07 Maret 2022 ENTREPRENEURIAL CAPITAL
Pert.1 by Kevin Samuel Lee
[Bapak Iwan Kahfi - Universitas Prasetiya Mulya].
PENGANTAR INTRODUCTION TO ENTREPRENEURIAL CAPITAL
❖ Macam-macam modal kewirausahaan → Modal manusia (keahlian), Modal sosial (jaringan bisnis), Modal industrial (kepemilikan infrastruktur/perizinan), Modal ekonomi.
❖ Contoh kasus:
Jika anda diberikan $20.000 untuk pengembangan modal kewirausahaan, akan anda pergunakan untuk apa?
Terdapat tiga pilihan yakni membuka usaha franchise/membeli motor Ducati/bergabung ke club golf.
○ Jawaban yang paling tepat adalah memilih ketiganya. Franchise untuk memberikan pendapatan tetap, membeli motor Ducati agar mampu bergabung dengan club Ducati (Jaringan penyuka motor mewah), bergabung ke club golf untuk menambah kenalan (karena orang-orang BUMN, pebisnis, pemerintahan, biasanya gemar bermain golf). Jadi pastikan semua investasi (misalnya membeli motor/bermain golf) ini punya tujuan, bukan sekadar berfoya-foya.
A RESOURCE BASED THEORY (RBT)
● Resources are necessary to exploit opportunities and to create entrepreneurs.
● The resource-based theory considers that firms have different starting points for resources (called resource heterogeneity) and that other firms cannot get them (called resource immobility).
○ Resource based theory fokus pada “apa yang kita miliki/kita kuasai (misalnya skill, sumber daya, paten, intellectual capital, dsb).” Pendekatan mata kuliah “Entrepreneurial capital” itu resource based, sedangkan mata kuliah “Knowledge of creative business” itu market based.
○ Entrepreneurship berbicara mengenai cara peka terhadap opportunity & dealing with uncertainty.
Pengusaha harus mampu bersahabat dengan uncertainty (karena biasanya terdapat peluang dari ketidakpastian). Pengusaha perlu berpikir realistis tetapi juga berani mengambil risiko (dengan catatan semua risiko juga perlu dikalkulasi, bukan asal nekat).
○ Pengusaha Indonesia zaman dahulu mengambil “opportunity” dari penguasaan sumber daya alam (misalnya pebisnis batu bara/kelapa sawit) maupun lahan (misalnya BSD milik sinarmas dan Bintaro milik Ciputra), sedangkan pengusaha Indonesia zaman sekarang mengambil “opportunity”
dari penguasaan teknologi/platform (misalnya Gojek, Tokopedia, Bukalapak yang memanfaatkan kemajuan aplikasi dan internet). Pengusaha Indonesia zaman sekarang juga menjunjung prinsip
“sharing economy”, yakni upaya untuk membuat para stakeholders mereka juga ikutan makmur/
mencapai kekayaan bersama-sama (misalnya Gojek yang turut memakmurkan para driver dan para pemilik restoran).
PRINCIPLES OF RESOURCE BASED THEORY
➔ Prinsip utamanya adalah membeli bahan baku/resources semurah mungkin, kemudian melakukan transformasi pada bahan baku tersebut hingga menjadi barang/jasa yang memiliki value, kemudian di-deploy menggunakan strategi, dan pada akhirnya dijual semahal mungkin (tergantung dari penerimaan pasar). Principles ini selaras dengan prinsip ekonomi yakni memaksimalkan profit.
➔
RESOURCES TYPE (BARNEY, 1991, 1995)
→ Financial resources, Physical resources, Human resources, Technological resources, Organizational resources (culture), Reputation. Resources ini yang pada akhirnya memakai strategi diolah menjadi competitive advantage.
→
ATTRIBUTES OF STRATEGIC RESOURCES
Sustainable competitive advantage is created when firms possess and use resources that are:
1. Valuable = Firm’s resources and capabilities enable the firm to respond to environmental threats or opportunities (mempunyai nilai).
2. Rare = Resource is currently controlled by only a small number of competing firms. Punya akses ke sumber daya yang tidak dimiliki orang lain (misalnya hanya perusahaan kita yang punya ahli software tertentu).
3. Inimitability = Firms without a resource face a cost disadvantage in obtaining or developing it, due to unique historical conditions, causal ambiguity, social complexity, & un-substitutability.
4. Organizational = Firm’s other policies and procedures are organized to support the exploitation of its rare, valuable, and costly to imitate resources.
○
PROFESSIONAL ENTREPRENEUR VS ENTREPRENEURIAL PROFESSIONAL
● Ketika menjadi professional entrepreneur: Lebih berat dan lebih butuh dedikasi dibandingkan bekerja profesional (jadi karyawan), karena perlu keberanian, modal, keahlian, dan jaringan.
