• Tidak ada hasil yang ditemukan

23040630026 Dini Apriyani Artikel Museum Dewantara Kirti Griya

N/A
N/A
Dini Apriyani

Academic year: 2025

Membagikan "23040630026 Dini Apriyani Artikel Museum Dewantara Kirti Griya"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Mengenal Museum Dewantara Kirti Griya Mengenang Jejak Sang Bapak Pendidikan Indonesia

Dini Apriyani¹, Nanang Setiawan, M.A²,

Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Hukum, dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Yogyakarta

[email protected]

Abstrak: Museum Dewantara Kirti Griya merupakan salah satu museum bersejarah yang terletak di Jl. Taman Siswa No. 31 Yogyakarta yang wajib dikunjungi untuk mengenang jasa dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara sebagai pendidik, jurnalis, serta budayawan. Museum ini menyimpan beragam koleksi benda autentik, mulai dari perabot rumah tangga, naskah tulisan tangan, foto, koran, buku, majalah, hingga arsip dokumen pendidikan yang mencerminkan semangat perjuangan intelektual dalam membangun sistem pendidikan nasional yang berakar pada nilai budaya bangsa. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji sejarah pendirian museum, jenis-jenis koleksi yang dimiliki, serta daya tarik museum sebagai sarana edukatif dan pelestarian nilai sejarah. Dengan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui studi pustaka dan observasi langsung, hasil kajian menunjukkan bahwa museum ini tidak hanya menyimpan benda bersejarah, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai perjuangan dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam memajukan pendidikan yang berkarakter dan berakar pada budaya bangsa. Melalui museum ini, generasi muda dapat mengenal lebih dekat pemikiran dan perjuangan tokoh pendidikan nasional, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur bangsa.

Kata Kunci: Museum, Dewantara Kirti Griya, Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan.

PENDAHULUAN

Museum merupakan lembaga penting dalam pelestarian sejarah dan kebudayaan suatu bangsa. Fungsi museum saat ini tidak hanya terbatas sebagai tempat penyimpanan benda-benda

(2)

bersejarah, tetapi telah berkembang menjadi sarana edukatif dan rekreatif yang mendukung proses pembelajaran. Dalam konteks pendidikan, museum memiliki peran strategis untuk memperkenalkan nilai-nilai sejarah kepada masyarakat secara langsung dan konkret. Menurut Asmara (2019:10), keberadaan museum dalam dunia pendidikan sangat dibutuhkan, karena museum mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih hidup dibandingkan pembelajaran di dalam kelas. Melalui museum, pengunjung dapat mengamati langsung peninggalan masa lalu, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyenangkan.

Museum juga berperan dalam membentuk kesadaran budaya masyarakat melalui penyajian koleksi dan informasi sejarah. Sebagaimana disampaikan oleh Matitaputy (2007:39), museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda budaya, tetapi juga sebagai lembaga yang melestarikan kekayaan budaya bangsa dan menyampaikan nilai-nilai edukatif kepada masyarakat. Dalam perkembangannya, museum diarahkan menjadi pusat informasi, apresiasi, serta kreativitas masyarakat dalam rangka menunjang pembangunan nasional di bidang pendidikan dan kebudayaan.

Salah satu museum bersejarah yang memiliki nilai edukatif tinggi di Yogyakarta adalah Museum Dewantara Kirti Griya, yang berada di lingkungan Taman Siswa. Museum ini menyimpan berbagai peninggalan dan karya pemikiran Ki Hadjar Dewantara sebagai tokoh pelopor pendidikan nasional Indonesia sekaligus pendiri Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang menjunjung nilai-nilai budaya dan kemandirian bangsa. Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi merupakan proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar berkembang secara utuh, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat (Noviani dkk., 2017:160). Beliau menekankan pentingnya pendidikan yang membebaskan, berakar pada budaya, dan membentuk manusia yang merdeka lahir dan batin. pendidikan dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara harus mengakui keberadaan peserta didik sebagai subjek utama yang perlu dipahami, diasuh, dan dikembangkan potensinya secara menyeluruh, baik dari aspek intelektual, moral, maupun spiritual (Noviani dkk., 2017:161).

Oleh karena itu, museum yang merepresentasikan nilai-nilai dan perjuangan beliau menjadi sarana penting dalam memperkuat kesadaran pendidikan berkarakter dan berbudaya.

Kehadiran museum Dewantara Kirti Griya menjadi simbol pelestarian gagasan dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam dunia pendidikan, serta menjadi sarana penting bagi generasi masa kini untuk memahami nilai-nilai luhur pendidikan nasional.

(3)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejarah Museum Dewantara Kirti Griya

Museum Dewantara Kirti Griya merupakan salah satu situs bersejarah yang memiliki nilai penting dalam dunia pendidikan di Indonesia. Museum ini berlokasi di kompleks Perguruan Tamansiswa, tepatnya di Jalan Tamansiswa No. 31, Yogyakarta atau di Jalan Tamansiswa No. 25, Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta. Bangunan ini didirikan pada tahun 1915 dengan arsitektur klasik khas kolonial yang menggabungkan unsur Eropa dan Jawa. Pada masa awalnya, rumah ini bukan milik Ki Hadjar Dewantara, melainkan milik seorang janda keturunan Belanda bernama Mas Ajeng Ramsinah. Namun, pada 14 Agustus 1934, bangunan beserta tanah seluas 5.594 m² ini dibeli oleh Yayasan Tamansiswa atas nama Ki Hadjar Dewantara, Ki Sudarminto, dan Ki Supratolo seharga 3.000 gulden dan menjadikannya sebagai kediaman resmi Ki Hadjar Dewantara (Tamansiswa Pusat, 2023). Hingga akhirnya bangunan ini menjadi rumah pribadi Ki Hadjar Dewantara yang ditempati bersama keluarganya sejak 16 November 1938, bertepatan dengan diresmikannya Pendapa Agung Tamansiswa (Monumen Persatuan Tamansiswa). Pada 10 Desember 1951, properti ini dihibahkan kepada Yayasan Persatuan Perguruan Tamansiswa.

Setelah Ki Hadjar Dewantara menetap di rumah tersebut, bangunan ini menjadi pusat aktivitas pendidikan dan kebudayaan Tamansiswa. Sebagai pelopor pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara menggunakan rumahnya sebagai tempat pertemuan para tokoh pergerakan dan pendidikan. Pada tahun 1958, dalam rapat Pamong Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara mengusulkan agar rumahnya dijadikan museum yang menyimpan berbagai hasil kerja dan pemikirannya. Usulan ini kemudian diwujudkan setelah wafatnya Ki Hadjar Dewantara pada 26 April 1959. Dalam rangka mengenang jasa-jasanya, Majelis Luhur Tamansiswa bersama keluarga Ki Hadjar Dewantara serta berbagai pihak terkait mulai mengumpulkan koleksi yang terdiri atas naskah, surat-surat pribadi, buku, foto, dan barang-barang pribadi Ki Hadjar.

Museum ini diresmikan pada 2 Mei 1970, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, dan dibuka secara resmi oleh Nyi Hadjar Dewantara. Nama "Dewantara Kirti Griya" berasal dari tiga kata dalam bahasa Sanskerta, yaitu "Dewantara" yang merujuk pada Ki Hadjar Dewantara, "Kirti" yang berarti hasil pekerjaan, dan "Griya" yang berarti rumah. Sehingga, secara keseluruhan, nama museum ini berarti "rumah yang berisi hasil kerja Ki Hadjar Dewantara" (Risty dkk., 2023: 7). Peresmian museum ini ditandai dengan sengkalan "Miyat Ngaluhur Trusing Budi" yang menunjukkan tahun 1902 Saka atau 2 Mei 1970 Masehi. Makna sengkalan ini mengandung pesan agar generasi penerus dapat memahami serta meneruskan nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan oleh Ki Hadjar Dewantara.

(4)

Sebagai pusat pelestarian sejarah pendidikan nasional, Museum Dewantara Kirti Griya menyimpan koleksi yang menggambarkan perjalanan hidup dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, museum ini juga menjadi pusat edukasi dan penelitian bagi akademisi, sejarawan, serta masyarakat umum yang ingin memahami lebih dalam tentang sejarah pendidikan di Indonesia.

