• Tidak ada hasil yang ditemukan

DOCX Online Learning UHAMKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "DOCX Online Learning UHAMKA"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Modul Pembelajaran COMPOUNDING AND

DISPENSING

Penyusun:

apt. Ani pahriyani, M.Sc (0302048504)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA FAKULTAS FARMASI DAN SAINS

PROGRAM PROFESI APOTEKER

2021

(2)

Daftar Isi

Modul 05 : Skrining Resep Berdasarkan Pertimbangan Klinis (Dosis dan Interaksi)...1

Materi 05...1

Latihan 05...13

Jawaban 05...14

Rangkuman 05...17

Tes Formatif 05...20

Daftar Pustaka...25

(3)

Modul 5 : Skrining Resep Berdasarkan Pertimbangan Klinis (Dosis dan Interaksi Obat)

Metode Pembelajaran Estimasi Waktu Capaian Pembelajaran

 Kuliah interaktif

 Diskusi

 Studi Kasus

100 menit Mampu mengidentifikasi,

mertemformulasi, dan menyelesaikan masalah terkait resep

Materi 5

I. Dosis

A. Definisi dan Penggolongan Dosis

Dosis atau takaran obat adalah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seorang penderita, baik untuk obat dalam maupun obat luar.

Menurut Farmakope Indonesia edisi III (1979) pengertian dosis kecuali dinyatakan lain adalah dosis maksimum dewasa untuk pemakaian lewat mulut, injeksi, sub kutis dan rektal. Dosis obat yang harus diberikan kepada pasien untuk menghasilkan efek yang diharapkan tergantung banyak faktor, antara lain umur, berat badan, luas permukaan tubuh, jenis kelamin, kondisi penyakit, dan kondisi daya tahan tubuh pasien. Obat-obat tertentu memerlukan dosis permulaan (initial dose) atau dosis awal (loading dose) yang lebih tinggi dari dosis pemeliharaan (maintenance dose). Dengan memberikan dosis permulaan yang lebih tinggi dari dosis pemeliharaan, kadar obat dalam darah yang diharapkan dapat tercapai lebih awal.

Ketentuan Umum Farmakope Indonesia edisi III tentang dosis:

1. Dosis Maksimum (DM)

Dosis ini berlaku untuk pemakaian satu kali dan satu hari. Penyerahan obat yang dosisnya melebihi dosis maksimum dapat dilakukan dengan cara membubuhkan tanda seru dan paraf dokter penulis resep; memberi garis bawah nama obat tersebut; dan menuliskan banyak obat dengan huruf secara lengkap.

(4)

2. Dosis Lazim

Dosis ini merupakan petunjuk yang tidak mengikat, tetapi digunakan sebagai pedoman umum. Misalnya, obat CTM (4mg/tablet) disebutkan dosis lazimnya 6- 16 mg/hari dan dosis maksimumnya 40 mg/hari; bila seseorang minum 3x sehari 2 tablet, berarti dosis maksimumya belum dilampaui. Tapi ini dianggap tidak lazim karena dengan 3x sehari 1 tablet sudah tercapai efek terapi yang optimal.

Jenis-jenis dosis lainnya

1. Dosis terapi, takaran obat yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan penderita.

2. Dosis minimum, takaran obat terkecil yang diberikan yang masih dapat menyembuhkan dan tidak menimbulkan resistensi pada penderita.

3. Dosis maksimum, takaran obat terbesar yang diberikan yang masih dapat menyembuhkan dan tidak menimbulkan keracunan pada penderita.

4. Dosis toksik, takaran obat dalam keadaan biasa yang dapat menyebabkan keracunan pada penderita.

5. Dosis letal, takaran obat dalam keadaan biasa yang dapat menyebabkan kematian pada penderita. Dosis letal terdiri dari L.D 50 dan L.D 100. L.D 50 yaitu takaran yang menyebabkan kematian pada 50% hewan uji. Sedangkan L.D 100 adalah takaran yang menyebabkan kematian pada 100% hewan uji B. Perhitungan Dosis

Pemilihan dan penetapan dosis memang tidak mudah karena harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu:

1. Faktor penderita; meliputi umur, berat badan, jenis kelamin, luas permukaan tubuh, toleransi, habituasi, adiksi dan sensitivitas, serta kondisi penderita.

2. Faktor obat meliputi; sifat fisika kimia obat, sifat farmakokinetik (ADME), dan jenis obat.

3. Faktor penyakit; meliputi sifat dan jenis penyakit, serta kasus penyakit.

Daftar dosis maksimal menurut FI digunakan untuk orang dewasa berumur 20 - 60 tahun, dengan berat badan 58 – 60 kg. Untuk orang yang sudah berusia lanjut dan pertumbuhan fisiknya sudah mulai menurun, maka pemberian dosis lebih kecil dari pada dosis dewasa.

Perhitungan dosis pada kondisi khusus

(5)

1. Dosis untuk wanita hamil

Untuk wanita hamil yang peka terhadap obat-obatan sebaiknya diberi dalam jumlah yang lebih kecil, bahkan untuk beberapa obat yang dapat mengakibatkan abortus dilarang, juga wanita menyusui, karena obat dapat diserap oleh bayi melalui ASI. Untuk anak dibawah 20 tahun mempunyai perhitungan khusus.

2. Dosis untuk anak dan bayi

Respon tubuh anak dan bayi terhadap obat tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. Dalam memilih dan menetapkan dosis memang tidak mudah karena harus diperhitungkan beberapa faktor, antara lain umur, berat badan, jenis kelamin, sifat penyakit, daya serap obat, ekskresi obat. Faktor lain kondisi pasien, kasus penyakit, jenis obatnya juga faktor toleransi, habituasi, adiksi dan sensitif.

Aturan pokok untuk memperhitungkan dosis untuk anak tidak ada, karena itu beberapa tokoh mencoba untuk membuat perhitungan berdasarkan umur, bobot badan dan luas permukaan (body surface ) . Sebagai patokan dapat kita ambil salah satu cara sebagai berkut :

Menghitung Dosis Maksimum Untuk Anak (1) Berdasarkan Umur.

Rumus YOUNG :

( n / (n + 12) ) x dosis maksimal dewasa,

dimana n adalah umur dari anak 8 tahun kebawah.

Rumus DILLING :

( n / 20 ) x dosis maksimal dewasa

dimana n adalah umur dari anak 8 tahun kebawah.

Rumus FRIED :

( n / 150 ) x dosis maksimal dewasa dimana n adalah umur bayi dalam bulan

(2) Berdasarkan Berat Badan (BB)

Rumus CLARK (Amerika) :

( Berat badan anak dalam kg x dosis maksimal dewasa ) / 150

(6)

Rumus Thermich ( Jerman ) :

( Berat Badan Anak dalam kg x dosis maksimal dewasa ) / 70 3. Dosis maksimum gabungan

Bila dalam resep terdapat lebih dari satu macam obat yang mempunyai kerja bersamaan/searah, maka harus dibuat dosis maksimum gabungan. Dosis maksimum gabungan dinyatakan tidak lampau bila : pemakaian 1 kali zat A + pemakaian 1 kali zat B, hasilnya kurang dari 100 %, demikian pula pemakaian 1 harinya.

Contoh obat yang memiliki DM gabungan : Atropin Sulfas dengan Extractum Belladonnae, Pulvis Opii dengan Pulvis Doveri, Coffein dengan Aminophyllin, Arsen Trioxyda dengan Natrii Arsenas dan lain-lain.

C. Penyesuaian Dosis

Penyesuaian dosis dilakukan pada beberapa kondisi, diantaranya:

1. Pasien gangguan ginjal 2. Pasien gangguan hati 3. Pasien obesitas 4. Pasien geriatri II. Interaksi Obat

A. Definisi

Interaksi obat adalah modifikasi efek suatu obat akibat obat lain yang diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan sehingga keefektifan atau toksisitas satu obat atau lebih berubah. Efeknya bisa meningkatkan atau mengurangi aktivitas atau menghasilkan efek baru yang tidak dimiliki sebelumnya.

Interaksi obat dengan obat merupakan peristiwa interaksi obat yang terjadi sebagai akibat penggunaan bersama-sama dua macam obat atau lebih. Interaksi ini dapat menghasilkan efek yang menguntungkan tetapi sebaliknya juga dapat menimbulkan efek yang merugikan atau membahayakan. Meningkatkan kejadian interaksi obat dengan efek yang tidak diinginkan adalah akibat makin banyaknya dan makin seringnya penggunaan apa yang dinamakan polifarmasi atau multiple Drug Therapy (Katzung 2007).

Penggunaan obat rasional dalam pelayanan kesehatan Indonesia masih merupakan masalah. Penggunaan polifarmasi dimana seorang pasien yang

(7)

jumlahnya lebih dari 50% menerima 4 atau lebih obat untuk setiap lembar resepnya, seperti penggunaan antibiotik berlebihan, waktu konsultasi yang singkat yang rata-rata berkisar 3 menit saja serta tidak adanya kepatuhan pasien dalam meminum obat merupakan pola umum yang terjadi pada penggunaan obat yang digunakan dalam pengobatan saat ini, dan berkembangnya polifarmasi maka kemungkinan terjadinya interaksi obat semakin besar. Interaksi obat perlu diperhatikan karena dapat mempengaruhi respon tubuh pada pengobatan

B. Mekanisme Interaksi Obat

Berdasarkan mekanismenya interaksi obat dapat dikelompokkan menjadi:

a.Interaksi Farmakokinetik

Interaksi pada proses absorpsi dapat mengubah kecepatan absorpsi dan ketersediaan hayati obat. Namun untuk obat yang diberikan berulang perubahan kecepatan absorpsi sudah tidak bermakna klinis jika dibandingkan perubahan ketersediaan hayati. Obat yang memiliki kisar terapeutik sempit, perubahan ketersediaan hayati dapat menyebabkan kegagalan terapi. ketersediaan hayati obat yang diberikan per oral dipengaruhi oleh senyawa atau interaktan yang ada bersama obat dimana masing-masing dapat mengurangi jumlah obat yang diabsorpsi dengan berbagai mekanisme. Mekanisme yang umum terjadi diantaranya pembentukkan khelat yang tidak terabsopsi, adsorpsi oleh adsorben, perubahan Ph dan mortilitas saluran gastrointestinal (Hakim 2012).

1) Absorbsi

Absorbsi dari obat di saluran pencernaan dapat dipengaruhi oleh pemakaian yang bersamaan dari senyawa lain yang memiliki luas permukaan yang besar dimana obat dapat diserap, mengikat atau khelat, mengubah pH lambung, mengubah motilitas GI, atau mempengaruhi perpindahan protein contohnya P- glicoprotein (Katzung 2007).

2) Distribusi

Mekanisme yang menyebabkan perubahan interaksi obat pada proses distribusi obat adalah kompetisi pada plasma protein yang terikat, terjadi perpindahan tempat pengikat jaringan dan perubahan pada jaringan pelindung lokal, contoh penghambat P-glycoprotein di pelindung darah otak (Katzung 2007).

3) Metabolisme

(8)

Metabolisme obat dapat distimulasi atau dihambat oleh terapi yang bersamaan. Rangsangan pada isozime sitokrom P450di hati dan usus kecil dapat disebabkan oleh obat seperti barbiturat, karamazepin, phenitoin, rifampisin dan lain-lain. Penginduksi Enzim dapat juga meningkatkan aktivitas dari fase II metabolisme glucoronidasi. hasil induksi enzim tidak dapat bekerja dengan cepat, efek maksimalnya biasanya terjadi setelah 7-10 hari dan memerlukan waktu yang sama atau lebih lama untuk menghilangkan setelah penginduksi enzim dihentikan.

Obat yang mampu menghambat metabolisme sitokrom P450 dari obat lain termasuk kloramphenikol, eritromisin, isoniazid dan omeprazole (Katzung 2007).

4) Eksresi

Interaksi yang mempengaruhi eksresi umumnya mempengaruhi transport aktif di dalam tubulus ataupun efek pH pada transport pasif dari asam lemah dan basa lemah. Dalam kasus terbaru, ada sedikit obat yang secara klinis dipengaruhi oleh perubahan pH urin, seperti fenobarbita dan salisilat. perubahan presentasi sodium pada ginjal mempengaruhi eksresi dan level serum lithium (Tatro 2009).

b. Interaksi Farmakodinamik

Interaksi farmakodinamik adalah interaksi dimana efek dari suatu obat diubah oleh obat lain pada tempat aksinya. Terkadang obat-obat tersebut bersaing secara langsung pada reseptor tertentu, tetapi reaksi sering kali terjadi secara tidak langsung dan melibatkan mekanisme fisiologis. Interaksi ini juga dapat diartikan sebagai interaksi antara obat yang bekerja pada sistem reseptor, tempat kerja atau sistem fisiologik yang sama sehingga terjadi efek yang aditif, sinergik atau antagonistik, tanpa terjadi perubahan kadar obat dalam plasma. Interaksi farmakodinamik merupakan sebagian besar dari interaksu obat yang penting dalam klinik.

1) Efek Aditif Atau Sinergis

Dua obat yang memiliki efek farmakologis yang sama dan diberikan pada saat yang bersamaan dapat menyebabkan efek aditif. efek aditif dapat muncul baik sebagai efek utama maupun sebagai efek samping obat. Hal seperti ini dapat digambarkan dengan istilah aditif, penjumlahan, seinergi atau potensiasi. Kata ini memiliki definisi farmakologis yang sering digunakan sebagai sinonim karena

(9)

dalam prakteknya sering sangat sulit untuk mengetahui sejauh mana aktivitas atau efektivitas obat menjadi lebih besar atau lebih kecil (Baxter 2008).

2) Efek Antagonis

berbeda dengan interaksi aditif, ada beberapa obat yang kerjanya bertentangan satu sama lain. Obat dengan aksi agonis pada tipe reseptor tertentu dapat berinteraksi dengan obat antagonis pada reseptor tersebut. Ada banyak dari interaksi yang terjadi pada situs reseptor, kebanyakan digunakan untuk keuntungan dalam terapeutik. Antagonis spesifik dapat digunakan untuk membalikkan efek dari obat lain pada situs reseptor (Thanacoody 2012).

3) Sindrom Serotonin

Menurut Boyer dan Shannon (2015) sindrom serotonin berhubungan dengan kelebihan serotonin yang disebabkan oleh penggunaan suatu obat, overdosis atau adanya interaksi antar obat. Meskipun kasus yang parah jarang terjadi kasus ini menjadi semakin mudah dikenali pada pasien yang menerima kombinasi obat serotonergik (Thanacoody 2012).

Sindrom serotonin dapat terjadi ketika dua atau lebih obat yang mempengaruhi serotonin diberikan pada saat bersamaan atau penggunaan obat serotogenik lain setelah penghentian salah satu obat serotogenik. Sindrom ini ditandai dengan gejala termasuk kebingungan, disorientasi, gerakan yang abnormal, refleks berlebiham, demam, berkeringan, diare, hipotensi ataupun hipertensi. Diagnosis ditegakkan jika tiga atau lebih gejala tersebut muncul dan tidak ditemukan penyebab lain (Thanacoody 2012).

4) Interaksi Obat Atau Uptake Neurotransmitter

Aksi sejumlah obat mencapai situs aksi pada neuron adrenergik dapat dicegah dengan adanya obat lain. Antidepresan trisiklik mencegah reuptake noradrenalin ke neuron adrenergik perifer. Pasien menggunakan antidepresan trisiklik dan diberi noradrenalin secara parenteral menunjukkan peningkatan respon seperti hipertensi dan takikardi. Efek antihipertensi dari klonidin juga dapat dihambat oleh antidepresan trisiklik, salah satu penyebabnya yaitu terjadinya penghambatan uptake klonidin pada SSP.

c. Interaksi Farmaseutik

(10)

Interaksi farmaseutik atau inkompatibilitas terjadi di luar tubuh sebelum obat diberikan antara obat yang tidak dapat bercampur (inkompatibel). Pencampuran obat tersebut menyebabkan terjadinya interaksi langsung secara fisik atau kimiawi, yang hasilnya mungkin terlihat sebagai pembentukan endapan, perubahan warna dan mungkin juga tidak terlihat secara visual. Interaksi ini biasanya mengakibatkan inaktivasi obat (Setiawati 2007).

C. Pasien yang Rentan Terhadap Interaksi Obat

Efek dan keparahan interaksi obat dapat sangat bervariasi antara pasien yang satu dengan yang lain. Beberapa faktor dapat mempengaruhi kerentanan pasien terhadap interaksi obat, diantaranya adalah:

a. Orang lanjut usia (Geriatri)

b. Orang yang minum lebih dari satu macam obat

c. Pasien yang mempunyai gangguan fungsi ginjal dan hati d. Pasien dengan penyakit akut

e. Pasien dengan penyakit yang tidak stabil

f. Pasien yang memiliki karakteristik genetik tertentu

g. Pasien yang dirawat oleh lebih dari satu dokter (Fradgley S 2003).

D. Obat Yang Bermakna Secara Klinis

Tidak semua interaksi obat bermakna secara klinis. Beberapa interaksi obat secara teoritis mungkin terjadi, sedangkan interaksi obat yang lain harus dihindari kombinasinya atau memerlukan pemantauan yang cermat. Banyak interaksi obat yang kemungkinan besar berbahaya hanya terjadi pada sejumlah kecil pasien.

Bagaimanapun, ada bermacam-macam bermakna secara klinik yaitu:

a. Obat yang memiliki rentang terapi sempit antara dosis terapi dan dosis toksik b. Obat-obat yang memerlukan pengaturan dosis teliti

c. Obat penginduksi enzim yaitu obat yang dapat merangsang kerja enzim sehingga dapat mempercepat proses eliminasi atau metabolisme obat lain yang sehingga kadar obat di dalam darah menurun.

d. Obat penghambat enzim yaitu obat yang dapat menghambat metabolisme sehinggaa akan meningkatkan kadar darah obat dalam darah akibatnya dapat terjadi efek toksik (Fradgley S 2003).

E. Penatalaksanaan Interaksi Obat

(11)

Berdasarkan masalah interaksi obat, dapat berakibat timbulnya efek samping dan kejadian interaksi obat dapat meningkat secara bermakna pada populasi masyarakat tertentu sejalan dengan bertambah banyaknya jumlah obat yang dikonsumsi bersamaan setiap hari. Untuk mencegah atau mengurangi terjadiniya interaksi obat yang tidak dikehendaki dan mungkin dapat bersifat fatal, hal-hal yang harus dipertimbangkan yang dapat dilakukan dalam penatalaksanaa interaksi obat adalah:

a. Perlu perhatian khusus terhadap pasien yang memperoleh obat-obat yang mungkin dapat berinteraksi dengan obat lain.

b. Menghindari kombinasi obat dengan memilih obat pengganti

c. Sangat hati-hati bila risiko interaksi pemakaian obat lebih besar dari pada manfaatnya.

d. Penyesuaian dosis obat dan jarak pemberian obat.

e. Pemantauan terhadap pasien jika kombinasi obat yang saling berinteraksi diberikan.

f. Melanjutkan pengobatan seperti sebelumnya jika kombinasi obat yang berinteraksi tersebut merupakan pengobatan yang optimal, atau bila interaksi tersebut tidak bermakna secara klinis (Fradgley S 2003).

F. Level Signifikasi Klinis dan Implikasi Klinis Interaksi Obat

Signifikansi adalah derajat dimana obat yang berinteraksi akan mengubah kondisi pasien. Signifikansi klinis dikelompokkan berdasarkan keparahan dan dokumentasi intraksi yang terjadi. Derajat keparahan akibat interaksi diklasifikasikan berdasarkan penilaian:

1) Menurut Drug Interaction Checker

Menurut Drug Interaction Checker level signifikansinya dikelompokkan menjadi:

Tabel 4. Penilaian Signifikan Interaksi Menurut Drug Interaction Checker

Penilaian Arti Penilaian

Major Sangat signifkan secara klinis. Hindari kombinasi risiko lebih besar dari manfaat.

(12)

Moderate Cukup signifikan secara klinis. Biasanya kombinasi dihindari menggunakan hanya dalam keadaan khusus.

Minor

Minimal signifikan secara klinis. Risiko minimal, minimalkan risiko dengan mencari alternatif untuk menghindari risiko atau lakukan pemantauan.

Sumber : Drug Interaction Checker 2) Menurut Stockley’s Drug Interaction 2010

Menurut Stockley’s Drug Interaction 2010 dikelompokkan berdasarkan tingkat keparahan interaksi yang terjadi dan dibagi menjadi beberapa golongan yaitu:

Tabel 5. Penilaian Signifikan Interaksi Menurut Stockley’s Drug Interaction Simbol

Penilaian Arti Penilaian

Interaksi yang efeknya mengancam jiwa atau penggunaan secara bersamaan merupakan kontra indikasi dari produsen obat.

Interaksi penggunaan obat secara bersamaan dapat menyebabkan bahaya secara signifikan pada pasien sehingga perlu penyesuaian dosis dan monitoring.

Interaksi yang masih diragukan dan pasien harus diberitahu tentang efek samping yang mungkin ditimbulkan dan dapat dilakukan monitoring.

Interaksi yang tidak signifikan secara klinis atau tidak ada interaksi yang terjadi.

Sumber: Stockley’s Drug Interaction 2010

Latihan 5

1. Lakukan Skrining klinis berdasarkan pertimbangan klinis (dosis dan interaksi obat) pada resep berikut?

12 KLINIK BUDI MEDIKA

Jl. Mekarsari Raya V/4 Telp. 8721080 – Cimanggis

(13)
(14)

Jawaban 5

Skrining berdasarkan kesesuaian dosis

NO Obat Dosis Resep Dosis Lazim Keterangan

Sekali Sehari Sekali Sehari

1 Cefadroxil 125 mg 250 mg 30

mg/kgBB/har i

2 gram Sesuai

2 GG 33,333

mg

99,999 mg

100-200mg/ 4 jam

1,2 gram Sesuai

3 CTM 0,4166

mg

1,25 mg 2 mg/4-6 jam 12 mg Sesuai 4 Prednison 0,4166

mg

1,25 mg 5 mg/3xsehari 5-60 mg Sesuai Dosis cefadroxil (DIH)

1x : 15/70 x 2 g = 0,42 gram 1H : 125 mg x 2 = 250 mg Dosis GG (DIH)

1x : 6/(6+12) x 1,2 gram = 0,4 gram 1H : 33,333mg x 3 = 99,999 mg Dosis CTM (DIH)

1x : 6/(6+12) x 12 mg = 3,999 mg 1H : 0,4166 mg x 3 = 1,25 mg Dosis Prednison (DIH)

1x : 6/(6+12) x 60 mg = 19,999 mg 1H : 0,4166 mg x 3 = 1,25 mg

(15)

Skrining klinis berdasarkan potensi interaksi obat

interaksi obat = tidak ditemukan adanya interaksi antara obat yang ada diresep tersebut No Obat Yang

Berinteraksi

Jenis Interaksi

Efek Interaksi

Mekanisme Interaksi Rekomendasi 1 Cefadroxil>

< GG ><

CTM ><

prednisolone

- - - -

Rangkuman 5

(16)

I. Dosis

Dosis atau takaran obat adalah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seorang penderita, baik untuk obat dalam maupun obat luar.

Ketentuan Umum Farmakope Indonesia edisi III tentang dosis:

a. Dosis Maksimum (DM)

Dosis ini berlaku untuk pemakaian satu kali dan satu hari. Penyerahan obat yang dosisnya melebihi dosis maksimum dapat dilakukan dengan cara membubuhkan tanda seru dan paraf dokter penulis resep; memberi garis bawah nama obat tersebut; dan menuliskan banyak obat dengan huruf secara lengkap.

b. Dosis Lazim

Dosis ini merupakan petunjuk yang tidak mengikat, tetapi digunakan sebagai pedoman umum. Misalnya, obat CTM (4mg/tablet) disebutkan dosis lazimnya 6-16 mg/hari dan dosis maksimumnya 40 mg/hari; bila seseorang minum 3x sehari 2 tablet, berarti dosis maksimumya belum dilampaui. Tapi ini dianggap tidak lazim karena dengan 3x sehari 1 tablet sudah tercapai efek terapi yang optimal.

Jenis-jenis dosis lainnya

a. Dosis terapi, takaran obat yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan penderita.

b. Dosis minimum, takaran obat terkecil yang diberikan yang masih dapat menyembuhkan dan tidak menimbulkan resistensi pada penderita.

c. Dosis maksimum, takaran obat terbesar yang diberikan yang masih dapat menyembuhkan dan tidak menimbulkan keracunan pada penderita.

d. Dosis toksik, takaran obat dalam keadaan biasa yang dapat menyebabkan keracunan pada penderita.

e. Dosis letal, takaran obat dalam keadaan biasa yang dapat menyebabkan kematian pada penderita. Dosis letal terdiri dari L.D 50 dan L.D 100. L.D 50 yaitu takaran yang menyebabkan kematian pada 50% hewan uji. Sedangkan L.D 100 adalah takaran yang menyebabkan kematian pada 100% hewan uji

Perhitungan Dosis

(17)

Pemilihan dan penetapan dosis memang tidak mudah karena harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu:

a. Faktor penderita; meliputi umur, berat badan, jenis kelamin, luas permukaan tubuh, toleransi, habituasi, adiksi dan sensitivitas, serta kondisi penderita.

b. Faktor obat meliputi; sifat fisika kimia obat, sifat farmakokinetik (ADME), dan jenis obat.

c. Faktor penyakit; meliputi sifat dan jenis penyakit, serta kasus penyakit.

Penyesuaian Dosis

Penyesuaian dosis dilakukan pada beberapa kondisi, diantaranya:

a. Pasien gangguan ginjal b. Pasien gangguan hati c. Pasien obesitas d. Pasien geriatri II. Interaksi Obat

Interaksi obat adalah modifikasi efek suatu obat akibat obat lain yang diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan sehingga keefektifan atau toksisitas satu obat atau lebih berubah. Efeknya bisa meningkatkan atau mengurangi aktivitas atau menghasilkan efek baru yang tidak dimiliki sebelumnya.

Interaksi obat dengan obat merupakan peristiwa interaksi obat yang terjadi sebagai akibat penggunaan bersama-sama dua macam obat atau lebih. Interaksi ini dapat menghasilkan efek yang menguntungkan tetapi sebaliknya juga dapat menimbulkan efek yang merugikan atau membahayakan. Meningkatkan kejadian interaksi obat dengan efek yang tidak diinginkan adalah akibat makin banyaknya dan makin seringnya penggunaan apa yang dinamakan polifarmasi atau multiple Drug Therapy (Katzung 2007).

Berdasarkan mekanismenya interaksi obat dapat dikelompokkan menjadi:

a. Interaksi Farmakokinetik

Interaksi pada proses absorpsi dapat mengubah kecepatan absorpsi dan ketersediaan hayati obat. Namun untuk obat yang diberikan berulang perubahan kecepatan absorpsi sudah tidak bermakna klinis jika dibandingkan perubahan ketersediaan hayati. Obat yang memiliki kisar terapeutik sempit, perubahan ketersediaan hayati dapat menyebabkan kegagalan terapi. ketersediaan hayati obat yang

(18)

diberikan per oral dipengaruhi oleh senyawa atau interaktan yang ada bersama obat dimana masing-masing dapat mengurangi jumlah obat yang diabsorpsi dengan berbagai mekanisme. Mekanisme yang umum terjadi diantaranya pembentukkan khelat yang tidak terabsopsi, adsorpsi oleh adsorben, perubahan Ph dan mortilitas saluran gastrointestinal (Hakim 2012).

5) Absorbsi

Absorbsi dari obat di saluran pencernaan dapat dipengaruhi oleh pemakaian yang bersamaan dari senyawa lain yang memiliki luas permukaan yang besar dimana obat dapat diserap, mengikat atau khelat, mengubah pH lambung, mengubah motilitas GI, atau mempengaruhi perpindahan protein contohnya P- glicoprotein (Katzung 2007).

6) Distribusi

Mekanisme yang menyebabkan perubahan interaksi obat pada proses distribusi obat adalah kompetisi pada plasma protein yang terikat, terjadi perpindahan tempat pengikat jaringan dan perubahan pada jaringan pelindung lokal, contoh penghambat P-glycoprotein di pelindung darah otak (Katzung 2007).

7) Metabolisme

Metabolisme obat dapat distimulasi atau dihambat oleh terapi yang bersamaan. Rangsangan pada isozime sitokrom P450di hati dan usus kecil dapat disebabkan oleh obat seperti barbiturat, karamazepin, phenitoin, rifampisin dan lain-lain. Penginduksi Enzim dapat juga meningkatkan aktivitas dari fase II metabolisme glucoronidasi. hasil induksi enzim tidak dapat bekerja dengan cepat, efek maksimalnya biasanya terjadi setelah 7-10 hari dan memerlukan waktu yang sama atau lebih lama untuk menghilangkan setelah penginduksi enzim dihentikan.

Obat yang mampu menghambat metabolisme sitokrom P450 dari obat lain termasuk kloramphenikol, eritromisin, isoniazid dan omeprazole (Katzung 2007).

8) Eksresi

Interaksi yang mempengaruhi eksresi umumnya mempengaruhi transport aktif di dalam tubulus ataupun efek pH pada transport pasif dari asam lemah dan basa lemah. Dalam kasus terbaru, ada sedikit obat yang secara klinis dipengaruhi oleh perubahan pH urin, seperti fenobarbita dan salisilat. perubahan presentasi sodium pada ginjal mempengaruhi eksresi dan level serum lithium (Tatro 2009).

(19)

Pasien yang Rentan Terhadap Interaksi Obat

Efek dan keparahan interaksi obat dapat sangat bervariasi antara pasien yang satu dengan yang lain. Beberapa faktor dapat mempengaruhi kerentanan pasien terhadap interaksi obat, diantaranya adalah:

a. Orang lanjut usia (Geriatri)

b. Orang yang minum lebih dari satu macam obat

c. Pasien yang mempunyai gangguan fungsi ginjal dan hati d. Pasien dengan penyakit akut

e. Pasien dengan penyakit yang tidak stabil

f. Pasien yang memiliki karakteristik genetik tertentu g. Pasien yang dirawat oleh lebih dari satu dokter

Level Signifikasi Klinis dan Implikasi Klinis Interaksi Obat

Signifikansi adalah derajat dimana obat yang berinteraksi akan mengubah kondisi pasien. Signifikansi klinis dikelompokkan berdasarkan keparahan dan dokumentasi intraksi yang terjadi. Derajat keparahan akibat interaksi diklasifikasikan berdasarkan penilaian:

Menurut Drug Interaction Checker

Menurut Drug Interaction Checker level signifikansinya dikelompokkan menjadi:

Penilaian Signifikan Interaksi Menurut Drug Interaction Checker

Penilaian Arti Penilaian

Major Sangat signifkan secara klinis. Hindari kombinasi risiko lebih besar dari manfaat.

Moderate Cukup signifikan secara klinis. Biasanya kombinasi dihindari menggunakan hanya dalam keadaan khusus.

Minor Minimal signifikan secara klinis. Risiko minimal, minimalkan risiko dengan mencari alternatif untuk menghindari risiko atau lakukan pemantauan.

Sumber : Drug Interaction Checker

Tes Formatif 5

1. Apoteker penanggungjawab apotek mendapatkan resep sebagai berikut.

(20)

R/ Methyl Prednisolon 1,6 mg CTM 2 mg GG 20 mg SL q.s mf. Pulv dtd No X S 3 dd 1 pulv

Pro : Anak Dera (2 Tahun)

*methyl prednisolon yang tersedia 4 mg

Berapakah (tablet) methyl prednisolon yang gunakan untuk resep tersebut?

A. 2 B. 3 C. 4 D. 5 E. 6

ANSWER: C

2. Seorang pasien datang ke apotek membawa resep yang berisi : R/ asetosal 200mg

mf pulv dtd X s. 3 dd pulv 1 (prn)

Pro: an. (5 tahun)

Menurut Farmakope Indonesia Edisi III dosis maksimum asetosal satu kali pakai 1000mg. Berapa miligram dosis maksimum satu kali pakai untuk anak tersebut?

A. 33,33 B. 250,00 C. 294,11 D. 416,67 E. 1000,0 ANSWER: C

(21)

3. Seorang pasien membawa resep insulin ke Apotek. Dalam resep tersebut tertulis S 1 dd 35 U. Berapa ml insulin dari suatu kemasan beretiket “insulin U-100” yang harus digunakan?

A. 35 B. 3,5 C. 0,35 D. 0,035 E. 0,003 ANSWER: C

4. Seorang perempuan datang ke apotek untuk membeli obat untuk anaknya yang mengalami diare. Pasien (usia 2 tahun) mengalami diare (tidak berlendir dan tidak berdarah) sejak sehari yang lalu. Kemudian apoteker merekomendasikan obat yang salah satunya zink untuk mengatasi kondisi pasien. Bagaimana aturan pakai dan lama penggunaan obat tersebut?

A. 10 mg sekali sehari selama 10-14 hari B. 20 mg sehari sekali selama 10-14 hari C. 10 mg sehari sekali selama diare D. 20 mg sehari sekali selama diare E. 20 mg dua hari sekali selama diare ANSWER: A

5. Pasien datang ke apotek dengan membawa resep yang berisi propanolol (S.1dd.1tab), captopril (S.2dd. 25mg), spironolakton(S1.dd.1tab), dan digoksin(S1.dd.1tab). Apoteker melakukan skrining terhadap resep tersebut terkait DRP yang mungkin terjadi. Apakah DRP yang mungkin terjadi?

A. Interaksi obat

B. Indikasi tidak diterapi C. Efek samping obat D. Kepatuhan obat E. Tidak tepat dosis ANSWER: E

(22)

6. Apoteker penanggung jawab apotek menerima resep dengan komposisi Ciprofloxacin 500 mg sebanyak 15 tablet dan antasida 10 tablet. Dari hasil skrining resep ditemukan adanya interaksi obat. Apakah Informasi yang diberikan apoteker untuk mencegah interaksi obat tersebut?

A. Ciprofloxacin dan Antasida diminum bersamaan setelah makan B. Ciprofloxacin dan Antasida diminum bersamaan sebelum makan C. Ciprofloxacin dan Antasida diminum saat makan

D. Pemberian Ciprofloxacin dan antasida dijarakkan minimal 2 jam

E. Ciprofloxacin diminum sebelum makan dan Antasida diminum setelah makan ANSWER: D

7. Seorang perempuan dewasa datang ke apotek membawa copy resep yang berisi Candesartan, captopril, HCT, Aspar K dan vitamin B-komplek. Pasien tersebut mengeluh bahwa sudah hampir 2 minggu menderita batuk kering setelah minum obat. Pasien bertanya kepada apoteker mengenai efek samping obat yang menyebabkan batuk kering. Apakah obat yang menyebabkan kondisi tersebut?

A. Candesartan B. Captopril C. HCT D. Aspar K

E. Vitamin B-komplek ANSWER: B

8. Seorang wanita hamil 7 bulan datang ke apotek RS untuk menebus resep yang berisi Ciprofloksasin tablet. Pada saat penggalian informasi diketahui pasien menderita ISK dan mempunyai riwayat alergi terhadap anitibiotik golongan penisilin.

Apoteker menemukan DRP pada obat tersebut dan bermaksud untuk menghubungi dokter untuk memberikan rekomendasi antibiotik pengganti. Apakah antibiotik yang direkomendasikan pada pasien tersebut?

A. Levofloksasin B. Tetrasiklin C. Kloramfenikol D. Cefaleksin E. Gentamisin

(23)

ANSWER: D

9. Seorang pasien CAP datang ke apotek untuk menebus resep rawat jalan yang berisi ciprofloxacin 3x1 dan antasida 3x1. Apoteker melakukan skrining resep dan ditemukan adanya interaksi obat. Apakah informasi yang diberikan ke pasien untuk mengatasi interaksi obat tersebut?

A. Antasida diminum setelah antibiotik habis B. Antibiotik diminum setelah antasida habis C. Kedua obat ini boleh diminum bersamaan D. Kedua obat diminum dengan jeda 10 menit E. Kedua obat diminum dengan jeda 2 jam ANSWER: E

10. Seorang apoteker sedang melakukan skrining resep pasien epilepsi yang mendapatkan progesterone, karbamazepin, aspirin, sianokobalamin, omeprazole dan sukralfat. Apoteker mendeteksi adanya interaksi obat yang dapat menurunkan efek dari progesteron. Manakah obat yang menimbulkan interaksi tersebut?

A. Karbamazepin B. Aspirin

C. Sianokobalamin D. Omeprazole E. Sukralfat ANSWER: A

Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban Tes Formatif 5 yang ada pada modul ini. Hitunglah jawaban yang benar, kemudian gunakanlah rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Modul 5.

Tingkat Penguasaan = Jumlah jawaban yang benar/jumlah soal x 100%

(24)

Arti tingkat penguasaan: 90-10% = baik sekali 80-89% = baik 70-79% = cukup

<70% = kurang

Apabila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan belajar ke Modul 3. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulang belajar di Modul 2, terutama pada bagian yang belum dikuasai.

QR Code Video Pembelajaran

(25)

Daftar Pustaka

1) Allen Jr., L.V.,2002, The Art, Science, and Technology of Pharmaceutical Compounding, 2nd Edition, American Pharmaceutical Association, Washington, D.C.

2) Anonim,2004, USP/NF, 27th Ed., Vol.VII, USP Convention Inc., Rockville.

3) DiPiro, J.T.,Talbert, RL., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M.,2005, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 6th Edition, McGraw Hill, New York.

4) Ritschel W.A. and Kearns, G.L.,2004, Handbook of Basic Pharmacokinetics Including Clinical Applications, 6th Edition, American Pharmaceutical Association, Washington, D.C.

5) Shargel, L.,Wu-pong, S., and Yu, A.B.C.,2005, Applied Biopharmaceutics&

Pharmacokinetics, 5th Edition, McGraw Hill, Boston.

6) Sinko, P.J.,2006, Martin’s Physical Pharmacy and Pharmaceutical Science, 5th Edition, Lippincot Williams & Wilkins, Philadelphia.

7) Thompson, J.E.,2004, A Practical Guide to Contemporary Pharmacy Practice, 2nd Edition, Lippincot Williams & Wilkins, Philadelphia.

8) Williams, R.L., Brater, D.C., and Mordenti, J., 1990, Rational Therapeutics A Clinical Pharmacologic Guide for Health Professional, Marcel Dekker Inc, New York.

9) USP danFarmakope Indonesia.

10)Drugs.com

Referensi

Dokumen terkait