Artikel pertama ditulis oleh Luh Kitty Katherina dengan judul Tren Urbanisasi di Kota-Kota Sekunder di Indonesia Periode 1990-2010. Secara keseluruhan, tren urbanisasi di kota-kota lapis kedua di Indonesia menunjukkan pola laju pertumbuhan yang semakin meningkat.
TREN URBANISASI PADA SECONDARY CITIES DI INDONESIA PERIODE TAHUN 1990-2010 1
National censuses from 1990 to 2010 show that population growth in secondary cities is lower than in surrounding areas. In general, urbanization trends in Indonesia's secondary cities show a pattern where the rate of population growth in the urban area is closely related to the size of the city.
URBANIZATION TREND IN INDONESIA’S SECONDARY CITY, 1990-2010)
Rata-rata laju pertumbuhan penduduk tahunan di kota-kota lapis kedua selama periode tahun 1990 dan 2000 sangat rendah, berkisar antara 0,38% (di Bandung) hingga 1,65% (di Makasar). Berbeda dengan wilayah sekitarnya, rata-rata laju pertumbuhan penduduk di sebagian besar wilayah pinggiran kota lapis kedua lebih tinggi dibandingkan kota inti.
KESENJANGAN UPAH ANTAR JENDER DI INDONESIA
GLASS CEILING ATAU STICKY FLOOR?
GENDER WAGE GAP IN INDONESIA: GLASS CEILING OR STICKY FLOOR?)
Kesenjangan upah berdasarkan gender secara tidak langsung menyiratkan polarisasi dalam distribusi upah laki-laki dan perempuan. Hasil dekomposisi Oaxaca Blinder menunjukkan bahwa diskriminasi (yang tidak dapat dijelaskan) mendominasi rata-rata kesenjangan upah gender.
Dekomposisi Kesenjangan Upah Jender Tahun 2008
Dekomposisi Kesenjangan Upah Jender Tahun 2010
Dekomposisi Kesenjangan Upah Jender Tahun 2009
Dekomposisi Kesenjangan Upah Jender Tahun 2011
Dekomposisi Kesenjangan Upah Jender Tahun 2012
JURNAL KEPENDUDUKAN INDONESIA
L EMBAGA I LMU P ENGETAHUAN I NDONESIA
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
Urbanization is identical to the capital city of a country as a location of capital accumulation, which is the main attraction of high economic activities. In fact, the phenomenon of urbanization has penetrated even into mega-urbanization in the country's second-tier cities. Regarding the determination of the gender wage gap in different quantiles of the wage distribution using quantile regression and the use of Machado – Mata (2005) decomposition.
This study found that the gender pay gap was still dominated by factors that cannot be explained (unexplained) and was classified as discrimination, both at the average level and at every quantile of the wage distribution. The survey examined those aged between 18 and 35 who live and work in urban cities, namely Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi. On the other hand, young couples tend to spend their income on paying their home or car loans.
Demographic data show that the proportion of women in the total workforce shows an increasing trend from year to year. Most of the respondents do not have a breastfeeding room in their office, and if they want to express the milk, they have to use inappropriate rooms, even in the toilet. A simple question arises in practice: Can these types of communication reach and provide benefits for the most vulnerable group.
POLA PENGELUARAN DAN GAYA HIDUP PENDUDUK MUDA KELAS MENENGAH: STUDI EMPIRIS PERKOTAAN DI JABODETABEK 1
Since the era of industrialization in the 1980s, many of these young people have been categorized as a middle-class group. The purpose of this paper is to analyze the behavior of young people who perceived themselves as a middle-class young population based on their spending and lifestyle patterns. The results of the survey showed that there is a different consumption pattern between the young middle class population who are single and married.
Meskipun generasi muda kelas menengah rata-rata sering berbelanja di pusat perbelanjaan, pengeluaran mereka untuk hiburan bukanlah prioritas utama dari total pengeluaran per bulan. Sejak proses industrialisasi berlangsung pada tahun 1980-an, tidak sedikit penduduk muda yang termasuk dalam kelas menengah. Pola pengeluaran dan gaya hidup mereka mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perekonomian dan kebijakan perencanaan kota.
