Sejarah marga Sasak tercatat dalam banyak naskah atau kronik seperti Babad Lombok, Babad Selaparang, Babad Sakra dan Babad Praya yang menjadi objek kajian dalam penelitian ini. Secara umum keempat babad ini banyak menceritakan tentang perlawanan suku Sasak terhadap raja Bali yang saat itu sedang menjajah Pulau Lombok. Namun cerita sedikit berbeda pada Babad Lombok bagian pertama yaitu menceritakan tentang asal usul masyarakat Sasak, ajaran agama suku Sasak, kemudian dilanjutkan dengan kisah perlawanan suku Sasak terhadap penguasa Bali. .
Dalam penelitian ini penulis tertarik untuk menelusuri sistem nilai apa saja yang ada dalam teks Tawarikh Lombok (empat kronik). Selanjutnya tidak menutup kemungkinan masing-masing sistem nilai tersebut dijadikan pedoman (filsafat) kehidupan suku Sasak. di Lombok. Sistem nilai dalam naskah Kronik Lombok dengan demikian dikaitkan dengan nilai-nilai agama dan dapat menjadi sumber falsafah hidup (pandangan dunia) masyarakat Sasak.
Konsonan Tunggal
Konsonan Rangkap Karena Syaddah Ditulis Rangkap
Ta’ Marbutah
Vokal Pendek
Vokal Pendek yang Berurutan dalam Satu Kata dipisahkan dengan Apostrof
Kata Sandang Alif + Lam
Penulisan Kata – Kata dalam Rangkaian Kalimat
Imam Iqbal, S.Fil.I., M.Si., yang telah memberikan semangat, saran dan masukan kepada penulis khususnya dalam penyusunan disertasi ini. Segenap Bapak dan Ibu dosen, staf dan rekan-rekan di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang banyak membantu dan mempermudah penyelesaian penulisan disertasi ini. Kepala Perpustakaan beserta jajaran dan rekanan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang memberikan kesempatan kepada penulis dan memberikan bahan/referensi untuk menyelesaikan disertasi ini.
Teman-teman disiplin KALAM-LOMBOK Yogyakarta juga selalu memberikan ide cemerlang dalam penyelesaian skripsi ini; Dr. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan dan bimbingannya hingga selesainya skripsi ini, penulis ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya.
Latar Belakang
Suku Sasak mempunyai budaya, bahasa dan kepercayaan yang beragam, disebabkan oleh perbedaan budaya dan pengalaman penjajahan/penaklukan yang berulang-ulang yang pernah dialami suku Sasak di Pulau Lombok.3. Kebudayaan asing banyak bercampur dengan kebudayaan masyarakat Sasak, sehingga bahasanya mempunyai tingkatan (hierarki bahasa) yang berbeda-beda. Lihat Suparman Jayadi, “Rasionalisasi Aksi Sosial Masyarakat Suku Sasak Terhadap Tradisi Perang Topat (Studi Kasus Masyarakat Islam Sasak Lombok Barat),” Jurnal Sosiologi Agama, Vol.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penulis akan mencoba menilik berbagai kisah masyarakat Sasak yang terdapat dalam buku-buku sejarah dan naskah Lombok, termasuk naskah-naskah yang akan dikaji dalam penelitian ini. Semua kronik tersebut menceritakan cerita dan dongeng yang dialami oleh masyarakat Sasak. Masyarakat Sasak pada umumnya meyakini bahwa agama dan adat istiadat merupakan dua jenis aturan yang berjalan beriringan dan tidak saling meniadakan.
Pada lapisan ketiga ini juga dikenal istilah krame (norma) dan awig-awig (aturan) yang digunakan masyarakat Sasak untuk mengatur kehidupannya. Marga Sasak mempunyai tiga jenis krame, yaitu: titi krame, krame dasar, dan aji krame. Sedangkan aji krame berkaitan dengan harga kehormatan seseorang yang biasa dilakukan dalam prosesi perkawinan disebut (sorong serah aji krame) 10 Semua yang dibicarakan di atas adalah etika suku Sasak.
Kedua naskah babad Lombok ini memang belum banyak diketahui di kalangan suku Sasak, walaupun ada masyarakat yang mengetahui tentang naskah-naskah tersebut namun hanya dijadikan sebagai barang simpanan biasa yang tidak mempunyai fungsi apa-apa, sehingga dalam penelitian ini menarik bagi penulis. untuk mengungkap apa saja sistem nilai yang ada dalam teks tersebut, dan bagaimana hal tersebut kemudian dikonstruksikan menjadi sebuah etika, hal ini penting dikaji untuk melihat nilai-nilai kehidupan masyarakat Sasak. Ketiga, penulis ingin memperjelas bahwa sistem nilai ini dijadikan sebagai etika masyarakat etnis Sasak dan sebagai falsafah hidup masyarakat etnis Sasak itu sendiri. Apa saja sistem nilai dalam naskah Kronik Lombok yang dapat dijadikan etika bagi suku Sasak?
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Kajian Pustaka
Kedua, buku karangan Jamaluddin yang berjudul Sejarah Islam Lombok: Abad XVI-XX. Mereka kemudian menjadi guru terkemuka di Lombok dan mengubah kedudukan para bangsawan yang sebelumnya merupakan kelompok elit di suku Sasak. Ketiga, buku yang ditulis oleh Alfons Van der Kraan yang berjudul Penaklukan Lombok, Kolonisasi dan Keterbelakangan, buku ini diterjemahkan oleh M.
Menurut bacaan penulis, buku yang ditulis oleh Alfons Van der Kraan ini berfokus pada periode tahun 1870 hingga 1940. Jawaban atas kedua pertanyaan tersebut sangat penting sebagai landasan bagi suku Sasak untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. 14 Jurnal Penelitian yang ditulis oleh Dedi Wahidi, Identitas Masyarakat Sasak: Kajian Epistemologis Mekanisme Produksi Pengetahuan Suku Sasak, Jurnal Penelitian Islam Vol.14 No E-ISSN 1829-6491 P-ISSN 2580-9652.
Tradisi Sasak merupakan perwujudan ajaran Islam dan merupakan perilaku khas suku Sasak yaitu beragama Islam yang taat sekaligus memiliki budaya yang tinggi. Kedua, Eksistensi Tasawuf Sasak dalam Novel Sanggarguri dan Perannya dalam Kehidupan Masyarakat di Pulau Lombok yang ditulis oleh Siti Maryam, mahasiswa Universitas Mataram.15 Artikel yang ditulis oleh Siti Maryam ini menjelaskan bagaimana Tasawuf Sasak itu. Dijelaskannya, tasawuf Sasak merupakan sebuah konsep yang mengatur nilai dan norma kehidupan khususnya pada masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok.
15 Artikel yang ditulis oleh Siti Maryam, Eksistensi Tasawuf Sasak dalam Novel Sanggarguri dan Perannya dalam Kehidupan Masyarakat di Pulau Lombok Volume 4 Nomor 1, Juni 2018. Jadi, konsep tasawuf Sasak merupakan sebuah konsep yang tidak hanya sekedar pedoman atau acuan bagi masyarakat Sasak, namun juga mempunyai nilai universal yang artinya dapat juga diikuti oleh masyarakat di luar suku Sasak atau di luar Pulau Lombok. Ketiga, Sasak Makrifat “Pengertian Konsep Mengenal Diri Dalam Simbol Budaya Sasak yang ditulis oleh Sirajun Nasihin, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Palapa Nusantara, Lombok, Indonesia. 16 Artikel yang ditulis oleh Sirajun Nasihin ini, bertujuan untuk mendeskripsikan makna filosofis nasehat orang Ou Sasak dalam sudut pandang tasawuf.
Kerangka Teoritik
Sumber Data
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan yaitu penelitian yang memanfaatkan buku-buku, artikel, jurnal dan karya ilmiah lainnya.Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dimana penelitiannya berupa literatur dengan menggunakan penyajian deskriptif yang dilakukan .32 Sumber data dalam Penelitian ada dua jenis yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah kitab-kitab naskah kronik Lombok (empat kronik), yaitu: Babad Lombok, Babad Selaparang, Babad Sakra dan Babad Praya. Bared berpendapat bahwa transliterasi adalah penggantian jenis tulisan, huruf demi huruf, dari satu abjad ke abjad lainnya.
Transliterasi dalam Kamus Istilah Filologi diartikan sebagai “perubahan teks dari aksara yang satu ke aksara yang lain, atau bisa juga disebut perubahan huruf atau perubahan karakter, misalnya dari huruf Jawa ke huruf Latin, dari huruf Sunda ke huruf Latin, dan sebagainya”.
Analisis data
Pada bab ini penulis menguraikan dan memberikan gambaran singkat mengenai penelitian ini, juga mengungkapkan kesenjangan-kesenjangannya, sehingga penelitian ini menarik untuk dibaca. Pembahasan sistematika merupakan bagian terakhir dari bab ini yang memberikan gambaran mengenai penulisan skripsi secara keseluruhan. Pada bab kedua, penulis akan menjelaskan secara singkat konteks sosio-historis suku Sasak, dimulai dari sejarah terbentuknya suku Sasak dan terminologi Sasak, kemudian penulis juga akan menjelaskan bagaimana perkembangan suku Sasak.
Bab ketiga penulis memaparkan uraian dan ringkasan naskah, dimulai dengan ringkasan naskah Babad Lombok, Babad Selaparang, Babad Sakra, dan Babad Praya. Bab ini berisi tentang gambaran umum tentang etika (pengertian umum dan sudut pandang karakter), kemudian dilanjutkan dengan penemuan sistem nilai suku Sasak dalam teks Lombok dan diakhiri dengan analisis nilai menggunakan teori sosiologi pengetahuan Peter L Berger. . Oleh karena penelitian ini merupakan prolegomena dari pemikiran penulis, maka pada bagian akhir penulis menjadikan refleksi kritis sebagai gambaran untuk dikembangkan oleh penulis selanjutnya, yang tentunya lebih komprehensif dari penelitian ini.
Kesimpulan
Mengenai sistem nilai dalam naskah Lombok: Pertama, peneliti di Badad Lombok menemukan tujuh jenis nilai, yaitu; Nilai agama atau nilai ketuhanan, nilai kepemimpinan, larangan mengambil milik orang lain, menepati janji, kedermawanan, kebijaksanaan, kebahagiaan. Kedua, peneliti menemukan enam jenis nilai dalam Babad Selaparang, yaitu; Kesetiaan (nilai pengabdian), kemurahan hati (generosity), nilai kemanusiaan, pengabdian kepada orang tua, keikhlasan terhadap takdir Tuhan, nilai timbal balik. Ketiga, peneliti menemukan enam jenis nilai dalam Babad Sakra, yaitu; Kesetiaan dan ketaatan, musyawarah, berpikir sebelum bertindak, keberanian, kesetiaan, kewajiban menaati nasehat orang tua.
Keempat, peneliti dalam Babad Praya menemukan empat jenis nilai, yaitu; Musyawarah, Tawakkal (menyerah kepada Yang Maha Esa), sikap berani, peduli terhadap agama lain (Muslim). Dengan demikian, total nilai keempat naskah kronik tersebut adalah dua puluh dua jenis nilai. Karena keempat naskah babad mempunyai nilai yang sama, maka penulis memecah atau mempersempitnya menjadi sebelas jenis nilai, yaitu; Nilai agama atau nilai ketuhanan, larangan mengambil harta milik orang lain, nilai kepemimpinan, menepati janji, dermawan, penuh pertimbangan sebagai sikap hikmah, bahagia, bertaqwa.
Nilai-nilai tersebut kemudian ditransformasikan ke dalam falsafah hidup masyarakat Sasak, sehingga kesimpulan selanjutnya adalah bagaimana sistem nilai tersebut ditransformasikan ke dalam falsafah hidup (pandangan dunia) masyarakat Sasak, yaitu mengaitkannya dengan nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan masyarakat Sasak. Quran, karena kita mempunyai banyak pandangan dunia, dipengaruhi oleh berbagai informasi, termasuk ajaran agama (dalam hal ini Islam), serta ajaran agama lain yang mengajarkan kita tentang nilai-nilai kebaikan. Ajaran agama selalu membahas tentang keberadaan Allah, manusia, hubungan Allah dengan manusia, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Sistem nilai dalam naskah babad Lombok dengan demikian dikaitkan dengan nilai-nilai agama (kitab suci) dan dapat menjadi sumber falsafah hidup (pandangan dunia) masyarakat Sasak.
Misalnya kedatangan bangsa Arab di Lombok membentuk nilai-nilai Islam, nilai-nilai bijak, dll. Kedatangan penjajah Bali melahirkan nilai-nilai keberanian, pemikiran dan sebagainya, yang kemudian realitas-realitas tersebut menjadi realitas obyektif atau realitas yang tidak diketahui sedemikian rupa.
Saran
Konstruksi Sosial Media Massa: Kekuatan Pengaruh Media Massa, Iklan Televisi dan Keputusan Konsumen serta Kritik terhadap Peter L. Tradisi Keagamaan Islam" dalam leonord Binder (red) Kajian Timur Tengah: penelitian dan kesarjanaan dalam bidang humaniora dan ilmu-ilmu sosial (grap, Jhon Willye en Sone). Makrifat Sasak" Verstaan die konsep om jouself te ken dalam Simbol Budaya Sasak, Jurnal Kajian Agama dan Masyarakat ISSN Vol.
Eksistensi Tasawuf Sasak dalam Novel Sanggarguri dan Perannya dalam Kehidupan Masyarakat di Pulau Lombok Jilid 4. Konfigurasi Pemikiran Islam Tuan Guru: Respon Pemikiran Tuan Guru terhadap Penetrasi Ajaran Wahhabi pada Etnis Sasak di Pulau Lombok, Program Pascasarjana UI).