• Tidak ada hasil yang ditemukan

Download (4MB)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Download (4MB)"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Implementasi pendidikan karakter religius akan efektif apabila madrasah juga menerapkan manajemen budaya organisasi madrasah yang baik. Oleh karena itu, dengan budaya organisasi yang baik dan pengelolaan budaya organisasi yang baik maka hasil yang akan dicapai pasti akan baik. Berdasarkan pemaparan dan pemaparan konteks penelitian di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti “Manajemen budaya organisasi dalam pembentukan karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo”.

Fokus Penelitian

Selain itu, banyak program kelas yang tersedia di MAN 2 Ponorogo, antara lain kursus premium, normal, akselerasi, dan olah raga.Mutu yang tak kalah penting dalam MAN 2 Ponorogo adalah Iman, Unggul, Berbudaya dan Integritas (RUBI). Budaya religi MAN 2 Ponorogo sangat terlihat yaitu ketika masuk kelas selalu membaca ayat suci Alquran, membaca Asmaul Husna, memanjatkan Ruh Sholat setelah istirahat pertama, salat Dzuhur berjamaah, membaca Kitab Kuning, MT (taklim paduan suara), dan lain-lain. 11.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat bermanfaat untuk memahami bahwa budaya organisasi sekolah hendaknya diterapkan untuk memelihara dan membentuk karakter yang baik dan terpuji melalui penanaman.

Sistematika Pembahasan

Membahas hasil penelitian dan pembahasan, penulis menguraikan penyajian data dan analisis data yang meliputi sejarah berdirinya MAN 2 Ponorogo, profil, letak geografis, visi, misi dan tujuan, struktur organisasi, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, data kinerja dan data analisis mengenai pengelolaan budaya organisasi dalam membentuk karakter religius siswa MAN 2 Ponorogo. Bab ini berisi simpulan dan saran terkait temuan penelitian, yang bertujuan untuk memudahkan pembaca dalam memahami skripsi ini.

KAJIAN PUSTAKA

Kajian Teori

“Pengelolaan Budaya Organisasi Dalam Pembentukan Moral Karimah Siswa Melalui Kegiatan Adiwiyata Berwawasan Lingkungan di MAN 1 Jombang.” Peneliti bertujuan untuk memperoleh data terkait pengelolaan budaya organisasi dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo. Peneliti menyelidiki data terkait manajemen budaya organisasi dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo.

Perencanaan budaya organisasi dalam pembentukan karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo Siswa agama di MAN 2 Ponorogo. Adanya program budaya organisasi di madrasah sangat bermanfaat dan efektif dalam membentuk karakter religius peserta didik. Evaluasi Budaya Organisasi dalam Membentuk Karakter Siswa di MAN 2 Ponorogo Siswa di MAN 2 Ponorogo.

Hal ini dilakukan agar para siswa dapat secara maksimal menerapkan program budaya organisasi di madrasah ini. Peta konsep manajemen budaya organisasi dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo. Evaluasi budaya organisasi dalam membentuk karakter religius siswa MAN 2 Ponorogo.

Implementasi budaya organisasi dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo sudah cukup baik dan mencakup peran aktif seluruh komponen madrasah. Penilaian budaya organisasi dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo cukup baik dalam melakukan penilaian. Pengelolaan Budaya Organisasi Dalam Pembentukan Moral Karimah Siswa Melalui Kegiatan Adiwiyata Berwawasan Lingkungan di MAN 1 Jombang.

Tabel 2.1. Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu dan  Sekarang
Tabel 2.1. Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu dan Sekarang

Kajian Penelitian Terdahulu

Kerangka Pikir

Budaya organisasi dalam dunia pendidikan sebagian besar akan menerapkan proses pembinaan dan penerapan karakter yang baik. Perencanaan merupakan tahap awal yang dilakukan untuk menyelenggarakan suatu kegiatan atau kebudayaan di madrasah. Penerapan budaya ini dengan baik dilaksanakan sesuai dengan visi dan misi madrasah dan wajib dilaksanakan oleh seluruh komponen madrasah.

Untuk mengetahui seberapa baik pelaksanaannya maka perlu dilakukan pengawasan dan ketaatan terhadap peraturan dan ketentuan madrasah. Tahap terakhir adalah evaluasi budaya, dimana dalam hal ini kepala madrasah melakukan evaluasi terhadap program budaya yang telah dilaksanakan sebelumnya dan juga melakukan monitoring.Pembahasan ini dapat digambarkan dengan kerangka pemikiran/penelitian sebagai berikut.

Tabel 2.2. Kerangka Pikir
Tabel 2.2. Kerangka Pikir

METODE PENELITIAN

  • Pendekatan dan Jenis Penelitian
  • Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Data dan Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
  • Pengecekan Keabsahan Data
  • Tahap Penelitian

Dalam penerapan budaya organisasi MAN 2 Ponorogo, guru juga berperan dalam membimbing dan memberikan instruksi kepada siswa sebelum memasuki kelas. Implementasi madrasah dalam pembentukan karakter religius siswa kami laksanakan dengan memberikan kegiatan ekstrakurikuler yang dapat menunjang karakter religius siswa. Budaya organisasi madrasah sangat efektif dalam membentuk karakter peserta didik karena tidak lepas dari budaya madrasah.

“Evaluasi ini penting dilakukan dalam rangka pembentukan karakter siswa, khususnya dalam pembentukan karakter religius siswa.”96. Evaluasi budaya organisasi dalam pembentukan karakter religius peserta didik di MAN 2 Ponorogo didasarkan pada menghadiri sholat zuhur berjamaah di masjid madrasah, memantau kitab-kitab hafalan, dan melakukan razia rutin terhadap penampilan siswa untuk memastikan telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. . di madrasah. Peran serta kepala madrasah, guru dan tenaga kependidikan sangat diperlukan dalam pengembangan budaya madrasah untuk membentuk karakter religius peserta didik.

Pada tahap ini kepala madrasah MAN 2 Ponorogo beserta seluruh waka dan tim kerja melakukan kunjungan kepada siswa dan seluruh warga madrasah tentang budaya yang dibutuhkan. Evaluasi siswa di MAN 2 Ponorogo dilakukan kapan saja, setiap hari pada saat guru dan tim 5S menyambut siswa di gerbang madrasah. Perencanaan budaya organisasi dalam pembentukan karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo sudah sesuai dengan fungsi manajemen yaitu dimulai dengan kegiatan penyusunan program budaya rutin dan non rutin yang disesuaikan dengan visi, misi, RKM, RENSTRA dan RAPBM.

Hasil evaluasi budaya organisasi dalam membentuk karakter religius siswa yaitu MAN 2 Ponorogo berhasil mencetak siswa unggul yang berkarakter religius, unggul dan berbudaya.

Gambar 3.1. Analisis Data Model Interaksi Milles, Huberman dan  Saldana
Gambar 3.1. Analisis Data Model Interaksi Milles, Huberman dan Saldana

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Latar Penelitian

  • Sejarah Berdirinya MAN 2 Ponorogo
  • Profil MAN 2 Ponorogo
  • Letak Geografis MAN 2 Ponorogo
  • Visi, Misi, dan Tujuan MAN 2 Ponorogo
  • Struktur Organisasi MAN 2 Ponorogo
  • Sumber Daya Manusia MAN 2 Ponorogo
  • Sarana dan Prasarana MAN 2 Ponorogo
  • Prestasi MAN 2 Ponorogo

Lokasi MAN 2 Ponorogo berada di sebelah selatan terminal Seloaji, dan disekitarnya terdapat beberapa Pondok Pesantren seperti Pondok Pesantren Thoriqul Huda, Pondok Pesantren Nurul Hikmah, Pondok Pesantren Ittihadul Ummah, Pondok Pesantren Durisawo, Pondok Pesantren Tahfidhul Koran Pesantren .68. Meningkatkan daya saing peserta didik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi unggulan nasional dan internasional. Menjadikan karakter integritas sebagai landasan warga madrasah dalam memberikan pelayanan, bekerja, belajar, mengolah dan memperoleh hasil.

Struktur organisasi merupakan penetapan dan pembagian tanggung jawab dalam suatu organisasi, yang bertujuan untuk mengatur pola kegiatan organisasi agar terarah dan mencapai tujuan yang diharapkan. Tanpa adanya struktur organisasi pada suatu lembaga atau organisasi maka segala kegiatan tidak akan berjalan dengan baik. Oleh karena itu, lembaga pendidikan atau yang bisa disebut sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dituntut untuk memiliki struktur organisasi yang baik agar tujuan pendidikan formal dapat tercapai sepenuhnya.

Tujuan dibuatnya struktur organisasi sekolah adalah untuk mencapai efektivitas dan efisiensi kerja antar individu dan kelompok, sehingga seluruh kegiatan terlaksana secara terstruktur dan terarah. Struktur organisasi dapat memudahkan kepala sekolah dalam mengkoordinasikan dan memberikan arahan mengenai berbagai tugas yang diberikan kepada bawahannya. Sarana dan prasarana yang dimiliki MAN 2 Ponorogo merupakan sarana yang cocok untuk menunjang kegiatan pendidikan.

