KARYA ILMIAH TERAPAN
FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KETERLAMBATAN WAKTU BONGKAR MUAT KAPAL MV PUL MANDIRI DI
PELABUHAN
Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pendidikan dan Pelatihan Pelaut Diploma III Pelayaran
LUQMAN DWI HIDAYAT NIT 05.17.057.1.53
AHLI NAUTIKA TINGKAT III
PROGRAM DIPLOMA III PELAYARAN POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA
2020
FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KETERLAMBATAN WAKTU BONGKAR MUAT KAPAL MV PUL MANDIRI DI
PELABUHAN
Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pendidikan dan Pelatihan Pelaut Diploma III
LUQMAN DWI HIDAYAT NIT 05.17.057.1.53
AHLI NAUTIKA TINGKAT III PERNYATAAN KEASLIAN
PROGRAM DIPLOMA III PELAYARAN POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA
2020
ii
PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Luqman Dwi Hidayat
Nomor Induk Taruna : 05.17.057.1.53
Program Diklat : Ahli Nautika Tingkat III Menyatakan bahwa KIT yang saya tulis dengan judul :
FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KETERLAMBATAN WAKTU BONGKAR MUAT KAPAL MV PUL MANDIRI DI PELABUHAN Merupakan karya asli seluruh ide yang ada dalam KIT tersebut, terkecuali tema dan kutipan yang tidak lain merupakan ide saya sendiri.
Jika pernyataan di atas tersebut terbukti tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Politeknik Pelayaran Surabaya.
SURABAYA, ………
Materai 6000
LUQMAN DWI HIDAYAT
PERSETUJUAN SEMINAR KARYA ILMIAH TERAPAN
Judul
Nama Taruna
: FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA
KETERLAMBATAN WAKTU BONGKAR MUAT KAPAL MV PUL MANDIRI DI PELABUHAN : LUQMAN DWI HIDAYAT
Nomor Induk Taruna : 05.17.057.1.53
Program Diklat :Ahli Nautika Tingkat III
Dengan ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diseminarkan
SURABAYA, 2020
Menyetujui:
Pembimbing I Pembimbing II
DWI HARYANTO,M.M Penata Tk.I(III/d) NIP. 197511252002121006
DWI YANTI M, S.Kom.M.Sc Penata(III/c)
Mengetahui: NIP. 19860616 2008122 001
iv
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat TUHAN oleh karena limpahan berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah atau skripsi ini, dengan judul:
“FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KETERLAMBATAN WAKTU
BONGKAR MUAT KAPAL MV PUL MANDIRI DI PELABUHAN”
Penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini masih terdapat banyak kekurangan baik dari segi bahasa, susunan kalimat, maupun cara penulisan serta pembahasan materi karena keterbatasan penulis dalam menguasai materi, serta data-data yang diperoleh. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis memohon saran dan kritik dari para pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan karya ilmiah ini. Harapan penulis semoga karya ilmiah ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan serta dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.
Pada kesempatan ini pula, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada :
1. Capt. Dian Wahdiana MM selaku Direktur Politeknik pelayaran Surabaya
2. Bapak Daviq Wiratno,M.T.,Mar selaku ketua jurusan Nautika
vi
3. Bapak Dwi Haryanto.M.M. selaku dosen pembimbing I 4. Ibu Dwi Yanti.M,S.Kom.M.Sc. selaku dosen pembimbing II
5. Taruna Taruni Politeknik pelayaran Surabaya yang telah memberikan arahan dan semangat kepada penulis.
Akhir kata penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya ilmiah ini namun tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga Tuhan melimpahkan rahmat-Nya dan memberkati kepada kita semua. AMIN.
SURABAYA, ………..
LUQMAN DWI HIDAYAT
ABSTRAK
LUQMAN DWI HIDAYAT, faktor penyebab terjadinya keterlambatan waktu bongkar muat kapal di pelabuhan. Dibimbing oleh Dwi Haryanto.M.M. dan Dwi Yanti.M,S.Kom.M.Sc.
Pada kenyataan saat ini, banyaknya permasalahan pada saat melaksanakan bongkar muat di pelabuhan yang menyebabkan keterlambatannya waktu bongkar muat kapal, banyak faktor-faktor yang bisa mempengaruhi terlambatnya waktu bongkar muat,contoh keterbatasan nya alat-alat bongkar muat yang ada di atas kapal maupun sarana prasarana yang ada di pelabuhan itu sendiri,serta bisa juga terjadi akibat susah nya persyaratan tunggu kapal dari kapal labuh sampai kapal ikat tali .untuk mencegah hal tersebut maka perlu dipersiapkan pengetahuan tentang cara bongkar muat yang sesuai dengan prosedur yang benar.
