Dr. Ir. I Made Nuriyasa, MS
PENDAHULUAN
Bahan baku pakan komersial sebagian masih bergantung pada imfor. Hal ini berdampak kerugian yang berarti pada peternak kelinci bahkan bisa menimbulkan rasa frustasi pada peternak dan peternak berhenti memelihara kelinci. Mastika (2011) menyatakan penggunaan limbah agroindustri sebagai pakan ternak adalah salah satu usaha untuk menekan biaya produksi. Kulit kopi merupakan salah satu bahan pakan asal limbah agroindustri yang potensial dipakai sebagai bahan penyusun ransum kelinci. Bahan pakan asal limbah mempunyai kelemahan karena serat kasarnya tinggi.
Biofermentasi dengan menggunakan aspergilus niger diharapkan dapat mengatasi keurangan dari kulit kopi sebagai bahan pakan sumber limbah agroindustri (Nuriyasa, et al., 2015) Biofermentasi kulit kopi dapat memperbaiki nilai nutrient bahan tersebut, dapat meningkatkan kofisien cerna, membantu mengurangi gas rumah kaca dan menjadikan peternakan ramah lingkungan. Nuriyasa et al. (2015) mendapatkan bahwa penggunaan 15% kulit kopi terfermentasi dalam ransum kelinci lokal dapat meningkatkan pertambahan berat badan dan efisiensi penggunaan ransum. Melalui proses fermentasi dengan Aspergillus niger kandungan protein kulit kopi dapat ditingkatkan dari 9,94 % menjadi 17,81%, kandungan serat kasar menurun dari 18,74%
menjadi 13,05%, (Nuriyasa, 2009 unpublished). Hasil kajian Parwati, et al (2008) kulit kopi yang difermentasi dengan Aspergillus niger mampu menggantikan dedak padi yang selama ini sebagai pakan konsentrat untuk ternak sapi.
Seminar Nasional Sains dan Teknologi IV (SENASTEK IV) 2017, Kuta, Bali, INDONESIA, 14 – 15 Desember 2017
Pengaruh Penggunaan Coffee Pulp terhadap Performans Reproduksi Kelinci Lokal (Lepus nigricollis).
I.M. Nuriyasa Puspani, E.
Program Studi Peternakan, Program Studi Peternakan, Fakultas Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Denpasar Universitas Udayana, Denpasar
E-mail: [email protected] E-mail : [email protected]
Metode Penelitian
Rancangan Penelitian
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan 5 perlakuan dan 5 blok (ulangan). Perlakuan ransum (R) terdiri dari: ransum tanpa menggunakan kulit kopi atau ransum kontrol (R0), menggunakan 10% kulit kopi tanpa fermentasi (R1), menggunakan 20% kulit kopi tanpa fermentasi (R2), menggunakan 10% kulit kopi terfermentasi (R3) dan menggunakan 20% kulit kopi terfermentasi (R4).
Variabel Reproduksi. Meliputi jumlah kelahian, berat lahir, jumlah sapih, persentase mortalitas dan berat sapih.
Lokasi dan Lama Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 12 minggu, pada daerah dataran rendah, di Desa Dajan Peken, Tabanan dengan ketinggian tempat 150 m dari permukaan laut (dpl).
Ransum dan Air Minum
Ransum yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah ransum iso energi dan iso protein, dengan kandungan protein kasar 16 % dan energi termetabolis 2.500 kkal/kg (NRC, 1977). Kulit kopi sebelum dibuat menjadi dedak, terlebih dahulu difermentasi dengan larutan Aspergillus niger (Guntoro, 2004).
Kandang Ternak .
Penelitian menggunakan 50 petak kandang battery dengan ukuran masing-masing panjang 70 Cm, lebar 50 Cm dan tinggi 45 Cm (Sceire, 1999). Ketinggian petak kandang diukur dari lantai bangunan kandang adalah 70 Cm.
Analisis Data
Data yang diproleh dianalisis dengan analisis ragam, apabila diantara perlakuan terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05) maka analisis dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (Steel dan Torrie, 1980).
Hasil dan Pembahasan
Data pada Tabel 1 menunjukan bahwa kelinci yang diberi perlakuan ransum R4 menghasilkan rata-rata jumlah kelahiran (litter size) paling tinggi yaitu 7,65 ekor.
Perlakuan ransum R3, R1, R0 dan R2 menghasilkan jumlah kelahiran masing-masing 3,27%, 11,11%, 16,34% dan 18,95% lebih rendah (P>0,05). Hasil penelitian mendapatkan jumlah kelahiran rata-rata adalah 6,89 ekor. Nuriyasa (2017) menyatakan bahwa jumlah kelahiran kelinci lokal berkisar antara 4 sampai 12 ekor. Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Antonell et al., (2013) yang mendapatkan bahwa persilangan kelinci Californian dengan New Zeland White, menghasilkan jumlah kelahiran rata-rata berkisar 6,0 samapai 8,4. Penggunaan kulit kopi dalam ransum kelinci lokal tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap berat lahir, dengan rata-rata berat lahir 50,7g.
Perlakuan ransum R0, R1, R2, R3 dan R4 menghasilkan berat lahir masing-masing 51g, 50,6g, 50,8g, 50,6 dan 50,5g (Tabel 1). Perlakuan ransum R0, R1, R2, R3 dan R4 menghasilkan berat lahir masing-masing 51g, 50,6g, 50,8g, 50,6 dan 50,5g (Tabel 1).
Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan yang dikemukankan oleh Antonell et al., (2013) kelinci lokal mempunyai berat lahir berisar antara 50 - 70g. Rata-rata jumlah anak yang bisa disapih pada kelinci yang diberikan ransum R3 paling tinggi yaitu 6,6 ekor namun tidak berbeda nyata (P>0,05) dibandingkan dengan perlakuan R4 (5,5 ekor), R2 (5,2 ekor), R1 (5,4 ekor) dan R0 (5,4 ekor). Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan kulit kopi dalam ransum tidak berpengaruh terhadap jumlah anak yang dapat disapih.
Mortalitas anak kelinci sebelum disapih, pada kelinci yang diberikan perlakuan R4 adalah 28,10% yang berbeda nyata dengan perlakuan lain. Hal ini kemungkinan disebabkan karena jumlah kelahiran pada kelinci yang diberikan perlakuan R4 paling tinggi.
Gamabar1. Vaksinasi kelinci, kandang induk, anak kelinci, kelinci lepas sapaih
Perlakuan
Variabel R0 R1 R2 R3 R4 SEM Jumlah lahir (ekor) 6,4a 6,8a 6,2a 7,4a 7,65a 0,19 Berat Lahir (g) 51,0a 50,6a 50,8a 50,6a 50,5a 0,28 Jumlah Sapih (ekor) 5,4a 5,4a 5,2a 6,6a 5,5a 0,2 Mortalitas (%) 15,6b 20,58b 16,13b 10,81a 28,10a 1,97 Berat Sapih (g) 365,8a 362,2ab 364,20ab 360,6b 362,2ab 0,7
Keterangan :
R0: Ransum tanpa menggunakan kulit kopi
R1: Ransum menggunakan 10% kulit kopi non fermentasi R2: Ransum menggunakan 20% kulit kopi non fermentasi R3: Ransum menggunakan 10% kulit kopi terfermentasi R4: Ransum menggunakan 20% kulit kopi terfermentasi
Simpulan dan Saran
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan 20% kulit kopi non fermentasi dan terfermentasi tidak berpengaruh terhadap performans reproduksi kelinci lokal.
Ucapan Terima Kasih
Penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada LPPM Universitas Udayana atas bantuan dana penelitian sehingga penelitian dapat berjalan sesuai yang direncanakan. Penulis juga menyampaikan banyak terima kasih kepada Rektor Universitas Udayana, Dekan Fakultas Peternakan, Universitas Udayana atas bantuan fasilitas penelitian sehingga penelitian bisa selesai sesuai dengan yang direncanakan.
DAFTAR PUSTAKA
Antonella, D and G. Paci. 2013. Influence of Rabbit Sire Genetic Origin, Season of Birth and Parity Order on Doe and Litter Performance in an Organic Production System. Asian-Australian J Anim. Sci 26(1): 43-49.
Akinsola, 0.T.F., B.I Nwago, M. Orunmuyi, G.T. Iyeghe-Erakpotobohor.,O.T.F
Abanikanda, A.J Shoyombo., U. Lois. 2014. Factors Influensing Litter Traits and Body Weight at Pre-Weaning Ages Among Temperate Rabbit Breeds in Tropical Condition of Nigeria. Annals of Experiment Biology Journal 2(2): 58- 60.
Guntoro, S., M. Rai Yasa, Rubiyo, dan I.N.Suyasa. 2004. Prosiding Seminar Nasional Sistem Integrasi Tanaman-Ternak. Denpasar 20-22 Juli 2004. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Peternakan bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi pertanian (BPTP) Bali dan Crop-Animal Systems Reseach Network (CASREN). Hal. 389-395.
Mastika, I.M. 2011. Potensi Limbah Pertanian dan Industri Pertanian serta
Pemanfaatannya untuk Pakan Ternak. Penerbit Universitas Udayana.
Mc.Nitt, J.I., N.M. Nephi, S.D. Lukefahr and P.R. Cheeke. 1996. Rabbit Production. Interstate Publishers, Inc NRC. 1977. Nutrient Requirement of Rabbits. National Academy of Sciences, Washington, D.C.
Nuriyasa.I.M. 2012. Respon Biologi dan Pendugaan Kebutuhan Energi dan Protein Kelinci Lokal (Lepus nigricollis) pada Kondisi Lingkungan Berbeda.
Disertasi, Fakultas Pascasarjana, Universitas Udayana, Denpasar. Bali.
Nuriyasa, I.M., I.M Mastika, I. G Mahardika, I.W Kasa and IG.Ag.I Aryani. 2014. Energy and protein retantion of local rabbit houshed in different cages. J.Biol.Chem.
Research. Vol. 31 No 2: 800 – 807 (2014).
Nuriyasa, I. M., I.M. Mastika and G. Ayu Mayani Kristina dewi. 2015. Performance of local rabbit (Lepus nigricollis) fed diets containing different level of fermented coffee pulp. African Journal of Agricultural Research Vol. 10 (52): 4820 –
4824.
Steel, R.G.D. and J.H.Torrie (1991). Principle and Procedure of Statictic.Mc Grow Hill Book Bo.Inc,New York.
Nuriyasa, I.M., W.S Yupardhi, E. Puspani. 2016. Study on Growth rate of local male Rabbits (Lepus nigricollis) fed different energy levels diet and sheltered in different density. J.Biol. Chem. Research, Vol. 33(1) 2016: 423-428.
Nuriyasa. I.M. 2017. Pemeliharaan Kelinci di Daerah Dataran Rendah Tropis. Penerbit Swasta Nulus, Denpasar, Bali