• Tidak ada hasil yang ditemukan

T Cell Donor Type Regulator Required to Prevent Failure of Bone Marrow Transplantation of Alogenic System on Model C57BL / 6 → BALB / c

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "T Cell Donor Type Regulator Required to Prevent Failure of Bone Marrow Transplantation of Alogenic System on Model C57BL / 6 → BALB / c"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Sel T Regulator Tipe Donor Diperlukan untuk Mencegah Kegagalan Transplantasi Sumsum Tulang Sistem Alogenik

pada Model C57BL/6 → BALB/c

Muhaimin Rifa’i

Jurusan Biologi Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang Diterima 12 September 2012, direvisi 28 September 2012

ABSTRAK

Pada transplantasi organ maupun sumsum tulang, terjadinya penolakan donor oleh resipien dan juga GVHD (graft versus host disease) menjadi masalah paling penting pada bidang kesehatan. Lebih lanjut telah diketahui bahwa toleransi resipien atas donor tidak bisa berlangsung lama tanpa interfensi dari luar. Untuk mengetahui peranan sel T regulator pada transplantasi alogenik, pada penelitian ini dilakukan infusi sel T CD4+CD25+ yang berasal dari tipe donor. Sebelum transplantasi dilakukan resipien diradiasi dengan dosis letal 850 rad. Pada penelitian ini ditunjukkan bahwa infusi sel T regulator CD4+CD25+yang berasal dari mencit C57BL/6 pada model transplantasi C57BL/6→BALB/c terbukti membantu toleransi resipien terhadap donor. Sebaliknya sel T konvensional CD4+CD25- tidak dapat membantu keberhasilan transplantasi pada pengamatan tiga bulan pasca transplantasi. Penolakan donor oleh resipien maupun GVHD disebabkan oleh aktivasi sel T dan kurangnya sel T regulator CD4+CD25+. Hasil ini membuktikan bahwa sel T regulator CD4+CD25+ berperan penting menjaga homeostasis dan menjaga agar jumlah dan fungsi limfosit T dalam keadaan normal. Lebih lanjut pada penelitian ini ditunjukkan bahwa sel T donor CD4+CD25+membawa molekul Foxp3 dengan level yang tinggi.

Kata kunci:Sel T regulator, transplantasi, alogenik, Foxp3+. ABSTRACT

In solid organ and bone marrow transplannation, rejection of donor tissue by resipient and graft versus host disease (GVHD ) reactions are the most important issues in the health field. Furthermore it is known that the tolerance between donor and recipient can not be maintaned for long term without manipulation. To determine the role of regulatory T cells, in this experiment we conducted infusion of donor type CD4+CD25+ T cells. Before transplantation was performed, recipients were irradiated with lethal doses of 850 rad. In this study we demonstrated that the infusion of donor type CD4+CD25+ regulatory T cells in transplantation model of C57BL/6 → BALB/c promoted the tolerance of recipient against donor. Incontras, conventional T cells CD4+CD25- can not help the success of transplantation at three months post-transplantation. Rejection of donor tissue by the recipient and GVHD reaction are caused by the activation of T cells and lack of regulatory T cells, CD4+CD25+. These results suggest that CD4+CD25+regulatory T cells play an important role to homeostasis maintaining and keeping the number and function of lymphocyte T cells in normal circumstances. Furthermore, this study demonstrated that donor CD4+CD25+regulatory T cells express high levels of Foxp3 molecules.

Key word: regulatory T cells, transplantation, allogeneic, Foxp3+.

