PUTHUT EA
Menanam Padi di Langit Puthut EA
© EA Books, 2015
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Pemeriksa Aksara: Eko Susanto
Desain Sampul dan Tata Letak: Hamzah Ibnu Dedi Cetakan Pertama, 2008 oleh Ark Gallery
Cetakan Kedua, 2015 oleh EA Books 309+ix hlm, 14x21 cm
ISBN: 978-979-17943-0-5 EA Books
Drono, Gang Elang 6E No 8 RT 4 RW 33, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta 55581
Untu:
Blora Frida, Bintang,
Bima dan Panji
pernah kamu katakan kepadaku, S,
“Bung, kta telah tia d suatu mus m,
d mana kalau k ta tdak mengerjakan sesuatu,
orang akan nyny r dan s n s kepada kta,
dan kalau kta mengerjakan sesuatu, mereka berubah menjad sangat cerewet.
Padahal tak ada pada mereka, kerja dan karya.”
DAFTAR ISI
Pengantar: Cetakan Kedua —viii Prolog: Kekacauan di Bandara — 1 Anak Gereja dan Virus Tante Rosa — 15
Ibunya Lima — 31
Gampang Tertawa, Gampang Menangis— 41 Mozaik Eksterior — 53
Mozaik Interior — 63 Forum Adu Goblok — 81
Cah Lor-Cah Kidul — 93 Memintal Benang Merah — 107
Steak Daging Kacang Ijo — 119 Njeglek! — 145
Mendongkel Kursi Tua — 159 Taring Padi Unjuk Gigi — 171
Hal Seperti Ini Sudah Cukup Buatku — 185 Anaknya Tiga, Sulung Semua — 203 Jari Kelingking dan Rasa Bersalah — 221
NIN — 241
Jejaring Yang Khas — 261
Ketika Sampah Bisa Menjadi Emas — 277 Epilog: Nandur Pari Neng Awang-awang — 289 Bahan Bacaan dan Sumber Wawancara — 306
Ucapan Terimakasih — 308
viii
Pembaca yang budiman...
D
I antara sekian banyak buku saya, buku ini adalah buku yang paling menguras energi saya, sekaligus memberi tantangan yang besar. Mungkin karena hal tersebut, saya merasa buku ini sebagai salah satu buku yang saya sukai.Namun, cetakan pertama buku ini menyimpan kekeliruan yang sekalipun terlihat kecil, tapi besar artinya bagi saya. Ada satu kutipan hasil wawancara yang keliru. Karena saat itu sudah telanjur dicetak, saya tidak bisa memperbaikinya, dan tidak saya tak punya cukup medium untuk menyampaikan kekeliruan tersebut. Dengan terbitnya cetakan kedua ini, saya telah memperbaiki kekeliruan tersebut, sekalipun harus menunggu kurang-lebih sampai 7 tahun.
PENGANTAR: CETAKAN KEDUA
ix
Khusus untuk cetakan kedua ini, sekali lagi saya harus menyampaikan ucapan terimakasih kepada Ark Gallery yang membiayai pembuatan buku ini ketika terbit pertama kali.
erimakasih juga untuk Ayos Purwoaji, Dewi Kharisma Michellia, dan Nuran Wibisono. Ketiga orang tersebut telah mengapresiasi buku ini jauh hari, sebelum ada tanda-tanda untuk dicetak ulang. Mereka bertiga juga berkenan membaca lagi dan memberikan endorsement untuk buku ini. erimakasih untuk Hamzah Ibnu Dedi yang membuat sampul dan menata halaman demi halaman buku ini, termasuk Azka yang telah membantu memberi masukan soal perwajahan buku. Kepada Wijaya Eka Putra, saya juga berhutang budi karena berkenan menerbitkan buku ini lagi.
Ketika buku ini ditulis, saya belum menikah dan memiliki anak. Kini di samping saya sudah ada seorang istri yang baik dan penyabar, dan seorang putra yang lucu dan menggemaskan.
erimakasih untuk Diajeng Paramita dan Bisma Kalijaga, istri dan anakku.
Selamat membaca...
Yogya, 31 Desember 2015 Puthut EA
ix
Prolog:
Kekacauan di Bandara
3
S
ORE itu, Jakarta gerah. Di bilangan Kemang, di salah satu rumah yang pagarnya senantiasa tertutup rapat, sebuah benih kekacauan mulai berkecambah. etapi tidak ada seorang pun yang mengira, di malam harinya, benih kekacauan itu dengan cepat mengeluarkan sulur dan siap melilit leher beberapa orang yang berada di dalam rumah itu.Sore itu, Heidi, si penyewa rumah itu, sedang menerima tamu di pinggir kolam renang. Sementara, beberapa orang terdengar berbicara keras dari ruang tamu. Hari itu adalah Jumat tanggal 7 Maret 2008, bertepatan dengan hari raya Nyepi. Karena hari itu libur, Heidi sengaja sengaja bangun tidur di siang hari.
Di ruang tamunya yang luas dan nyaman, sembilan lukisan dengan tinta yang masih basah tersender di beberapa bagian tembok. Sekalipun di bagian tertentu lantai yang disulap dalam waktu singkat untuk melukis sudah digelari karpet tipis, namun tetap saja, bercak tinta berleleran di bagian lantai yang lain. Bahkan beberapa bagian dinding yang bercat putih bersih pun tertempel bercak-bercak tinta. idak ada seorang pun yang kebetulan di sana saat itu, yang bisa menebak perasaan Heidi, atau mungkin lebih tepatnya tidak peduli. Mereka yang berkumpul di ruang itu adalah para kawan lama Heidi.
Heidi bangun tidur sekitar pukul dua siang. Begitu bangun tidur dan membuka kamar, ia mendapati Bob Sick masih asyik melukis. Heidi mengambil air minum dan sempat memperhatikan sejenak aktivitas Bob. Mereka tidak sempat bertegur sapa. Bob tidak menyapa Heidi, dan Heidi pun tidak menyapa Bob. Posisi Bob memunggungi Heidi. Bisa jadi, Bob memang tidak sadar kalau ada seseorang yang sedang memperhatikan kegiatannya melabur kanvas dengan cat minyak.
Di ruang itu, ada meja kayu panjang diapit dua kursi kayu yang juga panjang tanpa sandaran. Di meja itulah biasanya Heidi sarapan dan membaca koran. Biasanya, di meja itu ada dua jenis koran: Jakarta Post dan Kompas. Lalu ada setumpuk
3
4
majalah seperti ime dan empo edisi berbahasa Inggris. Lalu ada beberapa katalog pameran. Namuan semenjak kedatangan kawan-kawan lamanya, meja panjang itu bertambah beban:
beberapa bungkus rokok, asbak yang penuh, abu rokok bertebaran, dan juga ceceran nasi serta gelas-gelas kotor bekas kopi dan minuman anggur. Juga beberapa kaleng bir yang belum terbuka dan setengah botol wiski.
Di dekat meja itu, tepat di depan kamar mandi, tergeletak eddy. Begitu melihat eddy tertidur di lantai, Heidi langsung
maklum, pasti eddy tertidur karena mabuk berat.
Di ruang itu pula, terdapat satu set sofa. Dan di salah satu kursi sofa, oni tertidur.
epat di saat itu, Bob membalikkan badan, ia ingin membuat kopi. Begitu melihat Heidi sudah bangun dari tidur dan berada di ruang itu, mereka saling tersenyum, bertegur sapa, semacam mengucapkan selamat pagi, sekalipun hari telah siang.
Selesai membuat kopi, Bob duduk di kursi dan berbincang dengan Heidi. Saat itu, dengan bahasa yang susah didengar oleh telinga orang yang tidak biasa mendengar suaranya, Bob berkata bahwa semalam ia tidak tidur. Bob merokok bebeapa batang, lalu melukis kembali.
Heidi sempat berdiri dan mendekat ke arah Bob yang sedang asyik bermain warna. Perempuan berwarga negara Australia itu sempat bertanya mengapa Bob kadangkadang melukis dengan kanvas tersandar di dinding, tapi kadang-kadang juga di lantai.
Bob saat itu menjawab, karena ia ingin ada lelehan cat di kanvasnya. Efek lelehan itulah yang sedang dikerjakannya saat itu. Heidi sempat mangut-manggut, tapi ia sempat juga bilang kalau Pollock juga mempunyai efek lelehan di lukisannya, namun melukis dengan kanvas terlentang. Setelah itu Heidi masuk kamar untuk mandi. Sebentar lagi, tamunya akan datang. Hari itu, jam tiga sore, ia ada janji untuk diwawancarai oleh seorang penulis.
5
idak lama kemudian, seorang laki-laki muncul dari kamar yang berbeda. Ia menenteng laptopnya, lalu meletakkan dan membuka laptop itu di atas meja kayu. Coki Nasution, nama laki- laki itu, tidak menyapa Bob. Ia asyik sendiri dengan laptopnya.
Sudah sejak tiga bulan sebelumnya, Coki menumpang di rumah Heidi karena kebetulan ia sedang ada proyek pembuatan sebuah film dokumenter tentang flu burung.
Hanya berselang sepuluh menit kemudian, ibu penjaga rumah Heidi masuk, memberi tahu kalau tamu yang sudah janjian dengn Heidi telah datang. Si tamu kemudian menyusul masuk, duduk di kursi berhadapan dengan Coki, dan sejenak mendekati Bob untuk berbasa-basi. Setelah itu ia kembali duduk di kursi kayu dan berbicang dengan Coki, sembari menunggu Heidi selesai mandi.
Di bagian tertentu dinding rumah itu, terdapat sketsa Samuel Indratma. Dan yang selalu menarik perhatian siapapun yang baru datang ke rumah itu pastilah sebuah hiasan: sepasang sepatu berwarna hijau digantung di dinding dan dipigura. Seandainya toh tidak ada sembilan kanvas besar yang masih basah oleh cat, siapapun yang datang pasti langsung bisa menebak kalau Heidi, si empunya rumah, pastilah seorang pencinta seni.
Heidi keluar dari kamar dengan wajah segar dan rambut yang masih basah. Mereka bertiga, Heidi, Coki dan si tamu, berbincang hangat. Sesekali, jika tertarik dengan isi perincangan, Bob menimpali sembari terus melukis.
Dari kamar yang berbeda lagi, seorang laki-laki tinggi berkepala pelontos keluar. Ia langsung mendekati Bob, mengamati dari dekat bagaimana Bob melukis. Namun tidak lama kemudian ia pun ikut bergabung di meja panjang untuk berbincang bareng.
Lakilaki itu bernama Bowo, tetapi teman-teman dekatnya memanggilnya dengan sebutan Jemek.
Setelah beberapa saat, Heidi memutuskan agar wawancara dilakukan di halaman samping, di dekat kolam renang, agar kelak
5
6
jika eddy dan oni terbangun dari tidur, proses wawancara tidak terganggu.
Di dekat kolam renang, terdapat juga beberapa kanvas. Kanvas yang di luar, dalam ukuran yang juga sama besarnya dengan kanvas-kanvas yang berada di dalam ruangan. Hanya saja, kanvas- kanvas itu hanya dicoret dengan arang, lalu diberi tandatangan:
S. eddy. D.
Wawancara dimulai. Suasana masih sepi. Hanya pelan terdengar perbincangan antara Jemek dan Coki, tetapi itu tidak mengganggu proses wawancara.
---
eddy, Bob dan oni datang ke Jakarta sehari sebelumnya, hari Kamis. Mereka sedang terlibat proyek dengan Jemek. Sebelum datang, mereka bertiga berpesan agar disediakan kanvas dan perangkat melukis, dan tentu saja minuman beralkohol. Mereka bertiga bilang, seusai pembahasan tentang proyek itu, mereka ingin melukis dan menginap di tempat Heidi.Jemek tentu saja dengan senang hati mempersiapkan apa saja yang diminta oleh ketiga pelukis tersebut. Bahkan, ia membeli karpet plastik untuk berjaga-jaga agar lantai rumah Heidi tidak kotor, walaupun toh akhirnya usaha itu sia-sia belaka. Sebab bukan hanya lantai yang kotor, melainkan juga tembok rumah.
Sepanjang malam, seusai membahas sebuah proyek di daerah Kedoya, eddy, Bob dan oni melukis sembari menenggak minuman keras. Hingga akhirnya oni tertidur di sofa, eddy terkapar di lantai, dan hanya Bob yang terus melukis sampai sore harinya tanpa tertidur.
eddy, Bob dan oni, berencana pulang ke Yogya Jumat malam.
iket pesawat telah tersedia. Jadwal penerbangan mereka pukul tujuh malam. etapi karena hari itu adalah hari libur, mereka tidak perlu bergegas karena di saat libur, jalanan di Jakarta tidak macet.
7
Sampai pukul empat sore, suasana masih baik-baik saja. Satu jam lagi, menurut rencana, mereka bertiga akan berangkat ke bandara. oni mulai bangun, juga eddy. Mereka bahkan masih sempat menerima kedatangan dua orang kawan lama mereka.
Di halaman samping, wawancara masih berjalan. Kegaduhan di ruang tamu belum cukup mengganggu jalannya wawancara.
---
D
i ruang tengah, begitu terbangun dari tidur, eddy langsung menengak lagi minuman keras yang masih tersisa di meja. Mereka yang berada di ruangan itu juga minum. Lambat namun pasti, benih-benih kekacauan mulai tertebar.Secara bergantian, oni dan eddy sesekali menuju haaman samping, dan semenjak itulah proses wawancara mulai terganggu.
Kadang-kadang oni datang, lalu ikut nimbrung wawancara.
Dan kadang-kadang eddy datang, lalu meracau. Sore itu, eddy terlihat mabuk berat. Hanya sekali saja, Bob datang ke halaman samping. Ia hanya duduk diam, mengisap rokok. Bob pun terlihat mabuk berat.
iba-tiba oni bilang kalau ia menggagalkan rencananya untuk pulang hari itu. Ia bilang, ada hal yang harus dibicarakannya dengan Heidi.
Waktu menggiring Bob dan eddy untuk segera berkemas.
etapi semua mendadak serba kacau. Bob terus bergeming walaupun sudah diingatkan agar segera berkemas, dan eddy malah sibuk berjalan mondar-mandir sambil mengeluarkan kata- kata yang serba tidak jelas.
aksi panggilan datang. Bob akhirnya bangkit menuju pintu keluar. Sementara eddy masih sibuk mencari kaus kakinya.
Akhirnya ia menemukan kaus kaki, entah milik siapa, yang jelas ia memakai kaus kaki sebelah kanan berwarna hitam dan sebelah kiri berwarna abu-abu. Dan yang lebih gila lagi, ia mengambil celana dalam, juga entah milik siapa, lalu celana dalam itu dipakai
7
8
untuk membungkus kepalanya.
Wawancara selesai sesaat setelah Bob dan eddy pergi. Malam itu, Heidi punya janji dengan Dolorosa Sinaga untuk sebuah urusan. Begitu tahu Heidi akan bertemu Dolorosa, oni bilang ingin ikut. Heidi tidak keberatan. Heidi masuk kamar untuk mempersiapkan kepergian. Ketika ia keluar kamar beberapa menit kemudian, ia sudah mendapati oni tertidur. Lebih tepatnya, oni mabuk berat, lalu tertidur.
Setiap kali Heidi membangunkan oni, selalu saja oni menjawab, “Oke, oke…” api kemudian tertidur lagi. Begitu terus, sampai berkali-kali. Sambil sesekali mengingatkan, lebih tepatnya membangunkan oni, Heidi berbincang dengan Coki dan Jemek. Perbincangan itu sendiri sebetulnya sudah ‘beda frekwensi’, Heidi segar bugar, sementara Coki dan Jemek sudah
‘agak tinggi’ karena pengaruh alkohol.
Di saat jam mendekati pukul tujuh malam itulah, Jemek memencet tombol telepon genggam. Ia mencoba mengecek eddy dan Bob yang sudah seharusnya berada di bandara, dan mungkin pesawat yang mereka tumpangi sedang bersiap untuk tinggal landas.
Pertama, Jemek menghubungi telepon genggam eddy. etapi gagal. Dan Jemek saat itu berpikir, mungkin sudah masuk kabin pesawat. Lalu secara iseng, ia menghubungi telepon genggam Bob. Di saat itulah, ketika Bob menjawab panggilan teleponnya, Jemekkontan berdiri dan mengeluarkan kata-kata, “Di kantor
polisi?!”
Begitu Jemek mengeluarkan kalimat seperti itu, kekhawatiran merambat di ruangan jembar yang masih penuh dengan aroma cat minyak, bau alkohol, dan asap rokok. Semua yang berada di sana, tegang.
---
9
“
Ya, ya.. unggu di sana. Aku segera ke sana!” Selesai mengucapkan kalimat itu, Jemek menutup telepon. Baru saja telepon dimatikan, telepon genggam Jemek berbunyi lagi, kali ini datang dari ere, istri eddy. Lalu terdengar suara Jemek, “Iya, ere. Iya, ere. Iya, ini aku baru akan ke sana.”Jemek segera memakai sepatu. Kepada Coki dan Heidi, Jemek hanya bisa bilang bahwa Bob dan eddy mabuk berat di bandara, lalu mereka berdua membuat ulah, sehingga ditahan di kepolisian bandara.
Setelah kepergian Jemek, suasana di rumah itu lengang.
Heidi segera membangunkan oni, selain mengabarkan tentang apa yang terjadi, ia terlihat sudah tak sabar karena harus segera memenuhi janji. Kali itu, usaha Heidi berhasil.
Ketika Heidi dan Coki menceritakan apa yang baru saja terjadi, oni hanya tersenyum. Heidi dan oni kemudian pergi ke rumah Dolorosa, sembari berpesan agar diberi tahu segala perkembangan yang terjadi menyangkut Bob dan eddy.
Kelak, oni mengaku bahwa ia tahu sesuau akan terjadi menimpa kedua temannya itu. karena itulah, ia membatalkan diri untuk ikut terbang bersama kedua rekannya. Pengakuan oni dilakukan dengan cara yang khas: terus terang, pelan, dan selalu tersenyum.
---
D
i dalam taksi, perasaan Jemek berkecamuk. Ia merasa bersalah. Pertama, karena dirinyalah yang mengundang ketiga pelukis dari Yogya itu, dan seharusnya ia bisa menjaga ketiga orang tersebut, bukan malah membuat mereka bertiga mabuk berat di saat yang tidak tepat. Kedua, ia merasa tidak enak dengan ere, istri eddy, yang saat itu sedang mengandung memasuki bulan kedelapan, sekaligus merasa tidak enak dengan Widi, pasangan Bob, yang juga sedang mengandung memasuki bulan ketiga.Selain itu, Jemek juga merasa khawatir, dan terus menduga,
9
10
sebetulnya apa yang terjadi sehingga Bob dan eddy gagal ikut penerbangan dan malah terparkir di kepolisian bandara.
Kemudian, Jemek juga merasa tidak enak dengan Heidi. Ia sudah membuat kotor rumah Heidi, membuat kekacauan, dan jangan- jangan Heidi pun bisa terlibat peristiwa konyol itu jika persoalan
di kepolisian menjadi berlarut-larut.
Begitu taksi yang ditumpanginya berhenti, Jemek langsung melompat keluar, setengah berlari menuju empat di mana Bob dan eddy diperiksa. Setelah sampai di ruangan tersebut, ia melihat eddy duduk di lantai sambil bersandar di dinding.
Mulut eddy meracau. Sementara itu, Bob dikelilingi beberapa petugas kepolisian.
Pertama yang dilakukan oleh Jemek adalah mendekati eddy, dan menepak kepala eddy sambil berujar, “Bocah asu!”
eddy sambil mengeriyipkan mata, memandang ke arah Jemek, lalu berkata, “Sori, Mek…”
Jemek segera mengambil alih tanggungjawab. Ia yang menjawab semua pertanyaan dari petugas, dan entah energi apa yang merasukinya saat itu, ia mampu menjawab semua pertanyaan dengan baik, lalu mengambil alih semua masalah.
Hanya kurang dari tigapuluh menit, Jemek berhasil menggiring kedua temannya itu masuk ke dalam tubuh taksi.
Bob berada di kursi depan, kepalanya terjuntai ke jendela, dan tubuhnya diamankan dengan sabuk pengaman. Sementara eddy dan Jemek berada di belakang. eddy tidak mau duduk di kursi, dan memilih untuk tiduran di lantai mobil. ubuhnya terjepit.
etapi ia sudah kembali tidak sadar. Sementara Jemek berada di atas kursi.
aksi berjalan menuju ke Kemang dengan kecepatan yang terjaga. Si sopir tahu persis, kondisi dua dari ketiga penumpangnya sedang dalam keadaan buruk.
aksi memasuki halaman rumah Heidi tepat pukul sembilan
11
malam. Kedua orang itu segera dibopong oleh Jemek, Coki dan penjaga rumah Heidi. Saat mereka membopong eddy, hanya sepotong kalimat yang keluar dari mulut eddy, “Aku bersalah kepada Bob…”
---
Sesungguhnya beginilah rentetan peristiwa yang dialami oleh Bob dan eddy…
Begitu taksi membawa mereka berdua menuju ke arah bandara sore itu, di tengah perjalanan, eddy yang sudah mabuk berat meminta Bob untuk membeli bir lagi. Bob yang juga sudah teler, mengiyakan, dan akhirnya ia membeli empat enam kaleng bir.
Keenam bir itu lalu dibagi rata, dua untuk Bob, dua untuk eddy, dan dua untuk sopir taksi. Sekalipun sopir taksi menolak diberi bir, eddy memaksa si sopir agar mau menerima jatahnya.
Dua kaleng bir jatah eddy lebih dulu tandas. Lalu ia meminta kembali jatah bir yang telah diberikannya kepada sopir taksi. Satu kaleng ditandaskan lagi. Kemudian ia meminta jatah Bob satu kaleng. Dan dengan cepat, jatah Bob pun dihabiskannya.
Sesampai di bandara, begitu pintu taksi terbuka, eddy terjatuh. Ia mulai mengumpat dan meracau. Mereka berdua segera menjadi pusat perhatian di bandara. Jangankan dalam keadaan mabuk, jika tidak pun, mereka pasti akan menjadi pusat perhatian. Kedua orang itu berambut gimbal dan bertato. Bahkan wajah Bob pun penuh dengan tato.
Langkah kedua orang itu terhuyung. Setiap kali bersimpangan dengan orang, eddy selalu menantang orang itu. Atau kalaupun tidak, mengumpati mereka.
ahu kalau kedua orang yang baru turun dari taksi mulai menebar kekacauan di bandara, para petugas keamanan bandara mengerubunginya. Di saat itulah, justru eddy menantang mereka untuk berkelahi. Dan terus berkata dengan keras, “Aku ini seniman! Aku ini seniman!”
11
12
Bob ingin mengingatkan eddy agar ia tidak usah membuat keributan. etapi kepala Bob pun sudah berat. Ia hanya tahu, mereka berdua pasti akan berhadapan dengan masalah.
Maskapai penerbangan yang hendak ditumpangi oleh Bob dan eddy, menolak mereka berdua untuk ikut serta dalam penerbangan karena mereka berdua mabuk berat. Bahkan si pilot mengancam, jika mereka berdua diijinkan ikut penerbangan, maka ia tidak mau menerbangkan pesawat. Saat mendengar hal itu, tindakan eddy semakin tidak terkontrol. Ia mengumpat dan memaksa agar bisa ikut penerbangan. etapi bukannya ia bisa ikut terbang, melainkan diseret petugas kepolisian bandara ke ruang pemeriksaan.
Di ruang periksa, kalimat eddy berubah. Jika sebelumnya, kalimat yang paling banyak diucapkan adalah, “Aku ini seniman!”, maka ketika di ruang pemeriksaan, kalimat yang paling banyak diucapkan adalah, “Aku harus pulang! Istriku sedang hamil!”
eddy tidak bisa diinterogasi. Hanya dompet dan tasnya saja yang digeledah petugas, lalu ia dibiarkan terduduk di lantai sambil tetap meracau. Para petugas lalu menginterogasi Bob. Hal utama yang ditanyakan adalah mereka mabuk apa?
Ditanya seperti itu, Bob menjawab, “eddy mabuk alkohol!”
Lalu petugas bertanya, Bob mabuk apa?
Bob menjawab, “Saya mabuk obat!”
Bob memang sedang berobat. Di dalam tasnya ada obat penenang, sekaligus kopian resep dari dokter, sehingga ia tidak takut mengaku kalau mabuk obat. Lalu Bob melanjutkan berkata,
“Kesalahan saya adalah saya minum bir, tapi hanya sekaleng!”
Di saat itulah, Jemek datang. Dan kita semua sudah tahu apa yang kemudian terjadi di ruangan itu. Kepulangan mereka tertunda. Jemek berhasil melakukan proses negosiasi dengan pihak maskapai penerbangan agar tiket mereka berdua bisa digunakan untuk keesokan harinya, pukul delapan pagi.
13
Bob terbangun dari tidurnya pukul tiga dini hari. Hal pertama yang keluar dari mulutnya, “Aku berada di mana?”
Coki yang saat itu belum tidur menjawab, “Di rumah Heidi…”
Bob bingung, lalu bertanya lagi, “Lho kok bisa?”
Coki hanya tersenyum.
eddy bangun pukul lima pagi. Kalimat pertama yang meluncur dari mulutnya, “Aku berada di mana?”
Jemek yang saat juga sudah bangun dan bersiap mengantar mereka berdua pergi ke bandara hanya bilang, “Bocah asu!”
eddy tersenyum. Lalu menyulut sebatang rokok.
---
eddy, Bob dan oni adalah teman sebaya. Di kampus mereka dulu, di ISI Yogya, mereka bukan hanya dikenal sebagai tiga sahabat, melainkan juga trio pembikin onar, terutama eddy dan Bob. Debut ‘kegilaan’ mereka dimulai ketika mereka bertiga, ditambah dengan Edo Pillu membentuk sebuah grup musik dengan nama: Steak Daging Kacang Ijo.etapi yang dikenal paling ngedan saat itu adalah Bob dan eddy. Pernah suatu saat, mereka berdua pergi ke Blora bersama Coki dan seorang teman mereka lagi bernama Sigit. Mereka berempat meminjam mobil salah seorang teman, dan pemegang setir mobil dipercayakan kepada eddy.
Agendanya adalah melakukan takziah karena pendeta yang akrab dengan eddy sejak kecil, meninggal dunia. Malamnya, mereka mampir ke kedai arak, dan mereka berempat mabuk berat.
Dalam keadaan mabuk itulah, mereka berempat mengunjungi lokalisasi. eddy dengan bertelanjang dada, masuk lokalisasi, mengetuk pintu-pintu kamar, sambil berteriak-teriak, “Aku seniman kaya! Aku dari dayak dan tatoku banyak! Aku punya teman dari Batak!”
Kontan lokalisasi itu heboh dengan segera. etapi preman-
13
14
preman di sana kenal baik siapa eddy, sehingga mereka hanya
‘menjaga’ eddy dari jauh, sembari menenangkan para pelacur agar tidak usah takut. Puas berteriak-teriak, eddy masuk mobil lagi. Mereka memutuskan untuk mencari sate ayam di daerah Cepu.
etapi yang mereka lakukan adalah berputar-putar di kota Blora. Setiap kali ada rumah yang menarik perhatian mereka, eddy menghentikan mobil, lalu ia mengajak berdebat dengan Bob. Inti perdebatan itu kira-kira: rumah itu keren atau tidak, gaya artsitekturnya apa, dan kira-kira dibangun tahun berapa.
Mereka belum puas berdebat, tetapi kota Blora yang kecil itu sudah mereka kelilingi. Akhirnya mereka masuk ke sebuah kompleks pemakaman tua. eddy dan Bob turun dari mobil lalu melanjutkan perdebatan mereka. Perdebatan kacau itu merentang dari mulai apa itu kuburan, indah atau tidak, sampai diskusi tentang kematian. Sigit dan Coki hanya bisa menunggu di dalam mobil sambil terus-menerus mengingatkan kalau mereka berdua lapar dan harus segera ke Cepu untuk makan sate ayam.
Setelah lelah berdebat, eddy dan Bob masuk ke mobil.
Mereka segera menuju kota Cepu. etapi kota yang seharusnya hanya ditempuh kurang dari satu jam dari Blora itu tidak juga mereka capai. Yang mereka tahu kemudian adalah mereka semua terbangun di pinggir alun-alun kota Blora, saat matahari sudah mulai terbit. Sepanjang malam, eddy hanya mengitari alun-alun itu. Setelah lelah, ia mematikan mesin mobil, kemudian tidur, menyusul ketiga temannya yang lain, yang sudah terlebih dulu terlelap.
Kisah-kisah di atas adalah sediki dari serentetan kisah gila yang mereka alami. Mungkin kita akan segera diingatkan dengan sebuah pameo tua: sebagian orang gila akan tetap gila, dan sebagian lagi akan menjadi legenda. Kita tidak pernah tahu, atau belum sepenuhnya tahu, apakah mereka akan menjadi legenda, atau justru termasuk di dalam golongan yang lain: tetap gila.
Anak Gereja dan Virus Tante Rosa
17
B
ANYAK orang mengira bahwa eddy adalah orang Padang. Sebab di berbagai katalog pamerannya, senantiasa tertulis: S. eddy. D, lahir di Padang, 25 Agustus 1970.Namun sejatinya, ia orang Jawa. Ibunya, berasal dari Kudus, dan bapaknya berasal dari Purwokerto.
Sunarmi, ibu eddy, memang sejak kecil sudah hidup di Sumatera Barat, karena mengikuti orangtuanya. Kebetulan sang bapak berprofesi sebagai tentara, yang ditugaskan ke Sumatera Barat untuk menumpas pemberontakan PRRI/Permesta.
Siradz, bapak eddy, juga seorang tentara, yang pada tahun 1964 ditugaskan ke Sumatera Barat. Di sanalah, ibu dan bapak eddy bertemu, kemudian melangsungkan pernikahan.
eddy terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara pasangan Siradz dan Sunarmi. Menurut Sunarmi, proses kelahiran eddy merupakan proses kelahiran termudah yang dialaminya. etapi eddy adalah anak Sunarmi yang paling lama dikandungnya, umur kandungan Sunarmi saat mengandung eddy hingga kemudian melahirkan, berumur 10 bulan kurang 3 hari. Saat itu, di sebuah pagi, sebagaimana biasanya, Sunarmi berjalan-jalan bersama suaminya. Di tengah jalan, tiba-tiba perutnya terasa sakit, seperti hendak melahirkan. Lalu mereka mampir ke sebuah rumah sakit. Dan bayi kecil yang dikandung Sunarmi lahir dengan selamat. Mereka memberi nama si jabang bayi itu dengan nama eddy Darmawan. Nama belakang
‘Darmawan’ diberikan kepada si bayi dengan harapan agar kelak anak itu menjadi sosok yang dermawan. Sedangkan huruf ‘S’ di depan nama eddy adalah nama baptis: Stefanus.
Sejak kecil, eddy sudah menunjukkan gejala sebagai anak yang hiperaktif. Pernah suatu saat, ketika ia berumur tiga tahun, oleh sang tante yang saat itu menjaganya, eddy meminta untuk dinaikkan pagar tembok setinggi lebih dari 1 meter. Awalnya, eddy hanya diam. etapi tidak lama kemudian, ia berdiri dan mulai berjalan-jalan di atas pagar itu. Si tante panik, dan
17
18
segera hendak meraih kembali eddy kecil. etap sayang, usaha si tante terlambat. Sebelum eddy berhasil diraihnya, anak itu telah terlebih dahulu jatuh dengan posisi kepala yang pertama menyentuh tanah.
eddy segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter mendiagnosa, eddy menderita gegar otak. eddy lalu dirawat di rumah sakit.
etapi lagi-lagi, di rumah sakit, eddy membikin ulah. Ia terjatuh lagi dari dipan tempatnya dirawat.
Menjelang masuk sekolah dasar, Siradz ditugaskan di daerah Kudus, Jawa engah. eddy pun ikut dibawa serta.
Selain menunjukkan tingkah laku yang hiperaktif, eddy dikenal kreatif. Ia membuat sendiri mainan-mainannya. Keluarga Siradz memelihara beberapa anjing kecil. eddy lantas membuat semacam kereta kecil, dan menjadikan anjing-anjing itu seperti kuda-kuda yang menyeret kereta.
etapi yang paling diingat oleh eddy adalah saat ia membuat mobil-mobilan dari triplek. Mobil mainan itu berupa mobil jip kecil, dengan cat berwarna biru. Mobil itu dikagumi oleh banyak teman sepermainannya. Dan kelak ketika eddy sudah menjadi pelukis yang cukup ternama, ia mempunyai mobil jip yang persis sama dengan jip buatannya sendiri saat ia masih kecil.
Ketika mulai duduk di kelas 5 SD, menjelang kenaikan kelas, eddy membuat ulah. Ia mengumpulkan semua teman laki- lakinya sekelas, lalu mereka saling memotong rambut hingga semua anak laki-laki sekelas itu berkepala pelontos. Keesokan harinya, saat masuk ke dalam kelas, semua anak memakai topi.
erang saja guru mereka heran. Berkali-kali sang guru meminta anak-anak yang bertopi itu untuk melepas topi mereka. etapi anak-anak itu malah menundukkan kepala, tidak ada yang mencopot topi. Akhirnya, eddy-lah yang mula-mula mencopot topinya, lalu satu per satu temantemannya juga mencopot topi mereka masing-masing. Begitu tahu apa yang sedang terjadi, si guru yang awalnya merasa marah, berbalik tersenyum.
19
Saat naik kelas menuju kelas 6 SD, kembali Siradz dipindahtugaskan ke kota Blora. etapi tepat di saat pindahan rumah, eddy sedang berlibur di rumah kakeknya yang berada di Jakarta. Keluarga itu pindah rumah tanpa eddy.
Ketika eddy pulang ke Kudus, ia mendapati rumahnya telah kosong. Dari Jakarta, eddy didampingi oleh salah seorang pembantu kakeknya, yang kebetulan juga punya keluarga di Kudus. etapi orang yang dititipi eddy, tidak mengantar eddy sampai ke rumah. Begitu mendapati rumahnya kosong, eddy bertanya kepada tetangga-tetangganya, ke mana keluarganya pindah. Ketika tahu bahwa keluarganya pindah ke Blora, eddy segera menyusul seorang diri. Saat itu, eddy baru saja naik ke kelas enam. Jarak antara kota Kudus dan kota Blora, relatif jauh.
Dari Kudus menuju Blora, bisa ditempuh dengan 2 jalur. Pertama, dari Kudus menuju Pati, lalu melanjutkan ke Purwodadi, baru kemudian menuju Blora. Atau, dari Kudus menuju Rembang, dengan terlebih dahulu melewati Pati dan Juwana, setelah sampai Rembang perjalanan bisa dilanjutkan menuju ke Blora. eddy memilih jalur yang terakhir. Ia melewati kota Rembang.
Sesampai di Blora, eddy segera menuju ke Kodim Blora. Di sana, ia mengaku sebagai anak Pak Siradz. Dengan diantar oleh seorang tentara yang sedang bertugas saat itu, eddy dibawa menuju kecamatan Banjarejo, sebuah kecamatan arah barat daya dari kota Blora. Di sanalah Siradz bertugas sebagai komandan rayon militer (Danramil).
Kedatangan eddy seorang diri ke Blora, sempat membuat geger keluarganya. Anak kecil itu mulai menunjukkan nyalinya.
Di dalam hari Sunarmi, terselip perasaan bangga, sekaligus rasa waswas.
---
L
ulus dari sekolah dasar, eddy masuk SMP paling favorit sekabupaten Blora, SMPN 1 Blora. Jarak dari Banjarejo ke Blora, sejauh 12 kilometer, ditempuh eddy pulang- pergi dengan naik angkutan pedesaan (angkudes), mobil colt pick19
20
up. Hobinya adalah bergelayut di bagian paling belakang, atau kalau tidak, naik di atas atap mobil.
Di SMP itulah, eddy mengenal Bowo, yang sampai sekarang merupakan sahabat karibnya. Hanya saja, Bowo saat itu belum dipanggil Jemek. Nama panggilan Jemek memahkotai Bowo ketika ia kelak kuliah di Fakultas Filsafat UGM.
Persahabatan dua orang itu terjadi hanya karena soal sepele.
Angkudes yang ditumpangi eddy, hanya turun di sebuah perempatan kota. Untuk menuju ke SMPN 1 Blora, eddy harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer lagi. Di antara jalan yang harus ditempuhnya itulah, terdapat rumah Bowo. Begitu mereka berkenalan, eddy sering mampir ke rumah Bowo untuk sama- sama berangkat ke sekolah dengan naik sepeda angin Bowo.
Karena Bowo yang memiliki sepeda, maka eddy yang berada di depan, mengayuh sepeda, sementara Bowo berada di belakang, membonceng.
Sudah jamak di tahun-tahun itu, begitu memasuki tahun kedua, anak-anak terpandai dirangking. Bagi mereka yang masuk rangking 40 besar, dijadikan satu kelas: 2A. eddy masuk rangking 18, dan karenanya ia masuk kelas 2A. Di kelas itu, eddy tidak kerasan. Satu-satunya teman yang bisa diajaknya membandel adalah Untung, seorang keturunan ionghoa. Untung termasuk siswa yang cerdas, tetapi juga cukup bandel. Berbeda dengan kebanyakan teman sekelas eddy yang lain, yang rata-rata begitu suntuk dengan pelajaran, bahkan di jam-jam istirahat pun mereka berada di dalam kelas untuk belajar.
Sedangkan Bowo, menerima takdirnya sendiri, sesuai dengan kapasitas intelektualnya saat itu, ia berada di kelas 1E. etapi persahabatan mereka tetap berjalan. Bertiga bersama Untung, mereka sering ngeblong , sebuah istilah lokal di mana seorang siswa tidak masuk kelas hanya untuk mata pelajaran tertentu.
Mereka bertiga sering ngeblong di sebuah kuburan yang dekat dengan lokasi sekolah mereka. Di sana, di kompleks kuburan itu,
21
mereka merokok dan makan buah jamblang atau duwet.
