Untuk mengendalikan malaria, banyak hal yang sedang atau sedang dilakukan dalam skala global dan nasional. Malaria merupakan salah satu indikator Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) yang bertujuan untuk menghentikan penyebaran dan menurunkan angka kejadian penyakit malaria pada tahun 2015, terlihat dari indikator penurunan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit malaria. Status Indonesia masih dalam tahap pertama yaitu eliminasi penyakit malaria di DKI, Bali dan Barelang Binkar pada tahun 2010.
Untuk melihat sejauh mana kemajuan pengendalian malaria, artikel ini akan membahas situasi epidemiologi dan upaya/program pengendalian malaria di Indonesia dilihat dari hasil survei dan laporan program malaria. Upaya pengendalian malaria di Indonesia sejak tahun 2007 dapat dipantau dengan menggunakan indikator Annual Parasite Incidence (API). Pada tahun 2009, penyebab penyakit malaria tertinggi adalah plasmodium vivax (55,8%), disusul oleh plasmodium falciparum, sedangkan plasmodium ovale tidak dilaporkan.
Sejak tahun Pulau Kalimantan selalu mengalami Bencana Alam (KLB), meskipun kabupaten/kota yang terdampak berbeda-beda setiap tahunnya. Pada tahun 2009, KLB dilaporkan terjadi di Pulau Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur dan Banten), Kalimantan (Kalimantan Selatan), Sulawesi (Sulawesi Barat), NAD dan Sumatera (Sumatera Barat, Lampung) dengan total 1.869 kasus dan kematian. . .sebanyak 11 orang. Sementara itu, jumlah pasien yang pulang berfluktuasi dari tahun ke tahun, dan jumlah pasien rawat inap lebih banyak dibandingkan perempuan.
Situasi Malaria Berdasarkan Survei dan Penelitian
Berdasarkan tempat perkembangbiakannya, vektor malaria dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu perkembangbiakannya di sawah, perbukitan/hutan, dan pantai/sungai. Vektor malaria yang berkembang biak di perbukitan/hutan adalah An.balabacensis, An.bancrofti, An.punculatus, An.Umbrosus. Untuk wilayah pesisir/sungai jenis vektor malaria adalah An.flavirostris, An.Koliensis, An.ludlowi, An.minimus, An.punctulatus, An.parangensis, An.sundaicus, An.subpictus.
Waktu aktivitas menggigit vektor malaria yang diketahui adalah jam sebelum jam demi jam. Vektor malaria yang aktivitas menggigitnya dalam hitungan jam adalah An.tesselatus, sebelum 24 jam adalah An.Aconitus, An.annullaris, An.barbirostris, An .kochi, An .sinensis, An.Vagus, sedangkan yang menggigit setelah 24 jam adalah An.farauti, An.koliensis, An.leucosphyrosis, An.unctullatus. Perilaku vektor malaria seperti tempat berkembang biak dan waktu terjadinya gigitan sangat penting untuk diketahui oleh pengambil keputusan sebagai dasar pertimbangan dalam menentukan intervensi pengendalian vektor yang paling efektif.
UPAYA PENGENDALIAN MALARIA
Upaya pengendalian yang dilaporkan dari Survei dan Penelitian a. Riskesdas 2010
Salah satu upaya paling umum dan masih utama untuk mengendalikan malaria adalah dengan mengobati orang sakit. Sebaliknya, beberapa provinsi dengan prevalensi klinis malaria yang rendah menunjukkan proporsi pengobatan malaria yang cukup tinggi (>50%), seperti Banten, Bali, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Riau, dan Sulawesi Barat. Untuk mengetahui cara pencegahan malaria di masyarakat, responden berusia ≥ 15 tahun ditanya tentang pencegahan malaria.
Jawaban yang paling banyak adalah “menggunakan kelambu/tidur menggunakan kelambu” (31,9%) dan yang paling sedikit adalah “mengonsumsi obat pencegahan pada saat bermalam di daerah endemis malaria” (4,7%) seperti terlihat pada Gambar 27 berikut. Selain itu, kasus resistensi Plasmodium terhadap Sulfadoxine-Pirimethamine (SP) juga telah dilaporkan di beberapa negara di Indonesia. Dari penelitian yang dilakukan Litbangkes dan lembaga penelitian lainnya, ditemukan bahwa plasmodium vivax resisten terhadap klorokuin di beberapa daerah di Indonesia (Bangka, Papua).
Dibandingkan dengan negara-negara SEARO, jumlah kelambu berinsektisida yang didistribusikan di Indonesia cukup banyak, namun cakupannya berada pada urutan ke-3 terendah. Permasalahan malaria di Indonesia Timur mencakup seluruh wilayah baik tingkat kota, kecamatan, kabupaten, dan provinsi, sedangkan di wilayah lain penularannya bersifat lokal dan spesifik pada wilayah tertentu. Di Indonesia terdapat berbagai suku bangsa dengan kebiasaan dan perilaku yang berbeda-beda, sehingga menjadi faktor yang berpengaruh dalam menunjang keberhasilan partisipasi masyarakat dalam program pengendalian malaria.
Pada tahun 1998, WHO mencanangkan kerjasama pemberantasan malaria melalui Roll Back Malaria Movement dan di Indonesia dikenal dengan Gebrak Malaria yang diluncurkan pada tahun 2000 di Kupang, Nusa Tenggara Timur. IV/2009 tanggal 28 April 2009 bahwa upaya pengendalian malaria dilakukan dalam rangka pemberantasan penyakit malaria di Indonesia. 2010: Eliminasi malaria di DKI, Bali dan Barelang Binkar, dimana seluruh fasilitas kesehatan mampu melakukan konfirmasi laboratorium terhadap kasus malaria yang rendah.
Pemberantasan malaria di daerah yang sudah rendah malaria akan berhasil jika pengendalian dilakukan secara intensif, yaitu dengan menambah tenaga yang mumpuni, meningkatkan akses pengobatan dan pencegahan serta menggunakan teknologi tepat guna yaitu obat ACT setelah konfirmasi diagnosis, observasi kasus dan vektor secara intensif. dan upaya memutus rantai penularan, termasuk dengan menyediakan LLIN yang melindungi 80% populasi sasaran. Desentralisasi di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan yang efektif, efisien, dan bertanggung jawab secara finansial untuk memperkuat demokrasi melalui pendidikan politik masyarakat sipil lokal menuju masyarakat sejahtera.
Provinsi: Berwenang mengatur dan mengurus urusan- urusan pemerintahan dengan eksternalitas regional
Negara kita adalah negara kesatuan dan hukum dimana pemerintahannya membentuk daerah otonom dimana penyampaian segala permasalahan desentralisasi diatur secara hukum.
Kab/Kota: Berwenang mengatur dan mengurus urusan- urusan pemerintahan dengan eksternalitas lokal (dalam
Kabupaten/Kota, lembaga legislatif dan lembaga sektoral mengenai strategi dan kebijakan yang akan diambil untuk memberantas penyakit malaria. Memobilisasi sumber daya yang potensial untuk mendukung pelaksanaan program nasional eliminasi malaria secara sinergis baik dari dalam negeri maupun luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menyelenggarakan pelatihan teknis dan manajemen eliminasi malaria, termasuk penatalaksanaan terpadu anak sakit (IMCI) bagi tenaga kesehatan di tingkat layanan dasar dan rujukan (dokter, perawat, dan bidan).
Menyediakan sarana dan prasarana dalam upaya pemberantasan penyakit malaria, termasuk mengantisipasi wabah dan penyebarannya. Melakukan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan upaya eliminasi malaria untuk mencapai status eliminasi pada kabupaten/kota di wilayahnya. Menyampaikan laporan tahunan dan berkala mengenai pelaksanaan dan capaian program eliminasi malaria di wilayah provinsi kepada Menteri Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktur Jenderal PP dan PL.
Menyusun prosedur operasi standar eliminasi malaria di wilayah kabupaten/kota sesuai komitmen yang dituangkan dalam peraturan daerah. Memobilisasi sumber daya yang potensial (tenaga, anggaran, sarana dan prasarana serta dukungan lainnya) dalam pelaksanaan eliminasi malaria. Menyelenggarakan pelatihan teknis dan manajemen eliminasi malaria, termasuk manajemen terpadu balita (MTBS) dan ibu hamil penderita malaria bagi tenaga kesehatan di tingkat layanan dasar dan rujukan (dokter, perawat, bidan).
Menyampaikan laporan tahunan dan berkala mengenai pelaksanaan dan hasil program eliminasi malaria di wilayah kabupaten/kota kepada Gubernur. Melaporkan secara berkala perkembangan pelaksanaan program dan kegiatan eliminasi malaria kepada Menteri Dalam Negeri atau Batam - Rempang - Gal ang - Bintan - Ka rimun (Barelang Binkar): Kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan yang masih dilakukan di Pulau Jawa - Bali melibatkan pihak swasta dan sektor pemerintah lainnya di kabupaten tersebut termasuk pekerjaan umum, Bappeda kabupaten dan pariwisata dalam bekerja sama memberantas penyakit malaria.Kegiatan pencarian pasien menggunakan Dokter Spesialis Malaria Desa/Lingkungan (JMD/L), baik aktif maupun pasif, serta dengan cara penyemprotan. rumah.
Meskipun kami belum melakukan eliminasi melalui kegiatan deteksi aktif dan pasif, namun upaya pemberdayaan masyarakat melalui Pembelajaran dan Aksi Partisipatif (PLA) yang didukung oleh pemerintah kabupaten telah menjadi contoh yang baik dalam melakukan upaya pemberdayaan masyarakat menuju eliminasi penyakit malaria di wilayah yang sesuai. Dukungan terhadap peraturan perundang-undangan terhadap eliminasi masih sebatas mengarahkan masyarakat untuk berperilaku mendukung upaya eliminasi malaria di Indonesia. Pedoman Program Nasional Pengendalian Malaria di Indonesia, Direktorat Pengendalian Penyakit Sumber Hewan, Direktorat Jenderal PP & LP, 2007.
Tatalaksana baru malaria ini diharapkan dapat mendukung program pemerintah, termasuk Kementerian Kesehatan, untuk menghilangkan penyakit malaria dari Indonesia.
- Pendahuluan
- Malaria pada Kehamilan
- Anemia maternal
- Efek malaria terhadap janin
- Penanggulangan malaria pada kehamilan
- Deteksi dini dan pengobatan yang efektif
- Kelambu berinsektisida
- Pencegahan malaria secara intermiten
- Kesimpulan dan Saran
Malaria pada ibu hamil dikaitkan dengan risiko lebih tinggi mengalami anemia (Hb < 11g/dl) atau anemia berat (Hb < 7g/dl), bayi berat lahir rendah (BBLR), kelahiran prematur dan kematian perinatal, semuanya. kondisi ini berkontribusi terhadap tingginya angka kematian ibu dan bayi di daerah endemis malaria [3-6]. Prevalensi anemia sedang dan berat pada ibu hamil penderita malaria di daerah dengan penularan malaria tinggi berada pada kisaran angka tersebut, lebih rendah dibandingkan prevalensi anemia (35%) di daerah endemisitas sedang di perbatasan Thailand-Burma [13]. Hal ini mungkin disebabkan oleh rendahnya tingkat imunitas (dan kemungkinan penyebab anemia lainnya) pada wanita hamil yang tinggal di wilayah tersebut.
Oleh karena itu, data klinis dan farmakokinetik obat antimalaria pada ibu hamil sangat dibutuhkan [30]. Penggunaan kelambu berinsektisida pada ibu hamil di Afrika efektif dalam menurunkan kejadian malaria plasenta, malaria perifer pada semua kehamilan serta menurunkan kejadian BBLR, lahir mati dan keguguran hanya pada kehamilan 1 sampai 4 [35]. Penggunaan kelambu yang mengandung insektisida pada wanita hamil di Asia dikaitkan dengan penurunan risiko lahir mati atau keguguran pada semua kehamilan, namun tidak berpengaruh pada berat badan lahir rendah [36].
Berikut pengalaman penanganan malaria pada kehamilan di Timika (Papua) dengan metode skrining malaria dan pengobatan malaria yang efektif pada seluruh ibu hamil yang melahirkan di rumah sakit. Baik ibu hamil penderita malaria falciparum maupun vivax semuanya berhubungan dengan efek buruk pada kehamilan. Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian malaria pada ibu hamil dan bersalin cukup tinggi dan 60% disebabkan oleh P.
Malaria pada kehamilan, meski tanpa gejala, dikaitkan dengan dampak buruk pada wanita hamil dan janinnya. Permasalahan tingginya resistensi obat di Timika juga mengancam kesehatan ibu hamil penderita malaria. Mengingat terbatasnya pilihan obat antimalaria, DHP juga direkomendasikan untuk pengobatan malaria tanpa komplikasi pada ibu hamil pada trimester kedua dan ketiga kehamilan.
FYI, Timika merupakan negara pertama di dunia yang menggunakan DHP sebagai pengobatan lini pertama ibu hamil trimester 2 dan 3. Tidak ada kematian neonatal kehamilan trimester 1 pada ibu hamil yang mendapat DHP selama berobat di RSMM . 3 hari kehidupan (0/107), sedangkan angka kematian bayi pada ibu hamil yang menerima kina oral nihil. Menurut rekomendasi WHO, deteksi dini dan pengobatan yang efektif berarti penggunaan ACT untuk pengobatan malaria tanpa komplikasi dan penggunaan artesunat intravena untuk pengobatan malaria berat pada ibu hamil pada trimester kedua dan ketiga.
Hasil penelitian kami di Timika menunjukkan bahwa skrining malaria secara mikroskopis pada setiap kontak dengan ibu hamil dan pemberian pengobatan yang efektif dapat mengurangi risiko dampak buruk malaria selama kehamilan.