• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Pengembangan Ekowisata Taman Nasional Baluran di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Indonesia

N/A
N/A
its cici

Academic year: 2023

Membagikan "Strategi Pengembangan Ekowisata Taman Nasional Baluran di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Indonesia"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Email:[email protected]

Jurnal Internasional Evaluasi dan Penelitian Pendidikan (IJERE)

Penulis yang sesuai:

Diterima 21 Juni 2014

ABSTRAK

ÿ 185

Ekowisata

Vol.4, No.4, Desember2015, hlm. 185~195 ISSN: 2252-8822

1. PERKENALAN Taman Nasional Baluran

Pariwisata merupakan elemen penting dalam proses pembangunan perekonomian, baik negara berkembang maupun negara maju. Secara umum kontribusi sektor pariwisata lebih besar pada negara dengan perekonomian terbuka dan mempunyai multiplier effect terhadap pembangunan ekonomi secara langsung dan tidak langsung. Pariwisata juga merupakan sumber utama lapangan kerja di tingkat regional. Pariwisata merupakan industri padat karya dimana kerja keras digantikan oleh modal dan peralatan. Oleh karena itu, negara tertarik pada sektor pariwisata sebagai sumber lapangan kerja [1]. Ekowisata didefinisikan sebagai “perjalanan ke kawasan alam yang relatif tidak terganggu atau tidak terkontaminasi dengan tujuan khusus untuk mempelajari, mengagumi, dan menikmati pemandangan serta tumbuhan dan satwa liarnya, serta segala manifestasi budaya yang ada (baik dulu maupun sekarang) yang terdapat di kawasan tersebut. ....

Adil Siswanto, Moeljadi

" Bergantung pada penggunaan sumber daya alam di negara yang relatif belum berkembang, ekowisata didasarkan pada fitur-fitur alam seperti pemandangan indah, sungai liar, hutan yang masih asli, dan satwa liar yang melimpah serta memerlukan

pemeliharaan sumber daya yang berkualitas tinggi [2]. Ekowisata dianjurkan karena hubungan teoritisnya yang harmonis antara lingkungan alam dan manusia. Kawasan lindung seringkali dianggap sebagai destinasi wisata karena kealamiannya Strategi Pembangunan

Sejarah artikel:

Direvisi 20 Juni 2015

Adil Siswanto,

Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Brawijaya, MT. Jalan Haryono 165 Malang 65145, Jalan Banteng

Timur No. 1 Jakarta 10710 Telepon/fax. (021) 3846474.

Info Artikel

Diterima 26 September 2015

Kata kunci:

Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Brawijaya, Indonesia

Hak Cipta © 2015 Institut Teknik dan Sains Lanjutan.

Taman Nasional Baluran di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur-Indonesia, sangat prospektif untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan yang dapat

meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Jenis wisata yang cocok adalah eco-tourism dengan keterlibatan masyarakat lokal. Tujuan penelitian ini adalah: 1). Mengetahui keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan ekowisata; 2). Mengetahui potensi Taman Nasional Baluran; dan 3). Merumuskan Strategi Pengembangan Ekowisata. Dengan menggunakan metode analisis

matriks IFAS dan EFAS, menghasilkan strategi bersama; Analisis SWOT menghasilkan strategi alternatif.

Seluruh hak cipta.

Penelitian ini mengeksplorasi, merumuskan kebijakan dan program berdasarkan kondisi internal dan eksternal. Data dikumpulkan dengan angket, wawancara dan observasi. Jumlah responden 25 orang yang berkompeten di bidang pariwisata.

Hasil penelitian menunjukkan, keterlibatan masyarakat desa penyangga Wonorejo, BajulMati, BimoRejo, WatuKebo, SumberWaru dan SumberAnyaras, dalam pengembangan ekowisata di Taman Nasional Baluran perlu dilakukan.

ditingkatkan melalui pendekatan, pelatihan dan pemberdayaan masyarakat.

Alternatif strategi yang diperoleh adalah strategi pengembangan produk ekowisata; pengembangan prasarana dan sarana dasar serta penunjang pariwisata; penetrasi dan promosi pasar wisata; peningkatan keamanan; serta strategi pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia ekowisata.

Strategi pengembangan ekowisata merupakan prioritas strategis yang menghasilkan program pengembangan produk ekowisata dan menjaga sumber daya hayati.

Strategi Pengembangan Ekowisata Taman Nasional

Baluran di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Indonesia

(2)

Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya yang telah disebutkan, objek yang diteliti sama-sama dilakukan pada taman nasional, namun jenis penelitian yang dilakukan berbeda. Dalam penelitian ini dibahas terkait dengan keterlibatan masyarakat lokal, potensi BNP yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan internal dilihat dari kekuatan dan kelemahannya serta kondisi lingkungan eksternal dilihat dari peluang dan ancamannya, sehingga dapat dijabarkan strategi dan program pengembangan ekowisata disesuaikan dengan kondisi lingkungan internal dan eksternal. Namun berdasarkan hasil penelitian, penelitian ini sangat membantu khususnya mengenai keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan ekowisata, seperti dalam persiapan pengembangan pariwisata. Kebijakan ini sangat penting agar ada kemauan bersama dari suatu masyarakat untuk mengembangkan ekowisata. Masyarakat lokal dinilai paling mengetahui potensi yang ada di wilayahnya dan dianggap mampu mengelola lingkungan hidup, karena mereka mewarisi kearifan tersebut secara turun temurun.

BNP, ditetapkan sebagai taman nasional sejak tahun 1980 dengan luas total 25.000 ha dan sangat prospektif untuk pengembangan potensi pariwisata berkelanjutan dalam melestarikan sumber daya alam, kekayaan flora, fauna dan ekosistem serta mencegah dampak negatif terhadap lingkungan alam. Akibat dari tidak adanya kunjungan wisatawan baik wisatawan mancanegara maupun domestik. Mengingat ekowisata mempunyai kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup dan keterlibatan masyarakat lokal, maka diperlukan adanya pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat lokal.

Wisatawan yang datang tidak hanya sekedar menikmati alam sekitar, namun juga mengkajinya sebagai penambah pengetahuan dan pengalaman. Manfaat ekowisata erat kaitannya dengan perkembangan perekonomian daerah dan masyarakat di Kabupaten Situbondo, khususnya untuk desa penyangga yaitu Wonorejo, Bajul Mati, Bimo Rejo, Watu Kebo, Sumber Waru dan Sumber Anyar. Keterlibatan masyarakat desa penyangga akan mendukung ekowisata karena merekalah yang pertama kali merasakan dampak positif dan negatif dari kegiatan pariwisata tersebut.

BNP terdiri atas: zona inti seluas 12.000 ha zona hutan seluas 5.637 ha (air = 1.063 ha dan lahan = 4.574 ha).

Zona pemanfaatan intensif dengan luas 800 ha zona pemanfaatan khusus dengan luas 5.780 ha dan zona rehabilitasi seluas 783 ha[6]. BNP dapat memberikan dampak positif bagi masa depan dengan menciptakan pemberdayaan masyarakat lokal dengan adanya lapangan kerja, sehingga ketergantungan hidup masyarakat lokal tidak lagi bergantung pada hutan BNP yang merupakan permasalahan utama yang dihadapi sebagai degradasi hutan seperti penggembalaan berlebihan, kayu bakar dan pencurian fauna. Oleh karena itu perlu dirumuskan strategi pengembangan ekowisata BNP yang mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan dan memberdayakan masyarakat lokal untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan memperluas segmen pasar.

ÿ

2. STUDI SASTRA

2.1. Deskripsi Konsep Ekowisata Ekowisata

mencoba meningkatkan kesadaran lingkungan dengan mengeksplorasi ekologi dan ekosistem serta dengan memberikan pengalaman bertipe lingkungan. Berpartisipasi aktif dalam ekologi dan mendapatkan gambaran langsung tentang cara kerja ekosistem mempengaruhi cara berpikir masyarakat, yang pada akhirnya meningkatkan kesadaran akan konservasi dan perlindungan [8]. Menurut Patterson (2011), ciri-ciri usaha ekowisata adalah: a). Memiliki dampak yang rendah terhadap sumber daya alam dan teknik rekreasi di kawasan yang dilindungi; B). Libatkan pemangku kepentingan 186

Penelitian sebelumnya yang dianggap relevan dengan penelitian ini antara lain adalah penelitian Ekowisata, Pembangunan Berkelanjutan, dan Konservasi Pendidikan dan pelatihan: Pengembangan Program Pelatihan Pemandu Wisata di Tortuguero, Kosta Rika [7], menunjukkan bahwa ekowisata tidak ramah lingkungan dan memerlukan pengelolaan yang hati-hati di Tortuguero. Pendidikan dan pelatihan merupakan prasyarat penting yang memungkinkan masyarakat lokal untuk lebih berpartisipasi dalam manfaat ekonomi dari sistem pariwisata. Masukan dari pengelola sumber daya, pemandu wisata saat ini dan calon pemandu wisata, pemilik dan/atau pengelola hotel, serta wisatawan itu sendiri diperlukan untuk memastikan bahwa tujuan program pemandu wisata dapat tercapai. Program percontohan ini menunjukkan tingkat keberhasilan yang berbeda-beda dalam mencapai keempat tujuan tersebut. , yaitu untuk: (a) melestarikan sumber daya alam dan memitigasi dampak negatif pengunjung terhadap tempat peneluran penyu Tortuguero, (b) memberikan pendidikan dan pelatihan konservasi kepada penduduk setempat, (c) memberikan informasi lingkungan hidup kepada wisatawan asing dan domestik ke Tortuguero, dan (d) memberikan sumber pendapatan tambahan bagi anggota masyarakat setempat. Studi ini juga menyoroti perlunya dan kelayakan program pelatihan ekstensif bagi pemandu wisata.

dan sumber daya terkait pariwisata berkualitas tinggi[3]. Taman nasional didirikan terutama untuk melestarikan dan meningkatkan pemandangan alam, satwa liar, dan warisan budaya. Selama beberapa dekade, Indonesia telah menghadapi degradasi sumber daya hutan yang terus menerus, meskipun terdapat banyak peraturan dan penerbitan kebijakan lainnya yang dimaksudkan untuk menjamin pemanfaatan hutan secara berkelanjutan.[4].Ekowisata di Taman Nasional Baluran (BNP) sebagai kawasan lindung memainkan peran penting. peranan penting dalam menjalin hubungan yang saling menguntungkan antara masyarakat lokal, kawasan lindung, dan pariwisata yang penting dalam pengelolaan kawasan lindung. Untuk mengelola kawasan lindung dengan baik, masyarakat lokal harus menjadi pemangku kepentingan utama untuk memaksimalkan manfaat ekonomi lokal dan mendapatkan dukungan untuk upaya konservasi [5].

ISSN:2252-8822

(3)

Sumber : Model konseptual pariwisata (Eriksson,2003)

(individu, komunitas, ekowisata, operator tur, dan lembaga pemerintah) pada tahap perencanaan, pengembangan, pelaksanaan dan pemantauan; C). Membatasi kunjungan ke suatu kawasan, baik dengan membatasi ukuran kelompok dan/atau dengan jumlah kelompok yang dibawa ke suatu kawasan dalam satu musim; d). Mendukung kerja kelompok konservasi yang melestarikan kawasan alami yang menjadi dasar pengalaman; e).Mengarahkan pelanggan pada wilayah yang akan dikunjungi; F).

Mempekerjakan masyarakat lokal dan membeli persediaan secara lokal, jika memungkinkan; G). Mengakui bahwa alam

merupakan elemen sentral dalam pengalaman wisata; h).Menggunakan pemandu yang terlatih dalam penafsiran ilmu pengetahuan atau sejarah alam;i).

Seperti ditunjukkan Gambar 2, ekowisata sebagai bentuk yang sangat spesifik merupakan bagian dari konsep luas pariwisata berbasis alam, atau dapat dikatakan menggambarkan operasi berbasis alam di bidang pariwisata. Karakteristik yang paling jelas dari ekowisata adalah berbasis alam [12].

Menjamin satwa liar tidak diganggu, dan j). Menghargai privasi dan budaya masyarakat lokal. Menurut Chesworth[10], Ekowisata memiliki enam karakteristik. Hal-hal tersebut adalah: a) ekowisata melibatkan perjalanan ke kawasan alam dan/atau situs arkeologi yang relatif tidak terganggu, b) fokus pada pembelajaran dan kualitas pengalaman, c) memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, d) ekowisata berupaya melihat spesies langka dan lanskap spektakuler dan/atau yang tidak biasa dan eksotik, e) ekowisata tidak menghabiskan sumber daya tetapi malah melestarikan lingkungan.

ÿ

2.2. Konsep Ekowisata Berkelanjutan dan Tidak Berkelanjutan

Gambar 1. Ekowisata yang Berkelanjutan dan Tidak Berkelanjutan IJERE

Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1, hanya terdapat garis tipis perbedaan antara pariwisata berkelanjutan dan ekowisata, yang juga menunjukkan bahwa tidak ada batasan mutlak antara ekowisata berkelanjutan dan tidak berkelanjutan [11].

Menurut Weaver [12], ekowisata ada dalam klasifikasi jenis pariwisata yang lebih luas, yang pada tingkat awal dapat dibagi menjadi pariwisata massal dan pariwisata alternatif. Pariwisata massal dipandang sebagai bentuk pengembangan pariwisata yang lebih tradisional yang didominasi oleh prinsip-prinsip pasar bebas jangka pendek dan pemaksimalan pendapatan adalah hal yang terpenting.

