DIMENSI HUKUM DAN CAGAR BUDAYA
Tine Suartina
Pusat Riset Masyarakat dan Budaya OR Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Email: [email protected]
ABSTRAK
Dalam pengelolaan cagar budaya, aspek hukum menjadi penting karena memiliki fungsi-fungsi kualifikasi, penetapan arah kebijakan, alat legitimasi, pengaturan dan penegakan hukum dan sanksi. Essay ini akan berusaha melihat dimensi hukum terkait cagar budaya di Indonesia berikut fungsi dan peran hukum, pergeseran paradigma dalam pengelolaan cagar budaya yang seyogyanya diadopsi juga oleh Indonesia, serta mengemukakan persoalan- persoalan tertentu sebagai ilustrasi serta implikasi perubahan-perubahan tersebut dalam tataran empiris.
Kata Kunci: hukum, cagar budaya, regulasi, fungsi hukum, kontestasi, pengelolaan cagar budaya
ABSTRACT
In the cultural heritage management, the legal aspect is vital as it has the functions of qualification, setting policy directions, legitimizing tools, regulating and enforcing laws and sanctions. This essay will focus on how dimensions of law are related to culture in Indonesia, the paradigm shift in the management of cultural culture which is also adopted by Indonesia, as well as raises certain problems as interactions and changes at the empirical level.
Keywords: law, cultural heritage, regulation, functions of law, contestation, cultural heritage management
… even if we do not accept it (cultural heritage) socially or politically, it does not diminish its historical value.
Wagner et.al (2021: 604)
PENDAHULUAN
Sebagai suatu pengertian umum, cagar budaya seringkali dihubungkan dengan bukti kesejarahan, peradaban atau peninggalan dari masa lalu. Bukti kesejarahan itu kemudian dimaknai oleh orang pada masa kini, sehingga memiliki fungsi-fungsi yang melekat di dalamnya, seperti fungsi sejarah, simbolik, keagamaan, keilmuan, ekonomi, pariwisata dan sebagainya. Untuk menjalankan fungsi-fungsi tersebut, dibutuhkan pengelolaan terhadap cagar- cagar budaya tersebut. Selain itu, pengelolaan pun akan sangat berkaitan dengan para pihak, kepentingan, dan muatan nilai-nilai yang dimiliki suatu cagar budaya.
Untuk menjembatani dan mengatur kesemuanya, maka diperlukan pengaturan, baik melalui regulasi maupun produk kebijakan lain yang mendukung.
Suatu negara memiliki posisi yang penting dalam hal pengelolaan cagar budaya. Meskipun peran penting lainnya pun dimiliki oleh pemangku kepentingan lain seperti pemerintah daerah melalui ketentuan desentralisasi, masyarakat sekitar dan pihak terkait lainnya, namun untuk kepentingan pelestarian cagar budaya, negara harus menetapkan ketentuan-ketentuan utama yang akan menjadi payung hukum dan alat untuk pencapaian tujuan yang diinginkan dari keberadaan cagar budaya di suatu negara.
Arah ketentuan pengaturan hukum terkandung dalam regulasi-regulasi dan kebijakan non regulasi yang ditetapkan oleh negara melalui pemerintah.
Dalam hal ini, politik hukum adalah satu cara untuk memperoleh pemahaman tentang arah dan tujuan kebijakan, substansi dan kepentingan yang mempengaruhinya. Tentang pengaruh ini, Sundari dan Sumiarni (2010: 71) menyebutkan bahwa hukum sebagai suatu sub sistem sosial tidak otonom dan akan selalu berhubungan dengan sistem ekonomi, budaya dan politik. Untuk itu, yang terjadi adalah perbedaan politik hukum pada negara-negara atau era politik dan pemerintahan yang berkuasa di satu negara. Dalam hal pengelolaan cagar budaya di Indonesia, terdapat dinamika dalam politik hukum di setiap masa. Perubahan- perubahan orientasi, paradigma dan cara pencapaian tujuan pengelolaan terjadi pada zaman kolonial Belanda, Orde Baru dan Reformasi. Perubahan pun terletak pada lingkup pengaturan dan objek cagar budaya yang diatur.
Namun demikian, dimensi hukum dan kaitannya dengan cagar budaya sangat beragam dan tidak hanya dipahami secara sempit sebagai aturan yang mengatur pengelolaan cagar budaya terutama jika dihubungkan dengan kompleksitas permasalahan cagar budaya dan pengelolaannya. Cagar budaya merupakan arena bertemunya berbagai pihak dan kepentingan serta kontestasi di antara mereka. Dalam hal ini, aspek ‘hukum’ menjadi penting karena memiliki fungsi mengatur secara resmi dan sah berbagai pihak dan kegiatan tentang cagar budaya, dengan kata lain memberikan dasar legitimasi bagi para pihak dan
kegiatannya, yang bukan tidak mungkin berdampak pada peta kuasa dan ekslusi pihak-pihak tertentu.
Essay ini akan berusaha melihat dimensi hukum terkait cagar budaya di Indonesia berikut fungsi dan peran hukum, pergeseran paradigma dalam pengelolaan cagar budaya yang seyogyanya diadopsi juga oleh Indonesia, serta mengemukakan persoalan- persoalan tertentu sebagai ilustrasi serta implikasi perubahan-perubahan tersebut dalam tataran empiris. Beberapa contoh yang dikemukakan mengambil dari situasi di Provinsi Banten dan cagar budaya Banten Lama, dimana penulis pernah melakukan riset cagar budaya.
Dimensi Hukum dan Cagar Budaya
Dimensi dan fungsi hukum terkait cagar budaya sangat beragam. Hukum merupakan implementasi dari politik cagar budaya dari suatu rezim. Beberapa fungsi hukum dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pertama
, fungsi kualifikasi dan kategorisasi. Dalam kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan terkait cagar budaya, hal pertama yang diatur di dalamnya adalah pendefinisian dari istilah‘Cagar Budaya’. Pendefinisian menjadi penting dan mendasar karena terkait kepada kualifikasi dan lingkup cagar budaya yang dimaksud. Hal ini juga dikemukakan Byer (Nexus 1492, 2017):
….. laws help define what is deserving of protection. … Law helps us define and categorise heritage, and knowing that there are different types of heritage means we can develop the right mechanisms for protection based on their particular features and needs. Law helps us create the standards necessary to assess what is significant and worthy of protection, and develop mechanisms to enforce rules to keep heritage and people accessing heritage, safe.
Implikasinya adalah tindakan memasukkan suatu objek cagar budaya sebagai hal yang akan diberi label sebagai cagar budaya, dilindungi dan direvitalisasi atau direstorasi sesuai dengan Tindakan yang diatur dalam peraturan cagar budaya, atau sebaliknya yaitu mendiskualifikasi atau mengekslusi suatu objek sebagai cagar budaya. Batasan kemudian menjadi penting karena akan menentukan suatu objek sebagai cagar budaya secara resmi dan memperoleh implikasi tindakan selanjutnya.
