SANG PETARUNG
“HEI, hei! Cewek Babi sudah datang!”
Sambil menulikan telinga dari ejekan berbaur ledakan tawa di seberangku, kupacu langkahku melintasi halaman depan kampus. Pagi ini aku sengaja mengenakan pakaian bernuansa kelam untuk menyamarkan presensiku, tetapi anak- anak itu tampaknya selalu berhasil menemukanku bak predator kelaparan.
Aku berlari kecil menuju loker ketika kudengar langkah-langkah berat menyusul di belakang bahuku. Segelintir anak yang berlalu lalang di koridor mengerling ke arahku sekilas, memutuskan tidak peduli. Aku ingin menarik lengan mereka, menjeritkan permintaan tolong supaya dijauhkan dari orang-orang yang merundungku, tapi keberanianku tak cukup besar untuk melakukannya.
Aku bergerak secepat mungkin. Tanganku yang gemetar memasukkan serangkaian kode, dan aku langsung memindahkan ransel ke dalam loker. Kuambil beberapa buku beserta tepak usang berisikan alat tulis. Napasku memburu. Aku harus segera pergi sebelum—
“Berusaha mengabaikan kami, Babi Gendut?”
Jantungku mencelus. Mengedarkan pandang takut-takut, kudapati lima sosok pemuda mengelilingiku dengan posisi setengah melingkar. Seperti yang sudah- sudah, tidak ada satu pun anak yang tergerak menolongku. Mereka hanya sebatas penonton kasat mata, menemukan setitik keseruan dari penderitaan yang dialami orang lain.
“J-jangan ganggu aku, Franz,” kataku, bibirku bergetar. “Pergilah.”
Air mata menyengat sepasang mataku, terancam tumpah. Ya Tuhan. Tolong selamatkan aku—setidaknya untuk kali ini saja. Aku berjanji di lain hari aku akan berusaha melawan mereka dengan caraku sendiri. Satu kali saja. Kumohon.
Bel pertanda masuk berderang keras ke sepenjuru koridor. Di depanku, Franz mengatupkan rahang, kentara kesal karena kegiatan favoritnya tertunda. Namun, sejurus kemudian, seringaian keji terlukis di bibirnya, mengingatkanku bahwa dia
belum selesai denganku. “Sampai bertemu lagi, Babi.”
Begitu Franz dan antek-anteknya pergi, aku berjalan ke kelas sembari menenangkan diri. Suasana di sana tidak lebih baik. Bisik-bisik menyertaiku selagi kududukkan tubuh di kursi, tergesa-gesa hingga kursiku berderit berisik—memicu kikik geli kawan kelasku. Kutundukkan kepala serendah mungkin, menahan rasa malu.
Aku tidak menyimak pelajaran seharian itu. Nyawaku baru terkumpul penuh kala suara bel pulang mengudara. Teringat ancaman Franz, aku mengepaki barang- barang, lantas meluncur keluar kelas. Aku hendak berlari sewaktu kakiku terjegal keras oleh sesuatu, mengakibatkan tubuhku limbung ke lantai.
“Kejutan, Babi!”
Tawa melengking familier memenuhi indra pendengaranku. Franz menatapku kegirangan bagaikan orang sinting. Aku menolehkan kepala ke sembarang arah, berharap menemukan salah seorang guru yang dapat membantuku. Akan tetapi, komplotan Franz semakin merapatkan diri, menutupiku, membentuk formasi lingkaran setan.
Sudah cukup. Aku memunguti barang-barangku dan melompat bangkit. Mereka terkesiap kaget, refleks tubuh mendorong mereka mundur. Kumanfaatkan kesempatan emas itu untuk berlari—melampaui batas kemampuanku sendiri. Franz berteriak memanggilku. Aku tidak menoleh. Aku terus berlari, mengabaikan berpasang-pasang mata yang tertuju kepadaku.
Setibanya di bangunan kumuh bertingkat dua—rumahku, kedatanganku disambut Nero, adik laki-lakiku sambil menggendong Tabby, kucing putih kepunyaan kami yang saat ini tengah hamil. Biasanya perasaanku membaik setelah melihatnya, tetapi rasa sakit di hatiku masih menetap di sana, siap meluluhlantakkanku.
Nero menelengkan kepalanya. “Kak Neyra kenapa—”
Aku mengabaikan Nero, bergegas naik ke kamar. Nero tidak boleh melihatku seperti ini—kembali dalam keadaan berantakan. Kukunci pintu kamar rapat-rapat,
kemudian tubuhku ambruk. Dada serta perutku digulung-gulung sensasi nyeri.
Kubungkam tangisku dengan telapak tangan, takut isakanku terdengar ke luar kamar.
Mengapa harus aku? Mengapa hanya aku? Banyak orang mengatakan setiap jiwa pantas mendapat kebaikan, tapi kenapa aku bahkan tidak dapat merasakan secicip bagiannya? Kata orang, kebaikan itu tak terbatas, tapi kenapa yang kutuai justru kepahitan dan kesengsaraan? Apakah aku perlu menjadi manusia tanpa celah untuk mendapatkan semua itu? Apakah ragam fisik menjadi tolak ukur baik tidaknya seseorang diperlakukan?
Aku merangkak ke meja belajar, meraih sebilah cutter. Kupandangi benda itu.
Hasrat gelap membungkus sekujur tubuhku, membisikkan dorongan mengakhiri penderitaan ini dengan bilah berkaratnya. Menyudahi hidupku. Toh, siapa yang bakal peduli pada Cewek Babi Jelek semacam aku? Tidak ada, ‘kan?
Meski demikian, keraguan tetap melandaku. Benarkah ini yang kudambakan?
Benarkah ini jalan akhirnya? Frustasi, kulempar benda itu ke sembarang tempat seraya membaringkan diri di lantai, bergelung laksana janin. Aku memejamkan mata, terisak-isak pelan, dan lambat laun jatuh ke lubang ketidaksadaran.
Melewati sekian embusan napas dan detak jantung, aku terbangun di suatu tempat berupa hamparan luas rerumputan. Langit biru cerah tanpa awan terlukis jauh di atas kepalaku, indah nan mengagumkan. Di mana aku? Terakhir kali kucek, aku sedang berada di kamarku, dilanda kesemrawutan tak berujung.
“Tenang. Kau ada di suatu tempat yang aman.”
Aku menoleh ke sumber suara. Satu sosok pria berjaket putih dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya duduk bersimpuh di sebelahku, lengannya melingkar di seputar lututnya yang berlapis celana jeans senada. Mataku mengerjap bingung, bertanya-tanya siapa gerangan sosok ini.
“S-siapa kau?” tanyaku.
“Tergantung kau menyebutnya apa,” jawabnya.
Penampilannya sedikit banyak mengingatkanku pada sosok malaikat.
“Bagaimana kalau Guardian?” ucapku.
Dia tertawa pelan. “Boleh saja.”
Aku menyuarakan pertanyaan yang sedari tadi mengusik kepalaku. “Bagaimana bisa aku berakhir di sini? Dan kau … mengapa kau ada bersamaku, Tuan Guardian?”
Tuan Guardian memandang lurus ke depan. “Kau berencana menyudahi kisahmu. Mari katakan tugasku di sini adalah untuk mengajakmu ‘berbincang’
sebentar sebelum kau menentukan pilihanmu.”
Aku tersenyum lemah, menyadari alur pembicaraannya. “Apa yang perlu diperbincangkan?” kataku. “Aku tidak punya … semacam alasan untuk melanjutkan hidup. Kau tahu, nasibku di dunia nyata … terbilang menyedihkan.”
“Kau yakin soal itu?” Tuan Guardian melambaikan tangannya lembut. Sebuah lingkaran cahaya berkerlap-kerlip muncul di hadapanku, bagian dalamnya memproyeksikan keadaan rumahku laksana pemutar video magis.
Napasku tersekat. “Kau—”
“Bukankah mereka pantas kau jadikan alasan?” tanyanya. “Orang-orang yang menyayangimu sebagaimana kau menyayangi mereka?”
Aku memakukan pandang ke figur Mom, terlihat beberapa tahun lebih muda, tengah menggendong seorang bayi perempuan di lengannya. Di sampingnya ada Dad, duduk di kursi, jemari telunjuknya mengelus pipi gembil si bayi dengan mata yang berkaca-kaca. Senyuman tulus menghiasi wajah mereka, memancarkan kasih sayang tak terbatas kepada bayi itu. Padaku.
