PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
8 Devita Dwi Ramawati, “Pemanfaatan Budaya 5S untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran Kelas Siswa SMP Negeri 3 Polokarto,” Buletin Literasi Budaya Sekolah. Berdasarkan latar belakang yang ditemui peneliti, maka timbul pertanyaan atau perhatian besar bagi peneliti, “Bagaimana penerapan pendidikan karakter melalui 5S (senyum, sapa, sapa, sopan dan santun) untuk mengoptimalkan budaya islami di SMPN 1 Sambit Ponorogo. Pendidikan melalui 5S (senyum, sapa, salam, sopan santun dan sopan santun) harus terus dijaga sebagai upaya guru membentuk karakter anak yang baik sehingga dapat mengoptimalkan budaya islami yang telah diterapkan di SMPN 1 Sambit. untuk waktu yang lama .
Fenomena tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Pendidikan Karakter Melalui 5S (Senyum, Sapa, Sapa, Santun, dan Santun) dalam Mengoptimalkan Budaya Islam di SMPN 1 Sambit Ponorogo”.
Fokus Penelitian
Sekolah diharapkan menjadi proses pembudayaan dan pemulihan karakter yang baik bagi generasi penerus. Fenomena tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Pendidikan Karakter melalui 5S (Senyum, Sapa, Sapa, Santun dan Santun) dalam Mengoptimalkan Budaya Islam di SMPN 1 Sambit Ponorogo”. senyum, sapa, sapa, santun dan santun) dalam optimalisasi budaya islami di SMPN 1 Sambit Ponorogo.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian penerapan pendidikan karakter melalui 5S untuk mengoptimalkan budaya Islam diharapkan dapat menjadi langkah atau cara bagi peserta didik untuk berperan lebih besar dalam memaksimalkan manfaat budaya 5S. Oleh karena itu, selain kemampuan akademis yang baik, mahasiswa juga mempunyai akhlak yang baik, khususnya budaya Islam. Hal ini dapat menjadi suatu kebiasaan yang baik dan menjadikan siswa sebagai siswa yang bermartabat di kemudian hari, serta dapat menjadi contoh yang baik bagi orang lain.
Sistematika Pembahasan
Implementasi pelatihan karakter melalui 5S (Senyum, Sapa, Sapa, Sopan dan Santun) dalam Mengoptimalkan Budaya Islami di SMPN 1 Sambit. Faktor Pendorong dan Penghambat Penanaman Pendidikan Karakter 5S Dalam Optimalisasi Budaya Islam di SMPN 1 Sambit Ponorogo. Inilah contoh penanaman pendidikan karakter melalui budaya 5S yang ditanamkan di SMPN 1 Sambit Ponorogo.
Faktor pendorong dan penghambat penanaman pendidikan karakter 5S dalam optimalisasi budaya islami di SMPN 1 Sambit Ponorogo.
Jadwal Penelitian
KAJIAN PUSTAKA
Kajian Teori
- Pendidikan Karakter
- Budaya 5S
- Kultur Islami
Oleh karena itu, kerjasama yang baik sangat diperlukan dalam implementasi pendidikan karakter di institusi manapun. Nilai-nilai dalam pendidikan karakter terkandung dalam nilai-nilai luhur budaya dan etnis Indonesia. Pendidikan karakter melalui 5S merupakan upaya untuk meningkatkan karakter anak yang baik dan membentuk akhlak yang baik.
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter di Indonesia diartikan bersumber dari empat sumber, yaitu agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan.
Kajian Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Nurul Aulina Husna bertajuk “Menanamkan budaya 5 S (Senyum, Menyapa, Menyapa, Sopan, Santun) pada siswa Sekolah Dasar”. Penelitian ini berfokus pada bagaimana mendeskripsikan penanaman budaya 5S pada siswa sekolah dasar dan mengetahui apa saja faktor pendukung dan penghambat penanaman budaya 5S pada siswa sekolah dasar. Hasil dari penelitian ini adalah budaya sekolah 5S diterapkan secara terus menerus di sekolah dasar, dan penelitian ini juga menunjukkan bahwa budaya 5S diterapkan melalui keteladanan guru, aktivitas spontan guru terhadap siswa dan sebaliknya.
Perbedaan dari penelitian yang akan peneliti lakukan antara lain hanya penanaman budaya 5S di sekolah. Penelitian dilakukan pada tingkat sekolah dasar dan dilakukan untuk mengetahui bagaimana faktor-faktor 5S dapat diajarkan, didukung dan dihambat. sekolah dasar.60. Penelitian yang dilakukan oleh Fadilatul Atqiya bertajuk “Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Budaya 5S (Senyum, Sapa, Sapa, Santun dan Santun) di SMPN 2 Gunung Jati Kabupaten Cirebon”. Penelitian ini fokus untuk menemukan perencanaan pelaksanaan, pelaksanaan pelaksanaan dan evaluasi pelaksanaan pendidikan karakter melalui budaya 5S.
Hasil dari penelitian ini adalah budaya 5S tertuang dalam visi dan misi, dan kebiasaan spontan dilaksanakan oleh guru, siswa dan staf sekolah, dan penilaian terhadap budaya 5S dilakukan secara kasat mata oleh para tokoh pendidikan. 60 Nurul Aulina Husna, Tesis Penanaman Budaya 5S (Tersenyum, Menyapa, Menyapa, Sopan, Santun) pada Siswa Sekolah Dasar Tahun 2021, Universitas Muria Kudus. Penelitian ini fokus untuk mengetahui implementasi Program Budaya Sekolah 5S dan mengetahui faktor pendukung dan penghambat penerapan Program Budaya Sekolah 5S.
Faktor pendukungnya adalah kerjasama antara guru dan orang tua, faktor penghambatnya adalah siswa yang belum menerapkan budaya 5S dan orang tua yang tidak bisa diajak kerjasama. Perbedaannya dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti antara lain, 5S digunakan untuk menanamkan sikap religius, penelitian tersebut dilakukan pada tingkat MIN/SD dan dilakukan untuk mengetahui implementasi serta faktor pendukung dan penghambat budaya 5S dalam menanamkan budaya 5S. sikap religius.62.
Kerangka Pikir
Pendidikan karakter bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan saat ini, apalagi jika seorang anak memiliki kecerdasan yang baik, belum tentu ia memiliki karakter yang baik. Penting juga untuk menumbuhkan karakter anak, bukan sekedar pintar di bidang akademik. Penanaman ini dapat dilakukan di sekolah sebagai suatu kebiasaan yaitu budaya 5S (senyum, sapa, salut, sopan dan santun).
Penanaman budaya 5S di SMPN 1 Sambit Ponorogo merupakan salah satu upaya membentuk budaya Islami yang baik. Artinya, pengembangan karakter anak memerlukan pembiasaan dan keteladanan.64 Pendidikan formal di sekolah diharapkan mampu membentuk perilaku dan sikap keagamaan melalui pembelajaran di kelas maupun di luar kelas sehingga mempengaruhi moral, agama dan aspek lainnya. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal berfungsi untuk mengembangkan kemampuan anak agar dapat menumbuhkan nilai-nilai agama dalam kehidupannya.
Nilai-nilai keagamaan anak dapat dikembangkan dan ditegakkan melalui kebiasaan yang berkelanjutan. 64 Ridwan Abdullah Sani dan M Kadri, Pendidikan Karakter Mengembangkan Karakter Islami pada Anak (Jakarta: Bumi Aksara, 2016), 7. 65 Nawa Syafif Fajar Sakti, Islam dan Kebudayaan dalam Pendidikan Anak: Sebuah Konsep Internalisasi Nilai-Nilai Keagamaan pada Anak Sanggar Budaya, 9.
METODE PENELITIAN
- Pendekatan dan Jenis Penelitian
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Data Dan Sumber Data
- Prosedur Pengumpulan Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Pengecekan Keabsahan Penelitian
- Tahap Penelitian
Budaya 5S juga merupakan budaya yang sudah lama diterapkan di SMPN 1 Sambit, seperti yang disampaikan oleh Kepala Sekolah Edi Wuryanto, S. Dari kami Bapak Guru kami menyambut siswa di depan pintu gerbang, selain itu kami juga selamat menerapkan budaya 5S di dalam kelas.” Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan dengan jelas bahwa budaya 5S dapat mengoptimalkan budaya islami di SMPN 1 Sambit Ponorogo.
Oleh karena itu penanaman budaya 5S di SMPN 1 Sambit Ponorogo tetap dilakukan untuk menjaga budaya baik di lingkungan sekolah. Selain itu supervisi melalui jurnal sikap akan membantu guru untuk mendisiplinkan siswa khususnya dalam penerapan budaya 5S di SMPN 1 Sambit Ponorogo. Penanaman pendidikan karakter di SMPN 1 Sambit dilakukan dengan mengenal budaya 5S (senyum, sapa, sapa, santun dan santun), budaya 5S sudah lama diterapkan oleh pihak sekolah dan dilaksanakan dengan baik.
Di SMPN 1 Sambit, hasil penerapan pendidikan karakter melalui 5S merupakan efek dari penanaman budaya 5S pada siswa yang diterapkan di sekolah. Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi peneliti di SMPN 1 Sambit Ponorogo memberikan pemahaman bahwa budaya islami dan pola sistem budaya 5S sangat bermanfaat dalam membentuk karakter anak. Sikap komunikatif adalah suka berkomunikasi, berbicara, bersosialisasi dan bekerja sama.119 Budaya 5S di SMPN 1 Sambit Ponorogo juga membentuk karakter komunikatif.
Faktor pendorong penerapan pendidikan karakter melalui 5S dalam optimalisasi budaya Islami di SMPN 1 Sambit Ponorogo adalah keinginan pihak sekolah untuk membentuk karakter anak melalui kebijakan 5S, aturan ketat mengenai budaya 5S dan dorongan dari orang tua untuk menginternalisasikan budaya 5S di lingkungan keluarga. Dengan menerapkan budaya 5S yang baik maka siswa telah mematuhi peraturan SMPN 1 Sambit Ponorogo.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Latar Penelitian
- Sejarah Singkat Berdirinya SMPN 1 Sambit Ponorogo
- Visi, Misi Dan Tujuan Sekolah
- Identitas Lembaga Sekolah
- Struktur Organisasi
- Sumber Daya Manusia (Guru, Tutor, Siswa Dan Tenaga Kependidikan)
- Sarana Dan Prasarana
- Prestasi Lembaga Dan Kegiatan Pendukung
Hasil wawancara menunjukkan bahwa budaya 5S diterapkan sebagai salah satu cara membentuk karakter anak di lingkungan sekolah, sedangkan lingkungan luar sekolah juga mempengaruhi pembentukan karakter dan kebiasaan siswa di SMPN 1 Sambit Ponorogo. Berdasarkan hasil wawancara terlihat bahwa sikap keagamaan melalui penanaman budaya 5S sudah terlaksana dengan baik. 104 Yulianto Bambang Setyadi, “Penerapan Budaya 5S Sebagai Penguatan Pendidikan Karakter Siswa di Mts Muhammadiyah 9 Mondokan Sragen”, Pendidikan.
Dengan adanya pengawasan intensif yang dilakukan di SMPN 1 Sambit diharapkan siswa dapat mematuhi budaya 5S yang tercantum dalam peraturan sekolah. Interior budaya 5S selain dilakukan di sekolah juga sebaiknya dilakukan di rumah, karena pendidikan karakter sangat penting bagi anak untuk membentuk karakter dan perilaku yang baik. Dalam pertemuan tersebut, guru mengimbau para orang tua untuk menerapkan nilai-nilai karakter budaya 5S di lingkungan keluarga.
