TUGAS 01.01.2-T1-3. EKSPLORASI KONSEP - PERJALANAN PENDIDIKAN NASIONAL DARI PERSPEKTIF KI HADJAR DEWANTARA
Nama : Khoirul Amri Siregar
Tugas 1.4: Argumentasi Kritis Tentang Gerakan Transformasi Ki Hadjar Dewantara Dalam Perkembangan Pendidikan Sebelum Dan Sesudah Kemerdekaan
Jawaban :
Ki Hadjar Dewantara merupakan tokoh dari keluarga bangsawan Pakualaman. Beliau memiliki kepribadian yang sederhana dan dekat dengan rakyat meskipun dari keluarga bangsawan yang sudah pasti hidupnya berkecukupan. Dalam rangka memajukan Masyarakat, Ki Hadjar Dewantara juga mengganti namanya yang tadinya Suwardi Suryaningrat menjadi Ki Hadjar Dewantara yang artinya Bapak Pendidik utusan rakyat yang tak tertandingi menghadapi kolonialisme. Perjuangan Ki Hadjar Dewantara di dunia pendidikan diawali dengan profesi beliau sebagai seorang jurnalis yang kerap memberikan kritik kepada kaum sosial-politik. Kemudian beliau merealisasikan jiwa pendidiknya dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa di tahun 1922.
Pendidikan adalah segala daya upaya dan semua usaha untuk membuat masyarakat dapat mengembangkan potensi manusia agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Gambaran ideal pendidikan seperti yang di paparkan di atas sayangnya di masa lalu tidak dapat di miliki oleh semua kalangan masyarakat pendidikan di batasi dan di peruntukan bagi bangsa eropa yang menguasai nusantara dan para bangsawan. Rakyat biasa tidak di perkenankan sama sekali untuk mengenyam pendidikan hal ini terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama hingga muncul tokoh- tokoh pembaharu yang memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan terutama dalam bidang pendidikan salah satu tokoh hebat yang berhasil meletakan dasar-dasar pendidikan rakyat yang nantinya menjadi dasar pendidikan nasional yaitu Bendara Raden Tumenggung Harya Suwardi Soerjaningrat yang lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara. Beliau merupakan bapak pendidikan nasional yang gigih berjuang dalam membangun pendidikan bagi masyarakat Indonesia (Zuriatin dkk., 2021).
Sebelum kemerdekaan Indonesia, tepatnya sekitar tahun 1854, bupati-bupati menginisiasi pendirian sekolah-sekolah kabupaten, namun hanya diperuntukan untuk mendidik calon- calon pegawai saja. Kemudian pada tahun yang sama, berdiri juga sekolah Bumiputera yang memiliki 3 kelas namun rakyat biasa hanya diajari cara membaca, menulis, dan menghitung seperlunya. Terlihat sangat jelas perbedaan antara rakyat biasa dengan keturunan bangsawan atau doktor dalam mengenyam pendidikan. Akhirnya pada tahun 1920 lahirlah cita-cita untuk membuat perubahan radikal dalam dunia pendidikan dan pengajaran di Indonesia. Pada tahun 1922 muncullah sekolah Taman Siswa sebagai gerbang emas untuk merdeka dan bebas dari belenggu perbedaan pendidikan. Suatu system pendidikan baru yang berdasarkan atas kebudayaan kita sendiri mengutamakan kepentingan masyarakat.
Pendidikan yang mengutamakan “intelektualisme” harus di jauhi dan di ganti dengan system mengajar yang dinamai system Among yang menyokong kodrat alam anak-anak didik bukan dengan” perintah paksaan” tetapi dengan “tuntunan” agar berkembang hidup lahir batin anak menurut kodratnya sendiri dengan subur dan selamat. System among ini mengemukakan dua dasar yaitu: 1). Kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan mengerakan kekuatan lahir dan batin hingga dapat hidup merdeka (dapat berdiri sendiri) 2).kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaikbaiknya.
Setelah kemerdekaan, pendidikan di Indonesia semakin berkembang. pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang paling terkenal yaitu adanya sistem among dalam pendidikan hingga lahirlah sebuah pemikiran mengenai pendidikan yang memerdekakan peserta didik Pendidikan yang memerdekakan peserta didik yaitu pendidikan yang menitik beratkan tentang kebebasan peserta didik untuk dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Pendidikan pada era ini pada pelaksanaannta sudah banyak menyerap pemikiran dari Ki Hadjar Dewantara. Pada Kurikulum 2013 misalnya, kurikulum ini memfokuskan untuk mengembangan pembentukan kompetensi serta untuk pembentukan karakter peserta didik.
Begitupun pada Kurikulum Merdeka, pada Kurikulum Merdeka kita mengenal adanya merdeka belajar. Dimana pada merdeka belajar ini memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Dengan konsep merdeka belajar ini, banyak kebijakakn yang telah diambil, salah satunya yaitu sekolah mempunyai kewenangan untuk mengatur ujian sekolah. Jadi setiap sekolah dapat membuat ujian sekolah yang disesuaikan dengan karakter peserta didik disekolahnya (Kusumaningrum, 2023).
Ki Hadjar Dewantara menggunakan empat strategi pendidikan. Pertama pendidikan adalah proses budaya untuk mendorong siswa memiliki jiwa Merdeka dan mandiri. Kedua, membentuk watak siswa agar berjiwa nasional namun tetap membuka diri terhadap perkembangan internasional. Ketiga, membangun pribadi siswa berjiwa pionir-pelopor.
Keempat, mendidik berarti mengembangkan potensi atau bakat yang menjadi Kodrat Alamnya masing-masing siswa. Dapat dilihat bahwa sebagai sosok pendidik, Ki Hajar Dewantara tidak asal melangkah, apalagi beliau juga dari keluarga bangsawan, beliau sudah mempertimbangkan dengan matang hal apa yang harus dilakukan dan strategi apa yang harus digunakan agar tujuan pendidikannya dapat tercapai. Hal tersebut harus kita terapkan juga dalam menjadi guru di masa yang akan datang.
REFERENSI :
Kusumaningrum, E. A. (2023). Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Perkembangan Pendidikan Indonesia. National Conference For Ummah (NCU), 57, 343–346.
Zuriatin, Nurhasanah, & Nurlaila. (2021). Pandangan Dan Perjuangan Ki Hadjar Dewantara Dalam Memajukan Pendidikan Nasional. Jurnal Pendidikan IPS, 11(1), 47–55.