ETIKA LEGISLATIF DAN PERMASALAHNNYA Dosen Pengampu : Mochamad Rozikin, Dr. Drs, MAP
Disusun oleh:
Sahid Rijal NIM. 205030100111051
Mata Kuliah Etika Administrasi Publik Kelas B
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PUBLIK
MALANG 2021
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Media kita belakangan ini memotret realitas legislatif kita secara kritis baik di tingkat pusat (DPR) maupun daerah (DPRD). Sayangnya, realitas yang digambarkan adalah sisi kabur dari legislatif kita, mulai dari kasus pemalsuan SK, Korupsi Sumber Daya Umum (APBD), kasus asusila yang tidak pantas bagi anggota Dewan yang “dihormati” hingga sulitnya membawa mereka ke pengadilan yang bersembunyi di baliknya. argumen dan hak prosedural. Kecuali prosedur pengungkapan di DPRD Sumbar, masih sangat sedikit penuntutan yang berhasil diselesaikan sampai ada putusan pengadilan. Apa sebenarnya gejala ini?
Harus diakui bahwa keberadaan kekuasaan legislatif di era reformasi dan era otonomi daerah saat ini sangat berbeda dengan sebelumnya. Semangat reformasi telah menata kembali kewenangan institusi politik, yang dalam proses politik kita cenderung lebih bersifat legislatif.
Di bawah amandemen konstitusi, legislatif memiliki tingkat kekuasaan dan kebijaksanaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan luas. Namun besarnya kewenangan ini tidak diimbangi dengan dua hal penting, yaitu tanggung jawab (responsibility) dan pengendalian (control).
Dampaknya sangat mudah ditebak, yakni adanya legislatif yang kabur. Persoalannya kemudian, mekanisme apa yang bisa membuat lembaga legislatif lebih akuntabel dan mengatur dirinya sendiri dalam menjalankan tugasnya?
Secara konstitusional, politisi memiliki tiga peran penting di dewan. Sebagai pengambil kebijakan, mereka harus mampu merumuskan strategi strategis yang mengedepankan kepentingan publik. Sebagai pembuat undang-undang, mereka berkewajiban untuk membuat undang-undang yang dapat menjamin keadilan dan ketertiban sosial yang legal dalam kehidupan bermasyarakat. Dan sebagai legislator Anda harus menjadi "juru bicara bagi rakyat"
untuk mengartikulasikan keprihatinan warga. Itulah mengapa sangat aneh ketika dalam menjalankan tugasnya mereka mengabaikan apa yang disebut etika dan moral politik. Dengan etika dan moral politik, para politisi di parlemen dapat berpolitik sesuai dengan tujuan politik itu sendiri, yaitu untuk mensejahterakan rakyat, bukan berdasarkan keuntungan materi dan kejayaan pribadi. Etika politik sering dikontraskan dengan etika individu, etika kelompok, atau etika institusional, yang hanya mengungkapkan aspirasi sepihak. Dan kehadiran etika dan moralitas politik sebenarnya ingin mengatasi berbagai hambatan kepentingan. Etika dan moral digunakan, misalnya, sebagai tanda bahwa anggota dewan tidak melihat semua posisi,
wewenang, dan kekuasaan sebagai peluang untuk keuntungan materi, terutama melalui korupsi.
1.2 Rumusan Masalah
a) Apa Pengertian Etika Legislatif?
b) Apa Permasalahan dalam Etika Legislatif?
c) Apa Pentingnya Etika Legilatif dalam Penyelenggaran Pemerintahan?
1.3 Tujuan
a) Untuk mengetahui Pengertian dari Etika Legislatif b) Untuk mengetahui Permasalahan dalam Etika Legislatif
c) Untuk mengetahui Pentingnya Etika Legislatif dalama penyelenggaraan pemerintahan
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Etika Legislatif
Kode etik hukum adalah dokumen formal yang mengatur perilaku pembuat undang- undang yang menentukan apa yang dapat diterima dan apa yang tidak. Dengan kata lain, bertujuan untuk menciptakan budaya politik yang menghargai kecukupan, ketepatan, transparansi, dan kejujuran perilaku anggota parlemen. Namun kode etik itu sendiri tidak dimaksudkan untuk menciptakan perilaku itu sendiri.
2.2 Permasalahan dalam Etika Legislatif
Dari segi etika (publik) administratif, ada kecenderungan pejabat atau organisasi publik (termasuk legislatif) menyalahgunakan kekuasaan karena adanya konflik kekuasaan berdasarkan status dan fungsinya. Cooper (1990) mengemukakan bahwa kecenderungan untuk menyimpang berakar pada tiga faktor utama: Pertama, konflik otoritas. Sering dikatakan bahwa badan legislatif memperoleh hak dan kekuasaannya atas dasar legalitas formal yang kuat, yang berasal dari konstitusi dan politik organik. Hak anggaran secara resmi diakui sebagai salah satu fungsi kelembagaan terpenting dari cabang legislatif. Namun, tidak jarang konflik muncul karena perbedaan interpretasi dari dua sumber otoritas di tingkat yang berbeda. Hak anggaran, misalnya, secara jelas diatur dalam pasal 18 dan 78 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan ditegaskan dalam peraturan daerah sebagai bagian integral dari fungsi legislasi. Ketika kebijakan implementasi pemerintah pusat yaitu PP No 110 Tahun 2000 tentang situasi keuangan DPRD ternyata terjadi konflik kepentingan akibat perbedaan interpretasi sumber legalitas formal, yang mendorong daerah (khususnya DPRD Sumatera Barat) untuk mengajukan judicial review ke Mahkamah Agung. Perselisihan tersebut akhirnya diselesaikan oleh Mahkamah Agung dengan mengeluarkan fatwa yang intinya membatalkan PP Nomor 110 Tahun 2000 dengan alasan PP tersebut melanggar undang-undang yang memiliki kedudukan hukum lebih tinggi. Bagi sebagian kalangan, keputusan ini dipandang sebagai pemicu maraknya gejala penyelewengan APBD di banyak daerah secara masif, setidaknya selama 3 tahun terakhir. Bahkan, itu hanya mengungkapkan sebagian dari kebenaran. Mengapa ? Selain legalitas formal, ada otoritas utama lain yang tidak bisa dielakkan namun sering diabaikan, yaitu rakyat atau warga negara sebagai pengemban kedaulatan tertinggi. Konstanta ini sebenarnya adalah inti dari kata Vox populi, vox Dei. Secara etis, legitimasi institusi kekuasaan tergantung pada kemampuannya untuk memperhitungkan
harapan dan keinginan rakyat (popular will). Konflik muncul dalam konteks ini ketika tindakan legislatif tidak sesuai dengan kehendak rakyat atau rasa keadilan masyarakat. Kasus khusus menunjukkan bentuk konflik yang terakhir ini. Legislator bersikeras bahwa penggunaan dana publik (baca: APBD) tidak merupakan penyalahgunaan kekuasaan bagi mereka, karena proses tersebut telah dipertahankan melalui proses peradilan formal dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah atau peraturan daerah. Namun, di mata publik, hal ini dianggap tidak tepat karena diyakini transparansi, misalokasi untuk kebutuhan tersembunyi lainnya dan pengurangan hak publik/individu atas bagian anggaran yang mempengaruhi kebutuhannya diyakini terabaikan. .
Kedua: peran yang saling bertentangan. Peran adalah aspek dinamis dari suatu keadaan yang mencerminkan harapan atas perilaku atau tindakan yang akan dilakukan. Sebagian besar harapan ini terkait dengan upaya untuk menerapkan nilai-nilai yang sesuai dengan status mereka. Keanggotaan di lembaga legislatif menuntut misalnya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kredibilitas, integritas, kemampuan bereaksi, kemauan bekerja sama (willingness to cooperative), dan kecenderungan berpikir dan bertindak secara holistik (integritas). . ). Konflik muncul ketika peran yang akan dimainkan tidak sesuai dengan situasi objektif yang ada. Dalam hal ini, salah satu argumentasi berbobot yang dapat digunakan untuk menjelaskan gejala penyalahgunaan APBD di berbagai daerah adalah bahwa “pembangunan”
APBD merupakan tindakan yang tidak jujur, tidak dapat dipercaya dan tidak menjawab tuntutan masyarakat yang diwakilinya. . Dalam kritik baru, praktik adalah hasil dari apa yang disebut oleh Chester Irving Barnard, yang dikutip oleh Cooper (1990), sebagai sistem moral yang kompleks. Kompleksitas peran (normatif) yang harus dipenuhi legislator menyebabkan interaksi antar aktor semakin kompleks dan seringkali menyimpan nilai-nilai yang kontradiktif.
Semakin tinggi posisi seseorang, semakin sulit untuk bertindak secara bertanggung jawab, bereaksi secara konsisten, dan bergantung pada berbagai persyaratan dari banyak peran. Pada dasarnya masalah konflik kepentingan muncul dari adanya “ketegangan” (tensions) antara kepentingan dan kewajiban, antara preferensi kehidupan pribadi dan kewajiban peran yang harus dilakukan oleh pejabat atau organisasi. Merujuk pada pendapat Kenneth Kernaghan yang dikutip oleh Cooper (1990), konflik kepentingan muncul ketika pejabat atau organisasi publik (termasuk legislatif di dalamnya) berusaha dengan otoritas yang dimilikinya untuk mencapai tujuan yang bersifat pribadi untuk kepentingan mereka sendiri atau untuk kepentingan pribadi.
lembaga. . Kepentingan yang dimaksud di sini dapat berupa kepentingan ekonomi, kasih sayang, status sosial, kekuasaan, hubungan sosial, kekayaan pribadi, kekayaan pihak lain
(terutama yang berhubungan dengan kroni), dan pengakuan pihak lain. Konflik kepentingan ini, harus diakui, berbahaya dan terkadang sulit untuk diselesaikan. Mereka yang berada di legislatif memiliki akses khusus dan luas ke sumber daya publik. Sesuatu yang hampir pasti tidak dimiliki orang kebanyakan. Akses tersebut dapat menciptakan peluang, bahkan mungkin godaan, untuk menggunakan sumber daya publik untuk keuntungan pribadi dan institusional.
Selain itu, lembaga legislatif diberkahi dengan sejumlah keistimewaan yang bersifat inheren dan institusional. Undang-undang Nomor 22 Tahun 2003, misalnya, menetapkan bahwa anggota legislatif di semua tingkatan (dari DPR hingga DPRD Kabupaten/Kota) menikmati 8 hak istimewa tersebut, mulai dari hak inisiatif hingga kekebalan hukum. kedudukan (kekebalan) atas hak keuangan dan administrasi. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya kontrol sosial dan sistem akuntabilitas publik yang terlembaga.
Mencermati akar masalah dan kemungkinan implikasinya, sebagaimana disebutkan di atas, menjadi jelas betapa mendesaknya untuk mengusulkan serangkaian solusi alternatif yang dianggap tepat untuk menghindari, atau setidaknya menghilangkan, penyalahgunaan kekuasaan.
2.3 Pentingnya Etika Legislatif dalam Pemerintahan
Sehubungan dengan banyaknya kasus penyalahgunaan kewenangan APBD oleh legislatif di berbagai daerah, kami menyadari bahwa dampak negatifnya sangat besar, baik secara ekonomi maupun etis. Secara ekonomi, rakyat dirugikan puluhan (atau bahkan mungkin ratusan) miliaran rupee oleh perencanaan anggaran dengan begitu banyak perwakilan. Secara etis, kasus tersebut telah melanggar kepercayaan masyarakat terhadap wakilnya. Hal ini menyebabkan ketidakpercayaan publik terhadap legislatif, yang setidaknya tercermin dari hasil pemilihan umum April 2004, di mana Golput menang (23,34 persen suara). Kondisi ini mencerminkan terkikisnya lembaga-lembaga demokrasi, khususnya lembaga legislatif.
Padahal, dalam demokrasi, ungkapan “fungsi publik adalah kepercayaan publik atau fungsi publik adalah kepercayaan publik” berlaku. Kepercayaan dipandang sebagai prinsip dasar (doktrin) dalam demokrasi. Robert N. Bellah (1991: 3) berpendapat bahwa “demokrasi membutuhkan tingkat kepercayaan yang sering kita anggap remeh... (tetapi) kepercayaan jauh lebih sulit dibangun daripada hilang. Bagi Berman, West dan Cava (1994), pejabat atau lembaga publik harus memenangkan dan mempertahankan kepercayaan publik sebagai bentuk kemampuannya untuk merespon kelompok kepentingan.
Dalam lingkungan seperti itu, diperlukan tindakan nyata untuk menemukan solusi kelembagaan. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah perundang-undangan etis (ethical legislasi atau hukum etik). Berdasarkan pendapat Steiberg dan Austern (1990), perundang- undangan etis adalah upaya untuk menetapkan hukum dan aturan untuk mencapai dan mengatur tindakan etis. Menurut mereka, "perilaku etis tidak hanya cukup didasarkan pada kodifikasi dan penerapan pedoman etika, tetapi juga memerlukan praktik administratif yang sistematis oleh pemerintah untuk mendukung elemen preventif dan proaktif dari tindakan ini."
Ada beberapa hal penting yang perlu diingat dengan konsep ini. Pertama, pada hakekatnya peraturan perundang-undangan etis dapat diidentifikasi dengan mengkodifikasi produk hukum dan aturan lain yang dibuat sadar untuk memastikan konsistensi tindakan yang dianggap benar secara etis. Kedua, perundang-undangan etis bertujuan untuk membujuk dan mengatur tindakan para pelaku sedemikian rupa sehingga sesuai dengan prinsip-prinsip etika. Ketiga, peraturan perundang-undangan etik ini secara garis besar mengatur tindakan individu dan badan publik penyelenggara negara di bidang eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Oleh karena itu, keberadaan peraturan perundang-undangan yang beretika tidak hanya mengatur tentang etika perundang-undangan, tetapi juga meluas dalam praktiknya di berbagai cabang pemerintahan lainnya.
Di Amerika Serikat, misalnya, undang-undang etika ketentuan pengungkapan keuangan tidak hanya merupakan bagian dari reformasi legislatif (legislative reform), tetapi juga ketentuan yang mengatur pejabat publik dan calon pejabat publik, anggota komite independen, pejabat badan atau badan pemerintah, serta pejabat peradilan. Berdasarkan judulnya, artikel khusus ini berfokus pada hukum etik dalam konteks reformasi hukum. Pada saat yang sama, undang-undang etika berusaha untuk menghilangkan pandangan bahwa masalah etika hanya wacana dan tidak mengikat atau wajib. Kalaupun ada tindakan yang dianggap tidak etis, sanksi yang dijatuhkan pada umumnya hanya berupa sanksi moral. Di sisi lain, peraturan perundang-undangan etis melangkah lebih jauh dengan mencoba mengidentifikasi serangkaian tindakan yang tergolong etis dan tidak etis dalam persepsi publik, menghukum pelanggarannya dan mengatur tata cara penyaluran pengaduan (complaint procedure of ethics), yang berasal dari individu. . , komunitas dan institusi (Menzel, 1995).
Tujuan utama dari undang-undang etika ini adalah untuk mencegah pejabat publik (termasuk legislatif) menyalahgunakan kekuasaan dan statusnya sebagai pejabat publik untuk kepentingan pribadinya. Idealnya, undang-undang ini dapat digunakan sebagai pedoman
internal bagi pejabat publik pada umumnya dan legislatif pada khususnya untuk memandu perilaku mereka, khususnya dalam proses pengambilan keputusan politik.
Jika diasumsikan pembuat undang-undang memiliki komitmen yang kuat terhadap pelaksanaan hukum etik dalam arti bahwa langkah-langkah sistematis diambil untuk memecahkan tiga masalah mendasar yang diuraikan di atas, yang terpenting adalah memiliki serangkaian prinsip batasan yang jelas, oleh karena itu tindakan berupa penyalahgunaan kekuasaan legislatif seharusnya dapat dicegah.
BAB 3 PENUTUP 3.1 Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa dalam mendorong komitmen legislatif yang kuat melalui legislasi etis bukanlah tugas yang mudah. Berbagai petunjuk menunjukkan bahwa resistensi terhadap reformasi hukum cukup tinggi, karena pada dasarnya hanya akan mengurangi kekuatan Anda saat ini. Namun demikian, perspektif legislasi etis ini cukup terbuka mengingat dinamika dan perkembangan zaman belakangan ini. Ada beberapa hal yang menguatkan optimisme tersebut. Pertama, terpaan media massa yang cukup gencar menangani perilaku tidak etis legislatif. Media nasional dan daerah telah mengekspos sejumlah kasus penyalahgunaan kekuasaan legislatif dalam beberapa bulan terakhir, baik dalam bentuk berita maupun editorial. Penyimpangan yang paling banyak terjadi adalah penyalahgunaan dana APBD untuk serangkaian kegiatan yang lebih menguntungkan mereka (pribadi atau institusi) daripada kepentingan umum secara langsung.
DAFTAR PUSTAKA
Ismail. 2017. Etika Pemerintahan Norma, Konsep dan Praktek Etika Pemerintahan Bagi Penyelenggara Pelayanan Pemerintahan. DI Yogyakarta: Lintang Rasi Aksara Books.
Hermawan, Deny. 2004. Legislasi Etik : Sebuah Alternatif Solusi Bagi Legitimasi Baru Legislatif. Jurnal Administrasi Publik, 3(1).