Adegan berganti, menampilkan Mom yang kini memasak di dapur, wajahnya diliputi keringat, tapi tekad terpancar jelas di sana. Tak jauh dari sana, Dad membantu Mom menyiapkan makan malam, sesekali bibirnya membisikkan kata- kata yang membuat Mom tertawa lepas. Nero bergabung bersama mereka, duduk bersila di lantai, tangan kecilnya mengelus perut Tabby yang membesar.
“Aku sudah banyak bertemu dan bicara dengan orang yang berniat mengakhiri kisah mereka.” Tuan Guardian ikut menyaksikan apa yang kulihat. “Percayakah kau
padaku jika kukatakan rasa sakitnya tidak berhenti padamu seorang—melainkan tersalurkan pada orang lain? Pada orang-orang yang mencintaimu? Bagaimana jika, mereka sebetulnya ingin melihatmu, putri tercinta mereka, tumbuh menjadi sosok dewasa, tetapi mereka tak berkesempatan menyaksikannya karena kau mengambil keputusan itu?”
Aku menatap lagi ke arah lingkaran cahaya itu. Lama sekali. Mengamati kehangatan keluarga kecilku. Jika aku pergi … aku niscaya tak mampu bertemu mereka semua, tak mampu menikmati momen-momen berharga dengan mereka.
Juga bertemu bayi-bayi Tabby yang sangat kunantikan kelahirannya sejak dulu.
“Bagaimana, Neyra? Apakah kau akan kembali, atau tetap berpegang teguh pada keputusanmu?” tanya Tuan Guardian. “Karena waktu kita … kian menipis.”
Aku menggigit bibir, cairan bening menggenangi kelopak mataku. Aku mencintai Mom. Dad. Nero. Tabby. Aku tidak sanggup meninggalkan mereka. “Kupikir … kupikir aku ingin kembali.”
Tuan Guardian berdiri dengan gerakan ringan, tangannya diulurkan kepadaku.
“Itu adalah jawaban yang ingin kudengar.”
Saat aku menerima uluran tangannya, dunia penuh kedamaian berangsur memudar, membuatku kebingungan. Aku bermaksud menanyakan apa yang terjadi kala Tuan Guardian mendekatiku, kepalanya berada tepat di sebelah telingaku.
“Teruslah berjuang, Neyra. Dunia membutuhkanmu.”
Mataku sekonyong-konyong terbuka. Sambil terengah-engah, aku beringsut duduk, berusaha menghimpun ulang keping-keping memori terkait kejadian yang baru saja kualami. Duduk di hamparan rumput, berbicara dengan sesosok pria berpakaian serba putih ...
Aku berdiri secepat kedipan mata. Mengabaikan penampilanku yang awut- awutan dan dibanjiri keringat dingin, aku lari terhuyung-huyung ke lantai bawah, langsung ke dapur. Tanpa banyak berpikir, aku menghambur ke sosok Mom, merengkuh tubuhnya dari belakang. Anggota keluargaku yang lain menatapku terkaget-kaget, tetapi penjelasan bisa menyusul nanti.
“Eh, Neyra, Mom sedang memasak!” ujar Mom. “Kau ini kenapa?”
Aku membenamkan wajahku di ceruk leher Mom, menghirup aromanya yang tak asing. “Sebentar, Mom. Sebentar saja. Jangan tanya.” Kupejamkan mata, mengeratkan rengkuhanku.
Mom menghela napas. “Yah, baiklah. Memasak sambil dipeluk anak gadisku yang manis? Boleh juga.”
Aku tertawa dengan mata yang menghangat. Ya ampun. Aku cengeng banget.
“Aku menyayangimu, Mom. Dad dan Nero juga.”
Sesuai janjiku tadi, aku akan berjuang dengan caraku sendiri. Mulai detik ini, aku akan berjuang demi diriku sendiri dan orang-orang yang kucintai.
Karena aku adalah Neyra, sang petarung. Dunia membutuhkanku.[]
IDENTITAS PENULIS
Nama lengkap: Ayunda Ibrahim Haj ID Instagram : @ayundaibrahim Nomor Whatsapp: 089603393874 E-mail: [email protected]
Alamat: Jl. Jogoyudho Plipir gang 1 no. 111, Sekardangan, Sidoarjo, 61215