• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efek Marital Rape terhadap Kesehatan Mental dan Hak Seksual Istri dalam Islam

N/A
N/A
Isyfi Anny Azmi Alrozi

Academic year: 2024

Membagikan "Efek Marital Rape terhadap Kesehatan Mental dan Hak Seksual Istri dalam Islam "

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Interpretasi Ayat-Ayat Disabilitas dalam Tafsir al-Qurthubi – ibihtafsir.ID Tiga Manajemen Emosi Sedih dalam Kajian Tafsir Q.S. Yusuf: 86 – ibihtafsir.ID

Efek Marital Rape terhadap Kesehatan Mental dan Hak Seksual Istri dalam Islam Isyfi Anny Azmi Al Rozi

231020010 Abstract

There is a view in society that the person who has the right to enjoy sex is the man or husband.

This is due to misperceptions in understanding religious passages without considering the context first. As a result, marital rape occurs in marriages which should be a field for recreation and reproduction. This article uses a library research method, namely by studying and examining written sources such as books or journals relating to wives' rights, sexual relations, and marital rape. After analyzing the rights in sexual relations, indeed, the husband's rights must be fulfilled in sexual relations, there are also the wife's rights that need to be fulfilled.

Abstrak

Terdapat pandangan di masyarakat bahwa yang berhak menikmati seks adalah pria atau suami.

Hal ini dikarenakan adanya mispersepsi dalam memahami nas-nas agama tanpa menimbang konteksnya terlebih dahulu. Walhasil, terjadilah marital rape di dalam pernikahan yang seharusnya menjadi ladang untuk rekreasi dan reproduksi. Tulisan ini menggunakan metode kepustakaan (library research) yaitu dengan cara mengkaji dan menelaah sumber-sumber tertulis seperti buku-buku atau jurnal-jurnal yang berkaitan dengan hak istri, hubungan seksual, dan marital rape. Setelah menganalisis hak dalam hubungan seksual, memang, hak suami yang harus dipenuhi dalam hubungan seksual, terdapat pula hak istri yang perlu ditunaikan.

Pendahuluan

Membahas hubungan seksual untuk kepentingan keilmuan bukanlah hal yang taboo apabila disampaikan dengan bahasa yang sopan.1 Dalam ajaran Islam, seks adalah hal yang penting dan suci jika dilakukan sesuai hukum Islam dan dalam pernikahan yang diberkati.2 Namun, terdapat salah paham atau mispersepsi ulama tentang hak laki-laki dan perempuan yang dikarenakan oleh tidak adanya pemahaman kontekstual terhadap sebuah hadis yang menghasilkan kesimpulan mentah.

Salah satu contoh hadis yang disalahpahami adalah hadis berikut: Diriwayatkan bahwa:

Abdullah bin Abu Awfa berkata “Ketika Muadz bin Jabal datang dari Syam, dia sujud kepada Nabi yang berkata: 'Apa ini wahai Muadz?' Dia berkata: 'Saya pergi ke Syam dan melihat mereka bersujud kepada uskup dan bangsawan mereka dan saya ingin melakukan itu untuk Anda.' Rasulullah bersabda: 'Jangan lakukan itu. Seandainya Aku perintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, niscaya Aku perintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya.

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidak ada seorang wanita pun yang dapat menunaikan kewajibannya terhadap Allah sampai dia menunaikan kewajibannya

1 Syamsurizal Yazid, “Tinjauan Hukum Islam Tentang Etika Hubungan Seksual,” Jurnal Ulumuddin 2, no.

2 (2019): 52–75, https://doi.org/https://doi.org/10.22219/ulumuddin.v12i2.14034. Pg. 54.

2 Imam Zarkasyi Mubhar, “KONSEP SEKSUAL DALAM ISLAM,” Jurnal Mimbar: Media Intelektual Muslim Dan Bimbingan Rohani 7, no. 2 (October 30, 2021): 164–85, https://doi.org/10.47435/mimbar.v7i1.775. Pg.

170.

(2)

terhadap suaminya. Jika dia memintanya (untuk keintiman) meskipun dia berada di atas pelana unta, dia tidak boleh menolak.'” (HR. Ibnu Majah No. 1853)3

Hubungan seksual pun seakan menjadi hak bagi suami dan kewajiban yang harus ditaati oleh istri ketika memahami hadis Nabi berikut secara mentah: Dari Abi Hurairah r.a. berkata:

Rasulullah SAW bersabda: “Jika suami mengajak istrinya ke kasur (berhubungan badan) lalu ia menolak maka malaikat melaknatnya sampai subuh.” (HR. Ahmad No. 9671)4

Lebih lanjut, ulama Hanafiyah berpendapat sebagai berikut: “Hak menikmati seks itu merupakan hak laki-laki bukan perempuan, oleh karena itu, laki-laki boleh memaksa istrinya untuk melayani keinginan seksualnya maka perempuan tidak berhak memaksanya kecuali satu kali saja, tetapi wajib baginya sebagai orang yang beragama untuk menjaga dan menyucikan dirinya agar akhlaknya tidak rusak.”5

Karena tuntutan untuk melakukan hubungan seksual dengan suami harus dipenuhi, tak jarang dari wanita yang mengalami frigiditas atau disfungsi seksual6 hingga berimplikasi pada kesehatan mental bagi wanita.7 Menurut the National Coalition Against Domestic Violence (NCADV) pemerkosaan dalam rumah tangga empat kali lebih sering terjadi dibandingkan pemerkosaan oleh orang asing, namun masih belum banyak kesadaran mengenai hal ini.8 Maka, tulisan ini akan mengulas apakah pemenuhan hak-hak istri dalam pernikahan akan menjaga mereka dari tindakan marital rape atau tidak.