Kedua,
aturan hukum akan mengatur mengenai arah kebijakan dan strategi pengelolaan cagar budaya, apakah perlindungan, pelestarian dan pengelolaan serta mewujudkan paradigma pengelolaan cagar budaya. Apakah bersifatobject
oriented
yaitu hanya berfokus pada objek cagar budaya tertentu, atau tidak hanya sebatas peran institusi resmi, tetapi juga melibatkan peran serta subjek dan faktor manusia (people oriented
), seperti keberadaan masyarakat sekitar. Pada perkembangan saat ini, pengelolaan cagar budaya sudah tidak dapat dipisahkandengan aspek manusia, karena cagar budaya merupakan suatu bukti sejarah peradaban manusia, dan konteks sosial selalu berkaitan di dalam narasi suatu cagar budaya. Peninggalan candi atau peninggalan kota-kota pelabuhan, misalnya, dapat membantu menjelaskan sejarah suatu tempat sebagai pusat kekuasaan, penyebaran agama, lokasi awal percampuran dan pertukaran sosial dan budaya, diaspora dan sebagainya yang kemudian dalam proses lebih lanjut bisa membentuk dan menjelaskan situasi sosial-budaya masa lalu dan saat ini.
Dalam fungsi kedua ini, juga akan berkaitan dengan sejauh mana lingkup pengelolaan cagar budaya. Apakah hanya dibatasi pada aspek konservasi dan preservasi? Atau akan juga diperluas pada aspek pengetahuan sebagai sarana penelitian dan produksi pengetahuan. Bahkan lebih luas bisa dihubungkan dengan pengaturan ekonomi, karena nilai cagar budaya sangat berkaitan dengan aspek ekonomi yang penting untuk diatur untuk kesejahteraan serta menghindari penyalahgunaan pengelolaan dan pemanfaatan suatu cagar budaya seperti komersialisasi yang berlebihan serta melawan hukum. Kegiatan pariwisata adalah salah satu contoh kegitaan yang meliputi banyak aspek tersebut.
Ketiga
, hukum dapat membantu fungsi cagar budaya untuk mewujudkan legitimasi klaim baik dalam hal legal-politik maupun dukungan proteksi bukti kongkrit(tangible
) dari narasi yang dihasilkan oleh suatu cagar budaya atau bahkan memori kolektif dari suatu masa dan masyarakat, secara resmi.Perlindungan dan pengelolaan cagar budaya yang diatur dalam hukum akan memperkuat legitimasi cagar budaya sehingga tetap terlindungi dan tidak mudah diintervensi dan dirusak secara mudah.
Keempat
, fungsi hukum adalah menjadi aturan pengelolaan(rule of the management)
, otoritas, pedoman pengaman (safeguards
) bagi praktik dan usaha- usaha pengelolaan cagar budaya serta aturan main (rule of the game
) berbagai pihak terkait dan menjembatani kepentingan mereka. Dalam pengelolaan cagar budaya, sangat penting untuk mengatur kewenangan-kewajiban dan hak berbagai pihak dengan jelas. Berbagai pihak dan pemangku kepentingan terlibat dan hal ini menyumbang kompleksitas persoalan. Banyak cagar budaya mengalami persoalan benturan dan kontestasi kepentingan berbagai pihak, pihak yang secara langsung dan tidak langsung terkait dalam pengelolaan maupun dalam skala local- nasional-regional hingga global. Hasil penelitian Tim Riset Politik Ekonomi Pengelolaan Cagar Budaya – IPSK LIPI pada tahun 2012-2014 di tiga lokasi yaitu Candi Borobudur, peninggalan Majapahit di Trowulan serta Banten Lama memperlihatkan bahwa persoalan pengelolaan cagar budaya sarat dan sangat terkait dengan persoalan pemangku kepentingan terkait.Dalam diskusi yang lebih menarik, Wagner et.al (2021: 604) memberikan ilustrasi yang lebih luas yaitu terkait pada hak individu, hak komunitas dan
pihak lain dalam memaknai cagar budaya atau warisan budaya, dan kontestasi kepentingannya yang dikaitkan dengan pelestarian ingatan kolektif atau orang- orang yang terkait.
The competing interests of communities and individuals sometimes generate conflicts of interests. The authors pose a question whether an individual or a community have a right to destroy a piece of art considered cultural heritage. This ongoing battle between liberalism and communitarianism in cultural heritage law calls for new legal solutions which will provide the protection of heritage irrespective of particular interests of political, social or other nature of both individuals and communities. Indeed, cultural heritage is the shared collective and/or cultural memory that should be preserved. Additionally, cultural heritage is connected to the preservation and conservation of a people’s memory.
Dalam perspektif ini, pelestarian dari suatu cagar budaya juga dapat dilihat melibatkan individu, kelompok atau warga yang terkait. Debat dalam hal ini adalah dalam situasi di mana masyarakat tidak memiliki orientasi dan kepedulian pada cagar budaya dan mengabaikan pelestariannya. Pemahaman yang kemudian dapat ditarik di dalamnya adalah bahwa pelestarian cagar budaya, sebagaimana aspek budaya, berkaitan dengan “keputusan” dari masyarakat atau individu yang bersangkutan, pemaknaan serta ingatan mereka dan hak mereka untuk melestarikan atau tidak.
Kelima
, fungsi penegakan hukum akan berkaitan dengan sanksi bagi pelanggaran dan penyalahgunaan dalam pengelolaan cagar budaya. Hal ini penting untuk mendukung kebijakan yang diharapkan dalam politik cagar budaya di suatu tempat.Paradigma dan Pergeserannya
Untuk memperdalam pemahaman cagar budaya secara lebih makro, konsep
cultural heritage
dari Loulanski (2006) dapat diterapkan untuk menjembatani antara teori dan kasus empiris. Argumen dari Loulanski menyebutkan tentang perubahan dan perkembangan konseptual dalam melihatcultural heritage.
Perubahan fokus pertama adalah dari monumen kepada orang-orang. Kedua, fokus berpindah dari objek kepada fungsi dan perubahan fokus konseptual, dan ketiga adalah dari pelestarian ke pelestarian dengan tujuan, manfaat yang berkelanjutan, dan pembangunan. Selain itu, Loulanski juga menyebutkan adanya dualisme
cultural heritage
dengan menjadi subjek budaya sekaligus ekonomi, memiliki nilai-nilai budaya dan ekonomi, serta melakukan fungsi budaya dan ekonomi sekaligus.Undang-undang Cagar Budaya Indonesia mengalami pergeseran dalam hal paradigma ini. UU Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010 mengalami perubahan dari
UU Nomor 5 Tahun 1992, yaitu dengan lebih mengadopsi keberadaan dan partisipasi masyarakat dan adanya aspek ekonomi dalam arti pemanfaatan cagar budaya untuk kesejahteraan masyarakat. Paradigma preservasi dan konservasi dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 menjadi berkembang.
Terkait aspek ekonomi dan konflik, Loulanski mengambil teori
dissonance
yang dikemukakan oleh Graham (2000) dengan menyebutkan bahwa “teori dissonance menjelaskan hal utama dalam perdebatan dalam segala hal terkait‘
heritage
’, seperti halnya kepemilikan, beberapa pemanfaatan, terkadang saling bertentangan (dan penyalahgunaan) warisan budaya (disebabkan warisan budaya diketahui dapat menjadi komoditas, dapat ‘dijual’ berkali-kali, dan ‘dikonsumsi’berkali-kali di pasar yang berbeda), dan terakhir apa yang disebut dualisme warisan budaya: yaitu dengan menjadi sumber modal ekonomi sekaligus budaya.
Apa yang dikemukakan oleh Loulanski dan Graham, dapat diterapkan ketika membaca kasus (kontestasi) cagar budaya yang melibatkan banyak pihak dan berjalan dengan mekanisme beragam, yaitu kerja sama (positif), berjalan apa adanya dengan kepentingan masing-masing atau penghindaran pada konflik (netral), maupun konflik (negatif). Akan tetapi, masing-masing
stakeholder
memiliki kepentingan yang berusaha dicapai demi keuntungannya dan basis klaim tersendiri sebagai penunjang. Seringkali juga, konflik tidak terelakan sebagai hasil dari kontestasi secara negatif, dan eksklusi atau marjinalisasistakeholder
yang lebih lemah secara posisi, dengan mempergunakan basis klaim yang beragam, misalnya riwayat genealogis atau kekerabatan hingga legitimasi formal seperti surat penetapan atau putusan pengadilan.Kontestasi dan konflik dapat dibedakan secara akademis, walaupun dalam dunia keseharian seringkali tumpang tindih. Kontestasi berada pada tataran wacana, khususnya terkait perbedaan ide mengenai sesuatu hal (
contesting ideas)
, termasuk hal-hal terkait dengan sejarah pemikiran, paradigma dan teori yang digunakan.Kontestasi terjadi ketika dua hal yang berbeda tersebut bertemu dan mencoba mendapatkan pengaruhnya masing-masing. Kemudian kontestasi menjadi konflik, ketika perbedaan tersebut diartikulasikan untuk mempertentangkan dua atau lebih pihak kedalam suasan perbedaan yang menajam. Kemudian konflik akan terus- menerus hidup dan setiap pertemuan dari kedua belah pihak tersebut selalu dalam situasi yang bertentangan. Tetapi apabila konflik tidak diikuti oleh suatu tindakan, maka menjadi konflik tersembunyi (
hidden conflict
), tindakan-tindakan yang mengarah kekuatan fisik, tindakan kekerasan (violence
) hingga yang bersifat kekerasan massa (mass violence
). Sedangkan kontestasi biasanya akan menghasilkan dua pola, yaitu: negosiasi, sub ordinasi dan akomodasi. Pada kondisi negosiasi kedua belah pihak saling menunjukkan posisi tawarnya (bargaining
position), kemudian kondisi sub-ordinasi terjadi ketika ada pihak yang mengikutiwacana pihak lainnya sedangkan akomodasi, kedua belah pihak bersepakat untuk menukarkan idenya masing-masing dan menjalankannya.
Beberapa Persoalan
Dari sekian banyak permasalahan dalam pengelolaan cagar budaya dan kaitannya dengan aspek hukum, esai ini akan mengemukakan tiga ilustrasi persoalan yang terjadi di Indonesia. Persoalan
pertama
berkaitan dengan masih adanya aspek-aspek yang belum dapat diatur perlindungannya secara ketat dalam UU Cagar Budaya Nomor11 Tahun 2010 sehingga memerlukan revisi, misalnya terkait perlindungan cagar budaya bawah air sebagaimana disebutkan oleh Batubara (2014: 57), di antaranya persoalan penerapan sanksi yang belum maksimal, perlindungan dan pemanfaatannya serta sosialisasi. Sementara di sisi lain, cagar budaya bawah air sangat menarik perhatian, khususnya para pencari peninggalan bawah air baik individual maupun kelompok dari berbagai negara. Konteks hukum dan ekonomi menjadi sangat kuat dalam hal ini.
Aspek ekonomi memang disebutkan dalam UU Cagar Budaya dalam kaitannya dengan paradigma pengembangan cagar budaya yang dapat memberikan kesejahteraan pada masyarakat, seperti disebutkan dalam Pasal 78 (2):
Pengembangan Cagar Budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat diarahkan untuk memacu pengembangan ekonomi yang hasilnya digunakan untuk Pemeliharaan Cagar Budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian, interpretasi yang berkembang dominan untuk hal tersebut lebih banyak diartikan pada aspek pariwisata. Sementara itu, aspek ekonomi yang semakin berkembang semisal pada pemanfaatan aspek cagar budaya bawah air untuk kasus tindakan illegal cagar budaya bawah air yang masih belum memperoleh perhatian serius dan berimplikasi pada hilangnya data dan bukti sejarah1 (Raharjo, 2019). Nilai komersialisasi cagar budaya bawah air sangat besar dan melibatkan pihak-pihak lintas negara.
Dalam UU Cagar Budaya ini memang aspek ekonomi masih sangat minim diatur. Persoalan lain terkait aspek ekonomi dan celahnya adalah persoalan dana. Menurut Prof. Moendardjito, “pelestarian cagar budaya juga masih terkendala anggaran karena pada UU tentang Cagar Budaya, alokasi dana untuk perlindungan cagar budaya tidak diatur.” (Astuti, 2017). Beberapa persoalan ini memperlihatkan aspek ekonomi dalam UU Cagar Budaya masih diatur secara
1 Pembahasan rinci bisa dilihat pada Raharjo (2019) yang menyoroti persoalan Kasus pencurian Benda
Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) di perairan Indonesia sejak tahun 1970-an hingga hari ini, dikarenakan hukum dan peraturan perundang-undangan Cagar Budaya Bawah Air tidak cukup kuat untuk melindunginya.
minim atau tanggung dan tidak memadai terutama dihadapkan pada kendala dan pengelolaan cagar budaya saat ini.
Persoalan
kedua
adalah berkaitan dengan ketiadaan aturan hukum pelaksana Undang-undang Cagar Budaya, baik dalam bentuk Peraturan Pemerintah maupun pedoman pengelolaan cagar budaya di tingkat daerah. Peraturan pemerintah tentang cagar budaya menjadi penting karena akan menjadi aturan turunan dan lebih teknis atas ketentuan-ketentuan di dalam UU. PP juga menjadi penting karena sebagai aturan yang lebih teknis, bisa menjadi pedoman teknis resmi dan referensi langsung pemerintah daerah dalam menetapkan kebijakan dan aturan di tingkat daerah, yaitu provinsi dan selanjutnya tingkat kabupaten dan kota.Beberapa kesulitan yang dihadapi dari ketiadaan PP ini adalah kurangnya efektivitas dan kekuatan implementasi hukum secara teknis. Akibatnya penerapan hukum yang ditujukan di masyarakat, tidak maksimal. Termasuk dalam hal ini adalah aspek sanksi (Darmadi dalam Sinurat, 2021)
Dalam konteks daerah, mengambil contoh yang terjadi di Provinsi Banten, yang hingga saat ini masih belum memiliki Peraturan Daerah pada tingkat provinsi. Jika merunut pada Undang-undang Cagar Budaya Nomor Nomor 11 Tahun 2010, seyogyanya setelah tahun 2010, terdapat peraturan daerah pada tingkat provinsi. Fungsi hirarki hukum ini akan sangat membantu para pihak yang berkaitan dengan pengelolaan cagar budaya untuk melaksanakan tugas dan wewenangnya, bekerja sama dengan perwakilan pemerintah pusat seperti BPCB.
Peraturan daerah tingkat provinsi pun akan sangat penting berkaitan dengan berbagai situs atau Kawasan cagar budaya yang berada pada lintas kabupaten/kota.
Tabel 1. Pemeringkatan berjenjang dalam UU Cagar Budaya
Nasional Provinsi Kabupaten/Kota
Pasal 42
Cagar Budaya dapat ditetap- kan menjadi Cagar Budaya peringkat nasional apabila memenuhi syarat sebagai:
a. wujud kesatuan dan persatuan bangsa; karya adiluhung yang mencer- minkan kekhasan kebu- dayaan bangsa Indonesia;
b. Cagar Budaya yang sangat langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di Indonesia;
Pasal 43
Cagar Budaya dapat ditetap-kan menjadi Cagar Budaya peringkat provinsi apabila memenuhi syarat:
Mewakili kepentingan pelestarian Kawasan Cagar Budaya lintas kabupaten/
kota;
a. mewakili karya kreatif yang khas dalam wilayah provinsi;
b. langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di
Pasal 44
Cagar Budaya dapat ditetap- kan menjadi Cagar Budaya peringkat kabupaten/ kota apabila memenuhi syarat:
a. sebagai Cagar Budaya yang diutamakan untuk dilestarikan dalam wilayah kabupaten/kota;
b. mewakili masa gaya yang khas;
c. tingkat keterancamannya tinggi;
d. jenisnya sedikit; dan/atau jumlahnya terbatas.
c. bukti evolusi peradaban bangsa serta pertukaran budaya lintas negara dan lintas daerah, baik yang telah punah maupun yang masih hidup di masyarakat; dan/ atau d. contoh penting kawasan
permukiman tradisio-nal, lanskap budaya, dan/ atau pemanfaatan ruang bersifat khas yang terancam punah.
provinsi;
c. sebagai bukti evolusi peradaban bangsa dan pertukaran budaya lintas wilayah kabupaten/kota, baik yang telah punah maupun yang masih hidup di masyarakat;
dan/atau
d. berasosiasi dengan tradisi yang masih berlangsung.
Ketiadaan aturan hukum pada tingkat provinsi menjadikan pemerintah kabupaten kota merujuk secara langsung pengelolaan cagar budaya di wilayahnya kepada aturan pusat/nasional. Dengan demikian, ada pengaturan teknis pada level provinsi yang seharusnya dapat dijadikan sebagai pedoman dan rujukan yang hilang.
Pemerintah daerah tingkat kabupaten dan kota dapat melakukan realisasi teknis untuk pengelolaan wilayahnya berdasarkan aturan dan lingkup pengaturan pada tingkat nasional dan tidak mendukung pada satu kebijakan (
master plan
) dan penataan pengelolaan cagar budaya pada tingkat provinsi. Sejauh ini, beberapa kota dan kabupaten di banten menginisiasi penyusunan peraturan-peraturan daerah yang berkaitan dengan cagar budaya. Pada tahun 2013, Pemerintah Kota Serang menetapkan Perda Nomor 4 Tahun 2013 tentang Pelestarian Kebudayaan Daerah.Pada tahun 2018, Kota Tangerang menetapkan Perda Kota Tangerang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kebudayaan Daerah dan memberikan perhatian pada cagar budaya di wilayahnya dengan merencanakan penataan 62 cagar budaya (Oebaidillah, 2021).
Ilustrasi di daerah dan level lain dapat menjadi tambahan untuk konteks implikasi ketiadaan aturan pengaturan di atasnya di satu sisi namun di sisi lain adanya inisiatif dan urgensi di tingkat daerah sangat besar terkait pengelolaan cagar budaya. Sebelum tahun 2022, pemerintah-pemerintah daerah menetapkan peraturan daerah dalam aspek cagar budaya secara langsung mengacu pada UU Cagar Budaya 11/2010, hal mana secara hirarki peraturan memperlihatkan loncatan peraturan yang diacu dari peraturan daerah sebagai akibat kekosongan peraturan pelaksana dibawah UU. Beberapa peraturan misalnya Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 6 Tahun 2019 Tentang Pelestarian dan Pengelolaan Cagar Budaya dan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 11 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya Jawa Barat serta Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 6 Tahun 2021 tentang Pelestarian Cagar Budaya (yang mengacu langsung kepada PP lama – PP No.19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar
Budaya Di Museum- sebelum UU Cagar Budaya 11/2010) sehingga cakupannya masih belum sesuai dengan perkembangan pengaturan dalam PP No. 1 Tahun 2022 yang lebih luas (lihat bagian pembahasan Regulasi Baru). Catatan lain pada Perdakot ini adalah meskipun sudah memasukkan elemen masyarakat didalamnya namun namun belum menjelaskan siapa masyarakat, dan masih mengandung peran otoritas yang lebih besar seperti penunjukkan Badan pengawas oleh walikota tanpa melibatkan elemen lain. Aspek-aspek seperti inklusivitas masih secara terbatas diatur, dan kekosongan ketentuan tingkat provinsi yang diacu pada hirarki ragulasi disini pun menjadikan kesan Perdakot ini lepas dari koordinasi dengan provinsi.
Untuk konteks lain, ilustrasi lebih jelas terkait urgensi misalnya adalah Keputusan Gubernur Banten Nomor 437/Kep 160-Huk/2018 tentang Penetapan Zonasi Kawasan Cagar Budaya Kesultanan Banten (Banten Lama), dimana keberadaan peraturan daerah menjadi krusial untuk menjadi solusi pengelolaan cagar budaya yang didominasi kelompok masyarakat, berpotensi konflik horizontal serta berdampak pada kondisi cagar budaya.
