• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dr. Ida Bagus Dharmika, l\LA. Editor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Dr. Ida Bagus Dharmika, l\LA. Editor"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

Selain itu, pola pengembangan karakter juga akan digali lebih dalam oleh Fakultas Pendidikan Agama dan Seni. Tanda-tanda pergerakan UNHI menuju secercah harapan sebenarnya sudah terlihat ketika Program Pascasarjana didirikan dengan fokus pada bidang studi Agama dan Kebudayaan. Pendidikan Agama Hindu dan Evaluasi Pendidikan Agama Hindu dengan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia No. 139 Tahun 2008 tanggal 10 Oktober 2008.

Pemanfaatan alam dan lingkungan hutan yang didalamnya terdapat manusia dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan ekologi budaya seperti yang dikemukakan oleh J. Jadi menurut kedua pandangan tersebut, manusia adalah bagian dari alam, manusia tidak dapat melepaskan diri dari keberadaan alam. lingkungan hutan, manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari alam semesta, bahkan manusia hanyalah sebagian kecil dari alam (mikrokosmos), keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos harus selalu dijaga, demikianlah pesan yang selalu disampaikan melalui karya sastra. Dari sudut pandang ekologi budaya, cara manusia sebagai makhluk hidup beradaptasi terhadap lingkungan geografis tertentu melalui teknologi budaya dan lingkungan yang diciptakan berbeda dengan pendapat Ellsworth Huntington (1915) dalam teori Deterninisme atau teori klinartologi bahwa perilaku manusia, sikap dan budaya dipengaruhi oleh kondisi geografis setempat.

Upaya Pemikiran Para Cendekiawan Hindu Berperspektif Kritis (Sebuah Antologi) 3 63 tentang kelayakan penerapan konsep dan prinsip ekologi pada aspek tertentu dalam kehidupan sosial dan budaya manusia. Modernisasi dan masyarakat modern telah menciptakan dunia yang tidak masuk akal yang tidak peduli terhadap manusia dan nasib manusia. Sesuai dengan pandangan tersebut adalah teori sosial naturalistik yang berpandangan bahwa alam dan lingkungan hidup merupakan dunia luar masyarakat dan ada sebagai tatanan alam yang mandiri di luar masyarakat.

Pertanyaan mendasar yang kemudian muncul ketika kita mencermati fenomena kerusakan lingkungan hidup di berbagai daerah adalah apakah pandangan hidup/paradigma tersebut dapat menentukan sikap dan perilaku manusia dan apakah paradigma tersebut dapat berubah.

Eko-Biosentrisme

Masyarakat yang bersebelahan dengan hutan lindung dan bakau mempunyai sistem pengetahuan untuk memahami atau mentafsir fenomena alam, termasuk fenomena alam yang berkaitan dengan pengurusan sumber hutan. Perjuangan Pemikiran Ulama Hindu Perspektif Kritis (A Bunga Rampa;) 367 sistem air, tanah, pergerakan air laut, terumbu karang, ikan dan lain-lain aspek baik yang nyata mahupun yang ghaib mempunyai hubungan yang erat dengan masyarakat sekitar hutan. Dalam teks kesusasteraan yang memuatkan hubungan manusia dengan hutan yang dimiliki oleh masyarakat Bali, terdapat beberapa nama popular tentang hutan tersebut, seperti Wana Kertih, Maha Wana, Tapa Wana, Sri Wana, Alas Angker, Alas Kekeran, Alas Harum, Alas Rasmini, Alas Tutupan, Alas Kekeran, Hulu Kayu, Tuhalas/ Kutuhalas.

Manusia sebagai komponen sentral dalam sistem lingkungan hidup ini harus selalu menjaga keseimbangan antara komponen lingkungan hidup lainnya. Tanda ini berkaitan dengan sistem dan struktur yang lebih besar yang berlaku dalam masyarakat Bali mengenai konsep dualisme/oposisi biner antara: putih-hitam, baik-buruk, sekala-niskala, kaja-kelod, dan lain-lain, dan tanda ini tidak berarti apapun jika tidak dikaitkan dengan sistem dan struktur, khususnya sistem kepercayaan masyarakat Bali secara luas. Intisari dari berbagai teks sastra religi di atas menunjukkan bahwa pandangan masyarakat Bali (Hindu) terhadap lingkungan alam sebenarnya sangat sistematis, holistik dan modern.