Metode Penelitian

3 Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, ed. Muhammad Fuad Abd Al-Baqi, vol. 1 (Kairo: Daar al-Ihya al-Kutub al-Arabiyah, n.d.). Pg. 595.

َع ،ِيِناَبْ يَّشلا ِمِساَقْلا ِنَع ،َبوُّيَأ ْنَع ،ٍدْيَز ُنْب ُداََّحَ اَنَ ثَّدَح :َلاَق ،َناَوْرَم ُنْب ُرَهْزَأ اَنَ ثَّدَح ِيِبَّنلِل َدَجَس ِماَّشلا َنِم ٌذاَعُم َمِدَق اَّمَل :َلاَق ،َفَْوَأ ِبَِأ ِنْب َِّللَّا ِدْبَع ْن

اَم :َلاَق ،ملسو هيلع الله ىلص َ ن ِفِ ُتْدِدَوَ ف ،ْمِهِتَقِراَطَبَو ْمِهِتَفِقاَسَِلِ َنوُدُجْسَي ْمُهُ تْقَ فاَوَ ف َماَّشلا ُتْيَ تَأ :َلاَق ؟ُذاَعُم َيَ اَذَه

َلاَقَ ف ،َكِب َكِلَذ َلَعْفَ ن ْنَأ يِسْف

ًدَحَأ اًرِمآ ُتْنُك ْوَل ِينِإَف ،اوُلَعْفَ ت َلََف :ملسو هيلع الله ىلص َِّللَّا ُلوُسَر ،ِهِدَيِب ٍدَّمَُمُ ُسْفَ ن يِذَّلاَو ،اَهِجْوَزِل َدُجْسَت ْنَأ َةَأْرَمْلا ُتْرَمََلِ ،َِّللَّا ِْيَْغِل َدُجْسَي ْنَأ ا

َلَ

يِيدَؤُ ت ُةَأْرَمْلا َّقَح ُهْعَ نَْتَ َْلَ ٍبَتَ ق ىَلَع َيِهَو اَهَسْفَ ن اََلََأَس ْوَلَو ،اَهِجْوَز َّقَح َيِيدَؤُ ت َّتََّح اَِيبَّر

4 Al-Imam ibn Hanbal Hanbal, Musnad Al-Imam Ahmad Ibn Hanbal, ed. Syuaib Al-Arnauth and Adil Mursyid, 1st ed., vol. 15 (Turki: Muassasah ar-Risalah, 2001). Pg. 419.

َْلِا ٍمِزاَح ِبَِأ ْنَع ،ُشَمْعَْلِا اَنَ ثَّدَح :َلاَق ،ٌعيِكَوَو .ُشَمْعَْلِا َنَََبَْخَأ :َلاَق ،ٍْيَُْنُ ُنْبا اَنَ ثَّدَح :ملسو هيلع الله ىلص ِالله ُلوُسَر َلاَق :َلاَق ،َةَرْ يَرُه ِبَِأ ْنَع ،ِييِعَجْش

"

اَذِإ اَعَد ُلُجَّرلا َحِبْصُت َّتََّح ُةَكِئ َلََمْلا اَهْ تَ نَعَل ،ُناَبْضَغ َوُهَو َتاَبَ ف ،ِهْيَلَع ْتَبَأَف ،ِهِشاَرِف َلَِإ ُهَتَأَرْما

5 Abd ar-Rahman Al-Jaziri, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah, 2nd ed., vol. 4 (Beirut: Daar al-Kutub al- Ilmiyah, 2003). Pg. 9.

ةيفنلحا - :اولاق نإ قلحا فِ

عتمتلا بيج نكلو ،ةدحاو ةرم لَإ هبَج الَ سيلف اهفلَبخ ابّ عاتمتسلَا ىلع ةأرلما بَيج نأ لجرلل نأ نىعبم ةأرملل لَ لجرلل

اهقلَخأ دسفت لَ يك اهفعيو اهنصيح نأ ةنيَد هيلع

6 Jeanne Becher, Perempuan, Agama Dan Seksualitas: Studi Tentang Pengaruh Berbagai Ajaran Agama Terhadap Perempuan, Penerjemah: Indriyani, (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2001). Pg. 162.

7 Nandini Agarwal, Salma M. Abdalla, and Gregory H. Cohen, “Marital Rape and Its Impact on the Mental Health of Women in India: A Systematic Review,” PLOS Global Public Health 2, no. 6 (June 21, 2022):

e0000601, https://doi.org/10.1371/journal.pgph.0000601. Pg. 1-2.

8 Brisa Victorio, “The Effects of Marital Rape on a Woman’s Mental Health,” Themis: Research Journal of Justice Studies and Forensic Science 11, no. 2 (May 19, 2023). Pg. 7.

(3)

Metode penelitian yang dipakai dalam tulisan ini adalah metode kepustakaan (library research) yaitu dengan cara mengkaji dan menelaah sumber-sumber tertulis seperti buku-buku atau jurnal-jurnal yang berkaitan dengan hak istri, hubungan seksual, dan marital rape.

Marital Rape

Marital Rape adalah sebuah istilah dalam Bahasa Inggris yang diartikan sebagai “Sexual intercourse forced on a woman by her husband, knowingly against her will,” atau Hubungan seksual yang dipaksakan pada seorang wanita oleh suaminya, dengan sengaja bertentangan dengan keinginannya.9 Violence against women (VAW) telah diakui sebagai masalah kesehatan masyarakat dan merupakan kejahatan terhadap hak asasi manusia dan perempuan.10

Penyangkalan terhadap konsep perkosaan dalam perkawinan di Indonesia bisa jadi merupakan produk dari miskonsepsi budaya yang dipengaruhi oleh penafsiran agama yang tidak tepat serta masih kuatnya sistem patriarki di masyarakat.11

Dalam UU-PKDRT (UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga) No. 23 Tahun 2004 pasal 1 disebutkan: KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang, khususnya perempuan, yang mengakibatkan terjadinya penelantaran rumah tangga secara fisik, seksual, psikis, dan/atau, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara tidak sah dalam lingkup rumah tangga.

Berdasarkan hasil SPHPN (Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional) 2016 menunjukkan bahwa 1 dari 3 perempuan usia 15–64 tahun mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan dan selain pasangan selama hidupnya. Dalam hal ini, 4 faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, khususnya kekerasan fisik dan/atau seksual:12

1. Individu, sering terjadi pertengkaran

2. Pasangan, seperti perselingkuhan, minum minuman keras, pengguna narkoba 3. Sosial budaya, seperti kejahatan dari lingkungan

4. Ekonomi, seperti kemiskinan, pengangguran, perjudian.

Ada empat jenis kekerasan dalam rumah tangga yakni kekerasan fisik, finansial, mental, dan seksual. Meskipun kekerasan fisik dan finansial dapat terlihat dan mudah dibuktikan, kekerasan mental dan seksual sulit untuk dilaporkan dan dicari keadilannya. Karena, kekerasan mental dan seksual bergantung pada kesaksian yang jujur dan banyak faktor yang dapat mempengaruhi tindakan tersebut. Nilai-nilai dan kepercayaan pribadi memberikan banyak pembenaran terhadap tindakan pelaku, termasuk keyakinan dan pengaruh budaya mereka.13

9 Oxford English Dictionary, “Marital Rape,” accessed December 25, 2023, https://www.oed.com/search/dictionary/?scope=Entries&q=Marital+rape.

10 Padma-Bhate Deosthali, Sangeeta Rege, and Sanjida Arora, “Women’s Experiences of Marital Rape and Sexual Violence within Marriage in India: Evidence from Service Records,” Sexual and Reproductive Health Matters 29, no. 2 (January 1, 2022), https://doi.org/10.1080/26410397.2022.2048455. Pg. 2.

11 Ahmad Tsalis Fakhrul Fauzy and Septiana Dwiputri Maharani, “Sexual Politics and Marital Rape in Indonesia,” Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review 6, no. 3 (December 20, 2021): 386–99, https://doi.org/10.15294/ipsr.v6i3.33283. Pg. 387.

12 Badan Pusat Statistik, “PREVALENSI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DI INDONESIA, HASIL SPHPN 2016,” March 30, 2017. Pg. 1-5.

13 World Health Organization, “Violence against Women,” 2021, accessed December 25, 2023 https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/violence-against-women.

(4)

Kekerasan seksual dikategorikan menjadi tiga bentuk:14 1. Battering rape

Dalam battering rape, wanita mengalami kekerasan baik secara fisik maupun seksual dalam sebuah hubungan. Ada pula yang dipukuli saat kekerasan seksual terjadi, atau perkosaan terjadi setelah episode kekerasan fisik saat suami ingin berbaikan dan memaksa istrinya melakukan hubungan seks di luar keinginan istrinya.

2. Force-only rape

Perkosaan yang dilakukan secara paksa saat suami melakukan kekerasan untuk memaksa istri mereka. Hal ini biasa terjadi setelah sang istri menolak untuk berhubungan seksual.

3. Obsessive rape

Hubungan seksual obsesif yang dilakukan dengan kekerasan untuk merangsang korbannya.

Adapun kaitannya antara marital rape dengan hubungan seksual dalam pandangan Islam adalah hubungan seksual memiliki dua fungsi yaitu rekreasi dan reproduksi. Hubungan seksual merupakan bagian dari kepuasan yang dapat dinikmati manusia selama hidupnya di dunia.

Selain untuk memuaskan hasrat manusia, hubungan seksual merupakan cara yang paling alami untuk mempertahankan umat manusia melalui proses regenerasi.15 Sedangkan marital rape adalah kontak seksual paksa yang tidak diinginkan yang terjadi antara dua orang yang sudah menikah atau perkosaan dalam pernikahan adalah hubungan seks non-konsensual yang pelakunya adalah pasangan korban. Keduanya memanglah hubungan seksual antara suami istri namun dalam kaitannya dengan marital rape, tidak ada rasa kepuasan ataupun kenikmatan yang didapat oleh korban.

Efek Marital Rape terhadap Mental Wanita

Marital rape tidak hanya menyakiti korban secara organ genital namun juga secara mental yang dapat berupa kecemasan, gangguan tidur, stres pasca trauma atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), dan juga depresi.16 Para penyintas IPV (intimate partner violence) baik secara fisik maupun seksual telah menceritakan penderitaan akibat dampak kesehatan mental yang merugikan.17

Negara-negara yang mengkriminalisasi perkosaan dalam perkawinan, seperti Amerika Serikat, juga melaporkan bahwa korban perkosaan dalam perkawinan menderita dampak kesehatan mental yang merugikan seperti PTSD dan depresi. Perempuan yang diperkosa oleh pasangannya menunjukkan tingkat kemarahan, depresi, dan perasaan ingin bunuh diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang mengalami penyerangan oleh orang asing.18

14 Harmanpreet Kaur and Farhat Khanday, “Marital Rape and Its Criminalization in India,” International Journal of Law Management and Humanities 6, no. 3 (2023): 2237–49,

https://doi.org/10.10000/IJLMH.115093. Pg. 2238.

15 Muhammad Endriyo Susila, “ISLAMIC PERSPECTIVE ON MARITAL RAPE,” Jurnal Media Hukum 2 (2013): 317–33, https://doi.org/https://doi.org/10.18196/jmh.v20i2.271. Pg. 324.

16 Agarwal, Abdalla, and Cohen, “Marital Rape and Its Impact on the Mental Health of Women in India:

A Systematic Review.” Pg. 1-2.

17 Ravindra Baliram Deokar et al., “A Case Report of Sexual Abuse of Five Minor Girls by a Single Perpetrator, Known Near Relative of the Survivors,” Medico-Legal Update 15, no. 2 (2015): 29,

https://doi.org/10.5958/0974-1283.2015.00042.0. Pg. 29.

18 Elaine K. Martin, Casey T. Taft, and Patricia A. Resick, “A Review of Marital Rape,” Aggression and Violent Behavior 12, no. 3 (May 2007): 329–47, https://doi.org/10.1016/j.avb.2006.10.003. Pg. 341.

(5)

NCADV menyatakan bahwa satu dari sepuluh wanita menikah akan mengalami perkosaan dalam pernikahan, yang jumlahnya mencapai jutaan di Amerika Serikat saja. Menurut Departemen Kehakiman AS, 77% wanita yang mengalami perkosaan dalam pernikahan tidak melaporkannya. Ukuran sampelnya adalah 60.010 perempuan yang tidak terluka namun diperkosa. NCADV menggambarkan bagaimana satu dari lima korban mengatakan bahwa anak-anak mereka menyaksikan penyerangan tersebut. Perempuan yang menjadi korban kekerasan tidak hanya menanggung penderitaan fisik dan psikologis, namun sering kali juga mengalami penderitaan seksual. Dampak psikologisnya biasanya lebih menonjol karena perilaku mereka mulai berubah dengan cepat. Hal ini kemudian berdampak pada kehidupan sosial, kehidupan kerja, kehidupan akademis, dan bahkan hubungan dengan teman dan keluarga. Pemerkosaan mempunyai banyak dampak psikologis yang negatif, terutama jika dilakukan oleh orang yang dikenal atau dipercayai. Para korban mulai percaya bahwa hal itu dapat diterima atau berpura-pura tidak terjadi apa-apa.19

Berdasarkan jurnal Marital rape and its impact on the mental health of women in India: A systematic review, bahwa depresi, termasuk depresi antenatal dan pasca-natal, dan gangguan stres pasca trauma (PTSD) adalah hasil penelitian utama dan juga terdapat kecenderungan untuk bunuh diri.20

Marital rape juga berdampak pada perilaku mencari bantuan di antara para penyintas yang mungkin berbeda-beda antar budaya.Sekitar 61% korban melaporkan mencari bantuan untuk IPV seksual di Selandia Baru, 40% di Tanzania dan Yordania tetapi hanya 24–26% di India;

dengan hanya 2–4% yang mencari bantuan dari pihak berwenang di India.21

Sementara di Indonesia, Komnas Perempuan mencatat kasus kekerasan dalam rumah tangga merupakan salah satu penyumbang utama tingginya jumlah laporan kekerasan. Kekerasan terhadap istri diwujudkan dalam berbagai tindakan, mulai dari kekerasan finansial, kekerasan mental, hingga kekerasan seksual termasuk perkosaan dalam pernikahan. Meskipun jumlah kasus perkosaan dalam pernikahan pada tahun 2020 menurun hampir 50% dibandingkan tahun 2019, yakni dari 100 laporan ke 57 laporan, pihak berwenang berpendapat bahwa kondisi pandemi dan pembatasan sosial telah memaksa mereka untuk menghabiskan lebih banyak waktu di rumah bersama para pelaku, sehingga membuat para korban tidak bisa melapor. Hal ini terlihat dari kasus kekerasan dalam urusan pribadi yang dilaporkan mengalami penurunan hampir 50% dari 11.105 kasus pada tahun sebelumnya.22

Ketidakmampuan untuk berbicara tentang pelecehan dan mencari bantuan juga berdampak negatif pada kesehatan mental perempuan, memperburuk stres, kecemasan dan gejala depresi yang dialami oleh para korban.23

Campbell dan Soeken dalam “Forced sex and intimate partner violence: Effects on women's risk and women's health” mengambil sampel yang berjumlah 159 perempuan yang pernah mengalami kekerasan oleh pasangan intimnya, menemukan bahwa depresi berhubungan dengan frekuensi serangan seksual termasuk kekerasan seksual pada pasangan intim,

19 Victorio, “The Effects of Marital Rape on a Woman’s Mental Health.” Pg. 7.

20 Agarwal, Abdalla, and Cohen, “Marital Rape and Its Impact on the Mental Health of Women in India:

A Systematic Review.” Pg. 10.

21 Malin Leonardsson and Miguel San Sebastian, “Prevalence and Predictors of Help-Seeking for Women Exposed to Spousal Violence in India – a Cross-Sectional Study,” BMC Women’s Health 17, no. 1 (December 3, 2017): 99, https://doi.org/10.1186/s12905-017-0453-4. Pg. 2.

22 Fauzy and Maharani, “Sexual Politics and Marital Rape in Indonesia.” Pg. 393-394.

23 Agarwal, Abdalla, and Cohen, “Marital Rape and Its Impact on the Mental Health of Women in India:

A Systematic Review.” Pg. 2.

(6)

pemerkosaan, dan kekerasan seksual pada masa kanak-kanak.24 Dalam studi depresi lain terhadap 84 wanita, Dienemann menemukan bahwa tingkat keparahan kekerasan pasangan intim, termasuk kekerasan seksual pasangan intim.25

Studi lain juga menemukan bahwa korban marital rape mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Dalam hal ini, Culbertson dan Dehle, dalam sampel mereka yang terdiri dari 206 mahasiswi S1, menemukan bahwa 12 perempuan yang pernah mengalami perkosaan dalam pernikahan melaporkan lebih banyak gejala PTSD dibandingkan kelompok perempuan pembanding yang pernah mengalami perkosaan oleh kenalan dan teman kencan. Namun, mereka tidak mengontrol viktimisasi (proses penimbulan korban yang dapat disebabkan oleh berbagai hail) sebelumnya seperti kekerasan seksual pada masa kanak-kanak.26

Kekerasan seksual pada pasangan juga ditemukan berhubungan dengan gejala PTSD dalam penelitian yang dilakukan Dutton dkk. Dalam sampel mereka yang berjumlah 149 perempuan yang mencari bantuan dari tempat penampungan kekerasan dalam rumah tangga, para peneliti ini menemukan bahwa gejala PTSD meningkat seiring dengan tingkat keparahan kekerasan seksual yang dilakukan oleh pasangan intim.27

Vogel dan Marshall, dalam sampelnya yang terdiri dari 579 perempuan yang menjalin hubungan intim, menemukan bahwa mereka yang melaporkan kekerasan fisik dan seksual yang dilakukan pasangan intimnya menunjukkan gejala PTSD yang jauh lebih besar dibandingkan dengan ukuran Crime Related-PTSD (PTSD terkait kejahatan)28 dibandingkan perempuan yang hanya mengalami kekerasan fisik dari pasangan intimnya.29

Perkosaan dalam pernikahan juga dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan mental lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan perkosaan dalam pernikahan berhubungan dengan rasa menyalahkan diri sendiri yang lebih tinggi, rendahnya harga diri dan citra tubuh, serta perasaan negatif yang lebih besar terhadap laki-laki dan seks.30

Hukum Marital Rape

Dalam konteks hukum di Indonesia, belum ditemukan peraturan dalam KUHP (Kitab Undang- Undang Hukum Pidana) yang merincikan tentang marital rape dan hanya terdapat pasal tentang pemerkosaan secara umum pada Pasal 285 KUHP yang berbunyi: “Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di

24 JACQUELYN C. CAMPBELL and KAREN L. SOEKEN, “Forced Sex and Intimate Partner Violence,”

Violence Against Women 5, no. 9 (September 30, 1999): 1017–35, https://doi.org/10.1177/1077801299005009003.

25 Jacqueline Dienemann et al., “INTIMATE PARTNER ABUSE AMONG WOMEN DIAGNOSED WITH DEPRESSION,” Issues in Mental Health Nursing 21, no. 5 (January 9, 2000): 499–513,

https://doi.org/10.1080/01612840050044258. Pg. 500.

26 KAYLEEN A. CULBERTSON and CRYSTAL DEHLE, “Impact of Sexual Assault as a Function of Perpetrator Type,” Journal of Interpersonal Violence 16, no. 10 (October 2, 2001): 992–1007, https://doi.org/10.1177/088626001016010002.

27 Mary A. Dutton, Lisa A. Goodman, and Lauren Bennett, “Court-Involved Battered Women’s Responses to Violence: The Role of Psychological, Physical, and Sexual Abuse,” Violence and Victims 14, no. 1 (January 1, 1999): 89–104, https://doi.org/10.1891/0886-6708.14.1.89.

28 Laura C. M. Vogel and Linda L. Marshall, “PTSD Symptoms and Partner Abuse: Low Income Women at Risk,” Journal of Traumatic Stress 14, no. 3 (July 30, 2001): 569–84,

https://doi.org/10.1023/A:1011116824613. Pg. 574.

29 Benjamin E. Saunders, Catalina Mandoki Arata, and Dean G. Kilpatrick, “Development of a Crime- Related Post-Traumatic Stress Disorder Scale for Women within the Symptom Checklist-90-Revised,” Journal of Traumatic Stress 3, no. 3 (July 1990): 439–48, https://doi.org/10.1007/BF00974783. Pg. 439.

30 CAMPBELL and SOEKEN, “Forced Sex and Intimate Partner Violence.” Pg. 1021.

(7)

luar perkawinan, diancam karena melakukan pemerkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.”

Dari pasal tersebut, terdapat tiga unsur perbuatan yang dikenakan hukuman yakni unsur

“kekerasan atau ancaman kekerasan”, unsur “memaksa bersetubuh” dan unsur “di luar perkawinan”. Sementara itu, hubungan seksual yang dikategorikan sebagai pemerkosaan hanya dilakukan kepada wanita yang bukan istri si pelaku atau tidak dalam hubungan pernikahan.31 Ketiga unsur tersebut harus terbukti dan jika tidak maka tuduhan pemerkosaan menjadi gugur.32 Namun di sisi lain, disahkanlah UU PKDRT (Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga) pada tahun 2004 sebagai upaya pemberantasan kekerasan dalam rumah tangga yang dahulu adalah hal yang tabu untuk dibahas, dicegah, serta diberantas saat kekerasan dalam rumah tangga adalah suatu fakta yang terjadi di masyarakat termasuk perkosaan dalam rumah tangga.33

Menurut Pasal 1 UU PKDRT yang berbunyi:

“Segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga merupakan perbuatan melawan hukum.

Sesuai dengan tujuan dari undang-undang ini yang ingin mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga, melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, dan memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera”.

Pasal 1 tersebut merupakan undang-undang pertama yang mengategorikan perkosaan dalam perkawinan sebagai tindakan kriminal. Selanjutnya, dengan lebih rinci, marital rape secara tegas diatur dalam pasal 5, 8, dan 46 UU PKDRT.

Pasal 5 UU PKDRT mengatur bahwa:

“Setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya, dengan cara: kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual atau penelantaran rumah tangga”.

Dari pasal tersebut telah jelas bahwa UU PKDRT mengakomodir jenis kekerasan seksual dalam rumah tangga yang dalam hal ini termasuk ke dalamnya tindakan marital rape. Lebih lanjut, kekerasan seksual diperinci dalam pasal 8 UU PKDRT yaitu:

“Pertama, pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut; dan Kedua, pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu”.

Dari pasal di atas, artinya, bahwa segala bentuk pemaksaan hubungan seksual dengan cara yang tidak wajar adalah bagian dari kekerasan seksual. Adapun untuk sanksi pidana yang diterapkan ditemukan dalam pasal 46 UU PKDRT yang menegaskan bahwa pelaku KDRT diancam dengan pidana penjara paling lama 12 tahun atau denda paling banyak Rp. 36.000.000.

31 Milda Marlia, Marital Rape; Kekerasan Seksual Terhadap Istri, vol. 1 (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2007). Pg. 4.

32 Herkutanto, Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Sistem Pidana: Pendekatan Dari Sudut Pandang Kedokteran (Bandung: Alumni, 2000). Pg. 270.

33 Nurlaila Isima, “KEBIJAKAN HUKUM PIDANA MARITAL RAPE DALAM KONSEP PEMBAHARUAN HUKUM DI INDONESIA,” Al-Mujtahid: Journal of Islamic Family Law 1, no. 2 (December 31, 2021): 125, https://doi.org/10.30984/jifl.v1i2.1783. Pg. 130.

(8)

Hak Seksual Istri dalam Islam

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa hubungan seksual dalam Islam memiliki dua fungsi yakni rekreasi dan reproduksi.34 Maka sejatinya, hubungan seksual harus dilakukan atas dasar kebutuhan bersama dan suka sama suka sehingga tidak ada satu pihak pun yang dirugikan sebagaimana yang terjadi ketika seseorang melakukan marital rape. Oleh karena itu, dorongan seksual harus disalurkan secara suci, sehat, manusiawi, dan bertanggung jawab.

Meski hubungan seksual sarat dengan kenikmatan, Lucienne Lanson menyatakan berdasarkan hasil survei pada tahun 1980-an, seorang istri yang melakukan hubungan seksual 22-75%

biasanya selalu mengalami orgasme, 30-45% kadang-kadang atau jarang sekali, dan 5-22%

tidak pernah sekalipun mengalami orgasme.35

Lebih lanjut, Wimpee Pangkahila, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, menyatakan hasil risetnya dalam Harian Kompas bahwa cukup banyak istri di Indonesia yang sudah menikah dan mengalami disfungsi seksual. Dari 4.135 perempuan yang berkonsultasi langsung, sejumlah 2.0302 orang tidak pernah mencapai orgasme, dan 572 orang mencapai orgasme. Dari data ini menunjukkan lebih dari 50% istri mengalami kasus disfungsi seksual.36 Dengan dibenarkannya superioritas suami atas istri, pemahaman tekstualis dalam nas keagamaan dan tidak dikontekstualisasikan sesuai dengan zaman, menyebabkan pihak istri lebih tidak berdaya dan tidak memiliki hak penuh atas hak reproduksinya.37

Hubungan seksual yang sehat harus memberikan kenikmatan bagi suami maupun istri. Namun anehnya, norma yang berlaku pada masyarakat tertentu menyatakan bahwa perempuan tidak berhak menikmati hubungan seksual, melainkan hanya melayani keinginan hasrat seksual laki- laki atau suaminya.38 Pemikiran semacam ini didasari fakta bahwa perempuan adalah obyek seksual yang harus dinikmati bukan subyek yang menikmati hubungan seksual. Hal ini jelas merupakan pandangan yang menyesatkan.39

Padahal, kedua pasangan harus sama-sama merasakan kenikmatan dan kenyamanan satu sama lain. Sebagaimana yang Hamka jelaskan dalam tafsir surah al-Baqarah ayat 22340 seputar “istri adalah ladang” bahwa istri ibarat ladang tempat suami menanam benih untuk meneruskan

34 Susila, “ISLAMIC PERSPECTIVE ON MARITAL RAPE.” Pg. 324.

35 Lucienne Lanson, Dari Wanita Untuk Wanita (Surabaya: Usaha Nasional, 1987). Pg, 316.

36 Wimpee Pangkahila, “Disfungsi Seksual Istri Di Indonesia,” Harian Kompas, July 25, 2001.

37 Azmi Ro’yal Aeni and Maulana Ni’ma Alhizbi, “HAK ISTRI DALAM HUBUNGAN SEKSUAL MENURUT HUKUM KELUARGA ISLAM,” Usroh: Jurnal Hukum Keluarga Islam 7, no. 1 (June 30, 2023): 27–40,

https://doi.org/10.19109/ujhki.v7i1.17743. Pg. 32.

38 Musdah Mulia, Mengupas Seksualitas Mengerti Arti, Fungsi, Dan Problematika Seksual Manusia Era Kita (Jakarta: Opus Press, 2015). Pg. 47-49.

39 Dewi Murni and Muhammad Hariyadi, “PENDIDIKAN GENDER: KAJIAN ATAS HAK SEKSUAL DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN,” Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam Dan Manajemen Pendidikan Islam 3, no. 1 (April 28, 2021): 140–58, https://doi.org/10.36671/andragogi.v3i01.158. Pg. 145-146.

40 َنْيِّن ِّم ْؤ ُمْ

لا ِّر ِّ شَبَو ۗ ُهْوُقٰلُّم ْمُكَّنَا آْْوُم َلْعاَو َ ّٰللّٰا اوُقَّتاَو ۗ ْمُك ِّسُفْنَاِّل اْوُم ِّ دَقَو ۖ ْمُتْئ ِّش ىّٰنَ ا ْمُ

كَث ْر َح ا ْوُتْ أَ

ف ۖ ْمُ كَّ

ل ٌث ْر َح ْمُ كُؤۤا َسِّن Terjemahan Kemenag 2019

223. Istrimu adalah ladang bagimu. Maka, datangilah ladangmu itu (bercampurlah dengan benar dan wajar) kapan dan bagaimana yang kamu sukai. Utamakanlah (hal yang terbaik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menghadap kepada-Nya. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin.

(9)

keturunan, dan suami sebagai pemilik ladang dapat masuk kapan pun dia suka dan dia mau, namun dalam menanam bibit juga harus memperhatikan waktu yang tepat agar tidak sia-sia.41 Sementara M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah berpendapat tentang surah Al-Baqarah ayat 223 menegaskan bahwa istri adalah tempat bercocok tanam dan anak yang lahir adalah buah dari benih yang ditanam oleh ayahnya. Istri hanya berfungsi sebagai ladang yang menerima benih. Kalau diumpamakan dengan demikian, maka jangan salahkan ladangnya bila yang tumbuh bukan seperti apa yang diharapkan. Karena seorang istri adalah ladang yang tepat untuk bercocok tanam, maka rawatlah ladang tersebut dengan baik. Datangilah ia kapan dan dari mana saja dengan maksud dan tujuan yang baik. Kedepankanlah hubungan seks dengan tujuan kemaslahatan untuk diri kamu di dunia dan akhirat, bukan semata-mata hanya untuk melampiaskan nafsu, serta bertakwalah kepada Allah dalam hal bersenggama.42

Meskipun hubungan seks identik dengan kenikmatan, sensasi, nafsu birahi, dan alat kelamin, hendaknya hubungan seks tersebut tidak dilakukan dengan bebas tanpa aturan seperti binatang.

Sebagaimana Nabi SAW bersabda: “Janganlah sekali-kali di antara kalian mencampuri istrinya sebagaimana binatang, dan agar di antara keduanya ada penghubung.” Ditanyakan, “Apa yang dimaksud penghubung wahai Rasulullah?”, “Ialah ciuman dan rayuan.”43

Maka, dapat disimpulkan bahwa istri memiliki hak untuk diperlakukan secara halus baik dalam kegiatan sehari-hari maupun saat berhubungan seks. Oleh karenanya, istri juga berhak memperoleh kenikmatan dalam hubungan seks yang artinya apabila istri tidak mencapai orgasme atau kenikmatan saat berhubungan badan, maka sang istri belum memperoleh hak seksualnya.

Penutup

Marital rape adalah sebuah kejahatan dalam pernikahan. Namun sayangnya masih banyak suami yang menggunakan dalil-dalil agama untuk melegitimasi perkosaan dalam rumah tangga. Padahal di samping hak suami untuk mendapat pelayanan dari istri untuk memenuhi hak seksualnya, terdapat pula hak istri yang harus dipenuhi karena istri juga perlu mendapatkan kenikmatan dalam hubungan seksual sebagaimana hubungan seksual berfungsi untuk rekreasi dan reproduksi.

Referensi

Aeni, Azmi Ro’yal, and Maulana Ni’ma Alhizbi. “HAK ISTRI DALAM HUBUNGAN SEKSUAL MENURUT HUKUM KELUARGA ISLAM.” Usroh: Jurnal Hukum Keluarga Islam 7, no. 1 (June 30, 2023): 27–40.

https://doi.org/10.19109/ujhki.v7i1.17743.

Agarwal, Nandini, Salma M. Abdalla, and Gregory H. Cohen. “Marital Rape and Its Impact on the Mental Health of Women in India: A Systematic Review.” PLOS Global Public Health 2, no. 6 (June 21, 2022): e0000601.

https://doi.org/10.1371/journal.pgph.0000601.

Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. Ihya Ulum Ad-Diin. Vol. 2. Beirut: Daar al-Ma’rifah,

41 Hamka, Tafsir Al-Azhar, n.d. Pg. 214-215.

42 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, Dan Keserasian Alquran, vol. 1 (Tangerang: Lentera Hati, 2007). Pg. 64-65.

43 Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, Ihya Ulum Ad-Diin, vol. 2 (Beirut: Daar al-Ma’rifah, n.d.). Pg. 50.

لاق الله لوسر اي لوسرلا امو ليق لوسر امهنيب نكيلو ةميهبلا عقت امك هتأرما ىلع مكدحأ نعقي لا ملسو هيلع الله ىلص لاق ةلبقلا

ملاكلاو

(10)

n.d.

Al-Jaziri, Abd ar-Rahman. Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah. 2nd ed. Vol. 4. Beirut: Daar al-Kutub al-Ilmiyah, 2003.

Badan Pusat Statistik. “PREVALENSI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DI INDONESIA, HASIL SPHPN 2016,” March 30, 2017.

Becher, Jeanne. Perempuan, Agama Dan Seksualitas: Studi Tentang Pengaruh Berbagai Ajaran Agama Terhadap Perempuan. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2001.

CAMPBELL, JACQUELYN C., and KAREN L. SOEKEN. “Forced Sex and Intimate Partner Violence.” Violence Against Women 5, no. 9 (September 30, 1999): 1017–35.

https://doi.org/10.1177/1077801299005009003.

CULBERTSON, KAYLEEN A., and CRYSTAL DEHLE. “Impact of Sexual Assault as a Function of Perpetrator Type.” Journal of Interpersonal Violence 16, no. 10 (October 2, 2001): 992–1007. https://doi.org/10.1177/088626001016010002.

Deokar, Ravindra Baliram, Rajesh Baburao Sukhadeve, Sachin Sudarshan Patil, Harish Manilal Pathak, Shila Prakash Chakkre, and Sachin Hiraalal Pardeshi. “A Case Report of Sexual Abuse of Five Minor Girls by a Single Perpetrator, Known Near Relative of the Survivors.” Medico-Legal Update 15, no. 2 (2015): 29. https://doi.org/10.5958/0974- 1283.2015.00042.0.

Deosthali, Padma-Bhate, Sangeeta Rege, and Sanjida Arora. “Women’s Experiences of Marital Rape and Sexual Violence within Marriage in India: Evidence from Service Records.” Sexual and Reproductive Health Matters 29, no. 2 (January 1, 2022).

https://doi.org/10.1080/26410397.2022.2048455.

Dienemann, Jacqueline, Ellsworth Boyle, Deborah Baker, Wendy Resnick, Nancy Wiederhorn, and Jacquelyn Campbell. “INTIMATE PARTNER ABUSE AMONG WOMEN DIAGNOSED WITH DEPRESSION.” Issues in Mental Health Nursing 21, no. 5 (January 9, 2000): 499–513. https://doi.org/10.1080/01612840050044258.

Dutton, Mary A., Lisa A. Goodman, and Lauren Bennett. “Court-Involved Battered Women’s Responses to Violence: The Role of Psychological, Physical, and Sexual Abuse.”

Violence and Victims 14, no. 1 (January 1, 1999): 89–104. https://doi.org/10.1891/0886- 6708.14.1.89.

Fauzy, Ahmad Tsalis Fakhrul, and Septiana Dwiputri Maharani. “Sexual Politics and Marital Rape in Indonesia.” Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review 6, no. 3 (December 20, 2021): 386–99. https://doi.org/10.15294/ipsr.v6i3.33283.

Hamka. Tafsir Al-Azhar, n.d.

Hanbal, Al-Imam ibn Hanbal. Musnad Al-Imam Ahmad Ibn Hanbal. Edited by Syuaib Al- Arnauth and Adil Mursyid. 1st ed. Vol. 15. Turki: Muassasah ar-Risalah, 2001.

Herkutanto. Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Sistem Pidana: Pendekatan Dari Sudut Pandang Kedokteran. Bandung: Alumni, 2000.

Isima, Nurlaila. “KEBIJAKAN HUKUM PIDANA MARITAL RAPE DALAM KONSEP PEMBAHARUAN HUKUM DI INDONESIA.” Al-Mujtahid: Journal of Islamic Family Law 1, no. 2 (December 31, 2021): 125. https://doi.org/10.30984/jifl.v1i2.1783.

(11)

Kaur, Harmanpreet, and Farhat Khanday. “Marital Rape and Its Criminalization in India.”

International Journal of Law Management and Humanities 6, no. 3 (2023): 2237–49.

https://doi.org/10.10000/IJLMH.115093.

Lanson, Lucienne. Dari Wanita Untuk Wanita. Surabaya: Usaha Nasional, 1987.

Leonardsson, Malin, and Miguel San Sebastian. “Prevalence and Predictors of Help-Seeking for Women Exposed to Spousal Violence in India – a Cross-Sectional Study.” BMC Women’s Health 17, no. 1 (December 3, 2017): 99. https://doi.org/10.1186/s12905-017- 0453-4.

Majah, Ibnu. Sunan Ibnu Majah. Edited by Muhammad Fuad Abd Al-Baqi. Vol. 1. Kairo:

Daar al-Ihya al-Kutub al-Arabiyah, n.d.

Marlia, Milda. Marital Rape; Kekerasan Seksual Terhadap Istri. Vol. 1. Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2007.

Martin, Elaine K., Casey T. Taft, and Patricia A. Resick. “A Review of Marital Rape.”

Aggression and Violent Behavior 12, no. 3 (May 2007): 329–47.

https://doi.org/10.1016/j.avb.2006.10.003.

Mubhar, Imam Zarkasyi. “KONSEP SEKSUAL DALAM ISLAM.” Jurnal Mimbar: Media Intelektual Muslim Dan Bimbingan Rohani 7, no. 2 (October 30, 2021): 164–85.

https://doi.org/10.47435/mimbar.v7i1.775.

Mulia, Musdah. Mengupas Seksualitas Mengerti Arti, Fungsi, Dan Problematika Seksual Manusia Era Kita. Jakarta: Opus Press, 2015.

Murni, Dewi, and Muhammad Hariyadi. “PENDIDIKAN GENDER: KAJIAN ATAS HAK SEKSUAL DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN.” Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam Dan Manajemen Pendidikan Islam 3, no. 1 (April 28, 2021): 140–58.

https://doi.org/10.36671/andragogi.v3i01.158.

Oxford English Dictionary. “Marital Rape.” Accessed December 25, 2023.

https://www.oed.com/search/dictionary/?scope=Entries&q=Marital+rape.

Pangkahila, Wimpee. “Disfungsi Seksual Istri Di Indonesia.” Harian Kompas, July 25, 2001.

Saunders, Benjamin E., Catalina Mandoki Arata, and Dean G. Kilpatrick. “Development of a Crime-Related Post-Traumatic Stress Disorder Scale for Women within the Symptom Checklist-90-Revised.” Journal of Traumatic Stress 3, no. 3 (July 1990): 439–48.

https://doi.org/10.1007/BF00974783.

Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, Dan Keserasian Alquran. Vol.

1. Tangerang: Lentera Hati, 2007.

Susila, Muhammad Endriyo. “ISLAMIC PERSPECTIVE ON MARITAL RAPE.” Jurnal Media Hukum 2 (2013): 317–33. https://doi.org/https://doi.org/10.18196/jmh.v20i2.271.

Victorio, Brisa. “The Effects of Marital Rape on a Woman’s Mental Health.” Themis:

Research Journal of Justice Studies and Forensic Science 11, no. 2 (May 19, 2023).

Vogel, Laura C. M., and Linda L. Marshall. “PTSD Symptoms and Partner Abuse: Low Income Women at Risk.” Journal of Traumatic Stress 14, no. 3 (July 30, 2001): 569–84.

https://doi.org/10.1023/A:1011116824613.

World Health Organization. “Violence against Women,” 2021. https://www.who.int/news-

(12)

room/fact-sheets/detail/violence-against-women.

Yazid, Syamsurizal. “Tinjauan Hukum Islam Tentang Etika Hubungan Seksual.” Jurnal Ulumuddin 2, no. 2 (2019): 52–75.

https://doi.org/https://doi.org/10.22219/ulumuddin.v12i2.14034.

Referensi

Dokumen terkait