks, didalamnya terdapat suatu perasaan emosional dan sejumlah perasaan jasmaniah. Rasa takut ditimbul oleh adanya ancaman, sehingga seseorang akan menghindar diri dan sebagainya sehingga kecemasan dapat ditimbulkan oleh bahaya dari luar dan dari dalam diri (Gunarsa, 2008).

Kecemasan dapat ditandai dengan istilah-istilah seperti kekhawatiran, keprihatinan, dan rasa takut, yang kadang-kadang kita alami dalam tingkat yang berbeda (Tallis, 1991).

Kesempatan pengampunan pajak adalah kesempatan yang langka dan harus dimanfaatkan untuk mendukung pemerintah, akan tetapi tax amnesty tidak sepenuhnya dipahami Wajib Pajak, Wajib Pajak cenderung ketakutan dan terpaksa (Setyaningsih & Okfitasari, 2016).

Hasil penelitiannya menunjukan pemahaman program pengampunan pajak hanya dipahami 3 (tiga) Wajib Pajak atau 27% (dua puluh tujuh persen) partisipan, pajak tetap menjadi sebentuk gangguan dan menimbulkan ketakutan di masyarakat. Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah H2: ketakutan dalam pengungkapan harta berpengaruh negatif terhadap tax amnesty

2.7. Keberhasilan

Aspek keberhasilan kebijakan dinilai dengan pencapaian tujuan (Mc Connel, 2010).

Keberhasilan suatu kebijakan dipengaruhi oleh ukuran dan tujuan kebijakan, sumber-sumber kebijakan, ciri-ciri atau sifat Badan/Instansi pelaksana, komunikasi antar organisasi terkait dengan

kegiatan-kegiatan pelaksanaan, sikap para pelaksana, lingkungan ekonomi, sosial dan politik (Van Meter & Van Horn, 1975).

Keberhasilan penerapan tax amnesty tidak hanya dilihat dari pencapaian target pajak tetapi hal terpenting adalah untuk meningkatkan sikap dan perilaku Wajib Pajak menjadi lebih taat (Prabowo, 2017). Hipotesis ketiga dalam penelitian ini yaitu

H3: Persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty berpengaruh positif terhadap tax amnesty

3 Metodologi Penelitian 3.1. Data dan Sampel

Responden dalam penelitian ini adalah Wajib Pajak orang pribadi. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kausalitas dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari survei melalui kuesioner. Populasi (N) dalam penelitian ini adalah jumlah Wajib Pajak terdaftar di Indonesia hingga tahun 2015 berjumlah 27.571.471 dengan tingkat toleransi error 10% (sepuluh persen), diperoleh minimal sampel sebanyak 99,98 (100) responden. Pengambilan Sampel dengan menggunakan teknik purposive

(5)

5

sampling, dengan kriteria Wajib Pajak orang pribadi, memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Wajib Pajak memiliki penghasilan/pendapatan diatas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Rp 4.500.000,-/bulan atau Rp 54.000.000,-/tahun, dan Bekerja atau bertempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha di Jakarta

3.2. Variabel dan Operasional Variabel

Variabel Dependen dan Independen dalam penelitian ini diukur dengan indikator dari 6 (Enam) penelitian. Pertama penelitian dari Noviari, Yani dan Naniek (2017), kedua penelitian dari Husnurrosyidah (2016), ketiga penelitian dari İpek, Öksüz, dan Özkaya (2012), keempat penelitian dari Prabowo (2017), kelima penelitian Setyaningsih & Okfitasari (2016), dan terakhir penelitian Said (2017).

Program tax amnesty diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak sebagai variabel dependen (Y) diukur menggunakan indikator dari penelitian Noviari, Yani dan Naniek (2017), Husnurrosyidah (2016), dan İpek, Öksüz, dan Özkaya (2012) yaitu keikutsertaan Wajib Pajak dalam program tax amnesty (Yani & Noviari, 2017), pengetahun sanksi administrasi (Husnurrosyidah, 2016), efek jangka pendek dan jangka panjang serta keuntungan dan kerugian mengikuti tax amnesty (İpek, Öksüz, & Özkaya, 2012).

Tabel 3.1

Operasional Variabel Dependen Variabel

Dependen Definisi Operasional Indikator Q Skala

Tax Amnesty (Y)

Tax amnesty atau pengampunan pajak adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara mengungkapkan harta dan membayar uang tebusan (Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Pengampunan Pajak, 2016)

1. Keikutsertaan Wajib Pajak dalam program tax amnesty

1 Likert

2. Pengetahun sanksi administrasi

2 3. Efek jangka pendek

dan jangka panjang serta keuntungan dan kerugian mengikuti tax amnesty

3-4

Sumber: Penulis (2018)

Keadilan (X1) diukur dengan indikator dari penelitian İpek, Öksüz, dan Özkaya (2012) dan Prabowo (2017) yaitu taat membayar pajak (İpek, Öksüz, & Özkaya, 2012), nasionalisme (Prabowo, 2017), penerapan tax amnesty untuk melindungi kalangan Wajib Pajak tertentu (İpek, Öksüz, & Özkaya, 2012).

Ketakutan dalam pengungkapan harta (X2) diukur dengan indikator dari penelitian Setyaningsih & Okfitasari (2016), yaitu pengetahuan dan pemahaman tentang UU pengampunan pajak, mendapatkan informasi dan/atau bantuan dari pihak luar (konsultan pajak), intensitas sosialisasi, kewajiban mengalihkan harta dari luar wilayah Indonesia ke Indonesia.

Persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty (X3) diukur dengan indikator dari penelitian Prabowo (2017), Setyaningsih & Okfitasari (2016) dan Said (2017) yaitu jumlah Wajib Pajak yang mengikuti program (Prabowo, 2017), berhasil menarik dana warga negara Indonesia yang ada di luar negeri (Setyaningsih & Okfitasari, 2016), tujuan tax amnesty dalam UUD tercapai (Prabowo, 2017), target pajak (Said, 2017), sikap dan perilaku Wajib Pajak menjadi lebih taat (Prabowo, 2017)

(6)

6 Tabel 3.2

Operasional Variabel Independen Variabel

Independen Definisi Operasional Indikator Q Skala

Keadilan (X1) Pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata, yaitu pajak dikenakan kepada orang pribadi yang harus sebanding dengan kemampuan membayar pajak dan sesuai dengan manfaat yang diterima (Moningka, Saerang, &

Sabijono, 2015).

1. Taat membayar pajak

5-7 Likert 2. Nasionalisme 8-10

3. Penerapan tax amnesty tidak untuk melindungi kalangan Wajib Pajak tertentu

11-13

Ketakutan dalam

pengungkapan harta (X2)

Rasa takut ditimbul oleh adanya ancaman,

sehingga seseorang akan menghindar diri dan sebagainya sehingga kecemasan dapat ditimbulkan oleh bahaya dari luar dan dari dalam diri (Gunarsa, 2008)

1. Pengetahuan dan pemahaman tentang UU pengampunan pajak

14-15

Likert

2. Mendapatkan informasi dan/atau bantuan dari pihak luar (konsultan pajak)

16-17

3. Intensitas sosialisasi

18-19 4. Kewajiban

mengalihkan harta dari luar wilayah Indonesia ke Indonesia

20-21

Persepsi masyarakat atas

keberhasilan program tax amnesty (X3)

Keberhasilan penerapan tax amnesty tidak hanya dilihat dari pencapaian target pajak tetapi hal terpenting adalah untuk meningkatkan sikap dan perilaku Wajib Pajak menjadi lebih taat (Prabowo, 2017).

1. Jumlah Wajib Pajak yang

mengikuti program

22-23 Likert

2. Berhasil menarik dana Warga Negara Indonesia yang ada di luar negeri

24-25

3. Tujuan tax amnesty dalam UUD tercapai

26-27

4. Target tax

amnesty tercapai 28 5. Sikap dan perilaku

Wajib Pajak menjadi lebih taat

29-30

Sumber: Penulis (2018)

(7)

7 3.3. Metode Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan cara menggunakan perhitungan 5 poin skala likert.

Kuesioner yang diisi oleh responden akan dihitung dan diolah menggunakan program Software Statistical Product and Service Solution (SPSS) untuk menghasilkan perhitungan yang menunjukan pengaruh variabel independen terhadap dependen.

Model persamaan regresi yang akan diuji ialah sebagai berikut Yit = αit + β1X1it + β2X2it+ β3X3it + εit

Keterangan:

Y : Tax Amnesty

X1 :Keadilan

X2 : Ketakutan dalam Mengungkap Harta X3 : Persepsi Masyarakat atas Keberhasilan

α : Konstanta

β1 β2 β3 : Koefisien Variabel ε : Margin Error

Metode analis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji asumsi klasik, merupakan salah satu pengujian prasyarat pada regresi linier berganda. Menurut Kuncoro (2013), uji asumsi klasik adalah suatu model regresi yang valid harus memenuhi kriteria BLUE (Best, Linear, Unbiased dan Estimated). Uji asumsi klasik untuk mengetahui model regresi yang digunakan dalam penelitian telah memenuhi kriteria BLUE.

4 Analisis dan Pembahasan 4.1. Analisis Statistik Deskriptif

Variabel dependen tax amnesty (Y) memiliki nilai terendah/minimal sebesar 2 dan nilai tertinggi/maksimum sebesar 5 dengan nilai rata-rata sebesar 3,88. Standar deviasi untuk variabel tax amnesty sebesar 0,567. Artinya terjadi perbedaan nilai tax amnesty terhadap nilai rata-rata sebesar 0,567. Variabel keadilan (X1) memiliki nilai terendah/minimal sebesar 2 dan nilai tertinggi/maksimum sebesar 5 dengan nilai rata-rata sebesar 3,84. Variabel keadilan memiliki nilai standar deviasi sebesar 0,543. Artinya terjadi perbedaan nilai keadilan terhadap nilai rata-rata sebesar 0,543. Variabel ketakutan (X2) memiliki nilai terendah/minimum sebesar 1 dan nilai tertinggi/maksimal sebesar 4 dengan nilai rata-rata sebesar 2,83. Standar deviasi untuk variabel ketakutan sebesar 0,540. Artinya terjadi perbedaan nilai ketakutan terhadap nilai rata-rata sebesar 0,540. Variabel keberhasilan (X3) memiliki nilai terendah/minimal sebesar 3 dan nilai tertinggi/maksimum sebesar 5 dengan nilai rata-rata sebesar 3,57. Variabel keberhasilan memiliki nilai standar deviasi sebesar 0,513. Artinya terjadi perbedaan nilai keadilan terhadap nilai rata-rata sebesar 0,513.

Tabel 4.1 Uji Statistik Deskriptif

Variabel N Min Max Mean Std.Deviation

Tax Amnesty (Y) 100 2 5 3,88 0,567

Keadilan (X1) 100 2 5 3,84 0,543

Ketakutan (X2) 100 1 4 2,83 0,540

Keberhasilan (X3) 100 3 5 3,57 0,513

Sumber: Data Primer, diolah (2018)

(8)

8 4.2. Analisis Tingkat Capaian Responden (TCR)

Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai Tingkat Capaian Responden (TCR) menurut Riduwan (2008) adalah

TCR = 𝑅𝑆

𝑛 𝑋 100%

Keterangan :

TCR = Tingkat Capaian Responden

Rs = Rata–Rata Skor Jawaban Responden n = Nilai Skor Jawaban

Tabel 4.2

Nilai Tingkat Capaian Responden

Variabel Min Max (n) Mean (Rs) TCR (𝑅𝑆

𝑛 𝑥100%)

Tax Amnesty (Y) 2 5 3,88 77,6%

Keadilan (X1) 2 5 3,84 76,8%

Ketakutan (X2) 1 4 2,83 70,75%

Keberhasilan (X3) 3 5 3,57 71.4%

Sumber: Data Primer, diolah (2018)

Kriteria interpretasi skor TCR yaitu 0 – 20% menginterpretasikan sangat lemah, 21 – 40%

menginterpretasikan lemah, 41 – 60% menginterpretasikan cukup, 61 – 80% menginterpretasikan kuat, dan 81 – 100% menginterpretasikan sangat kuat.

Tabel 4.2 menunjukan nilai TCR variabel tax amnesty sebesar 77,6%, artinya tingkat capaian responden untuk variabel dependen tax amnesty (Y) adalah kuat. Nilai TCR variabel keadilan sebesar 76,8%, artinya tingkat capaian responden untuk variabel independen keadilan (X1) adalah kuat. Nilai TCR variabel ketakutan sebesar 70,75%, artinya tingkat capaian responden untuk variabel independen ketakutan (X2) adalah kuat. TCR variabel keberhasilan sebesar 71,4%, artinya tingkat capaian responden untuk variabel independen keberhasilan (X3) adalah kuat

4.3. Hasil Analisis Kualitas Data 4.3.1. Uji Validitas

Tabel 4.3

Uji Validitas Variabel Tax Amnesty Variabel Pertanyaan Nilai Pearson

Correlation

Nilai r-kritis

(λ = 5%) Keterangan

Tax Amnesty

1 0,480** 0,1654 Valid

2 0,441** 0,1654 Valid

3 0,459** 0,1654 Valid

4 0,144 0,1654 Tidak Valid

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Hasil uji validitas variabel dependen tax amnesty menunjukan terdapat 1 butir pertanyaan yang tidak valid yaitu pertanyaan keempat sehingga pertanyaan tersebut harus dikeluarkan dari analisis dan tidak akan diikutsertakan dalam pengujian selanjutnya karena pertanyaan tersebut tidak mampu menjelaskan dimensi variabel tersebut. Sedangkan 3 butir pertanyaan lainnya dinyatakan valid karena nilai pearson correlation lebih besar dari nilai r-kritis.

(9)

9 Tabel 4.4

Uji Validitas Variabel Independen

Variabel Pertanyaan Nilai Pearson Correlation Nilai r-kritis Keterangan

Keadilan

5 0,403** 0,1654 Valid

6 0,433** 0,1654 Valid

7 0,286** 0,1654 Valid

8 0,395** 0,1654 Valid

9 0,498** 0,1654 Valid

10 0,469** 0,1654 Valid

11 0,440** 0,1654 Valid

12 0,491** 0,1654 Valid

13 0,264** 0,1654 Valid

Ketakutan

14 -0,070 0,1654 Tidak Valid

15 0,503** 0,1654 Valid

16 0,464** 0,1654 Valid

17 0,359** 0,1654 Valid

18 0,492** 0,1654 Valid

19 0,416** 0,1654 Valid

20 0,122 0,1654 Tidak Valid

21 0,120 0,1654 Tidak Valid

Keberhasilan

22 0,619** 0,1654 Valid

23 0,464** 0,1654 Valid

24 0,334** 0,1654 Valid

25 0,603** 0,1654 Valid

26 0,446** 0,1654 Valid

27 0,499** 0,1654 Valid

28 0,541** 0,1654 Valid

29 0,543** 0,1654 Valid

30 0,652** 0,1654 Valid

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Hasil uji validitas variabel independen keadilan dan keberhasilan pada tabel diatas menunjukan bahwa seluruh pertanyaan nomor 5 – 13 untuk variabel keadilan dan 22 – 30 untuk variabel keberhasilan dinyatakan valid karena nilai pearson correlation lebih besar dari nilai r-kritis.

Sedangkan hasil uji variabel ketakutan terdapat 3 butir pertanyaan yang tidak valid yaitu pertanyaan nomor 14, 20 dan 21 sehingga pertanyaan tersebut harus dikeluarkan dari analisis dan tidak akan diikutsertakan dalam pengujian selanjutnya karena pertanyaan tersebut tidak mampu menjelaskan dimensi variabel tersebut. Namun, 5 butir pertanyaan lainnya dinyatakan valid karena nilai pearson correlation lebih besar dari nilai r-kritis.

4.3.2. Uji Reliabilitas

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukan bahwa satu variabel dependen dan tiga variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini memiliki nilai Cronbach Alpha (Nilai Reliabilitas) lebih besar dari nilai r-tabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen kuesioner dalam penelitian ini dinyatakan reliabel dan layak digunakan sebagai alat ukur.

Tabel 4.5 Uji Reliabilitas

Variabel Cronbach Alpha

(Nilai Reliablitas) Nilai r-tabel Keterangan

Tax Amnesty (Y) 0,604 0,1654 Reliabel

Keadilan Perpajakan (X1) 0,703 0,1654 Reliabel

Ketakutan dalam Pengungkapan Harta (X2) 0,714 0,1654 Reliabel Persepsi Masyarakat atas Keberhasilan

Program Tax Amnesty (X3)

0,829 0,1654 Reliabel

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

(10)

10 4.4. Analisis Uji Asumsi Klasik

4.4.1. Uji Normalitas

Tabel 4.6 Uji Normalitas

Keterangan Unstandardized Residual

N 100

Kolmogorov-Smirnov Z 0,417

Asymp. Sig. 0,995

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Model regresi yang baik adalah memiliki residual yang berdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji normalitas pada tabel 4.9 diketahui nilai probability asymp.sig sebesar 0,995 yaitu lebih

besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa nilai residual variabel tax amnesty (Y), keadilan (X1), ketakutan (X2) dan keberhasilan (X3) berdistribusi normal.

4.4.2. Uji Multikolinearitas

Berdasarkan tabel 4.7 nilai tolerance variabel keadilan, ketakutan dan keberhasilan lebih besar dari 0,10 atau nilai VIF ketiga variabel independen kurang dari 10,00 maka dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel independen tidak terdapat multikolinearitas.

Tabel 4.7 Uji Multikolinearitas

Variabel Tolerance VIF Keterangan

Keadilan Perpajakan (X1) 0,843 1,186 Tidak Terdapat Multikolinearitas Ketakutan dalam

Pengungkapan Harta (X2) 0,847 1,180 Tidak Terdapat Multikolinearitas Persepsi Masyarakat atas

Keberhasilan Program Tax Amnesty (X3)

0,725 1,380 Tidak Terdapat Multikolinearitas

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

4.4.3. Uji Autokorelasi

Tabel 4.8 Uji Autokorelasi

DU Durbin-Watson 4 – DU Keterangan

1,7364 < 1,953 < 2,047 Tidak terjadi autokorelasi Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Angka Durbin-Watson yang didapat akan dibandingkan dengan kriteria penerimaan dan penolakan yang dibuat dengan dL dan du ditentukan berdasarkan jumlah variabel bebas (k) dan jumlah sampelnya (n) (Iqbal, 2015). Didapat nilai dL adalah 1,6131 dan dU adalah 1,7364. Nilai Durbin-Watson sebesar 1,953 lebih besar dari 1,7364 dan nilai Durbin-Watson sebesar 1,953 lebih kecil dari 4-dU yaitusebesar 2,047 yang diperoleh dari perhitungan 4 – 1,953. Dapat disimpulkan bahwa model regresi linier dalam penelitian ini tidak terjadi autokorelasi.

4.4.4. Uji Heteroskedastisitas

Tabel 4.9

Uji Heteroskedastisitas

Variabel Sig Keterangan

Keadilan Perpajakan (X1) 0,188 Bebas Heteroskedastisitas Ketakutan dalam Pengungkapan Harta (X2) 0,425 Bebas Heteroskedastisitas Persepsi Masyarakat atas Keberhasilan

Program Tax Amnesty (X3)

0,551 Bebas Heteroskedastisitas

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

(11)

11

Model dalam penelitian ini dikatakan baik karena tidak terjadi heteroskedastisitas.

Berdasarkan tabel 4.9 bahwa ketiga variabel independen memiliki nilai signifikansi > α 0,05 maka variabel bebas heteroskedastisitas (Yani & Noviari, 2017).

4.5. Analisis Pengujian Hipotesis 4.5.1. Uji Regresi Linier Berganda

Berdasarkan tabel 4.10 nilai regresi linier yang diperoleh adalah Y = 1,598 + 0,393 X1 - 0,057 X2 + 0,262 X3

Konstanta (β) pada tabel 4.10 sebesar 1,598, menunjukan jika keadilan pajak, ketakutan dalam menggungkap harta dan persepsi masyarakat atas keberhasilan tax amnesty konstanta atau sama dengan nol. Maka besar nilai tax amnesty adalah sebesar 1,598.

Tabel 4.10

Uji Regresi Linier Berganda

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized

Coefficients T Sig B Std Error Beta

(Constant) 1,598 0,449 3,562 0,001

Keadilan 0,393 0,100 0,376 3,928 0,000

Ketakutan -0,057 0,100 -0,054 -0,568 0,571 Keberhasilan 0,262 0,114 0,237 2,298 0,024

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

4.5.2. Uji Kelayakan Model

Berdasarkan tabel 4.11 nilai F hitung 11,057 > nilai F tabel 2,70 dan nilai sinifikansi 0,000 < 0,05 sehingga tiga variabel independen dalam penelitian ini yaitu keadilan pajak (X1),

ketakutan dalam mengungkap harta kekayaan (X2) dan persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty (X3) layak digunakan untuk memprediksi tax amnesty sebagai variabel dependen sehingga pembuktian hipotesis dapat dilanjutkan.

Tabel 4.11 Uji F

Model Sum of Square Df Mean Square F Sig

Regression 8,168 3 2,723 11,057 0,000b

Residual 23,639 96 0,246

Total 31,807 99

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

4.5.3. Uji Koefisien Determinasi

Nilai R2 sebesar 25,7% menunjukan korelasi lemah dan nilai adjusted R Square adalah sebesar 0,234 hasil ini menunjukan bahwa pengaruh variabel keadilan perpajakan dan persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty sebesar 23,4% persen dan sisanya dipengaruhi faktor–faktor lain di luar model penelitian.

Tabel 4.12

Uji Koefisien Determinasi

R R Square Adj R Square

0,507 0,257 0,234

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

4.5.4. Uji Hipotesis

Tabel 4.13 menunjukan nilai signifikansi variabel keadilan sebesar 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak. Artinya keadilan pajak berpengaruh dan memiliki hubungan positif terhadap

(12)

12

keikutsertaan Wajib Pajak orang pribadi di kota Jakarta untuk mengikuti program tax amnesty.

Hasil koefisien transformasi (thitung) dalam tabel diatas yaitu sebesar 3,928 lebih besar dari nilai ttabel

yaitu sebesar 1,66088, hal ini menunjukan bahwa keadilan pajak memiliki pengaruh positif yang membuktikan bahwa apabila semakin tinggi keadilan maka jumlah keikutsertaan Wajib Pajak orang pribadi dalam program tax amnesty akan tinggi juga, begitupun sebaliknya apabila semakin rendah keadilan pajak maka jumlah keikutsertaan Wajib Pajak orang pribadi dalam program tax amnesty akan rendah. Jadi hipotesis pertama penelitian ini yaitu keadilan pajak berpengaruh positif terhadap tax amnesty, dapat diterima sehingga Ha diterima dan H0 ditolak.

Tabel 4.13 Uji T

Variabel thitung Sig ttabel

Keadilan Pajak 3,928 0,000 1,66088

Ketakutan dalam pengungkapan harta -0,568 0,571 1,66088 Persepsi masyarakat atas kebehasilan

tax amnesty

2,298 0,024 1,66088

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Nilai signifikansi variabel ketakutan sebesar 0,571 > 0,05, maka H0 diterima. Artinya ketakutan dalam pengungkapan harta tidak berpengaruh pada kemauan Wajib Pajak orang pribadi menjadi peserta tax amnesty di Jakarta. Hasil koefisien transformasi (t) variabel ketakutan dalam tabel diatas yaitu sebesar -0,568 lebih kecil dari nilai ttabel yaitu sebesar 1,66088, hal ini menunjukan bahwa ketakutan dalam mengungkap harta tidak memiliki pengaruh negatif. Jadi hipotesis kedua penelitian ini yaitu ketakutan dalam pengungkapan harta berpengaruh negatif terhadap tax amnesty, tidak dapat diterima sehingga Ha ditolak dan H0 diterima.

Nilai signifikansi variabel keberhasilan sebesar 0,024 < 0,05 maka H0 ditolak. Artinya persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty berpengaruh dan memiliki hubungan positif terhadap tax amnesty. Hasil koefisien transformasi (t) dalam tabel diatas yaitu sebesar 2,298 lebih besar dari nilai ttabel yaitu sebesar 1,66088, hal ini menunjukan bahwa persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty memiliki pengaruh positif. Jadi hipotesis ketiga penelitian ini yaitu persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty berpengaruh positif terhadap tax amnesty, dapat diterima sehingga Ha diterima dan H0 ditolak.

4.6. Analisa Hasil Penelitian

4.6.1. Keadilan Pajak berpengaruh positif

Hasil pengujian hipotesis pertama yaitu keadilan pajak memiliki pengaruh dan hubungan positif (Ha diterima) terhadap keikutsertaan Wajib Pajak orang pribadi di kota Jakarta untuk mengikuti program tax amnesty. Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin meningkat keadilan perpajakan, maka jumlah Wajib Pajak orang pribadi yang partisipasi dalam program tax amnesty akan tinggi. Begitupun sebaliknya, semakin menurunnya keadilan perpajakan, maka jumlah Wajib Pajak orang pribadi yang partisipasi dalam program tax amnesty akan rendah.

Faktanya, data dari Direktorat Jendral Pajak (DJP) menunjukan hanya 2,65% (dua koma enam puluh lima persen) masyarakat yang berpartisipasi dalam program pengampunan pajak yang diselenggarakan oleh pemerintah dari total 22,61% (dua puluh dua koma enam puluh satu persen) masyarakat yang terdaftar sebagai Wajib Pajak orang pribadi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rendahnya keadilan pajak dalam program tax amnesty berpengaruh terhadap rendahnya jumlah partisipasi masyarakat (Wajib Pajak orang pribadi) sehingga keadilan pajak berpengaruh terhadap keikutsertaan Wajib Pajak orang pribadi pada program tax amnesty di kota Jakarta.

Hasil penelitian sesuai dengan hasil penelitian İpek, Öksüz, & Özkaya (2012) bahwa tax amnesty di Turki diterapkan untuk melindungi beberapa pembayar pajak. Hal ini menyebabkan timbulnya rasa ketidakadilan bagi Wajib Pajak yang taat membayar pajak dan melaporkan pajaknya. Hasil penelitian Dibyo Prabowo (2017) juga mengemukakan hasil yang serupa yaitu

(13)

13

kesalahpahaman yang muncul dalam masyarakat, dimana masyarakat beranggapan bahwa program tax amnesty membuat rasa ketidakadilan bagi Wajib Pajak yang taat.