187 ISSN: 2252-8822

(4)

Lokasi penelitian ini di BNP yang terletak di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur-Indonesia dan sekitar 45 km atau 1,5 jam perjalanan darat dari kota utama Situbondo. Dengan menggunakan metode analisis matriks IFAS dan EFAS, menghasilkan strategi bersama; Analisis SWOT menghasilkan strategi alternatif. Penelitian ini mengeksplorasi, merumuskan kebijakan dan program berdasarkan kondisi internal dan eksternal untuk strategi pengembangan ekowisata [17].

2.4 Pariwisata Berkelanjutan dan Pembangunan

Pariwisata berkelanjutan akan fokus pada tiga bidang: a). Kualitas – pengalaman berharga bagi pengunjung dan peningkatan kualitas hidup masyarakat tuan rumah melalui identitas budaya, pengentasan kemiskinan dan kualitas lingkungan;

B). Kontinuitas – eksploitasi dilakukan pada tingkat optimal yang memungkinkan pelestarian dan regenerasi sumber daya alam; C). Keseimbangan antara kebutuhan industri pariwisata, perlindungan lingkungan, dan masyarakat lokal dengan distribusi manfaat yang adil di antara para pemangku kepentingan [13].

Konsep keberlanjutan pertama kali muncul di hadapan publik dalam laporan yang dikeluarkan oleh Komisi Dunia untuk Lingkungan Hidup dan Pembangunan pada tahun 1987. Laporan komisi tersebut memajukan gagasan pembangunan berkelanjutan dengan mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan tidak hanya sejalan tetapi juga merupakan mitra yang diperlukan. Yang satu tidak bisa ada tanpa yang lain [14]. Pembangunan berkelanjutan merupakan potensi besar bagi komunitas mana pun yang berada dalam keterbatasan ekonomi, sosial, budaya, ekologi, dan fisik [15].

ÿ

Pembangunan berkelanjutan telah didefinisikan dalam berbagai cara, namun definisi yang paling sering dikutip berasal dari Our Common Future, yang juga dikenal sebagai Laporan Brundtland: Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. kebutuhan. Ini berisi dua konsep kunci di dalamnya [16]. Konsep kebutuhan, khususnya kebutuhan esensial masyarakat miskin di dunia, yang harus dijadikan prioritas utama; dan 2). gagasan tentang keterbatasan yang disebabkan

oleh keadaan teknologi dan organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan masa depan”.

188

3. METODE PENELITIAN

Gambar 2. Perbedaan antara pariwisata massal dan ekowisata

ISSN:2252-8822

(5)

3.3. Teknik Analisis

ÿ

Penelitian ini menggunakan beberapa metode analisis data sebagai berikut: 1). Analisis matriks IFAS dan EFAS akan menghasilkan strategi bersama; 2). Analisis SWOT dengan menggunakan diagram matriks SWOT akan menghasilkan alternatif strategi.

Petugas lapangan, 189 ISSN: 2252-8822

Karena sumber daya alam dan budaya yang dimanfaatkan untuk pengembangan ekowisata, secara tradisional dikuasai dan dikelola oleh masyarakat setempat (local resource); b).Masyarakat lokal mempunyai tanggung jawab lokal (local accountability) karena kegiatannya akan berdampak langsung terhadap kehidupannya; C). Keberagaman antar daerah (keanekaragaman lokal) sehingga desa yang satu dengan desa yang lain tidak boleh diperlakukan sama, karena mempunyai sistem pengelolaan yang berbeda sesuai potensinya; D). Masyarakat setempat merasakan kepemilikan terhadap sumber daya alam yang ada di BNP, sehingga akan tumbuh kesadaran masyarakat untuk turut serta menjaga kelestarian lingkungan hidup; e). Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dalam pengembangan ekowisata di BNP melalui penyuluhan maka akan membantu masyarakat lokal dalam penyediaan lapangan kerja dan meningkatkan taraf hidupnya sehingga tidak terjadi ketergantungan terhadap masyarakat hutan yang mengakibatkan gangguan pada BNP. wilayah tersebut sebagai akibat dari penggembalaan liar atau penggembalaan berlebihan, pencurian hewan, tumbuhan dan hasil hutan lainnya.

, IJERE

3.2. Teknik Pengambilan Sampel

Prinsip penting lainnya dalam pengembangan ekowisata adalah mengutamakan keterlibatan masyarakat dalam bentuk pertukaran ide, tindakan, pengambilan keputusan dan kontrol dalam mengembangkan kegiatan wisata pedesaan.

Diharapkan kegiatan yang lahir nantinya dapat memberikan kerangka simbiosis mutualisme, komunitas dan saling menguntungkan antar pengunjung. Pengembangan ekowisata adalah keinginan untuk mewujudkan jenis pariwisata kerakyatan yang mengangkat dan meningkatkan kualitas pariwisata Situbondo sekaligus memberikan manfaat yang adil dan merata kepada masyarakat. Keterlibatan masyarakat lokal merupakan prasyarat keberhasilan pembangunan pariwisata berkelanjutan. Hal ini merujuk pada alasan bahwa masyarakat setempat mempunyai tanggung jawab moral yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat luar yang membangun di kawasan tersebut. Selain itu, masyarakatlah yang paling merasakan dampak dari pembangunan tersebut. Dengan keterlibatan masyarakat maka ketegangan-ketegangan yang timbul akan mudah diatasi, dan pembagian keuntungan pun lebih terjamin secara adil dan merata.

3.1. Sumber Data

Sumber data baik Kualitatif maupun Kuantitatif berupa angka-angka dan dapat dihitung atau diolah dengan menggunakan matematika atau statistik untuk menarik suatu kesimpulan, seperti rata-rata tertimbang, rangking, dan penilaian responden terhadap pengembangan ekowisata di BNP.

Pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan ekowisata adalah sebagai berikut: a).

,

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.

Keterlibatan masyarakat lokal dalam Pengembangan Ekowisata BNP

Dengan menggunakan purposive sampling, dengan 25 responden diambil untuk melakukan pembobotan dan penilaian terhadap faktor internal dan eksternal BNP dan benar-benar mengetahui dan kompeten di bidang pariwisata serta kondisi internal dan eksternal yang menentukan pengembangan ekowisata. Responden terdiri dari: Bupati Situbondog, Kepala Badan Perencanaan Daerah, Sekretaris Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Sekretaris Departemen Kelautan dan Perikanan, Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Abdurrahman Saleh Situbondo, Sekretaris Departemen Perhubungan, Komunikasi dan Informatika, Kepala Lingkungan Hidup, Kepala Departemen Umum Peternakan, Sekretaris Departemen Peternakan, Ketua Seksi Kehutanan Departemen Pertanian, Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kepala Badan Statistika Administrasi, Manajer dan staf BNP Ketua Seksi Konservasi, Data, Pelaporan dan Pelayanan Pelanggan Staf Konservasi BNP, Polisi Hutan BNP dan ahli Pariwisata yang mengetahui keberadaan BNP.

Dalam pengembangan suatu daya tarik wisata khususnya pengembangan ekowisata, keterlibatan dan partisipasi masyarakat lokal sangat penting dan mutlak diperlukan dalam pengembangan pariwisata.

Salah satu tujuan dalam pengembangan ekowisata adalah untuk memberikan alternatif tambahan peningkatan taraf hidup dan lapangan kerja, sehingga masyarakat harus dilibatkan secara aktif sejak awal proses perencanaan dan pelaksanaan pengembangan ekowisata. Berdasarkan wawancara mendalam dan kuesioner kepada tokoh masyarakat, secara deskriptif kualitatif partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan ekowisata masih belum maksimal, karena masyarakat tidak dilibatkan dalam pengembangan BNP. Program pengembangan ekowisata memerlukan keterlibatan dan partisipasi masyarakat lokal. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan ekowisata, tergantung pada keterlibatan masyarakat lokal dalam ekowisata dengan cara berdialog dengan masukan dari masyarakat, kejujuran dan keterbukaan, keterlibatan dari perencanaan awal dan komitmen pengelolaan pembangunan BNP terhadap berfungsinya keterlibatan masyarakat lokal dalam ekowisata.

(6)

. ÿ

4.2.1. Potensi Kawasan Bekol

° 4.2. Potensi Taman Nasional Baluran

ISSN:2252-8822

- 30 190

ayam hutan (Gallus sp.); D). TNB mempunyai 444 jenis tumbuhan yang khas antara lain: Pilang (acacia leocophloea), mengepul (sterculiafeotida), Widoro Bekol (zyzipusLamkjujuba), Gebang (Coryphautan), Kesambi (schleichereoleosa), Manting (zyzygiumpolyanthum) dan Ketapang (Terminaliacattapalinn); e).Berbagai jenis fauna yang ada di TNB antara lain:

Banteng (Bosjavanicus) yang merupakan maskot BNP, Rusa (Cervustimorensis), Banteng Liar (wild bull), berbagai jenis primata, Rusa (Muntiacusmuntjac), Dhole (cuonalpinus) serta sebagai berbagai jenis burung; F).

Sarana wisata Pantai Bama terdiri atas: Perkantoran, pondok kerja, shelter, jalan tanah, menara pandang, jalan raya, air bersih, sarana rumah peristirahatan serta transportasi laut. Menurut UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, bahwa setiap pengunjung dilarang mengganggu flora, fauna, dan ekosistem.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 1998 tentang Tiket di Kawasan Konservasi, setiap pengunjung dan kendaraan yang masuk ke BNP wajib membayar biaya sesuai ketentuan yang berlaku. Tarif tiket masuk BNP bervariasi berdasarkan jenis pengunjung. Pendapatan dari retribusi masuk dapat dijadikan modal untuk membiayai seluruh biaya operasional khususnya untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana di BNP yang tujuannya tidak lain adalah untuk meningkatkan kepuasan dan kenyamanan wisatawan.

Potensi BNP meliputi topografi, sabana, berbagai jenis burung, mamalia besar, flora, hutan dan berbagai macam terumbu karang. Keberadaan masing-masing potensi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a). Topografinya bervariasi, mulai dari datar hingga berbukit dengan puncak tertinggi Gunung Baluran ± 1.247 m di atas permukaan laut. Ketinggian antara 0-1247 m, tipe iklim Monsoon, curah hujan antara 900-1600 mm/tahun dan suhu udara antara 27° Celsius; B).

Memiliki alam sabana (luas 10.000 ha atau ± 40% dari luas wilayah), hutan mangrove, pesisir pantai, rawa/rawa dan musim.

Tumbuhan khas Baluran adalah Widoro Bekol (Zyzyphusrotundifolia) dan tumbuhan lain seperti asam jawa

(Tamarindusindica), Gadung (Dioscoreahispida), Asam jawa (Aleuritasmoluccana), Gebang (Coryphautan) dan lain-lain; C).

Terdapat 155 jenis burung yang langka antara lain walet ekor jarum (Hirundapuscaudutus), merak (Pavomuticus),

Laut Waru (hibiscus tiliaceus), Pantai Pandan (pandanustictorinus) dan lain-lain; H). Hutan mangrove yang mempunyai berbagai jenis vegetasi seperti Aviceniasp, spsoneratia, Rhizophorasp dan spbruguire; i).Hutan pantai dan pantai yang ada di sekitar Padang Savana. Hutan pantai yang menarik terdapat di bagian utara Pantai Kalitopo, Popongan, Gatel, Kelor dan Bama serta Hutan Cemara yang mempunyai vegetasi potensial dan selalu hijau pada musim kemarau panjang; J). Padang Savanna merupakan salah satu yang terluas dan paling seru se-Jawa Timur, dengan luas total kurang lebih 10.000 ha atau sekitar 40% dari total luas BNP

Bekolarea dengan luas sekitar 300 ha, merupakan tempat yang banyak dikunjungi wisatawan dan sudah termasuk site plan. Dilihat dari menara Bekol terdapat puncak bukit Bekol yang berketinggian 64 m dpl, di menara ini terlihat berbagai jenis satwa seperti merak, ayam hutan, banteng, banteng liar, rusa, rusa, babi hutan dan lain-lain pada pagi hari. dan sore hari serta pemandangan indah di sekitar kawasan BNP. Untuk kondisi jalan di kawasan Bekol sudah beraspal, namun banyak yang rusak dan banyak genangan air pada saat musim hujan, sehingga kondisi jalan tersebut sangat tidak

menyenangkan bagi wisatawan yang datang. Bekolmemiliki daya tarik wisata alam yang cukup beragam, perpaduan bentang alam yang beragam mulai dari ekosistem pegunungan hingga lautan, savana Bekol, serta keanekaragaman jenis satwa liar dan beragam jenis tumbuhan. Fasilitas yang ada di Bekol terdiri dari 3 buah Rumah dengan kapasitas 28 orang, Shelter, Pos penjagaan, kantin dan parkir, kantin, pelayanan transportasi dan pusat informasi.

Terumbu Karang dengan berbagai jenis karang dan kedalaman antara 0,5 hingga 40 meter. Terumbu Karang dapat ditemukan di Pantai Bama, Lempuyang, Pondok Sijile, Karang Air, Balanan dan Kalitopo; G). BNP juga mempunyai pantai yang mempunyai beberapa tipe vegetasi hutan antara lain: Nyamplung (Calophyllum), Ketapang (Terminaliacatappa),

4.2.2. Potensi Pantai Bama

Kawasan pantai Bamabeach dengan luas 1.063 ha, merupakan pantai yang landai dan berpasir putih, formasi karang serta ikan hias yang cantik dan disini dapat melakukan aktivitas snorkling. Fasilitas lainnya tersedia 3 buah Rumah dengan kapasitas 20 orang, Kantor resort, Shelter, Jalan trail, cafe, Menara pandang. Di sekitar Pantai Bama dapat dilihat atraksi satwa liar seperti: banteng liar sedang minum, rusa dan elk, babi hutan mencari makan, komodo dan ratusan kera mencari makan di kawasan pantai pada saat air laut surut. Selain satwa liar juga dapat dilihat jenis-jenis flora : Hutan bakau formasi bakau utuh (Soneratia). Untuk wisata bahari pengunjung dapat melakukan aktivitas seperti: berperahu menyusuri pantai, berkano, berenang, menyelam dan snorkeling. Pantai Bama mempunyai daya tarik wisata alam yang terdiri dari perpaduan berbagai bentang alam mulai dari ekosistem pegunungan hingga lautan, sabana, keanekaragaman jenis. , hutan tanaman dan bakau.

(7)

4.3.3. Analisis Lingkungan Internal Pengembangan Ekowisata BNP 4.3.1. Lingkungan Internal dan Eksternal Pengembangan Ekowisata BNP

Pengembangan ekowisata tidak terlepas dari daya dukung dan potensi obyek yang dimiliki. Perkembangan pariwisata di BNP, berdasarkan siklus tahapan evolusi menunjukkan tahapan penemuan dan perkembangan respon lokal ditandai dengan jumlah wisatawan yang berkunjung ke BNP masih terbatas jumlahnya serta individu traveler dan petualang.

Wisatawan yang datang ke BNP umumnya tertarik dengan keunikan flora dan fauna seperti banteng sebagai maskot BNP, keindahan alam dan ekosistem sekitar.

Sumber : Hasil analisis data, 2015.

4.3. Strategi Pengembangan Ekowisata BNP (BNP) di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur-Indonesia Untuk merumuskan strategi pengembangan ekowisata, terlebih dahulu harus menganalisis lingkungan internal dan eksternal ekowisata BNP apakah terdapat potensi yang dapat berkelanjutan dan berkelanjutan. memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Analisis terhadap lingkungan internal dan eksternal BNP adalah sebagai berikut:

Sumber Daya Manusia masyarakat rata-rata hanya mengenyam pendidikan dan pelatihan dasar dan menengah serta kemampuan masyarakat dalam bidang penguasaan bahasa asing masih rendah; 2). Penataan dan kebersihan yang terdiri dari kebersihan lokasi, penataan dan penataan kawasan pengembangan untuk pengembangan prasarana wisata masih perlu ditingkatkan; 3). Kurangnya dukungan masyarakat yang terdiri dari enam desa yang secara geografis sangat dekat dengan kawasan Taman Nasional, yaitu Desa Wonorejo, Bajul Mati, Bimo Rejo, Watu Kebo, Sumber Waru dan Sumber Anyar; 4). Kurangnya kerjasama antara BNP dengan pemangku kepentingan lainnya; 5).

4.3.2. Lingkungan Internal Pengembangan Ekowisata BNP di Situbondo Faktor

Kekuatan, antara lain : 1). Aksesibilitas sangat lancar karena adanya jalan raya lintas provinsi yang melintasi BNP; 2). Lokasi BNP berdekatan atau tidak terlalu jauh dengan objek wisata lainnya seperti: Kawah Ijen, Taman Nasional Merubetiri dan Alas Purwo; 3). Pangsa Pasar BNP terdiri dari wisatawan domestik dan mancanegara; 4). Potensi Sumber Daya Alam terdiri atas: keindahan alam, tipe hutan, tipe ekosistem, keanekaragaman tumbuhan dan keanekaragaman tumbuhan; 5). Keanekaragaman produk yang ada di BNP terdiri dari : budaya masyarakat sekitar pedesaan yang berpotensi dapat dikemas dan mendukung program ekowisata yang terdiri dari budaya, kesenian tradisional, pertanian dan perkebunan di pedesaan Wonorejo, Pencopet Mati, Watu Kebo, Ben rejo, Sumber Waru dan Sumber Lebih baru; 6). Kegiatan yang dapat ditawarkan oleh BNP terdiri dari: observasi jenis burung/satwa di alam/bird Watching/animal Watching, tracking, out- bound, snorkle, diving. Faktor kelemahannya, antara lain : 1).

ÿ

Tahap analisis lingkungan internal, berupa kekuatan dan kelemahan pengembangan ekowisata, kemudian dilakukan pembobotan dan pemeringkatan faktor internal oleh responden. Berdasarkan kuisioner yang diberikan kepada responden, ternyata bobot yang diberikan setiap responden terhadap faktor internal berbeda-beda. Untuk mendapatkan bobot yang sama pada setiap faktor, maka dicari rata-rata dari setiap bobot yang diberikan responden. Sedangkan untuk pembobotan dan pemeringkatan faktor internal ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Matriks Strategi Pengembangan Ekowisata IFAS

ISSN: 2252-8822 191

Tumpang tindih penggunaan lahan oleh masyarakat enclave Gunung Gumitir di kawasan Labuan Merak.

Keterangan : *) Hasil perkalian bobot (2) dan rating (3).

IJERE

3.

0,15

0,07 Keanekaragaman produk yang ada di BNP

0,342 (1)

0,215 Kurangnya Sumber Daya Manusia Masyarakat

Kurangnya penataan pembangunan daerah.

0,232 Lokasi BNP berdekatan atau tidak terlalu jauh dengan obyek wisata lainnya

Berat (2)

3.124 3.20

3.08

3.

3.60 4.

4.

0,09

0,08 0,256

0,456 Kekuatan

1.

Kegiatan yang dapat ditawarkan oleh BNP Kelemahan

0,14

Nilai

3.40

- Kurangnya dukungan masyarakat

Kurangnya kerjasama dengan pemangku kepentingan lainnya Kurangnya dukungan pada suatu objek wisata.

0,204 3.32

Pangsa Pasar BNP terdiri dari wisatawan domestik dan mancanegara

Peringkat (3)

3.40

Skor

5. 0,05

0,07 5.

0,238 2.52

1.

Faktor internal

Potensi Sumber Daya Alam

3.80

0,07

0,397 2.

Total

(4 *)

2.84

0,13 0,327

1,00 6.

0,06

0,180 .

0,277 Aksesibilitas

TIDAK.

3.08 2.

3.04 0,09

(8)

Tabel 2. Matriks Strategi Pengembangan Ekowisata EFAS

Posisi lingkungan internal ekowisata berada pada posisi kuat dengan nilai yang diperoleh sebesar 3,124. Namun nilai-nilai faktor internal yang perlu diantisipasi adalah faktor kerentanan (kelemahan) yang menjadi kekuatan dalam pengembangan ekowisata.

Sumber: Analisis Hasil analisis data, 2015.

4.3.4. Lingkungan Eksternal Pengembangan Ekowisata BNP ÿ

Faktor peluang pengembangan ekowisata , antara lain: 1). BNP telah menjadi tren wisata alternatif yang lebih peduli terhadap lingkungan hidup, seperti ekowisata yang sangat mungkin dikembangkan khususnya di Situbondo atau khususnya di BNP; 2). Kemajuan teknologi, teknologi informasi dapat lebih dimanfaatkan dengan meningkatkan promosi BNP melalui media cetak, media elektronik dan internet yang dapat diakses dari seluruh dunia tentang keberadaan objek BNP serta teknologi yang memudahkan transportasi wisatawan menuju suatu tujuan wisata. ; 3). Adanya pertumbuhnya

perekonomian global, khususnya di negara-negara industri serta negara-negara di Asia Pasifik cenderung melakukan tur; 4).

BNP sebagai penghargaan paling menarik yang memiliki keunikan flora dan fauna Banten Banten khas Baluran Jawa, berpeluang menjadi tujuan wisata serta berpeluang meningkatkan pangsa pasar lebih besar; 5). Kerjasama dalam upaya meningkatkan hubungan kerjasama dengan tokoh masyarakat dan masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, swasta serta dengan jasa pariwisata lainnya seperti agen perjalanan dan biro perjalanan.

192

Keterangan : *) Hasil perkalian bobot (2) dan rating (3).

Faktor ancaman terhadap ekowisata, antara lain : 1). Persaingan dengan Taman Nasional lain di Indonesia seperti Taman Nasional Bali Barat, Bromo dan Taman Nasional Merubetiri yang memiliki kesamaan flora, fauna dan ekosistem akan berdampak pada BNP jika potensi yang ada tidak dikembangkan sebagai aset yang dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan Produk GrosNet; 2). Perubahan iklim yang terjadi di BNP adalah semakin besarnya bulan kemarau dibandingkan bulan basah, maka sangat beresiko terhadap krisis kebakaran hutan dan sumber daya air; 3). Gangguan di kawasan BNP terdiri atas: penggembalaan liar, perburuan liar, pemanenan hutan; 4). Tumpang tindih pengelolaan dan penguasaan kawasan oleh masyarakat di Labuan Merakan dan Gunung Masigit akan mempengaruhi keberadaan daya dukung BNP; 5). Konservasi sumber daya alam tidak boleh menimbulkan kerugian yang sebesar-besarnya, tetapi harus mendukung kelestarian sumber daya alam; 6). Ketidakstabilan sosial ekonomi dan faktor keamanan mengakibatkan keengganan wisatawan berkunjung.

Sehingga ketidakstabilan sosial ekonomi dan keamanan menjadi faktor penting keberhasilan suatu destinasi wisata dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan serta meningkatkan keselamatan, kesenangan dan kenyamanan wisatawan selama berada di destinasi wisata.

Berdasarkan Tabel 1, tampak bahwa faktor-faktor strategi internal yang terdiri dari faktor kekuatan dan faktor kelemahan memperoleh bobot yang berbeda-beda. Faktor kekuatan yang paling penting yaitu sumber daya alam BNP memperoleh bobot 0,07. Hal ini didasarkan pada potensi sumber daya alam dan BNP sebagai penghargaan paling menarik pada tahun 2009. Berdasarkan Tabel 1, Aksesibilitas menuju dan dari BNP merupakan faktor terpenting dari kekuatan yang pertama memperoleh bobot 0,09. Berdasarkan kondisi jalan bisa dikatakan sangat mulus, dengan adanya jalan raya lintas provinsi yang menghubungkan pulau Bali dan banyuwangi hingga surabaya melintasi BNP. Dengan demikian BNP dapat dijangkau dengan kendaraan darat dari berbagai kota penting di sekitarnya.

ISSN:2252-8822

2.

0,09

3.28 0,09

0,341 2.

3.161 0,03

Ancaman

Pariwisata alternatif adalah kecenderungan untuk lebih peduli terhadap lingkungan, seperti ekowisata.

(4 *)

0,331 3.28

Perubahan iklim lebih besar dibandingkan bulan kering hingga bulan basah.

0,266 Gangguan kawasan antara lain: penggembalaan, perburuan,

pemanenan Tumpang tindih pengelolaan dan penguasaan wilayah Labuan Merak dan Gunung Masigit

Kemungkinan terjadinya kerusakan lingkungan.

3.

0,12

Nilai

2.76

- BNP sebagai penghargaan paling menarik dan pelajar kota Situbondo.

3.

0,12

6.

3.88 Berat (2)

3.32 0,13

0,229 0,232 3.32

Kemajuan teknologi, baik teknologi informasi maupun transportasi.

(1)

0,194 Peluang

ketidakstabilan sosial ekonomi Indonesia

2.96 0,07

Faktor eksternal

4.

0,110 0,425

Total

Peringkat (3)

Adanya pertumbuhan ekonomi global khususnya di negara-negara industri dan negara-negara Asia-Pasifik.

3.40

1,00 5.

1. 0,14

1.

0,306

3.04

0,432 3.68

5.

0,07

TIDAK.

0,09 Meningkatkan kerjasama usaha jasa pariwisata dengan pelaku lain.

4.

Skor

0,295 Persaingan dengan taman nasional lain di Indonesia.

2.84 0,05

(9)

Berdasarkan kelebihan dan kelemahan yang terdapat pada BNP yang telah diuraikan di atas, maka akan diketahui melalui analisis SWOT strategi pengembangan yang dapat mendukung kelayakan dan daya tarik alam yang direncanakan.

Penggunaan analisis SWOT pada penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kelayakan kawasan potensial untuk dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai daya tarik ekowisata. Matriks SWOT digunakan untuk menentukan pilihan pengembangan selain strategi utama yang telah ditentukan sebelumnya. Matriks dibangun berdasarkan hasil analisis SWOT terhadap faktor-faktor strategis baik faktor internal maupun faktor eksternal yang terdiri dari kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Analisis SWOT dapat dilihat pada Tabel 3.

Faktor pertama merupakan peluang yang paling penting yaitu kemajuan teknologi; baik teknologi informasi maupun transportasi merupakan dua faktor terpenting yang peluangnya memperoleh bobot 0,09. Hal ini didasari oleh kemajuan teknologi, baik teknologi informasi yang dapat digunakan untuk melakukan kampanye melalui media cetak, elektronik maupun internet yang dapat diakses dari seluruh dunia tentang keberadaan ekowisata serta teknologi sebagai sarana untuk melakukan kampanye.

Transportasi bagi wisatawan disediakan oleh pihak Taman Nasional Baluran untuk memberikan kenyamanan bagi wisatawan menuju wisata.

Dari Tabel 2, faktor eksternal yang terdiri dari faktor peluang dan ancaman memperoleh bobot yang berbeda.

Strategi WO, meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang, menghasilkan: Strategi pengembangan dan prasarana dasar serta fasilitas pendukung pengembangan ecotourism (W 1,2,4; O 1,2,3,4,5) dengan program seperti sebagai).

Peningkatan infrastruktur jalan khususnya menuju Bekol dan Bama serta didukung oleh tersedianya sarana transportasi yang memadai; B). Penyediaan pemandu lokal

4.3.5. Analisis SWOT Strategi Pengembangan Ekowisata

Strategi WT, meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman, menghasilkan: Strategi pengembangan kelembagaan dan pengembangan sumber daya manusia pariwisata menuju eco-tourism (W 1,2,3,4,5; T 1,2,3,4,5,6) , dengan program seperti: a). Membentuk lembaga khusus yang membidangi pengelolaan ekowisata; B). Meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya masyarakat lokal dengan program pelatihan dan pemberdayaan; C). Melakukan kerjasama dengan lembaga pendidikan dan pelatihan pariwisata; D). Melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang kesadaran pariwisata; e).

Membina dan mengembangkan kerajinan unik hasil karya masyarakat sekitar desa penyangga sebagai daya tarik wisata.

diambil dari BNP; B). Penyediaan akomodasi dilengkapi dengan fasilitas sesuai dengan standar pelayanan yang dapat

memuaskan wisatawan; C). Penyediaan paket wisata ekowisata pada kawasan yang mempunyai obyek wisata alam selain Bekol dan Bama yang cenderung sebagai wisata massal yaitu Pantai Kajang, Tanjung Candibang, BilikSejile, Evergreen dan bar dipandu oleh pemandu lokal.

Analisis lingkungan eksternal, posisi lingkungan eksternal pengembangan ekowisata berada pada posisi kuat dengan nilai yang diperoleh sebesar 3,161, namun nilai faktor eksternal perlu diantisipasi faktor ancaman yang akan digunakan dalam pengembangan ekowisata. -peluang pariwisata.

ÿ

Berdasarkan Tabel 3, masing-masing strategi diturunkan berbagai program yang mendukung pengembangan masing- masing strategi tersebut antara lain:

Strategi SO, menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang, menghasilkan: Strategi pengembangan produk ekowisata (S 1,2,3, 4,5,6; O 1,2,3,4,5), dengan program seperti: a). Mengembangkan produk ekowisata; B). Menjaga potensi sumber daya alam; C). Mengembangkan kegiatan bagi wisatawan.

Strategi ST, untuk mengatasi ancaman penggunaan kekerasan, sehingga menghasilkan: strategi pengembangan ekowisata untuk meningkatkan keamanan (S 1,2,3,4,5,6; 1,2,3,4,5,6 T), dengan program seperti: a). Bekerja sama dengan pihak kepolisian, Petugas Ekosistem Hutan dan polisi hutan/penjaga hutan di lingkungan keamanan setempat BNP; B). Meningkatkan keamanan dengan melibatkan seluruh masyarakat setempat.

ISSN: 2252-8822 193

Strategi ekowisata merupakan salah satu upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui kegiatan pariwisata berkelanjutan. Selain itu, pengembangan ekowisata juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas pariwisata. Dengan dikembangkannya kegiatan pariwisata, diharapkan potensi-potensi yang ada di BNP dapat diberdayakan agar dapat berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. Melalui pendekatan pembangunan yang strategis dan tepat diharapkan masyarakat lokal akan mempunyai kesempatan untuk lebih berkembang dan menjadi pelaku utama pembangunan yang dilaksanakan. Sejalan dengan itu, pemahaman dan kesadaran masyarakat setempat untuk bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan alam dan budaya juga diharapkan semakin meningkat, karena telah mendapatkan dan merasakan manfaat yang dapat diperoleh melalui pengembangan kegiatan pariwisata.

IJERE

(10)

EFAS

(S 1,2,3,4,5,6,; O 1,2,3,4,5)

JIKA SEBAGAI

Tumpang tindih pengelolaan dan

penguasaan wilayah Labuan Merak dan Gunung Masigit; 5). Kemungkinan terjadinya kerusakan lingkungan hidup; 6).

Strategi WO

Strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang.

Strategi WT

Strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman.

Kelemahan

BNP sebagai penghargaan paling menarik dan pelajar kota Situbondo; 5). Meningkatkan kerjasama usaha jasa pariwisata dengan pelaku

lain.

5). Kurangnya dukungan pada turis

Ancaman

Strategi pengembangan ekowisata . Strategi SO

Strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang.

Aksesibilitas 1). Kurangnya Sumber Daya Manusia 1). Lokasi BNP berdekatan atau tidak terlalu jauh dengan masyarakat lain; 2). Kurangnya daya tarik daerah; 2). Pangsa Pasar BNP terdiri dari pengaturan pengembangan; 3). Kurangnya wisatawan dalam dan luar negeri; 3). Potensi dukungan masyarakat; 4). Kurangnya Sumber Daya Alam; 4). Keberagaman produk yang terjalin melalui kerjasama dengan pemangku kepentingan lainnya; BNP; 5). Kegiatan yang dapat ditawarkan oleh BNP.

Strategi ST 1).

Persaingan dengan Strategi nasional lain yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman. taman di Indonesia;

2). Perubahan iklim adalah strategi pengembangan ekowisata untuk meningkatkan keamanan lebih besar dibandingkan bulan-bulan kering menuju keamanan basah.

bulan; 3). Gangguan daerah seperti : (S 1,2,3,4,5,6; T 1,2,3,4,5,6) penggembalaan, perburuan, pemanenan; 4).

(W 1,2,3,4,5; T 1,2,3,4,5,6) Peluang 1).

Pariwisata alternatif adalah kecenderungan untuk lebih peduli terhadap lingkungan, seperti ekowisata; 2).

Strategi penetrasi pasar dan promosi perjalanan ekowisata .

Kemajuan teknologi, baik teknologi informasi maupun transportasi; 3).

Adanya pertumbuhnya perekonomian global khususnya di negara-negara industri maju dan negara-negara Asia-Pasifik;

4). (W 3,4,5; HAI 1,2,3,4,5)

Strategi pengembangan dan infrastruktur dasar serta penunjang ekowisata.

Strategi pengembangan kelembagaan dan pengembangan sumber daya manusia

daya tarik.

(W 1,2,4; HAI 1,2,3,4,5)

pariwisata ke ekowisata.

[6] Kantor B., “Kompetisi Birding Taman Nasional Baluran, Situbondo”, Dalam: Kantor BNP, redaksi, 2010.

[2] Ceballos-Lascurain H., “Estudio de prefactibilidad sosioekonomi del turismo ecologico y anteproyecto arquitectonico y urbanistico del centro de turismo ecotogicao de Sian Ka'an, Quintana Roo. Laporan ke SEDUE, Meksiko”, dikutip dalam E. Boo, 1990. Ekowisata: potensi dan kendala World Wildlife Fund Pub, Baltimore, Maryland, vol1, hlm. 73, 1987.

[3] EB., “Ekowisata: potensi dan jebakan”, World Wildlife Fund, Washington (DC), 1990.

[5] Jianying Xu ea.,“Kontribusi pengembangan pariwisata terhadap pengelolaan kawasan lindung: perspektif pemangku kepentingan lokal”, Jurnal Internasional Pembangunan Berkelanjutan & Ekologi Dunia, jilid/terbitan: 16(1), hlm. 30–6, 2009.

[1] Spilance J., “Ekonomi Pariwisata: Sejarah dan Prospeknya”, Kanisius; Jakarta, 1987.

[4] Sève J., “A Review of Forestry Policy Issues in Indonesia”, Forest Resources Advisor, 1999.

5. KESIMPULAN

Pertumbuhan ketidakstabilan sosial ekonomi

Indonesia Sumber: Analisis Data, 2015 ÿ

REFERENSI 194

Partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan ekowisata BNP di Situbondo masih belum optimal, karena masyarakat kurang dilibatkan dalam pengembangan pariwisata di BNP. Agar program pengembangan ekowisata berhasil, diperlukan keterlibatan dan partisipasi masyarakat lokal dalam pembangunan. Potensi BNP terdiri atas: 1). Potensi sumber daya hayati; 2). Keindahan alam sekitar; 3). Tipe – tipe hutan; 4). Keanekaragaman tumbuhan; 5). Satwa liar Baluran yang unik; dan 6). Jenis ekosistem. Dari seluruh potensi tersebut, menjadi potensi BNP untuk mengembangkan ekowisata yang merupakan jenis pariwisata berkelanjutan dan memberikan dampak positif terhadap pemberdayaan masyarakat lokal.

Strategi alternatif pengembangan ekowisata di BNP, meliputi: pengembangan produk ekowisata, peningkatan keamanan pengembangan ekowisata, pengembangan prasarana dan sarana dasar serta sarana pendukung pengembangan ekowisata, serta pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia untuk ekowisata.

Tabel 3.Analisis Matriks SWOT Kekuatan Strategi Pengembangan Ekowisata BNP

ISSN:2252-8822

(11)

[7] Jacobson SK.,“Ekowisata, Pembangunan Berkelanjutan, dan Pendidikan Konservasi: Pengembangan Program Pelatihan Pemandu Wisata di Tortuguero, Kosta Rika”, Pengelolaan Lingkungan , vol/edisi: 16(6), hlm. 701-13, 1992 .

[13] Kiper T., “Peran Ekowisata dalam Pembangunan Berkelanjutan: Intech, 2013.

[17] Rangkuti F., “Analisis SWOT: Teknik Kasus Bisnis”, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001.

[12] Weaver DB., “Ekowisata”, John Wiley & Sons: Milton, 2001.

[8] 8. .../Obenaus_oJ_Ecotourism.pdf. wn-ga. Taman Nasional Banff di Kanada dan Taman Nasional Gesause di Austria-a Camparison. Ekowisata – Pariwisata Berkelanjutan di Taman Nasional dan Kawasan Lindung, Online [Tersedia]: wwwnp- gesaeuse di/ /Obenaus_oJ_Ecotourismpdf., hal.170, 2005.

[Tersedia]: wwwiisdorg/sd.

[11] Eriksson H., “Perangkat Retorika dan Pemasaran atau Kemitraan yang Potensial dan Sempurna? - Studi Kasus Ekowisata Kenya, Universitas Umea”, Ekowisata Kenya: Universitas Umea, hal.1-8. 2003.

[9] Patterson C., “Bisnis Ekowisata: Panduan Lengkap Operasi Pariwisata Berbasis Alam dan Budaya, Rhinelander, Wis:

Penerbitan Panduan Penjelajah”, Edisi Kedua [G156.5.E26], hlm.37, 2002.

[15] Bhuiyan AH., dkk.,“Peran Ekowisata untuk Pembangunan Berkelanjutan di Kawasan Ekonomi Pantai Timur, Malaysÿa,/

OIDA”, Jurnal Internasional Pembangunan Berkelanjutan, vol/terbitan: 3(9), hal.53- 60, 2012.Online [Tersedia]: http://

wwwssrncom/link/OIDA-Intl-Journal-Sustainable-Devhtml.

[16] IISD, “Apa itu Pembangunan Berkelanjutan?”, Lembaga Internasional untuk Pembangunan Berkelanjutan, 2012. Online [10] Chesworth N., “Makalah Seminar Ekowisata disampaikan di Institut Studi dan Manajemen Lingkungan.

Makalah Seminar Ekowisata disampaikan di Lembaga Kajian dan Manajemen Lingkungan Hidup UPLB College”, Laguna:

UPLB. Perguruan Tinggi, Laguna, 1995.

[14] Harris R ea., “Pariwisata Berkelanjutan”, Sebuah Perspektif Global. Butterworth-Heinemann, hal.1-252, 2002.

ISSN: 2252-8822 ÿ 195

IJERE

Referensi

Dokumen terkait

Tesis yang berjudul “ Keefektifan Program Desa Wisata Kebangsaan Wonorejo Kecamatan Banyuputih Kabupaten Situbondo dalam Meningkatkan Keberdayaan Masyarakat Melalui

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis Potensi wisata yang terdapat di blok Bedul, menganalisa persepsi masyarakat dan wisatawan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan variabel Publication, Event, Identity Media, dan Public Service Activity mempunyai pengaruh yang cukup kuat hal ini

Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman serangga berkisar antara 1,7 – 2,3 (sedang) dan indeks kelimpahan serangga tidak merata pada setiap

Analisis internal dilakukan untuk mendapatkan faktor kekuatan yang akan digunakan dan faktor kelemahan yang akan diantisipasi terkait dari hasil daya dukung

Dilihat dari komposisi tutupan yang menutupi zona transisi (substrat pasir, lamun dan terumbu karang) dan analisis kesamaan komunitas Morishita-Horn pada ke tiga

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ’’Survei Hemiptera di Savana

Setelah dilihat dari kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari faktor internal dan eksternal, ternyata sektor pertanian memiliki potensi internal yang kuat, maka faktor-faktor