PENDAHULUAN

Kelangkaan donor yang mempunyai keselarasan MHC (major hystocompatibility complex) seperti pada kembar identik ---

*Coresponding author : Phone: 0341-575841 E-mail: [email protected]

(2)

merupakan masalah serius pada transplantasi organ maupun sumsum tulang. Pada manusia polimorfisme MHC sangat besar sehingga satu individu dengan yang lain mempunyai perbedaan MHC yang sangat besar, kecuali kembar identik. Berbagai usaha untuk menginduksi terjadinya toleransi antara donor dan resipien telah dilakukan oleh para ilmuwan. Namun demikian, kejadian GVHD dan rejeksi sampai saat ini belum sepenuhnya dapat dihindarkan. Di lain pihak, pencarian sel T regulator dari populasi CD4 dan CD8 terus dilakukan, sehingga beberapa sel T regulator telah ditemukan walaupun masih dipertanyakan efikasinya. Di antara sel T regulator yang dianggap paling baik untuk mencegah GVHD dan rejeksi adalah sel T CD4+CD25+. Sel T regulator ini menyusun populasi sel T sekitar 5-10%. Marker sel T regulator telah diteliti terdiri dari CD62L, CD122, CD134, CD103, CD45RB, Foxp3, dan CTLA-4. Namun ternyata marker-marker tersebut juga diekspresikan pada sel-sel yang lain, sehingga marker-marker tersebut tidak lagi bisa dipercaya sepenuhnya untuk mengidentifikasi sel T regulator [1-4]. Pada tahun 2003, forkhead transcription factor, Foxp3, ditemukan dan diklaim sebagai molekul yang paling penting pada pembentukan dan perkembangan sel T regulator. Foxp3 mempunyai peranan yang sangat penting pada perkembangan sel T regulator sebagaimana pentingnya Tbet pada Th1, GATA-3 pada Th2, dan RORyt pada Th17 yang masing-masing berperan sebagai faktor transkripsi. Foxp3 diekspresikan terbatas pada CD4+CD25+ yang membawa TCRαβ, meskipun gen Foxp3 sendiri tidak dikhususkan untuk exspresi CD25. Mencit dan manusia yang tidak memiliki gen Foxp3 akan mengalami aktivasi dan proliferasi sel T yang sangat besar. Keadaan ini menyebabkan terjadinya autoimun dan kematian yang lebih cepat [4,5]. Penghapusan Foxp3 pada hewan bisa menyebabkan terjadinya reaktivitas sel yang ditandai dengan proliferasi sangat cepat (hyperproliferation), ekspansi sel dendritik yang sangat cepat dan terjadi kematian cepat pada mencit dalam 2 minggu setelah deplesi

Foxp3 [6-8]. Foxp3 dianggap sebagai master faktor transkripsi yang mengontrol perkembangan dan fungsi sel T regulator pada mencit. Sayangnya data tentang Foxp3 pada manusia tidak jelas karena ada bukti bahwa Foxp3 dapat terekpresi pada sel-sel yang teraktivasi meskipun sebelumnya (status naïve) tidak terdeteksi. Hal ini sangat penting untuk difahami, karena pada berbagai studi transplantasi pada manusia sekarang menggunakan Foxp3 untuk penentuan sel T regulator mulai dari biopsi ginjal sampai profil urin melalui PCR dan juga penelitian in vitro.

Meskipun tidak diragukan lagi bahwa Foxp3 ini sangat berhubungan dengan sistem biologi Treg, penelitian mendalam tentang Foxp3 ini masih sangat diperlukan. Hal lain yang perlu diingat bahwa Foxp3 merupakan faktor transkripsi yang bertempat di dalam nukleus, sehingga tidak dapat dijadikan marker untuk memisahkan Treg dari lainnya. Oleh karena itu sampai sekarang masih banyak ilmuwan yang terus mencari marker permukaan sel yang dapat mendiskriminasi sel Treg terhadap yang lain. Pada perkembangannya diketahui CD127 yang merupakan reseptor IL-7 berkorelasi terbalik dengan ekspresi Foxp3 dan aktivitas Treg [12]. Sel T dengan ekspresi permukaan molekul CD+CD25+CD127lo mempunyai ekspresi Foxp3 tiga kali lebih besar dibandingkan dengan CD4+CD25hi dan juga diketahui CD+CD25+CD127lo mempunyai aktivitas regulator yang lebih tinggi dibandingkan dengan CD+CD25hi. Di samping itu, CD+CD25+CD127lo mempunyai daya regulator yang lebih tinggi dibandingkan dengan CD+CD25hi. Lebih penting lagi marker CD127 dapat menghindari kesalahan mensorting Foxp3 yang sebenarnya berasal dari sel yang baru teraktivasi maupun sel memori. Bahkan, pemisahan sel T manusia yang hanya didasarkan pada CD4 dan CD127 (CD4+CD127lo) sekitar 50% mengekspresikan Foxp3 dan dapat menekan sel T efektor dengan efisien. CD127 merupakan marker yang menjanjikan untuk identifikasi dan isolasi sel T rergulator manusia.

Sel T regulator CD+CD25+Foxp3+ diketahui berkembang pada organ timus dengan

(3)

kecenderungan sifat autoreaktif. Diduga bahwa sel T regulator natural yang cenderung reaktif disebabkan oleh interaksi yang kuat MHC:self peptida [9,10,13]. Namun demikian pengamatan di atas dilakukan pada mencit transgenik dengan karakteristik TCR dengan diversitas terbatas yang mana kematian klon pada seleksi negatif berjalan secara serempak.

Dengan demikian, masih dimungkinkan adanya perkembangan sel T regulator yang mempunyai afinitas ikatan yang rendah pada MHC:self peptida. Bahkan terdapat bukti bahwa stimuli antigen dengan konsentrasi yang rendah dapat mengubah sel T konvensional CD4+CD25 Foxp3 menjadi sel Treg yang mengekspresikan Foxp3+ pada periferal.

Sebagai contoh bahwa stimulasi terhadap sel T efektor CD4+CD25 Foxp3 melalui reseptornya (TCR, T cell receptor) dengan adanya TGF-β ternyata dapat meningkatkan molekul Foxp3 secara drastis dan menghasilkan fenotip CD4+CD25+Foxp3+. Fenotip yang baru terbentuk ini disebut sel T regulator adaptif dan mempunyai sifat sebagai regulator yang baik [9,12,14-16]. Hal yang sangat menarik, ternyata antigen donor dengan adanya anti-CD40L pada resipien menyebabkan sel dendritik mempunyai kemampuan mengubah sel T konvensional

CD4+CD25 Foxp3 menjadi

CD4+CD25+Foxp3+. Dalam hal ini sel dendritik akan mencerna aloantigen dari transplan dan pindah ke lymph node periferal dan mempengaruhi sel T konvensional untuk berubah menjadi sel Treg. Isolasi sel dendritik dari individu yang telah menerima transplantasi di atas dan mengkulturkannya in vitro ternyata dapat mengubah sel T

CD4+CD25 Foxp3 menjadi

CD4+CD25+Foxp3+. Pada penelitian ini ditunjukkan bahwa sel T regulator CD4+CD25+ yang membantu keberhasilan transplantasi mengekpresikan Foxp3 pada level yang tinggi.

Lebih jauh hasil penetitian ini menunjukkan adanya bukti adanya regulasi Treg mencegah terjadinya reaktivitas sel T pada transplantasi alogenik.

METODE PENELITIAN

Pada penelitian ini digunakan mencit BALB/c sebagai resipien dan mencit C57BL/6 sebagai donor. Mencit donor mempunyai genotip dengan karakteristik C57BL/6CD45.1/CD45.1. Sumsum tulang diisolasi dari tulang femoral mencit C57BL/6CD45.1/CD45.1 (umur 4 minggu).

Sel sumsum tulang sebanyak 3 x 106 diinfusikan pada resipien (BALB/c). Sebelum menerima infusi sumsum tulang, resipien diradiasi dengan dosis letal 850R. Hasil transplantasi dianalisis setelah tiga bulan pasca transplantasi. Status sel donor dilacak dengan menggunakan antibodi monoklona (CD45.1).