Seiring waktu, museum ini mendapatkan pengakuan resmi sebagai bagian dari warisan budaya nasional. Pada tahun 2015, berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 243/M/2015, Museum Dewantara Kirti Griya ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional. Dengan status ini, museum mendapatkan perlindungan hukum serta perhatian lebih dalam upaya pelestariannya. Keberadaan museum ini tidak hanya sebagai penghormatan terhadap jasa Ki Hadjar Dewantara, tetapi juga sebagai sarana untuk menginspirasi generasi muda dalam memahami nilai-nilai pendidikan, kebudayaan, dan perjuangan dalam membangun bangsa.

Koleksi Museum Dewantara Kirti Griya

Museum Dewantara Kirti Griya merupakan salah satu museum bersejarah yang menyimpan berbagai koleksi terkait perjalanan hidup dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam dunia pendidikan. Sebagai institusi yang berfungsi untuk menyimpan, merawat, mengamankan, serta memanfaatkan benda bersejarah, museum ini berperan penting dalam melestarikan warisan budaya bangsa. Mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 Tahun 1995, museum memiliki tugas utama sebagai pusat pelestarian dan sumber informasi bagi masyarakat untuk memahami sejarah serta nilai-nilai kebudayaan yang terkandung di dalamnya (Asmara, 2019: 14). Koleksi yang tersimpan di museum ini menjadi bukti nyata perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Hingga kini, Museum Dewantara Kirti Griya memiliki berbagai koleksi yang terbagi ke dalam beberapa kategori.

Pertama, koleksi bangunan yang mencakup rumah bekas kediaman Ki Hadjar Dewantara sekeluarga yang kini dialihfungsikan sebagai museum dan Pendapa Agung Tamansiswa yang menjadi Monumen Persatuan Tamansiswa. Kedua, koleksi realia yang terdiri dari benda-benda asli milik Ki Hadjar Dewantara, seperti naskah, pakaian, perabotan, perlengkapan kerja, film documenter, dan surat-surat yang memiliki nilai historis dalam peristiwa Sejarah bangsa dan perkembangan Pendidikan serta kebudayaan. Ketiga, koleksi lain yang meliputi foto-foto, lukisan, pecah belah, surat kabar, majalah, dan buku-buku. Secara

(5)

keseluruhan, museum ini memiliki kurang lebih 3.257 koleksi, diantaranya koleksi historika sebanyak 1.207 buah dan sebanyak 2.050 buku koleksi filologika (Tamansiswa Pusat, 2023).

Dari koleksi-koleksi yang ada, Museum Dewantara Kirti Griya membagi ruangannya menjadi enam ruang pameran dengan tema yang berbeda-beda serta satu ruang perpustakaan.

1) Ruang 1, Kamar Tidur Khusus Ki Hadjar Dewantara

Ruangan pertama merupakan kamar tidur khusus Ki Hadjar Dewantara, yang mengangkat tema Ki Hadjar Dewantara sebagai Aktivis Anti-Kolonialisme. Dalam ruangan ini dijelaskan bagaimana Ki Hadjar Dewantara menjadi aktivis anti- kolonialisme, yang diawali dengan dimulainya studi di Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (STOVIA) di Batavia (Jakarta) pada tahun 1905. Studi di STOVIA menjadi salah satu pemicu bagi Ki Hadjar Dewantara untuk terlibat dalam gerakan anti-kolonial dan nasionalisme. Sebagai pelajar STOVIA, Ki Hadjar Dewantara aktif terlibat dalam pembentukan organisasi Budi Utomo (1908) dan National Indische Partij (Partai Hindia) pada tahun 1912. Bukti keterlibatan Ki Hadjar Dewantara dalam pergerakan nasional terlihat pada artikel yang ditulis oleh Ki Hadjar Dewantara yang berjudul

“Seandainya Aku Seorang Belanda” yang menyoroti ketidakadilan dari sistem kolonial dalam ruang publik, yang kemudian menyebabkan dijatuhkannya sanksi dari pemerintah kolonial dengan menjebloskan tiga serangkai, yaitu Ki Hadjar Dewantara, Douwes Dekker, dan Dr. Tjipto Mangunkusumo ke dalam penjara dan kemudian diasingkan ke Belanda.

Selain itu, terdapat koleksi buku kecil yang berisi kumpulan surat-surat dan artikel berita dari Komite Boemipoetra, yang dibentuk oleh kelompok Tiga Serangkai.

Koleksi lainnya ialah pakaian yang dikenakan Ki Hadjar Dewantara saat di penjara Pekalongan, mesin ketik Ki Hadjar Dewantara yang digunakan untuk menulis dan menerbitkan ratusan artikel mengenai kebudayaan, Pendidikan dan politik. Di ruang 1 ini dilengkapi dengan foto-foto Ki Hadjar Dewantara bersama rekan-rekan Indische Partij dan Ir. Soekarno, infografis biografi Ki Hadjar Dewantara, silsilah keluarga Ki Hadjar Dewantara dan Nyi Hadjar Dewantara, serta tempat tidur Ki Hadjar Dewantara.

(6)

Gambar 1. Kamar Tidur Khusus Ki Hadjar. Tema “Ki Hadjar Dewantara:

Aktivis Anti-Kolonial Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 2. Mesin Ketik Ki Hadjar Dewantara

Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 3.

Pakaian Ki Hadjar Dewantara di Penjara Pekalongan Sumber :

Dokumen Pribadi Gambar 4. Tempat Tidur Ki Hadjar Sumber : Dokumen Pribadi

2) Ruang 2, Ruang Keluarga

Ruang kedua dalam museum ini mengusung tema Filosofi Tamansiswa, di mana ruangan ini dulunya digunakan sebagai tempat pertemuan keluarga dan kegiatan pembelajaran. Koleksi yang dipamerkan dalam ruangan ini mencakup foto-foto, simbol dan panji-panji Tamansiswa, berbagai souvenir Tamansiswa, serta panel yang menjelaskan Sejarah dan perkembangan Tamansiswa. Dari koleksi tersebut, dapat dipahami bagaimana Tamansiswa lahir dan berkembang sebagai respons terhadap diskriminasi dalam sistem pendidikan kolonial yang hanya menguntungkan pihak kolonial serta membatasi akses pendidikan bagi masyarakat pribumi. Pada masa itu, hanya kalangan priyayi dan keturunan Indo-Belanda yang mendapat kesempatan belajar, sementara rakyat biasa sulit mengakses pendidikan. Kurikulum yang diterapkan pun lebih menekankan aspek intelektual, individualistik, dan materialistik, yang bertentangan dengan karakter bangsa Indonesia yang menjunjung kebersamaan dan nilai-nilai moral.

(7)

Situasi ini mendorong lahirnya Tamansiswa sebagai lembaga pendidikan nasionalis yang diberi nama Nationaal Onderwijs Institut Tamansiswa atau Perguruan Kebangsaan Tamansiswa. Sekolah ini didirikan oleh R.M. Suwardi Suryaningrat, yang kemudian lebih dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, pada hari Senin Kliwon, 3 Juli 1922. Awalnya, Tamansiswa beroperasi di kediaman Ki Hadjar Dewantara di Jalan Tanjung No. 28 Yogyakarta, yang kini dikenal sebagai Jalan Gajah Mada.

Sejak awal berdirinya, Tamansiswa memulai sistem pendidikannya dengan membuka Taman Lare atau Taman Anak (Kindertuin) untuk anak-anak di bawah usia tujuh tahun. Kemudian, pada 7 Juli 1924, Tamansiswa membuka jenjang pendidikan lanjutan berupa MULO-Kweekschool. Seiring perkembangannya, Tamansiswa terus memperluas jenjang pendidikannya dengan mendirikan Taman Muda, Taman Dewasa, Taman Madya/Taman Karya, hingga Sarjana Wiyata sebagai jenjang tertinggi.

Salah satu ciri khas yang membedakan Tamansiswa dengan sistem pendidikan kolonial adalah penerapan Sistem Among, yaitu metode pendidikan yang menekankan pada kebebasan anak untuk berkembang sesuai dengan kodratnya. Konsep ini menempatkan pendidik sebagai sosok pengasuh yang membimbing dan mendukung pertumbuhan lahir dan batin peserta didik tanpa paksaan.

Berdirinya Tamansiswa tentunya tidak lepas dari dukungan tokoh-tokoh yang tergabung dalam Paguyuban Selasa Kliwon, yaitu sebuah kelompok diskusi yang membahas strategi untuk meningkatkan martabat bangsa Indonesia. Beberapa tokoh yang turut berperan dalam pendirian Tamansiswa antara lain R.M. Sostatmo Soerjokoesoemo, R.M.H. Soerjo Poe, dan Ki Pronodigdo. Paguyuban ini memiliki cita- cita luhur, yaitu "membahagiakan diri, membahagiakan bangsa, dan membahagiakan manusia", yang kemudian menjadi landasan utama dalam pendidikan Tamansiswa.

