PENGARUH METODE BERCERITA DALAM
MENGEMBANGKAN SIKAP TANGGUNG JAWAB PADA ANAK KELOMPOK A DI TK KARUNIA KEBRAON SURABAYA
Isabella Hasiana
Universitas PGRI Adi Buana Surabaya E-mail korespondensi: [email protected]
Abstract
This research is motivated by the attitude of responsibility in children who are still low. The low level of responsibility in group A children at TK Karunia Kebraon Surabaya is caused by teachers who still often indulge children in completing their assigments,, as well as lack of affirmation in addressing children's behavior. The purpose to be achieved in this research is to find out the influence of storytelling methods in developing attitudes of responsibility in group A children at TK Karunia Kebraon Surabaya. This research uses quantitative research approach with pre- experimental research type using one group pretest-posttest design. The subject of this study was a group A child at TK Karunia Kebraon Surabaya with 15 children. Data collection method used is observation using assessment tools in the form of observation sheets and documentation. Using statistical analysis method with the formulation used is Ttest which is in accordance with the title of the research, namely The Influence of Storytelling Method in Developing Attitudes of Responsibility in Group A Children at Tk Karunia Kebraon Surabaya. Used pre-test and post-test one group design calculated using the formula Ttest. Based on the calculation result using the T test formula that obtained thitung result is 20.25 where the value is greater than the Tttabel value for the significance of 0.05 is 1. It can be concluded that there is an influence of storytelling methods in developing attitudes of responsibility in group A children at TK Karunia Kebraon Surabaya.
Keywords: Storytelling Methods, Attitudes of Responsibility, Early Childhood
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah proses pembelajaran hidup dalam kondisi yang berbeda, yang secara positif mempengaruhi perkembangan individu di kehidupan selanjutnya dan menjaga keberlanjutan.
Pendidikan juga merupakan salah satu bentuk upaya untuk mengembangkan potensi diri, khususnya pendidikan anak usia dini. Melalui PAUD, aspek yang dikembangkan meliputi NAM, sosial, emosional, fisik motorik, bahasa, seni, penguasaan pengetahuan dan keterampilan, serta pembentukan motivasi dan sikap kognitif terhadap kreativitas dalam diri anak.
Stimulasi perkembangan anak usia dini adalah rangkaian kegiatan atau interaksi yang dirancang untuk membantu meningkatkan perkembangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional anak-anak dalam usia dini, yakni dari lahir hingga sekitar usia 6 tahun. Anak-anak dalam periode ini berada dalam tahap yang sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan dan rangsangan di sekitarnya, sehingga stimulasi yang tepat dapat berdampak positif pada perkembangan otak dan kemampuan anak.
Salah satu aspek perkembangan yang perlu diajarkan kepada anak usia dini adalah kemampuan bahasa. Bahasa digunakan sebagai alat komunikas untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain, dan sebagai alat komunikasi dalam hubungan sosial anak. Dengan bersosisalisasi dengan lingkungan, inilah salah satu proses pembentukan peran anak dengan meniru apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan anak. Diharapkan orang dewasa di sekitar anak-anak untuk menunjukkan teladan yang baik,
Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
Email: [email protected] e-ISSN: 2686-3146 Accredited SINTA 5 http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/incrementapedia
termasuk perilaku anak yang bersemangat mempelajari hal-hal baru.
Sejak usia dini, anak perlu dikenalkan tentang pendidikan karakter mengingat perlakuan yang diberikan kepada anak akan terpateri kuat di dalam diri anak. Pembentukan karakter dapat dilakukan melalui kegiatan pembiasaan sehari-hari dan dengan melalui kegiatan yang dilakukan pada saat pembelajaran di sekolah.
Salah satu nilai sikap yang dikembangkan yaitu sikap tanggung, dimana sikap atau perilaku seseorang yang memiliki kewajiban untuk melaksanakan serta menyelesaikan tugas maupun tuntutan pada diri sendiri, masyarakat, lingkungan dan Tuhan YME (Koesoema, 2015 : 188). Sikap tanggung jawab untuk diajarkan, dikembangkan, dan dibiasakan kepada anak tetapi sesuai dengan kemampuan anak. Beberapa contoh sikap yang dapat dikembangkan pada anak seperti menyelesaikan tugas yang diberikan, merapikan peralatan yang telah digunakan, menjaga barang pribadi, serta menghargai waktu.
Sikap tanggung jawab pada anak usia dini merupakan kemampuan anak untuk mengenali tugas atau kewajiban yang harus mereka lakukan, serta berusaha untuk memenuhi tugas tersebut dengan sebaik mungkin. Pembentukan sikap dan tanggungjawab pada anak usia dini sangat penting karena akan membantu membentuk dasar kepribadian yang kuat dan kualitas diri yang positif di masa depan.
Dalam mengembangkan sikap tersebut, diperlukannya campur tangan orang dewasa di sekitar anak (orang tua maupun guru) untuk memberikan dorongan atau pengetahuan tentang pentingnya mempunyai sikap tanggung jawab di dalam dirinya. Menurut Rohyati (2015), menjelaskan bahwa bentuk tanggung jawab anak yang belum muncul seperti menghargai waktu, menyelesaikan tugas yang diberikan, serta mengembalikan barang yang sudah selesai digunakan. Hal ini disebabkan oleh anak yang masih sering dibantu dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaannya, serta tidak dibiasakan menghargai waktu saat berangkat ke sekolah maupun saat berain pada waktu istirahat. Pada saat anak bermain, tidak ditegaskan untuk mengembalikan mainan ke tempat semula. Dengan memberikan perhatian dan dukungan yang tepat, anak-anak usia dini dapat mengembangkan sikap tanggung jawab yang kuat, yang akan menjadi bekal penting dalam menghadapi tugas dan tanggung jawab yang lebih besar di masa depan.
Hal yang melatarbelakangi penelitian ini yaitu ditemukan sikap yang belum berkembang pada anak kelompok A, dua anak yang mampu bertanggung jawab dan 13 anak di kelompok tersebut terlihat belum mampu bertanggung jawab. Sikap tanggung jawab yang sudah terlihat seperti anak meletakkan tas di loker, membereskan peralatan tulis menulis setelah digunakan dan dimasukkan ke dalam tas, serta mengembalikan barang teman yang sudah dipinjam. Sebaliknya, anak yang memiliki sikap kurang bertanggung jawab seperti berjalan-jalan saat diberi tugas oleh guru dan enggan menyelesaikan, tidak mengembalikan barang hasil meminjam dari teman, serta menitipkan tas kepada teman yang ingin menaruh tas di loker.
Penyebab belum berkembangnya sikap tanggung jawab pada anak, dikarenakan selalu mendapat bantuan dalam melakukan sesuatu dan guru tidak membiasakan anak agar lebih berusaha dalam menyelesaikan tugasnya. Akibatnya, anak akan cenderung mengandalkan bantuan serta kurang aktif dalam mengikuti kegiatan yang dilakukan di dalam kelas dan tidak dapat menyelesaikan kewajibannya dengan baik. Hal ini akan berdampak pada kehidupan anak kelak, karena akan menjadi kebiasaan yang dapat merugikan orang lain serta anak akan tidak dihargai dan dipercaya di lingkungan sosialnya.
Gunarti (2014 : 5.3) menyatakan bahwa metode bercerita adalah salah satu cara pengajaran dalam menyampaikan suatu informasi atau nilai yang terkandung dalam cerita yang akan disampaikan dengan cara lisan atau tertulis. Metode ini seringkali digunakan dalam pembelajaran PAUD khususnya dalam menyampaikan pesan atau nilai yang akan diterapkan dalam diri anak.
Metode bercerita merupakan salah satu sarana yang efektif untuk mengembangkan tanggung jawab pada anak usia dini. Melalui cerita, anak dapat belajar banyak tentang nilai-nilai, kewajiban, dan konsekuensi dari tindakan mereka.
Metode bercerita dapat dijadikan sebagai salah satu sarana dalam mengembangkan sikap tanggung jawab anak dengan memberikan contoh-contoh cerita yang berkaitan tentang kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari seperti bertanggung jawab atas tugas yang sudah diberikan dalam hal menjaga barang pribadinya di dalam maupun di luar rumah, serta menyelesaikan pekerjaan sampai selesai. Contoh kebiasaan yang tidak baik dalam cerita seperti mengabaikan tugas yang diberikan.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini merupakan metode penelitian pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen. Penelitian yang dimaksudkan yaitu untuk mengukur atau mengetahui perubahan tingkah laku manusia dengan menggunakan instrumen yang yang valid dan reliabel, menurut pendapat Yusuf (2014:58). Desain yang digunakan yaitu one group yaitu pre-test dan post- test. Pada penelitian ini diberikan pre-test sebelum diberikan perlakuan metode bercerita dan post-test setelah diberikan perlakuan metode bercerita.
Penelitian ini dilakukan di TK Karunia Kebraon Surabaya pada tanggal 04 Januari 2021.
Populasi pada penelitian ini yakni sluruh anak kelompok A di TK Karunia Kebraon Surabaya sebanyak 15 anak. Menurut Sugiyono (2012:80) Populasi adalah objek yang sudah ditetapkan oleh peneliti.
Menurut Sugiyono (2012:81) Sampel adalah bagian dari populasi tersebut. Sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 15 anak untuk sampel anak kelompok A dengan usia 4-5 tahun dengan sebuah pertimbangan bahwa peneliti akan melakukan penelitian tentang penggunaan metode bercerita untuk menumbuhkan sikap tanggung jawab pada anak kelompok A.
Alat eksplorasi dan pengumpulan data digunakan dalam penelitian kuantitatif untuk memperoleh dan memproses data. Jika membutuhkan data yang valid dan konkret, harap gunakan alat pengumpulan data yang sesuai. Penelitian ini menggunakan observasi, pretest & posttest, dan pengumpulan data dalam bentuk dokumen. Sebelum melakukan penelitian, peneliti akan menyusun kriteria observasi yang dapat digunakan untuk mengambil data. Sebelum dan sesudah bercerita, rasa tanggung jawab anak-anak di Kelompok A memiliki perkembangan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pedoman tindak lanjut yang dapat digabungkan dengan checklist sebagai alat pengumpulan data utama. Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa format gambar yang dapat digunakan sebagai bukti penelitian. Dokumentasi tersebut berupa foto-foto aktivitas anak melakukan tanggung jawab yang sudah diberikan sesuai dengan RPPH.
Data yang digunakan adalah data kuantitatif dalam bentuk angka. Teknik analisis yang digunakan sebelum dan sesudah setiap perlakuan menghasilkan hasil tes yang berbeda. Sesuai dengan rencana penelitian, metode analisis data yang digunakan adalah rumus uji t.
Tabel 1
Instrumen Observasi
Kegiatan BSB BSH MB BB
Anak Mampu membuang sampah pada tempatnya
Anak mampu merapikan peralatan yang sudah selesai digunakan Anak mampu membantu pekerjaan rumah dengan membereskan peralatan makannya sendiri lalu meletakkan di tempat cuci piring Anak mampu mengakui dan meminta maaf bila melakukan kesalahan Keterangan :
BSB = Anak Berkembang Sangat Baik BSH = Anak Berkembang Sesuai Harapan MB = Anak Mulai Berkembang
BB = Anak Belum Berkembang
HASIL PENELITIAN
Hasil yang akan dideskripsikan dalam penelitian ini yakni yang terkait dengan pengembangan sikap tanggung jawab anak. Pengumpulan dan penyajian data diperoleh melalui observasi awal dan direkap dalam lembar observasi lalu disajikan dalam bentuk tabel dengan berpedoman pada instrumen observasi. Peneliti menyajikan data sebelum (pretest) dan data sesudah (post-test) dengan kegiatan bercerita yang diberikan kepada 15 anak kelompok
Dalam pelaksanaan pretest, anak diberikan beberapa kegiatan yang diberikan oleh peneliti sesuai dengan RPPH tanpa arahan guna melihat dan mengukur terlebih dahulu sejauh mana perkembangan sikap tanggung jawab pada anak. Maka yang terjadi adalah sikap tanggung jawab pada anak sebagian
besar belum berkembang (BB) dan masih berkembang (MB). Pelaksanaan posttest menunjukkan perubahan pada sikap tanggung jawab anak yang memiliki kriteria penilaian berkembang sangat baik (BSB) dan berkembang sesuai harapan (BSH), hal ini dikarenakan anak telah diberikan perlakuan menggunakan metode bercerita. Dalam pemberian metode bercerita anak dapat berkomunikasi dengan guru dan teman sebayanya, dapat belajar tentang menghargai diri dan lingkungan sekitar, serta belajar tentang berbagi, menolong dan membantu teman.
Berdasarkan hasil penghitungan statistik, Thitung ialah 20,25 sedangkan T tabel ialah 1,76131 sehingga didapatkan bahwa nilai Ttabel<nilai Thitung baik dengan taraf siginifikansi 0,05. Dari hasil uji T yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh metode bercerita dalam mengembangkan sikap tanggung jawab pada anak kelompok A di TK Karunia Kebraon Surabaya.
Hasil yang diperoleh dari analisis data pre-test dapat diketahui bahwa hasil metode bercerita dalam mengembangkan sikap tanggung jawab dengan jumlah subjek 15 anak menunjukkan bahwa sikap tanggung jawab pada anak kelompok A dapat dikatakan masih belum berkembang, dikarenakan selama pelaksanaan pengembangan karakter anak di TK Karunia Kebraon Surabaya kurang ditekankan pada kegiatan akademik. Anak cenderung menjadi lebih bebas saat di sekolah dikarenakan kurangnya penguatan aturan yang sudah diberikan, seperti meletakkan tas di loker. Hal tersebut tidak membuat para guru menegaskan aturan tersebut, justru membantu anak dalam meletakkan tas anak di loker masing-masing. Cara yang dilakukan tersebut sangat tidak efektif untuk membantu dalam mengembangkan sikap tanggung jawab anak.
PEMBAHASAN
Setelah enam kali perlakuan dengan menggunakan metode bercerita, dapat dikatakan bahwa hal itu berdampak pada perkembangan sikap tanggung jawab anak. Dari hasil analisis data setelah tes dapat diketahui bahwa pada saat mengunakan sub tema untuk mengembangkan sikap bertanggung jawab, hasil metode bercerita memperlihatkan bahwa perilaku tanggung jawab memiliki skor rata-rata yaitu standart perkembangan sangat baik. Strategi pembelajaran melalui bercerita dapat memberikan penglaman belajar kepada anak dengan menginternalisasikan nilai-nilai positif yang terkandung dalam cerita yang dibacakan guru. Metode ini digunakan untuk memperkenalkan, memberikan atau menjelaskan hal-hal baru untuk memberikan pengetahuan yang dapat mengembangkan berbagai keterampilan dasar anak TK. Penggunaan keterampilan bercerita dalam kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan efektif yang dapat mengubah pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif melalui interaksi antar anak. Mendongeng juga salah satu metode bercerita, bercerita yang mengandung informasi yang membentuk peran anak, seperti bertanggung jawab. Tanggung jawab merupakan sikap seseorang terhadap aktifitas dalam pengambilan keputusan yang terbaik dalam batas aturan lingkungan sosial dan norma yang ada pada masyarakat, dan membiasakan anak untuk bersikap tanggung jawab agar kelak dewasa sudah melekat pada diri anak (Chandrawaty, 2020: 331).
Sikap tanggung jawab pada anak tidak dapat dipantau hanya dalam 1-2 hari, melainkan perkembangan sikap tanggung jawab anak dapat dilihat saat dewasa kelak. Bentuk contoh tanggung jawab pada anak hanya merupakan bentuk kegiatan yang sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, merapikan peralatan yang sudah digunakan, membereskan peralatan makan setelah selesai makan, dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
Tanggung jawab pada anak usia dini adalah kemampuan untuk menyadari dan mengenali tugas-tugas atau kewajibanyang harus mereka lakukan, serta mengambil tanggung jawab penuh atas tindakan dan keputusan mereka. Meskipun anak usia dini masih dalam tahap perkembangan, penting untuk memperkenalkan dan membangun pemahaman tentang tanggung jawab sejak dini. Tanggung jawab pada anak usia dini mencakup berbagai aspek, termasuk : (1) tanggung jawab pada diri sendiri, dimana anak diajarkan untuk merawat diri sendiri seperti mandi, menyisir rambut, menggosok gigi, dan mengatur waktu tidur. Selain itu mereka juga diajarkan untuk makan dengan baik dan menjaga kesehatan; (2). Tanggung jawab terhadap lingkungan, yaitu anak diajarkan untuk merapikan mainan sendiri setelah bermain, menyimpan barang-barang sendiri dengan rapi, dan merapikan ruangan, (3).
Tanggung jawab terhadap hewan peliharaan, jika ada hewan peliharaan dirumah, maka anak diajarkan untuk merawat dan memberi makan hewan tersebut dengan tanggung jawab, (4). Tanggung jawab terhadap tugas sekolah, meskpiun bagi anak usia dini tugas yang diberikan dari pihak sekolah
masih sederhana namun mereka diajarkan untuk menghadapi tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas mereka dan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah dengan baik, (5). Tanggung jawab terhadap perasaan dan tindakan, yaitu anak diajarkan untuk mengenali perasaan mereka dan berbicara tentang perasaan mereka dengan cara yang baik. Mereka juga diajarkan untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka apalagi jika telah melakukan kesalahan, (6). Tanggung jawab terhadap kebersihan dan kenyamanan, yaitu anak diajarkan untuk menjaga kebersihan dan keamanan diri mereka sendiri dan orang lain.
Dengan demikian, metode bercerita dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk mengembangkan sikap tanggung jawab anak dan juga menjadikan pembelajaran lebih interaktif.
Sesuai dengan hal tersebut maka metode bercerita mampu mengembangkan sikap tanggung jawab pada anak. Dengan menggunakan cerita, anak-anak dapat belajar tentang berbagai karakter termasuk karakter yang bertanggungjawab.
Adapun manfaat metode bercerita meliputi: (1). Model perilaku, ketika anak mendengarkan cerita tentang tokoh-tokoh yang bertanggung jawab, mereka dapat meniru perilaku positif tersebut dalam kehidupan sehari-hari; (2). Peningkatan pemahaman. Dalam cerita sering kali ditampilkan bagaimana tanggung jawab berdampak pada cerita dan tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Hal ini dapat membantu anak-anak untuk memahami arti dan pentingnya tanggung jawab; (3). Motivasi. Cerita dengan tokoh-tokoh yang bertanggung jawab dan berhasil dalam mengatasi tantangan dapat memberikan motivasi pada anak-anak untuk mencoba lebih keras dan bertanggung jawab dalam hidup mereka; (4). Keterlibatan emosional. Melalui cerita, anak-anak dapat merasa terlibat secara emosional dengan tokoh-tokoh dalam cerita sehingga pesan tentang tanggung jawab dapat lebih mudah diterima.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian, sesuai dengan rumusan masalah yang telah dijabarkan dapat disimpulkan bahwa sikap tanggung jawab berkembang setelah diberikan metode pembelajaran bercerita yang dapat dibuktikan dari hasil data yang diperoleh memiliki rata-rata kriteria penilaian berkembang sangat baik. Hasil data penelitian yang telah diolah dan dihitung menggunakan rumus uji T yang memperoleh hasil Thitung adalah 20,25 dimana nilai tersebut lebih besar dari nilai Ttabel untuk signifikansi 0,05 adalah 1.76131.
Saran
Perkembangan tanggung jawab pada anak usia dini memerlukan kesabaran dan bimbingan dari orangtua, pengasuh dan guru. Melalui contoh yang baik, dorongan dan penguatan positif, maka anak akan dapat memahami pentingnya tanggung jawab dalam kehidupan mereka. Di dalam proses ini, anak juga akan belajar tentang nilai-nilai seperti rasa hormat, kemandirian, empati, dan kerjasama yang akan membentuk dasar kepribadian mereka di masa depan.
REFERENSI
Agustianih, Andi. 2019. Keterampilan Sosial Anak Usia Dini (Teori dan Metode Pengajaran). Jawab Barat : Edu Publisher.
Cahyaningrum, E. S. 2017. Pengembangan Nilai-Nilai Karakter Anak Usia Dini Melalui Pembiasaan dan Keteladanan. Yogyakarta : Jurnal Pendidikan Anak.
Chandrawaty. 2020. Pendidikan Anak Usia Dini: Prespektif Dosen PAUD Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Edu Publisher.
Gunarti, Winda. 2014. Metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini Cet 13 Ed 1. Tengerang Selatan : Universitas Terbuka.
Huda, Nurul F. 2010. Kiat Membentuk Anak Berkarakter Hebat. Yogyakarta: Bidadari
Hutami, Dian. 2020. Pendidikan Karakter Kebangsaan untuk Anak : Menghargai Prestasi. Yogyakarta : Cosmic Media Nusantara.
Koesoema, Doni. 2015. Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh. Yogyakarta : PT Kanisius.
Rohyati, R. 2015. Peningkatan Sikap Tanggung Jawab Anak Usia 5-6 Tahun Melalui
Metode Proyek. Pendidikan Guru PAUD S-1. Skripsi.
https://eprints.uny.ac.id/26480/1/Skripsi_Rohy ati_11111241015.pdf Universitas Negeri Yogyakarta. diakses pada 23 Desember 2020.
Mulyani, Novi. 2018. Perkembangan Dasar Anak Usia Dini. Yogyakarta : Gava Media.
Risaldy, Sabil. 2014. Bermain, Bercerita, dan Bernyanyi Bagi Anak Usia Dini. Jakarta Timur : Luxima Metro Media.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta
Yusuf, A. Muri. 2014. Metode Penelitian : Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan Ed 1.
Jakarta : Kencana.