Untuk menganalisis status dan perkembangan sel donor digunakan beberapa antibodi monoklonal yaitu, phycoerythrin (PE)- atau fluorescein isothiocyanate (FITC)-conjugated anti-mouse CD8 (clone 53-6.7), phycoerythrin (PE)- atau fluorescein isothiocyanate (FITC)- conjugated anti-mouse CD4 (clone GK1.5), biotin-conjugated anti-mouse CD45.1 (clone A20), FITC-conjugated anti-mouse Gr-1 (clone RB6-8C5), biotin-conjugated anti- mouse TER-119 (clone TER-119), phycoerythrin (PE)- conjugated anti mouse CD62L (clone MEL-14), FITC-conjugated anti-mouse CD25 (clone PC61.5), phycoerythrin (PE)- conjugated anti mouse B220 (RA3-6B2). Antibodi yang berkonjugasi dengan biotin divisualisasi dengan menggunakan streptavidin-PE-Cy5 (eBioscience, San Diego, CA). Pada penelitian ini data dianalisis dengan menggunakan FACS CaliburTM flow -cytometer (BD-Biosciences, San Jose, CA).Intracellular stainingdilakukan dengan Cytofix/Cytoperm kit (BD-Biosciences Pharmingen) sesuai protokol produk. Sel di inkubasi dengan biotin-conjugated anti-Foxp3 dan divisualisasi dengan streptavidin-PE-Cy5.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Transplantasi sumsum tulang pada sistem alogenik C57BL/6→BALB/c menghasilkan

(4)

fenotip letal tiga bulan setelah transplantasi.

Sedangkan transplantasi singenik menghasilkan fenotip normal tanpa gejala GVHD (graft versus host disease). Pada transplantasi alogenik prekursor sel T dan sel B tidak berkembang normal, sedangkan pada transplantasi singenik prekursor sel limfosit berkembang normal meskipun rasio antara sel T dan sel B berubah dari kondisi normal (kontrol tanpa manipulasi). Transplantasi alogenik tidak mendukung perkembangan sel regulator CD4+CD25+, sedangkan pada transplantasi singenik tidak mengubah rasio sel T regulator (data tidak dipublikasikan).

Transplantasi alogenik mengarahkan prekursor sel T berkembang menjadi sel-sel memori, sedangkan transplantasi singenik mengarahkan prekursor sel T berkembang menjadi sel naïve.

Sel B sebagaimana sel T pada sistem alogenik tidak berkembang, namun berkembang normal pada sistem singenik. Sumsum tulang pada sistem alogenik didominasi oleh sel granulosit dan prekursor sel darah merah (TER119) tidak berkembang (Gambar 1). Namun demikian penambahan sel T regulator CD4+CD25+(tipe donor) dapat membantu keberhasilan transplantasi sehingga resipien dapat hidup normal setidaknya sampai tiga bulan pasca pelaksanaan transplantasi sumsum tulang.

Pada transplantasi sistem alogenik sel T regulator CD4+CD25+ diduga berperan menjaga sel-sel hematopoietik agar tidak melakukan aktivasi. Sel T regulator melakukan supresi dengan cara mensekresi IL-10 dan TGF-β [17]. Pada transplantasi alogenik sel T donor yang berkembang akan mengenali sel resipien sebagai antigen, oleh karena itu ketersedian sel T regulator sebagai supresor sangat diperlukan untuk tetap menjaga homeostasis yang normal. Dalam hal ini sel T regulator akan membantu menekan sel-sel efektor agar tidak melakukan penyerangan terhadap komponen yang dianggap asing. Di antara sel resipien terdapat yang resisten terhadap radiasi. Sel T resisten tersebut pada akhirnya akan berkembang dengan cepat untuk menghambat perkembangan sel donor, sehingga pada transplantasi alogenik akan terjadi kimera antara donor dan resipien.

Kimera antara donor dan resipien tidak saja terjadi pada sistem alogenik namun juga pada sistem singenik, hanya saja pada sistem singenik kimera tidak akan menimbulkan reaksi imunologi karena MHC antara donor dan resipien dalam keadaan matching.

