• Tidak ada hasil yang ditemukan

efektivitas seni melipat kertas origami - Ejournal Kopertais IV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "efektivitas seni melipat kertas origami - Ejournal Kopertais IV"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

Sesuai dengan definisi Mulyani tentang kreativitas, kreativitas anak dalam Perkembangan Seni Anak Usia Dini diartikan sebagai aktivitas berpikir “unik” seseorang. Kreativitas sangat penting bagi tumbuh kembang anak di lembaga pendidikan anak usia dini, karena menurut Masnipal, merangsang tumbuhnya kreativitas pada anak usia dini tidaklah sulit, karena ciri-cirinya adalah menyukai sesuatu yang baru, menyenangkan dan menarik. Kreativitas sangat penting bagi tumbuh kembang anak di lembaga pendidikan anak usia dini, karena menurut Masnipal tidak sulit untuk merangsangnya.

Tumbuh kembangnya kreativitas anak 90% bergantung pada guru dan 10% pada lingkungan sebagai penyedia berbagai sumber belajar. 4 Munculnya kreativitas anak tergantung pada usaha guru dalam menjadikan anak kreatif, namun bukan pada faktor keturunannya, yaitu PAUD. Pendidik pada lembaga pendidikan prasekolah harus benar-benar memperhatikan perkembangan kreativitas anak.

Kreativitas Menurut Ahli

Menurut Sudarsono, kreativitas berarti kemampuan mencipta, kesanggupan untuk mencapai penyelesaian atau penyelesaian yang benar-benar baru, orisinal, dan imajinatif terhadap permasalahan yang bersifat dapat dipahami, bersifat filosofis, estetis, atau lainnya. 7 Pengertian kreativitas diartikan lebih luas pada permasalahan yang bersifat konseptual, filosofis, estetis atau lainnya yang berkaitan dengan kemampuan mencipta dan kemampuan mencapai pemecahan masalah serta jalan keluar baru dari sesuatu yang dihasilkan. Sedangkan menurut Guntur Tajalan, dalam pengembangan kreativitas, seseorang dapat mengalami berbagai hambatan, keterbatasan atau hambatan yang dapat merusak bahkan mematikan kreativitasnya.68.

Dari definisi yang disampaikan, definisi di atas memberikan gambaran bahwa terdapat pengembangan kreativitas yang dapat mengantisipasi atau mengatasi berbagai hambatan atau.

Pengembangan Kreativitas

Perkembangan kreativitas juga dijelaskan oleh Guntur Tajalan Dalam pengembangan kreativitas, seseorang dapat mengalami berbagai hambatan, keterbatasan atau hambatan yang dapat merugikan bahkan mematikan kreativitasnya. menghasilkan hasil atau menciptakan hasil. Berkembangnya kreativitas dipengaruhi oleh motivasi internal dan eksternal yang menjadi pendorong untuk terus berkreasi, sehingga dari penggerak motivasi diri dan dorongan dari lingkungan mampu menghadapi dan mengatasi hambatan, keterbatasan dan berbagai hambatan. , menjadikan siswa lebih dapat meningkatkan kemampuannya untuk dapat meniru pendidikan yang dilakukan guru agar kreatif dan kreatif. Motivasi diri dan dorongan lingkungan harus diperhatikan, motivasi diri tidak boleh bersifat tumpul atau santai melainkan harus dipupuk sejak dini dalam diri siswa oleh guru untuk dikembangkan sehingga mampu mengembangkan kreatifitas siswa, serta dorongan dari dalam diri siswa. lingkungan, suasana lingkungan yang baik Dukungan kepada siswa untuk lebih kreatif juga harus diperhatikan, antara lain lingkungan belajar yang diciptakan oleh guru untuk siswa harus kondusif bagi perkembangan kreativitas siswa terutama pada anak usia dini, dan jenis pembelajaran yang sesuai. untuk siswa usia dini.

Perkembangan kreativitas juga berkaitan dengan sikap dan mental peserta didik, seperti yang dijelaskan oleh Yeni Rahmawati dan Euis Kurniawati yang menjelaskan bahwa pengembangan kreativitas merupakan proses mental individu yang memunculkan ide, proses, metode atau produk baru yang efektif. . imajinatif, estetis, fleksibel, integritas, kontinuitas, diskontinuitas dan diferensiasi yang efektif dalam berbagai bidang untuk memecahkan suatu masalah. 11. Perkembangan kreativitas juga berkaitan dengan perkembangan mental peserta didik dalam terwujudnya kreativitas dan daya cipta dalam proses pembelajaran. Jadi, banyak sekali pengaruh terhadap perkembangan kreativitas yang patut menjadi perhatian penting bagi dunia pendidikan, atau lembaga pendidikan yang mengelola pendidikan anak usia dini, mulai dari pengembangan bakat kreatif siswa, motivasi dari siswa dan dorongan dari lingkungan. . juga berkaitan dengan mentalitas siswa dan dapat dikaitkan dengan kecerdasan.

Sehingga sangat penting untuk mengembangkan kreativitas sejak dini dan menjadi perhatian bagi lembaga pendidikan dan guru karena kreativitas sangat berpengaruh terhadap perkembangan aspek. Pengembangan kreativitas peserta didik juga sesuai dengan Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 pasal 10 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini yaitu ruang lingkup pengembangan menurut usia tingkatan anak meliputi : 1) aspek nilai agama dan moral, 2) fisik-motorik, 3) kognitif, 4) linguistik, 5) sosial-emosional dan 6) seni 13 Dari seni, aspek nilai agama dan moral meliputi kemampuan mengenal nilai-nilai agama yang dijunjung tinggi, melaksanakan ibadah, berperilaku jujur, suka menolong, baik hati, hormat, olahragawan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengenali hari besar keagamaan, menghargai dan bertoleransi terhadap agama orang lain, aspek fisik motorik meliputi motorik kasar, motorik halus dan perilaku kesehatan dan keselamatan, aspek kognitif pembelajaran dan pemecahan masalah, berpikir logis dan berpikir simbolik, aspek linguistik meliputi pemahaman bahasa reseptif, bahasa ekspresif dan literasi, untuk aspek sosial emosional termasuk diri -kesadaran, rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain, serta perilaku prososial, dan aspek artistik meliputi kemampuan. 13 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Nomor 137, BAB IV Standar Isi, Pasal 10 (Permendikbud, 2014), v.

Urgensi Kreativitas

Jadi, pentingnya mengembangkan kreativitas siswa dengan seni melipat kertas origami diharapkan mampu meningkatkan nilai seni siswa yang meliputi kemampuan mengeksplorasi dan mengekspresikan diri, berimajinasi dengan gerak dan berbagai bidang seni, serta mampu mampu mengembangkan aspek fisik motorik khususnya pada lingkup motorik yang harus mencakup kemampuan dan kelenturan menggunakan jari tangan dan alat untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan diri dengan cara yang berbeda pada anak usia dini.

Seni Melipat Kertas

Bentuk kertas hasil pekerjaan siswa yang dilipat dapat digunakan sebagai alat peraga untuk bermain atau alat permainan yang menyenangkan, sehingga hasil kertas yang dilipat dapat dijadikan permainan oleh siswa sendiri, misalnya siswa membuat lipatan berbentuk binatang bermain dengan bentuk-bentuk hewan yang dihasilkan dan juga dapat mengenali berbagai jenis hewan dengan membuat model kertas lipat dari hewan-hewan tersebut. Kegiatan melipat kertas merupakan kegiatan yang memerlukan koordinasi mata dan otot tangan. Kegiatan melipat kertas merupakan salah satu kegiatan pembelajaran yang dapat menghibur siswa. Siswa akan merasa senang jika berhasil membuat lipatan kertas sesuai bentuk yang diinginkan.

Kegiatan melipat kertas membantu mengendurkan gerakan otot tangan sehingga siswa tidak mengalami kesulitan dalam menulis, menggambar, memotong dan kegiatan lain yang memerlukan keterampilan otot tangan. Memainkan origami dengan konsentrasi Membuat pola origami tertentu memerlukan konsentrasi dan ini dapat dijadikan sebagai ajang latihan. Dapatkan pengetahuan yang lebih mendalam tentang hewan dan lingkungannya, karena bentuk origami yang dibuat dapat kita pilih sesuai dengan bentuknya dan dapat dijadikan sebagai media pengenalan anak terhadap hewan dan lingkungannya.

Untuk mempererat ikatan emosional antara orang tua dan anak, bermain origami disertai komunikasi yang menyenangkan akan membangun ikatan yang sangat baik antara anak dan orang tua atau guru dan siswa. Jadi manfaat melipat kertas origami sangat bermanfaat bagi siswa usia dini untuk meningkatkan berbagai kemampuan termasuk meningkatkan kreativitas siswa. 15. septi Zulfina, Muhamad Ali, Pemanfaatan kertas origami sebagai media dalam mengembangkan kreativitas anak, (Jurnal Origami, volume 3 no. Januari 2012), t.h.

Konsep Origami

Kertas pertama kali diproduksi di Tiongkok pada abad pertama dan diperkenalkan oleh Ts'ai Lun. Kemudian, pada abad keenam, seorang biksu Buddha, Doncho (Dokyo), berasal dari Goguryeo (Semenanjung Korea), memperkenalkan kertas dan tinta ke Jepang pada masa pemerintahan Permaisuri Suiko. Jepang: Day Nippon Printing di Aji Gangsar Listyono, mengatakan origami diyakini pertama kali ditemukan di Tiongkok, yaitu ketika kertas ditemukan, dan umat Buddha membawa kertas ke Jepang melalui Korea pada tahun 538 SM.

Dahulu Origami digunakan sebagai hiasan upacara pernikahan, aksesoris, piring untuk melambangkan calon pengantin atau sebagai simbol, dan juga digunakan untuk bertukar hadiah antar sesama samurai. Kalau dulu bentuk atau model origami lebih terfokus pada bentuk atau model binatang, sekarang bisa dikaitkan dengan tema tertentu seperti monster, pesta, manusia dan lain-lain.17.

Pendidikan Anak Usia Dini

Jadi, penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif untuk menganalisis pengaruh seni melipat kertas origami terhadap kreativitas anak usia dini pada siswa, dengan statistik deskriptif, sehingga dapat disimpulkan hipotesis yang dirumuskan terbukti atau tidak, dengan jenis deskriptif dapat mendeskripsikan data penelitian untuk analisis lebih lanjut. . Berdasarkan hasil wawancara dapat digambarkan bahwa aktivitas anak sehari-hari menunjukkan dampak dari pembelajaran yang diberikan “Dengan pembelajaran menggunakan seni melipat kertas, anak dapat mempelajari berbagai aspek, misalnya anak dapat mengenal warna, mengenal geometri. bentuk-bentuk dan mereka mengenali bentuk-bentuk baru yang belum pernah mereka miliki sebelumnya. "Ini telah dilakukan sebelumnya". Dari hasil wawancara dengan beberapa anak dapat disimpulkan bahwa mereka merasa senang, bersemangat dan tidak merasa bosan ketika mengikuti kegiatan “melipat kertas”.

Anak-anak melipat kertas berbentuk dasi, melipat kertas berbentuk saputangan, melipat kertas berbentuk rumah, diikuti 35 peserta. Sekaligus peneliti melakukan observasi dengan mengisi instrumen yang telah disiapkan yaitu lembar observasi kesiapan siswa selama pembelajaran dan penilaian keterampilan motorik halus anak dengan metode pemberian tugas dengan cara melipat kertas. Berdasarkan hasil observasi keterampilan melipat kertas siswa terlihat bahwa dari 35 anak kelompok yang memperoleh hasil Perkembangan Sangat Baik (BSB), terlihat 5 anak (16%) Berkembang Sesuai Harapan. (BSH) berjumlah 10 anak (28%). Mulai berkembang (MB) diketahui sebanyak 10 anak (28%), dan Belum berkembang (BB) diketahui sebanyak 10 anak (28).

Kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa dan menekankan pada membangun pemahaman diri secara aktif, kreatif dan inovatif, berdasarkan pengetahuan sebelumnya dan pengalaman belajar yang bermakna. Pada refleksi ini sama seperti sebelumnya, pertama guru membuka pembelajaran dengan meminta seluruh siswa membaca doa pembelajaran untuk memulai kegiatan, kemudian guru memberikan apersepsi dengan memberikan semangat dan motivasi kepada siswa. Pada siklus II proses pembelajaran sudah cukup baik, terlihat beberapa siswa mulai fokus.

Setelah kegiatan ini berlangsung, guru kemudian menginstruksikan anak-anak untuk menyelesaikan tugas melipat kertas yang telah disiapkan oleh guru dan peneliti. Berdasarkan hasil observasi dan analisis data yang dilakukan bekerjasama antara guru dan peneliti dapat disimpulkan bahwa metode pemberian tugas melipat kertas dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak di RA (Roudlotul Athfal) Dewi Sartika Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto .

Referensi

Dokumen terkait