Konsekuensi yang mungkin timbul dari hal ini adalah interpretasi langsung dari aturan UU yang sifat lebih umum di peraturan-peraturan daerah dan potensi keragaman pengaturan yang akan lebih besar di bawahnya dan di daerah karena penerjemahan aturan-aturan umum tanpa adanya perantara aturan teknis terbaru di bawah UU. Namun demikian, sebagaimana dicontohkan dalam ilustrasi di Banten, keperluan di tingkat daerah seringkali mendesak meskipun PP cagar budaya belum pasti ditetapkan saat itu. Dampak lainnya adalah parsialitas dan pengelolaan yang tidak terintegrasi karena masing-masing wilayah dalam lingkup kewenangan kabupaten dan kota melakukan pengaturan masing-masing. Isu yang muncul adalah persoalan kewenangan pengelolaan dan disparitas pengelolaan empirik. Mengambil contoh Kawasan Banten Lama yang terdiri dari beberapa situs di dalamnya (25-30 situs) dan sejak tahun 2007 sebagai konsekuensi penataan wilayah di Serang, sebagian besar situs-situs Banten Lama berada dalam wilayah Kota Serang, dan satu situs Danau Tasik Ardi, termasuk dalam wilayah Kabupaten Serang. Berdasarkan UU Otonomi Daerah dan UU Cagar Budaya, kewenangan dan koordinasi pengelolaan Banten Lama dengan lintas kabupaten dan kota seharusnya tetap berada pada Pemerintah Provinsi Banten, seperti sebelum tahun 2007.
Pada 24 Mei 2018, Pemerintah Provinsi Banten menetapkan Keputusan Gubernur Banten Nomor 437/Kep 160-Huk/2018 tentang Penetapan Zonasi Kawasan Cagar Budaya Kesultanan Banten (Banten Lama). Namun demikian, keputusan ini berkaitan dengan zonasi Kawasan Cagar Budaya Banten Lama dan keharusan penetapan izin Gubernur dan rekomendasi instansi yang bertanggung jawab dalam pelestarian benda cagar budaya terkait pemugaran, perbaikan, pemindahan, pembongkaran, perubahan peruntukan, pemisahan dan pengambilan/pemindahan benda bergerak bagian dari situs dan bangunan cagar budaya. Namun keputusan ini
belum menyebutkan mengenai pengaturan pada otoritas untuk praktik pengelolaan dan pemanfaatan cagar budaya.
Di luar itu dan sebelum 2018, pemerintah provinsi memilih melakukan pengaturan Banten Lama berkaitan dengan keperluan pariwisata yaitu dalam bentuk Perda Pariwisata (Perda Provinsi Banten Nomor 9 Tahun 2005 Tentang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Provinsi Banten) yang tentunya memiliki basis paradigma dan penekanan yang berbeda dengan Cagar Budaya; atau dalam bentuk kebijakan-kebijakan teknis khusus seperti penataan Kawasan Banten Lama namun tanpa terintegrasi dalam satu kerangka aturan hukum provinsi Cagar Budaya secara menyeluruh. Pada tahun 2016, Gubernur Banten menetapkan Peraturan Gubernur Banten Nomor 14 Tahun 2016 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Bantuan Keuangan Kepada Pemerintah Kota Serang Untuk Pelaksanaan Kajian Revitalisasi Banten Lama, yang memperlihatkan fokus dan perspektif pemegang kebijakan pada Banten Lama hanya pada satu wilayah (Kota Serang), bukan sebagai Kawasan lintas kota dan kabupaten dan seharusnya berada dalam otoritas pelaksanaan langsung pemerintah provinsi berdasarkan lingkupnya. Pendelegasian dimungkinkan, namun sekali lagi, kajian untuk Banten Lama harus dilihat dalam konteks Kawasan di Kota dan Kabupaten Serang.
Pilihan-pilihan yang dilakukan daerah untuk cagar budaya demikian sebenarnya tidak selalu keliru karena memang dimungkinkan adanya fungsi publik dan pariwisata dari suatu cagar budaya serta adanya situasi dan aspek lokalitas yang tidak bisa dikesampingkan. Namun tentunya secara ideal pengaturan pengelolaan cagar budaya tetap dikedepankan dan tidak menjadi tertinggal dari kepentingan lain.
Tabel 2 Sejarah Pengelolaan Cagar Budaya Banten Lama dan Instrumen Hukum
Tahun Kebijakan Sumber Keterangan
1915 - 1930
Pemugaran
Pemerintah Hindia Belanda
Banten dipugar oleh Pemerintah Belanda, tetapi tidak mencatat setiap peralihan secara kronologis,
khususnya kanal-kanal dan tembok- tembok kota (Michrob dan Chudari, 2011: 321)
1931 Monumenten Ordonantie Stbl 238 Tahun 1931
Perlindungan kawasan Banten Lama
Tahun Kebijakan Sumber Keterangan 1946 Paska Kemerdekaan
Peran Residen I Peranan keluarga Chatib dan Wasilah dalam pembersihan wilayah Masjid Agung dan kompleks makan sultan
Terdapat versi penceritaan siapa yang melakukan pembersihana kawasan masjid agung dan siapa yang meminta kegiatan
pembersihan dilakukan.
Tetapi versi-versi tersebut memperlihatkan adanya keluarga-keluarga yang mempunyai basis klaim untuk menguasai bebrapa kawasan Banten Lama 1966/
1967
Operasi Bhakti Siliwangi Rehab Kanal Karangantu dan Perbaikan Masjid Agung Banten
KOP Bhakti REM 064 Maulana Yusuf
Penemuan kembali meriam Ki Amuk. Operasi ini dianggap sebagai bagian dari upaya meredam usaha untuk berdirinya Provinsi Banten
1974/
1975
Perbaikan masjid dan prasasti
Pertamina 1976 Eskavasi arkeologi Pemerintah
Pusat melalui Direktorat Kepurbakalaan dan
Pemerintah Daerah
Masuknya Banten Lama dalam Registrasi Direktorat Kepurbakalaan
1977 – 1987
Suatu master plan (rencana induk) Taman Arkeologi Banten telah dibuat dan mulai dilakukan restorasi.
Situs ini, secara umum masih tetap terpelihara, dan beberapa dari sisa- sisa pondasi bangunan masih terpendam dalam tanah (Michrob dan Chudari, 2011: 321)
1990 Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Serang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kawasan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Banten Lama Sebagai Taman Wisata Budaya
Pemerintah Daerah Tk. II
Periode Banten sebagai bagian dari Provinsi Jawa Barat Hanya mengatur Banten Lama sebagai zona wisata budaya, dan tidak dalam hal pelestarian Tidak diimplementasikan, misal:
pembagian zona Sudah tidak mampu mengakomodasi kebutuhan pengelolaan
Kerjasama penelitian Banten Lama dengan Perancis
Tahun Kebijakan Sumber Keterangan Penelitian
dan penggalian Danau Tasik Ardi
1992 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya
Pemerintah Pusat
1993 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan UU No. 5 Tahun 1992
Pemerintah Pusat
Munculnya institusi BP3S
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Serang untuk menyerahkan pengelolaan Danau Tasik Ardi pada pihak swasta
Pemerintah Tk.II Kabupaten
1994 SK Bupati Kepala Daerah Tk. II Serang No. 556/SK.341- Huk/94 tentang Penunjukkan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Daerah Tk.
