Disiapkan untuk memenuhi kebutuhan referensi mahasiswa IAIN Parepare pada khususnya dan seluruh kegiatan akademik pada umumnya. Rektor IAIN Parepare atas penilaiannya terhadap peningkatan kualifikasi tenaga pengajar di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTAI) melalui program bantuan penerbitan buku ajar. Seluruh dekan IAIN Parepare mengarahkan para dosennya untuk selalu meningkatkan kualitas dosen di bidang publikasi ilmiah.
Akhlak yang baik selalu menjadikan seseorang aman, tenteram, dan melindungi manusia dari perbuatan tercela. Pembekalannya tidak hanya dengan uang, ilmu pengetahuan dan teknologi saja, namun harus dibarengi dengan penanganan di bidang akhlak yang mulia. Akhlak yang baik hanya akan lahir dari jiwa yang bersih begitu pula sebaliknya.
Sketsa Biografi al-Gazali
Ayah Al-Gazali, yang namanya Muhammad (sama dengan al-Gazali sendiri), dikenali sebagai seorang yang soleh. Bapanya yang meninggal dunia ketika al-Ghazali masih kecil dikatakan amat menitikberatkan pendidikan anak-anaknya. Perincian usaha al-Ghazali mencari ilmu yang memberi kepastian diceritakan dalam autobiografinya, al-Munqiz min Al-Dhalal.
Sejak masa al-Ghazali, muncul beberapa penafsiran mengenai alasan al-Ghazali meninggalkan Bagdad. Sedangkan para penulis modern berusaha mengabaikan pernyataan-pernyataan Al-Ghazali sendiri dan meragukan kebenaran pernyataan-pernyataan dalam otobiografinya.
Dinamika Intelektual Al-Gazali
Oleh karena itu al-Ghazali berkesimpulan bahwa ia harus memulainya dari ilmu yang ia yakini kebenarannya.59. Para ahli pemikiran yang mengkaji pandangan-pandangannya, al-Gazali mengalami keragu-raguan (yang pada hakikatnya adalah pergulatan gejolak jiwa dan pikirannya) dalam proses pencarian kebenaran hakiki yang sesuai dengan pandangan dan keyakinannya. Al-Ghazali pada awalnya mempelajari ilmu kalam, sehingga dari hasil bacaannya ia menyimpulkan bahwa ilmu kalam tidak banyak manfaatnya.
61 Marhaeni Saleh, Konsep Iman dan Kufur Menurut al-Ghazali dan Ibnu Rusyd (Cent. I; Makassar: Alauddin University Press, 2011), hal. Al-Ghazali akhirnya menemukan hakikat kebenaran dalam tasawuf, menolak kekuatan akal untuk dijadikan alat mencari hikmah dan sumber pemikiran. Selama ini banyak orang memahami Ghazali yang menganggap zauq hanya sebagai satu-satunya instrumen untuk memperoleh ilmu dan melatih penalaran rasional.
Akhirnya pengembaraan intelektual al-Ghazali berakhir pada wilayah tasawuf, dan ia meyakini bahwa al-zauk (intuisi) lebih tinggi dan dapat diandalkan dibandingkan akal untuk menangkap ilmu yang dapat diyakini kebenarannya. Dalam karya-karyanya, al-Ghazali banyak dipengaruhi oleh para filosof Islam terdahulu, khususnya Ibnu Sina, al-Farabi dan Ibnu Maskawaih. Hakikat kebahagiaan menurut Ghazali juga adalah tercapainya seseorang pada tingkat kesempurnaan tertinggi, yaitu ilmu tentang hakikat segala sesuatu.
Al-Ghazali nampaknya hanya keberatan dengan keserakahan akal dan indra yang cenderung melampaui batas zona operasinya, yakni tataran rasional empiris.
Setting Sosial Politik Pada Masa Al-Gazali
Dengan demikian, al-Gazali tidak menolak akal atau mengingkari peran indra, karena al-Gazali tetap mengakui kebenaran matematika, matematika, logika dan kedokteran, serta ilmu-ilmu lainnya. Al-Gazali tidak lahir dari kekosongan budaya, melainkan mengkristal dari proses pergulatan dengan ide-ide yang berkembang saat itu. Permasalahan yang dihadapi Al-Gazali saat itu sangat kompleks, mulai dari perselisihan antar ulama, gaya hidup materialistis, gangguan stabilitas keamanan, perebutan kekuasaan, pembunuhan terhadap penguasa dan tokoh.
Dinasti Seljuk meraih kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Alp Arslan M) dan Sultan Malik Syah M), dengan wazirnya yang terkenal. Pada masa al-Gazali, disintegrasi tidak hanya terjadi di ranah politik, namun juga di ranah sosial keagamaan. Saat itu, umat Islam terpecah belah dalam berbagai gesekan yang saling bertentangan akibat kontak umat Islam dengan tradisi budaya Yunani dan lainnya.
Konflik sosial agama yang muncul di kalangan umat Islam pada masa al-Ghazali bermula dari adanya berbagai pengaruh budaya non-Islam yang bibitnya sudah ada beberapa abad sebelumnya, yang kemudian mengkristal dalam bentuk aliran dan paham keagamaan, seperti pada aspek-aspek tertentu saling bertentangan.72. Tidak dapat dipungkiri bahwa saling ketergantungan antara penguasa dan ulama pada masa itu juga membawa dampak positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Muktazilah, selain menyerap filsafat Yunani, juga merupakan aliran yang secara historis banyak menimbulkan kesulitan bagi kelompok Ahlussunnah, baik pada masa Dinasti Buwaihi maupun pada masa pemerintahan al-Kunduri (Wazir Sultan Togrel Bek).
Dalam situasi dan masa seperti inilah al-Ghazali lahir dan berkembang menjadi seorang pemikir besar dalam sejarah.
Karya Intelektual Al-Gazali
Hal ini menunjukkan bahwa al-Ghazali adalah seorang filosof muslim yang metode berpikirnya patut diikuti oleh para pemikir muslim lainnya. Metode Al-Ghazali tidak kalah pentingnya dengan isi karyanya, bahkan berpengaruh dan metodenya dapat dikatakan analitis kritis. Al-Ghazali juga mengatakan bahwa ia menemukan seorang ulama yang berusaha sekuat tenaga mengingkari kehadiran filsafat.
Sedangkan dalam bidang filsafat, al-Ghazali memberikan tazkirah, peringatan kepada para pemikir Islam tersebut. Melalui lembaga pendidikan Madrasah Nidzamiyah, pemikiran teologis al-Ghazali yang bercirikan Asy’ari semakin menemukan akar yang kokoh. Para penulis sejarah belum sepakat secara pasti mengenai jumlah kitab yang ditulis Al-Ghazali.
Kajian terhadap filsafat Al-Gazali dapat digambarkan dari masa hidup Al-Gazali yang pada saat itu meliputi berbagai aliran agama dan filsafat. Al-Gazali pertama kali berpendapat bahwa ilmu adalah sesuatu yang ditangkap oleh panca indera. Akhirnya al-Gazali mengalami puncak keraguan, karena tidak dapat menemukan sumber ilmu yang terpercaya.
Bagi al-Ghazali dia al-jauk. intuisi) lebih tinggi dan lebih dapat diandalkan daripada akal untuk menangkap pengetahuan yang benar-benar diyakini kebenarannya.
Teori Akhlak Sebelum Al-Gazali
Ilmu akhlak yang mengajarkan hubungan antar manusia dan menetapkan tujuan akhir atas segala usaha dan pekerjaannya dari waktu ke waktu. Cara ini ditempuh karena secara historis perkembangan adat istiadat masyarakat, termasuk agama dan akhlak, pada masyarakat di luar Islam sudah ada lebih dulu dibandingkan ajaran akhlak yang dibawa Nabi Muhammad SAW yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu moral yang mereka kembangkan lebih bersifat filosofis, yaitu filsafat yang didasarkan pada kajian mendalam terhadap potensi psikologis yang terkandung dalam diri manusia.
Potensi psikologis yang bersifat antropologis-sentris mengisyaratkan bahwa permasalahan moral merupakan sesuatu yang wajar, yang akan ada seiring dengan keberadaan manusia itu sendiri, dan hasil yang diperoleh adalah ilmu moralitas yang berdasarkan logika murni. Namun, terlepas dari sekolah mana yang Anda ikuti, kedua sekolah tersebut berbicara tentang akhlak yang mulia. Agama ini telah berhasil mempengaruhi pemikiran manusia dan menyampaikan ajaran moral dasar yang disebutkan dalam Taurat dan Alkitab.
Tuhanlah yang menentukan dan membentuk standar moral yang harus dijaga dan dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, ajaran moral yang lahir di Eropa pada Abad Pertengahan merupakan ajaran moral yang dibangun dari perpaduan antara ajaran Yunani dan ajaran Kristen. Corak ajaran akhlak yang merupakan gabungan antara pemikiran filsafat Yunani dan ajaran agama ini juga terdapat dalam ajaran akhlak yang terdapat dalam Islam.
Ada yang memperbaharui makna lama, ada yang merevolusikan pemikiran secara radikal, tetapi tidak sedikit yang mempertahankan etika teologi ajaran moral berdasarkan Tuhan.
Konsepsi Akhlak dalam Islam
Amat jelas bahawa dalam al-Quran terdapat banyak ayat-ayat yang mengandungi prinsip-prinsip akidah agama, akhlak mulia dan prinsip-prinsip perbuatan. Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan bahawa al-Quran sangat mengetahui masalah pembinaan akhlak, sekaligus menunjukkan segala macam perbuatan yang merangkumi akhlak yang mulia. Selain mengandungi perintah al-Quran, ia juga mengandungi larangan, seperti larangan syirik (mensyirikkan Allah dengan selain-Nya), derhaka kepada kedua ibu bapa, mencuri, berzina, minum (memabukkan), berjudi, bersumpah palsu. , mengurangkan skala, dsb.
Fokus Islam pada pengembangan moral dapat dijelaskan lebih jauh dengan menunjukkan universalitas Al-Qur'an mengenai jalan yang benar. Hasil penelitian Thabathabi terhadap isi Al-Qur'an berkenaan dengan jalan yang akan ditempuh secara singkat adalah sebagai berikut. Kisah-kisah atau sejarah dalam Al-Quran juga menjadi teladan bagi orang-orang yang membaca Al-Quran.
Dengan contoh-contoh tersebut, jelas bahwa Al-Qur’an memberikan perhatian yang besar terhadap pengembangan akhlak yang mulia. Namun dalam konteks pembentukan akhlak tersebut, Islam juga menghargai pendapat akal sehat yang sesuai dengan Al-Qur'an dan al-Sunnah. Ajaran akhlak yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah bersifat mutlak, universal dan mutlak, artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi dan akan bertahan sepanjang masa.
Namun dalam menjelaskan ajaran Al-Qur’an yang mutlak, mutlak dan universal, diperlukan akal manusia.
Esensi Akhlak menurut Al-Gazali
Pencapaian tujuan tersebut dapat dicapai melalui perilaku baik antar manusia, berdasarkan tuntunan agama, serta melalui usaha batin untuk mencapai keunggulan spiritual.111. Proses mencapai semangat kerja yang baik memerlukan beberapa keuntungan yaitu; kekuatan pengetahuan, kekuatan amarah/emosi, kekuatan nafsu, dan kekuatan keseimbangan 113. Setiap kekuatan memerlukan pengendalian intelektual dalam pelaksanaannya. Pertimbangan yang masuk akal atau penguasaan nalar yang diimbangi dengan spiritualitas yang murni akan melahirkan akhlak yang baik.
Al-Gazali menghubungkan akhlak dan ilmu pengetahuan seperti dalam uraiannya dalam kitab Ihya' 'Ulum al-Din. Selain titik keseimbangan, al-Gazali memasukkan beberapa komponen, seperti kebijaksanaan, kesederhanaan, keberanian, kedermawanan dan keadilan. Mengenai penggolongan akhlak yang baik dan buruk, al-Gazali tidak jauh berbeda dengan pemikiran para filosof terdahulu.
Beliau mengkategorikan akhlak secara umum kepada dua bahagian; akhlak yang baik (mahmudah) dan akhlak yang buruk (mazmumah). Ini berdasarkan prinsip al-Ghazali yang terbahagi kepada empat bahagian iaitu; ibadah, adab, akhlak yang menyelamatkan (munjiyyah) dan akhlak yang merosakkan (muhlikat). Penekanan al-Ghazali terhadap matlamat Ukraine ilmu tidak bermakna beliau mengabaikan dan memandang rendah disiplin ilmu duniawi yang diperlukan untuk mencapai faedah duniawi.
Begitu juga, semangat yang baik tidak akan tercipta melainkan usaha membina dan berulang kali dilakukan.
Pemikiran moral Al-Ghazali tidak dapat dipisahkan dari seluruh dimensi kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun dalam lingkup sosial. Oleh karena itu, pemikiran moral al-Ghazali menitikberatkan pada pencapaian kebahagiaan yang menjadi tujuan hidup manusia. Al-Gazali berpendapat bahwa akhlak merupakan sesuatu yang hakiki dan melekat pada jiwa sehingga dapat melahirkan perbuatan terpuji.
Pemikiran Al-Ghazali mengenai akhlak sangat penting untuk menempatkannya sebagai alat utama dalam menata kehidupan sosial masyarakat modern. Pentingnya pemikiran moral al-Ghazali tercermin dalam pandangannya tentang mahabbah, ridha, muraqabah, khauf dan raja, yang dapat diterapkan dalam kehidupan sosial masyarakat modern yang sedang terjangkit penyakit keterasingan (alienasi dari hakikat dasar). kemanusiaan). Oleh karena itu, pemikiran moral al-Ghazali perlu dikembangkan lebih lanjut guna menjustifikasi nilai-nilai Islam dalam menyikapi permasalahan masyarakat sesuai dengan perubahan kondisi zaman.
Gagasan universalitas norma etika menurut Ghazali dan Kant, antara Filsafat etika Islam menurut Al-Ghazali dan Kant.