Etika
Penelitian;
Validitas dan Reliabilitas
DERAJAT MUKHAMAD PUTRA BANGSA
MPS
Etika Penelitian Sosial
MPS
Etika berasal dari bahasa Yunani, yakni "ethos"
dan "ethikos". Ethos berarti sifat, watak, adat, kebiasaan, sedangkan Ethikos kesusilaan,
keadaban, perilaku yang bersifat baik.
Etika biasanya digunakan manusia sebagai
barometer terhadap moralitas perilaku seseorang di lingkungannya, dalam penelitian sosial etika
dibutuhkan untuk menerapkan prinsip-prinsip yang etis dalam melakukan penelitian.
Kejujuran
Obyektivitas Integritas
Ketelitian
Keterbukaan
Menghargai hak kekayaan intelektual Menghargai privasi responden
Menghindari publikasi penelitian berulang-ulang kepada media yang berbeda.
Membimbing, membantu dan memberi arahan kepada para peneliti baru
Menghargai rekan peneliti atau tim
Etika penelitian sosial yang harus dilakukan oleh para peneliti adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11. Mempunyai tanggung jawab sosial 12. Tidak melakukan diskriminasi
13. Kompetensi
14. Mematuhi peraturan yang ada
15. Mengutamakan keselamatan manusia
Validitas dan Reliabilitas
MPS
Uji Validitas
Uji validitas adalah suatu kegiatan yang menggambarkan keadaan apakah penelitian yang dilakukan relevan dengan apa yang kita inginkan. Hasil dari uji validitas yang dilakukan dapat menghasilkan sebuah penelitian yang sah atau valid.
Uji validitas dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:
A. Uji Validitas Eksternal
Validitas eksternal merupakan derajad akurasi apakah hasil dari penelitian dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada populasi dimana sampel tersebut diambil (Sugiyono, 2014:340).
Pengujian validitas eksternal dapat dilakukan dengan menghitung korelasi antara masing-masing pernyataan/
indikator dengan skor total menggunakan korelasi Product Moment(r). Rumus korelasi Product Moment (Pearson) yang dilambangkan dengan r.
B. Uji Validitas Internal
Validitas internal adalah suatu keadaan dimana instrumen dari sebuah penelitian memiliki kesesuaian antara butir- butir pertanyaan dengan instrumen penelitian secara keseluruhan. Uji validitas internal sendiri dibagi menjadi 3 bagian, yakni:
- Validitas butir/isi (Content)
- Validitas Kriteria (Criterion-Related Validity) - Validitas Konstruk
Uji Reliabilitas
Uji Reliabilitas adalah suatu indikator yang menunjukkan sejauh mana alat pengukur dapat mengukur sehingga penelitian dapat dipercaya atau diandalkan (Singarimbun, 1989). Uji reliabilitas dibagi menjadi 2, yakni:
A. Uji Reliabilitas Eksternal
Uji reliabilitas eksternal adalah suatu cara yang dilakukan dengan membandingkan hasil dua kelompok data, sehingga dapat memperoleh indikator yang menunjukkan seberapa relevan penelitian yang terdahulu dengan penelitian sekarang. Uji reliabilitas dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
B. Uji Reliabilitas Internal
Uji relibialitas internal adalah suatu cara yang dilakukan dengan menganalisis data dari satu kali pengujian kuesioner.
Reliabilitas internal dibagi menjadi 7 metode, yaitu:
- Metode Spearman-Brown - Metode Flanagan
- Metode Rulon - Metode K-R 20 - Metode K-R 21 - Metode Hoyt - Metode Alpha
B. Uji Reliabilitas Internal
Uji relibialitas internal adalah suatu cara yang dilakukan dengan menganalisis data dari satu kali pengujian kuesioner.
Reliabilitas internal dibagi menjadi 7 metode, yaitu:
- Metode Spearman-Brown - Metode Flanagan
- Metode Rulon - Metode K-R 20 - Metode K-R 21 - Metode Hoyt - Metode Alpha
Negara
Pancasialis
Tetapi Sangat Kapitalis
MPS
PENGARUH LIBERALISASI PENDIDIKAN TINGGI TERHADAP KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA DI INDONESIA
A. Definisi Liberalisasi Pendidikan Tinggi
Liberalisasi pendidikan tinggi adalah sebuah sebuah sistem dimana institusi atau lembaga pendidikan tinggi memiliki kebebasan untuk mengatur rumah tangganya sendiri, tanpa banyak campur tangan dari pemerintah atau negara (Derajat, 2021)
B. Definisi Sumber Daya Manusia
Menurut (Hasibuan, 2016) sumber daya manusia adalah ilmu dan seni yang mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
Indonesia menjadi salah satu negara yang mewajibkan masyarakatnya untuk menempuh pendidikan serta memberikan hak kepada masyarakatnya untuk memperoleh pendidikan, hal ini tertera dalam pasal Pasal 6 ayat (1) yang berbunyi “Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.”
Dan Undang-Undang Dasar 1945, BAB XIII, Pasal 31 ayat (1) yang menyatakan, bahwa "Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.”
Namun pada kenyataannya, dibalik hak dan kewajiban yang dimiliki oleh individu dalam pendidikan. Negara juga memanfaatkan situasi tersebut guna mengambil keuntungan sebesar-besarnya, hal tersebut dapat dilihat ketika negara Indonesia meratifikasi perjanjian dengan organisasi World Trade Organization (WTO) dalam General Agreement on Trade in Services (GATS) yang dalam salah satu isinya menegaskan bahwa pendidikan tinggi merupakan produk jasa yang bisa diperdagangkan atau diperjualbelikan. Dengan perjanjian tersebut, maka Indonesia wajib menjalankan kebijakan-kebijakan liberalisasi di dalam pendidikan.
Kebijakan-kebijakan mengenai liberalisasi pendidikan diimplementasikan oleh negara melalui undang-undang, seperti UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Asing dan UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tentu bersifat sistemik pada program-program turunannya pada tataran kebijakan yaitu pertama, Badan Hukum Milik Negara; Kedua, Sekolah Bertaraf Internasional; Ketiga, World Class University;
Keempat, PP No. 77 Tahun 2007 Tentang Bidang Usaha Terbuka dan Batas Kepemilikan Asing; Kelima, Vokasionalisasi Pendidikan Tinggi; Keenam, Manajemen Berbasis Sekolah; dan Ketujuh, Badan Hukum Pendidikan.
Terima kasih!
MPS