Budaya 5S di SMPN 1 Sambit dapat membangun ukhuwah Islamiyah atau hubungan keislaman yang baik, selain itu budaya 5S sangat baik dalam membentuk karakter anak menjadi generasi yang lebih baik. Hal ini terlihat dari penerapan budaya 5S yang baik di luar kelas dan saat pembelajaran. Dalam penerapan pendidikan karakter melalui 5S seharusnya dilakukan oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan, namun kenyataannya di SMPN 1 Sambit masih terdapat guru yang belum menerapkan budaya 5S padahal jumlah atau persentasenya sedikit.
Sedangkan faktor penghambat penerapan pendidikan karakter melalui 5S adalah tidak semua guru berperan dalam mengajarkan budaya 5S, masih terdapat siswa yang salah dalam penggunaan bahasa jawa, interaksi sosial siswa di luar sekolah kurang baik dan tidak semua orang tua berperan. dalam menanamkan budaya 5S. memperkenalkan budaya 5S ke dalam lingkungan keluarga. Pembiasaan budaya 5S (tersenyum, menyapa, menyapa, sopan, santun) untuk mengembangkan karakter dan nilai etika siswa.
Deskripsi Data
- Penanaman Pendidikan Karakter Melalui 5S Dalam Mengoptimalkan Kultur
- Faktor Pendorong Dan Penghambat Penanaman Pendidikan Karakter Melalui
- Hasil Pelaksanaan Pendidikan Karakter Melalui 5S Dalam Mengoptimalkan
Pembahasan
- Pendidikan Karakter Bagaimana Penanaman Pendidikan Karakter Melalui 5S
Budaya ini tentunya menjadi langkah guru untuk menginternalisasikan nilai-nilai karakter baik yang terkandung dalam budaya 5S. Tahap selanjutnya adalah realisasi program 5S yang diharapkan mampu membuat siswa dapat menerapkan budaya 5S dengan baik dan benar.104 Penanaman budaya 5S di SMPN 1 Sambit Ponorogo berdasarkan teori ini mengalami pengembangan yaitu penanaman melalui keteladanan guru, pengawasan, kerjasama dengan orang tua dan melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Di luar kelas, guru juga mencontohkan budaya 5S di dalam kelas agar siswa dapat melakukan apa yang dicontohkan guru.
Pendidikan karakter merupakan salah satu langkah dalam membentuk karakter anak, sehingga dalam penerapan 5S karakter tersebut harus diwujudkan sebagai wujud atau hasil dari penanaman budaya 5S. Dengan budaya 5S yang diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah, maka budaya Islami tersebut dapat diterapkan secara maksimal. Internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter di SMPN 1 Sambit Ponorogo merupakan internalisasi yang bersifat umum.
Hasil dari penerapan pendidikan karakter melalui 5S dalam optimalisasi budaya islami di SMPN 1 Sambit adalah budaya islami semakin optimal dengan 5S. Karakter yang muncul dari penerapan budaya 5S adalah karakter peduli sosial, komunikatif, religius dan disiplin. Guru diharapkan lebih konsisten dalam memperkenalkan budaya 5S kepada siswa yang dilakukan oleh seluruh jajaran guru dan tenaga kependidikan, agar budaya 5S tetap terjalin di SMPN 1 Sambit.
Hal ini dikarenakan budaya 5S mempunyai nilai-nilai karakter yang baik bagi siswa yang harus terus menerus dipraktikkan. Siswa diharapkan terus menerapkan budaya 5S baik di luar kelas maupun di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
Selain itu, guru harus terus melakukan koordinasi dengan orang tua dalam bentuk kerjasama. Kerja sama yang baik dan berkelanjutan dapat memaksimalkan budaya 5S yang diterapkan di sekolah dan di lingkungan keluarga. Dalam hal pergaulan, siswa harus lebih berhati-hati dalam memilih hubungan yang baik, agar nilai-nilai dalam penanaman budaya 5S tidak tergeser oleh budaya yang buruk. Dengan menyusun hasil penelitian ini, peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, peneliti berharap adanya penelitian lebih lanjut dan mendalam terkait penerapan pendidikan karakter melalui 5S dalam optimalisasi budaya Islam.