II Serang Selaku Pengelola Taman Wisata Banten Lama
Pemerintah Daerah TK. II
-
1995 Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 063/U/1995 tentang Perlindungan dan Pemeliharaan Benda Cagar Budaya
Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan -
Tahun Kebijakan Sumber Keterangan SK Bupati Kepala
Daerah Tk. II Serang No. 556.31/SK.10- Huk/95 tentang Pembentukan Tim Pengembangan Kawasan Wisata Budaya Banten Lama
Pemerintah Daerah Tk.II
-
1998 Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 139/M/1998 tentang Penetapan Situs Di Wilayah Provinsi Jawa Barat
Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan -
1999 Undang-undang Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 1999
Pemerintah Pusat
Kewenangan dalam bidang kebudayaan termasuk benda cagar budaya dilimpahkan kepada daerah Provinsi 2000 PP Nomor 25 Tahun
2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi Sebagai Daerah Otonom
Pemerintah Pusat
Undang-undang Pembentukan Provinsi Banten
Pemerintah Pusat
Banten menjadi provinsi mandiri (lepas dari Jawa Barat), kewenangan Banten Lama ada pada Pemerintah Daerah di Banten
2001 Kebijakan Pemerintah Kabupaten Serang untuk mempersilakan masyarakat eks Kebalen untuk mengelola retribusi pasar dan parkir
Pemerintah Kabupaten
Tahun Kebijakan Sumber Keterangan 2002 Surat Keputusan
Gubernur Banten Nomor 432.2/Kep.94- Huk/2002 tentang Pembentukan Tim Koordinasi
Pelaksanaan Program Penataan Kawasan Banten Lama
Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Pemerintah Kabupaten
Pemugaran dan tata ulang Banten Lama, khususnya wilayah Masjid Agung Banten. Pembangunan terminal. Dana pemugaran dan tata ulang berasal dari APBN, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten.
Pada pendataan awal terdaftar 105 kios pedagang, yang kemudian bertambah menjadi 700 kios pedagang yang harus ditempatkan.
Penetapan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Provinsi Banten
Pemerintah Provinsi
2004 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Pemerintah Pusat
Dalam urusan pemerintahan bidang kebudayaan dan pariwisata, kewenangan terbagi kewenangan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota
2005 Perda Provinsi Banten Nomor 9 Tahun 2005 Tentang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Provinsi Banten
Pemerintah Provinsi
Pengelolaan pariwisata di wilayah Provinsi Banten
2007 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota
Pemerintah Pusat
Dalam urusan pemerintahan bidang kebudayaan dan pariwisata, kewenangan terbagi kewenangan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota
2007 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Serang
Pemerintah Pusat
Implikasi pembentukan Kota Serang adalah membagi kawasan Banten Lama secara administratif ke dalam dua wilayah yaitu Kota Serang dan Kabupaten Serang.
Tahun Kebijakan Sumber Keterangan Implikasi:
Pemerintah Provinsi memiliki tanggung lebih kuat secara legal formal untuk kebijakan dan pengelolaan Banten Lama
2009 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang
Kepariwisataan
Pemerintah Pusat
2010 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya
Pemerintah Pusat 2013 Perda Kota Serang
Nomor 4 Tahun 2013 tentang Pelestarian Kebudayaan Daerah
Pemerintah Kota
2016 Peraturan Gubernur Banten Nomor 14 Tahun 2016 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Bantuan Keuangan Kepada Pemerintah Kota Serang Untuk Pelaksanaan Kajian Revitalisasi Banten Lama
Gubernur Bantuan keuangan kepada Pemerintah Kota Serang untuk kajian revitalisasi Banten lama
2018 Keputusan Gubernur Banten Nomor 437/Kep 160-Huk/2018 tentang Penetapan Zonasi Kawasan Cagar Budaya Kesultanan Banten (Banten Lama).
Gubernur Zonasi Kawasan Cagar Budaya Banten Lama.
Penetapan izin Gubernur dan
rekomendasi instansi yang bertanggung jawab dalam pelestarian benda cagar budaya terkait pemugaran, perbaikan, pemindahan, pembongkaran,
perubahan peruntukan, pemisahan dan pengambilan/pemindahan benda bergerak bagian dari situs dan bangunan cagar budaya.
Namun keputusan ini belum menyebutkan mengenai pengaturan pada otoritas untuk praktik pengelolaan dan pemanfaatan cagar budaya.
Tahun Kebijakan Sumber Keterangan 2021 Peraturan Daerah Kota
Serang Nomor 6 Tahun
2021 tentang
Pelestarian Cagar Budaya
Walikota Mengatur tentang berbagai upaya pelestarian cagar budaya, dan sudah mulai memasukkan aspek masyarakat didalamnya, selain juga hal-hal terkait pemeringkatan dan adaptasi.
Perdakot ini mengacu langsung pada UU Cagar Budaya 11/2010 (yang sudah memasukkan elemen masyarakat), dan PP lama (PP No.19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya Di Museum), namun belum menjelaskan siapa masyarakat, dan masih
mengandung peran otoritas yang lebih besar seperti penunjukkan Badan pengawas oleh walikota tanpa melibatkan elemen lain. . Sleain itu terdapat kekosongan ketentuan tingkat provinsi yang diacu disini, menjadikan kesan Perdakot ini lepas dari ikoordinasi dengan provinsi.
2022 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2022 tentang Register
Nasional dan
Pelestarian Cagar Budaya
Presiden Implikasi penerapannya khususnya tindak lanjut pengaturan dalam peraturan di daerah masih harus dilihat di masa mendatang
Sumber: Wawancara Kepala BPCB Serang (2012-2013), Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (2012) dan undang-undang dan peraturan terkait
Persoalan ketiga adalah dalam situasi pengelolaan cagar budaya yang
kompleks di mana terjadi benturan dan konflik kuat dan peta posisi para
pihak yang tidak seimbang (asymmetrical), peran mediator atau pemegang
otoritas sulit diterapkan meskipun memiliki dasar kewenangan dan
legitimasi yang kuat. Hal ini dikarenakan dalam
konteks masyarakat, seringkali faktor-faktor sosial budaya memiliki kekuatan lebih besar daripada kewenangan resmi. Selain itu, penyelesaian jalur litigasi atau instansi peradilan juga tidakmenjadi pilihan para pihak dikarenakan prioritas adalah pada penyelesaian kolektif, komunal dan berdasarkan aturan sosial.
Ilustrasi dalam hal ini misalnya pada pengelolaan cagar budaya Banten Lama dimana pengaturan hingga 2018 menjadi contoh pengaturan cagar budaya dengan dominasi kelompok masyarakat. Meskipun pemerintah provinsi memiliki kewenangan dan otoritas dalam pengelolaan cagar budaya, namun tidak dapat begitu saja memasuki praktik pengaturan cagar budaya setempat, khususnya di lingkungan Masjid Agung yang berada dalam pengelolaan dominan beberapa keluarga dan kelompok masyarakat. Terlebih hingga 2018, tidak adanya instrumen hukum pada tingkat provinsi yang menjadikan legitimasi posisi pemerintah provinsi berdasarkan posisi jabatan pemerintahan, dan tidak diperkuat/didukung dengan legitimasi substansi spesifik pengelolaan pelestarian cagar budaya.
Penguasaan-penguasaan cagar budaya yang didominasi oleh para pihak non pemerintah memang memiliki dinamika tersendiri. Persoalannya adalah sejauh mana mereka mampu dan bersedia mengikuti ketentuan hukum pelestarian cagar budaya. Dalam hal ini yang terjadi kemudian adalah kontestasi antara aturan hukum dan aturan sosial budaya. Hasil kontestasi akan menentukan dominasi dan aturan mana yang akan dipakai dalam pengelolaan.
Regulasi Baru
Pada awal tahun 2022, Pemerintah Indonesia menetapkan satu peraturan pemerintah yang telah lama dinantikan untuk menjadi panduan lebih teknis terkait pengaturan cagar budaya di Indonesia, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2022 tentang Register Nasional dan Pelestarian Cagar Budaya. Jeda waktu yang cukup panjang antara UU Cagar Budaya (2020) dengan PP ini (2022) sebenarnya cukup disayangkan mengingat banyaknya perkembangan dan isu tentang cagar budaya yang masih tersisa dalam waktu panjang tersebut. Selain itu, hal ini juga memperlihatkan penetapan satu aturan berkaitan erat dengan orientasi dan atensi rejim pemerintah pada aspek tersebut.
Ditinjau dari muatan aturan, PP ini berusaha untuk mengakomodasi aspek- aspek terbaru yang berkaitan dengan persoalan lama dan persoalan kontemporer.
Beberapa aspek yang dapat dilihat dari PP ini adalah sebagai berikut,
pertama,
sebagai PP bersifat teknis pelaksana dari regulasi diatasnya, yaitu UU Cagar Budaya (11/2010).Artinya beberapa ketentuan didalamnya memuat pengertian-pengertian dan batasan lebih spesifik tentang istilah dan fungsi terkait pengaturan cagar budaya, misalnya berkaitan dengan pelestarian, pelindungan, pemanfaatan, pengelolaan, para pihak (
stakeholders
) terkait, pendaftaran, pemeringkatan, penetapan tim ahli cagar budaya dan proses-prosesnya. Hal ini ditegaskan Ketua Perkumpulan Ahli ArkeologiIndonesia, Wiwin Djuwita Ramelan, yang menyatakan PP ini dapat memperjelas peraturan teknis (Al Machmuci, 2022). Sebagai suatu ketentuan teknis, hal yang secara jelas dapat diatasi melalui keberadaan PP ini adalah, hilangnya gap atau kekosongan dalam penetapan peraturan pengelolaan cagar budaya pada tingkat lebih rendah dan daerah.
Kedua, PP ini dapat menjembatani secara lebih teknis tentang otoritas, kewajiban serta hak para pihak, termasuk pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten kota/kabupaten, instansi pusat, instansi di daerah, masyarakat dan pemangku kepentingan lain. Hal ini berimplikasi pada proses pendaftaran, misal siapa yang dapat melakukan pendaftaran cagar budaya dan dengan demikian melakukan persiapan dan melengkapi bukti pendukung. Secara langsung maupun tidak langsung, PP ini merealisasikan pelibatan masyarakat dalam pengelolaan cagar budaya di Indonesia. Satu hal yang seringkali ditekankan dalam perkembangan pengelolaan cagar budaya kontemporer.
Ketiga, PP ini berusaha mengakomodasi semangat dari UU Cagar Budaya dan perkembangan baru terkait cagar budaya, misalnya akomodasi tentang kepentingan masyarakat dan fungsi sosial dari satu cagar budaya yang tidak hanya terbatas pada aspek pelestarian dan pariwisata. Dalam beberapa pasal disebutkan bahwa penerapan berbagai fungsi seperti pengelolaan dan pemanfaatan cagar budaya harus memberikan manfaat serta dukungan peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kewenangan masyarakat dalam kegiatan pengawasan (Pasal 152). Selain itu, PP ini juga bergerak pada aspek pengakuan masyarakat adat (Pasal 52) atas pengelolaan cagar budaya dan legitimasi mereka dalam penetapan satu badan pengelola (Pasal 142 (2)) termasuk lembaga hukum adat.
Dalam aspek akademik, PP ini juga mengatur mengenai sejauh mana aspek penelitian (kepentingan akademik) dapat direalisasikan, bahkan berkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh pihak asing serta potensi pendekatan multi disiplin dalam pengkajian cagar budaya (Pasal 10(4), yang dapat memperkuat pemahaman suatu cagar budaya. Untuk merespon perkembangan baru dalam cagar budaya, kemajuan dan penggunaan teknologi dalam pendokumentasian cagar budaya juga diatur dalam PP ini (lihat Pasal 22 dan penjelasannya).
Pada intinya, meskipun ditetapkan jauh setelah UU Cagar Budaya 2010, namun berusaha membawa semangat baru dalam pengelolaan cagar budaya di Indonesia yang sifatnya lebih akomodatif, inklusif dan responsif pada isu-isu kontemporer di masyarakat terkait cagar budaya. Hal ini menunjukkan bahwa PP ini memiliki karakter pengaturan cagar budaya dengan perspektif dinamis daripada statis yang kaku hanya membatasi fungsi cagar budaya pada aspek konservasi. Demikian juga, mengambil semangat dari UU Cagar Budaya 11/2010, PP ini akan secara jelas memiliki perspektif dan paradigma pengaturan cagar budaya tidak sebagai aspek
tersendiri (mono aspek) dan terisolasi atau hanya sebatas pada objek cagar budaya semata.
Saat ini beberapa daerah telah merespon PP ini dengan menetapkan peraturan- peraturan tingkat daerah sebagai tindak lanjut pengaturan pengelolaan cagar budaya di tingkat daerah. Beberapa contoh peraturan daerah tingkat provinsi yang ditetapkan setelah PP 1/2022 ini misalnya dalam hal penetapan tim ahli adalah Keputusan Gubernur Lampung Nomor G/313/V.01/Hk/2022 tentang Penetapan Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi Lampung Tahun 2022 dan dalam hal pemeringkatan di daerah, Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 40/KEP/2022 Tentang Penetapan Pura Pakualaman Sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi.
Namun demikian, karena kebaruan penetapan PP ini, kita masih harus menunggu hasil penerapan PP ini di masyarakat. Apakah memang penetapan PP ini telah cukup membantu dalam pengaturan cagar budaya di Indonesia atau adakah implikasi dan konsekuensi lainnya.
Prediksi Pengembangan
Ke depan, beberapa pengembangan cagar budaya akan mengalami perluasan dan penggabungan secara multidisiplin dan usaha bersama pengembangan kebudayaan. Pemerintah Indonesia akan mulai merintis penguatan warisan budaya Jalur Rempah (
spices belt
) di Indonesia yang akan dipersiapkan diajukan ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia dalam konteks peran Indonesia dalam sejarah jalur perdagangan dunia. Dengan demikian, konteks cagar budaya menjadi semakin luas dan berkembang. Namun demikian tantangan untuk mewujudkan hal itu pun menjadi lebih kompleks. Luasan wilayah dan titik cagar budaya yang sedikit banyak akan mendukung kepada narasi sejarah dan budaya Jalur Rempah adalah Kawasan yang lebih luas dan memiliki keterkaitan satu sama lain. Posisi satu lokasi atau cagar budaya yang dapat mendukung pada klaim Jalur Rempah akan menjadi penting satu sama lain. Hal tersebut akan melibatkan banyak daerah dan pihak.Dalam konteks kebijakan dan implementasinya, kita masih harus melihat sejauh mana penerapan PP cagar budaya tahun 2022 memiliki implikasi dan pengaruh pada pengaturan cagar budaya baik pada tingkat nasional maupun daerah (pemerintah daerah dan masyarakat).
KESIMPULAN
Konteks hukum dalam pengelolaan cagar budaya sangat penting dan sentral karena menjadi basis pengaturan resmi terkait pengelolaan cagar budaya dan aspek-aspek terkait. Namun demikian, tantangan penerapannya pun tidak sederhana. Politik hukum cagar budaya sangat tergantung pada orientasi dan pilihan paradigma pengelolaan cagar budaya yang dipilih oleh pemerintah. Hal itu harus ditindaklanjuti dalam ketentuan-ketentuan hukum teknis dibawahnya yang selanjutnya akan menjadi dasar dan acuan pemerintah di tingkat daerah dalam merumuskan pedoman perlindungan dan pelestarian cagar budaya di tingkat daerah. Di tingkat daerah dan masyarakat, aturan hukum dapat dikontetasi dengan aturan-aturan non hukum lain. Dalam peta pengelolaan cagar budaya dan politik ekonomi pengelolaan cagar budaya yang kompleks dan melibatkan banyak pihak, adakalanya aturan non hukum menjadi pilihan dan mendominasi pengelolaan cagar budaya.
Dalam hal regulasi cagar budaya Indonesia, masih banyak hal yang harus dilakukan dan dibenahi, termasuk revisi undang-undang agar lebih mengadopsi perkembangan di masyarakat dan mendukung penerapan hukum cagar budaya yang lebih baik dan efisien. PP Register Nasional dan Pelestarian cagar Budaya Nomor 1 Tahun 2022 memiliki semangat baru yang lebih akomodatif, inklusif dan responsif pada perkembangan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan cagar budaya akan diarahkan pada satu pengaturan yang lebih dinamis dan tidak melihat cagar budaya sebagai mono aspek dan aspek yang terisolasi dari hal lain.
Namun karena kebaruannya, kita masih harus melihat implikasi penerapan PP ini pada masa mendatang dan kemampuannya mengurai isu pengelolaan cagar budaya dan pengelolaan cagar budaya yang lebih baik.
REFERENSI
Al Machmuci, M. Ikbal. 2022. “PP 1/2022 Memperkuat Peraturan Teknis Soal Cagar Budaya”
https://mediaindonesia.com/humaniora/463423/pp-12022-memperkuat-peraturan- teknis-soal-cagar-budaya
Astuti, Indriyani. 2017. “UU Cagar Budaya belum Dapat Diterapkan”, Media Indonesia, 13 April 2017, https://mediaindonesia.com/humaniora/100645/uu-cagar-budaya-belum- dapat-diterapkan
Batubara, Asyhadi Mufsi. 2014. “Pelindungan Cagar Budaya Bawah Air dalam Kajian Analisis Hukum”, Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur, Volume 8, Nomor 1, Juni 2014, Hal 48-57
Loulanski, Tolina, 2006. “Revising the Concept for Cultural Heritage: The Argument for a Functional Approach” in International Journal of Cultural Property 13. pp. 207-233
Michrob, Halwany dan A. Mudjahid Chudari. 2011. Catatan Masa Lalu Banten, Serang:
Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Banten
Nexus 1492. 2017. “The Importance of Law in Cultural Heritage Protection: A conversation with Amanda Byer” News Universiteit Leiden 07 July 2017, https://www.universiteitleiden.nl/nexus1492/news/the-importance-of-law- in- cultural-heritage-protection-a-conversation-with-amanda-byer
Oebaidillah, Syarief. 2021. “Tangsel Rencanakan Penataan 62 Objek Cagar Budaya”, Media Indonesia 20 September 2021, diakses dari https://mediaindonesia.com/
megapolitan/434089/tangsel-rencanakan- penataan-62-objek-cagar-budaya
Raharjo, Estu. 2019. “Penegakan hukum terhadap tindak pidana cagar budaya bawah air di perairan Indonesia - Law enforcement against criminal acts of underwater cultural heritage in Indonesian waters territory”, Tesis Ilmu Hukum, Depok:
Universitas Indonesia Fakultas Hukum
Sinurat, Boyke. 2021. “PP Cagar Budaya Perlu Dibuat Pemerintah”, Rri.co.id, https://rri.co.id/daerah/1106501/pp-cagar-budaya-perlu-dibuat-pemerintah
Sundari, E. SH., M.Hum dan Prof. Dr. M.G. Endang Sumiarni, SH., M.Hum, 2010, Hukum yang “Netral Bagi Masyarakat Plural (Studi Pada Situasi Di Indonesia), Bandung : Karya Putra Darwati (KPD)
Wagner, Anna, Matulewska, Aleksandra, Le, Cheng. 2021. “Protection, Regulation and Identity of Cultural Heritage: From Sign‑Meaning to Cultural Mediation” dalam Int J Semiot Law (2021) 34, pp. 601–609 https://doi.org/10.1007/s11196-021- 09833- x
Peraturan Perundangan
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi Sebagai Daerah Otonom
Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2022 tentang Register Nasional dan Pelestarian Cagar Budaya
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 063/U/1995 tentang Perlindungan dan Pemeliharaan Benda Cagar Budaya
Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 139/M/1998 tentang Penetapan Situs Di Wilayah Provinsi Jawa Barat
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 11 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya Jawa Barat
Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 6 Tahun 2019 Tentang Pelestarian dan Pengelolaan Cagar Budaya
Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 6 Tahun 2021 tentang Pelestarian Cagar Budaya Surat Keputusan Gubernur Banten Nomor 432.2/Kep.94-Huk/2002 tentang
Pembentukan Tim Koordinasi Pelaksanaan Program Penataan Kawasan Banten Lama
Keputusan Gubernur Lampung Nomor G/313/V.01/Hk/2022 tentang Penetapan Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi Lampung Tahun 2022
Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 40/KEP/2022 Tentang Penetapan Pura Pakualaman Sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi.
Keputusan Gubernur Banten Nomor 437/Kep 160-Huk/2018 tentang Penetapan Zonasi Kawasan Cagar Budaya Kesultanan Banten (Banten Lama)
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Serang untuk menyerahkan pengelolaan Danau Tasik Ardi pada pihak swasta.
SK Bupati Kepala Daerah Tk. II Serang No. 556/SK.341-Huk/94 tentang Penunjukkan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Daerah Tk. II Serang Selaku Pengelola Taman Wisata Banten Lama
SK Bupati Kepala Daerah Tk. II Serang No. 556.31/SK.10-Huk/95 tentang Pembentukan Tim Pengembangan Kawasan Wisata Budaya Banten Lama