Sekitar 38% dari total nilai ekspor atau sekitar 46% dari total ekspor nonmigas tahun 2011 berasal dari sektor industri pengolahan. Keempat, sektor manufaktur memiliki keterkaitan ke belakang dan ke depan yang tinggi dengan sektor lainnya. Pertumbuhan sektor industri pengolahan sebelum krisis keuangan tahun 1998 relatif tinggi yaitu mencapai sekitar 9,2% (yy) pada periode 1991-1998.
Mencermati peran penting sektor manufaktur tersebut, maka analisis perkembangan produktivitas industri manufaktur Indonesia dipandang perlu, terutama untuk melihat kesinambungan pertumbuhan output sektor ini. Tujuan pertama dari penelitian ini adalah menghitung Total Factor Productivity (TFP) perusahaan manufaktur besar dan menengah Indonesia; kedua, mengidentifikasi sumber-sumber peningkatan produktivitas di sektor industri manufaktur; dan ketiga, analisis subsektor industri pengolahan berdasarkan tingkat perubahan teknis dan perubahan efisiensi. Dengan mengetahui gambaran produktivitas subsektor manufaktur dan komponen penyusunnya, dapat diketahui potensi dan risiko kinerja sektor industri ke depan serta kebijakan pembangunan yang dibutuhkan.
Dalam kasus beberapa keluaran, perubahan teknis dapat mengubah produksi satu keluaran relatif terhadap keluaran lainnya dalam dua cara. Karena perhitungan MTFPI didasarkan pada asumsi CRS, hanya ada 2 sumber pertumbuhan produktivitas, yaitu perubahan efisiensi dan perubahan teknis.
Data Envelopment Analysis
Padahal, jika menggunakan variable returns to scale, selain kedua sumber pertumbuhan produktivitas tersebut, ada juga sumber pertumbuhan produktivitas yang berasal dari perbaikan skala operasi atau skala efisiensi. Bobot optimal u dan v pada FP di atas didapatkan dari maksimalisasi nilai efisiensi dengan batas nilai efisiensi kurang dari atau sama dengan 1. Bentuk model DEA pada LP dapat diselesaikan, namun mengingat batasan jumlah yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah perusahaan (lebih kompleks). , perlu dilakukan perubahan bentuk dari LP menjadi Dual Programming (DP).
Skala ekonomi yang dihasilkan dalam model ini tidak menunjukkan apakah perusahaan meningkatkan atau menurunkan skala pengembalian. Jika TE (Technical Efficiency atau biasa disebut efisiensi) NIRS tidak sama dengan TE VRS, maka diindikasikan Return to Scale (IRS) yang meningkat. Sementara itu, jika TE NIRS sama dengan TE VRS, hal itu mengindikasikan adanya penurunan skala pengembalian (DRS).
Skala pengembalian konstan (CRS) DEA mengasumsikan bahwa semua DMU beroperasi pada skala ekonomi yang paling optimal. Namun, terdapat persaingan yang tidak sempurna, kendala keuangan yang mencegah DMU beroperasi pada skala ekonomi yang optimal, sehingga model DEA dikembangkan dengan asumsi variabel skala pengembalian (VRS). Atau, jika perusahaan menggunakan input yang sama pada periode t dan t+1, tetapi menghasilkan output yang berbeda, yaitu output periode t+1 meningkat sebesar 30% dari output periode t, maka indeks TFP adalah 1,3.
Selain MTFI yang telah dijelaskan secara detail sebelumnya, ada dua cara lain untuk menghitung indeks TFP, yaitu Indeks Hicks-Moorsteen TFP (HM TFP) dan Indeks TFP berdasarkan Rasio Profitabilitas. Namun terdapat kekurangan dari indeks HM TFP yaitu ketidakmampuan untuk menjelaskan sumber pertumbuhan produktivitas (perubahan teknis, perubahan efisiensi). Di sisi lain, metode perhitungan Profitability Ratio mengukur indeks TFP dengan menggunakan pendapatan dan biaya (setelah disesuaikan dengan perubahan harga antara periode s dan t).
Untuk itu indeks yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Malmquist TFP Index.
Penelitian tentang TFP Sektor Industri Pengolahan di Indonesia
Metodologi yang digunakan dalam penelitian Ikhsan kemudian diadopsi oleh Bappenas (2010) dengan menggunakan data SIBS periode 2000-2007. Setelah sempat terpuruk selama beberapa waktu yang diduga terkait dengan proses konsolidasi kebijakan ekonomi pasca krisis 1998, produktivitas industri kembali meningkat pada tahun 2004-2007. Pada tingkat divisi KBLI 2 digit, sektor kimia mencatatkan pertumbuhan TFP tertinggi dengan rata-rata 0,21% per tahun, diikuti oleh sektor mineral bukan logam (0,14%) dan sektor makanan dan minuman (0,09%).