Tabel 4.1. Profil MAN 2 Ponorogo
Tabel 4.1. Profil MAN 2 Ponorogo

Deskripsi Data

  • Perencanaan Budaya Organisasi dalam Membentuk Karakter
  • Evaluasi Budaya Organisasi dalam Membentuk Karakter

Budaya organisasi yang dapat membentuk karakter religius peserta didik di madrasah ini adalah ketika sebelum belajar, mereka memulai sholat berjamaah, mereka melanjutkan membaca Al-Qur'an dan membaca Asmaul Husna, ketika kita mengumandangkan azan Dhuhur, jadilah anak-anak kita. digiring menuju masjid untuk menunaikan salat Dhuhur berjamaah. Contoh aturan yang tidak tertulis dalam peraturan perundang-undangan adalah adanya tim 5S untuk menyambut siswa yang datang ke madrasah. Kemudian para siswa masuk ke dalam kelas untuk sholat kemudian membaca Al-Quran dan Asmaul Husna, hal ini sudah lama kami lakukan dengan tujuan untuk membentuk karakter religius siswa yang benar-benar siswa madrasah, bukan siswa sekolah.

Kami melakukan ini supaya pelajar belajar membuang sampah mengikut jenis dan tempatnya. Ianya dapat dilihat daripada murid-murid yang aktif solat berjemaah, memperbanyakkan hafazan surah, membaca al-Quran dan sebagainya." 91. Hal ini dapat kita lihat dari kefasihan murid dalam membaca al-Quran dan dilihat dari tajvid tartil.

Sebagai kepala bagian kesiswaan MAN 2 Ponorogo, Pak Wilson setiap hari melakukan evaluasi. Jika ada siswa yang melanggar tata tertib madrasah maka akan dikenakan sanksi. Pak KAMAD selalu memberikan reward kepada guru dan siswa madrasah setiap bulannya atau setiap tiga bulan sekali. Hal ini dilakukan untuk memberikan semangat dan motivasi kepada guru dan siswa yang telah melakukan berbagai kegiatan sesuai dengan aturan dan budaya di madrasah ini.

Dan peserta didik akan lulus sesuai dengan yang diharapkan, berbekal karakter religius sesuai dengan visi dan misi madrasah yaitu RUBI.” 102.

Gambar 4.2. Dokumentasi rapat program kerja MAN 2 Ponorogo.
Gambar 4.2. Dokumentasi rapat program kerja MAN 2 Ponorogo.

Pembahasan

  • Pelaksanaan Budaya Organisasi dalam Membentuk Karakter

Sebab tentunya masih ada siswa yang belum terbiasa dan belum terlalu memahami budaya yang ada di madrasah. Hal ini sesuai dengan teori Hasibuan bahwa implementasi mempunyai fungsi penting yaitu perilaku manusia, hubungan interpersonal, komunikasi dan kepemimpinan.108 Melalui komunikasi antara pimpinan madrasah dengan guru dan siswa, diharapkan siswa dapat secara mandiri meningkatkan pengetahuannya, menginternalisasikannya dan mereka mempersonalisasikan. nilai-nilai karakter, keimanan melalui budaya di madrasah sehingga diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Guru hendaknya mendorong siswanya untuk menjadi teladan yang dapat mendorong orang lain untuk menghargai, peduli, bekerja sama, menciptakan perdamaian dan berkreasi.109.

Guru melakukan pengawasan dengan melihat langsung apakah kinerja siswa sudah sesuai dengan aturan madrasah atau belum. Sedangkan sebagai hukuman, kepala madrasah dan guru memberikan teguran, teguran, atau hukuman langsung kepada siswa yang melanggar tata tertib madrasah. Jika siswa mengulang setelah diberi peringatan atau teguran, mereka menerima poin dan bimbingan.

Hal ini dilakukan untuk memotivasi siswa agar berkembang dan menjadi siswa yang berakhlak baik dan terpuji. 113Chofifani Rochmawati, “Strategi Guru PPKn dalam Penguatan Karakter Nasionalis Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Surabaya,” Kajian Moral dan Kewarganegaraan, Vol.10 No. Setelah itu kepala madrasah menyampaikan informasi kepada siswa dan seluruh warga madrasah tentang budaya yang harus diterapkan untuk mendapatkan hasil positif dari program tersebut.

Strategi guru PPKn untuk memperkuat karakter nasionalis siswa kelas VII SMP Negeri 3 Surabaya”.

KESIMPULAN DAN SARAN

Keimpulan

Saran

Kepala madrasah dalam merencanakan program kerja hendaknya tetap mengajak seluruh tim kerjanya untuk selalu hadir dalam proses perencanaan untuk mengembangkan ide-ide kreatif mengenai perencanaan budaya organisasi di madrasah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan dengan pembahasan yang lebih mendalam mengenai pengelolaan budaya organisasi dalam pembentukan karakter religius peserta didik. “Pembentukan Nilai Karakter Religius Dalam Perspektif Pendidikan Islam di Lingkungan Sekolah RA Hidayatus Shibyan Temulus” Jurnal Golden Age Universitas Hamzanwadi.

Teknik pemeriksaan keabsahan data pada penelitian kesehatan masyarakat kualitatif, Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat. Nilai Pendidikan Karakter Anak di Sekolah Perspektif Kementerian Pendidikan Nasional” Gender Equality: International Journal of Child and Gender Studies.

Referensi

Dokumen terkait