• Tidak ada hasil yang ditemukan

DISERTASI Oleh Nur Syarifuddin NIM. 21703011015

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "DISERTASI Oleh Nur Syarifuddin NIM. 21703011015"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan yaitu: Bagaimana proses dan konstruksi budaya pangan pada masyarakat Bawean Telukjatidawang Tambak? Bagaimana dialektika nilai-nilai pendidikan Islam multikultural dalam pembentukan budaya pangan masyarakat Bawean di desa Telukjatidawang?. Adapun nilai pendidikan Islam multikultural yang ada pada food culture yaitu; nilai inklusif, ta'aruf (membangun silaturahmi), kerukunan, demokrasi, toleransi, kebersamaan, moderasi, gotong royong dan juga humanisme.

Dalam tradisi Polangar, yang bagi masyarakat Bawean Telukjatidawang dipahami sebagai kegiatan keluarga besar kedua mempelai untuk mengunjungi keluarga mempelai pria. Hasil observasi sementara, fenomena budaya makanan masyarakat Bawean Telukjatidawang telah menemukan wujudnya sendiri dalam dinamika kehidupan masyarakat. Dalam upacara makan tersebut, nilai-nilai pendidikan Islam multikultural dimasukkan ke dalam tradisi bernuansa lokal guna membentuk model tradisi kebinekaan yang unik.

Islam dijadikan sebagai bagian dari unit sosial untuk memperkuat identitas keberagamaan masyarakat Bawean Telukjatidawang (Ob. Proses dialektika nilai-nilai Islam berlangsung dinamis sehingga menemukan tempatnya dalam kesinambungan budaya makanan masyarakat Bawean Telukjatidawang masyarakat, dan melalui proses dealictics yang berjalan secara simultan. Fenomena budaya perkawinan (Panganten) pada masyarakat Bawean Telukjatidawang sebagaimana diuraikan di atas merupakan langkah awal untuk melihat lebih jauh dan komprehensif pada konstruk tersebut.

Dialektika Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Membangun Budaya Pangan Masyarakat Bawean Telukjatidawang Tambak Gresik Jawa Timur.

Fokus Penelitian

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Penegasan Istilah

Nilai adalah keyakinan yang melekat yang menjadi acuan perilaku atau tujuan akhir dari keberadaan, yang merupakan preferensi terhadap konsep segala sesuatu yang dianggap lebih baik secara pribadi dan sosial. Dalam konteks penelitian ini dibahas nilai-nilai pendidikan Islam multikultural yaitu; nilai-nilai inklusi, demokrasi, kemanusiaan, koneksi, persatuan, kesetaraan, keadilan, perdamaian, saling pengakuan, penerimaan dan penghormatan terhadap keanekaragaman budaya. Dialektika adalah proses dialektika antara satu hal dengan hal lain yang hasilnya berupa sistem nilai yang menjadi acuan bersama melalui proses adaptasi, penyerapan, pengenalan dan penanaman secara simultan.

Yang dimaksud dalam kajian ini dengan dialektika, yaitu dialektika nilai-nilai pendidikan Islam Multikultural dalam konstruksi budaya pangan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat dan segala kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat, yang merupakan produk masyarakat dan juga akan menjadi milik masyarakat. Panganten merupakan istilah dalam masyarakat Bawean terkait tradisi pernikahan, yang dalam penelitian ini adalah masyarakat Bawean Telukjatidawang Tambak Gresik Jawa Timur.

Masyarakat adalah sekelompok orang yang tinggal di suatu wilayah yang memiliki norma dan aturan bersama yang mengacu pada sistem nilai yang disepakati bersama. Dalam penelitian ini masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat Bawean di Desa Telukjatidawang Tambak Gresik Jawa Timur. Dengan demikian, tujuan dari judul penelitian “Dialektika nilai-nilai pendidikan Islam multikultural dalam konstruksi budaya Panganten masyarakat Bawean Telukjatidawang Tambak Gresik Jawa Timur” adalah proses dialogis nilai-nilai pendidikan Islam multikultural dalam konstruksi pangan. budaya yang menghasilkan sistem nilai yang menjadi acuan perilaku bersama masyarakat Bawean Telukjatidawang yang berwatak inklusif dan harmonis.

PENUTUP

Implikasi Hasil Penelitian Implikasi Teoritis

Pada tataran konseptual, ia berangkat dari teori konstruksi sosial Berger, yang menghayati masyarakat dalam dimensi dan realitas objektif, yang dikonstruksi melalui momen eksternalisasi dan objektifikasi, serta dimensi subjektif. Dimana hasil penelitian ini menjadikan tiga proses dialektika nilai yang saling terkait sebagai konsep penyelenggaraan pendidikan di masyarakat sebagai salah satu dari tiga pusat pendidikan. Dialektika nilai pendidikan Islam multikultural dalam membentuk budaya pangan masyarakat Bawean Telukjatidawang bersifat universal dan sosial berpijak pada keberadaan Nabi Muhammad SAW.

Secara lebih spesifik, penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat bermanfaat dalam mengembangkan wawasan dan pengetahuan dalam pendidikan Islam multikultural.

Rekomendasi

Diperlukan penelitian lebih lanjut tentang bagaimana pengaruh perbedaan suku bangsa di Bawean secara umum membentuk pola keragaman masyarakat yang khas. Lingkungan sosial dan hubungan yang berubah, letak geografis, elit organisasi, etnis juga secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi pola keragaman penduduk desa Telukjatidawang dan desa Bawean pada umumnya yang sebenarnya merupakan kepulauan, tampaknya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Perlu kajian lebih lanjut mengenai masyarakat Bawean pada umumnya dan desa Telukjatidawang pada khususnya yang kebetulan merupakan pendatang dan multikultural, bagaimana mereka dapat hidup bersama dalam momen budaya lokal.

Perlu adanya kajian lebih lanjut untuk mendalami budaya makanan masyarakat Pulau Bawean secara keseluruhan, yang merupakan masyarakat migrasi dan multikultur dengan latar belakang budaya dan etnis yang berbeda, bagaimana membentuk komunitas budaya dan etnis yang memiliki ciri khas tersendiri. Budaya makan masyarakat Telukjatidawang sebagai produk budaya lokal sudah selayaknya dilestarikan sebagai ibadah dan media sosial yang memiliki nilai teologis, sosiologis, antropologis, dan historis.

DAFTAR PUSTAKA

Bakri, Maskuri dan Werdiningsih, Diyah, Nilai Karakter Berbasis Pesantren, Jakarta; Nirmana Media, 2017. ed), Metode Penelitian Kualitatif: Pertimbangan Teoritis dan Praktis, Malang: LP UNISMA Malang, 2013. Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Efektifitas Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Bandung: PT Remaja Rosdakarya20. Nilai-nilai budaya lokal sebagai landasan pendidikan di lereng Gunung Merapi; Kajian interioritas nilai budaya Jawa pada masyarakat muslim di Dusun Tutup Ngisor, Kec.

Saputra, Mundzir, Pendidikan Multikultural Islam: Refleksi Pendidikan Agama Islam di Indonesia, Jakarta: al-Ghazali Center, 2008. Sulalah, Pendidikan Multikultur¸ Didaktik Universalitas Nilai-Nilai Kebangsaan Malang: UIN Maliki Press, 2012. ed. ), Pendidikan multikultural dan revitalisasi hukum adat, dalam perspektif sejarah, (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Deputi Bidang Sejarah dan Purbakala, 2005). Yaqin, M.Ainul, Multicultural Education: Intercultural Understanding for Democracy and Justice, First Cet., Yogyakarta: Nuansa Aksara, 2005.

Yunus, Mahmud, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penerjemah dan Juru Bahasa Al Quran), cet. Islam dan tradisi lokal; Kajian Konstruksi Upacara Molod Masyarakat Bawean, (Desertasi Program Studi Islam UINSA Surabaya, 2019). Kajian Deskriptif Nilai Multikultural dalam Pendidikan di Pesantren Modern Assalaam Jurnal Islam Pesantren, Volume I, Nomor 1, Januari-Juni 2015.

Arifin, Zainal, Pendidikan Multikultural-Agama untuk Mewujudkan Karakter Mahasiswa Humanis-Agama, dalam Jurnal Pendidikan Islam Jilid I, Nomor 1, Juni 2012.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Meanwhile, in the data construction (02), the verb tatonggo turns into a causative verb, after being marked by proclitic a- (the proclitic type for the pronoun au 'saya', it shows

Hasil pengujian yang dilakukan pada gambar 3, menghasilkan bahwa pada jarak 1 meter, sistem dapat mendeteksi rokok dengan tingkat akurasi deteksi tertinggi yaitu