PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Desa Geger merupakan salah satu desa yang masih menganut budaya kuno, salah satunya adalah Jagong dalam walimatul 'ursy. Latihan Jagong biasanya dilakukan oleh sebagian besar masyarakat pada malam sebelum acara valimatul 'ursy, yang mana dalam tradisi ini meliputi beberapa kegiatan yaitu kenduri dan permainan kartu. Urf terbagi menjadi dua, yaitu urf shahih yaitu urf yang tidak bertentangan dengan syariat dan urf fasid yang haram karena menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.5 Jadi, urf dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam hukum Islam. tentang amalan Jagong dalam walimatul 'ursy.
Maka penulis mengangkat tema tersebut dalam judul penelitian yang akan dilakukan yaitu : Tinjauan 'Urf Pada Tradisi Jagong Di Walimatul 'Ursy (Studi Kasus Di Desa Geger Kecamatan Geger Kabupaten Madiun).
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Untuk menjelaskan dan menganalisis gambaran makna 'urf dalam rangkaian tradisi Jagong di Desa Geger Kecamatan Geger Kabupaten Madiun.
Manfaat Penelitian
Telaah Hasil Penelitian Terdahulu
Pertama, tesis Asykar Wildan Zaid berjudul Tinjauan Hukum Islam tentang Tradisi Tebusan Mayat Kembar Mayang dalam Resepsi Pernikahan (studi kasus di Kelurahan Suryodiningratan, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta). 6 Asykar Wildan, Tinjauan Hukum Islam pada Tradisi Penebusan Kembar Mayang pada Resepsi Pernikahan, Skripsi (Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Yogyakarta, 2016), 5. Permasalahan dalam penelitian ini adalah tinjauan Hukum Islam pada tradisi Man Pasir pada acara walimatul.
Rumusan masalah dalam penelitian ini membahas mengenai tinjauan hukum Islam terhadap tradisi manjampuik nasi sapariuk.
Metode Penelitian
Sumber datanya adalah data-data yang peneliti peroleh dari subjek yang diteliti, seperti data deskriptif walimatul ‘ursy, dokumen pribadi dari catatan informan, catatan peneliti pada saat terjun di lapangan, segala sesuatu yang dibuat oleh orang-orang yang berkaitan dengan hal tersebut. pelaksanaan walimatul 'ursy di desa Geger, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Dalam penelitian kualitatif, data yang dikumpulkan berupa data deskriptif, misalnya dokumen pribadi, catatan lapangan, tindakan responden, dokumen, dan lain-lain.19 Sumber data yang relevan adalah data yang diperoleh peneliti dari orang yang diteliti, misalnya. seperti data deskriptif dari walimatul 'ursy, dokumen pribadi dari catatan sumber, catatan peneliti selama terjun di lapangan, segala sesuatu yang dilakukan masyarakat terkait pelaksanaan walimatul 'ursy di desa Geger kecamatan Geger kabupaten Madiun. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi (telaah dokumen).
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif yang mengikuti konsep Miles dan Huberman.
Sistematika Pembahasan
Pada bab ini akan diuraikan beberapa materi terkait tradisi 'urf dan Jagong dalam walimatul 'ursy yang akan digunakan peneliti untuk menganalisis atau mengkaji permasalahan penelitian. Bab ini berisi tentang penyajian data yang memuat hasil-hasil penelitian di daerah ini, yang terdiri dari gambaran umum lokasi penelitian: letak geografis, letak demografi, aspek budaya, aspek sosial ekonomi, aspek keagamaan dan pendidikan Desa Geger, Geger Kecamatan, Kabupaten Madiun. Analisis dilakukan dengan membaca data penelitian menggunakan teori-teori yang dijelaskan pada Bab II.
Pembacaan ini menghasilkan temuan penelitian terkait tinjauan analisis 'urf dan makna yang terkandung dalam tradisi Jagong dalam valimatul 'ursy di desa Geger, kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Bab ini merupakan bab terakhir dari skripsi yang menguraikan kesimpulan sebagai jawaban atas permasalahan pokok dan saran terkait hasil penelitian.
TINJAUAN UMUM TENTANG ‘URF DAN TRADISI JAGONG PADA
- Adat (‘Urf)
- Walimatul ‘Ursy
- Kenduri
- Tradisi Jagong
Sedangkan yang disebut 'urf' tidak dilihat dari berapa kali suatu perbuatan dilakukan, melainkan dilihat dari kenyataan bahwa perbuatan tersebut diketahui, diakui dan diterima oleh banyak orang. Terlepas dari perbedaan pengertian antara 'urf dan kebiasaan, jelas dari definisi di atas bahwa urf dapat berupa perkataan dan perbuatan. Misalnya, 'urf berupa suatu perbuatan, adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat ketika melakukan transaksi kebutuhan sehari-hari yang ringan, seperti gula, garam, dan sayur-sayuran, dengan cara mentransfer harga dan menerima barang tanpa ada kesepakatan atau dikatakan penerimaan. .
