• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Review Koas "Case Report : Effect of Electroconvulsive Therapy on Obsessive-Compulsive Disorder Comorbid With Body Dysmorphic Disorder"

Andi Nural Fadhilah

Academic year: 2024

Membagikan "Jurnal Review Koas "Case Report : Effect of Electroconvulsive Therapy on Obsessive-Compulsive Disorder Comorbid With Body Dysmorphic Disorder""

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Case Report : Effect of Electroconvulsive Therapy on Obsessive-Compulsive Disorder Comorbid With Body Dysmorphic Disorder

Xiaoyan Ma and Ranli Li

A. Pendahuluan

Gangguan obsesif-kompulsif (OCD) adalah kondisi kejiwaan kronis yang ditandai dengan pemikiran obsesif, perilaku kompulsif, dan kecemasan berlebihan, dan dikaitkan dengan morbiditas yang cukup besar serta beban ekonomi dan social. Individu dengan OCD memiliki komorbiditas psikiatri lainnya.

Pasien dengan OCD komorbid dan gangguan dismorfik tubuh (BDD) memiliki wawasan yang terbatas dan fungsi psikososial yang buruk, respon yang buruk terhadap terapu obat, dan memiliki peningkatan risiko bunuh diri. Terapi elektrokonvulsif yang dimodifikasi (ECT) telah dicoba untuk memperbaiki gejala OCD ketika terapi obat tidak memberikan efek yang memuaskan. Laporan ini menggambarkan seorang pasien yang memiliki komorbiditas OCD dengan BDD yang berhasil diobati dengan ECT yang dimodifikasi. Meskipun mekanisme efeknya tidak jelas, ECT yang dimodifikasi dapat menjadi pengobatan alternatif untuk pasien dengan OCD dan BDD komorbid.

B. Case Report

Seorang siswa SMA, 18 thn dengan dx OCD ditemani oleh orangtua nya karena memotong sebagian kecil hidungnya dengan gunting. 1 ½ tahun sebelumnya ia merasa hidungnya jelek lalu ia mengorek dan mendorong hidungnya berulang kali hingga berdarah.

Awal perubahan terjadi sejak 1 tahun yang lalu keluarga telah berusaha mencari perawatan psikiatri.

Pasien datang dengan keadaan tidak stabil.

Riwayat pengobatan : fluvoxamine 200 mg 2x1 selama 12 minggu dikombinasi dengan CBT selama 12 minggu berikutnya. Namun gejalanya memburuk dan dia menghabiskan lebih banyak waktu mengorek hidungnya. Obat kemudian diganti dengan fluoxetine (SSRI lain) dimulai dengan dosis 20 mg dan meningkat menjadi 50 mg selama 2 minggu dan dikombinasikan dengan aripiprazole 10 mg/hari dan alprazolam 0,8 mg/hari selama 12 minggu. Namun, pasien masih tetap mengorek hidungnya.

Saat datang, pasien tidak stabil, afek irritable dan selalu mengorek berulang kali hidungnya yang sudah terluka meskipun pasien tahu harusnya tidak dilakukan. Pasien sangat kesakitan namun tetap berulang kali memeriksa hidungnya di depan kaca.

Berdasarkan pemeriksaan pasien didiagnosa : Komorbid OCD dan body dismorphic disorder Setelah dilihat dari efikasi pemberian farmakologi lini pertama dan lini kedua, pengobatan non farmakologi dipilih untuk pasien tersebut. Yakni ECT yang berhasil digunakan sebagai pengobatan gangguan mood dan psikotik. Meskipun tidak disebutkan sebagai terapi modalitas dalam pedoman, namun ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa ECT efektif untuk OCD berat. Setelah pemeriksaan lengkap mengenai tingkat keparahan dari kondisi pasien dan resiko self-injury , ECT telah dipertimbangkan untuk menjadi pengobatan untuk pasien tersebut.

ECT yang telah dimodifikasi dilakukan dengan menggunakan thymatron system IV. Semua dosis obat psikotropik dikurangi, fluoxetine dan aripiprazole dikurangi menjadi 40 mg dan 5 mg/ hari, sehari sebelum ECT dimodifikasi. Sedangkan alprazolam tidak dilanjutkan sehari sebelum ECT

dimodifikasi. Pasien juga dipuasakan setidaknya selama 8 jam sebelum ECT dan suhu, BB, TD diukur 30 menit sebelum pengobatan.

Berikut prosedur yang dilakukan pada ECT yang dimodifikasi : setelah dilakukan venipunktur dengan menggunakan 20-30 cm jarum plastic, 10 ml dari larutan glukosa 25% diinjeksikan untuk memastikan keberhasilan punktur. Agen berikut kemudian diinjeki secara berurutan : atropine sulfate 0.5-1.0 mg, diencerkan jadi 2 ml dengan air; etomidate 0.2-0.3 mg/kg, diberikan secara intravena hingga hilang refleks bulu mata; oksigen murni 100% dengan ventilasi tekanan pada frekuensi 20-30 tt/m, hingga recovery napas spontan; dan succinylcholine chloride (2mm;100mg dalam gliserin) diencerkan jadi 5ml dengan air.

Sekitar 30-60 detik setelah injeksi IV dari succinylcholine chloride 0,8-1 mg/kg, saat fasikulasi pada serat otot wajah dan tungkai telah berhenti, maka selanjutnya diberikan relaksan otot. Ventilasi masker

(2)

digunakan sepanjang prosedur dengan pemantauan hati-hati untuk patensi jalan napas dan aspirasi refluks serta pemasangan pelindung mulut. Elektroda frontotemporal kemudian diletakkan pada kedua sisi. Parameter stimulasi nya sebagai berikut: muatan 101.1 millicoulombsa; lebar pulse 0,5ms;

frekuensi 20Hz; intensitas arus 0,9 A; dan durasi stimulus 5,6s. Tegangan 110 V kemudian diterapkan selama 2-3 detik. Ventilasi masker tetap digunakan hingga respirasi spontan berlanjut. Respirasi spontan biasanya dilanjutkan dalam 5-10 menit, setelah jarum IV dicabut.

Pasien menjalani 12 sesi ECT yang dimodifikasi selama 3 minggu dengan maksimal 3 sesi per minggu dan interval minimum antar sesi 48 jam.

Setelah 2 minggu pengobatan, terjadi penurunan pada frekuensi mengorek hidung. Dan pada akhir pengobatan, gejala klinis pasien membaik secara signifikan. Meskipun pasien tetap cemas tentang apa yang dianggap sebagai hidung yang tidak menarik, pasien berhenti mengorek hidung

C. Discussion

Meskipun ECT tidak direkomendasikan dalam pedoman pengobatan untuk OCD, laporan kasus menunjukkan bahwa ECT bisa menjadi terapi yang efektif untuk OCD. Setelah 2 minggu pengobatan dengan ECT yang dimodifikasi, suasana hatinya membaik, dan setelah 12 sesi pengobatan, pasien berhenti mengorek hidungnya dan merasa kurang cemas dibandingkan sebelum pengobatan Mekanisme yang mendasari efek ECT pada pasien dengan OCD masih belum jelas. Namun suatu studi menemukan hubungan yang erat antara OCD dan disfungsi daerah otak tertentu, termasuk korteks orbitofrontal, korteks cingulate anterior dan amigdala. Disfungsi pada sirkuit thalamo-cortical cortico-striatal sangat terkait dengan patologi OCD.

D. Conclusions

Gangguan obsesif kompulsif (OCD) adalah kondisi kejiwaan kronis yang ditandai dengan pemikiran obsesif, perilaku kompulsif, dan keceamsan berlebihan, dan dikaitkan dengan morbiditas yang cukup besar serta beban ekonomi dan sosial

Body dysmorphic disorder (BDD) adalah gangguan kesehatan mental dimana seseorang tidak bisa berhenti memikirkan satu atau lebih kekurangan yang dirasakan pada penampilan tubuhnya.

BDD komorbid berperan penting dalam kurangnya respon pasien terhadap SSRI dan CBT sebagai terapi lini pertama untuk OCD. ECT yang dimodifikasi ditambahkan untuk mengobati pasien. Efek terapeutik dalam kasus ini menunjukkan bahwa ECT yang dimodifikasi merupakan pilihan

pengobatan yang baik pada pasien dengan OCD dan BDD komorbid

Referensi

Dokumen terkait