FAKTOR PENYEBAB MASYARAKAT SUKU SUNDA MENIKAHKAN ANAK PEREMPUANNYA PADA USIA DINI (13-16 Thn)
(Kasus Desa Tanjung Benuang, Kecamatan Pamenang Selatan, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi)
JURNAL
OLEH : RESTI JUNIATI
NPM :10070013
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
STKIP PGRI SUMATERA BARAT PADANG
2014
FAKTOR PENYEBAB MASYARAKAT SUKU SUNDA MENIKAHKAN ANAK PEREMPUANNYA PADA USIA DINI (13-16 Thn)
(Kasus Desa Tanjung Benuang, Kecamatan Pamenang Selatan, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi)
Resti Juniati1 Adiyalmon2 Nilda Elfemi3 Program Studi Pendidikan Sosiologi
STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
Statutory marriage chapter 7 No. 1 of 1974, explained that if a man has reached the age of 19 years and the woman has reached the age of 16 years is allowed to hold marriage. But in reality there are still many teenagers who get married at an early age, especially teenagers who come from the Sundanese community located in the village of Tanjung Benuang. This study aimed to describe the causal factors Sundanese community her children tend to marry at an early age.
This study uses a social definition paradigm with social action theory proposed by Max Weber, by using a qualitative approach with descriptive type. Informants of this research were taken by purposive sampling with the informant criteria: Sundanese community of parents who marry off their daughters at an early age, the brother of the father of teenage girls are married at an early after, and brother of adolescent girls are married at an early age. The type of data in this study is in the form of primary data and secondary data. The data collection techniques in this study in the form of in-depth interviews, observation, and study document. Unit of data analyst in this research that individuals Sundanese communities who marry off their daughters at an early age in the village of Tanjung Benuang. The data analysis performed in this study are: One, noted that generate field notes, second, to collect and sort out, classify and create the index, and the third, to think that the data has the meaning of the data categories.
The study found that the factors causing the Sundanese community tends marry off their daughters at an early age, namely: first, the educational background of parents, second parents work background, third, experience of parental background.
Keyword: Sundanese ethnic communities, wed, daughter, early age.
PENDAHULUAN
Perkawinan adalah salah satu bentuk ibadah yang kesuciannya perlu dijaga oleh kedua belah pihak baik suami maupun istri. Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia yang sejahtera dan kekal selamanya. Perkawinan memerlukan kematangan dan persiapan fisik dan mental karena menikah adalah sesuatu yang sakral dan dapat menentukan jalan hidup seseorang. Pernikahan sesugguhnya adalah perubahan status baru bagi seseorang dan pengakuan status tersebut bagi orang lain ( Suhendi, 2001: 118 ).
Di Desa Tanjung Benuang Kecamatan Pamenang Selatan Kabupaten Merangin Provinsi Jambi memiliki penduduk sebanyak 3246 orang yang terdiri dari berbagai Suku Bangsa di Indonesia seperti, Jawa, Sunda, Melayu, Batak, dan Minang Kabau.
Kesederhanaan kehidupan di pedesaan berdampak pada sederhananya pola pikir masyarakatnya, tidak terkecuali dalam hal perkawinan, untuk sekedar menikah seseorang tidak harus
memiliki persiapan yang cukup dalam hal materi ataupun pendidikan. Asalkan sudah saling mencintai, maka perkawinanpun sudah bisa dilakukan. Biasanya seorang remaja yang sudah memiliki pekerjaan yang relatif baru akan berani untuk melanjutkan ke jenjang perkawinan. Di sinilah sebuah perkawinan dianggap sebatas ketercukupan kebutuhan materi saja, sementara aspek-aspek lainnya terabaikan (Kharlie, 2013 : 205-208).
Menurut Undang- Undang Perkawinan Pasal 7 Nomor I Tahun 1974, dijelaskan bahwa jika pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita berumur 16 tahun sudah boleh melangsungkan perkawinan. Suatu perkawinan dikatakan sah apabila dilakukan menurut hukum perkawinan masing- masing agama dan kepercayaan serta tercatat oleh lembaga yang berwenang menurut perundang- undangan yang berlaku (Kharlie, 2013 : 203).
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di Desa Tanjung Benuang Kecamatan Pamenang Selatan Kabupaten Merangin
Provinsi Jambi, yang terdiri dari berbagai Suku Bangsa di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Melayu, Batak, dan Minangkabau.
Dari berbagai daerah tersebut maka masyarakat yang berasal dari daerah Suku Sunda semuanya menikahkan anak perempuannya pada usia dini, dimana orang tua lebih memilih menikahkan anaknya pada usia dini daripada memberikan dorongan kepada anaknya untuk melanjutkan atau meneruskan pendidikannya. Hal tersebut dikarenakan masyarakat Suku Sunda mempunyai perlakuan yang berbeda dalam pernikahan, dengan sebagian hukum adat menunjukkan kesetaraan yang tinggi bagi perempuan yang menikah, sehingga terjadinya sistem perjodohan dan pernikahan dini yang lazin dialami oleh perempuan, dan karenakan masyarakat Suku Sunda memiliki kepercayaan bahwa jika perempuan mencapai kedewasaan setelah mengalami menstruasi pertamanya karena itu wanita dinikahkan. Dengan begitu dapat dipahami bahwa orang tua yang berasal dari Suku Sunda lebih
cenderung menikahkan anak perempuannya pada usia dini.
Padahal jika dilihat pada masa saat ini yang semakin berkembang sudah jarang ditemui remaja perempuan yang putus sekolah, apalagi pada kenyataan saat ini banyak orang yang tinggal di desa memilih pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikannya, dengan begitu berarti pendidikan sangat penting dan dibutuhkan di zaman modern saat ini. Banyaknya masyarakat Suku Sunda menikahkan anak perempuannya pada usia dini dapat dikarenakan beberapa faktor sehingga terjadinya pernikahan usia dini.
Tujuan dari penelitian ini adalah:
Mendeskripsikan faktor penyebab orang tua yang cenderung menikahkan anak perempuannya pada usia dini (13-16 tahun), Komponen faktor tersebut akan dilihat dari aspek pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan pengalaman orang tua.
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Susila (1998), dengan judul “Faktor-Faktor Penyebab Perkawinan Usia Muda di
Desa Sungai Padi Kecamatan Sangir Kabupaten Solok”, selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Hasanah (2011), dengan judul
“Kebiasaan Perkawinan Usia Muda Di Bawah Tangan Di Jorong Penggambiran Parit Kecamatan Koto Balingka Kabupaten Pasaman Barat”, selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Angelia (2012), dengan judul “Dampak Perkawinan Usia Muda Terhadap Prilaku Sosial ke Nagarian Abai Siat Dharmasraya”.
Ketiga penelitian diatas sama- sama meneliti mengenai menikah pada usia dini yang dilakukan oleh masyarakat.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilakukan selama dua bulan yang mulai dari tanggal 13 Februari 2014 sampai dengan 1 April 2014. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tanjung Benuang Kecamatan Pamenang Selatang Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tulisan atau lisan dari
orang-orang dan prilaku yang dapat diamati, penelitian ini pertipe deskriptif yang menggambarkan berbagai kondisi dan sesuatu hal seperti apa adanya. Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data skunder. Teknik pengumpulan data adalah wawancara, observasi, dan studi dokumentasi.
HASIL PENELITIAN
a. Latar Belakang Pendidikan Orang Tua
Pendidikan sangat mempengaruhi pola berfikir seseorang yang diwujudkan dengan tindakannya, seseorang yang berpendidikan rendah pola berfikirnya tidak akan sama dengan orang yang memiliki pendidikan yang tinggi. Seperti halnya pada masyarakat Suku Sunda yang dapat dikatakan pendidikannya masih tergolong rendah, dimana latar belakang pendidikan orang tua mereka rata-rata berpendidikan pada tingkat SD, SMP, SMA dan jarang yang berpendidikan sampai pada tingkat Perguruan Tinggi.
Latar belakang pendidikan orang tua dapat mempengaruhi pola berfikir orang tua dalam mendidik
anak-anaknya juga, hal tersebutpun dapat dilihat dari motivasi yang diberikan oleh para orang tua terhadap pendidikan anaknya. Orang tua yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi biasanya lebih memiliki motivasi yang besar dalam pendidikan anaknya sehingga motivasi tersebut dapat dirasakan oleh seorang anak untuk terus mencapai cita-citanya, namun lain halnya jika latar belakang pendidikan orang tuanya rendah, ada kalanya seorang anak lebih memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya karena dia merasa tidak ada contoh yang dapat dijadikan panutan dari keberhasilan pendidikan yang ada di dalam keluarganya. Dengan kondisi anak yang tidak lagi melanjutkan pendidikan maka mengakibatkan orang tua mencari jalan keluar agar anaknya tidak hanya berdiam diri dirumahkarena tidak memiliki pekerjaan.
Tindakan tersebut yaitu tindakan rasional instrumental, dalam hal ini aktor tidak hanya menilai cara yang baik untuk mencapai tujuannya tetapi juga
menentukan nilai dari tujuan itu sendiri (Ritzer, 2009: 41).
Maka cara yang dianggap tepat yaitu dengan menikahkan anak perempuannya pada usia dini karena mereka menganggap bahwa ini cara yang terbaik untuk anak mereka dibandingkan anak mereka harus berdiam diri dirumah karena tidak ada kerjaan, maka dengan menikah mereka akan memiliki kegiatan mengurus suami dan keluarganya.
b. Latar Belakang Pekerjaan Orang Tua
Rendahnya pendidikan pada masyarakat Suku Sunda
mengakibatkan mereka
mendapatkan posisi pekerjaan sebagai buruh tani, tukang muat sawit, dan sebagai supir mobil.
Sedangkan para istri membantu suami untuk memenuhi keuangan kelarganya dengan bekerja seperti ikut membantu suami mereka di ladang orang dengan mengumpulkan biji-biji sawit yang berserakan (brondol) untuk dijual ke toke sawit ataupun dengan berjualan.
Hasil dari menjual biji-biji sawit tidak seberapa sehingga belum tentu mampu memenuhi kebutuhan
mereka, maka para orang tua mencari jalan untuk dapat meringankan beban keluarganya, dan cara yang dinilai tepat yaitu dengan menikahkan anaknya pada usia dini.
Tindakan tersebut yaitu tindakan rasional instrumental, dalam hal ini aktor tidak hanya menilai cara yang baik untuk mencapai tujuannya tetapi juga menentukan nilai dari tujuan itu sendiri (Ritzer, 2009: 41).
Dengan anak mereka menikah maka dapat meringankan beban keluarga dan memberikan kehidupan yang layak untuk anak mereka, sehingga anak mereka dapat merasakan kebahagiaan dalam kehidupannya karena kebutuhannya terpenuhi.
c. Latar Belakang Pengalaman Orang Tua
Masyarakat Suku Sunda yang memandang bahwa usia yang tepat untuk melakukan suatu pernikahan itu yaitu dilakukan pada usia 13 dan 14 tahun, karena pada usia tersebut seorang anak telah mengijak pada usia dewasa, pada saat itu anak telah mengalami masa
menstruasi pertama. Masyarakat Sunda sendiri memandang pernikahan pada usia dini adalah hal yang wajar terjadi
Tindakan yang didasarkan atas kebiasaan dalam mengerjakan sesuatu di masa lalu disebut dengan tindakan Tradisional Action (Ritzer, 2009: 41).
Dengan begitu maka kepada generasi berikutnya mau tidak mau mereka memandang pernikahan usia dini adalah hal yang biasa-biasa saja karena orang tua merekapun menikah pada usia dini juga.
Adapun hal yang dianggap penting dari terjadinya pernikahan pada usia dini yaitu status baru yang dapat membuat seseorang lebih tinggi stratifikasinya dimasyarakat dari pada masyarakat yang belum menikah.
KESIMPULAN
A. Faktor penyebab masyarakat Suku Sunda menikahkan anak perempuannya pada usia dini adalah:
1. Latar belakang pendidikan orang tua dapat mempengaruhi bagaimana para orang tua memikirkan akan masa depan
anak-anaknya. Hal tersebut akan terlihat bagaimana motivasi orang tua dalam memeberikan pendidikan kepada anak- anakanya.
2. Latar belakang pekerjaan orang tua, masyarakat Suku Sunda menempatkan posisi pekerjaan sebagai buruh tani, supir, dan tukang muat sawit, tidak jarang mereka mengalami krisis keuangan sehingga hal tersebutlah yang mengakibatkan para orang tua setuju untuk menikahkan anak perempuannya pada usia dini karena merasa dengan cara itulah mampu meringankan kehidupan keluarganya.
3. Latar belakang pengalaman orang tua Para orang tua yang juga mengalami menikah pada usia dini karena pada masa itu beranggapan bahwa jika anak perempuan lama menikahnya maka akan susah mendapatkan jodohnya, pengalaman tersebutlah yang membuat para orang tua setuju untuk
menikahkan anak perempuannya pada usia dini.
DAFTAR PUSTAKA
Kharlie, Tholabi, Ahmad, 2013.
Hukum Keluarga Indonesia. Jakarta, Sinar Grafika.
Ritzer, George, 2009. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda.
Jakarta, Rajawali Pers.
Suhendi, Hendi, 2011. Pengantar sosiologi keluarga. Bandung, Pustaka Setia
Undang –Undang Pokok
Perkawinan, 2007. Jakarta, Sinar Grafika.
Angelia Inge, (2012). Dampak Perkawinan Usia Muda Terhadap Prilaku Sosial (Studi Kasus Kenagarian Abai Siat Dharmasraya). Skripsi Fakultas Ilmu Sosial. UNP
Hanim Havizatul. (2009). Strategi Pasangan Yang Menikah Bawah Umur Dalam Mempertahankan Keutuhan Rumah Tangga ( kasus kenagarian mungka, kecamatan mungka, kabupaten lima pulu kota).
Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. UNAND
Hasanah Uswatun. (2011).
Kebiasaan Perkawinan Usia Muda Dibawah Tangan Di Jorong Penggambiran Kenagarian Parit Kecamatan Koto Balingka Kabupaten Pasaman Barat. Skripsi Fakultas Ilmu Sosial. UNP , Padang.
88 Hal.