Saat memasuki tahun ketiga SMP, Bowo kembali satu kelas dengan eddy. Kenakalan mereka semakin menjadi-jadi. Mereka berubah dan mulai tumbuh sebagai duo-pembikin-onar. Salah satu hobi mereka adalah mendekati anak laki-laki yang terlihat alim, lalu menginterogasi mereka satu per satu. Biasanya materi ‘interogasi’ itu menyangkut apakah anak tersebut sudah pernah melakukan onani atau belum. Jika mereka menjawab sudah, duo-pembikin-onar itu akan membuat propaganda dan menyebarluaskan. etapi jika ada anak yang menjawab belum, mereka merayu dan membujuk mereka bahwa melakukan onani itu nikmat sekali.
Dengan segera eddy dan Bowo menempati urutan teratas sebagai anak bandel sekaligus duo yang disegani di SMP yang kebanyakan siswanya bukan hanya merupakan anak-anak terpintar di kabupaten tersebut, melainkan juga tempat sekolah anak-anak para pejabat di tingkat kabupaten.
Karena mulai menduduki ‘posisi sosial’ tertentu dan mulai menancapkan pengaruh mereka, maka apa yang dilakukan oleh eddy dan Bowo segera dianut oleh taman-teman mereka yang lain. ermasuk salah satunya adalah menonton film di gedung Bioskop, terutama film-film dengan tulisan: Untuk 17 tahun ke atas. etapi baik penjual tiket maupun petugas bioskop tidak pernah peduli. Bintang pujaan mereka saat itu adalah Eva Arnaz.
Duo itulah yang menyebarkan virus ante Rosa, sebuah akronim dari bahasa Jawa: angan tengen, nganggo sabun (angan kanan, memakai sabun). Sebuah istilah yang mendeskripsikan bagaimana seseorang melakukan onani.
Lalu mereka pun mulai ikut mempopulerkan sebuah guyonan khas anak muda saat itu. tiba-tiba saja, entah Bowo atau eddy memanggil teman mereka. Mereka berdua pura-pura bersedih dan menyesal. Mereka bilang, “Wah aku sudah tidak perjaka lagi…”
21
22
Kalau kemudian si lawan bicara mereka bertanya dengan siapa mereka berdua melakukannya, maka dengan serempak baik Bowo maupun eddy menjawab, “Dengan Dita…”
Hampir semua orang yang diajak bercakap model begituan, pasti mulai berpikir keras. Ada begitu banyak nama Dita di sekolah mereka saat itu. Kalau kemudian lawan berbincang mereka mulai capek menebak Dita yang mana, barulah kedua orang itu menjawab, “Di tangan!”
---
K
eluarga Siradz memeluk agama Kristen Protestan.Keluarga itu sangat religius. Konsekuensinya, anak- anak mereka pun sering diajak terlibat dalam kegiatan keagamaan, tak terkecuali eddy.
Sejak kecil, eddy sudah terbiasa menjadi anak gereja. Ketika semakin besar, ia mulai terlibat dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan agama. Kalau ada hari raya tertentu yang diperingati agamanya, maka ia terlibat, mulai dari ikut mendesain panggung gereja, sampai ikut bermain drama.
Pernah suatu ketika, saat eddy sedang muncul di panggung untuk memerankan seorang tokoh, tiba-tiba adik terkecilnya, Samuel, yang saat itu baru berumur tiga tahun, entah bagaimana bisa muncul di atas panggung. Pasangan Sunarmi dan Siradz tentu saja terkejut, dan merasa degdegan, menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
Di atas panggung, tak kalah terkejutnya. Apalagi saat Samuel mulai berteriak, “Mas eddy, Mas eddy…”
Di saat itulah, improvisasi eddy muncul. Cerita yang semula sangat serius, tibatiba ia belokkan menjadi bergaya srimulatan.
Dengan segera eddy berkata, “ Iki anake sapa, melu-melu munggah panggung…”
Semua pengunjung gereja tertawa terpingkal-pingkal.
Pertunjukan malam itu boleh dibilang sukses. Dan eddy menjadi
23
bintangnya.
Bahkan ketika eddy kelak menginjak bangku SMA, ia juga mengajar di sekolah Minggu. Di luar semua itu, mungkin kedua orangtua eddy belum begitu tahu kebandelan anaknya di luar rumah.
Sementara itu, keluarga Bowo adalah keluarga yang cukup berada, setidaknya untuk setingkat kabupaten Blora. Ayahnya bekerja di Perhutani. Di daerah seperti Blora, di mana dikenal dengan kualitas kayu jati nomor 1, dan sekaligus mempunyai wilayah hutan jati yang luas, pegawai Perhutani menempati urutan perekonomian yang cukup tinggi. Seorang Administratur, yang mengepalai sebuah Kawasan Pengelolaan Hutan (KPH), bisa jadi lebih kaya dibanding seorang bupati. Dulu, sebelum hutan jati dalam keadaan serba-rusak seperti saat ini, ada istilah jaspro, akronim dari ‘jasa produksi’, di mana semua pegawai perhutani akan menerima uang jaspro yang bisa sampai lima kali lipat gaji bulanan mereka. Sekalipun bukan seorang administratur, ayah Bowo adalah pegawai Perhutani dengan posisi yang cukup tinggi.
Di rumah Bowo itu, eddy sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. eddy sering makan di sana, bahkan sesekali menginap.
Karena hubungan antar-anak yang cukup dekat, akhirnya keluarga Siradz pun akrab dengan orangtua Bowo.
Di rumah Bowo pula, eddy mulai suka membaca buku.
Orangtua Bowo berlangganan Kompas, sementara di rumah eddy hanya ada koran Angkatan Bersenjata (AB). Di rumah Bowo juga melimpah dengan berbagai buku bacaan, maklum saja karena saudara-saudara Bowo yang lebih tua sangat gemar membaca, dan kadang-kadang saudara-saudara keluarga Bowo yang tinggal di kota-kota besar sering mengirimi berbagai buku.
Bacaan favorit Bowo dan eddy adalah serial Musashi, yang dimuat secara berkala di koran Kompas, serta berjilid buku ensiklopedi untuk anak-anak.
Sampai sejauh itu, kedua keluarga ini hanya tahu kalau eddy
23
24
dan Bowo tidak termasuk anak yang nakal. Kalau pun toh nakal, itu kenakalan khas anak-anak yang biasa saja.
---
L
ulus dari SMP favorit di kabupaten Blora, eddy dan Bowo masuk ke SMA yang juga favorit di kabupaten itu:SMAN 1 Blora. Di sinilah, masa-masa remaja kedua anak itu mulai lebih bergeliat lagi.
Bacaan-bacaan di rumah Bowo sudah ‘tidak mencukupi’ lagi keingintahuan mereka akan hal-hal lain. Mereka mulai membeli dan membaca majalah remaja Hai, dan mulai rajin mengunjungi perpustakaan daerah yang terletak di sebelah utara alun-alun kabupaten Blora, jadi satu dengan kompleks kantor bupati.
Di usia itulah, mereka mulai membeli dan mendengarkan musik-musik cadas yang sedang merebak saat itu, seperti Skid Row, Iron Maiden dan Kiss. Mereka berdua pun mulai membentung sebuah geng dengan nama: Ndeprox’z.
Saat berada di SMA, ketrampilan eddy dalam hal seni mulai moncer. Ia membuat sendiri tas sekolah yang berbahan dari poster-poster grup musik yang ia sukai. Poster-poster itu dilaminating, lalu dibuat tas. Jika ada orang yang tertarik, maka eddy menjualnya. Uang hasil penjualan itu dipakainya untuk
membeli rokok, minuman keras, dan juga berjudi.
Selain membuat tas, eddy juga membuat stiker dan kaus.
Di saat itu, sudah biasa setiap kelas menunjukkan identitasnya dengan membuat stiker dan kaus. Hampir semua kelas di SMA 1 Blora saat itu, memesan stiker dan kaus dari eddy. Desain kaus dan stiker eddy sudah mulai dikenal sangat menarik, dan berkualitas bagus. Untuk memesan stiker, eddy dan Bowo sering pergi ke kota Kudus, sementara untuk memesan kaus, mereka berdua pergi ke Klaten. Hasil ‘bisnis kecil-kecilan’ itu, lagi-lagi selalu habis untuk tiga hal: rokok, alkohol dan perjudian.
Ketika naik ke kelas 2, eddy sempat stres berat. karena berdasarkan rekomendasi dari pihak sekolah, ia harus masuk
25
ke kelas 2 Fisika. Sementara itu, Bowo masuk ke kelas Sosial.
Mungkin hal itulah yang membuat kenakalan eddy semakin menjadi-jadi. Ia kerap bolos hanya untuk berjudi, terutama di saat ada pelajaran-pelajaran yang tidak ia sukai.
Di sekolah, eddy dan Bowo pun mulai sering membuat ulah.
Bukan saja mereka semakin sering membolos dan ngeblong, terutama jika sedang memesan stiker dan kaus, tetapi juga melakukan hal-hal lain yang di saat itu sudah bisa membuat orang menggelengkan kepala.
Suatu saat, eddy pernah membuat ulah sehingga bapaknya harus dipanggil kepala sekolah. Di SMAN 1 Blora saat itu, di setiap ruang kelas, di atas papan tulis, selalu ada gambar burung garuda Pancasila yang diapit oleh presiden dan wakil presiden.
Entah kegilaan apa yang merasuki pikiran eddy saat itu, gambar presiden disiletinya hingga hancur.
Kedua orangtua eddy dan Bowo juga pernah sama-sama dipanggil kepala sekolah lagi. Gara-garanya, saat itu usai liburan panjang, di mana eddy melewatkan waktu liburan dengan berlibur ke Jakarta. Di kota besar itu, grafiti sudah mulai muncul di mana-mana. Begitu pulang, seluruh kota Blora, di pikiran eddy adalah ‘hamparan kanvas kosong’. Dengan segera, berbekal belasan botol piloks, seluruh tembok kota Blora penuh dengan kata: Ndeprox’z. entu saja pelakunya gampang ketahuan. Empat pentolan geng itu dipanggil oleh kepala sekolah beserta orangtua masing-masing, dua di antara empat orang itu, tentu saja eddy dan Bowo.
Ndeprox’z sendiri, mulai melegenda di kota kecil Blora. Setiap malam minggu, puluhan remaja dan anak-anak menunggu kemunculan geng itu dengan sepeda motor mereka mengitari alun-alun kota Blora. Penampilan mereka cukup eksentrik, dari mulai aksesoris sepeda motor sampai pakaian yang mereka kenakan. Dan semua itu tidak luput dari sentuhan seni tangan eddy.
25
26
Selain mulai mengoleksi jenis kenakalan seperti mengkonsumsi alkohol, main judi dan juga melakukan kegiatan corat-coret tembok, eddy juga mulai suka berkelahi. Biasanya, setelah beberapa geng saling memamerkan diri mereka mengitari alun- alun kota Blora, mereka kemudian minum-minuman keras di pojok-pojok tertentu. Saat mabuk seperti itulah, eddy sangat sensitif. Ada apa-apa sedikit, ia mudah tersinggung. etapi ia tidak pernah mengajak teman-temannya untuk membela dirinya.
Ketika temantemannya sedang asyik minum-minuman keras, ia berdiri dengan tenang, mendatangi kelompok lain yang berada di pojok alun-alun yang lain, lalu ‘bak-buk-bak-buk’ berkelahi.
Kemudian ia bergabung lagi dengan temannya untuk ikut minum lagi, sembari mukanya telah lebam, dan bibirnya telah berdarah.
Jika teman-temannya tahu hal itu dan hendak membelanya, eddy selalu bilang, “Sudah, sudah, semua sudah selesai.”
Sementara di dalam lingkungan sekolah nama eddy mulai terkenal, di luar sekolah namanya pun merambah dunia yang lain. Ia kenal dengan baik para tukang becak, sopir angkutan, dan juga para preman. Setiap kali ia naik motor, tangannya tak pernah
berhenti melambai, karena kenalannya berada di mana-mana.
---
M
enjelang kenaikan kelas dua ke kelas tiga, sehari sebelum penerimaan rapor, di SMAN 1 Blora sudah tersebar isu tentang siapa-siapa yang tidak akan naik kelas. Sejumlah anak yang merasa diri mereka bandel, mulai merasa waswas, termasuk Bowo dan eddy. Salah seorang murid mengaku telah menerima bocoran siapa saja yang tidak akan naik kelas. Ada dua nama yang disebut, dan salah satunya adalah Bowo. Nama eddy lolos, artinya, eddy naik kelas. Segera Bowo stres berat. eddy dengan gayanya yang sok bijaksana berusaha menenangkan Bowo, “Sudahlah, Wo, tidak apa-apa. Kita tetap saja berteman sekalipun nanti aku jadi kakak kelasmu.”Kalimat yang bernada menghibur itu justru menyakiti hati Bowo. Ia segera pulang. Sesampai di rumah, Bowo menunggu
27
bapaknya pulang dari kantor. Setelah bapaknya pulang, dengan gugup Bowo mulai bercerita, kemungkinan besar ia tidak naik kelas. Sambil bercerita seperti itu, muka Bowo menunjukkan penyesalan yang mendalam. Mendengar hal seperti itu, sang bapak hanya diam, lalu berkata, “Lihat saja besok, deh… Kalau tidak naik ya terserah kamu. Kalau kamu malu sekolah di sana, ya pindah saja.”
Keesokan harinya, saat penerimaan rapor, Bowo dan eddy duduk menunggu berdampingan. Yang keluar pertama kali adalah bapak Bowo. Segera Bowo bertanya, Bagaimana, Pak?”
Si Bapak tersenyum dan bilang, “Kamu naik kelas, kok.”
Bowo bersorak gembira. eddy dan Bowo saling bersalaman.
Lalu tiba giliran bapak teddy keluar dari ruang kelas. eddy belum sempat bertanya, bapaknya sudah berkata, “eddy, ayo pulang!”
ernyata, eddy-lah yang tidak naik kelas.
Mendapati dirinya yang kemudian berada di satu tingkat dibandingkan teman-temannya yang lain, awalnya membuat eddy merasa stres berat. Ia semakin rajin berjudi dan rajin
menenggak minuman keras.
Ketika teman-temannya mulai lulus dan kuliah, ia baru naik ke kelas tiga. Dan di fase itulah ‘penderitaannya’ semakin mengencang. Ketika liburan semesteran tiba, atau liburan lebaran, teman-temannya berkumpul dan saling bercerita tentang kegiatan mereka di kota-kota tempat mereka kuliah, ada yang di Jakarta, Yogya, Solo, Semarang dan Surabaya. Saat itu, Bowo kuliah di SIE Perbanas Jakarta.
Kalau mereka berkumpul, menjelang liburan berakhir, pasti di antara mereka saling bertanya, kapan mereka balik ke kota tempat mereka kuliah. Dan terakhir, mereka selalu bertanya, “Kamu balik kapan, ed?”
27
28
Jika ditanya seperti itu, eddy hanya bisa mengumpat, “Asu!”
Begitu lulus dari SMA, di bayangan eddy ia ingin menjadi seorang desainer. Belum jelas saat itu, apa itu desainer. Yang jelas, ia pernah mendengar profesi itu, dan ia merasa ia bisa serta cocok dengan keinginannya. Saat itulah, ia meminta untuk mendaftar di ISI Yogya. Namun kali itu ia gagal.
Ibunya lalu menyarankan agar eddy mnecoba masuk ke Politeknik Universitas Diponegoro, Semarang. Ibunya sendiri yang saat itu mengantar eddy ke Semarang. eddy, karena bingung, ia mengikuti saja saran ibunya. Namun ketika tes, saat lembar jawaban dihadapinya, ia tidak mengerjakan soal-soal ujian. entu saja ia tidak diterima.
Orangtua eddy tentu saja bingung. Mereka akhirnya menyerahkan apapun pilihan eddy. Barulah di sana, eddy bilang kalau ia ingin jadi desainer. Akhirnya kedua orangtua eddy mencari-cari kabar, di mana sekolah yang dimaksudkan eddy.
Salah seorang kenalan orangtua eddy menyarankan agar eddy masuk saja ke SSI Solo. eddy akhirnya mendaftar masuk, dan ia masuk ke jurusan desain set panggung. Yang penting saat itu bagi eddy ada kata: desain.
Saat kuliah, eddy sempat agak kecewa dengan pilihannya.
etapi saat itu pula ia sadar bahwa beberapa ketrampilan yang kelak dibutuhkannya, walaupun ia belum tahu kelak itu akan seperti apa, pastilah berguna. Di sana ia diajari dasar-dasar teknik menyungging wayang. Sebuah teknik yang memutuhkan kejelian, terutama dalam membuat gradasi warna.
Selain itu, eddy juga belajar teknik yang menurutnya sangat penting, yakni teknik membuat wondo. eknik itu adalah memberi karakter kepada tokoh-tokoh wayang.
Namun, kebandelan eddy semakin menapaki taraf yang lebih tinggi lagi saat berada di Solo. Ia berkarib dengan beberapa preman, dan semakin kerap mabukmabukan.
29
Salah satu dosen eddy bernama Bonyong Munni Ardhi, salah satu tokoh yang pernah ikut mewarnai suasana ISI Yogya, melihat eddy tidak tepat berada di Solo. “Ia perlu teman dan lingkungan yang tepat untuk mengasah ketrampilannya. Dan yang paling penting, dasar-dasar pelajaran penting di SSI sudah ia kuasai, terutama dalam hal menyungging dan mengerjakan wondo.” ungkap Bonyong.
Kemudian ketika suatu saat bertemu denan eddy, Bonyong menyarankan agar eddy mencoba masuk ISI jurusan seni lukis.
eddy menggut-manggut. Saat itu, sebetulnya eddy juga sudah berpikir untuk mencoba lagi masuk ISI. Setelah pertemuan itu, eddy lama menghilang, dan tidak pernah lagi menemui Bonyong.
ernyata selama bebeapa bulan itu, eddy mempersiapkan dan mengasah ketrampilannya agar bisa diterima di ISI. Setelah dua tahun kuliah di SSI Solo, pada tahun 1992, ia ikut tes masuk ISI, dan diterima.
eddy menemui Bonyong, dan mengabarkan kalau ia sudah diterima masuk ISI. Bonyong tersenyum lega.
29
Ibunya
Lima
33
Y
OGYA, 24 Mei 1971. Rumah Sakit Mangkuyudan, penuh sesak dengan orang yang akan melahirkan. Salah satu di antara mereka adalah Ninung. Umurnya saat itu baru 19 tahun. Dengan diantar oleh suaminya, Sunardiyono. Ninung sedang hamil tua. Hari itu, ia telah mengalami ‘bukaan pertama’, pertanda seharusnya sebentar lagi bayi yang dikandungnya akan keluar.Dokter Anwar, dokter yang sedang bertugas saat itu, yang kebetulan kenal baik dengan Ninung, menyuruh Ninung agar menginap saja di rumah sakit. etapi saat itu, Ninung merasa belum saatnya melahirkan. “Dok, kayaknya saya masih lama melahirkannya. Saya tidak usah nginap saja. Besok saya ke sini lagi.” begitu katanya dengan nada pelan, seakan ingin mengharapkan rasa maklum dari dokter yang memeriksanya itu.
“Kamu itu bagaimana, sih? Sudah bukaan pertama kok tidak mau menginap.” sergah dokter Anwar.
Perdebatan kecil terjadi. Akhirnya sang dokter yang mengalah.
Ninung diijinkan pergi, dengan catatan pasangan itu harus selalu berjaga-jaga jika terjadi apa-apa.
Sesungguhnya yang terjadi pada diri Ninung adalah perasaan takut. Ia takut melahirkan. Apalagi di rumah sakit itu, suara erang kesakitan perempuan-perempuan lain yang sedang melahirkan bisa didengarnya dengan jelas.
Keesokan harinya, tidak ada perubahan di diri Ninung.
Kemungkinan besar, pengaruh psikologis tentang ketakutannya untuk melahirkan, berpengaruh besar pada kandungannya. api ketika keesokan harinya lagi, tetap tidak ada perkembangan lebih lanjut, perasaan khawatir Ninung pada anak yang sedang dikandungnya lebih dominan. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit Mangkuyudan lagi.
Segera Ninung ditangani oleh petugas jaga. Setelah beberapa kali diperiksa, akhirnya dokter yang berjaga berkata kepada
33
34
petugas medis yang membantunya, “KO dibuka!”
Ninung kaget. Raut wajah si dokter, dan istilah ‘KO’
membuatnya khawatir. Dengan nada takut, ia bertanya kepada si dokter, “Dok, KO itu apa?”
“Kamar Operasi, Bu…” jawab si dokter pelan.
Begitu mendengar dua kata: kamar operasi, segera ketakutan memuncak di diri Ninung. etapi justru di saat itulah, bayi yang dikandungnya segera lahir dengan cepat. Bayi yang dikandungnya lahir dari sebuah ketegangan yang dicipta dari dua tiang pancang:
ketakutan melahirkan sehingga prosesnya lama, dan ketakutan dioperasi sehingga si bayi bisa lahir dengan cepat.
Bayi yang lahir pada tanggal 26 Mei, dengan umur kandungan tepat 9 bulan dan 10 hari itu, diberi nama: Bob Yudhita Agung.
Nama ‘Bob’ diberikan kepada jabang bayi karena ninung sangat tergia-gila dengan suara Bob utupoli. Sedangkan nama tengah
‘Yudhita’ disematkan ke bayi itu karena Ninung berharap agar kelak anaknya sebijaksana tokoh wayang bernama Yudhistira, si sulung dari lima bersaudara Pandawa. Nama ‘Agung’ diberikan oleh suster yang membantu melahirkan si bayi dengan harapan agar si bayi kelak penuh dengan keagungan.
Nama adalah doa dan pengharapan. Namun sebagaimana setiap doa dan pengharapan, bisa saja menjadi kenyataan, tetapi bisa juga tidak.
---
P
asangan Ninung dan Sunardiyono adalah pasangan dengan latar belakang yang berbeda. Ninung berasal dari keluarga yang pas-pasan, sedangkan Sunardiyono berasal dari keluarga kaya. Suteja, ayah Sunardiyono, bekerja di pengilangan minyak swasta, dan saat itu Suteja sedang bertugas di Palembang.Satu-satunya yang sama dari kedua pasangan itu adalah mereka sama-sama masih muda.
Ninung saat itu sudah memutuskan untuk berhenti dari sekolah
35
menengah, sedangkan Sunardiyono masih mencoba bertahan melanjutkan sekolahnya. Sunardiyono, menurut Ninung, adalah laki-laki yang tampan. “Seperti Sophan Sophian…” kenang Ninung.
Karena ketampanannya itulah, kerap sekali Sunardiyono diincar oleh para gadis. Dan hal seperti itulah yang mulai kerap menghantui pasangan muda itu. Percekcokan pun kerap terjadi.
Saat Yudhi, begitu Ninung memanggil anaknya, berumur 11 bulan, pasangan itu sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Mereka berpisah.
Yudhi, anak hasil pasangan Ninung dan Sunardiyono, akhirnya diambilalih oleh orangtua Sunardiyono, pasangan Suteja dan Sutinem. Yudhi dibawa ke Palembang. Menjelang Yudhi masuk sekolah dasar, pasangan Suteja dan Sutinem pindah ke Yogya.
Mereka menempati rumah di kawasan yang cukup elit di Yogya, di daerah Pandega Bakti.
Sementara itu, Ninung kemudian menikah lagi dengan tetangganya, bernama Suharto, yang bekerja di Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Sedangkan Sunardiyono, dalam sejarah hidupnya menikah sebanyak tiga kali. Kini, beliau telah meninggal dunia.
Walaupun telah berpisah, hubungan Ninung dengan keluarga Suteja terjalin dengan baik. “Bahkan dulu, saat baru saja bercerai dengan bapak si Yudhi, saya masih sering dikirimi wesel oleh Pak Suteja,” begitu pengakuan Ninung.
Ninung pun masih sering menengok Yudhi. Apalagi Ninung tinggal di daerah Seturan, yang hanya berjarak kurang-lebih 2 kilometer dari daerah Pandega Bakti. “Pak Nardi dan Pak Harto juga berhubungan dengan baik. Jika ada acara keluarga dari pihak Suteja, mereka kerap satu mobil.” lanjut Ninung, menggambarkan bagaimana baiknya hubungan dua keluarga itu.
Ketika masuk sekolah dasar, Yudhi mulai dipanggil teman- temannya dengan nama depannya: Bob. Si Bob kecil ini sangat
35
36
dimanja oleh keluarga besar Suteja. Saking dimanjanya, sejak kecil Bob tidak pernah mau makan kalau tidak ada ayam goreng.
Karena tidak bersama dengan Ninung, ibu kandungnya, maka Bob pun memanggil ‘mamak’ kepada Sutinem, neneknya. Karena begitu disayang oleh tantetantenya, maka Bob pun memanggil tante-tantenya dengan panggilan ‘ibu’. Ada tiga tantenya yang dipanggil dengan sebutan ‘ibu’ yakni Murti, atik dan utik.
Sedangkan kepada Ninung, Bob memanggil dengan sebutan: Ibu Ninung.
Dengan ‘lima orang ibu’ itulah, Bob kecil bukan hanya bergelimang kasihsayang, sekaligus ia bergelimang uang. Apapun yang diminta oleh Bob, ibu-ibunya, terutama para tentenya yang
dipanggil ibu, dan juga neneknya, selalu siap memberi.
Soal hal seperti itu, Ninung menjelaskan, “Kalau saya sih tidak bisa memberi uang. Maklumlah, saya hanya ibu rumah tangga biasa, dan suami saya seorang pegawai negeri. Kami harus menyekolahkan anak-anak kami sendiri.”
---
B
ob kecil jarang keluar rumah. Ia lebih sering berada di rumah, yang dipenuhi mainan, dan mulai sering mencorat-coret di kertas gambar. Bakat corat-coretnya, kemungkinan besar didapat dari Ninung.Dulu, saat masih gadis remaja, oleh teman-temannya, Ninung dikenal sebagai perempuan yang ‘nyeni’. Klenthing, alat mengambil air yang terbuat dari tanah liat miliknya digambari, dan hal itu membuat banyak orang suka dengan klenthing Ninung. Ia juga dikenal pintar merangkai bunga. Bahkan, Ninung membuat sebuah kolam kecil yang indah di rumahnya.
Bob kecil pun mulai sering diikutkan lomba menggambar.
Setiap kali ikut lomba, Bob selalu menyabet gelar juara. Hal itu terus dilakukannya sampai SMA. Puluhan tropi dan piagam penghargaan sebagai juara lomba menghiasi sebuah lemari di rumah keluarga Suteja. Paling apes, dia menjadi juara harapan
37
dua. Selebihnya, kalau tidak juara satu pastilah juara dua.
Selain itu, Bob dikenal rajin mengaji dan salat lima waktu. Ia sudah khatam Alquran sebelum kelas 6 SD.
Sampai SMA, Bob tetap menjadi ‘anak manis’ sekaligus anak rumahan. Satusatunya ‘kenakalan’ yang pernah dilakukannya saat SMA hanyalah mencoba merokok di atap rumah. etapi setelah itu, ia mengalami rasa bersalah yang luar biasa.
Sebagaimana umumnya anak-anak remaja yang lain, Bob juga tergabung dalam sebuah geng. Saat itu, di Yogya ada dua geng besar” Q’zruh dan Joxin. Hampir semua remaja SMA saat itu mejadi pendukung salah satu geng tersebut. Bob tergabung dalam geng Q’zruh. etapi ia tidak pernah berkelahi. Bob bilang sambil tertawa, “Kalau aku mau berkelahi, pasti teman-temanku maju lebih dulu.”
Dan sebagaimana remaja yang lain, Bob juga akrab dengan lagu-lagu. Karena punya banyak uang, ia mengoleksi ratusan kaset. Namun berbeda dengan temantemannya, Bob lebih suka mengoleksi kaset band-band negeri sendiri, dan kalau pun mengoleksi kaset dari negeri asing, itu pun berasal dari para penyanyi atau grup musik dari negeri Jiran, yang saat itu banyak mendominasi tangga-tangga lagu di Indonesia. Dari para musisi negeri sendiri, Bob paling menyukai grup rock Power Metal.
Sedangkan lagu Isabela, yang dilantunkan oleh musisi dari negeri Jiran, adalah ‘lagu wajib’-nyasampai sekarang.
api sayang, Bob tidak suka Bob utupoli, musisi yang dikagumi ibu kandungnya. Dan tentu saja, sekalipun suka menyanyi, suara Bob tidak semerdu suara Bob utupoli.
---
B
ob jarang sakit. Kalau pun toh sakit, paling hanya masuk angin. Dan obatnya juga mudah, tinggal memberi tahu ibu kandungnya, lalu Ninung akan datang ke Pandega Bakti untuk ngerokin Bob.37
38
Namun pernah suatu saat Bob harus diopname selama beberapa bulan di rumah sakit karena sakit tipus. Untuk kali itu, Ninung ingin sekali bertanggungjawab dengan membayar biaya rumah sakit. Sayang, uang Ninung hanya pas-pasan.
Salah seorang teman Ninung yang kebetulan berprofesi sebagai pencatat judi Loda, sejenis judi legal yang saat itu marak (semacam SDSB), Ninung diberi nomor yang diperkirakan akan keluar. Hati Ninung ragu-ragu. Saat itu ia berpikir, kalau uangnya dipakai untuk berjudi dan kemudian menang, maka ia akan bisa membayar lunas semua biaya Bob, bahkan akan ada sisa cukup banyak. etapi jika ternyata nomor yang dibelinya tidak keluar, maka ia tidak punya sedikit pun uang untuk membayar biaya pengobatan Bob. Akhirnya Ninung tidak berani berspekulasi. Ia tidak jadi membeli nomor yang disarankan oleh temannya. Dan sialnya, nomor itulah yang memang keluar.
Untunglah, dokter di rumah sakit itu banyak yang kenal dengan Ninung, sehingga ia bisa mendapatkan banyak keringanan biaya.
Ninung, sekalipun tidak tamat SMA, namun pergaulannya luas.
Dan ia pun dikenal kawan-kawannya sebagai orang yang cakap berorganisasi. Bahkan sejak remaja, ia dikenal sebagai gadis yang
‘gaul’. Ia ikut berbagai jenis organisasi, dari mulai klub sepeda angin, sampai aktif di Darma Wanita tempat suaminya bertugas.
Selain suka berorganisasi, untuk mengganti pengetahuan formalnya yang terhenti di tengah jalan, Ninung selalu ikut kursus. Hampir semua jenis kursus ketrampilan pernah ia ikuti.
Mulai dari kursus menjahit, kursus memasak, kursus merangkai bunga, sampai berbagai kursus kesehatan.
Karena kepintarannya itu, terutama kecapakannya di dalam mengorganisasikan sesuatu, saat salah satu pimpinan suaminya melakukan pindah rumah dari Lampung ke Yogya, Ninunglah yang diminta untuk memimpin pindahan rumah. Belasan angkutan, mulai dari truk sampai mobil pribadi, diatur oleh Ninung dari mulai Lampung sampai Yogya.
39
Kepiawaiannya dalam hal mengatur sesuatu, juga tampak dari caranya membagi waktu kepada anak-anaknya. Pernikahannya dengan Suharto, Ninung mempunyai 4 orang anak. Artinya, ia punya 5 anak, termasuk Bob. Ketika anak-anaknya masih kecil, termasuk Bob, Ninunglah yang bertugas untuk mengantar dan menjemput kelima anaknya itu. dengan sepeda motor bebek berwarna merah, Ninung bergerak dari sekolah satu ke sekolah yang lain, mengantar dan menjemput anak-anaknya.
Ninung jugalah yang sering mengantar Bob ikut lomba menggambar. “Bahkan saat masih di SMA pun saya masih suka mengantarnya ikut lomba menggambar.” tandas Ninung.
---
M
asalah mulai muncul saat Bob lulus SMA. Di keluarga besar Suteja, dari dirinya sampai anak dan menantunya, hampir semuanya bekerja di bidang perminyakan.Oleh karena itu, keluarga Suteja menyarankan agar Bob pun kuliah di bidang perminyakan.
Sebagai anak manis yang tidak pernah memberontak, Bob menurut. “oh aku tidak membayar. Mereka yang membiayai semuanya.” ungkap Bob.
Sementara itu, Ninung, sebagaimana kebanyakan orang tua saat itu, juga berharap anaknya kalau tidak menjadi dokter ya menjadi insinyur. etapi ia tidak berani menyarankan kepada anaknya, sebab ia sadar kalau ia tidak mungkin membiayai kuliah Bob.
Bob pun lantas masuk ke sebuah universitas swasta di Yogya, mengambil jurusan perminyakan. etapi sesungguhnya saat itu, hati kecilnya mulai berontak. Ia ingin masuk ISI. Ia ingin jadi pelukis. “Aku tidak ingin jadi orang kantoran, atau jadi orang yang kerja di perminyakan, yang kerjanya pergi ke lau atau pergi
ke hutan. Aku ingin bebas!” tegas Bob.
etapi saat itu, Bob belum berani melakukannya. Sebab ia juga sedang menikmati ‘kebebasannya’ yang lain, yakni bebas
39
40
dari masuk setiap hari, bebas dari memakai seragam sekolah, dan bebas dari mengikuti upacara bendera.
Dan untuk merayakan kebebasannya itu, ia membuat tato kecil yang disembunyikannya di tangan. Sekaligus merayakan kebebasannya dengan cara tidak pernah masuk kuliah.
Namun, bagaimanapun juga, pikiran Bob masih terus dihantui oleh betapa mengerikannya kalau kelak ia lulus. Ia akan tinggal di hutan, atau tinggal di lepas pantai. ia akan terikat oleh jadwal kerja. Ia merasa bahwa ‘kebebasan’ yang sudah diraihnya saat itu, di mana tidak perlu lagi masuk dari jam tujuh pagi dan tidak memakai seragam sekolah, akan segera terenggut kembali begitu ia selesai kuliah.
Akhirnya Bob memutuskan untuk mengatakan apa yang diinginkannya kepada keluarga besar Suteja. Awalnya, keluarga besar itu kecewa dengan pilihan Bob. etapi mereka juga terlalu sayang kepada Bob. Mereka akhirnya menijinkan.
Bob kemudian mendaftar masuk ISI pada taun 1991. Ia diterima. Dan untuk menandai hal itu, sekali lagi, ia menato tubuhnya. Masih tetap di bagian yang bisa disembunyikan.
Gampang Tertawa,
Gampang Menangis
43
K
EBANYAKAN orang yang membaca namanya, Yustoni Volunteero, maka kebanyakan orang akan terbelah di dalam dua kelompok. Kelompok pertama, mungkin akan berpikir bahwa ia bukan berasal dari Indonesia. Sedangkan kelompok yang lain mungkin berpikir bahwa nama itu, terutama nama belakang ‘Volunteero’ pastilah nama tempelan belaka.etapi mereka salah. Nama itu adalah nama asli, dan oni berasal dari Indonesia. Setiap pemberian nama, bisa jadi mempunyai rentetan kisah.
Yusman, bapak oni, adalah lulusan UGM jurusan Administrasi Negara, pada tahun 1968. Saat itu, situasi politik Indonesia masih panas, dengan adanya peristiwa Gerakan 1 Oktober (Gestok).
Dan sebagai konsekuensi logis dari peristiwa itu, setiap orang yang lulus kuliah, tidak dapat segera mendapatkan pekerjaan,
termasuk Yusman. Sebab kala itu pemerintah mengeluarkan Keppres No 80 ahun 1968 yang berlaku surut. Keppres itu berisi semua institusi negara tidak boleh menerima pegawai baru.
Namun kemudian pemerintah membentuk sebuah badan yang bernama Badan Urusan enaga Kerja Sukarela (BUSI). Badan ini dikelola oleh 11 departemen dan 1 lembaga non-departemen.
Saat itu, BUSI membuka lowongan bagi pekerja sukarela yang akan disebar ke berbagai wilayah di Indonesia, terutama untuk mensukseskan beberapa program seperti: pembinaan adminsitrasi pemerintahan desa, memberi penyuluhan tentang gizi keluar, mensukseskan program keluarga berencana (KB), dan masih banyak yang lain. Pada gelombang pertama, BUSI membuka lowongan untuk 30 orang. Saat itu yang mendaftar 113 orang sarjana. Yusman salah satu orang yang lolos seleksi program tersebut dan ia ditempatkan di daerah Ungaran, Jawa engah.
Di sana, ia bertugas untuk memberi penyuluhan soal KB.
Celakanya, ia belum berkeluarga, sehingga hal seperti itu mempengaruhi psikologinya. Dan yang lebih celaka lagi, di tempatnya bertugas saat itu, baik kepala desa maupun camat
43
44
di daerah itu, masing-masing punya anak sebanyak 13 orang.
Karena hal itulah, setiap kali Yusman berceramah, ia sering memelesetkan istilah KB menjadi keluarga besar.
Setahun berada di sana, suatu hari ia sengaja jalan-jalan ke pasar Johar. Saat hendak menyeberang jalan, ia berpapasan dengan seorang perempuan yang telah lama dikenalnya. Perempuan itu bernama Kartini. Mereka lalu saling berkabar. Kartini adalah tetangganya di Yusman di Salatiga. Sejak kecil, Kartini sudah yatim-piatu. Setahu Yusman, Kartini sudah menikah, karena dulu ia tahu kalau Kartini pernah berpacaran dengan salah satu kawannya.
Sebagai basa-basi, Yusman bertanya, “Sudah punya anak berapa?”
Kartini saat itu langsung menjawab, belum punya. Kemudian ia bercerita bahwa pacarannya dengan kawan Yusman telah lama berakhir karena mantan pacarnya itu bertugas sebagai polisi di wilayah Papua.
Dengan iseng, begitu mendengar hal tersebut, Yusman menyeletuk, “Sudah ikut aku saja ke Ungaran. Aku punya gaji 2000 rupiah, kok.”
Basa-basi berakhir. Baik Yusman maupun Kartini pulang ke tempat masingmasing.
Suatu siang, Yusman sedang takziah karena camat Ungaran saat itu meninggal dunia. masih di lokasi kuburan, tidak dinyana, seseorang memberikan sepucuk surat kepada Yusman. Surat itu berasal dari Kartini. Di lokasi kuburan itu pula, yusman membuka amplop surat, dan membaca isi surat. Isinya padat dan singkat:
Apakah Yusman serius dengan ajakannya kepada Kartini tempo hari dulu?
Yusman kelabakan. Pertama, karena memang ia hanya berbasa- basi. Kedua, karena ia merasa tidak jatuh cinta dengan Kartini.
Dan yang ketiga, kalaupun toh ia menikah, ia tidak yakin dengan