1) 'Urf Lafdzi, adalah 'urf yang merupakan kata seperti kata walad, menurut bahasanya berarti anak-anak, termasuk laki-laki dan perempuan. Namun dalam percakapan sehari-hari yang dimaksud hanya hewan darat, tidak termasuk daging hewan air (ikan).35. 2) 'Urf amảli, adalah 'urf yang berupa perbuatan. 2) Urf al-fi'ly, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang berupa perbuatan, seperti tindakan jual beli di masyarakat tanpa mengucapkan akad jual beli. C. Urf mengenai penerimaan atau penolakan adalah sebagai berikut.
2) 'Urf Fảsid, adalah 'urf yang tidak baik dan tidak dapat diterima, karena bertentangan dengan syariat'. Artinya dalam suatu transaksi, jika kedua belah pihak sudah menetapkan dengan jelas apa yang harus dilakukan, maka 'Urf tersebut tidak berlaku lagi. Atau dengan kata lain tidak boleh ada syarat-syarat yang mengakibatkan 'urf atau adat istiadat itu tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan... urf secara implisit berfungsi sebagai suatu syarat.
Jadi . 'urf dapat dijadikan sebagai sumber penetapan hukum apabila tidak ada nash kath'i yang secara khusus melarang dilakukannya perbuatan yang sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Namun jika terjadi pertentangan antara Urf dan teks Al-Qur'an, maka sulit menentukan siapa ulama yang lebih berwibawa.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Desa Geger
Dilihat dari segi demografi, jumlah penduduk Desa Geger sampai dengan akhir tahun 2021 sebanyak 7206 jiwa, hal ini diambil dari hasil sensus penduduk awal tahun 2021 sampai dengan akhir tahun 2021, terbagi atas penduduk laki-laki sebanyak 3557 jiwa sedangkan penduduk perempuan berjumlah 3557 jiwa. jumlah penduduk 3649 jiwa. , jadi jumlah penduduknya adalah 7206 jiwa. Kepadatan penduduk di Desa Geger secara alami tersebar di berbagai wilayah, dimana tentunya penduduknya menganut suatu kepercayaan yang dijadikan sebagai pedoman hidup. Mata pencaharian penduduk Desa Gegër didominasi dengan bekerja sebagai buruh tani, petani dan wiraswasta.
Dimana penduduknya berprofesi sebagai buruh tani sebanyak 1.131 orang, petani sebanyak 1.478 orang, dan wiraswasta sebanyak 597 orang. Dan sisanya sebanyak 2.845 orang masih berada pada jenjang pendidikan mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak/Kelompok Bermain hingga Perguruan Tinggi baik di sekitar wilayah Desa Geger maupun di luar wilayah Desa Geger.
Pelaksanaan Tradisi Jagong
Makna dalam Rangkaian Tradisi Jagong di Desa Geger Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. Dalam hal ini tidak menutup kemungkinan tradisi Jagong di Walimatul 'Ursy di Desa Geger juga memuat permainan kartu ini. Yang dimaksud kemaslahatan disini adalah tradisi Jagong dalam walimatul 'ursy tidak lain adalah kemaslahatan dalam kehidupan sosial masyarakat Desa Geger.
Yang dimaksud dengan tradisi adalah Tradisi Jagong walimatul 'ursy di Desa Geger merupakan adat yang dilakukan oleh nenek moyang yang masih dipertahankan dan dilakukan oleh keturunan atau cucu hingga saat ini. Penerapan tradisi Jagong pada pernikahan ini terbukti cukup memberikan kontribusi terhadap kehidupan sosial Desa Geger. Yang dimaksud dengan manfaat di sini adalah bahwa tradisi Jagong dalam walimatul 'ursy tidak lain adalah untuk.
Yang dimaksud dengan tradisi adalah Makna kenduri dalam tradisi Jagong dalam walimatul 'ursy di desa Geger merupakan adat istiadat yang telah dilakukan sejak lama dan masih dilestarikan dan diamalkan hingga saat ini. Hal ini merupakan suatu manfaat yaitu permainan kartu dalam tradisi Jagong tidak lain adalah untuk memberikan manfaat bagi kehidupan sosial masyarakat Desa Geger. Tradisi Jagong dalam walimatul 'ursy tidak lain adalah untuk kepentingan kehidupan sosial masyarakat desa Geger.