Sementara itu, pertumbuhan produktivitas terendah dialami oleh sektor industri kayu (-1,18%), sektor industri pengolahan lainnya (-0,31%) dan sektor tekstil (-0,08%). Prabowo dan Cabanda (2011) meneliti produktivitas perusahaan manufaktur Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2000-2005. Prabowo dan Cabanda masih menggunakan metode SFA dan menemukan inefisiensi teknis di perusahaan-perusahaan yang menjadi sampel penelitian.
Dengan menggunakan data UNIDO pada tingkat ISIC 3 digit, disimpulkan bahwa selama periode 1990-2001 terdapat 5 subsektor industri yang memiliki efisiensi tertinggi, yaitu: Tembakau; Besi dan baja; peralatan transportasi; Logam bukan besi; dan Kimia. Secara umum, subsektor industri pada kategori industri dasar menunjukkan efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan industri pada kategori industri tradisional rendah dan industri teknologi tinggi. Namun demikian, industri yang berada pada kategori terakhir, dalam pengamatan 2 tahun terakhir, cenderung menunjukkan efisiensi yang lebih tinggi.
Terkait dengan tujuan tersebut, input yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi pada ekuitas dan biaya pemasaran. Metode DEA diterapkan pada 5 kategori industri perusahaan manufaktur yang tercatat di BEI sepanjang terkait dengan: Foods and Beverages; produk pakaian dan tekstil; plastik dan barang pecah belah; Otomotif dan produknya; dan Farmasi. Kesimpulan utama dari penelitian ini adalah produktivitas pemasaran pada tahun tersebut memiliki nilai tertinggi dibandingkan dengan periode lainnya dimana kontribusi terbesar diberikan pada efisiensi teknologi.
Nilai TFP perusahaan yang efisien memiliki hubungan positif dengan return on assets, yang mencerminkan bahwa semakin tinggi efisiensi produktivitas pemasaran maka kinerja keuangan akan semakin baik.
METODOLOGI 3.1. Metodologi
Data, Variabel, dan Proksi
Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Survei Industri Besar dan Menengah (SIBS) yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Untuk setiap perusahaan, variabel yang digunakan meliputi output, modal, tenaga kerja, bahan baku, dan energi. Untuk mengetahui produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan, kita dapat menggunakan metode produksi atau hasil penjualan.
Ini mempertimbangkan semua sumber daya (modal, tenaga kerja, bahan baku dan energi) yang menghasilkan sejumlah output, baik yang dijual maupun yang tidak terjual dan disimpan sebagai persediaan. Data nilai produksi yang dihasilkan akan dirilis dengan menggunakan Indeks Harga Perdagangan Besar Indonesia berdasarkan masing-masing sektor industri. Data modal yang digunakan dalam penelitian ini adalah perkiraan nilai (persediaan) dari seluruh aset modal tetap (tanah, bangunan, mesin, kendaraan dan lain-lain).
Data modal pada tahun t dapat memperkirakan modal pada tahun-tahun lainnya dengan mempertimbangkan nilai investasi (pembelian atau perbaikan), nilai penjualan dan penyusutan (asumsi 14%) pada tahun-tahun tersebut. Deflator yang digunakan untuk mengeluarkan data barang modal adalah deflator pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTB) pada PDB sisi konsumsi. Hal ini berkaitan dengan jumlah tenaga kerja yang sama dalam suatu perusahaan yang akan menghasilkan keluaran yang berbeda jika jumlah jam kerja berubah (terjadi lembur atau terhenti sementara proses produksi).
Data bahan baku menggunakan informasi tentang data bahan baku dan bahan penolong baik di dalam negeri maupun internasional. Nilai total bahan mentah (domestik dan impor) dikurangi dengan indeks harga grosir total, yang berlaku sama untuk semua perusahaan. Sumber daya energi yang digunakan sebagai input produksi menggunakan informasi dari bahan bakar dan pelumas serta listrik.
Deflator yang digunakan untuk bahan bakar dan pelumas adalah indeks harga perdagangan besar Indonesia menurut jenisnya masing-masing (premium, minyak tanah, solar, solar, oli dan pelumas).
HASIL DAN ANALISIS
TFP Agregat Industri Pengolahan
Berdasarkan komponennya, sumber pertumbuhan TFP didominasi oleh pertumbuhan perubahan teknis, diikuti oleh skala ekonomi dan perubahan efisiensi. Artinya, rata-rata pada periode 2000-2009, perusahaan sampel lebih mengandalkan penggunaan teknologi baru dan bergerak menuju skala optimal. Jika periode observasi dibagi menjadi 2 periode, pertumbuhan TFP akan mengalami perlambatan pada periode 2005-2009 dibandingkan periode 2000-2004.
Jika pada tahun 2000-2004 sumber pertumbuhan TFP adalah perubahan efisiensi, maka pada tahun 2005-2009 sumber utama adalah perubahan teknis. Hal ini terkait dengan keadaan perekonomian Indonesia saat itu yang pasca krisis moneter masih dalam proses konsolidasi di berbagai bidang, termasuk perbaikan iklim investasi sehingga kepercayaan investor dan dunia usaha kembali meningkat. Selama periode tersebut, di tengah lemahnya permintaan domestik dan aktivitas investasi, perusahaan meningkatkan produktivitasnya melalui proses produksi yang efisien.
Beberapa contoh upaya agar proses produksi perusahaan menjadi lebih efisien adalah memperbaiki praktik penggunaan bahan baku untuk mengurangi pemborosan bahan baku, memperbaiki tata letak produksi agar perpindahan antar workstation menjadi lebih singkat, workflow alignment antar workstation (konsep sistem tarik) untuk mengurangi akumulasi produk setengah jadi, yaitu antar workstation, dan menerapkan konsep Lean Manufacturing untuk mengurangi waktu menganggur produk setengah jadi antar workstation. Pada periode ini penurunan technical change dapat diartikan sebagai penurunan production frontier yaitu penurunan kapasitas produksi mesin dan salah satu kemungkinannya adalah karena keterlambatan proses peremajaan dan penggantian mesin. Terganggunya proses ini ditunjukkan oleh pertumbuhan investasi (PMTB) dan rendahnya realisasi PMA dan PMDN.
Hal ini sejalan dengan rata-rata peningkatan investasi dan realisasi FDI dan PMDN pada periode ini yang relatif lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan investasi secara agregat, serta peningkatan realisasi FDI dan PMDN secara umum, membawa teknologi baru. Selama periode ini, meskipun perubahan teknis meningkat, perubahan efisiensi yang menggambarkan efek penangkapan justru menurun.
Dalam beberapa studi produktivitas serupa di negara lain, salah satu penjelasan untuk efek pengejaran yang semakin berkurang karena peningkatan perubahan teknis adalah terbatasnya kemampuan tenaga kerja untuk beradaptasi dengan teknologi baru.
TFP dan Komponennya berdasarkan Subsektor Industri
Lima subsektor industri yang mencatat pertumbuhan TFP rata-rata tertinggi tahun ini secara umum tergolong industri berteknologi tinggi.
Kuadran Subsektor Industri dan Karakteristiknya
Hal ini berdampak pada dua hal, pertama, ketidakmampuan perusahaan manufaktur untuk berproduksi pada tingkat potensinya; dan kedua, lambatnya kemampuan subsektor untuk semakin beradaptasi dengan teknologi. Hal di atas bertentangan dengan anggapan bahwa perubahan teknis yang tinggi dapat menawarkan prospek peningkatan produktivitas. Konsekuensi dari bertambahnya jumlah subsektor industri pada Kuadran II adalah perlunya pengembangan keterampilan tenaga kerja agar mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
Sebaran subsektor pada keempat kuadran di atas dapat dipengaruhi oleh karakteristik perusahaan pada masing-masing subsektor. Beberapa variabel yang diperoleh dari kajian industri menengah dan besar yang dapat menggambarkan karakteristik masing-masing perusahaan tersebut antara lain intensitas penelitian dan pengembangan (R&D); kegiatan inovasi; orientasi penjualan; lokasi usaha; penggunaan fasilitas PMA; Ada beberapa fakta menarik untuk disimpulkan; Pertama, penggunaan fasilitas investasi asing sesuai dengan perubahan teknis dan perubahan efisiensi yang lebih baik, dan menempatkan perusahaan yang menggunakan fasilitas ini di kuadran I.
Kedua, pola yang sama juga ditemukan pada perusahaan yang sebagian atau seluruhnya dimiliki oleh asing. Kedua hal ini akan mendorong peningkatan produktivitas mereka sehingga cenderung berada di kuadran I, II dan kemudian kuadran III.
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA