Catatan untuk LKM 3 Beberapa pertimbangan
1. Target minggu ke-3 adalah analisis penggunaan lahan perkotaan dan turunannya (elemen kota, kegiatan masyarakat, termasuk mobilitas).
2. Peta penggunaan lahan perkotaan sudah selesai dibuat oleh mahasiswa sebagai hasil LKM 1, sehingga hanya perlu penghalusan. Pada LKM 1 klasifikasi penggunaan lahan perkotaan yang digunakan adalah PermenATR 14/2021. Klasifikasi lain (Anderson, UK dan lainnya) menjadi pelengkap jika ada
ketidaklengkapan pada permen tersebut.
3. Proses perencanaan penggunaan lahan yang dijadikan sebagai bahan kuliah M3 menjadi rujukan utama untuk kegiatan mahasiswa.
Berdasarkan pertimbangan itu, target minggu ke-3 minimal adalah seperti berikut ini.
1. Analisis ketersedian ruang pengembangan perkotaan. Ini dihasilkan berdasarkan kerangka kerja sederhana seperti dalam diagram ini.
Setiap kelompok melakukan analisis terhadap kawasan perkotaan fungsional berdasarkan informasi pada peta penggunaan lahan yang sudah selesai dikerjakan oleh mahasiswa di LKM 1. Hasil dari analisis ini adalah peta potensi pengembangan ruang perkotaan, yang di dalamnya tergambar (1) kawasan konservasi, (2) kawasan pengembangan bersyarat, dan (3) kawasan pengembangan baru. Dalam
klimatologi topografi geologi hidrologi SD mineral &
galian bencana
karakteristik fisik alamiah penggunaan lahanalam
lahan potensial
lahan limitasi
lahan kendala
status ok?
brown field
tidak
ya
cadangan?
green field
tidak
ya
lahan kendala
lahan potensial
lahan limitasi
syarat fisik syarat non-fisik
penggunaan saat ini penggunaan akan
datang
beberapa hal dengan pertimbangan tertentu, kawasan terbangun eksisting menjadi bagian dari kawasan konservasi.
2. Setelah menyelesaikan tahap 1, mahasiswa melakukan analisis yang didasarkan pada diagram berikut ini.
Langkah kerja dimulai dengan mengerjakan sisi supply untuk memetakan kesesuaian lokasi dan kemampuan ruang (Task 2 dan Task 4 menurut diagram tersebut). Pada Task 2 kelompok menyusun tabel kesesuaian lokasi kegiatan. Tabel tersebut berisi penjelasan tentang syarat lokasi dari kegiatan- kegiatan; misalnya: sekolah berada pada jarak sekian km dari jalan arteri; kawasan perumahan pada jarak sekian km dari jalan, dan sebagainya. Task 4 berisi tabel yang sama, tetapi berisi syarat ruang, misalnya: perumahan berada pada area dengan kemiringan 5-10%. Kedua tabel tersebut menjadi dasar pemetaan kesesuaian lokasi dan kemampuan ruang.
Dengan demikian, hasil dari langkah kedua ini adalah:
a. Tabel kesesuaian lokasi dan kemampuan ruang
b. Peta potensi lokasi dan kemampuan ruang pada kawasan perkotaan
3. Langkah ketiga berkaitan dengan Task 1 dan Task 2. Kedua langkah pada dasarnya adalah analisis kebutuhan, baik kebutuhan jumlah, lokasi maupun ruang. Untuk bisa melakukan langkah ke-3 ini, kelompok harus melakukan prakiraan perkembangan kota, khususnya populasi dan kegiatan ekonomi.
Hasil prakiraan ini di-matching-kan dengan standar lokasi dan standar kebutuhan ruang, sehingga akan ada estimasi kebutuhan sampai akhir tahun rencana, yaitu 2045.
Keluaran dari tahap ke-3 ini adalah:
a. Prakiraan perkembangan populasi baik secara total maupun berdasarkan karakteristik tertentu (umur, pekerjaan, sosial, dan sebagainya).
b. Prakiraan perkembangan kegiatan ekonomi dan sosial.
c. Kebutuhan lokasi dan ruang.
Kelompok dapat menggunakan metode prakiraan kuantitatif (forecasting) dan kualitatif berdasarkan skenario (backcasting atau scenario planning). Perlu menjadi catatan ternyata mahasiswa kita belum mempunyai bekal cukup terhadap metode peramalan tersebut, karena beberapa matkul sebelum Studio ini dilakukan (MAP, Lokasi dan Pola Ruang, dan sebagainya) tidak membahas topik tersebut.