Pada awal pendiriannya, Tamansiswa menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam pendanaan dan fasilitas. Modal awal sekolah ini berasal dari murid serta bangku sekolah Adhi Dharma, milik R.M. Suryopranoto, kakak Ki Hadjar Dewantara.

Meskipun demikian, dengan semangat kebangsaan, Tamansiswa terus berkembang.

Pada tahun 1924, sekolah ini hanya memiliki 38 murid dan 17 guru, namun jumlahnya meningkat pesat dalam beberapa tahun berikutnya. Pada tahun 1932, sekolah cabang Tamansiswa telah mencapai 166 unit dengan total 11.000 siswa yang tersebar di berbagai wilayah Hindia Belanda.

Pada dekade 1930-an, Ki Hadjar Dewantara aktif mengunjungi cabang-cabang sekolah Tamansiswa untuk memberikan arahan agar sistem pendidikan tetap

(8)

berlandaskan filosofi Tamansiswa dan nilai kebangsaan. Tamansiswa juga memiliki panji-panji yang sarat makna filosofis. Salah satu panji mengusung motto dalam bahasa Jawa, "Suci Tata Ngesti Tunggal," yang berarti dengan niat baik dan disiplin, seseorang dapat mencapai kesempurnaan. Dalam filosofi Jawa, setiap kata dalam motto ini memiliki nilai numerik: Suci (4), Tata (5), Ngesti (8), dan Tunggal (1). Jika angka-angka ini digabungkan, maka membentuk angka 1854 dalam kalender Jawa, yang setara dengan tahun 1923 dalam kalender Romawi. Tahun ini merupakan tahun berdirinya Persatuan Tamansiswa, yang menandai langkah awal Tamansiswa sebagai lembaga pendidikan nasional. Panji ini memiliki dua versi, yaitu panji beraksara Jawa yang dibuat oleh Wanita Tamansiswa dan diserahkan pada peresmian Pendopo Agung tahun 1938, serta panji dalam bahasa Indonesia yang dibuat oleh siswa dan pamong Tamansiswa, diresmikan dalam Rapat Besar Umum Tamansiswa tahun 1956.

Gambar 5.

Ruang Keluarga Tampak Belakang Sumber :

Dokumen Pribadi

Gambar 6. Panji- Panji Tamansiswa Sumber :

Dokumen Pribadi

3) Ruang 3, Ruang Tamu Utama

Ruang 3 di Museum Dewantara Kirti Griya berfokus pada konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Koleksi yang dipamerkan dalam ruang ini menggambarkan tidak hanya perjalanan intelektual beliau, tetapi juga pengaruh Pendidikan internasional terhadap pemikirannya. Dalam ruang 3 ini terdapat dua gambar tokoh Pendidikan dunia yang sangat dikagumi Ki Hadjar Dewantara, yakni Dr. Maria Montessori dan Rabindranath Tagore. Montessori, seorang pendidik dari Italia yang dikenal dengan metode pendidikan yang berpusat pada kebebasan anak untuk mengeksplorasi potensi mereka. Sementara itu, Tagore, seorang filsuf dan pendidik dari India yang mengembangkan konsep pendidikan yang berbasis pada kebudayaan dan kebebasan berpikir. Gagasan dari kedua tokoh ini sangat berpengaruh dalam pembentukan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, yang kemudian ia terapkan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Tidak jauh dari gambar kedua tokoh tersebut, terpajang beberapa foto

(9)

yang memperlihatkan perjalanan Ki Hadjar Dewantara dan Nyi Hadjar Dewantara di Belanda. Foto-foto ini menjadi bukti pengalaman mereka di luar negeri yang memperkaya wawasan dan pemahaman Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan serta perjuangan politiknya dalam menentang kolonialisme.

Salah satu koleksi paling bersejarah di ruangan ini adalah paspor dan akta mengajar Ki Hadjar Dewantara, yang dalam bahasa Belanda disebut Akte Van Bekwaamheid. Akta ini merupakan bukti pengakuan atas keahliannya di bidang pendidikan, yang diperoleh saat beliau berada di Belanda. Sertifikat tersebut menunjukkan bahwa Ki Hadjar Dewantara telah memenuhi standar akademik yang berlaku pada masa kolonial untuk menjadi seorang pendidik profesional. Dalam ruang 3 ini juga terdapat monumen peresmian Museum Dewantara Kirti Griya yang dilakukan oleh Nyi Hadjar Dewantara pada 2 Mei 1970, bertepatan dengan tanggal 25 Sapar 1902 dalam kalender Jawa. Monumen ini menjadi simbol penghormatan dan dedikasi terhadap perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam dunia pendidikan Indonesia. Selain itu, terdapat koleksi seperangkat meja dan kursi yang dahulu digunakan dalam keseharian Ki Hadjar Dewantara, lengkap dengan sebuah telepon rumah produksi pabrik Keloog. Keberadaan telepon ini menggambarkan bagaimana komunikasi menjadi bagian penting dalam peran beliau sebagai pendidik dan pemikir. Ada pula telepon engkol asli tahun 1970 yang kini difungsikan sebagai alat peraga bagi para pengunjung, memungkinkan mereka merasakan bagaimana teknologi komunikasi pada masa itu bekerja.

Gambar 7.

Monumen Peresmian Museum

Dewantara Kirti Griya

Sumber :

Dokumen Pribadi

Gambar 8.

Seperangkat Meja dan Kursi Sumber : Dokumen Pribadi

(10)

Gambar 9.

Telepon Rumah Produksi Pabrik Keloog

Sumber :

Dokumen Pribadi

Gambar 10. Paspor dan Akta Mengajar Ki Hadjar Dewantara

Sumber : Dokumen Pribadi

4) Ruang 4, Ruang Kerja Ki Hadjar Dewantara

Ruangan ini menampilkan tema Ki Hadjar Dewantara sebagai Pahlawan Nasional dan menunjukkan kiprah beliau tidak hanya sebagai tokoh pendidikan, tetapi juga pemimpin dalam seni dan budaya. Koleksinya mencakup piano asli milik Ki Hadjar Dewantara yang menunjukkan sisi lain dari kehidupannya yang berperan dalam perkembangan awal dunia music di Indonesia pada abad ke-20. Ki Hadjar menciptakan metode dan tangga nada Sari Swara yang kemudian diterbitkan dalam buku yang berjudul “Serat Sari Swara” pada tahun 1930.

Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya turut dipamerkan, seperti Bintang Mahaputra Adipurna pada tahun 1960 dan penghargaan Pahlawan Revolusi Nasional pada tanggal 28 November 1959 berkat kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya itu, gelar Doctor Honoris Causa yang diterimanya dari institusi akademik menunjukkan bagaimana pemikiran dan gagasannya diakui secara luas. Salah satu koleksi yang paling berharga dalam ruangan ini adalah sebuah surat dari Presiden Soekarno yang berisi permintaan agar Ki Hadjar Dewantara bersedia menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia yang pertama. Surat ini menjadi bukti nyata bahwa perjuangannya dalam dunia pendidikan telah mendapatkan pengakuan dari negara.

Selain itu juga terdapat koleksi buku pribadi Ki Hadjar Dewantara, yang sebagian besar merupakan sumber referensi dan inspirasi dalam pengembangan konsep pendidikan yang ia terapkan di Taman Siswa. Alat-alat kerja yang pernah digunakannya pun turut dipajang yang memberikan gambaran bagaimana ia menuangkan gagasan- gagasan besar dalam membangun sistem pendidikan nasional yang berpihak kepada rakyat.

(11)

Gambar 11. Ruang Kerja Ki Hadjar Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 12.

Piano Asli Milik Ki Hadjar Dewantara Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 13.