Artikel ini menganalisis perilaku generasi muda yang termasuk dalam kelas menengah berdasarkan pola pengeluaran dan gaya hidup. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan pola konsumsi antara generasi muda kelas menengah yang belum menikah dengan yang sudah menikah. Meskipun rata-rata penduduk muda kelas menengah memiliki frekuensi pergi ke mal yang tinggi, namun jumlah pengeluaran untuk hiburan bukanlah prioritas utama dalam total pengeluaran bulanan mereka.
POPULATION: EMPIRICAL STUDY FROM URBAN CITIES OF GREATER JAKARTA)
Bagi pasangan suami istri, rata-rata pengeluaran harian untuk makanan dua kali lebih tinggi, yaitu antara Rp. Rata-rata responden yang sudah menikah membayar biaya transportasi antara Rp30.000 hingga Rp30.000 per hari. Data menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara generasi muda kelas menengah perkotaan, terlepas dari apakah mereka sudah menikah atau belum.
Penduduk muda kelas menengah menghabiskan sebagian besar pendapatan mereka untuk pengeluaran pokok seperti perumahan, makanan dan transportasi. Remaja yang sudah menikah memiliki rata-rata frekuensi lebih tinggi dibandingkan dengan remaja yang belum menikah. Sarana transportasi juga melengkapi perkembangan mal sehingga generasi muda kelas menengah dapat dengan mudah mengakses mal.
Mayoritas pendapatan keluarga warga kelas menengah muda yang menikah digunakan untuk melunasi utang baik rumah maupun mobil. Mencari hiburan gratis (window shopping) atau hiburan murah (makan di food court) dan mencari kenyamanan menjadi alasan utama tingginya frekuensi anak muda kelas menengah di Indonesia pergi ke mal. Oleh karena itu, moratorium pembangunan pusat perbelanjaan di pusat kota dan penyediaan fasilitas umum yang lebih ramah lingkungan dapat menjadi alternatif kebijakan yang diterapkan pemerintah kota untuk merespons gaya hidup masyarakat muda kelas menengah perkotaan.
PEMENUHAN HAK ASI EKSKLUSIF DI KALANGAN IBU BEKERJA
PELUANG DAN TANTANGAN 1
FULFILLING THE RIGHT FOR EXCLUSIVE BREASTFEEDING AMONG WORKING WOMEN: OPPORTUNITIES AND CHALLENGES)
Kemudian penelitian Fauzie (2006) di Jakarta menunjukkan bahwa hanya 3,8 persen ibu bekerja di Jakarta yang memberikan ASI eksklusif. Tujuan artikel ini adalah menganalisis peluang dan tantangan ibu bekerja dalam memberikan ASI eksklusif. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Abdullah (2012) menunjukkan bahwa angka pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja di Kementerian Kesehatan sebesar 62,5 persen, masih di bawah target yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.
Rendahnya target pencapaian ASI eksklusif membuat otoritas yang berwenang harus membuat peraturan yang dapat mendukung ibu bekerja agar tetap dapat menyusui anaknya. Pengelola tempat kerja wajib memberikan kesempatan kepada ibu bekerja untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya atau memeras ASI selama jam kerja di tempat kerja. Penyelenggara tempat kerja dan penyelenggara fasilitas umum wajib membuat peraturan internal yang mendukung keberhasilan program ASI eksklusif.
Peraturan di atas menunjukkan bahwa ibu yang bekerja bebas menyusui sehingga anaknya mendapat ASI eksklusif. Dari seluruh pengalaman para informan mengenai tempat menyusui di tempat kerja terlihat jelas adanya kebijakan pemberian ASI eksklusif. Berbeda dengan pengalaman E, meski lingkungan kerja E mendukung aktivitas memerah susu, namun ia kesulitan memberikan ASI eksklusif kepada anaknya.
MENGEMBANGKAN MADRASAH ALIYAH NEGERI INSAN CENDEKIA UNTUK MENJAWAB TANTANGAN MODERNISASI, DEMOKRATISASI DAN
Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN-IC), like other schools, faces dysfunction in preparing people who are better qualified, if the institution does not reform itself along with the strategic challenges that are developing. Today, this institution is challenged not only with old challenges, which seek both Islamic and Indonesian characters and modernization, but also with the new ones, namely democratization, including local otonomy and globalization. The Rapid Assessment method to look at its governance, management, curriculum and teaching-learning aspects within the two of the three existing MAN-ICs (located in Jakarta and Jambi) reveals the imbalances and unpreparedness of this institution to meet these challenges to cope.
Intelektual Madrasah Aliyah Negeri Insan (MAN-IC), seperti sekolah pada umumnya, berisiko mengalami disfungsi dalam mencetak warga masyarakat yang berkualitas jika tidak diperbaharui sejalan dengan tantangan strategis pembangunan. Didirikan dengan semangat Islam-modernis, MAN-IC merupakan madrasah teladan khususnya dalam bidang pembelajaran agama dan sains/teknologi. Kini lembaga ini tidak hanya menghadapi tantangan lama yaitu pencarian karakter keislaman dan keindonesiaan serta tantangan modernisasi, namun juga tantangan baru yaitu demokratisasi (termasuk otonomi daerah) dan globalisasi.
Melalui metode Rapid Assessment terhadap sistem manajemen, manajemen, tenaga pengajar, kurikulum, peserta didik dan metode pembelajaran dua dari tiga MAN-IC (yaitu di Jakarta dan Jambi), terlihat adanya ketimpangan dan ketidaksiapan lembaga ini dalam menjawab tantangan tersebut. . Pembaruan topik di atas yang diusulkan dalam makalah ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan responsif MAN-IC untuk mempersiapkan generasi berikutnya. Dalam kebijakan etika kolonial Belanda, pendidikan menurut Brugmans (1987) menekankan pada aspek pengajaran yaitu mempersiapkan generasi.
DEVELOPING INSAN CENDEKIA HIGH SCHOOL TO ADDRESS MODERNISATION, DEMOCRACY, AND GLOBALISATION CHALLENGES)
Selain itu, MAN-IC juga harus dipersiapkan agar dapat direplikasi di daerah lain untuk mendorong munculnya keunggulan lokal yang unik. Kajian cepat terhadap pengorganisasian dan penerapan MAN-IC dilakukan di dua lokasi (Jakarta dan Jambi) pada tahun 2012, sebagai studi kualitatif dan sebagai penelitian kebijakan. Ketergantungan MAN-IC yang kuat terhadap negara saat ini harus dimaknai sebagai masa transisi.
Berdasarkan prinsip pengembangan MAN-IC baru tersebut di atas, terdapat kelemahan dan cara mengatasinya. Dengan adanya tantangan tersebut diharapkan MAN-IC juga dapat berperan dalam membentuk bangsa bersama Bhinneka Tunggal Ika. Pengembangan MAN-IC “baru” di daerah sebagai Kebijakan Kementerian Agama untuk menjawab permintaan daerah merupakan peluang untuk menjawab tantangan strategis.
Oleh karena itu, hubungan dengan kelompok ini nantinya harus dirumuskan kembali dalam sistem manajemen MAN-IC yang “baru”. Kedua, komunitas MAN-IC lebih siap untuk berpartisipasi (secara finansial dan politik) dibandingkan komunitas madrasah biasa. Selain itu juga tidak kondusif bagi pengembangan madrasah model yang mempunyai potensi sumber daya (kelas menengah dan pendidikan) yang besar seperti MAN-IC saat ini.
SUPPORTING URBAN POOR FACING CLIMATE CHANGE: CREATING EFFECTIVE ADAPTATION MESSAGES 1
MENDUKUNG MASYARAKAT MISKIN KOTA MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM: MENYUSUN PESAN ADAPTASI YANG EFEKTIF)
Climate Asia is the world's largest study of people's everyday experience of climate change in seven Asian countries—. Climate change and poor urban vulnerability The urban poor are particularly vulnerable to climate change (Huq & Ayers, 2007). Her counterpart from Jakarta saw the development pushing the urban poor to occupy green space and creating an increase in temperature as causes of climate change.
Support urban poor facing climate change ...| Syarifah Aini Dalimunthe feels underprepared with extreme weather. The most vulnerable group was the most prone to the impacts of climate change and had the least of the knowledge. It was the opposite where 57% of people in the city (1m+) had the most information about climate change.
The desire of the urban poor for information about what they can do to respond to climate change. Few have taken action despite living on the brink of climate change. Assessing the 'usefulness' of climate change research for decision-making: a case study of the Canadian International Polar.