Sebaliknya pada sistem alogenik kimera antara donor dan resipien pada akhirnya bersifat fatal yang menimbulkan GVHD maupun rejeksi.

Secara fisiologi ada kecenderungan bahwa sel resipien lebih adaptif dalam memenangkan persaingan terhadap sel donor, sehingga pada jangka tertentu akan terjadi eliminasi sel donor oleh resipien. Dengan demikian bisa difahami bahwa penyakit tertentu akan muncul kembali setelah pelaksanaan transplantasi sumsum tulang jika sel-sel donor tidak bisa berkompetisi terhadap resipien. Serangan komponen sel imune resipien terhadap donor tidak saja berakibat menurunnya populasi CD4 dan CD8 donor, namun juga menurunnya jumlah sel B. Populasi sel T donor yang lolos dari elimanasi juga menunjukkan reaktivitas terhadap host. Hal ini ditandai dengan rendahnya ekspresi CD62L dan tingginya ekspresi CD44, CD62L-CD44+ (Gambar 2).

Hilangnya ekspresi CD62L mengakibatkan sel terus bergerak mencari target sasaran antigen yang sesuai. CD62L merupakan reseptor homing yang dimiliki oleh sel-sel naïve yang memungkinkan sel tersebut berada pada organ limfoid dalam status non-aktif. Sedangkan CD44 merupakan pemacu aktivasi sel T meskipun fungsi utamanya belum diketahui.

Pada transplantasi sistem alogeneic sel punca cenderung tumbuh menjadi sel granulosit.

Dominasi sel granolosit (Gr1) pada sumsum tulang akan menggangu pertumbuhan sel B (B220). Bukti ini dapat dilihat pada analisis dengan menggunakan antibodi monoklonal B220 yang menunjukkan turunnya populasi sel yang mengekspresikan B220 (data tidak dipublikasikan). Dominasi sel granulosit pada lokasi sumsum tulang tidak saja mengganggu pertumbuhan sel B namun juga pertumbuhan erythroid lineage (data tidak dipublikasikan).

Hilangnya sistem homeostasis pada sistem transplantasi alogenik berakhir pada kerusakan organ resipien. Kerusakan organ akibat

(5)

Gambar 1. Sel T regulator membantu terbentuknya prekursor eritrosit dan mencegah abnormalitas perkembangan sel granulosit. Mencit BALB/c betina berumur 8 minggu diradiasi dengan dosis letal 850 rad. Sel sumsum tulang dari mencit C57BL/6 sebanyak 3 x 106 diinfusikan secara intra vena untuk rekonstitusi resipien. Hasil transplantasi dianalisis setelah tiga bulan pasca transplantasi. Analisis sumsum tulang dilakukan dengan menggunakan flowcytometry. Prekursor eritrosit dianalisis dengan menggunakan antibodi monoklonal anti- TER119, sedangkan sel-sel granulosit dianalisis dengan menggunakan antibodi monoklonal anti-Gr-1. Pada panel kiri ditunjukkan hasil analisis resipien tiga bulan pasca transplantasi dengan adanya injeksi sel T regulator CD4+CD25+. Panel kanan ditunjukkan hasil analisis sebagaimana panel kiri namun resipien tidak diinjeksi dengan sel T regulator CD4+CD25+tetapi diinjeksi dengan sel T konvensional CD4+CD25-. Data ini mewakili lebih dari lima kali percobaan.