Koleksi Buku Ki Hadjar Dewantara Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 14. Penghargaan Bintang Mahaputra Adipurna dan Pahlawan

Revolusi Nasional Sumber : Dokumen Pribadi 5) Ruang 5, Kamar Tidur Ki dan Nyi Hadjar Dewantara

Ruangan kelima ini mengangkat tema mengenai Tamansiswa dan Perjuangan Hak Perempuan. Di dalamnya terdapat berbagai koleksi yang berkaitan dengan kehidupan pribadi Nyi Hadjar Dewantara, seperti tempat tidur, pakaian, meja rias yang menyimpan buku catatan, kacamata, bolpoin, serta dokumen yang mencatat kiprah beliau dalam Kongres Persatuan Perempuan Kedua di Surabaya. Selain itu, terdapat juga foto-foto keluarga Ki dan Nyi Hadjar Dewantara serta lukisan foto Nyi Hadjar Dewantara.

Ruangan ini menyoroti peran penting Nyi Hadjar Dewantara dalam pengembangan Tamansiswa, terutama dalam pendirian sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar yang berbasis pendidikan kebangsaan. Saat Ki Hadjar Dewantara diasingkan ke Belanda, ia mengajar dan mempelajari teori pendidikan Fröbel tentang taman kanak-kanak. Sepulangnya, ia mendirikan Sekolah Taman Kanak-Kanak (Taman Lare/Indria) dan Sekolah Dasar (Taman Muda) di Tamansiswa. Setelah Ki Hadjar wafat

(12)

pada 1959, Nyi Hadjar melanjutkan perjuangan sebagai Pemimpin Umum Tamansiswa dan Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Tamansiswa menjadi pionir dalam membuka akses pendidikan bagi perempuan dan menyetarakan posisi guru perempuan dengan laki-laki. Pada 1922, ia mendirikan Wanita Tamansiswa (Wanitasi) untuk meningkatkan peran perempuan dalam pendidikan.

Selain itu, Wanita Tamansiswa turut memperjuangkan hak perempuan secara nasional, termasuk berperan dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 1928, yang menjadi awal gerakan perempuan di Indonesia.

Gambar 15. Tempat Tidur Nyi Hadjar

Dewantara Sumber : Dokumen

Pribadi

Gambar 16. Pakaian Nyi Hadjar Dewantara

Sumber : Dokumen Pribadi Gambar 17. Meja Rias Nyi Hadjar

Dewantara Sumber : Dokumen

Pribadi

6) Ruang 6, Kamar Tidur Putri

Dengan tema Pendidikan Melalui Seni dan Budaya, ruangan ini menampilkan tempat tidur putri Ki Hadjar Dewantara, Ni Niken Wandansari Sutapi Asti, serta berbagai koleksi yang mencerminkan peran Tamansiswa dalam pengembangan seni dan budaya di Indonesia. Di antara koleksi tersebut terdapat lukisan karya siswa Tamansiswa, foto-foto kegiatan siswa, serta gamelan pertama milik Tamansiswa yang dibuat sekitar tahun 1926 dan digunakan untuk aktivitas karawitan di sekolah.

Ki Hadjar Dewantara adalah pelopor dalam mengaplikasikan seni dan budaya ke dalam pendidikan di Indonesia. Baginya, kesenian bukan sekadar hiburan, tetapi juga alat pendidikan yang mampu membentuk jiwa anak agar berkembang ke arah

(13)

keindahan, keluhuran, dan kehalusan budi. Hal ini sejalan dengan filosofi pendidikan Tamansiswa yang menekankan bahwa seni memiliki peran penting dalam membangun manusia yang beradab dan berbudaya.

Salah satu bentuk seni yang ditekankan dalam pendidikan Tamansiswa adalah d olanan anak atau permainan tradisional. Ki Hadjar berpendapat bahwa dolanan anak merupakan ekspresi alami dari proses belajar yang selaras dengan budaya daerah masing-masing. Selain itu, Tamansiswa juga memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengekspresikan diri secara kreatif melalui musik, seni rupa, dan tari. Dengan demikian, Tamansiswa berkontribusi signifikan terhadap perkembangan seni rupa modern di Indonesia.

Gambar 18. Kamar Tidur Putri Ki Hadjar Dewantara, Ni Niken Wandansari Sutapi Asti Sumber : Dokumen Pribadi

Selain enam ruang pameran utama, museum Dewantara Kirti Griya juga memiliki perpustakaan yang menyimpan koleksi buku-buku pribadi Ki Hadjar Dewantara serta berbagai literatur terkait pendidikan, sastra, budaya, politik, dan pemikiran beliau dalam konsep ketamansiswaan. Beberapa dokumen bersejarah, termasuk artikel dan pidato Ki Hadjar Dewantara, juga tersimpan di sini, memberikan wawasan mendalam bagi pengunjung yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang gagasannya. Tentunya perpustakaan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan arsip, tetapi juga sebagai pusat studi bagi peneliti, akademisi, dan pelajar yang ingin mendalami sejarah pendidikan nasional.

Daya Tarik Museum Dewantara Kirti Griya

Museum Dewantara Kirti Griya memiliki daya tarik kuat bagi siapa saja yang ingin memahami sejarah pendidikan di Indonesia, khususnya kiprah Ki Hadjar Dewantara sebagai pelopor pendidikan nasional. Museum ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan

(14)

benda bersejarah, tetapi juga sebagai sarana edukatif yang merepresentasikan perjuangan dan pemikirannya dalam membangun sistem pendidikan berbasis budaya bangsa.

Saat memasuki museum, pengunjung disambut dengan berbagai koleksi autentik yang menggambarkan perjalanan hidup Ki Hadjar Dewantara, mulai dari perabot rumah tangga, manuskrip tulisan tangan, foto dokumentasi, buku, majalah, hingga arsip pendidikan yang berisi gagasannya tentang pendidikan nasional. Koleksi ini mencerminkan semangat intelektual dan dedikasi beliau dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu daya tarik utama adalah ruang-ruang museum yang dipertahankan dalam kondisi aslinya, memberikan kesan seolah-olah pengunjung menyaksikan langsung keseharian Ki Hadjar Dewantara sebagai pemikir, pendidik, dan pemimpin.

Selain koleksi bersejarah, museum ini memiliki atmosfer khas karena berada di kompleks Tamansiswa, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Keberadaannya di lingkungan ini semakin memperkuat nilai-nilai pendidikan yang diwariskannya, terutama dalam menekankan pentingnya kebebasan berpikir dan peran aktif dalam mencerdaskan bangsa. Melalui berbagai koleksi dan nuansa historisnya, Museum Dewantara Kirti Griya bukan hanya tempat mengenang sejarah, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda dalam memahami dan melanjutkan perjuangan pendidikan yang berkarakter dan berakar pada budaya bangsa.

SIMPULAN

Museum Dewantara Kirti Griya merupakan situs bersejarah yang memiliki peran penting dalam dunia pendidikan Indonesia. Museum ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelestarian benda-benda bersejarah milik Ki Hadjar Dewantara, tetapi juga sebagai pusat edukasi yang mendokumentasikan perjuangannya dalam dunia pendidikan dan kebangsaan.

Koleksi museum yang beragam, mulai dari naskah, surat, buku, foto, hingga barang pribadi yang memberikan gambaran komprehensif tentang perjalanan hidup serta pemikiran beliau.

Sejak diresmikan pada 2 Mei 1970, museum ini terus berkembang menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda dalam memahami nilai-nilai pendidikan dan perjuangan nasional.

Pengakuan sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional semakin menegaskan pentingnya museum ini dalam menjaga warisan sejarah bangsa. Keberadaannya bukan hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Hadjar Dewantara, tetapi juga sebagai upaya untuk meneruskan semangat kebangsaan dan pendidikan yang telah beliau tanamkan.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Asmara, D. (2019). Peran Museum dalam pembelajaran sejarah. Kaganga: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Riset Sosial-Humaniora, 2(1), 10-20.

Matitaputy, J. (2007). Pentingnya museum bagi pelestarian warisan budaya dan pendidikan dalam pembangunan. Kapata Arkeologi, 38-46.

Museum Dewantara Kirti Griya. (2025). Observasi langsung di Museum Dewantara Kirti Griya. Yogyakarta.

Noviani, Y., Rajab, R. M., & Hashifah, A. N. (2017, May). Pendidikan humanistik Ki Hadjar Dewantara dalam konteks pendidikan kontemporer di Indonesia. In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan FKIP (Vol. 1, No. 2).

Risty, A. A., Musadad, A. A., & Purwanta, H. (2023). Museum Dewantara Kirti Griya sebagai objek wisata dan sumber belajar sejarah. Candi: Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah, 24(2), 1-10.

Tamansiswa Pusat. (2023). Museum Dewantara Kirti Griya. Diakses dari https://tamansiswapusat.com/museum.html

Referensi

Dokumen terkait