● Ketika menjadi entrepreneurial professional: Berhubung hanya bekerja dan menunggu gaji, biasanya seorang profesional yang memiliki jiwa entrepreneurial akan mencari sumber income sampingan (Misalnya dengan menjadi silent investor di suatu bisnis).
ENTREPRENEURS CHARACTERISTICS & WHY BUSINESS FAIL
TYPES OF ENTREPRENEUR
A. Based on the challenge of venture:
○ Marginal | Attractive | High Potential.
B. Based on the competence:
○ Local → Skills are not particularly unique, connections are also limited to a small circle in the neighborhood, opportunities are confined to their own communities.
○ Cosmopolitan (preferable) → Rich in 3 C’s: Concepts (the best & latest knowledge and ideas), Competence (the ability to operate at the highest standard at any place), Connection (the best relationship which provides access to resources, people, organization around the world).
C. Based on the # of venture developed:
○ Single company | Serial companies (preferable).
D. Based on the reason to start a venture:
○ By necessity (push to) | By opportunity (pull by attractiveness, preferable).
E. Based on the way to start a venture:
○ Street (tidak punya basis knowledge) | Educated entrepreneur (semua keputusan yang diambil ada basis ilmu/teorinya, bukan mencoba-coba memakai naluri, preferable).
TYPES OF EXECUTIVE
A. Bureaucratic → Focus on existing venture/usaha.
B. Entrepreneurial management → Balancing the existing ventures with new ventures. Managing existing ventures and new ventures with innovation and improvement.
INDIVIDUAL CAPITAL CANVAS OVERVIEW
WHAT IS ENTREPRENEURIAL CAPITAL?
● No universal agreement on this new concept. All resources which are required to do an entrepreneurial activity (Money is only one of the resources). Resources are dynamic, influenced by time and phase of the entrepreneurial life process. The resources may be existing or not yet exist (potential). The resources required are contextual (depends on scale, location, time, and type of industry).
● Elements of Entrepreneurial capital:
a. Human capital; Cultural capital; Personal capital; Emotional capital → Experience, education, motivation, capacity for relationship.
■ Cultural capital ini mencakup community capital, bonding, norms/rules, ethics, support.
b. Social capital → Relationship through family, school, business, voluntary organization (network, bonding, linking, bridging).
c. Economic capital → Financial and physical resources.
d. Industrial capital → Infrastructure, support facilities, rules-regulation.
e. Natural capital → Berkaitan dengan kepemilikan sumber daya alam (elemen ini tidak akan dibahas di mata kuliah entrepreneurial capital, jadi fokus ke empat elemen di atas saja).
■
14 Maret 2022 ENTREPRENEURIAL CAPITAL
Pert.2 by Kevin Samuel Lee
PENGANTAR EFFECTUATION PART I: BIRD IN HAND, AFFORDABLE LOSS
❖ Causation vs Effectuation:
➢ Causation Philosophy,
: Causal Actors are like great generals seeking to conquer fertile lands.
■ Filosofi ini dipakai oleh Genghis Khan ketika mencoba menaklukkan wilayah lain, dimana Genghis Khan telah terlebih dahulu mengetahui ingin menyerang kerajaan mana, luas wilayahnya berapa, raja yang sedang berkuasa pada saat itu siapa, dsb. “If I can predict the future, I can control it.”
: Memakai logika as-if.
■ Genghis Khan travel as if akan menaklukkan wilayah lain (sudah jelas akan terjadi apa).
■ It looks as if it’s going to rain today | I felt as if I would be getting a cold.
(Causation dipakai jika kita sudah yakin dengan targetnya).
: Causal reasoning → Fokusnya achieving desired goal through a specific set of given means.
■ Ini managerial thinking (selecting between given means to achieve predetermined goal).
■ Start with desired outcomes, focus on means to generate outcomes.
■ Contohnya ketika lima orang karyawan (M1-M5) bekerja sebagai profesional di suatu perusahaan, masing-masing sudah memiliki tujuan/target departemen sendiri-sendiri dan fokus mencapai tujuan/target tersebut (Causation cocok dipakai corporate managers).
■
➢ Effectuation Philosophy,
: Effectuators are like explorers setting out voyages into uncharted waters.
■ Filosofi ini dipakai oleh Columbus ketika berlayar (sebelum akhirnya dia menemukan Amerika). Ketika Columbus melakukan eksplorasi, dia tidak tahu akan menemukan apa melalui eksplorasinya. “If I can control the future, I do not need to predict it.”
: Memakai logika even-if.
■ Even if Columbus gagal menemukan benua Amerika, dia akan tetap bahagia (karena dia sudah traveling sejauh itu melintasi samudra).
■ Even if they are tired, they keep practicing for the next basketball competition.
(Effectuation dipakai jika sesuatu itu masih belum pasti).
: Effectual reasoning → Fokusnya using a set of evolving means to achieve new & different goals.
■ Ini entrepreneurial thinking (imagining a possible new end using a given set of means).
■ Start the business with something you have, select among possible outcomes.
■ Contohnya lima orang entrepreneur (M1-M5) dilihat masing-masing punya sumber daya apa (misal M1 jago masak, M2 punya ruko, dsb) dan baru dipikirkan kira-kira mereka mampu menciptakan usaha apa saja dari gabungan sumber daya tersebut.
■
❖
❖
HOW ENTREPRENEURS BUILD VENTURES: CONVENTIONAL WISDOM (CAUSAL LOGIC)
● Come up with a brilliant idea → Show there is a large market for it → Write a winning business plan → Raise money → Build and grow the venture → Go public or sell → Go off to holiday.
○ Skema di atas merupakan cara pandang conventional/causal (yakni project based, dimana setelah bisnis yang dibuat sukses, akan dijual dan ditinggalkan). Cara pandang entrepreneurial berbeda, dimana setelah bisnis yang dibuat sukses, akan terus dikembangkan dan tidak dijual, sehingga menjadi serial entrepreneur yang mengendalikan & memelihara semua bisnisnya.
STRATEGIES WITH RESPECT TO PREDICTION AND CONTROL
●
EFFECTUATION THEORY
❖ Sejarah Teori:
➢ Seorang peneliti bernama Saras Sarasvathy bermigrasi dari India ke Amerika dan melakukan penelitian mengenai elemen apa yang mampu dipelajari dari kesuksesan para expert entrepreneurs (yakni para pengusaha yang mempunyai banyak perusahaan, sudah menjalankannya minimal 15 tahun, dan salah satu perusahaannya sudah IPO/masuk ke bursa saham). Saras memakai 27 responden, data 1500 lembar, dan 80 jam rekaman. Hasil temuannya, para expert entrepreneurs ini memakai prinsip effectuation (non-predictive, have uncertainty & ambiguity).
■ Expert entrepreneurs ini benar-benar tahu apa yang mereka miliki (resources mereka), kemudian melakukan inovasi, serta memahami faktor-faktor risiko/affordable lossnya.
➢ Saras Sarasvathy juga menemukan bahwa expert entrepreneurs limit risks by understanding what they can afford to lose; create their own market opportunity; trust people; effectual thinking &
entrepreneurial thinking can be taught; failure increases the odds of individual success.
➢ Prinsip-prinsip dasar seperti start with your means (mulailah dari sesuatu yang kita miliki “Who I am, what I know, and whom I know”); don’t risk what you can’t afford to lose (jangan risk sesuatu yang kita “tidak rela/tidak mampu tanggung” apabila rugi), build the future together with partners;
serta be open to surprise, membuat expert entrepreneurs mampu mengendalikan/control semua yang mereka kerjakan, sehingga tidak perlu terlalu bergantung ke prediksi (Provide a way to control the future that’s inherently unpredictable).
■ Jika kita mampu memprediksi masa depan (causal), kita mampu mengendalikannya. Jika kita mampu mengendalikan masa depan (effectual), kita tidak perlu memprediksinya.
Yang membuat expert entrepreneurs sukses itu bukanlah kemampuan untuk memprediksi masa depan, tetapi kemampuan untuk mengendalikan masa depan.
❖ Ilustrasi Teori:
➢ Cara pandang causal diibaratkan seperti seseorang yang ke dapur dengan sudah menentukan resep yang ingin dia masak, sehingga ia akan membeli bahan-bahan persis mengikuti kebutuhan di
resep, sehingga outputnya adalah terciptanya hidangan yang sesuai dengan resep tersebut.
Sedangkan cara pandang effectual diibaratkan seperti seseorang yang ke dapur untuk melihat terlebih dahulu ada bahan-bahan apa saja di kulkasnya, dan baru memikirkan ide masakan dari bahan-bahan yang dimilikinya itu. Akibatnya (dengan asumsi orang tersebut pandai memasak), ada peluang terciptanya resep-resep baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.
❖ Definisi Teori:
➢ Works with what’s already within your control to co-create the future.
■ E.g. Khan Academy (Awalnya dimulai dari hobi si kakak untuk mengajarkan matematika ke adiknya, lalu dibuatlah konten-konten youtube. Dari apa yang si kakak miliki ini, baru kemudian terpikir untuk mendirikan suatu akademi).
➢ Effectuation → An idea with a sense of purpose (entrepreneurial thinking framework, common way of problem solving used by expert entrepreneurs).
➢ Suatu logika berpikir untuk memulai suatu bisnis yang diawali oleh apa yang kita miliki, bukan apa yang kita inginkan. Prinsip effectuation mendorong kita untuk bersikap realistis, tetapi tetap optimis untuk mengurangi ketidakpastian di lingkungan.
❖ Manfaat Teori:
➢ Ideas → Effectuation advances ideas toward sellable products and services with proven customers.
➢ Stakeholder commitments → Using effectuation, entrepreneur interacts in search of self-selecting partners to co-create the venture with.
➢ Decisions → Expert entrepreneurs use a set of techniques that serve as the foundation for making decisions about what to do next.
FIVE PRINCIPLES OF EFFECTUATION
● Tabel perbedaan prinsip effectuation (kiri) dengan causation (kanan):
1. Bird in Hand (Start with your means/start with what we have):
○ When expert entrepreneurs want to build new venture, they start with their means: who I am, what I know, whom I know. Then entrepreneurs imagine possibilities that originate from their means.
■ Misalnya awalnya si A dan B ingin membuat bisnis bersama. A punya kamera, B suka mengedit, sehingga terpikir untuk membuka usaha video wedding. Kemudian rekan lain
bergabung yakni C, yang memiliki drone, sehingga terpikir untuk membuka usaha aerial mapping. Kemudian rekan lain bergabung yakni D, yang akrab dengan industri pertanian, sehingga akhirnya A-B-C-D mendirikan usaha aerial mapping yang fokus ke pertanian (Tambahan means membuat imaginable ends/ide bisnisnya menjadi banyak).
■ Misalnya lagi si E yang bergerak di industri fashion, bertemu dengan si F yang mengerti industri event. Gabungan “means” dari E & F membuat mereka mendirikan fashion show.
■ “Map your means” framework:
2. Affordable Loss (Focus on the downside risk):
○ Expert entrepreneurs limit risk by understanding what they can afford to lose at each step (yang risikonya sanggup mereka terima apabila ternyata rugi), instead of seeking large all-or-nothing opportunities. They choose goals and actions where there is upside even if the downside ends up happening, and they evaluate opportunities based on whether the downside is acceptable.
■ Yang termasuk affordable loss adalah opportunity yang apabila gagal risikonya kecil/
biaya gagalnya itu murah (ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan, kita perlu menghitung resikonya/affordable lossnya secara finance, dan pilih opsi/alternatif yang risk little & fail cheap, juga pilih opsi/alternatif yang net present value-nya paling tinggi).
■ Jika memungkinkan, pilih opsi yang apabila terjadi kerugian tetap akan ada upside-nya (misalnya meskipun kalah lomba, tetap mendapat sertifikat, pengalaman, dan koneksi).
■ “Assessing Affordable Loss” framework:
(Parameternya bebas, pastikan setiap parameter “yang di kiri” diberi bobot lalu dihitung).
3. Lemonade (Leverage contingencies):
○ Expert entrepreneurs invite the surprise factor instead of making “what-if” scenarios to deal with worst-case scenarios, experts interpret “bad” news and surprises as potential clues to create new markets (Dibahas lebih lanjut setelah UTS).
4. Patchwork Quilt (Form partnerships):
○ Expert entrepreneurs build partnerships with self-selecting stakeholders. By obtaining pre-commit -ments from these key partners early on in the venture, experts reduce uncertainty and co-create the new market with its interested participants (Dibahas lebih lanjut setelah UTS).
5. Pilot-in-the-plane (Control vs predict):
○ By focusing on activities within their control, expert entrepreneurs know their actions will result in the desired outcomes. An effectual worldview is rooted in the belief that the future is neither found nor produced, but rather made (Dibahas lebih lanjut setelah UTS).
21 Maret 2022 ENTREPRENEURIAL CAPITAL
Pert.3 by Kevin Samuel Lee
PENGANTAR HUMAN CAPITAL & CULTURAL CAPITAL
❖ Ketika kelak mendirikan sebuah bisnis, pastikan kegiatan-kegiatan yang “vital dan utama” dari bisnis tersebut dikuasai oleh kelompok sendiri (menjadi key resources, bukan key partners). Ibaratnya ketika mendirikan bisnis berjualan burger, tentu disarankan untuk “kegiatan pembuatan burgernya” dikuasai oleh internal (key resources). Apabila pembuatan burgernya saja sudah outsource (key partner), nantinya bisnis jadi lemah/terlalu bergantung pada eksternal. Lalu jika di internal tidak ada yang mampu membuat burger?
➢ Ada dua solusi: 1.Memberikan training/pelatihan pada anggota internal mengenai cara pembuatan burger. 2. Mencari koki yang ahli membuat burger dari eksternal, dan direkrut menjadi bagian dari perusahaan (dijadikan key resources, bukan key partners).
➢ Berlaku juga untuk bisnis lainnya, ketika membuat bisnis ayam goreng, pastikan resep mengolah ayam gorengnya dikuasai internal. Atau ketika membuat bisnis busana, pastikan yang menguasai pola/mendesain bajunya itu dari internal (entah memberikan pelatihan ke SDM yang sudah ada, ataupun merekrut SDM baru yang memiliki kemampuan tersebut). Kalau key activities kita hanya berjualan saja (selebihnya dipegang external/key partners), bisnis kita akan sulit bertahan.
❖ Apa itu Human Capital?
➢ Skills & knowledge that individuals acquire through investment in education, on the job training, other types of experience, and individuals personality required in entrepreneurial context. It is a compendium of all traits and abilities that make human beings economically productive in a society (Shanahan & Tuma, 1994).
➢ Skill & knowledge of a human being, the stock of competencies, knowledge, social & personality attributes, including creativity, embodied in the ability to perform labor so as to produce economic value (Michael Parkin, 2012).
■ Human capital akan meningkat jika mendapat pengetahuan & keahlian baru. Pengetahuan didapat dari baca buku/seminar, keahlian didapat melalui praktik (e.g. magang/proyek).
❖ Factors of Human Capital Development:
➢ Education, On the job training, Manpower planning, health and nutrition (sejak dalam kandungan hingga 5 tahun pertama pasca kelahiran sangat berkontribusi pada pengembangan intelektual anak.
Itulah mengapa ibu hamil direkomendasikan belajar/mengasah otak/mendengarkan musik klasik).
➢ Types of Human Capital:
■ Biological capital & knowledge capital = Positive sum capital (adds to world's economy).
■ Track record capital & social capital = Zero sum capital (wealth for oneself).
❖ Role of Human Capital:
➢ Country develops if the human capital is developed; Improves quality life; Creates positive attributes; Eradication of social backwardness (Kualitas sebuah bangsa biasanya dapat dilihat dari acara TV-nya, acara TV pada negara-negara maju kebanyakan sangat mengedukasi).
❖ Education and Human Capital:
➢ Education is extensively regarded as a route to economic prosperity, being the key to scientific and technological advancement. Education is inseparable from the development of human capital. It plays a role in human capital formation, and a necessary tool for sustainable socio-economic growth. Education also combats unemployment, confirms sound foundation of social equity, awareness, tolerance, self esteem, and spread of political socialization. It raises productivity and efficiency of individuals and thus produces skilled manpower capable for leading the economy towards the path of economic development.
PERSONAL CAPITAL
● Personal factors → This refers to the socio-demographic profile of the entrepreneur (which are influenced by his/her family, educational background, & work environments) and his/her entrepreneurial skills.
● Entrepreneurial Characteristics:
→ Entrepreneurs are innovation driven and always ready to challenge conventional business knowledge.
○ Ability to adapt to change; Internal locus of control (melakukan sesuatu karena dorongan dari diri sendiri/kemauan sendiri, bukan karena disuruh orang lain); Product/service driven; Opportunity driven; Innovation focuses; Value creation; Calculated risk taker; Proactive.
● Self-Efficacy:
→ A person’s belief in his/her ability to succeed in a specific situation. Jika kita percaya bahwa kita mampu sukses/mencapai mimpi kita, kita akan memiliki energi/motivasi yang tinggi untuk mewujudkannya.
○
■ Sekadar tips, ketika kelak mendirikan sebuah bisnis, pastikan setiap karyawan yang terlibat dibuat passionate (ada mimpi mereka yang tercapai ketika melakukan pekerjaan tersebut) agar involvement mereka menjadi tinggi.
● Detailed View of Personal Capital:
○
■ Character → Action oriented, passionate, flexible, high need for achievement, self reliant and independent, willing to take calculated risk, self confident, high energy level.
■ Skills → Network & lobbying, financial, ethics, managerial capabilities, negotiation, leadership capabilities, social approach, relationship capabilities.
■ Knowledge (Expertise) → Business acumen, intellectual capacity, strategic thinking, industrial knowledge, cognitive mindset, technical capabilities, management know how.
○ How do you measure each characteristic?
■ Dengan cara membandingkan diri kita dengan reference group (orang-orang di peer group yang kita anggap “benchmark”), dari sini kelebihan/kekurangan kita akan mudah teridentifikasi. Setelah di-measure, dapat dipetakan ke dalam personal capital canvas.
HUMAN/PERSONAL CAPITAL CANVAS
A. Bagian I (6 kotak pink) → Menggambarkan kemampuan/karakteristik/kompetensi yang sudah kita miliki sebagai seorang individu. Untuk bagian “motivation & dream” harap benar-benar dipikirkan, karena bisnis kita akan didorong untuk selaras dengan “motivation & dream” kita (agar tidak mudah terdemotivasi).
B. Bagian II (2 kotak ungu) → Di sisi kiri (menggambarkan kemampuan/karakteristik/kompetensi yang belum kita miliki, tetapi sedang kita rencanakan untuk miliki melalui investasi. E.g. rencana mengikuti kursus memasak/rencana menonton Youtube tentang cara menjahit/rencana magang di perusahaan kosmetik), di sisi kanan (memuat output/hasil dari investasi tersebut. E.g. promosi/gaji/opportunity/proyek/beasiswa).
C. Bagian III (kotak hijau) → Apa yang ingin kita tawarkan dari diri kita, ke pihak diluar diri kita (kita ingin dikenal sebagai pribadi yang seperti apa oleh pihak lain).
D. Bagian IV (4 kotak biru) → Bagaimana kita membangun relasi dengan pihak lain/bagaimana pihak lain mampu mengenal diri kita (How you interact and reach outside yourself). Bagian “who you help” akan berhubungan dengan bagian “capacity relationship”. Jika pihak yang dibantu adalah keluarga, faktornya trust & goodwill, sedangkan jika pihak yang dibantu itu perusahaan, faktornya professional contribution.
: Contoh Human/Personal Capital Canvas,
CULTURAL CAPITAL
● Accumulation of knowledge, behaviors, and skills that one can tap into to demonstrate one’s cultural competence, and thus one’s social status or standing in society (This accumulation was used to reinforce class differences, as different groups (e.g. different ethnicity/gender/religion/nationality/age) of people have access to different sources and forms of knowledge).
● Encompasses a broad array of linguistic competencies, manners, preferences, and orientations. Created when values, traditions, beliefs, and language become the currency to leverage other types of capital (Some authors combine cultural capital with social capital).
○ Cultural capital ini juga mampu menjadi sumber social inequality (Semakin kelas sosial seseorang rendah, kemungkinan cultural capitalnya juga akan rendah. Sedangkan jika seseorang sudah lahir pada keluarga yang cultural capitalnya tinggi, mudah bagi orang tersebut untuk acquire more).
Misalnya si A yang lahir di keluarga kaya dan terpelajar, sejak kecil sudah diajari sopan santun dan sering dibacakan buku, sehingga ketika masuk sekolah dianggap murid yang cerdas, ketika besar diterima di universitas bergengsi dan mendapatkan koneksi orang-orang terpelajar lainnya.
Sedangkan si B yang miskin dan harus membantu orang tuanya bekerja, membuat edukasinya menjadi terhambat dan pada akhirnya tidak mampu masuk universitas favorit.
● Tiga Forms dari Cultural Capital:
a. Embodied state = Capital in the form of knowledge that resides within us that we acquire over time (baik pengetahuan dari pendidikan formal maupun pengetahuan yang kita cari sendiri).
Misalnya norma, gender behavior, skills, tata krama (di mana setiap negara “standar sopannya”
berbeda, misalnya perbedaan cara bersalaman yang ideal antara orang Barat dan Jepang).
■ Pada Google → Mencakup pengetahuan tentang product design dan SEO, keterampilan berinovasi, nilai-nilai kreativitas, kebiasaan data-driven ketika mengambil keputusan, kemampuan bekerja cepat, program googler to google (saling sharing antar karyawan).
b. Objectified state = Material object that we use to indicate our social class/how much capital we possess (ini yang paling mudah untuk di-recognize). Seringkali masyarakat menilai kelas ekonomi seorang individu dari materi yang dimiliki orang tersebut. Misalnya seseorang yang naik mobil Ferrari/pakai Iphone dianggap lebih ber-capital daripada yang naik Avanza/pakai Xiaomi, karena beberapa barang mengandung nilai prestige. Contoh lainnya adalah lingkungan kampus yang terkesan terpelajar, karena banyak laptop, buku, dan desain furniture yang profesional.
■ Pada Google → Pakaian casual para karyawan, banyak gadget, barang-barang dekorasi yang modern, lounge, playroom, ruang pijat, sepeda untuk transportasi antar gedung.
c. Institutionalized state = Refers to the way in which cultural capital is measured, certified, and ranked. Biasanya cultural capital dinilai berdasarkan academic qualifications, degrees, job titles, religious titles, ataupun taken-for-granted social roles (e.g. suami, istri, ayah, dan ibu). Misalnya seseorang yang pangkatnya S3 seringkali dinilai lebih tinggi capitalnya dari yang S2/S1 (Karena degree/title ini juga dianggap memberikan prestige).
■ Pada Google → Diciptakan istilah-istilah seperti Noogler (karyawan yang baru direkrut), Googler (karyawan aktif), Greyglers (karyawan > 40 tahun), Xoogler (mantan karyawan), Doogler (karyawan yang membawa anjing peliharaan ke kantor), GUTS (tempat para karyawan menyampaikan masalah), TGIF (acara tanya-jawab mingguan milik Google).
28 Maret 2022 ENTREPRENEURIAL CAPITAL
Pert.4 by Kevin Samuel Lee
PENGANTAR SOCIAL CAPITAL
❖ Terdapat metode untuk mengetahui kepribadian seseorang yakni melalui tes MBTI (Myers-Briggs Type Indicator). MBTI ini cocok untuk dikerjakan saat kondisi kita sedang tenang & tidak terburu-buru. Apabila dikaitkan dengan relationship capacity, pendekatan pada setiap orang sebaiknya berbeda (menyesuaikan dengan karakter MBTI-nya, agar komunikasi tidak salah). Misalnya untuk tipe orang Introvert dan Judging, kurang nyaman apabila diajak pergi ke tempat ramai secara dadakan. Tipe MBTI yang dianggap ideal bagi kebanyakan perusahaan adalah ENTJ (e.g. N cocok untuk tingkat manajerial atas, karena terkadang harus melakukan pengambilan keputusan dimana terdapat defisit data, sehingga harus mengandalkan intuisi).
➢ Dalam membina hubungan, penting juga untuk menabung emosi positif ke pihak lain (misalnya dengan sering berbuat baik pada orang lain), agar apabila suatu saat kita menemukan masalah, akan mudah memperoleh bantuan.
❖ Ketika pertama kali mendirikan bisnis, karena modal ekonomi dan modal industrialnya belum kuat, kemungkinan besar founder akan melakukan bootstrapping (situasi di mana pengusaha membangun sebuah perusahan dengan modal kecil, memakai keuangan pribadi/team ataupun pendapatan operasional dari perusahaan baru, tanpa mengandalkan investasi dari luar), pada fase bootstrapping inilah diperlukan modal manusia dan modal sosial yang kuat, karena kelak akan berkaitan (e.g. adanya koneksi ke perbankan/
investor, membuat mudah memperoleh pinjaman/investasi (dari modal sosial ke modal ekonomi)).
❖ Apa itu Social Capital?
➢ Pattern and intensity of networks among people and the shared values which arise from those networks (beberapa orang berinteraksi dan membagikan nilai-nilai yang disepakati bersama).
■ Network → Personal relationships which are accumulated when people interact with each other in families, workplaces, neighborhoods, local associations, and a range of informal/
formal meeting places. Interaksi yang intensif (network) akan menghasilkan kebiasaan dan culture (misalnya ada kebiasaan yang muncul di lingkungan pertemanan tertentu untuk bersepeda setiap minggu/di lingkungan keluarga tertentu untuk karaoke bersama).
DIMENSI MODAL SOSIAL
●
● Mikro (fokus pada relasi antar individu), Meso (berada diantara mikro dan makro, fokus pada relasi antar kelompok), Makro (cakupan paling luas, fokus pada relasi antar masyarakat/lingkungan)
● Struktural (bersifat objektif + mampu diobservasi secara eksternal, e.g. peraturan, prosedur, jaringan sosial formal), Kognitif (bersifat subjektif + tidak berwujud, e.g. norma bersama, nilai, sikap, keyakinan).
NETWORK GROUPS
: Muncul karena kesamaan geografi/kesamaan profesi/kesamaan latar sosial/kemajuan teknologi virtual.
●
THREE BROAD APPROACHES FOR EXAMINING SOCIAL CAPITAL & COLLECTIVE ACTION 1. Collective Efficacy
○ The ability of members of a community to achieve common goals (Membuat kelompok karena ada tujuan bersama yang ingin dicapai. Ibarat ikan di laut, ketika berkoloni akan menjadi lebih kuat).
○ Efficacy sendiri adalah kepercayaan diri seorang individu bahwa dirinya mampu/sanggup sukses dalam mencapai tujuannya (confidence and audacity of an individual in executing an action, which usually benefits the person). Efficacy yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan bergabung untuk mendukung sebuah tujuan yang sama disebut collective efficacy.
■ Contohnya adalah soap opera berjudul Soul City yang ditayangkan di Afrika Selatan sebagai upaya mengatasi KDRT dari suami kepada istri (Film ini viral dan berhasil mengajak masyarakat untuk bersama-sama melawan KDRT).
■ Contoh lainnya adalah konsolidasi/penggabungan kekuatan dari perusahaan-perusahaan minuman untuk menentang kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan mereka.
2. Sense of Community
○ Social cohesion, sense of community, informal social control, and generalized trust that facilitates civic participation and social organization.
■ Contohnya komunitas di Cilandak (Kampung Hijau), yang melakukan 3R (reuse, reduce, recycle), karena mereka punya tujuan yang sama yaitu memelihara lingkungan asri.
■ Contoh lainnya komunitas di Vermont (Madd.org) membuat kampanye menghentikan drunk driving, karena mereka sama-sama cemas keluarganya menjadi korban kecelakaan akibat pengemudi yang mabuk. Kampanye ini berhasil viral di seluruh Amerika Serikat.
3. Social Trust
○ A precondition for collective action by providing a sense of confidence that others will respond as expected and will act ini mutually supportive ways. Ada kepercayaan dari aspek sosial, dan hal ini sangat penting untuk dibangun di masyarakat.
■ Contoh ketika terjadi bencana nuklir di Fukushima yang menyebabkan listrik hilang, masyarakat saling bahu-membahu (Tidak terjadi penjarahan/penghancuran toko).
■ Contoh lainnya ketika terjadi pandemi di Korea, masyarakat berinisiatif mengantre untuk periksa diri apakah telah terinfeksi (Tidak bersembunyi/menyangkal keberadaan virus).
SOCIAL NETWORK
● Social capital is approached as the manifestation of social networks. This approach affirms the importance of individual access to social capital, because it recognizes the social position of individuals. There is a strong relationship between structural features of a social network, and the composition of a community.
The more wealthy people there are within a community, the more bridging networks exist.
a. Bonds → Ikatan kuat karena kekerabatan/kedekatan (facilitate exclusive reciprocity and mutual obligations), e.g. keluarga, sahabat karib, ethnic group, pacar. Biasanya bersifat homogen berbasis ikatan solidaritas, dibangun atas dasar similarity, informality, serta intimacy (provides substantial support for its members by creating strong in-group loyalty).
b. Bridges → Ikatan lemah (Heterogen + foster social inclusion of diverse populations with a broader identity). e.g. kenalan yang tidak akrab, associates, colleagues, workmates. More likely to enable individuals access to valuable opportunities beyond their race and class (for this reason, the concept of bridging network has been broadly applied in studies on community development). Jika rekan bridging ini secara intensif kita hubungi, lama-lama berubah jadi bonding. Jika hubungan bonding dengan sahabat tidak kita pelihara/tidak silaturahmi, lama-lama berubah jadi bridging.
c. Linkages → Dibagi jadi dua, yakni further up (ikatan dengan pihak yang memiliki kekuatan/posisi lebih tinggi di social ladder, e.g. pemerintah, investor, atasan) atau lower down (ikatan dengan pihak yang secara kekuatan/posisi lebih rendah di social ladder, e.g. tukang kebun, sopir, asisten rumah tangga). Kekuatan/posisi social ladder dilihat dari akses ke political & financial resources.
Jika belum punya linkages, disarankan untuk melihat linkages orang lain (dari bridging/bonding) dan meminta untuk mereka kenalkan, e.g. mendatangi rekan dari jurusan STEM (bridging) untuk minta dikenalkan pada dosen STEM (linkages further up)/mendatangi paman (bonding) untuk minta dicarikan tukang servis AC (linkages lower down).
■ Contoh lower down adalah perusahaan Astra yang ingin mendirikan perusahaannya di Tarakan, terlebih dahulu membuat saluran air bersih untuk masyarakat Tarakan, agar Astra dikenal dan diterima di sana.
■ Contoh lower down lainnya adalah Universitas Prasetiya Mulya yang mempekerjakan banyak tenaga lokal BSD, melakukan bakti sosial pada masyarakat BSD, serta menemui tokoh masyarakat di BSD, agar mendapatkan keamanan.
LEVEL OF BONDING
: Untuk setiap pengukuran (density/other factor/centrality), level of bonding dapat terukur strong/medium/weak.
● Social Capital in Supreneurs:
● Social Capital in Family Business:
○ Basisnya adalah trust, di mana anggota keluarga diberikan peran untuk mengembangkan bisnis.
Tetapi terkadang terdapat dark side, terutama apabila konglomerat pemilik perusahaan tersebut memiliki banyak istri, sehingga rawan konflik. Contohnya perusahaan ABC yang memproduksi dua produk yang sangat berbeda (batre dan kecap) karena dipegang oleh dua istri yang berbeda.
SOCIAL CAPITAL MAPPING/PETA JARINGAN SOSIAL
: Tuliskan bonds, bridges, linkages kita; aset/keahlian mereka; manfaat/peran mereka dalam membantu bisnis kita.
04 April 2022 ENTREPRENEURIAL CAPITAL
Pert.5 by Kevin Samuel Lee
PENGANTAR INDUSTRIAL CAPITAL
❖ Terdapat berbagai cara untuk mengembangkan bisnis, misalnya dari sisi eksternal (joint venture/strategic alliance/merger/akuisisi/franchise/licensing (melalui paten)) ataupun dari sisi internal (product development (e.g. membuat produk baru)/product related development (e.g. buka toko baru)/international marketing).
Ketika perusahaan sudah scale up, pemahaman akan modal industri menjadi semakin penting.
➢ Industrial Capital = Akumulasi pengetahuan yang dibutuhkan ketika berbisnis di industri tertentu, mencakup infrastruktur (e.g. pabrik, laboratorium riset), fasilitas pendukung, serta peraturan dan regulasi (e.g. BPOM, GMP, standar ISO).
■ Each industry has its own expectations, business model, sectors, inscrutable acronyms, supply and distribution chains, competitive landscape and challenges (Industrial capital akan berbeda untuk setiap industri).