Gambar 2. Sel T regulator mencegah reaktivitas limfosit T pasca transplantasi sumsum tulang. Mencit BALB/c betina berumur 8 minggu diradiasi dengan dosis letal 850 rad. Sel sumsum tulang dari mencit C57BL/6 sebanyak 3 x 106diinfusikan secara intra vena untuk rekonstitusi resipien. Hasil transplantasi dianalisis setelah tiga bulan pasca transplantasi. Analisis sel spleen dilakukan dengan menggunakan flowcytometry. Persentase sel naïve (CD62L+CD44-)dan sel reaktif CD62L-CD44+ditunjukkan pada masing panel dengan menggunakan antibodi monoklonal anti-CD44 dan antibodi monoklonal anti-CD62L. Pada panel kiri ditunjukkan hasil analisis resipien tiga bulan pasca transplantasi dengan adanya injeksi sel T regulator CD4+CD25+. Panel kanan ditunjukkan hasil analisis sebagaimana panel kiri namun resipien tidak diinjeksi dengan sel T regulator CD4+CD25+ tetapi diinjeksi dengan sel T konvensional CD4+CD25-. Data ini mewakili lebih dari lima kali percobaan.

(6)

serangan komponen sel imunitas donor terhadap resipien dan sebaliknya akan mengganggu sistem organ keseluruhan yang pada tahap awal ditandai turunnya berat badan akibat gangguan fisiologi yang menyeluruh.

Infusi sel T regulator CD4+CD25+ pada transplantasi alogenik mampu mencegah induksi GVHD. Pada penelitian ini terdeteksi ekspresi CD4+CD25+ pada level normal dan pada beberapa pengamatan jauh lebih tinggi daripada kontrol. Fenomena yang menarik

ternyata CD4+CD25+ yang berkembang pada transplantasi alogenik mengekspresikan molekul Foxp3 jauh di atas normal (Gambar 3). Foxp3 diketahui sebagai marker spesifik yang mengkode terbentuknya sel regulator.

Tingginya ekspresi Foxp3 pada penelitian ini diduga diperlukan oleh sel CD4+CD25+ untuk bekerja secara efektif mengatasi sel-sel reaktif agar berada pada status toleran. Hasil penelitian ini secara konsisten mendukung apa yang telah dinyatakan oleh banyak peneliti dan

Gambar 3. Sel T regulator meningkatkan ekspresi molekul Foxp3 pasca transplantasi sumsum tulang. Mencit BALB/c betina berumur 8 minggu diradiasi dengan dosis letal 850 rad. Sel sumsum tulang dari mencit C57BL/6 sebanyak 3 x 106 diinfusikan secara intra vena untuk rekonstitusi resipien. Hasil transplantasi dianalisis setelah tiga bulan pasca transplantasi. Analisis sel spleen dilakukan dengan menggunakan flowcytometry. Sel T regulator diidentifikasi dengan melihat molekul permukaan sel CD4 dan CD25. Antibodi monoklonal anti-CD4 dan anti-CD25 digunakan untuk menentukan eksistensi sel T regulator. Ekspresi Foxp3 dianalisis denganintraseluler stainingdengan menggunakan antibodi monoklonal anti-Foxp3. Pada panel kiri ditunjukkan ekpresi Foxp3 sel T regulator dengan adanya injeksi sel TregCD4+CD25+tipe donor. Panel kanan ditunjukkan hasil analisis sebagaimana panel kiri namun resipien tidak diinjeksi dengan sel TregCD4+CD25+ tetapi diinjeksi dengan sel T konvensional CD4+CD25-. Data ini mewakili lebih dari lima kali percobaan.

(7)

menekankan pentingnya Foxp3 sebagai marker sel T regulator.

KESIMPULAN

Pada transplantasi yang tidak melibatkan sel T regulator CD4+CD25+, sel granulosit mendominasi kompartemen sumsum tulang, sebaliknya perkembangan eritrosit terganggu dan tidak mencapai tahap maturasi. Sel T regulator CD4+CD25+ membantu mengatasi reaksi GVHD dan rejeksi (penolakan) pada transplantasi sumsum tulang alogenik. Reaksi GVHD pada transplantasi umumnya disebabkan oleh reaktivitas sel T yang ditandai dengan menurunnya ekspresi molekul CD62L dan meningkatnya ekspresi molekul CD44. Sel T regulator yang berkembang pada sistem transplantasi alogenik mengekspresikan Foxp3 pada level yang sangat tinggi.