34; kalpataru”, simbol kosmis yang disebut “kayonan atau gunungan” dalam kehidupan keagamaan dan budaya masyarakat Bali, juga sering disamakan dengan meru. Dalam kehidupan Bali terdapat 5 pohon surgawi yaitu haricandana-vrksa, kalpa-vrksa, mandana -vrksa, parijata-vrksa dan santanu-vrksa Lingkungan hidup yang diidamkan manusia adalah lingkungan yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas pemukiman, dapat menjadi habitat banyak makhluk hidup serta mempunyai nilai ekonomi dan budaya.

Lingkungan yang demikian disebut lingkungan alam, yaitu lingkungan yang tersusun atas komponen abiotik dan biotik yang seimbang dan tidak tercemar oleh bahan pencemar (zat penyebab pencemaran). Hutan luas di sepanjang jalan ini (jalur Pakutatan-Manggissari-Singaraja) masih terjaga dengan baik, namun sebaliknya jika kita telusuri lebih dalam lagi, hutan lindung ini sudah berubah fungsi menjadi hutan produksi karena banyak ditanami pisang, coklat. , kopi, vanili dan pohon buah-buahan lainnya yang produktif dan dapat dijual. Salah satu ciri dari hutan Tutu Pan adalah tidak memperbolehkan siapapun untuk masuk ke dalam hutan karena hutannya sangat lebat dan tidak ada akses jalan untuk masuk ke dalam hutan.

Lingkungan yang demikian disebut lingkungan alam, yaitu lingkungan yang tersusun atas komponen abiotik dan biotik yang seimbang dan tidak tercemar oleh bahan pencemar (zat penyebab pencemaran). Pandangan masyarakat Bali terhadap lingkungan hutan seperti ini dapat dibandingkan dengan teori konstruktivisme sosial yang melihat hubungan internal antara lingkungan dengan masyarakat sekitar, disinilah kajian ilmu sosial yang menggunakan pendekatan adaptasi, sistem, neofungsionalisme, holisme menjadi sangat relevan dalam studi lingkungan. semakin mey~·- lingkungan cs ala.-r:. Ratusan bahkan ribuan hektar hutan lindung telah diubah menjadi hutan produksi dalam bahasa lokal Awenan.

Selain kegiatan kehutanan, dampak yang paling merusak terhadap hutan lindung adalah penjarahan dan pencurian kayu ilegal; melibatkan banyak orang dengan fungsinya masing-masing seperti pekerja sensor, pekerja kanopi, bus, pengepul, termasuk unsur kehutanan yang terlibat secara diam-diam. Kerusakan hutan tidak hanya terjadi pada hutan lindung di darat saja, namun juga terjadi pada hutan mangrove. tumbuh di daerah pesisir. Kayu di hutan lindung tidak serta merta berarti tenget, namun bisa juga diartikan sebagai 'uang', kain poleng/saput yang dililitkan pada batang pohon tersebut tidak hanya bermakna 'penghormatan, pengabdian' terhadap keberadaan kayu tersebut, namun juga bermakna 'perlindungan'. '. Para penguasa, pengusaha, politisi, dan polisi yang mempunyai kekuasaan untuk menegakkan dan menegakan undang-undang kehutanan yang ada tidak boleh melakukan kesewenang-wenangan atau bahkan menyalahgunakan peraturan yang ada, apalagi terlibat dalam perusakan hutan secara diam-diam yang terus berubah. tidak ada penafsiran yang mutlak, kebenaran selalu berlipat ganda.

Kalpataru Simbol Kesejahteraan dan Keabadian". di) Untuk Guru Presentasi Siswa dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-80 Prof. Dr.

Gambar  4.4  Jalan  setapak  tlisikan)  menu  ju  hutan,  di  bawah  papan  larangan  masuk  hutan  (Dokumentasi:  Dharmika)
Gambar 4.4 Jalan setapak tlisikan) menu ju hutan, di bawah papan larangan masuk hutan (Dokumentasi: Dharmika)

Referensi

Dokumen terkait