• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eksplorasi Resistensi nyamuk Aedes Sp Dengan Metode Susceptibility Menggunakan Insektisida Malathion 0,8% dan Lamdacyhalotrin 0,03% di Kabupaten Banyumas

N/A
N/A
Fajar Rizki

Academic year: 2023

Membagikan "Eksplorasi Resistensi nyamuk Aedes Sp Dengan Metode Susceptibility Menggunakan Insektisida Malathion 0,8% dan Lamdacyhalotrin 0,03% di Kabupaten Banyumas"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

CASE REPORT

Eksplorasi Resistensi nyamuk Aedes Sp Dengan Metode Susceptibility Menggunakan Insektisida Malathion 0,8% dan Lamdacyhalotrin 0,03% di Kabupaten Banyumas

.

Faishal Syahrul Muiz Khanapi (6411421052), Dewi Triwahyuni Artanauli (6411421053), Mohammad Fajar Rizki (6411421065), Christian Suan Fernando Tarigan (6411421069),

Putri Daffa Dianlin (6411421071)

Epidemiologi Reguler Abstrak

Latar Belakang Demam Dengue (DD) merupakan penyakit yang diakibatkan oleh empat antigen saling terkait, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4, termasuk dalam genus Flavivirus. Zat pembasmi serangga digunakan dalam pemberantasan nyamuk secara kimiawi, tetapi cara ini menyebabkan nyamuk menjadi kebal. Tujuan Penelitian untuk mengetahui status kekebalan nyamuk Aedes SP sebagai vektor utama DBD di Desa Kedungrandu Kecamatan Patikraja dan di Desa Sidamulih Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas terhadap insektisida Malathion 0,8% dan Lamdacyhalotrin 0,03%. Jenis Penelitian eksplorasi.

Hasil Penelitian insektisida Malathion 0,8% menunjukkan angka kematian sebesar 8,75%

pada uji Susceptibility test di Desa Kedungrandu, dan 15% serta 11,25% di Desa Sidamulih.

Sedangkan Lamdacyhalotrin 0,03% menunjukkan angka kematian 100% pada uji sensitivitas di Desa Kedungrandu, dan 92,5% di Desa Sidamulih. Kesimpulan terdapat kekebalan diantara dua Desa, kematian nyamuk uji <80% terhadap Malathion 0,8% dan untuk Lamdacyhalotrin 0,03% kematian uji nyamuk 99%-100% (rentan) di Desa Kedungrandu. sedangkan kematian nyamuk uji 80%-98% (toleran) di Desa Sidamulih. Saran perlu mengganti insektisida jenis Lamdacyhalotrin 0,03% untuk mencegah terjadinya resistensi

Keywords : Aedes Sp, Insektisida, Lamdacyhalotrin 0,03%, Malathion 0,8%, Resistensi

A. Pendahuluan

Demam Dengue (DD) merupakan penyakit yang diakibatkan oleh empat antigen saling terkait, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4, termasuk dalam genus Flavivirus. Bentuk parahnya, Demam Berdarah Dengue (DBD), dapat berpotensi fatal. Virus dengue berada dalam darah selama periode viremia, berkisar 3-14 hari, dengan rata-rata 4-7 hari. Pada fase ini, nyamuk Aedes, vektor penular utama, menghisap darah penderita dan terinfeksi virus. Dalam tubuh nyamuk, pada suhu sekitar 30°C, dibutuhkan 8-10 hari untuk menyelesaikan masa inkubasi ekstrinsik, dari lambung hingga ke kelenjar ludah. Proses ini krusial dalam penularan virus ke manusia,

(2)

membentuk lingkaran penularan yang melibatkan vektor dan manusia dalam epidemiologi Demam Dengue.

Demam Dengue (DBD) sendiri, disebabkan oleh virus RNA dengue dengan empat serotipe berbeda. Penularan terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai vektor utama. DBD dapat menyerang semua kelompok umur dan terkait erat dengan kondisi lingkungan serta perilaku manusia. Gejala umum melibatkan demam tinggi, nyeri otot dan sendi, ruam kulit, dan dapat menyebabkan pendarahan pada gusi dan hidung. Pada kasus serius, komplikasi seperti sindrom syok dengue dapat mengancam nyawa. Pencegahan DBD melibatkan upaya mengurangi populasi nyamuk vektor dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap praktik pencegahan, seperti penggunaan kelambu dan repellent. Pemahaman lebih lanjut tentang dinamika penularan virus dengue penting untuk pengembangan strategi pencegahan yang efektif.

Pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) di beberapa kabupaten yang menghadapi masalah DBD dilakukan melalui penggunaan insektisida, seperti Malathion dari golongan Organophosphat dan lamdacyhalotrin, serta Sipermethrin dari golongan Synthetic Pyrethroid. Namun, kebijakan penggunaan insektisida bersifat selektif, terutama disebabkan oleh keterbatasan anggaran dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Beberapa kabupaten memilih penggunaan insektisida secara selektif sesuai kebutuhan program, sementara kabupaten lain mungkin terpaksa menggunakan insektisida untuk menjaga efektivitas pengendalian vektor DBD meskipun anggaran terbatas (Sunaryo, dkk, 2014).

B. Kasus

Analisis prevalensi dilakukan untuk mengetahui seberapa sering kasus DBD terjadi di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, dan Desa Sidamulih, Kecamatan Rawalo, perhitungan didapatkan dari jumlah kasus dibagi jumlah penduduk kemudian dikalikan dengan 100%. Tahun 2015 Puskesmas Patikraja adalah 0,06, sedangkan tahun 2016 Puskesmas Rawalo adalah 0,10, ini berarti terdapat 0,06 kasus yang terjadi per 7.651 populasi penduduk Desa Kedungrandu dan 1,10 kasus terjadi per 6.831 populasi penduduk Desa Sidamulih.

(3)

Gambar 1. Data Bulanan Kasus DBD di Desa Kedungrandu Tahun 2015 (Sumber:

Data Puskesmas Patikraja Tahun 2015) Berdasarkan karakteristik waktu kasus DBD di kedua desa menunjukkan terdapat perbedaan bulan dengan jumlah kasus tertinggi, bulan September merupakan bulan dengan jumlah kasus tertinggi di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, karena bionomik dan lingkungan yang lebih terbuka, terdapat kebun, sungai dan semak belukar.

Gambar 2. Data Bulanan Kasus DBD di Desa Sidamulih Tahun 2016

Bulan Maret dan April merupakan bulan dengan jumlah kasus tertinggi di Desa Sidamulih, Kecamatan Rawalo. berdasarkan data terdapat variasi rata-rata curah hujan di setiap kecamatan Kabupaten Banyumas. Karakteristik waktu merupakan hal yang cukup penting dalam menentukan definisi kasus dan komponen dasar dalam menentukan penyebab. Hal tersebut dikarenakan timbulnya penyakit dapat berubah setiap waktu. Kasus DBD meningkat pada bulan Desember-April dan diimbangi dengan meningkatnya curah hujan pada bulan tersebut (Boewono, D.T, dkk, 2012, dalam Rika Kurniawati, dkk, 2015).

Penularan DBD meningkat pada musim penghujan ketika suhu dan kelembaban udara sesuai bagi terbentuknya habitat tempat berkembangbiaknya nyamuk (breeding places) dan lebih panjangnya umur nyamuk. Kondisi suhu di kedua desa tersebut masih memungkinkan nyamuk untuk berkembangbiak, sedangkan suhu rata-rata optimum untuk perkembangan nyamuk adalah 25°-27°C. Pertumbuhan nyamuk akan terhenti bila suhu kurang dari 10°C atau lebih dari 40° C (Ditjen PP&PL, 2001, dalam Rahmayanti Amini, 2017).

Penyajian materi Aris Santjaka pada Seminar Nasional 2016 menyebutkan bahwa nyamuk tidak tahan pada suhu 330C (Manson’s, 2009), karena siklus ekstrinsik

(4)

agen terganggu pada tubuh nyamuk, sedangkan hasil penelitian dengan menggunakan estimasi 33,690C dengan catatan sinar matahari masuk ke permukaan tanah, sehingga mengurangi kelembaban, karena nyamuk termasuk binatang berdarah dingin, sehingga metabolisme dan siklus kehidupannya tergantung pada suhu lingkungan, pengaturan suhu tubuh sangat tergantung pada lingkungannya (Aris Santjaka, 2013).

Peran suhu yang cukup besar terkait dengan sistem pernafasan nyamuk itu sendiri, dimana sistem pernafasan menggunakan sistem trachea yaitu alat pernapasan yang dimiliki oleh nyamuk yang bermuara pada spiracle yaitu lubang kecil berdiameter 1 mm. Spiracle akan tertutup saat nyamuk sedang beristirahat dan terbuka sesaat jika dibutuhkan, namun jika nyamuk terbang justru spiracle akan terbuka. Tertutupnya spiracle saat istirahat dimaksudkan supaya nyamuk tidak kekurangan banyak cairan, karena nyamuk tidak mempunyai regulator untuk mempertahankan kelembaban tubuhnya, sehingga kelembaban tubuh nyamuk sangat tergantung pada kelembaban lingkungan sekitarnya (Depkes R.I, 2007). Nyamuk tidak mempunyai pembuluh darah tetapi haemolymph atau cairan yang terdiri dari asam amino, lemak protein, glukosa dll, cairan inilah yang berfungsi menjaga kelembaban tubuh nyamuk, sehingga jika terjadi ketidak seimbangan elektrolit sedikit saja akan mengalami dehidrasi dan nyamuk akan mati (Aris Santjaka, 2013).

Penyakit DBD juga dapat menyerang semua kelompok umur baik laki-laki maupun perempuan. Hal tersebut dikarenakan munculnya kasus DBD berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku. Aktivitas rutin sehari-hari dengan rata-rata berada di dalam gedung atau ruang sekolah, mobilitas tinggi dan banyak bertemu dengan orang lain lebih meningkatkan resiko terkena gigitan nyamuk Aedes Sp, sehingga terjadi multibitting (Djati, A.P, dkk, 2012, dalam Rika Kurniawati, dkk, 2015).

Desa Kedungrandu merupakan dataran rendah dan pegunungan dengan ketinggian 72 meter di atas permukaan laut dengan suhu masih dalam batas normal (rata-rata suhu 32°C). Areal persawahan mendominasi keadaan/ fungsi tanah di Desa Kedungrandu. Desa Sidamulih merupakan wilayah Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, dengan luas wilayah Desa Sidamulih 842,30 Ha atau 8,423 km², sebagian besar wilayah Desa Sidamulih merupakan persawahan dan ladang kering dengan iklim sama dengan rata-rata di Jawa tengah, sehingga kondisi geografis kedua desa tersebut dapat mempengaruhi kejadian DBD, ketinggian di Desa Kedungrandu masih kurang dari 1.000m dan sangat memungkinkan menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk, karena Aedes Sp dapat hidup dan berkembang biak sampai ketinggian daerah ±1.000 mdpl. Pada ketinggian diatas ± 1.000 mdpl, suhu terlalu rendah, sehingga tidak memungkinkan nyamuk berkembang biak (Soegeng Soegijanto, 2008).

C. Diskusi

Upaya pengendalian vektor DBD di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja dan di Desa Sidamulih, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas dilakukan dengan penggunaan insektisida golongan organofosfat yaitu malathion 0,8% dan golongan

(5)

piretroid sintetis yaitu lamdacyhalotrin 0,03%. Pemilihan kedua insektisida tersebut karena efektif dalam mengendalikan keberadaan nyamuk Aedes sp sehingga menurunkan potensi penularan DBD. Kedua insektisida tersebut juga memiliki sifat yang relatif rendah beracun bagi manusia dan hewan, sehingga penggunaannya cenderung lebih aman.

Malathion adalah insektisida yang termasuk dalam golongan organofosfat yang memiliki tingkat toksisitas tinggi terhadap serangga, tetapi rendah terhadap mamalia salah satunya manusia. Malathion bekerja dengan cara menghambat enzim asetilkolinesterase (AChE) sehingga menyebabkan hipereksitasi dan menghentikan kerja neurotransmitter yang merangsang asetilkolin pada sinapsis saraf dimana nyamuk akan mengalami kelumpuhan dan kematian.

Gambar 3. Struktur Malathion

Lamdacyhalotrin adalah insektisida yang termasuk dalam golongan piretroid sintetis. Cara kerja dari insektisida ini adalah dengan membiarkan saluran natrium tetap terbuka sehingga menyebabkan hipereksitasi dan dalam beberapa kasus dapat menghambat saraf. Saluran natrium terlibat dalam perambatan potensial aksi di sepanjang akson saraf.

Gambar 4. Struktur Lamdacyhalotrin

Malathion dan lamdacyhalotrin digunakan sebagai insektisida dalam program pengendalian vektor penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Banyumas terutama di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja dan Desa Sidamulih,

(6)

Kecamatan Rawalo. Insektisida tersebut digunakan dengan cara penyemprotan (fogging) menggunakan peralatan khusus agar merata. Tempat penyemprotannya adalah setiap rumah warga di kedua desa tersebut yang terdapat larva dan telur nyamuk Aedes sp dengan jarak 100 meter dari rumah indeks.

Pengendalian vektor DBD di Kabupaten Banyumas menggunakan insektisida dengan bahan campuran Malathion menghasilkan konsentrasi insektisida sebesar 0,8%.

Hal tersebut telah memenuhi prinsip-prinsip Integrated Vector Management (IVM) karena konsentrasi insektisida yang dihasilkan tidak melebihi standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI dimana perbandingan 1 liter insektisida malathion dicampur dengan 19 liter solar, dengan konsentrasi insektisida 5%. Adapun penggunaan insektisida dengan bahan aktif Lamdacyhalothrin di Kabupaten Banyumas untuk fogging focus perimeter HI di Desa Kedungrandu sebesar 25% sedangkan di Desa Sidamulih sebesar 7,69 dengan ratio di kedua desa sebesar 3,25 %. Hal tersebut telah memenuhi prinsip-prinsip Integrated Vector Management (IVM) yang mana dijelaskan dalam Kepmenkes 431 tahun 2007 yaitu HI pada perimeter melebihi 0% dan di wilayah buffer diatas 1%.

Resistensi terjadi karena penggunaan insektisida jenis tertentu dengan frekuensi tertentu terutama fogging focus pada suatu wilayah. Potensi resistensi vektor dapat dilihat berdasarkan hasil informasi dari petugas kesehatan diperoleh keterangan bahwa frekuensi fogging focus di kedua desa menggunakan insektisida yang sama yaitu Cypermetrin golongan Pyretroid di Desa Kedungrandu telah dilakukan sebanyak 8 kali, sedangkan di Desa Sidamulih dilakukan sebanyak 4 kali dalam rentang waktu 3 tahun.

Hal tersebut berkaitan dengan hasil perhitungan HI, CI, BI, yang menunjukkan bahwa kepadatan dan persebaran larva pada Desa Kedungrandu lebih tinggi, sehingga potensi penularannya lebih tinggi didukung dengan hasil kepadatan jentik.

Dari penggunaan kedua insektisida tersebut didapat hasil rata-rata persentase nyamuk pingsan Lamdacyhalotrin 0,03% lebih tinggi dari Malathion 0,8%, hal tersebut itu dapat terjadi karena nyamuk belum pernah terpapar dengan Lamdacyhalotrin 0,03%, meskipun kedua desa sudah pernah terpapar dengan Cypermetrin yang merupakan sama-sama golongan Phyretroid. Artinya jika gugus kimia berbeda mempunyai efek yang berbeda pula. Sementara Malathion 0,8% tidak terlihat efek knockdown dan baru terlihat setelah holding 24 jam.

(7)

Persentase kematian rata-rata nyamuk setelah pengamatan selama 24 jam insektisida Lamdacyhalotrin 0,03% di Desa Kedungrandu menunjukkan kategori rentan, sedangkan pada Desa Sidamulih menunjukkan kategori toleran. Dari kedua insektisida tersebut yang paling resisten adalah Malathion 0,8%, karena telah digunakan dalam jangka waktu yang panjang dan dalam frekuensi tinggi ditambah dengan penggunaan insektisida rumah tangga sehari-hari. Meskipun sudah jarang terpapar Malathion, populasi Aedes sp di kedua desa tersebut masih menurunkan sifat resisten terhadap insektisida ini karena semua golongan Organofosfat memiliki mekanisme kerja yang hampir sama yaitu menghambat kerja enzim asetilkolinesterase.

Malathion 0,8% telah digunakan sebagai insektisida sejak tahun 1991.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Banyumas dari tahun 2010-2014 telah dilakukan 330 kali pelaksanaan fogging focus di Kabupaten Banyumas dimana > 50%

(183 kali) diantaranya menggunakan insektisida Malathion 0,8%. Dari total fogging focus dengan insektisida jenis Malathion 0,8% di Kabupaten Banyumas dari tahun 2010 sampai 2014, 43% (78 kali) diantaranya dilakukan di Kota Purwokerto. Menurut teori rotasi penggunaan insektisida, maka Malathion 0,8% dapat digunakan lagi, tetapi menurut hasil penelitian resistensi bersifat permanen karena mutasi genetik.

D. Penutup

1. Kesimpulan

Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue dengan 4 serotipe berbeda melalui vektor nyamuk Aedes. Di Desa Kedungrandu dan Desa Sidamulih, Kabupaten Banyumas kasus kejadian DBD cenderung meningkat pada musim penghujan karena memiliki kondisi geografis yang memungkinkan untuk berkembang biaknya nyamuk Aedes sp. Upaya pengendalian vektor DBD di kedua desa tersebut menggunakan insektisida golongan organofosfat (Malathion 0,8%) dan golongan piretroid sintetis (Lamdacyhalotrin 0,03%) yang telah memenuhi prinsip-prinsip Integrated Vector Management (IVM).

Dari penggunaan kedua insektisida tersebut didapat hasil rata-rata persentase nyamuk pingsan Lamdacyhalotrin 0,03% lebih tinggi dari Malathion 0,8%, hal tersebut itu dapat terjadi karena nyamuk belum pernah terpapar dengan Lamdacyhalotrin 0,03%, dan penggunaan insektisida Malathion 0,8% yang telah lama dan sering dilakukan telah menyebabkan resistensi pada nyamuk Aedes sp di kedua desa tersebut.

2. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dapat diberikan saran-saran sebagai berikut:

(8)

● Perlu dilakukan upaya pengendalian vektor DBD yang lebih komprehensif, tidak hanya mengandalkan penggunaan insektisida.

● Upaya pengendalian vektor DBD perlu difokuskan pada pencegahan perkembangbiakan nyamuk Aedes sp, misalnya dengan pemberantasan sarang nyamuk dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

● Penggunaan insektisida perlu dilakukan secara selektif dan rotasi insektisida perlu dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya resistensi.

Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan insektisida yang lebih efektif dan tidak menyebabkan resistensi pada nyamuk Aedes sp.

(9)

Daftar Pustaka

Andriyoko, B., Parwati, I., Tjandrawati, A., & Lismayanti, L. (2012). Penentuan Serotipe Virus Dengue dan Gambaran Manifestasi Klinis serta Hematologi Rutin pada Infeksi Virus Dengue. MKB (Majalah Kedokteran Bandung), 44(4), 253–260.

Ikawati, B., Widiastuti, D., & Litbang, B. P. (2014). STATUS RESISTENSI VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE (AEDES AEGYPTI) TERHADAP MALATHION 0,8% DAN PERMETHRIN 0,25% DI PROVINSI JAWA TENGAH. Jurnal Ekologi Kesehatan, 13(2), 146–152.

Muadibah, L. A., Santjaka, A., & Firdaust, M. (n.d.). EKSPLORASI RESISTENSI

NYAMUK AEDES SP DENGAN METODE SUSCEPTIBILITY MENGGUNAKAN INSEKTISIDA MALATHION 0,8% DAN LAMDACYHALOTRIN 0,03%.

Keslingmas, 38(4), 305–364.

Referensi

Dokumen terkait