4.6.2. Ketakutan dalam pengungkapan harta berpengaruh negatif

ketakutan dalam mengungkap harta tidak memiliki pengaruh negatif. Jadi hipotesis kedua penelitian ini yaitu ketakutan dalam pengungkapan harta berpengaruh negatif terhadap tax amnesty tidak dapat diterima (Ha ditolak). Hal ini menunjukan bahwa ketakutan dalam mengungkap harta tidak memiliki pengaruh terhadap keikutsertaan Wajib Pajak orang pribadi dalam program tax amnesty. Dapat dikatakan bahwa ketakutan dalam mengungkap harta kekayaan tidak dapat menjadi faktor yang mempengaruhi keikutsertaan Wajib Pajak orang pribadi dalam program tax amnesty.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Titik Setyaningsih dan Antin Okfitasari (2016) bahwa pajak (program tax amnesty) tetap menjadi sebentuk gangguan dan menimbulkan ketakutan di masyarakat.

4.6.3. Persepsi Masyarakat atas keberhasilan tax amnesty berpengaruh positif terhadap tax amnesty

Hasil pengujian hipotesis ketiga persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty berpengaruh dan memiliki hubungan positif terhadap tax amnesty (Ha diterima). Artinya masyarakat memiliki persepsi yang baik atas keberhasilan program tax amnesty.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Prabowo (2017) bahwa keberhasilan penerapan tax amnesty tidak hanya dilihat dari pencapaian target pajak tetapi hal terpenting adalah untuk meningkatkan sikap dan perilaku Wajib Pajak menjadi lebih taat. Namun, hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Said (2017), bahwa peraturan tax amnesty di Indonesia tidak efektif karena hasil yang ditargetkan oleh pemerintah Indonesia tidak tercapai.

4.7. Implikasi Manajerial

Implikasi pertama untuk keadilan pajak yaitu keadilan pajak berpengaruh positif terhadap tax amnesty. Kesempatan yang sama didapatkan oleh seluruh Wajib Pajak orang pribadi dalam program tax amnesty dapat mencerminkan keadilan karena setiap Wajib Pajak mendapatkan pengampunan pajak atas harta yang kurang atau belum diungkapkan dan dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan sebelumnya. Program tax amnesty ini dapat diikuti oleh Wajib Pajak dalam periode waktu dan tarif uang tebusan yang sama sebagaimana telah ditentukan oleh pemerintah. Maka dari itu, Wajib Pajak harus menyambut baik program yang telah dibuat oleh pemerintah guna memperbaiki perpajakan indonesia kedepannya.

Implikasi kedua yaitu ketakutan dalam pegungkapan harta tidak berpengaruh negatif terhadap tax amnesty. Wajib pajak yang berpartisipasi dalam program tax amnesty tidak takut untuk mengungkapkan dan melaporkan harta mereka, terbukti dengan besarnya jumlah uang setoran pajak yang didapat Direktorat Jendral Pajak dalam program ini yaitu sebesar Rp 135.000.000.000.000 (Seratus Tiga Puluh Lima Trilun Rupiah), diantaranya berasal dari uang tebusan yaitu sebesar Rp.114.100.000.000.000 (Seratus Empat Belas Triliun Seratus Miliar Rupiah). Artinya 84,4% setoran pajak yang diterima negara Indonesia dalam program tax amnesty berasal dari uang tebusan. Sehingga, pemerintah harus mengapresiasi antusias dan partisipasi Wajib Pajak yang telah mendukung program pemerintah ini dengan mengungkap harta dan melaporkan hartanya serta rela untuk membayar uang tebusan.

Implikasi terakhir yaitu persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty berpengaruh positif terhadap tax amnesty. Direktorat Jendral Pajak telah berhasil mencapai 81,1%

dari target penerimaan pajak yang ditetapkan pemerintah dalam program tax amnesty. Hal ini membuktikan bahwa tax amnesty di Indonesia sudah berhasil. Maka dari itu, kedepannya pemerintah dapat memperbaiki sistem perpajakan di Indonesia menjadi lebih baik dan sistematis agar memudahkan pengawasan terhadap Wajib Pajak tidak patuh.

(14)

14 5 Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel keadilan pajak memiliki pengaruh dan hubungan positif terhadap tax amnesty oleh Wajib Pajak orang pribadi yang bekerja atau bertempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha di Jakarta, ketakutan dalam pengungkapan harta tidak memiliki pengaruh negatif terhadap tax amnesty oleh Wajib Pajak orang pribadi yang bekerja atau bertempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha di Jakarta, dan persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty berpengaruh dan memiliki hubungan positif terhadap tax amnesty oleh Wajib Pajak orang pribadi yang bekerja atau bertempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha di Jakarta.

Penelitian ini masih belum sempurna karena ada keterbatasan dalam penelitian ini, yaitu keterbatasan waktu dalam pengumpulan sampel dan jumlah sampel dalam penelitian ini terbatas karena menggunakan rumus slovin dengan tingkat toleransi error 10%. Jumlah sampel yang lebih besar akan memungkinkan memberikan hasil yang berbeda.

Saran yang dapat penulis berikan berdasarkan hasil penelitian yaitu pertama, dalam penelitian ini menggunakan sampel Wajib Pajak orang pribadi di kota Jakarta, dalam penelitian selanjutnya dapat memperkecil sampel menggunakan sampel Wajib Pajak orang pribadi Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Kedua, untuk penelitian selanjutnya dapat menambah jumlah sampel.

Ketiga, untuk penelitian selanjutnya dapat memperluas topik, yaitu dengan menghubungkan tax amnesty dan PAS Final (Pengungkapan Aset Sukarela dengan Tarif Final).

(15)

15 Daftar Pustaka

Adisetiawan, R. (2012). Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan dalam Memprediksi Pertumbuhan Laba. Jurnal Aplikasi Manajemen.

Akib, H. (2010). Implementasi Kebijakan. Jurnal Administrasi Publik Vol 1 Nomor 1 . Algifari. (2001). Analisis Regresi. Yogyakarta: BPFE.

Alm, James, & et al. (2009). Do Tax Amnesties Work? The Revenue Effects of Tax Amnesties During te Transition in the Russian Federation. Journal of Economic Analysis & Policy.

Ariyanti, Praditya, I. I., & Fiki. (2017, April 01). Resmi Berakhir di 31 Maret, Ini Hasil Tax Amnesty.

Dipetik 2 Februari, 2018, dari Liputan6:

http://www.liputan6.com/bisnis/read//2906371/resmi-berakhir-di-31-maret-ini-hasil-tax- amnesty

Autumn. (1989). The Effectiveness of Tax Amnesty Program in Selected Countries. FRBNY Quarterly Review.

Badan Pusat Statistik. (2017). Penduduk Indonesia Survei Penduduk Antara Sensus (SUPAS).

Dipetik 2 Februari, 2017, dari BPS: www.bps.go.id

Baer, K., & Borgne, E. L. (2008). Tax Amnesties: Theory, Trends, and some Altenatives.

Washington DC: International Monetry Fund.

Brotodihardjo, S. R. (1993). Pengantar Hukum Pajak. Bandung: Eresco.

Direktorat Jendral Pajak. (2016). Amnesti Pajak. Dipetik 6 April, 2018, dari Pajak: www.pajak.go.id Dwimulyani, S. (2017). Pengaruh Kebijakan Pengampunan Pajak 2016 dan Reformasi Sistem

Informasi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak. Jurnal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti Jakarta.

Edward, & George. (1984). Public Policy Implementing. London: Jai Press Inc.

Fahmi, H. (2016). Pengaruh Pengetahuan Perpajakan, Kualitas Pelayanan Pemerintah Daerah dan Kesadaran oleh Waib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan (Studi Empiris pada Kabupaten Belitung Timur). Research Repository Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.

Ghozali, I. (2005). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Univeritas Diponegoro.

Ghozali, I. (2009). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Ghozali, I. (2016). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 23. Semarang: Badan Penerbit Univeritas Diponegoro.

Ghufron, & Risnawati. (2010). Teori-Teori Psikologi. Bandung: FPOK (Falkutas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan).

Gunarsa, S. (2008). Psikologi Anak: Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Hanum, F., Slamet, L., & Sriwahyuni, T. (2015). Kontribusi Minat Belajar dan E-Learning sebagai Media Pembelajaran terhadap Hsil Belajar Siswa Kelas X Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 1 Air Putih Kabupaten Batubara Sumatera Utara. Jurnal Vokasional Teknik Elektronika dan Informatika Universitas Negeri Padang.

(16)

16

Harjo, D. (2012). Perpajakan Indonesia. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Heider, F. (1958). The psychology of interpersonal relation. newyork: wiley.

Husnurrosyidah. (2016). Pengaruh Tax Amnesty dan Saksi Pajak Terhadap Kepatuhan Pajak di BMT Se-Karesdenan Pati. Equilibrium Jurnal Ekonomi Syariah.

Ikatan Akuntan Indonesia. (2017). Modul Pelatihan Pajak Terapan Brevet AB Terpadu. Jakarta:

Ikatan AKuntan Indonesia.

Indonesia. (2016). Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Pengampunan Pajak. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5899, Sekretariat Negara, Jakarta.

Indonesia. (2016). Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Pengampunan Pajak.

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 131, Sekretariat Negara, Jakarta.

Ipek, S. (2012). Consideration of Taxpayer According to Situation of Benefit From Tax Amnesty:

An Empirical Research. International Journal of Business and Social Science.

İpek, S., Öksüz, M., & Özkaya, S. (2012). Considerations of Taxpayers According to Situation of Benefiting From Tax Amnesty: An Empirical Research. International Journal of Business and Social Science.

Iqbal, M. (2015). Pengolahan Data dengan Regresi Linier Berganda (dengan SPSS). Jurnal Perbanas Institute Jakarta.

Junaidi, J. (2010). Titik Presentase Distribusi t. Dipetik 4 Mei, 2018, dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya: https://www.prima.lecturer.pens.ac.id

Junaidi, J. (2017). Tabel F 0,05. Dipetik 4 Mei, 2018, dari Universitas Brawijaya:

http://ledhyane.lecture.ub.ac.id/files/2013/07/tabel-f-0-05,pdf

Junpath, S. V. (2013). Multiple Tax Amnesties and Compliance in South Africa. Journal Durban University of Technology.

Kementerian Keuangan. (2016). Realisasi APBN Per 31 Desember 2016 . Dipetik 2 Februari, 2017, dari Kemenkeu: www.djpbn.kemenkeu.go.id

Khairani, S. (2016). Pemahaman Wajib Pajak Terhadap Undang - Undang Republik Indonesia No.11 Tahun 2016 Tentang Pengampunan Pajak (Studi Kasus Wajib Pajak yang Terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Palembang Ilir Barat.

Kuncoro, M. (2013). Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta: PT Erlangga.

Liputan 6. (2017, April 1). Resmi Berakhir di 31 Maret Ini Hasil Tax Amnesty. Dipetik 2 Februari, 2018, dari Liputan 6: https://www.liputan6.com/bisni/read/2906371/resmi-berakhir-di-31- maret-ini-hasil-tax-amnesty

Mangoting, Y. (1999). Tax Planning: Sebuah Pengantar Alternatif Meminimalkan Pajak. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Universitas Kristen Petra.

Mardiasmo. (2006). Perpajakan. Yogyakarta: Andi Offset.

Marta, M. F. (2017, April 5). Sisi Lain "tax amnesty". Dipetik 2 Februari, 2018, dari Kompas.com:

https://ekonomi.kompas.com/read/2017/04/05/060000626/sisi.lain.tax.amnesty.

Mc Connel, A. (2010). Policy Success, Policy Failure and Grey Areas In Between. Cambridge University Press.

(17)

17

Moningka, N. A., Saerang, D. P., & Sabijono, H. (2015). Analisis Pengenaan Tarif Pajak Progresif pada Pajak Kendaraan Bermotor Berdasarkan The Four Maxims di Kabupaten Minahasa.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Raturangi.

Murandika, F. M., Handayani, S. R., & Said, A. (2014). Analisis Kebijakan Pemungutan Pajak Hotel atas Rumah Kos Ditinjau dari Perspekif Asas-Asas Pemungutan Daerah. Universitas Brawijaya Jurnal e-Perpajakan, No.1 Volume 1 Tahun 2014.

Ngadiman, & Huslin, D. (2015). Pengaruh Sunset Policy, Tax Amnesty, dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi Empiris di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Kembangan). Jurnal Akuntansi Universitas Tarumanegara/Volume XIX.

Parasayu, A., & Rohman. (2014). Analisa Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hasil Audit Internal Studi Persepsi Aparat Intern Pemerintah Kota Surakarta dan Kabupaten Boyolali.

Diponegoro Journal of Accounting.

Prabowo, D. (2017). The Successful Tax Amnesty 2016 in Indonesia (Study in Tax Service Office Kendari). International Journal of Sciences: Basic and Applied Research (IJSBAR).

Puspareni, K. D., Purnawati, I. G., & Wahyuni, M. A. (2017). Pengaruh Tax Amnesty, Pertumbuhan Ekonomi, Kepatuhan Wajib Pajak, dan Transformasi Kelembagaan Direktorat Jenderal Pajak Terhadap Penerimaan Pajak Tahun Pajak 2015 di Kantor Pelayanan. e-journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha.

Ragimun. (2014). Analisis Implementasi Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) di Indonesia. Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Resmi, S. (2013). Perpajakan Teori dan Kasus. Jakarta: Salemba Empat.

Resmi, S. (2013). Perpajakan Teori dan Kasus. Jakarta: Salemba Empat.

Resmi, S. (2017). Perpajakan Teori dan Kasus. Jakarta: Salemba Empat.

Riduwan. (2008). Rumus dan Data dalam Aplikasi Statistika. Bandung: Alfabeta.

Rohman, Anissa, P., & Abdul. (2014). Analisa Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Audit Internal (Studi Persepsi Aparat Intern Pemerintah Kota Surabaya dan Kabupaten Boyolali.

Diponegoro Journal of Accounting.

Said, E. W. (2017). Tax Policy in Action: 2016 Tax Amnesty Experience of The Republic of Indonesia. www.mdpi.com/journal/laws.

Santoso, U., & Setiawan, J. M. (2009). Tax Amnesty dan Pelaksanaannya di Beberapa Negara.

Jurnal Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis, Universitas Katolik Parahyangan Vol. 11, No. 2, Juli 2009.

Setyaningsih, T., & Okfitasari, A. (2016). Mengapa Wajib Pajak Mengikuti Tax Amnesty (Studi Kasus di Solo). Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan.

Sevilla, C. G., & et al. (1960). Research Methods. Quezon City: Rex Printing Company.

Stanford University. (t.thn.). Durbin Watson Critical Value. Dipetik 4 Mei, 2018, dari Stanford University: https://web.stanford.edu/~clint/bench/dw05b.htm

Suandy, E. (2008). Hukum Pajak. Jakarta: Salemba Empat.

Suandy, E. (2011). Perencanaan Pajak. Jakarta: Salemba Empat.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.

Bandung: Alfabeta.

(18)

18

Sugiyono. (2012). Memahami Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sumarwan, & et al. (2011). Riset Pemasaran dan Konsumen : Panduan Riset dan Kajian, Kepuasan, Perilaku, Pembelian, Gaya Hidup, Loyalitas dan Persepsi Risiko. IPB.

Suyanto. (2016). Tax Amnesty. Jurnal Akuntansi Unversitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.

Suyanto, Intansari, P. L., & Endahjati, S. (2016). Tax Amnesty. Jurnal Akuntansi Falkutas Ekonomi Universitas Taman Siswa.

Tallis. (1991). Mengatasi Rasa Cemas. Jakarta: Arcan.

Torgler , B., & Schaltegger, C. A. (2005). Tax Amnesties and Political Particiation. Public Finance Review.

Van Meter, D. S., & Van Horn, C. E. (1975). The Policy Implementation Process : A Concentual Framework in Administration and Society.

Whitehead, T. (1980). Fear and Phobias Overcoming Common Problem Series. Sheldon Press.

Yani, N. D., & Noviari, N. (2017). Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kemauan Wajib Pajak Menjadi Peserta Tax Amnesty. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana.

Referensi

Dokumen terkait