Tahapan ini diyakini sebagai tahap awal proses sosialisasi Islam di kawasan Asia Tenggara, yang diawali dengan kontak sosial budaya antara pendatang muslim dengan penduduk setempat. Kisah masuknya Islam di Malaysia tidak lepas dari peran kerajaan-kerajaan Melayu jauh sebelum kedatangan Inggris di wilayah tersebut. Dari sini dapat dipahami bahwa Islam masuk ke Malaysia lebih lambat dibandingkan Islam masuk ke Indonesia pada abad ketujuh.
Sedangkan mengenai pola penerimaan Islam di nusantara, termasuk di Malaysia, kita dapat merujuk pada pernyataan Ahmad M. Penerapan hukum berdasarkan Al-Quran dan perwujudan hukum Islam sejalan dengan Syafi’ Mazhab. Pemikiran di Malaysia juga menunjukkan bahwa Islam telah mengalami perkembangan yang signifikan di negara tersebut. Selain itu, perkembangan Islam di Malaysia semakin terlihat melalui banyaknya masjid yang dibangun, hal ini juga tercermin dari terorganisirnya jamaah haji yang sangat baik.
Pada masa tradisional, Islam di wilayah maritim Malaya memiliki hubungan yang erat antara kehidupan desa dan organisasi negara. Namun tampaknya pemerintah merasa perlu melakukan integrasi, bahkan regulasi, agar aktivitas Islam di Tanah Air tidak menjadi sumber instabilitas. Hal ini dilakukan oleh pemerintah. Selain untuk menunjukkan perannya dalam mendukung Islam, hal itu juga dimaksudkan untuk menghilangkan kekhawatiran dan ketakutan warga non-Muslim mengenai apa yang digambarkan Mahathir sebagai "Islam fundamentalis", yang antara lain mengupayakan penerapan Islam. hukum Islam dan/atau pembentukan Negara Islam di Malaysia.
Penerapan kurikulum pendidikan Islam di Malaysia tidak jauh berbeda dengan pendidikan Islam di Indonesia, yaitu kurikulum pendidikan Islam yang memuat dua kurikulum inti sebagai kerangka operasional dasar pengembangan kurikulum.
Perkembangan Islam di Brunei Darussalam
Saat itu, agama diyakini berperan penting dalam membimbing Brunei menuju kemakmuran. Pada masa pemerintahan Sultan Hassan, hukum Islam yaitu Qanun Hukum yang terdiri dari 46 pasal dan enam bagian diperkuat sebagai hukum dasar negara. Brunei merdeka sebagai negara Islam di bawah pimpinan Sultan ke-29 yaitu Sultan Hassanal Bolkiah Mu'izzuddin wad Daulah setelah mendeklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 31 Desember 1983.
Pada tahun 1839, James Brooke dari England datang ke Sarawak dan menjadi raja di sana dan menyerang Brunei, maka Brunei kehilangan kuasanya ke atas Sarawak. Pada masa yang sama, Persekutuan British Borneo Utara telah meluaskan kawalannya di Borneo Timur Laut. Pada tahun 1888, Brunei menjadi negeri naungan kerajaan British dengan kedaulatan dalaman, tetapi dengan hal ehwal luar negeri masih di bawah pengawasan British.
Pada tahun 1906, Brunei menerima langkah untuk meluaskan kuasa British, apabila kuasa eksekutif dipindahkan kepada Residen British, yang ditugaskan untuk menasihati Sultan dalam semua perkara, kecuali yang berkaitan dengan adat dan agama tempatan. Akhirnya, setelah 96 tahun di bawah pemerintahan British, Brunei secara rasminya menjadi sebuah negara merdeka di bawah Sultan Hassanal Bolkiah pada 1 Januari 1984, Negara Brunei Darussalam telah berjaya mencapai kemerdekaan sepenuhnya. Brunei merdeka sebagai sebuah negara Islam di bawah pimpinan Sultan ke-29 iaitu Sultan Hassanal Bolkiah Mu'izzuddin wad Daulah.
Pergerakan Islam di Brunei Darussalam terlihat jelas pada hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Nuzulul Qur'an dan Isra Mi'raj. ARMM dibentuk oleh pemerintah pada tahun 1989 sebagai daerah otonom di Filipina Selatan, sebagai hasil perjanjian damai antara MNLF dan pemerintah pusat Filipina. Bangsa Eropa pertama kali tiba di Filipina pada tahun 1521 dipimpin oleh Magellan yang kemudian dibunuh oleh kepala suku setempat dalam pertempuran.
Kemudian tentara Spanyol di bawah pimpinan Miguel Lopez Legaspi yang tiba di pesisir Kepulauan Filipina pada tahun 1565 menghentikan perkembangan dakwah Islam di Manila pada tahun 570 yang berujung pada pertempuran selama berabad-abad. Jadi kita dapat mengatakan bahwa penjajahan Spanyol dimulai pada tahun 1565 di salah satu pulau Filipina dan segera mereka menemukan bahwa beberapa penduduk setempat adalah Muslim. Saat itulah Islam menyebar dari daerah pesisir hingga daerah pegunungan di pedalaman Pulau Sulu.
Dengan kondisi tersebut, hubungan umat Islam Filipina yang awalnya mengarah ke Asia Tenggara, kini semakin terbuka terhadap akses langsung terhadap Islam di Timur Tengah. Saat itu, Tentara Salib memberikan berbagai bantuan hingga akhirnya Islam kembali mundur di negeri ini.
Perkembangan Islam di Singapura
Pengembangan kebudayaan di Singapura dalam rangka menghadapi persaingan global saat ini adalah dengan menempatkan kebudayaan sebagai unsur yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan dalam rangka pembentukan karakter bangsa. Singapura bercita-cita untuk mewujudkan universitas kelas dunia dan diharapkan dapat bekerja sama membuka kampus cabang di Singapura. Lembaga pendidikan Islam di Singapura hanya sebatas pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dengan jenis dan jumlah yang terbatas.
Terdapat dua jenis lembaga pendidikan Islam, yaitu madrasah penuh waktu dan madrasah paruh waktu. Madrasah purnawaktu adalah lembaga pendidikan Islam yang proses pembelajarannya berlangsung setiap hari seperti pada madrasah di Indonesia, dan kurikulumnya memadukan mata pelajaran agama dan umum. Sedangkan madrasah paruh waktu adalah lembaga pendidikan yang proses pembelajarannya tidak dilakukan setiap hari, mungkin dua atau tiga kali seminggu, siang dan malam; materinya murni keagamaan; dan biasanya berlangsung di masjid.
Manakala madrasah sambilan itu menyasarkan pelajar Islam yang belajar di sekolah awam supaya mereka mengetahui asas ajaran Islam, memandangkan sekolah awam di Singapura tidak mengajar subjek agama. Institusi pendidikan Islam (madrasah) diurus secara moden dan profesional, dengan peralatan perkakasan dan perisian. Enam madrasah tersebut ialah madrasah Al-Irsyad Al-Islamiah, madrasah Al-Maarif Al-Islamiah, madrasah Alsagoff Al-Islamiah, madrasah Aljunied Al-Islamiah, madrasah Al-Arabiah Al-Islamiah dan madrasah Wak Tanjong Al-Islamiah. Pengajaran dan pembelajaran bermula dari pukul 8 pagi hingga 2 petang.
“Setiap hari mereka mendapat waktu dua jam untuk aplikasi dan pemberdayaan internet,” jelas Mokson Mahori, Lc, guru madrasah Al-Junied Al Islamiyah. Madrasah Al Irsyad Al Islamiah di Singapura merupakan salah satu contoh pendidikan Islam yang setara dengan dunia modern di negeri singa ini. Madrasah Al Irsyad Al Islamiah sendiri memiliki total 900 siswa mulai dari tingkat dasar hingga menengah.
Madrasah Al Irsyad menduduki peringkat pertama di antara enam madrasah yang ada di Negeri Singa. Selain mengikuti kurikulum modern, lembaga pendidikan Islam ini juga mempunyai fokus utama sebagai Islamic Center of the Islamic Religious Council of Singapore, sebuah dewan penasehat yang memberikan nasihat kepada pemerintah dalam urusan umat Islam. Kurikulum yang digunakan di Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiah memadukan materi pendidikan Islam lokal dan internasional dalam kegiatan belajar mengajar.
Kontekstualisasi Nilai-nilai Moderasi Beragama pada Materi Perkembangan Islam di Asia Tenggara
Agar anda dapat lebih memahami materi yang terdapat pada Kegiatan Pembelajaran 4, selesaikanlah tugas-tugas berikut ini.
Kontribusi Uang Logam Umayyah yang Ditemukan di Situs Bongal terhadap Historiografi Islam di Sumatera Utara, Yupa: Kajian Sejarah. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Abad 17 dan 18: Menelusuri Akar Pembaharuan Islam di Indonesia. Perkembangan paradigma keilmuan dalam perspektif epistemologi Islam: Dari perenialisme ke Islamisasi, integrasi-interkoneksi dan kesatuan ilmu.
Lapian AB, (1965), Berbagai catatan jalur perdagangan maritim ke Maluku sebelum abad ke-16, artikel di Majalah Sains Indonesia-Ilmu Sastera, bagian 1. Sosiologi Pengetahuan: Analisis Awal Pendekatan Sosiologis Perkembangan Islam Ilmu Agama.” ULUL ALBAB: Jurnal Kajian Islam 19(2). Laporan Penanganan Kasus Benda Purbakala di Desa Jago-Jago Kecamatan Badiri Kabupaten Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara.
Rasdiyanah, Andi, (1995), “Integrasi Sistem Panggaderang dengan Sistem Syariah Sebagai Way of Life Masyarakat Bugis di Lontarak Latoa, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga.