• Tidak ada hasil yang ditemukan

CRITICAL BOOK REPORT: FILSAFAT SEJARAH

N/A
N/A
Ezra Tamar Kristalia Simanullang

Academic year: 2023

Membagikan "CRITICAL BOOK REPORT: FILSAFAT SEJARAH"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

CRITICAL BOOK REPORT FILSAFAT SEJARAH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah: Filsafat Sejarah Dosen Pengampu: Syahrul Nizar Saragih, M.A.

Ezra Tamar Kristalia Simanullang (3203121058)

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia- Nya, saya dapat menyelesaikan Critical Book Report ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Sejarah yang diampu oleh Bapak Syahrul Nizar Saragih,M.A.. Pada kesempatan ini saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu dan semua rekan-rekan yang telah memberikan saran, pengarahan, bantuan serta dukungan kepada saya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Saya sangat berharap ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang lain.

Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan.

saya juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat kekurangan. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Medan, 03 November 2022

Penulis

(3)

iii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ... iii BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Rasionalisasi Pentingnya CBR ... 1 1.2 Tujuan Penulisan CBR ... 1 1.3 Manfaat CBR ... 1 BAB II. IDENTITAS DAN RINGKASAN ISI BUKU

2.1 Identitas Buku ... 2 2.2 Ringkasan Isi Buku ... 2 BAB III. PEMBAHASAN

3.1 Keunggulan Buku ... 9 3.2 Kelemahan Buku ... 9 BAB IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan ... 10 4.2 Saran ... 10 DAFTAR PUSTAKA

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Rasionalisasi Pentingnya CBR

Penyusunan Critical Book Report ini ditujukan untuk memenuhi tugas matakuliah Filsafat Sejarah. Tugas ini dimaksudkan agar mahasiswa memahami dan menguasai cara mengkritik buku dan juga dapat membandingkan dan mendapat intisari dari setiap buku yang dirangkum.

Selain itu, sering kali kita bingung memulih buku referensi untuk kita baca dan kita pahami.

Terkadang kita memilih satu buku, namun kurang memuaskan hati kita. Misalnya dari segi analisis bahasa, pembahasan tentang Filsafat Sejarah, oleh karena itu penulis membuat Critical Book Report ini untuk mempermudah pembaca dalam memilih refrensi, terkhusus pada pokok pembahasan tentang Filsafat Sejarah.

1.2 Tujuan Penulisan CBR

Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan Critical Book Report ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengulas isi sebuah buku

2. Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam buku

3. Melatih diri untuk berfikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan pada setiap bab dari buku yang diulas

4. Mengkritisi satu topik materi kuliah Filsafat Sejarah

1.3 Manfaat CBR

Adapun manfaat yang diharapkan oleh penulis melalui penulisan Critical Book Report ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk menambah wawasan tentang Filsafat Sejarah

2. Untuk mengetahui cakupan yang terdapat dalam Filsafat Sejarah.

(5)

2 BAB II

RINGKASAN ISI BUKU

2.1 Identitas Buku

Judul : Filsafat Sejarah Penulis : Syahrul Nizar Saragih

Penerbit : K-Media

Tahun Terbit : 2019 Kota Terbit : Yogyakarta

ISBN : 978-602-451-532-4

Edisi : Pertama

Jumlah Halaman : vi + 135 hlm

2.2 Ringkasan Isi Buku BAB 1. PENDAHULUAN

Filsafat merupakan ilmu yang berupaya membantu melihat apa yang ada katakan dan mengatakan apa yang anda lihat. Filsafat mengkaji persoalan paling mendasar, mendalam dan menyeluruh.

Sejarah merupakan peristiwa masa lampau yang dipelajari dan dianalisis untuk tujuan mengambil pelajaran bagi generasi masa kini dan mendatang. Dalam mengkaji masa lalu tersebut manusia diharapkan bisa mengambil nilai-nilai yang dapat mengantarkan mereka kepada puncak peradaban dan menghindari kehancurannya. Jadi, kajian sejarah penting untuk menelaah masa silam. Baik itu ditinjau dari perspektif sejarah itu sendiri maupun kajian Filsafat.