Tradisi Majong yang lazimnya diamalkan oleh penduduk Kampung Geger diiringi dengan perayaan. Mengenai analisis 'Urf tentang makna-makna yang terkandung dalam rangkaian tradisi Jagong dalam Walimatul'ursy di kampung Geger: Pertama: pengertian perayaan dalam tradisi Jagong terkandung dalam 'Urf amali . Kedua, permainan kad remi dalam tradisi Jagong dilihat dari segi tujuan persembahannya yang tidak lain tidak bukan semata-mata untuk kepentingan kehidupan sosial masyarakat Desa Geger.
Dengan selalu menerapkan tradisi Jagong dalam kehidupan masyarakat Desa Geger, demi kepentingan kehidupan sosial masyarakat Desa Geger.
Makna-makna yang Terkandung dalam Tradisi Jagong
ANALISIS ‘URF TERHADAP TRADISI JAGONG PADA WALIMATUL
Analisis ‘Urf Terhadap Rangkaian Tradisi Jagong dalam Walimatul ‘Ursy di
Analisis ‘Urf Terhadap Makna-Makna yang Terkandung dalam Rangkaian
Jadi disini kenduri pada acara walimatul 'ursy merupakan tradisi yang benar-benar peninggalan masa lalu. Adapun objek kenduri dalam tradisi Jagong termasuk dalam 'Urf amali (adat/adat istiadat yang berkaitan dengan perbuatan). Yang dimaksud dengan 'Urf amali adalah tradisi atau adat istiadat masyarakat tertentu dalam menyikapi sesuatu, sehingga makna dari tindakan tersebut adalah apa yang dipahami dan timbul dalam masyarakat. Kenduri dalam tradisi Jagong memuat 'Urf shahậh, suatu adat yang berlaku di kalangan masyarakat yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an atau Sunnah Nabi, tidak menghilangkan manfaatnya, dan tidak menimbulkan kerugian.
Dengan tidak adanya pelarangan permainan kartu remi diharapkan masyarakat yang mengikuti tradisi Jagong akan tetap bertahan dan terus berkontribusi mensukseskan acara walimatul 'ursy hingga berakhir. Padahal, konsep asli makna permainan kartu remi dalam tradisi Jagong tak lain hanyalah untuk mengisi kekosongan waktu persiapan. Dalam pelaksanaannya mengutamakan kemaslahatan dan meniadakan kegiatan-kegiatan yang menimbulkan kerugian atau kerusakan, seperti taruhan dan minum-minum, sehingga tradisi Jagong tetap lestari dan tidak dihapuskan pada saat acara walimatul 'ursy.
Hal ini untuk menjaga kesediaan masyarakat untuk berpartisipasi membantu keberlangsungan acara walimatul 'ursy. Tradisi Jagong dalam walimatul 'ursy di Desa Geger ditinjau dari 'urf dapat dikategorikan sebagai 'urf shahậh, yaitu suatu adat yang berlaku di kalangan masyarakat yang tidak bertentangan dengan Al-Quran atau Sunnah Nabi. , tidak menghilangkan kemaslahatannya dan tidak mendatangkan kerugian bagi mereka jika diperhatikan bahwa para pelaku tradisi Jagong berkeyakinan bahwa Allah SWT-lah yang menciptakan kebahagiaan dan kesenangan dalam rumah tangganya. Dengan diterapkannya tradisi Jagong di Desa Geger, lebih banyak sisi positif yang ditimbulkan dari kegiatan ini dibandingkan sisi negatifnya.
Seperti yang telah dijelaskan pada bab di atas, tradisi Jagong semata-mata bertujuan untuk memperkuat sentimen sosial masyarakat dan turut menyukseskan acara tersebut. Dilihat dari tujuan dan rangkaian pertunjukannya, tradisi Jagong tidak termasuk 'urf fậsid atau adat istiadat yang bertentangan dengan dalil syariat'.
PENUTUP
Saran
Bagi masyarakat Desa Geger harus terus menjaga dan mempertahankan tradisi yang telah berkembang dan menjadi adat istiadat masyarakat sekitar. “Penerapan Tradisi Manjampuik Nasi Sapariuk Dalam Perspektif Hukum Islam (Studi di Nagari Simawang Kabupaten Tanah Datar)”. Pengorbanan Adat Dalam Penyelenggaraan Walimatul Urs Dalam Perspektif Hukum Islam (Studi di Dusun Mekar Sari Kukus Desa Limbur Tembesi Kecamatan Batin VIII Kabupaten Sarolangun)”.
“Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tradisi Man Pasir Dalam Pesta Pernikahan Di Kecamatan Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues.”