UCAPAN TERIMA KASIH

Pada kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada Prof. Kenichi Isobe dan Dr. Haruhiko Suzuki dari Nagoya University sehubungan dengan diskusi dan saran berkaitan dengan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Bushell A, Morris PJ, Wood KJ (1995), Transplantation tolerance induced by antigen pretreatment and depleting anti- CD4 antibody depends on CD4+ T cell regulation during the induction phase of the response, Eur J Immunol., 25, 2643–

2649.

[2] Sakaguchi S, Sakaguchi N, Asano M (1995), Immunologic self-tolerance maintained by activated T cells expressing IL-2 receptor alpha-chains (CD25). Breakdown of a single mechanism of self-tolerance causes

various autoimmune diseases, J Immunol.,155, 1151–1164.

[3] Itoh M, Takahashi T, Sakaguchi N (1999), Thymus and autoimmunity:

production of CD25+CD4+ naturally anergic and suppressive T cells as a key function of the thymus in maintaining immunologic self-tolerance, J Immunol., 162, 5317–5326.

[4] Fontenot JD, Rasmussen JP, Williams LM (2005), Regulatory T cell lineage specification by the forkhead transcription factor foxp3, Immunity.,22, 329–341.

[5] Rifa’i, M (2010), Andrographolide Ameliorate Rheumatoid Arthritis by Promoting the Development of Regulatory T Cells,Jtrolis.,1, 5-8.

[6] Rifa’i, M., Lee, YH (2011), CD4+CD25+FOXP3+ Regulatory T Cells In Allogeneic Hematopoietic Cell Transplantation,Jtrolis.,1(2), 69-75.

[7] Akl A, Luo S, Wood KJ (2005), Induction of transplantation tolerance-the potential of regulatory T cells, Transpl Immunol.,14, 225–230.

[8] Kim J, Rasmussen J, Rudensky A (2007), Regulatory T cells prevent catastrophic autoimmunity throughout the lifespan of mice,Nat Immunol.,8, 191–197.

[9] Wood KJ, Sakaguchi S (2003), Regulatory T cells in transplantation tolerance,Nat Rev Immunol.,3, 199–210.

[10] Qin S, Cobbold SP, Pope H (1993), Infectious transplantation tolerance, Science.,259, 974–977.

[11] Trenado A, Charlotte F, Fisson S (2003), Recipient-type specific CD4+CD25+ regulatory T cells favor immune reconstitution and control graft-versus- host disease while maintaining graft- versus-leukemia, J Clin Invest., 112, 1688–1696.

[12] Liu W, Putnam AL, Xu-Yu Z (2006), CD127 expression inversely correlates with FoxP3 and suppressive function of human CD4+ T reg cells, J Exp Med., 203, 1701–1711.

(8)

[13] Jordan MS, Boesteanu A, Reed AJ (2001), Thymic selection of CD4+CD25+ regulatory T cells induced by an agonist self-peptide,Nat Immunol.,2, 301–306.

[14] Chen D, Zhang N, Fu S (2006), CD4+CD25+regulatory T-cells inhibit the islet innate immune response and promote islet engraftment, Diabetes., 55, 1011–

1021.

[15] Fu S, Zhang N, Yopp AC (2004), TGF- beta induces Foxp3+ T-regulatory cells from CD4+ CD25- precursors, Am J Transplant.,4, 1614–1627.

[16] Bushell A, Jones E, Gallimore (2005), The generation of CD25+ CD4+ regulatory T cells that prevent allograft rejection does not compromise immunity to a viral pathogen, J Immunol., 174, 3290–3297.

[17] Chen ZM, O’Shaughnessy MJ, Gramaglia I, Panoskaltsis-Mortari A, Murphy WJ, Narula S, Roncarolo MG, Blazar BR (2003), IL-10 and TGF-beta induce alloreactive CD4+, Blood., 101, 5076–

5083

Referensi

Dokumen terkait