Filsafat sejarah berbeda dari ilmu sejarah. Letak perbedaan itu adalah ilmu sejarah berupaya mengangkat peristiwa sejarah dari sumber sejarah lalu menjelaskannya. Sedangkan filsafat sejarah berusaha menundukkan sejarah maupun ilmu sejarah itu sendiri pada suatu

(6)

3

penelitian menyeluruh dan memahaminya berdasarkan prinsip terakhir eksistensi dan pengetahuan. Filsafat sejarah mencakup didalamnya logika sejarah dan metafisika sejarah.

Yang pertama meneliti dasar-dasar, perkiraan dan metode ilmu sejarah sedangkan yang kedua meneliti esensi, sebab-sebab dan arti sejarah.

Adapun manfaat kajian filsafat adalah bahwa filsafat sejarah tidak mengajarkan pengkajian sejarah harus dilakukan. Namun demikian, filsafat sejarah dapat menawarkan pengertian mengenai untung ruginya berbagai model terhadap masa silam dan menjadikan ilmuwan waspada terhadap pendapat-pendapat yang keliru mengenai tugas dan tujuan pengkajian sejarah. Untuk menemukan alur berpikir yang logis, tulisan ini disusun dalam beberapa bab. Bab pertama dimaksudkan sebagai pengantar memasuki lajian filsafat sejarah.

Bab kedua membahas filsafat sejarah spekulatif yang membahas pola-pola sejarah, motor penggerak sejara dan tujuan akhir penelitian sejarah. Bab ketiga membahas pada pandangan filosofis sejarah mengenai tiga persoalan sejarah spekulatif. Bab keempat merupakan pengantar bagi pembahasan filsafat sejarah kritis yang meliputi kenyataan sejarah, penyataan kenyataan sejarah, keterangan sejarah dan penafsiran tentang kenyataan sejarah. Sebagai simpulan akhir, maka yang diharapkan adalah lahirnya pencerahan.

BAB 2. FILSAFAT SEJARAH SPEKULATIF

Ketiga persoalan filsafat sejarah spekulatif dibahas oleh para filosof dalam intensitas yang berbeda-beda. Untuk pola-pola dalam gerak sejarah, ada banyak pola yang telah diajukan para filosof sejarah dalam merumuskan pola-pola sejarah. Dari sekian banyak pandangan, secara umum pandangan mereka bertumpu pada tiga pola gerak sejarah. Pertama, gerak sejarah itu berjalan lurus ke depan baik mengalami kemajuan ataupun bergerak mundur ke belakang.

Kedua, sejarah berjalan melingkar baik terputus-putus maupun berkesinambungan. Ketiga,

gerak sejarah tidak selalu punya pola tertentu.

Sebagian filosofis melihat bahwa pola gerak sejarah berbentuk siklus, yang lain melihat berjalan lurus hanya terjadi sekali dan lainnya bersifat linier. Dasar pemikiran teori siklus atau hukum fatum ialah alam itu pada dasarnya sama dengan alam kecil (mikrosmos). Teori gerak sejarah siklus memantik bahwa manusia tidak dapat berbuat banyak untuk mengubah hukum qadar, oleh sebab itu tidak perlu mengkhawatirkan masa depan. Sejarah yang ditulis berdasarkan teori ini membuat sifat ceria sejarah menjadi realistis, menurut kenyataan, seolah- olah peristiwa harus terjadi demikian dan tidak bisa yang lain. Pada dasarnya sejarah itu

(7)

4

kompleks. Jika diibaratkan mesin, maka banyak motor penggeraknya. Tidak mungkin ada banyak motor lantas masing-masing mengarahkan sejarah sekehendaknya, kecuali ia dibawa suatu kekuatan utama jiwa sejarah. Sifat sejarah sama dengan jiwa sejarah dan tidak mungkin berasal dari apa yang dinamakan kekuatan-kekuatan penggetrak sejarah.

Menurut teori Einmalig, sejarah berjalan hanya sekali. Proses sejarah merupakan gerakan yang berkelanjutan antara masa lampau, masa kini dan masa mendatang. Sedangkan berdasarkan teori linier, dasar pemikirannya adalah segala peristiwa di dunia berpusat pada manusia. Sejarah dilukiskan sebagai proses perkembangan dari kurang sempurna ke arah sempurna. Konsepsi dasar teori linier ialah proses historis dimulai dari kesempurnaan lalu manusia mengalami kemerosotan.

Tidak selamanya sejarah bergerak maju, melainkan dapat pula bergerak mundur (Gerak sejarah mundur). Pada hakikatnya, gagasan ini didasarkan pada pandangan pesimistik atas gerak sejarah. Dimana dalam gerak sejarah itu di suatu periode selalu ada saja degradasi moral, peperangan, runtuhnya nilai-nilai kultural. Semua itu mengakibatkan terjadinya kemunduran suatu waktu. Selanjutnya adalah teori Spiral yang merupakan perpaduan antara teori siklus dan teori linear dimana teori ini memandang gerak sejarah sebagai berpangkal pada kemajuan (evolusi) dan perjuangan manusia dalam mencapai suatu kemajuan.

Adapun persoalan dan siapa penggerak sejarah juga menjadi perdebatan di kalangan sejarawan dan filosof. Ada yang mengatakan bahwa motor penggerak sejarah adalah Tuhan yang sesungguhnya sudah berlangsung lama, sejak abad pertengahan. Menurut teori ini, semua kejadian di dunia berasal dari Tuhan. Kesimpulan ini menegaskan bahwa aliran ini sama sekali mengabaikan peran yang dimainkan manusia dalam perjalanan sejarah. Aliran ini tegas mengatakan bahwa Tuhanlah yang menjadi penggerak segala sesuatunya, tiada lain selain dia.

Selain itu, ada pula ahli yang berkeyakinan bahwa penggerak sejarah itu, manusia pilihan seperti tokoh terkemuka baik dari agamawan maupun kalangan politik. Bagi aliran ini, seorang tokoh berperan dalam suatu peristiwa. Sebaliknya ada pula yang melihat bahwa selain individu gerak sejarah itu merupakan peran besar dari suatu organisasi atau perkumpulan yang merupakan oeran besar suatu organisasi atau perkumpulan yang merupakan alat bagi diterapkannya suatu ide-ide baru. Dimana suatu cita-cita selalu saja mendorong orang atau kelompok melakukan perubahan.

Ada beberapa teori mengenai tujuan gerak sejarah diantaranya adalah Pertama, pandangan yang melihat bahwa gerak sejarah tidak memiliki atau tanpa arah tujuan. Kedua,

(8)

5

gerak sejarah bertujuan melaksanakan kehendak Tuhan. Ketiga, tujuan gerak sejarah adalah keseimbangan antara kehendak Tuhan dengan usaha manusia. Keempat, tujuan gerak sejarah adalah kemajuan. Kelima, bagi aliran materialisme historis, tujuan gerak sejarah ialah masyarakat tanpa kelas. Keenam, tujuan dari sejarah adalah menguji manusia dalam menjalani kehidupan agar mengetahui siapa yang terbaik di antara mereka. Jadi, sejarah merupakan durasi waktu mengantarkan manusia mencapai proses kesempurnaan.

BAB 3. FILOSOF FILSAFAT SEJARAH SPEKULATIF 1. Giovanni Battista Vico

Diantara pemikirannya tentang filsafat sejarah spekulatif adalah bahwa setiap kali ada perubahan dalam masyarakat maka akan terjadi pula perubahan di berbagai lini kehidupan.

Vico juga yakin bahwa berbagai aspek kebudayaan masyarakat dalam fase apapun membentuk pola-pola yang sama yang saling berkaitan satu sama lainnya secara substasional dan esensial.

Menurutnya, lingkaran sejarah dalam pendakian terus menerus terjalin erat dengan kemanusiaan dan atas dasar itulah Vico membagi fase sejarah menjadi tiga tahapan yaitu fase teologis, herois dan humanis.

2. Karl Heinrich Marx (1818-1883)

Inti filsafat sejarah Karl Marx ialah materialisme historis. Istilah materialisme sangat kompleks, bahwa bukan kesadaran menimbulkan kenyataan melainkan kenyataanlah yang menimbulkan kesadaran. Marx menegaskan bahwa materialisme historis berbeda dengan yang lainnya, ia berpandangan bahwa realitas objek material bukanlah manusia mandiri melainkan suatu realitas yang telah diubah oleh kaum buruh dalam lintasan sejarah. Marx merinci sejarah perkembangan masyarakat ke dalam beberapa tahapan.

Pertama, pada mulanya masyarakat itu bersifat komunal primitif yaitu tahap dimana masyarakat menggunakan alat-alat produksi dalam bentuk yang masih sederhana. Kedua, berlanjut dalam bentuk perbudakan yang merupakan akibat dari terciptanya hubungan produksi dengan orang yang hanya memiliki tenaga untuk kerja. Ketiga, munculnya masyarakat feodal setelah runtuhnya masyarakat perbudakan. Keempat, munculnya masyarakat kapitalis yang mengkehendaki kebebasan dalam mekanisme perekonomian. Kelima, lahirnya masyarakat sosialis yang dipahami sebagai formulasi terakhir dari 5 tahapan perkembangan masyarakat dalam sejarah. Bagi Marx, motor penggerak sejarah sebenarnya ialah petentangan kelas antara

(9)

6

proletar dan borjouis. Langkah menuju pergerakan itu harus dimulai dari menyoal berbagai dogma termasuk dogma agama dan politik.

3. Oswald Spengler (1880-1936)

Belia merupakan penganut teori skilus. Ia melihat perjalanan sejarah tidak lain adalah kelahiran, tumbuh dan mati. Demikian halnya nasib kebudayaan seperti kehidupan organisme, tumbuhan ataupun hewan. Bagi Spengler, kebudayaan adalah kebangkitan spritual suatu kelompok manusia yang dihubungkan oleh suatu konsepsi yang dekat dengan wujud, dan itu semua terealisasikan dalam berbagai kegiatan, baik dalam seni, filsafat, politik, ekonomi maupun perang. Menurutnya, lahirnya kebudayaan terjadi saat jiwa besar bangkit dan terpisah dari kondisi spritual yang lama atau sebelumnya.

Dapat disimpulkan bahwa menurut Spengler, pola gerak sejarah itu bersifat siklus, adapun motor penggerak sejarah ialah manusia yang bertumpu kepada kebudayaan, sedangkan tujuan akhir sejarah adalah tidak mempunyai tujuan.

4. Arnold J.Toynbee (1889-1975)

Toybee menyimpulkan bahwa perlu adanya kajian dan penilaian atas semua kebudayaan sehingga tidak terjerumus ke dalam pembagian sejarah yang menyesatkan, dimana periode sejarah dibagi menjadi tiga periode yaitu zaman kuno, zaman pertengahan dan zaman modern.

Menurut Toynbee, pembagian semacam ini esensinya didasarkan pada penilaian yang berelebihan atas sejarah Barat. Pada dasarnya, dapat dikatakan bahwa pemikiran Toybee tentang pola gerak sejarah adalah bersifat linier, sedangkan motor penggerak sejarah itu minoritas dominan, sedangkan tujuan akhir sejarah adalah berkembangnya peradaban.

5. Pitirim Akexandrovich Sorokin (1889-1968)

Sorokin menyatakan bahwa gerak sejarah itu mengalami fluctuation from age to age.

Terkadang naik terkadang mengalami pasang surut, silih berganti. Dia percaya bahwa ada Cultural Universe (alam kebudayaan) yang beragam. Pusat perhatian Sorokin adalah proses sejarah bukan awal dan akhir sejarah. Ia fokus pada gerak sejarah. Menurutnya gerak sejarah bersifat dialektis yang menuju ke arah kemajuan.

BAB 4. FILSAFAT SEJARAH KRITIS

(10)

7

Objek material sejarah kritis ialah selurug aktivitas sejarawan dalam penelitian sejarah dan seluruh produk yang dihasilkannya. Untuk mengukur historiografi dalam sejarah, setidaknya ada tiga landasan utama yaitu landasan, landasan etika dan lanadasan epistemologis.

BAB 5. LANDASAN EPISTEMOLOGIS DALAM KAJIAN SEJARAH

Landasan epistemologis sejarah menjadi paling penting, sebab jika landasan ini tidak dapat ditegakkan dengan meyakinkan maka seluruh pengetahuan yang berkaitan dengan masa silam akan runtuh begitu saja. Jika masa silam tidak dapat disepakati maka tidaklah mungkin membahas apapun tentang kajian sejarah. Sebab kajian sejarah maupun perhatian kepada peristiwa silam pastilah berkaitan dengan perbuatan manusia.

Sekalipun masa silam itu nyata adanya, akan tetapi kaum skeptis tidak mau begitu saja serta merta menerima kepastian tersebut. Mereka mencoba mencari jalan keluar dari situ.

Mereka berkeyakinan bahwa pertama, bahwa pengetahuan tentang masa silam itu mustahil, karena pengetahuan semacam ini hanya bisa diperoleh langsung mengamati atau langsung mengalami. Kedua, bahwa pengetahuan mengenai masa silam ada dalam ucapan-ucapan yang terdiri dari komponen-komponen demonstratif dan deskriptif. Ketiga, pada batas-batas tertentu segala penulisan sejarah melulu khayalan belaka.

Ketidakmampuan kita mengalami atau mengamati masa sialm secara langsung tidak merupakan kelemahan pokok dalam mengkaji sejarah. Setelah mendapat kepastian masa silam itu ada dan tidak terbantah. Pengetahuan tentang masa silam itu juga bisa dipertanggungjawabkan, maka untuk itulah diperlukan adanya fakta sejarah yang melewati analisis eksplanasi sejarah dan penafsiaran tentang kenyataan sejarah.

BAB 6. LANDASAN ETIS DALAM KAJIAN SEJARAH

Sebagian sejarawan tidak sependapat bahwa nilai suatu peristiwa itu ditentukan oleh peneliti. Dalam kajian sejarah, persoalan ini disebut perdebatan antara subjektivisme dan objektivisme. Bagi aliran subjektivisme, pengkisahan peristiwa masalalu tidak dapat dihindari dari unsur subjektif. Menurut aliran ini, pintu masuk penulisan sejarah itu bersifat subjektif.

Ada beberapa argumen yang diajukan oleh sejarawan pendukung aliran ini, antara lain alasan induksi, alasan relativisme, alasan bahasa dan alasan idealistis.

(11)

8

Argumentasi yang disampaikan aliran objektivisme sekalipun terkesan mempertahankan diri dan bukan menyerang, namun terasa argumentatif, melupiti: pertama, pemilihan objek penelitian. Kedua, bahan yang diteliti sejarawan telah mengandung nilai-nilai pada masa lalu. Ketiga, alasan seleksi.

BAB 7. KESIMPULAN

Pertama, mempelajari filsafat sejarah memberikan kepada pengkajianya wawasan untuk memandang sejarah lebih luas dan lebih kritis. Kedua, filsafat sejarah dibagi ke dalam filsafat sejarah spekulatif dan filsafat sejarah kritis. Ketiga, adapun filsafat sejarah kritis membawa para pengkajianya untuk melihat posisi para sejarawan di dalam mengkaji sejarah kritis, para sejarawan sedang melihat dirinya di dalam mengkaji sejarah. Keempat, sekalipun filsafat sejarah khususnya sejarah spekulatif tidak langsung terkait dengan fakta sejarah di lapangan, tapi pemahaman akan filsafat sejarah dapat memeberikan analisis mendalam tentang fakta sejarah.

(12)

9 BAB III PEMBAHASAN

3.1 Kelebihan dan Kekurangan Buku

Dari segi cover atau tampilan, buku ini memiliki desain cover yang cukup menarik dan dengan jelas menggambarkan mengenai Filsafat. Kemudian dari segi bibliografi atau identitas, identitas dari buku sudah lengkap. Dari segi kelengkapan bagian, mulai dari kata pengantar, tinjauan teoritis, metode penelitian, hasil, pembahasan serta kesimpulan semuanya lengkap lalu diikuti dengan daftar pustaka. Metode yang digunakan dalam buku ini adalah dengan menggunakan metode tinjauan literasi yang diambil dari buku atau referensi tulis lainnya.

Dari segi bahasa dan tulisan, Bahasa yang digunakan dalam buku merupakan bahasa Indonesia sehingga memudahkan pembaca dalam memahaminya. Bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca.

Dari segi bahasa dan tulisan, meskipun telah menggunakan bahasa yang mudah untuk dipahami oleh pembaca, namun demikian masih ada beberapa kata atau kalimat yang tidak sesuai dengan kaidah EYD font yang digunakan adalah Times New Roman 12pt. Buku ini juga terkesan rapi karena menggunakan Justify sehingga enak untuk dibaca.

Target penulis dalam penulisan buku ini secara umum ditujukan terhadap masyarakat umum baik meliputi masyarakat biasa hingga pemerintah dan secara khusus ditujukan kepada mahasiswa yang mana disajikan dengan baik dalam konsep buku ajar dan buku ini juga tampak mampu memaparkan materi dengan sangat lengkap mengenai ”Filsafat Sejarah”. Dalam setiap bab dalam buku ini dilengkapi dengan berbagai penjelasan yang didukung dengan pendapat para ahli dan dilengkapi dengan case methode atau contoh permasalahan yang relevan yang nantinya akan mempermudah pembaca akan materi yang disampaikan dalam setiap bab.

Buku ini sudah sangat cocok dalam memperkaya wawasan dan pengetahuan kita seputar Filsafat Sejarah. Buku ini dangat bagus dalam menjelaskan Filsafat Sejarah yang secara umum yang dikemas dengan berbagi sumber dan rujukan yang banyak sehingga mempermudah kita dalam memahami konsep Filsafat sejarah dan penerapannya dalam berbagai bidang kehidupan manusia.

(13)

10 BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan Critical Book Report yang telah saya lakukan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa isi buku tersebut memiliki pembahasan mengenai Filsafat Sejarah. Pembahasan materi pada setiap bab juga lengkap dan tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing- masing. Buku ini sudah sangat layak dan bagus untuk dibaca serta dijadikan bahan referensi baik bagi pendidik maupun bagi mahasiswa.

4.2 Saran

Buku yang saya bahas dalam Critical Book Report ini sangat direkomendasikan bagi siapapun yang ingin mencari bahan referensi atau rujukan yang berkaitan dengan Filsafat Sejarah. Dalam hal ini, tentunya penulis menyadari bahwa dalam penulisan Critical Book Report ini masih terdapat banyak kesalahan akibat minimnya pengetahuan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan masukan-masukan dari kritik yang membangun dari pembaca, baik dari bapak ibu dosen atau teman-teman sekalian yang akan menjadikan diri saya lebih baik kedepannya.

(14)

11

DAFTAR PUSTAKA

Saragih,Syahrul Nizar. 2019. FILSAFAT SEJARAH. Yogyakarta. K-Media.

Referensi

Dokumen terkait