Berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tipikor, pengawasan dilakukan oleh Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat. Apakah pengawasan Dewan Pengawas menjamin independensi KPK lebih baik dibandingkan pengawasan Deputi Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat? Hal ini jelas akan berdampak pada kinerja KPK sebagai lembaga negara independen dalam pemberantasan tindak pidana korupsi.
Menyatakan bahwa tesis tersebut berjudul “Dinamika Pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi (Studi Banding Pengawasan Deputi Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat dengan Dewan Pengawas)”. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga dibentuk atas dasar undang-undang, namun mempunyai arti penting secara konstitusional berdasarkan pasal 24 ayat (3) UUD 1945. Dari sekian banyak jenis lembaga negara yang independen, yang menjadi fokus utama adalah penulisnya adalah Komisi Pemberantasan Korupsi.
Aturan pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. 3 Pasal 1 angka 3 Undang-undang nomor 19 Tahun 2019 jo Perubahan Kedua Atas Undang-undang nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebelum adanya perubahan Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi dilakukan secara internal di bawah Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat.
Kehadiran Dewan Pengawas dinilai keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk memberantas tindak pidana korupsi.
Rumusan Masalah
Tentu saja karena presiden punya peran besar dalam menentukan anggota Dewan Pengawas yang punya banyak kewenangan. Selain itu, Dewan Pengawas yang ditunjuk presiden dinilai mengindikasikan adanya upaya intervensi dalam proses pemberantasan tindak pidana korupsi. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk menulis penelitian tentang Dinamika Pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi Lembaga Negara Independen (Studi Banding Pengawasan Deputi Pengawasan Intern dan Pengaduan Masyarakat dengan Dewan Pengawas).
Memahami pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi yang dilakukan oleh Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat serta Dewan Pengawas. Mengkaji ulang pengawasan yang dilakukan oleh Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat atau Dewan Pengawas untuk lebih menjamin independensi Komisi Pemberantasan Korupsi. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat dan akademisi mengenai pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi yang dilakukan oleh Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat serta Dewan Pengawas.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wacana kepada pemerintah untuk menentukan pengawasan yang lebih menjamin independensi lembaga negara independen di Indonesia khususnya Komisi Pemberantasan Korupsi.
Telaah Pustaka
Pertama, penelitian pada tahun 2016 berupa tesis yang dilakukan oleh Arief Prabowo, mahasiswa hukum tata negara, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tesis ini berjudul Urgensi Pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam Pembentukan Komisi Penanggung Jawab Pemberantasan Korupsi 8 Tesis ini membahas tentang pengawasan efektif yang seharusnya dilakukan oleh komisi yang bertanggung jawab di bidang Pemberantasan Korupsi. Berbeda dengan skripsi yang disusun oleh penulis, skripsi ini akan membahas tentang perbandingan pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi yang dilakukan oleh Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat serta Dewan Pengawas.
Kedua, penelitian tahun 2018 berupa tesis yang dilakukan oleh Tomy Marlin Manday, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tesis berjudul Kajian Konseptual Mengenai Badan Pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi 9 Tesis ini membahas tentang urgensi pembentukan Badan Pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi. Ketiga, penelitian tahun 2018 berupa tesis yang dilakukan oleh Aulia Rahmat, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia.
Tesis berjudul Urgensi Pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia dalam Struktur Konstitusi Indonesia 10. Tesis ini membahas tentang urgensi pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam struktur ketatanegaraan Indonesia. Artikel tersebut berjudul Pengawasan Penegakan Hukum dalam Penanganan Kasus Tindak Pidana Korupsi.11 Artikel tersebut membahas tentang proses pengambilalihan kasus korupsi dan bagaimana pengawasan aparat penegak hukum dalam menangani tindak pidana korupsi. 11 Charlie Lumenta, “Pengawasan Penegakan Hukum Dalam Penanganan Kasus Tindak Pidana Korupsi”, Lex Crimen, Vol.
Kerangka Teoritik
Aturan hukum menyatakan bahwa perintah harus tunduk pada hukum, hukum harus ditempatkan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan negara, pemerintahan, dan masyarakat. Artinya sasaran negara hukum adalah terciptanya negara, pemerintahan, dan masyarakat yang berdasarkan keadilan, perdamaian, dan kemanfaatan atau kebermaknaan. 15 Jimly Asshiddiqie, Menjaga Nadi Konstitusi: Refleksi Satu Tahun Mahkamah Konstitusi, (Jakarta: Constitution Press, 2004), hal. 60-61.
Sedangkan dalam kamus Hakim Andrea Fockema yang diterjemahkan Saleh Adiwinata dkk, kata organ juga mempunyai arti perlengkapan. Pengertian lembaga negara saat ini sangat beragam, tidak lagi hanya mencakup tiga lembaga (trias politica) yang terdiri dari lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Dalam teks Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terdapat badan-badan lain, ada yang disebutkan namanya secara tegas, dan ada pula yang disebutkan secara tegas hanya fungsinya saja.
Ada pula lembaga atau badan yang nama dan fungsi kewenangannya akan diatur dengan peraturan yang lebih rendah. Acuan yang terkait dengan lembaga negara di luar triad politik dikenal dengan istilah lembaga pendukung negara (subsidiary state body). Arti Supervisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah mengawasi atau menjaga 18 Pengertian lain yang berkaitan dengan supervisi menurut Muchsan adalah kegiatan mengevaluasi pelaksanaan suatu tugas secara nyata, adapun tujuannya.
Tergantung pada posisi tubuh atau organ yang dikendalikan, dapat dibedakan antara bentuk pengawasan internal dan eksternal. Pengawasan intern merupakan pengawasan yang dilakukan oleh suatu badan yang secara struktural masih termasuk dalam struktur badan atau lembaga itu sendiri. Berdasarkan objek yang diawasinya, dibedakan antara bentuk pengawasan dari segi hukum (legalitas) dan pengawasan dari segi manfaat (efektivitas).
Pengawasan dari segi hukum (rechmatigheid) adalah pengawasan yang bertujuan untuk mengevaluasi pertimbangan berdasarkan perspektif hukum untuk menilai tindakan suatu lembaga negara.
Metode Penelitian
Bahan pustaka ini merupakan sumber data, artinya data yang dikumpulkan berasal dari perpustakaan baik berupa buku, ensiklopedia, surat kabar, media online, dan lain-lain.24 Sehingga diperoleh data yang jelas dan akurat yang dapat dijadikan sumber informasi. referensi. Dalam hal ini sumber data tersebut merupakan sumber pencarian data terkait peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi. Penelitian ini bersifat analitis, yaitu penulis akan memaparkan secara sistematis mengenai pengawasan terhadap lembaga independen negara di Indonesia khususnya Komisi Pemberantasan Korupsi.
Pendekatan hukum komparatif merupakan pendekatan yang didasarkan pada bahan hukum terpenting dengan cara membandingkan badan pengawas pada lembaga negara. Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang bersifat otoritatif, artinya mempunyai kewenangan.25 Dalam hal ini penyusunnya menggunakan peraturan perundang-undangan, salah satunya adalah Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tipikor. Komisi. . Bahan Hukum Sekunder merupakan sumber penunjang yang memberikan petunjuk kepada peneliti mengenai tempat penelitian dilakukan. 26 Penelitian biasanya meliputi buku, jurnal ilmiah, makalah, artikel dan lain-lain yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas.
Bahan hukum tersier merupakan bahan hukum yang memberikan informasi tambahan mengenai bahan hukum primer dan sekunder. Metode pengumpulan data merupakan suatu langkah atau proses dalam penelitian untuk memecahkan masalah yang ingin diselidiki. Analisis data adalah suatu kegiatan dalam penelitian berupa melakukan kajian atau mengkaji hasil pengolahan data dengan dibantu teori.28.
Sistematika Pembahasan
Pengawasan yang dilakukan Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat bersama Dewan Pengawas untuk mengawasi kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai persamaan dan perbedaan. Persamaan dan perbedaannya adalah: 1) sama-sama mempunyai payung hukum namun berbeda dalam klasifikasi jenis instrumennya. Dasar hukum penunjukan dan pengangkatan Deputi Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat menggunakan Keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, sedangkan Dewan Pengawas menggunakan instrumen hukum Keputusan Presiden;
Namun yang berbeda adalah penunjukan dan penetapan Dewan Pengawas oleh Presiden Republik Indonesia sebagai lembaga eksekutif; Pengawasan yang dilakukan Dewan Pengawas untuk mengawasi kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi tidak lebih baik dibandingkan dengan pengawasan yang dilakukan oleh Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat untuk menjamin independensi Komisi Pemberantasan Korupsi. Hal ini terlihat dari salah satu tugas dewan pengawas yaitu memberikan izin atau tidak memberikan izin untuk melakukan penyadapan, penggeledahan, dan/atau penyitaan.
Ketika tugas dan wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi yang independen bersinggungan atau diintervensi oleh pihak lain, maka independensi Komisi Pemberantasan Korupsi patut dipertanyakan kembali. Selain itu, kedudukan dewan pengawas yang berada di internal Komisi Pemberantasan Korupsi juga menjadi persoalan, namun pengangkatan ketua dan anggota dewan pengawas dilakukan oleh Presiden RI.
Saran
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Asshiddiqie, Jimly, Pembinaan dan Pemantapan Lembaga Negara Pasca Reformasi, Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2006. Azhary, Muhammad Tahir, Berbagai Aspek Hukum Negara, Hukum Pidana dan Hukum Islam: Menyambut 73 Tahun Prof.Dr.H.
Kelsen, Hans, Teori Umum Hukum dan Negara, diterjemahkan oleh Raisul Muttaqien, cet, VIII, Bandung: Media Nusantara, 2008. Mudzakkir, laporan akhir Tim Kompediun Hukum Lembaga Pemberantasan Korupsi, Jakarta: Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, 2011 Soekanto Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Tinjauan Singkat, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.
Ismail, “Fungsi Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002,” Jurnal Ilmu Hukum Legal Opinion, Vol. Lumenta Charlie, “Pengawasan Penegakan Hukum dalam Penanganan Kasus Tindak Pidana Korupsi,” Lex Crimen, Vol. Komisi Pemberantasan Korupsi”, https://www.kpk.go.id/id/tangan-kpk/structure-organization/deputi-pengawasan-internal-dan-pengaduan-community, diakses 3 Januari 2020.