Dinamika Hubungan Kelompok Sosial
“Kontrol Negara (Orde Baru) Pada
Kelompok Masyarakat Etnis Tionghoa”
PEMBELAJARAN SOSIOLOGI
KELAS XI SEMESTER 3 TAHUN 2022/2023
IGNATIUS BAYU SUDIBYO
Catatan Sejarah Ketegangan/Kerusuhan Anti Etnis Cina (Tionghoa)
No. Catatan Sejarah
Keterangan
1. 1740-1742 Geger Pecinan (Tragedi Angke) di Batavia (kerusuhan orang Tionghoa dgn VOC). Diperkirakan 10.000 orang Tionghoa tewas. Orang-orang Cina/Tionghoa dari Batavia pindah ke Jawa Tengah, yaitu ke Semarang dan Solo (Surakarta).
Padahal Gubernur VOC, J.P. Coen (1626-1629) menjadikan orang-orang Cina sebagai mitra dagang/bisnis yang istimewa.
2. 1825/1826 Dalam situasi Perang Jawa terjadi konflik di Ngawi Jawa Timur antara orang Cina dengan puteri Sultan HB I (Sultan Yogya) dan prajuritnya. Masalah pajak
3. 1965 Hubungan diplomatik dibekukan karena RRC dianggap terlibat dalam
penculikan-pembunuhan para jenderal di Jakarta (situasi pasca G 30 S 1965).
Dampak dari tragedi tersebut adalah adanya gerakan anti Cina/Tionghoa.
4. 1980-1984 November 1980 kerusuhan anti Tionghoa di Solo, berkembang ke kerusuhan anti Tionghoa di Semarang, 25 Nov 1980.
5. 1998 Kerusuhan, penjarahan, dan kekerasan seksual terhadap etnis Tionghoa yang dimulai dari krisis ekonomi.
Kontrol Orde Baru pada kelompok
etnis Cina (Tionghoa)
S umber:
https://tirto.id/sejarah-imlek-di-indonesia-dilarang-soeharto-diizinkan-gus-dur-gadj
dan https://jdih.setkab.go.id/PUUdoc/5371/KP%20NO%206%20TH%202000.pdf
Akar Masalah Ketidakharmonisan Relasi Etnis Cina dengan Masyarakat/Penduduk lokal (1)
1.
Politik Segregasi VOC.
Pemerintah VOC mewajibkan orang-orang Cina untuk
membuat ghettho/Pemukiman khusus yang dikenal sebagai
“Pecinan” (Chinatown), seperti Glodok (Jakarta), Pasar
Lama (Tangerang), dan Pecinan Semarang.
Tujuannya untuk
mengisolasi relasi dgn
penduduk lain/pribumi dan menciptakan kegiatan
ekonomi yang terpusat pada etnis pendatang. Politik
Segregasi terjadi setelah
Geger Pecinan 1740.
Lanjutan Akar masalah ….
1.
Kesenjangan sosial-ekonomi antara orang Cina dengan
penduduk lokal (saat itu disebut pribumi). Hal ini karena orang Cina sukses dalam berdagang dan lebih unggul dalam persaingan dagang.
Situasi ini menciptakan stereotipe, seperti pelit, dll.
2.
Provokasi Sentimen Anti Cina.
Ketika diprovokasi, sentimen itu berubah menjadi kerusuhan rasial.
Akibat kerusuhan rasial muncul sikap/perilaku ekslusif (menutup diri) dan mengambil jarak dalam pergaulan karena kehilangan
kepercayaan terhadap masyarakat
lokal, seperti di Solo.
Lanjutan Akar Masalah …..
1.
Pada abad 17/18, Belanda membuat kebijakan khusus agar kelompok masyarakat Cina diberikan kewenangan menarik pajak dan membuat stratifikasi sosial menjadi 3 tingkatan (Masyarakat Eropa, Timur asing dan Arab, dan Pribumi)
2.
Tambahan: Orde Baru juga melakukan kontrol pada
identitas kultural kelompok etnis Tionghoa yang dimulai dari Instruksi Presiden No 14 tahun 1967 yang berdampak
pada pembatasan kegiatan keagamaan, tradisi/adat
istiadat, dll.
Beberapa Catatan Penting Tentang Pola Sentimen Pada Etnis Cina (Tionghoa)
1.
Pola Sentimen Pada Etnis Cina (Tionghoa):
a.
Sentimen terhadap etnis Cina muncul dalam situasi sulit/krisis
ekonomi, seperti Perang Jawa, 1965, dan 1998 serta daerah tsb memiliki riwayat relasi etnis yang tidak harmonis (konflik).
b.
Ada momentum politik, seperti di Pilkada DKI Jakarta 2016/2017.
Bertepatan dengan hal tersebut,
c.
ada kepentingan dari kelompok etnis lain (Arab) dan suatu kelompok yang memiliki pandangan keras agar memilih pemimpin yang
se-agama. Catatan tambahan; Pilpres 2014 ada hoax bahwa Joko Widodo adalah keturunan Tionghoa yang bernama Wie Jo Koh
(file:///C:/Users/admin/Downloads/1062-Article%20Text-2968-1-10- 20210601.pdf, 18/08/2022). Ada penyedia Jasa (bisnis) di media sosial untuk merancang sentimen melalui hoax, ujaran kebencian
d.
Tidak semua daerah, sentimen terhadap etnis Cina (Tionghoa)
mengakar kuat. Contoh: Tahun 1998 Yogyakarta aman sedangkan di
Solo terjadi pembakaran ruko dan rumah warga Tionghoa. Padahal
etnis Tionghoa sudah tinggal di Kampung Sudiroprajan Solo sejak
tahun 1745.
Mengenal Sosok Gus Dur
Gus Dur
Setelah pemerintahan Orde Baru jatuh dan pemerintahan berganti ke BJ Habibie, Gus Dur, dan Megawati Sukarno Putri, negara tidak lagi melakukan kontrol (politik pembatasan) pada kelompok etnis Tionghoa. Habibie melarang penggunaan
“pribumi” dan “non pribumi”, Gus Dur melalui Kepres No 6 Tahun 2000
mencabut Instruksi Presiden No 14 Tahun 1967 dan Megawati menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keppres No 19 Tahun 2002.
Pertanyaan :
1). Siapa Gus Dur?
2) Mengapa Gus Dur mencabut Instruksi Presiden No 14 Tahun 1967? Catatan:
Instruksi Presiden No 14 Tahun 1967 ini adalah salah satu kebijakan yang menyebabkan etnis Tionghoa mengalami eksklusi sosial
3) Perubahan apa saja yang terjadi setelah Instruksi Presiden No 14 Tahun 1967
dicabut?