• Tidak ada hasil yang ditemukan

EJURNAL UNTAG SAMARINDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "EJURNAL UNTAG SAMARINDA"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

Melaksanakan pembinaan narapidana di lembaga pemasyarakatan merupakan salah satu cara untuk mengembangkan dan juga membawa narapidana kembali ke jalan yang benar. Selain itu, pemerintah juga ingin memberikan efek jera bagi para pelaku khususnya tindak pidana korupsi. Dari hasil penelitian dan pembahasan diperoleh beberapa kesimpulan, yaitu: Pertama, pelaksanaan asimilasi terhadap terpidana tindak pidana korupsi terkait Peraturan Pemerintah No.

99 Tahun 2012 di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Samarinda pada umumnya berbentuk pekerjaan sosial dengan pihak ketiga (lembaga sosial), yang kedua, banyak kendala yang menghambat kelancaran asimilasi dengan pihak ketiga dan upaya yang dilakukan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II. Kelembagaan Kota Samarinda dalam melaksanakan program asimilasi sudah cukup baik, meskipun pelaksanaannya terkendala oleh kerangka hukum yang ada. Orientasi merupakan bagian dari proses rehabilitasi watak dan perilaku narapidana selama menjalani pidana karena kehilangan kebebasan, sehingga siap berintegrasi kembali ke masyarakat setelah keluar dari lembaga. Dimana isi UU Pra-Pendidikan antara lain mengatur tentang hak-hak narapidana selama menjalani hukuman penjara di lembaga pendidikan ulang.

Pada artikel ini akan dibahas lebih lanjut mengenai kegiatan asimilasi terhadap narapidana kasus korupsi. Tahun 2012 mengatur tentang pemaksaan atau pembatasan pemberian hak kepada narapidana kasus narkotika, terorisme, korupsi dan kejahatan transnasional lainnya. Tujuan penelitian yang penulis harapkan adalah: 1) Untuk mencari sebanyak-banyaknya. dimana pelaksanaan asimilasi di Lapas Kelas II A Samarida.

KERANGKA TEORITIS A. Pengertian Pemasyarakatan

Pengertian dan tujuan

Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan terdapat pasal 14 yang mengatur tentang hak narapidana dan peserta didik pemasyarakatan. Disini kita akan membahas lebih lanjut tentang hak-hak narapidana nomor 10, yaitu mendapat kesempatan berasimilasi atau dipekerjakan di luar tembok. Sedangkan asimilasi dapat dilakukan secara mandiri oleh lembaga pemasyarakatan atau dengan pihak ketiga yang harus didasarkan pada perjanjian kerja sama yang memuat hak dan kewajiban kedua belah pihak.

Khusus bagi terpidana korupsi, bentuk asimilasinya adalah kerja sosial di lembaga sosial. Kegiatan asimilasi di luar Lapas dilakukan paling lama 9 (sembilan) jam per hari termasuk perjalanan dan tidak boleh dilakukan pada hari Minggu atau hari libur nasional. Mendapatkan rekomendasi berupa surat Justice Collaborator dari Komisi Pemberantasan Korupsi, Kepolisian Republik Indonesia, dan/atau Kejaksaan Agung.

Justice Collaborator Letter adalah surat rekomendasi dari penegak hukum (Polri, Kejaksaan Agung atau KPK) yang menunjukkan bahwa narapidana bersedia bekerja sama dengan penegak hukum untuk melakukan hal tersebut. Surat jaminan dari sekolah, instansi pemerintah atau swasta dan lembaga sosial yang mengawasi narapidana selama mengikuti program asimilasi. Sebelum melakukan asimilasi, petugas harus melakukan survei lapangan untuk melihat langsung tujuan asimilasi.

Tujuan asimilasi harus jelas dan tepat yaitu berupa sekolah, panti asuhan, asrama Islam, dan lain-lain. Setelah mengeluarkan Keputusan Menteri, pihak Lapas segera melakukan asimilasi tersebut dengan terlebih dahulu membuat perjanjian kerja sama dengan pihak ketiga (lembaga sosial) yang memuat hak dan kewajiban kedua belah pihak. Sedangkan dari segi ketentuan upah atau gaji bagi narapidana, mereka tidak akan menerima upah atau uang saku selama asimilasi.

Sebab, warga binaan menjalani asimilasi dengan pihak ketiga berupa kerja sosial di lembaga sosial. Pihak ketiga juga bersedia bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan narapidana selama berada di luar penjara.

PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Latar Belakang Lembaga Pemasyarakatan klas II A

  • Keadaan Narapidana
  • Keadaan Petugas Lapas Klas II A Samarinda

Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Samarinda yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 15 Samarinda didirikan pada tahun 1925 dengan luas tanah 7.284 m2. Balai Pemasyarakatan Kelas II A Samarinda bisa dikatakan sangat strategis karena melewati jalan utama provinsi dan dekat dengan instansi pemerintah khususnya instansi pemerintah. Dari segi keamanan, tembok bangunan kuat, atap rumah terbuat dari lempengan beton sehingga sangat kuat, tembok sekeliling beserta pagar besi dan kawat berduri dalam kondisi baik, keamanan postingan seperti. tiang tinggi masih dalam kondisi baik.

Sebagai representasi pelatihan, Lapas ini mempunyai fasilitas fisik yang menunjang pemenuhan pelatihan narapidana, seperti tempat ibadah, ruang pengajaran, sarana olah raga dan fasilitas kegiatan pengawalan. Fasilitas pembinaan ini diharapkan dapat menunjang pemenuhan hak-hak warga binaan selama menjalani masa hukuman di Lapas ini. Berdasarkan data yang diperoleh dari Subbagian Registrasi Penjara, diketahui bahwa penghuni penjara ini semuanya adalah narapidana dan tidak ada yang menjadi narapidana.

Dengan demikian sesuai dengan fungsi penjara, penjara ini telah menerapkan peraturan yang berlaku bahwa penjara hanya sebagai tempat melakukan latihan dan pelatihan. Jadi tidak ada kebebasan bagi setiap narapidana di penjara ini untuk bergerak bebas karena jumlah narapidana lebih banyak dari kapasitas penjara ini. Setiap narapidana di penjara harus terdaftar di sub-bagian pendaftaran penjara untuk memfasilitasi kepatuhan.

Dengan demikian petugas pemasyarakatan berperan dalam melaksanakan hukum, dalam hal ini menegakkan hak-hak warga binaan lembaga pemasyarakatan sebagaimana tertuang dalam undang-undang. Mengingat hak-hak narapidana ada di dalam lapas, maka integrasi yang paling penting antara petugas dan narapidana adalah dalam pemenuhan hak-hak tersebut. Faktor penegakan hukum yang dimaksud dalam hal ini terdiri dari kualitas dan kuantitas petugas lapas.

Di Lapas ini terdapat 69 pegawai yang terbagi menjadi satu pengelola lapas, 12 pegawai bagian kedinasan, dan 31 orang. Namun pembinaan tetap penting karena sistem pemasyarakatan ini menggunakan pendekatan keselamatan dan pendekatan pembinaan yang selalu terpenuhi.

Tujuan dari penerapan Peraturan Pemerintah

Atas dasar tersebut, pemerintah akhirnya mengkonsolidasikan surat edaran tersebut menjadi peraturan pemerintah, yaitu dalam PP no. 99 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua PP No. 32 Tahun 1999 tentang syarat dan tata cara pelaksanaan hak. Bahwa pemberian grasi, asimilasi, dan pembebasan bersyarat bagi pelaku tindak pidana korupsi, narkoba, psikotropika, terorisme, kejahatan terhadap keamanan negara. Bahwa ketentuan mengenai syarat dan tata cara pemberian pembebasan, asimilasi, dan pembebasan bersyarat diatur dalam PP Nomor 28 Tahun 2006.

Pelaksanaan Pembinaan tahap Asimilasi di Lembaga

Dalam ketetapan tersebut disebutkan kewajiban untuk tunduk pada asimilasi pekerjaan sosial sekurang-kurangnya ½ (setengah) dari sisa masa hukuman yang harus dijalani. Jadi dapat disimpulkan bahwa sejak SK diterbitkan hingga dikeluarkan, harus melalui asimilasi terlebih dahulu sebelum mendapatkan PB. Setelah diadakan perjanjian kerjasama antara pihak Lapas dengan SMK Medika dan Akademi Kebidanan Mutiara Mahakam Samarinda.

Kendala utama pelaksanaan asimilasi pihak ketiga adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk asimilasi pihak ketiga mulai dari Lapas, Kanwil, Dirjen hingga persetujuan menteri. Akibat lambatnya proses birokrasi (hingga 3 bulan), proses asimilasi menjadi tidak efektif lagi. Misalnya Rifai divonis 1 tahun 8 bulan, 2/3 masa hukumannya 1 tahun 1 bulan 10 hari, sehingga sisa waktu asimilasinya adalah 6 bulan 20 hari.

Kebanyakan terpidana korupsi di lapas hanya berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Perlu diketahui, terpidana tindak pidana korupsi di Lapas Kelas IIA Samarinda berasal dari seluruh kabupaten atau kota di Provinsi Kalimantan Timur. Setelah divonis hakim dan dieksekusi oleh jaksa, mereka tetap menjalani hukuman di penjara kelas II A.

Jadi penjara mengirimkan surat ke Tarakan tentang seorang rekan keadilan, yang memakan waktu terlalu lama. Untuk kendala pertama, yakni lambatnya proses asimilasi, pihak Lapas berkoordinasi dengan Kanwil dan Dirjen. Oleh karena itu, otoritas penjara harus memantau sejauh mana usulan asimilasi telah diproses oleh Kanwil atau Direktur Jenderal.

Pihak berwenang lembaga pemasyarakatan harus proaktif menanyakan kepada pejabat yang berwenang di tingkat kantor wilayah, direktur jenderal, dan kementerian. Pihak Lapas tentunya tidak bisa melakukan intervensi terhadap kewenangan Kanwil atau Dirjen, karena pengajuan asimilasi membutuhkan waktu yang lama.

PENUTUP A. Kesimpulan

Pelaksanaan asimilasi bagi narapidana tindak pidana

Dari yang penulis kumpulkan di Lapas Kelas II A Samarinda, ada beberapa orang yang melalui proses asimilasi tersebut. Proses asimilasi yang mereka terima sudah sesuai aturan, dimana mereka telah memenuhi syarat materiil dan administrasi. Dimana terdapat perbedaan besar antara asimilasi terhadap terpidana tindak pidana biasa dengan terpidana tindak pidana korupsi.

Perbedaan tersebut terlihat pada persyaratan administratif yang lebih kompleks bagi terpidana korupsi, yaitu bukti pembayaran denda dan surat menyurat. Selain itu, kewajiban menjalani ½ masa pidana untuk memperoleh asimilasi juga berlaku bagi terpidana tindak pidana umum. Lapas Kelas II A Samarinda sendiri telah menjalankan program asimilasi terhadap warga binaan yang memenuhi syarat selama 3 tahun terakhir.

Namun, selama 3 tahun terakhir, hanya 3 narapidana korupsi yang mendapat program asimilasi dengan pihak ketiga.

Hambatan dan kendala dalam proses pelaksanaan

Berdasarkan PP Nomor 99 Tahun 2012, Pasal 36 menjelaskan bahwa terpidana tindak pidana korupsi wajib membayar denda dan/atau uang pengganti secara penuh, yang dibuktikan dengan bukti pembayaran denda (D-3). Secara umum terdapat 3 (tiga) kendala utama dalam pelaksanaan asimilasi bagi terpidana tindak pidana tertentu, yaitu. Lamanya waktu proses asimilasi dengan pihak ketiga (proses birokrasi dari Lapas hingga Menteri).

Bukti pembayaran denda dan/atau restitusi (terpidana harus membayar denda dan restitusi yang sangat besar). Keterlambatan penerbitan surat rekomendasi (Asosiasi Kehakiman) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) tempat Jaksa berada (berasal dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur). Pihak lembaga pemasyarakatan telah melakukan program melalui Badan Pembinaan Narapidana dan Mahasiswa (Binadik) untuk mengatasi kendala tersebut.

Hal ini menjadi kendala yang luar biasa bagi mereka yang melakukan tindak pidana korupsi, apalagi bagi mereka yang tidak mempunyai uang. Selain itu peran Lapas dan Rutan untuk memberikan sosialisasi dan pemahaman PP Nomor 99 Tahun 2012 kepada narapidana. Peran Kanwil dan Dirjen diharapkan bisa terjun langsung ke lapangan untuk melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada petugas di lapas dan rutan.

Agar petugas dapat lebih memahami isi dan tujuan PP Nomor 99 Tahun 2012 serta memberikan wawasan lebih kepada narapidana. Pada akhirnya tujuan pelayanan pemasyarakatan tercipta melalui kerjasama antara petugas dan warga binaan pemasyarakatan.

Saran

Peran serta semua pihak, baik pemerintah maupun swasta, diharapkan dapat mendukung pelaksanaan asimilasi terhadap terpidana tindak pidana korupsi. Agar petugas lebih memahami isi dan tujuan PP Nomor 99 Tahun 2012 serta dapat memberikan pemahaman lebih lanjut kepada narapidana dan tahanan di lembaga pemasyarakatan dan rutan. Anggota masyarakat dari Bapas ikut mengawasi dan memantau perkembangan narapidana selama asimilasi dengan pihak tersebut.

Sehingga narapidana selama menjalani hukuman di penjara tetap beraktivitas dan beraktivitas, dan tidak hanya berdiam diri di ruang blok.

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait