Kumpulan Abstrak Disertasi
Semester Gasal 2009/2010
Pendidikan Bahasa Inggris (ING)
Professional Competence for Teachers of English in Indonesia: A Profile of an Exemplary Teacher
Mirjam Anugerahwati
Anugerahwati, Mirjam. 2009. Professional Competence for Teachers of English in Indonesia: A Profile of an Exemplary Teacher. Dissertation, English Education Program, School of Post Graduate Studies, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Ali Saukah, M.A., Ph.D, (II) Prof. Kasihani K.E.Suyanto, M.A., Ph.D, (III) Dr. Nur Mukminatien, M.Pd.
Abstract
In an era when English is greatly increasing in importance, outstanding English teachers are needed to help reach the goal of national education. But who are the outstanding English teachers? This study aims at finding out the professional competences of exemplary English teachers in high schools. The research problem is further elaborated into three questions: 1) what competences do the exemplary English teachers possess? 2) how do they get the competences? and 3) how did they get nominated as exemplary teachers?
This study uses the ethnographic design, in which data are collected by means of observations, which are supported by interviews and questionnaires. The questionnaires are distributed to teachers of other subject matters and the English teachers while the interviews are conducted with the Principals of the subjects, the students, and the teachers of other subject matters, as well as the exemplary teachers themselves. These other interviewees are then called informants, while the exemplary teachers are the subjects. The observations are done in the exemplary teachers’ classrooms and outside their classes to know their performance in teaching and the interaction with the students and other members of the school community.
This study is conducted in four sites: Malang city, Lawang (Malang Regency), Sidoarjo Regency, and Solok Regency, West Sumatra. The schools comprise of one SMA (SMA N 8 MALANG), and three SMPs (SMP N I SIDOARJO, SMP N 3 X KOTO SINGKARAK, SOLOK, and SMP N I LAWANG). The rationale for choosing the sites is that the English teachers from those places were nominated by participants in the researcher’s trainings and workshops, and they showed outstanding participation in all activities, helpfulness towards other participants, and outstanding achievement in the overall evaluation of the trainings/workshops.
Moreover, the schools where they teach provide a variety of contexts for the study; the Senior High School is in Malang city, one Junior High School is in a big, modern regency (Sidoarjo), another is in a small regency town with strict Moslem situations (Solok), and the last is in a small district in Malang Regency. As an ethnographic study, data are collected through numerous visits to the sites, where the researcher plays the role of a learner rather than an expert. The researcher gets involved in many activities in school, and observes the subjects in passive-participatory observations. Besides the four subjects, however, the researcher also collects supplementary data in the form of questionnaires, opinion poll and interviews with teachers outside of the four sites.
Findings from the study reveal that three of the four subjects do have the professional competences that make them exemplary teachers. They are nominated by the students, colleagues, and principals who state similar things about them. One nominated teacher is not, according to the researcher, quite exemplary. What is interesting is that in all the four sites, which have different situations and settings, informants have very similar views and expectations on what they call the characteristics of exemplary teachers. They correspond with the competence standards outlined by the Board for National Standards of Education (BSNP), only the standards yielded in this study focus more on the Secondary school EFL teachers as stated by the informants.
Another thing the three subjects have in common is the way they obtain their competences. They have all passed certification assessment, and they are all active in MGMP; therefore they know how important it is to develop professionalism. They try to improve and develop their professional competence by attending conferences and workshops for in-service training, and they are also invited to give trainings at other schools and sometimes at the provincial level. In short, they are professional teachers who are willing to share their skills, knowledge and expertise with others, and they are good people who make English fun to learn.Based on the conclusion of this study the researcher poses a theory of the profile of an exemplary English teacher, and what criteria should be used to assess her. An exemplary English teacher for High Schools in Indonesia should be one who, most of all, has outstanding personal competences. These competences will then lead her to other competences, i.e. the pedagogical, subject matter, and social competences. They should all go hand in hand and complement each other, but still the personal competence gets the biggest weight.
Key words: professional competence, exemplary, EFL teachers.
343
Professional Competence for Teachers of English in Indonesia: A Profile of an Exemplary Teacher
Mirjam Anugerahwati
Anugerahwati, Mirjam. 2009. Professional Competence for Teachers of English in Indonesia: A Profile of an Exemplary Teacher. Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Ali Saukah, M.A., Ph.D, (II) Prof. Kasihani K.E.
Suyanto, M.A., Ph.D, dan (III) Dr. Nur Mukminatien, M.Pd.
Abstrak
Pada saat bahasa Inggris mempunyai peran yang semakin penting seperti saat ini, diperlukan guru- guru bahasa Inggris yang amat bagus, yang dapat dikatakan ideal, melebihi rekan-rekan sejawatnya untuk dapat mencapai tujuan nasional pendidikan di Indonesia. Siapa sesungguhnya guru bahasa Inggris yang ideal tersebut? Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan kompetensi profesional yang dimiliki guru-guru Bahasa Inggris yang istimewa di sekolah menengah (SMP dan SMA). Masalah utama penelitian ini kemudian dielaborasi ke dalam tiga sub-masalah, yaitu: 1) kompetensi-kompetensi yang dimiliki guru-guru Bahasa Inggris yang istimewa di setiap sekolah yang diteliti, 2) cara para guru istimewa tersebut memperoleh kompetensi mereka, dan 3) cara para guru tersebut dinominasikan menjadi guru yang istimewa di sekolah mereka. Penelitian ini menggunakan desain etnografi, dan data dikumpulkan melalui observasi yang didukung oleh wawancara dan kuesioner. Kuesioner disebarkan pada guru-guru mata pelajaran lain, dan para guru Bahasa Inggris di setiap sekolah yang diteliti. Wawancara dilakukan dengan Kepala Sekolah, para guru mata pelajaran lain, siswa, dan guru-guru yang istimewa itu sendiri. Para guru Bahasa Inggris yang istimewa tersebut kemudian disebut sebagai subjek, sedangkan pihak-pihak lain yang diwawancara disebut sebagai informan. Observasi dilakukan di kelas dan juga di luar kelas para guru istimewa, untuk melihat performa mereka dalam mengajar, dan interaksi mereka dengan para siswa dan anggota masyarakat sekolah yang lain.
Penelitian ini dilaksanakan di empat lokal, yaitu Malang Kota, Lawang (Kabupaten Malang), Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sekolah yang digunakan sebagai tempat penelitian meliputi satu SMA (SMA N 8, Malang), dan tiga SMP (SMPN I Sidoarjo, SMP N I Lawang, dan SMP N 3 X Koto, Singkarak, Kabupaten Solok). Dasar pemilihan keempat lokal ini adalah informasi dan nominasi dari para informan yang mengenal guru-guru Bahasa Inggris di keempat sekolah tersebut. Para informan dan subjek adalah peserta di beberapa pelatihan Departemen Pendidikan Nasional di mana peneliti adalah salah satu instruktur. Sebagai peserta pelatihan, keempat guru subjek penelitan ini menunjukkan kinerja yang sangat menonjol dari segi partisipasi dalam semua kegiatan, kemauan menolong sesama peserta, dan prestasi yang sangat baik dalam semua evaluasi pelatihan. Selain itu, sekolah-sekolah tempat mereka mengajar memberikan variasi konteks bagi penelitian ini; SMA berada di Malang Kota, salah satu SMP berada di suatu kota kabupaten yang besar dan moderen (Sidoarjo), SMP yang lain berada di suatu kota kabupaten kecil dengan adat Muslim yang kuat (Solok), dan satu SMP lagi terletak di suatu kota kecamatan di kabupaten Malang (Lawang).
Sebagai sebuah studi etnografi, data bagi penelitian ini dikumpulkan melalui beberapa kunjungan ke lokal penelitian, di mana peneliti berperan sebagai pembelajar, dan bukan seorang pakar. Peneliti bergaul akrab dengan para informan dan mengobservasi para subjek dalam observasi partisipatori pasif. Di samping keempat subjek dalam penelitian ini, peneliti juga mengumpulkan data dalam bentuk jajak pendapat dan wawancara dengan guru-guru di luar keempat lokal penelitian.
Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tiga dari keempat subjek memang benar-benar memiliki kompetensi profesional yang membuat mereka layak disebut sebagai guru luar biasa/ istimewa.
Gelar tersebut mereka dapatkan melalui nominasi oleh para siswa, rekan sejawat, dan Kepala Sekolah, yang semua menyatakan hal-hal yang mirip. Namun demikian, satu dari keempat guru istimewa tersebut, menurut peneliti, kurang layak disebut sebagai guru istimewa. Yang menarik dalam hal ini adalah, di keempat lokal, yang masing-masingnya berada di konteks yang berbeda, para informan memiliki pandangan dan harapan yang sangat mirip tentang karakteristik guru Bahasa Inggris yang ideal. Pandangan-pandangan dan harapan tersebut sesuai dengan standar kompetensi guru yang dikemukakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan.
Bedanya, standar dan kriteria yang ditemukan dalam penelitian ini lebih berfokus pada kompetensi guru Bahasa Inggris di SMP/SMA, sebagaimana dikemukakan oleh para informan dan dirumuskan sendiri oleh peneliti.
Hal lain yang dimiliki oleh ketiga subjek adalah cara mereka memperoleh kompetensi mereka.
Mereka semua telah lolos sertifikasi guru, dan mereka aktif di dalam MGMP; dengan demikian mereka paham betapa pentingnya mengembangkan profesionalisme. Mereka berusaha meningkatkan kompetensi
profesional mereka melalui seminar, lokakarya, dan mereka juga sering diundang menjadi nara sumber dalam pelatihan di sekolah lain, dan bahkan terkadang dalam tingkat propinsi. Singkatnya, mereka adalah guru-guru profesional yang mau berbagi pengetahuan dan keterampilan mereka denag guru-guru lain. Mereka memperoleh kompetensi mereka melalui berbagai kegiatan in-service training, baik yang diselenggarakan Departemen Pendidikan Nasional mau pun atas prakarsa mereka sendiri.
Semua subjek dalam penelitian ini dinominasikan menjadi guru istimewa karena performa mereka, dedikasi, komitmen dan prestasi mereka dalam profesinya. Berdasarkan kesimpulan yang didapat melalui penelitian ini, peneliti kemudian mengemukakan sebuah teori tentang kompetensi-kompetensi apa saja yang perlu dikuasai oleh guru Bahasa Inggris di SMP/SMA, dan apa saja kriteria yang dapat digunakan untuk menilainya. Berdasarkan kriteria tersebut disusunlah suatu profil guru Bahasa Inggris yang ideal: seorang guru Bahasa Inggris ideal di SMP/SMA adalah seseorang yang, di atas segalanya, memiliki kompetensi kepribadian yang menonjol. Kompetensi ini nantinya akan mengarahkan dia menuju pencapaian kompetensi- kompetensi lain, yaitu kompetensi pedagogis, bidang studi, dan sosial. Keempat kompetensi tersebut harus berjalan seiring dan saling melengkapi, namun tetap, kompetensi kepribadian harus mendapat bobot yang terbesar.
Kata kunci: kompetensi profesional, profil, guru ideal.
The Translation of Company Websites from English into Indonesian Sugeng Hariyanto
Hariyanto, Sugeng. 2009. The Translation of Company Websites from English into Indonesian. Dissertation, Graduate Program in English Language Education. State University of Malang. Advisors: (I) Prof. M.
Adnan Latief, M.A., Ph.D., (II) Dr. Monica Djoehana D. Oka, M.A., A. Effendi Kadarisman, M.A., Ph.D.
Abstract
The current research was motivated by three factors: (a) the mixed responses to the website translation from English into Indonesian, (b) the lack of research on website translation, and (c) globalization and the development of Information Technology (IT). The study attempted to answer the questions: (a)
“What were the strategies adopted to translate websites?”, (b) “What was the general observable process to translate websites?”, and (c) “What were the knowledge and skills involved in the website translation?”
With a mixed research approach and methods, the researcher studied seven website translations and involved 45 website visitors and four translators. In the preliminary study, he assessed the quality of the websites translation using an assessment guide developed based on Dynamic Translation Model (DTM) and a website visitor questionnaire. The result showed that the web page translation was fairly acceptable.
From the analysis of translation strategies, it was found that to achieve word and phrase equivalence, the translators employed nine strategies, namely literal translation, borrowing (loan, calque, and naturalization), synonymy, paraphrasing, hyponymy, phrase structure change, distribution change, level shift, and other semantic changes. Collocation, fixed expressions, and idiomatic expressions were successfully translated using paraphrasing and similar fixed expression and idioms in TL. Ten translation strategies were also employed to achieve sentence level equivalence, namely: literal translation, free translation, paraphrasing, adaptation, cultural filtering, interpersonal change, illocutionary change, scheme change, sentence structure change (transposition) and combination. The number of sentential translation strategies employed was higher in websites with the contents about daily human experience, e.g. health, and lower with the website with highly technical information, e.g. heavy equipment. A further analysis also showed that the translators tried to maintain the thematic structure and cohesive devices as closely as possible with those of the original sentences.
The study on the process revealed three main phases: preparation, main process, and conclusion. In essence, this is similar to the model proposed by Nord (2005). However, instrumental skills were required throughout the process. Based on this, a model for electronic document translation process is proposed. The knowledge and skills involved in the process included translation knowledge, bilingual knowledge and skills, psycho-physiological skills, strategic knowledge and skills, and instrumental knowledge and skills. These all fit into PACTE’s (2005) classification of translation sub-competences.
The findings of this research contribute to Translation Studies theory and translation practice and translation teaching. For the Translation Studies theory, it shows how the newly proposed theory called DTM
can be used as a basis for translation quality assessment. Second, the proposed electronic translation process model enriches the theory on translation process. For translation practice, the identification of the skills becomes valuable input for translators so that they can improve their skills to translate electronic documents which they have not mastered. Therefore, it is suggested, especially the novice translators, that they train themselves with the skills so that they can participate in the website translation. Similarly, the skill identification is also a very useful input for translation syllabus designers and translation teachers. Therefore, it is suggested that they incorporate the skills into the syllabi and teaching so that they can produce graduates who are ready to respond to the current development in translation industry. In addition, it is also suggested that future researchers examine the electronic document translation process in many other situations to see whether the proposed electronic document translation model is valid or not. Finally, it is also suggested that future researchers study the relation between variability of sentential translation strategies and the text content so that the finding of this research related to that relation can be verified.
Key words: semantic equivalence, pragmatic equivalence, semiotic adaptation, translation strategy, observa- ble process, translation competence, translation teaching
Penerjemahan Situs Web Perusahaan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia Sugeng Hariyanto
Hariyanto, Sugeng. 2009. Penerjemahan Situs Web Perusahaan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.
Disertasi, Program Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris. Universitas Negeri Malang. Pembim- bing: (I) Prof. M. Adnan Latief, M.A., Ph.D., (II) Dr. Monica Djoehana D. Oka, M.A., A. Effendi Kadarisman, M.A., Ph.D.
Abstrak
Penelitian ini dilatari oleh tiga hal: (a) tanggapan yang beragam atas terjemahan beberapa situs web dari Bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, (b) globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, dan (c) masih sedikitnya riset di bidang penerjemahan situs web. Ada tiga pertanyaan yang diupayakan untuk dijawab, yaitu: (a) “Strategi apa yang dipakai untuk menerjemahkan situs web degan baik?”, (b) “Seperti apa proses untuk menerjemahkan situs web?”, and (c) “Pengetahuan dan keterampilan apa yang dilibatkan dalam penerjemahan situs web?”
Dengan ancangan dan metode penelitian campuran antara kualitatif dan kuantitatif, peneliti meneliti tujuh situs web dengan melibatkan empat penerjemah dan 45 pengunjung situs web. Di dalam studi pendahuluan, dia mengukur kualitas terjemahan delapan situs web yang memenuhi syarat dan hanya tujuh yang berkualitas baik dan menjadi sumber data dalam penelitian ini.
Dari analisis strategi penerjemahan untuk kata dan frasa, diperoleh fakta bahwa penerjemah menggunakan sembilan strategi, yaitu: terjemahan literal, penggunaan kata pinjaman, parafrase, sinonim, transposisi, pengubahan distribusi makna, pengubahan semantik jenis lain, pengubahan tingkat abstraksi, dan penggeseran unit makna. Sementara itu, kolokasi, ungkapan tetap dan ungkapan idiomatik dapat diterjemahkan dengan baik dengan menggunakan paraphrase and ungkapan tetap dan idiomatis yang bermakna sama di bahasa sasaran. Untuk mendapatkan padanan pada tingkat kalimat, penerjemah menggunakan sepuluh strategi juga, yaitu: terjemahan literal, parafrase, terjemahan bebas, adaptasi, penyaringan budaya, pengubahan interpersonal, pengubahan ilokusioner, pengubahan pola kalimat, transposisi (pengubahan struktur kalimat), dan kombinasi. Jumlah strategi yang digunakan dalam situs web yang berisi pengalaman manusia sehari-hari, misalnya kesehatan, lebih banyak daripada dalam situs web yang berisi informasi yang sangat teknis, misalnya alat-alat berat. Analisis lebih jauh menunjukkan bahwa para penerjemah berusaha mempertahankan struktur tematik dan penggunaan perangkat kohesif sedekat mungkin dengan struktur tematik dan perangkat kohesif kalimat asalnya.
Penelitian terhadap proses menyingkap fakta bahwa ada tiga tahap dalam proses penerjemahan situs web: persiapan, proses utama, dan penutupan. Secara garis besar proses ini sejalan dengan model Nord (2005), namun di sini keterampilan instrumental digunakan dari awal sampai akhir. Oleh karena itu, sebuah model untuk penerjemahan dokumen elektronik diusulkan. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam menerjemahkan situs web meliputi pengetahuan tentang penerjemahan, pengetahuan and keterampilan bilingual, pengetahuan dan keterampilan psiko-fisiologis, pengetahuan dan keterampilan strategis, dan pengetahuan dan keterampilan instrumental. Semua unsur ini sesuai dengan klasifikasi kompetensi penerjemahan yang diusulkan oleh PACTE (2005).
Temuan penelitian ini bermanfaat bagi teori Penerjemahan dan praktik serta pengajaran Penerjemahan. Bagi teori, penelitian ini menunjukkan bahwa teori DTM yang baru diusulkan dapat digunakan sebagai dasar untuk menilai kualitas terjemahan. Kedua, model proses penerjemahan dokumen elektronik yang diusulkan di sini memperkaya teori Penerjemahan, terutama dalam hal proses penerjemahan.
Bagi praktisi penerjemahan, identifikasi pengetahuan dan keterampilan untuk menerjemahkan situs web dapat digunakan sebagai tolok ukur keterampilan mereka sehingga mereka dapat meningkatkan keterampilan tersebut jika mereka belum menguasainya. Oleh karena ini disarankan agar mereka mempersenjatai diri dengan pengetahuan dan keterampilan penerjemahan situs web. Identifikasi pengetahuan dan keterampilan tersebut juga bermanfaat bagi perancang silabus dan pengajar mata kuliah Penerjemahan. Oleh karena itu, disarankan agar mereka memasukkan pengetahuan dan keterampilan tersebut ke dalam silabus dan pengajaran mereka sehingga mereka dapat mencetak lulusan yang dapat menjawab tantangan perkembangan mutakhir industri penerjemahan. Selanjutnya, disarankan agar peneliti berikutnya meneliti proses penerjemahan dokumen elektronik dengan latar dan situasi yang berbeda sehingga dapat dibuktikan apakah model proses penerjemahan yang diusulkan di sini valid atau tidak. Akhirnya, disarankan juga bahwa peneliti selanjutnya juga meneliti keterkaitan antara variabilitas strategi penerjemahan kalimat dengan kandungan informasi sebuah text, sehingga temuan penelitian ini yang terkait hal itu dapat diverifikasi.
Kata kunci: padanan semantik, padanan pragmatik, adaptasi semiotik, strategi penerjemahan, proses yang tampak, kompetensi menerjemahkan, mata kuliah penerjemahan
Genre Analysis of International Conference Paper Abstracts Djuwari
Djuwari. 2009. Genre Analysis of International Conference Paper Abstracts. Dissertation, Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (1) Prof. E. Sadtono, Ph.D., (2) Dr. Monica D.D., Oka, M.A., (3) A. Efendi Kadarisman, M.A., Ph.D.
Abstract
This study deals with a genre analysis of international conference paper abstracts practiced by the community discourse of South East Asian Association for Institutional Research (SEAAIR). The focus of analysis is not only on the moves as the previous studies have done, especially on abstracts, but also on the language functions, grammatical categories (linguistic elements), verbs of process function, modalities, and non-linguistic elements.
The study consists of two parts. The first is to describe the moves, the language function, the most dominant language function, and verbs of process function in the abstracts. The second is to explain how the linguistic elements (grammatical categories), three modalities (certain, probable, and possible), and the non- linguistic elements support the rhetorical and logical moves and the language functions operating in the abstracts.
As it is a genre analysis of international conference paper abstracts, the data were taken from the specific discourse community of international conference paper abstracts of SEAAIR conference. This organization has a deep concern with research on education. As such, all the abstracts analyzed are related to education. These writing products are considered to have been reviewed rigorously by the blind reviewers prior to recommendation for presentation and publication. Thus, the selection of the subjects was done by means of purposive sampling based on the stipulated criteria. The assumptions are as the following. First of all the abstracts were accepted or recommended because they had undergone blind review. Secondly, due to the recommendation and through blind review, they were presented and published in the proceedings. In addition, the discourse community was also taken into account as one of the criteria, e.g., genre of the abstracts of international conference organization with the focus on education. The subjects selected from three proceeding publications (2005, 2006, and 2007). For practicality, 45 abstracts were selected.
This study employed the model adopted from Samraj’s (2002), which was originally developed from Swales’ (1990). This model consists of five moves, e.g., Move 1 (situating the research), Move 2 (purpose), Move 3 (methods), Move 4 (results), and Move 5 (conclusion). For analyzing the language functions and the grammatical categories, the study used the model adapted from Hyland’s (1999) model of taxonomy of textual meta-discourse. This consists of both textual meta-discourse and interpersonal meta- discourse. For analyzing the verbs of process functions, the study used the model adopted from Hyland’s (2002). This instrument covers three types process function verbs: research (real-world) verbs (in statements
of findings and procedures), cognition acts, and discourse acts. For analyzing the modalities (certain, probable, and possible), the study employed the model adopted from Palmer’s (1987). Last of all, for analyzing the non-linguistic elements, the study uses the summary from some theories advocated by the previous proponents concerning the way of writing good quality abstracts (e.g., Tuckman, 976; Rathbone, 1985; Brinnegar and Skates, 1983; Swale, 1990; Samraj; 2002); Kilborn; 1998,and Hebert, 1990).
The study yiedls the following findings. First, at the macro textual level, it shows a specific manner of implementation of five moves, the number of sentences and words employed both of each abstract and move. Secondly, there are three language functions of textual meta-discourse (expressing semantic relation between phrases, clauses, and sentences, explicitly referring to discourse acts/ text stages, and helping readers grasp meanings of ideational materials) and two grammatical categories of interpersonal meta-discourse (withhold writer’s full commitment to statement and emphasize force of writer’s certainty in message).
Thirdly,the most dominant language function is expressing semantic relation between phrases, clauses, and sentences, explicitly refers to discourse acts/ text stages. Fourthly, there are some process function verbs such as real-world, cognition acts, and discourse acts. Fifthly, three grammatical categories of textual meta- discourse (logical connectors, frame markers, and code glosses), and two grammatical categories of interpersonal meta-discourse (hedges and emphatics) are expressed in a certain manner. Sixthly, the three modalities seem to be expressed in different manners, too. Last of all, it can be explained how nine non- linguistic elements support the abstracts writing.
Theoretically, this study contributes to a fuller understanding of research on genre of international conference paper abstracts, particularly written by the discourse community of SEAAIR. It provides more understanding of both linguistic elements and non-linguistic elements of the abstracts concerning genre studies on a discourse community. The model developed by Samraj (2002) shows that three textual spaces:
purpose of the research (Move 2), methods of the research (Move 3), and Move 4 (results) ) prove prominent or compulsory.
Pedagogically, the teaching of English for academic purposes (EAP) can benefit from the contribution in these findings. The strategy of writing abstracts depicted in the findings can also be utilized by the teachers for enhancing students’ ability to write so that they are much more acquainted with the convention of writing abstracts. Making use of logical connectors, frame markers, emphatics, as well as paying attention to using hedges in academic writings can also be a good strategy for teaching the students of English for Academic Purposes (EAP).
Practically, the findings are certainly prominent for, especially, making the novice writers aware of the textual space (moves) when they expect to send abstracts for international conferences. Another aspect is the proportion of the words in each move for efficiency. Today is the era of the world research university.
Thus, it is an added value for the universities to get involved in international conferences on research results in order that they can be a world research university. To do so, it needs the skill of writing good quality abstracts: the first process of selection. For the students of EAP, it is important to have knowledge of writing a good quality abstract because they are certainly requested to write abstracts, e.g., the abstracts of research articles or papers assigned by their college.
Key words: genre analysis, discourse community, move, textual meta-discourse, interpersonal meta- discourse.
Genre Analysis of International Conference Paper Abstracts Djuwari
Djuwari. 2009. Genre Analysis of International Conference Paper Abstracts. Dissertation, Graduate Program in English Language Education, Universitas Negeri Malang (UM). Pembimbing: (1) Prof. E. Sadtono, Ph.D., (2) Dr. Monica D.D., Oka, M.A., (3) A. Efendi Kadarisman, M.A., Ph.D.
Abstrak
Penelitian ini terkait dengan analisis genre pada abstrak makalah konferensi internasional yang ditulis oleh komunitas bahasa South East Asian Association for Institutional Research (SEAAIR).
Analisisnya berfokus tidak hanya pada move seperti dalam penelitian sebelumnya tetapi juga fungsi bahasa, kategori tata bahasa (unsur-unsur linguistik), kata kerja fungsi proses, modalititas, dan unsur-unsur non- linguistik.
Tujuan penelitian ini dibagi dua bagian. Pertama ada empat tujuan, yaitu mendiskripsikan move abstrak, fungsi bahasa, fungsi bahasa yang paling dominan, dan kata kerja fungsi proses artikel penelitian.
Kedua menjelaskan bagaimana unsur-unsur linguistik (kategori tata bahasa), modalitas (certain, probable, dan possible), dan non-linguistik untuk menunjang rhetorical atau logical moves dan fungsi bahasa pada abstrak.
Penelitian ini menganalisis unsur-unsur macro-textual dan micro-textual. Macro-textual terkait dengan move abstrak. Micro-textual meliputi fungsi bahasa dan kategori tatabahasa. Penelitian ini mendiskripsikan move, fungsi bahasa, kata kerja fungsi yang ditulis dalam abstrak, kemudian menjelaskan bagaimana unsur-unsur tatabahasa, tiga modalitas, dan non-linguistik dalam menunjang penulisan abstrak.
Karena ini analisis genre pada abstrak makalah konferensi internasional organisasi, datanya diambil dari makalah-makalah yang sudah disajikan dalam konferensi dan diterbitkan dalam prosiding internasional SEAAIR dengan ISBN. Organisasi ini berkecimpung dalam penelitian terkait dengan pendidikan. Oleh sebab itu, semua abstrak yang dianalisis juga tentang pendidikan. Produk tulisan ini dianggap sudah melalui blind review yang sangat ketat sebelum direkomendasikan untuk disajikan dan diterbitkan. Oleh karena itu, seleksi abstrak tersebut dilakukan dengan purposive sampling berdasar pada kriteria. Asumsinya sebagai berikut.
Pertama, semua abstrak diterima atau direkomendasikan karena sudah melalui blind review yang sangat ketat. Kedua, karena sudah melalui proses blind review, semua abstrak disajikan dan diterbitkan dalam prosiding internasional ber-ISBN. Asumsi lain adalah komunitas bahasa ini (SEAAIR) merupakan salah satu ciri dalam analisis genre, yaitu genre karya ilmiah dalam bentuk abstrak makalah-makalah konferensi internasional fokus pada pendidikan tiga penerbitan (2005, 2006,dan 2007). Untuk alasan kepraktisan, 45 asbtrak diambil sebagai subjek.
Penelitian ini menerapkan model yang diadopsi dari Samraj (2002), yang dikembangkan dari model Swale (1990). Model ini terdiri dari lima move, milsanya Move 1 (mengantarkan ke topik penelitian) Move 2 (tujuan), Move 3 (metode penelitian), Move 4 (hasil penelitian), dan Move 5 (simpulan). Untuk menganalisis fungsi bahasa dan kategori tatabahasa, penelitian ini menggunakan model dari Hyland (1999), model taksonomi textual-meta-discourse. Untuk menganalisis kata kerja fungsi process, penelitian ini menggunakan model oleh Hyland (2002). Instrumen ini meliputi tiga kata kerja fungsi proses: research (real-world) yang terdiri dari pernyataan temuan dan prosedur, cognition acts, dan discourse acts. Untuk menganalisis modalitas penelitian ini menggunakan model yang diadopsi dari Palmer (1987). Akhirnya, analisis unsur- unsur non-linguistik, penelitian ini menggunakan konsep teori ringkasan dari berbagai pakar linguistik terkait cara menulis abstrak yang baik (misalnya Tuckman, 1976; Rathbone, 1985; Brinnegar and Skates, 1983;
Swale, 1990; Samraj; 2002; Kilborn; 1998, dan Hebert, 1990).
Ada beberapa temuan dalam penelitian ini. Pertama, move abstrak berdasarkan analisis model Samraj (2002), memberikan temuan dengan beberapa karakteristik khusus. Kedua, ada tiga fungsi bahasa textual meta-dsicousre (menyatakan hubungan makna antarfrase, antarklausa dan antarkalimat) dan dua fungsi bahasa interpersonal meta-discourse (membatasi komitmen penulis pada pernyataan dan menekankan keyakinan penulis dalam pesan yang disampaikan). Ketiga, fungsi bahasa yang paling dominan adalah yang menyatakan hubungan semantik antarfrase, antarkalusa, dan antarkalimat. Keempat, ada temuan khusus tentang kata kerja fungsi proses misalnya real-world, cognition acts, and discourse acts. Kelima, disamping ditemukan bagaimana tiga kategori tatabahasa textual meta-discourse (logical connector, frame marker, dan code glosses) dan dua kategori tatabahasa (hedges dan empahatics) dalam mendukung abstrak. Keenam, tiga modalitas dalam abstrak juga ada perbedaan antar penulis dalam hal penempatannya pada move abstrak.
Akhirnya, ditemukan juga bagaimana unsur non-linguistik dalam mendukung abstrak.
Bisa disimpulkan, bahwa secara teoiritis penelitian ini bisa memberikan kontribusi pemahaman lebih dalam terkait dengan penelitian pada abstrak makalah-makalah konferensi internasional, khususnya yang ditulis komunitas bahasa SEAAIR. Ini bisa memberikan pemahaman lebih mendalam baik unsur linguistik maupun non-linguistik yang terdapat dalam abstrak genre pada komunitas bahasa. Model oleh Samraj (2002) jelas menunjukkan bahwa tiga move: tujuan (Move 2), metode penelitian (Move 3), dan hasil temuan (Move 4) terbukti penting dan wajib. Oleh sebab itu, dalam analisis genre pada abstrak, tiga move ini perlu dipakai.
Secara pedagogis, pengajaran bahasa untuk tujuan akademis (EAP) bisa memanfaatkan kontribusi penelitian ini.Strategi menulis abstrak untuk komunitas bahasa yang terdapat pada temuan ini bisa dipergunakan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menulis sehingga mereka lebih mengenal konvensi penulisan abstrak. Pemakaian logical connectors, frame markers, emphatics, termasuk perhatian pada pemakaian hedges dalam penulisan ilmiah merupakan strategi yang baik dalam pengajaran EAP.
Secara praktis, temuan-temuan ini penting khusus bagi penulis baru untuk sadar pentingnya pemahaman move abstrak jika mereka berniat mengirim abstrak untuk konferensi internasional. Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah jumlah kata dalam setiap move demi efisiensi. Sekarang adalah era perguruan
tinggi dunia berbasis penelitian. Oleh sebab itu, jika perguruan tinggi bisa berkecimpung dalam konferensi internasional terkait hasil penelitian, maka itu merupakan sesuatu yang bernilaitambah. Jadi, aktif dalam konferensi internasional merupakan salah satu manifestasi perguruan tinggi dunia berbasis penelitian. Untuk itu, diperlukan keterampilan menulis abstrak yang baik karena ini merupakan tahap awal dalam proses seleksi. Tentunya bagi mahasiswa EAP, pemahaman penulisan abstrak yang baik sangat dibutuhkan karena mereka mungkin harus menulis abstrak terkait dengan penulisan karya ilmiah di perguruan tinggi mereka.
Kata kunci: Genre analysis, discourse community, move, textual meta-discourse, interpersonal meta- discourse.
Teacher’s Interaction Patterns in Senior High School EFL Classes Hanafi
Hanafi. 2009. Teacher’s Interaction Patterns in Senior High School EFL Classes. Dissertation. The English Language Program, Post Graduate School (S3), State University of Malang. Advisors: (1) Prof. E.
Sadtono, Ph.D., (2) Prof. H.M. Adnan Latief, M.A., Ph.D., (3) A. Effendi Kadarisman, MA., Ph.D Abstract
Teachers have their own ways to communicate messages to the students in the classroom. In general teachers communicate the messages by implementing interaction patterns in the form of verbal behaviors and non-verbal signals. The non-verbal signals usually occur together with verbal behaviors since the use of non- verbal signals can help the teachers to make the students understand the messages more easily.
The general problem of this study is “What are the characteristics of the teacher’s interaction patterns in Senior High School EFL classes?” It is elaborated to the specific problems namely (1) What kinds of English verbal behaviors and non-verbal signals does the teacher use in communicating messages in EFL classes? (2) How do the non-verbal signals used by the teacher in communicating her messages in EFL classes support the verbal behaviors, (3) How does the teacher solve the problems of ineffective communication in communicating her messages to the students, (4) How do the teacher’s strategies succeed in negotiating meaning with the students, and (5) How does the teacher cope with the learners’ errors in using English to respond to her messages.
This study intends to explain the characteristics of the teacher’s interaction patterns in EFL classes of SMAN 2 Jember. More specifically, this study intends to explain the kinds of English verbal behaviors and non-verbal signals the teacher uses in communicating messages in EFL classes, how the non-verbal signals that are used by the teacher in communicating her messages in EFL classes support the verbal behaviors, the techniques the teacher uses to solve to the problems of ineffective communication, how the teacher’s strategies succeed in negotiating meaning with the students, and how the teacher copes with the learners’ errors in using English to respond to her messages.
This study is a qualitative study, in the form of case study, with an English teacher at Public Senior High School 2 Jember as the subject of this study. Observation was done when she was teaching English in the classroom. The data obtained are in the form of verbal behaviors and non-verbal signals of the teacher and the students’. The data are then transcribed and analyzed to find the interaction patterns the teacher uses to communicate the messages. The key instrument is the researcher himself. The procedure of data analysis suggested by Miles and Hubermann (1994) is employed in this study.
The results of the study reveal that the English teacher implements interaction patterns in various types of communicative strategies to convey her messages in the form of verbal behaviors and non-verbal signals. They are used in the teaching learning process in the context of interpersonal communication, scaffolding moves, negotiating meaning, and responding to errors.
Related to the research problem number one, the result of this study shows that the verbal behaviors used by the teacher are in the form of: (1) opening channel, (2) back channeling signal, (3) turning over signals, (4) bracket signals, and (5) preempt signals. The non-verbal signals, related to the research problem number two, are in the forms of: (1) kinesics, (2) proxemics, (3) haptics, (4) vocalics, (5) chronemics, and (6) artifacts. Related to the research problem number three, the scaffolding functions used by the teacher are in the form of seven different instructional scaffolding techniques, namely: (1) modeling of desired behaviors, (2) organizing, (3) explaining, (4) verifying students’ understandings, (5) eliciting (6) providing wait time, and (7) code switching. Related to the research question number four about the strategies used by the teacher to negotiate meaning, the results of the study show that the teacher uses seven types of moves in negotiation
with the students. The moves used are: (1) the use of body language, (2) use of predictability, (3) use of input modifications, (4) clarification request, (5) repetition, (6) meta-linguistic clues, and (7) elicitation.
Concerning with research problem number five about how to cope the learners’ errors, the results of the research show that in responding to the learners’ errors the teacher uses six strategies. The strategies are (1) modeling correct form, (2) repeating faulty form, (3) prompting correct form, (4) explaining correct form, (5) (re) stating question/prompt, and (6) telling students what to say. Among the six moves, the most favorable use is explaining correct form.
The results of this research have some contradiction with the results of previous study. The above findings are not in favor of the previous finding by Usadiyati (2005) and Kasim (2003) that the use of code switching is to elucidate a complex concept. This study found that code switching is not merely used for explaining an important and complex concept but it is also used for organizing the class and verifying the students’ answers. Other contradiction is related to the use of “modeling correct form” as an alternative to cope with the student error. Nystorn, (1983) stated that the “modeling correct form” the first alternative to cope with the students’ error. But the results of this study show that this study does not favor of “modeling correct forms”. The results of this study show that the use “modeling correct forms” is done only once from all the data collected. On the contrary the use of “explaining correct form” is more favorable.
Based on the research findings and discussions, it is concluded that the English teacher implements interaction patterns in various types of communicative strategies to explain her messages in the form of verbal behaviors and non-verbal signals. The way the teacher uses the patterns is various depending on the situation she faces. Both verbal behaviors and non-verbal signals are always used concomitantly for making the students understand the messages communicated.
Furthermore, from the results of the research, several suggestions are presented. For the English teachers who are teaching in the Senior High Schools, they should make further improvements and variations in teaching learning process for the sake of keeping the students’ motivation. For English Department and English Teachers’ Profession (MGMP), it is suggested that the institution always improves teachers’ teaching competence. For the future researchers focusing on teaching learning process in EFL class, it is suggested to make more research in interaction patterns for improving the results of the previous research.
Key words: interaction pattern, verbal behavior, non-verbal signal, scaffolding, negotiating meaning, error.
Teacher’s Interaction Patterns in Senior High School EFL Classes Hanafi
Hanafi. 2009. Teacher’s Interaction Patterns in Senior High School EFL Classes. Disertasi. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Program Pasca Sarjana (S3). Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Prof. E. Sadtono, Ph.D., (2) Prof. H.M. Adnan Latief, M.A., Ph.D., (3) A. Effendi Kadarisman, MA., Ph.D
Abstrak
Setiap guru mempunyai cara sendiri untuk menyampaikan pesan kepada muridnya di kelas.
Umumnya guru menyampaikan pesan atau bahan ajar dengan melakukan pola interaksi berbentuk tindak padan lisan dan non-lisan. Tindak non-lisan umumnya muncul bersamaan dengan tindak padan lisan karena penggunaan tindak non-lisan bisa membantu guru untuk membuat murid-murid lebih mudah memahami pesan yang disampaikan.
Masalah umum penelitian ini adalah “Apakah karakteristik pola interaksi guru di kelas EFL Sekolah Menengah Atas? Masalah umum ini dirinci menjadi masalah khusus yaitu (1) Apa sajakah tindak padan lisan dan non-lisan yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pada kelas EFL? (2) Bagaimanakah tindak padan non-lisan yang digunakan guru bisa mendukung tindak padan lisan? (3) Bagaimana guru memecahkan masalah mengenai komunikasi yang tidak efektif dalam menyampaikan materi ke siswa? (4) Bagaimana strategi guru dalam negosiasi dengan siswa, dan (5) Bagaimana guru mengatasi masalah kesilapan siswa dalam menggunakan Bahasa Inggris?
Penelitian ini bermaksud untuk menjelaskan karakteristik pola interaksi guru di kelas EFL SMA Negeri 2 Jember. Secara lebih khusus, penelitian ini bermaksud untuk menjelaskan macam-macam tindak padan lisan dan non-lisan yang digunakan guru dalam menyampaikan materi, bagaimana tindak padan non- lisan yang digunakan guru bisa mendukung tindak padan lisan, bagaimana guru memecahkan masalah mengenai komunikasi yang tidak efektif dalam menyampaikan materi ke siswa, bagaimana strategi guru agar
sukses dalam bernegosiasi dengan siswa, dan bagaimana guru mengatasi masalah kesilapan siswa dalam menggunakan Bahasa Inggris.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif berupa studi kasus dengan seorang guru Bahasa Inggris di SMAN Jember sebagai subyek. Guru tersebut adalah sumber data utama sedangkan murid-murid kelas tiga adalah sumber data sekunder. Pengamatan dilakukan ketika guru tersebut sedang mengajar di kelas. Data yang didapat berupa tindak padan lisan dan non-lisan dari guru dan murid-murid berupa CD. Data tersebut kemudian disalin dalam bentuk tulisan dan dianalisa untuk menemukan pola interaksi yang dilakukan guru dalam menyampaikan pesannya. Instrumen utama dari penelitian ini adalah peneliti sendiri. Langkah-langkah analisis data pada penelitian ini menggunakan pola Miles dan Hubermann (1994).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru bahasa Inggris yang diteliti tersebut menggunakan pola interaksi dalam bermacam-macam strategi untuk menyampaikan pesan dalam bentuk tindak padan lisan dan non-lisan. Kedua hal tersebut digunakan dalam proses belajar mengajar dalam konteks komunikasi interpersonal, tindak bantu, penyelarasan pengertian, dan merespon kesalahan. Tindak padan lisan yang digunakan oleh guru berbentuk (1) membuka pelajaran, (2) memberikan tanggapan, (3) perputaran giliran, (4) mengarahkan, and (5) reaksi tubuh. Sementara itu, tindak non-lisan yang digunakan berupa 1) kinesics, (2)proxemics, (3) haptics, (4) vocalics, (5) chronemics, and (6) artifacts. Tindak bantu yang dilakukan oleh guru berupa 7 macam teknik memberi bantuan antara lain: (1) pemodelan, (2) pengaturan, (3) menjelaskan, (4) pembuktian pemahaman, (5) menggali (6) menyediakan waktu tunggu, dan (7) menggunakan Bahasa Ibu.
Menyangkut strategi yang digunakan guru untuk penyelarasan pengertian, hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menggunakan tujuh macam pola negosiasi dengan siswa. Ketujuh hal tersebut meliputi (1) penggunaan bahasa tubuh, (2) penggunaan prakiraan, (3) penggunaan modifikasi masukan, (4) penegasan, (5) pengulangan, (6) petunjuk metalinguistic, dan (7) pancingan. Menyangkut cara mengatasi masalah kesalahan (error) yang dilakukan siswa, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam menangani masalah kesalahan siswa, guru menggunakan beberapa cara. Cara-cara tersebut antara lain: (1) pemodelan bentuk yang benar, (2) mengulangi bagian yang salah, (3) memancing bentuk yang benar, (4) menjelaskan bentuk yang benar, (5) mengulang pertanyaan, dan (6) mengatakan yang seharusnya dikatakan. Diantara keenam hal tersebut yang paling banyak digunakan adalah menjelaskan bentuk yang benar.
Disamping hal diatas, pada kenyataannya hasil penelitian ini juga mengandung kontradiksi dengan penelitian lain. Hasil penelitian diatas tidak sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Usadiyati (2005) and Kasim (2003) dimana code switching digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang kompleks. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa code switching tidak hanya digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang kompleks, tetapi juga digunakan untuk mengatur kelas dan meyakinkan jawaban siswa.
Kontradiksi lainnya adalah menyangkut penggunaan “pemodelan bentuk yang benar” Nystorn, (1983) menyatakan bahwa “pemodelan bentuk yang benar” adalah alternatif utama untuk mengatasi kesalahan yang dibuat oleh siswa. Namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa “pemodelan bentuk yang benar” ini hanya digunakan satu kali diantara data yang ada. Sementara itu penggunaan “menjelaskan bentuk yang benar”
ternyata lebih disukai.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan disimpulkan bahwa guru Bahasa Inggris dalam penelitian ini menerapkan pola interaksi dalam berbagai bentuk strategi komunikasi untuk menyampaikan pesan dalam bentuk tindak padan lisan dan non-lisan. Cara guru tersebut dalam menggunakan pola ini bervariasi tergantung pada situasi yang dia hadapi. Tindak padan lisan dan non-lisan selalu digunakan secara saling melengkapi. Dia mengkombinasikan penggunaan pola ini dengan maksud agar murid mengerti sepenuhnya pesan atau materi yang disampaikan.Selanjutnya, dari hasil penelitian ini beberapa saran dibuat bagi guru Bahasa Inggris, lembaga pendidikan Bahasa Inggris, dan peneliti di masa mendatang. Bagi guru Bahasa Inggris yang mengajar di SMA diharapkan mampu membuat variasi dalam proses belajar mengajar demi motivasi siswa. Bagi lembaga pendidikan Bahasa Inggris disarankan agar lembaga selalu meningkatkan kompetensi mengajar guru. Bagi peneliti di masa mendatang, terutama yang menekuni program belajar mengajar di kelas EFL, disarankan untuk meneliti pola interaksi dalam proses belajar mengajar demi menyempurnakan hasil penelitian terdahulu.
Kata kunci: pola interaksi, tindak padan lisan dan non-lisan, tindak bantu, penyelarasan pengertian, kesalahan.