Penelitian ini dilaksanakan selama satu tahun dengan lokasi penelitian yaitu kapal Mv. Pul Mandiri yang merupakan tempat penulis melakukan praktek layar.
Data primer dalam penelitian ini diperoleh secara langsung melalui observasi dengan pihak yang bersangkutan. Peneliti menemukan beberapa kejadian dimana pada saat melakukan bongkar muat banyak faktor yang mempengaruhin keterlambatan pada saat proses bongkar muat kapal di Pelabuhan, contoh nya seperti kerusakan kren kapal ,keterlambatan kendaraan pengankut di darat, kerusakan conveyor ,cuaca buruk ,faktor buruh , dan masih banyak lagi.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada saat melakukan proses bongkar muat banyak faktor yang mencegah terjadinya keterlambatan panda saat proses bongkar muat , baik yang disebabkan dari faktor external maupun yang desebabkan oleh faktor internal. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya perhatian terhadap alat-alat yang akan digunakan pada saat proses bongkar muat pada peneliti dapat memberikan rekomendasi dalam rangka penyelesaian masalah dengan cara memberikan solusi agar kejadian keterlambatan bongkar muat ini tidak menjadi hal yang biasa ,dan perlu di perhatikan dan di benahi oleh seluruh perusaan pelayaran terutama perusahaan yang ada di Indonesian.
Kata kunci : “faktor penyebab terjadinya keterlambatan waktu bongkar muat kapal di Pelabuhan”
viii
ABSTRACT
LUQMAN DWI HIDAYAT, factors causing the delay in loading and unloading of ships at the port. Supervised by Dwi Haryanto.M.M. and Dwi Yanti.M, S.Kom.M.Sc.
In the current reality, there are many problems when carrying out loading and unloading at ports that cause delays in loading and unloading times, many factors that can affect the delay in loading and unloading times, for example the limitations of loading and unloading equipment on board and infrastructure which is in the port itself, and it could also occur due to the difficulty of waiting for ships from anchoring to rope. To prevent this, it is necessary to prepare knowledge about loading and unloading methods in accordance with correct procedures.
This research was conducted for one year with the research location, namely the Mv. Pul Mandiri which is the place where the author does screen practice.
Primary data in this study were obtained directly through observation with the parties concerned. Researchers found several incidents where during loading and unloading many factors influenced delays during the loading and unloading process of ships at the port, for example, damage to ship crutches, delays in land carriers, damage to conveyors, bad weather, labor factors, and many more. .
The results of this study indicate that during the loading and unloading process, many factors prevent delays in the loading and unloading process, both due to external factors and those caused by internal factors. This is due to the lack of attention to the tools that will be used during the loading and unloading process, the researcher can provide recommendations in order to solve the problem by providing solutions so that this delay in loading and unloading events does not become commonplace, and needs to be paid attention and corrected. by all shipping companies, especially companies in Indonesia.
Keywords: "Analysis of the factors causing the delay in loading and unloading of ships at the port"
DAFTAR ISI
PERNYATAAN KEASLIAN ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN SEMINAR KARYA ILMIAH TERAPAN... iii
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRACT ... viii
DAFTAR GAMBAR ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. RUMUSAN MASALAH ... 3
C. BATASAN MASALAH ... 3
D. TUJUAN PENELITIAN ... 4
E. MANFAAT PENELITIAN ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5
A. LANDASAN TEORI ... 5
1. PENGERTIAN BONGKAR MUAT 3 ... 5
2. SARANA PRASARANA PELABUHAN KURANG MEMADAI... 8
3. ALAT BONGKAR MUAT ... 10
4. PENYEBAB KETERLAMBATAN BONGKAR MUAT ... 13
5. KEGIATAN OPERASI BONGKAR MUAT BARANG ... 14
6. PENGERTIAN BONGKAR MUAT ... 18
7. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KETERLAMBATAN BONGKAR MUAT ... 19
B. KERANGKA PENELITIAN ... 23
PENDAHULUAN ... 23
BAB III METODE PENELITIAN ... 24
A. JENIS PENELITIAN ... 24
B. LOKASI PENELITIAN ... 24
C. JENIS DAN SUMBER DATA ... 24
1. Jenis Data ... 25
2. Sumber data. ... 25
x
3. Teknik pengumpulan data. ... 25
1. PEMILIHAN INFORMAN ... 28
2. TEKNIK ANALISA DATA ... 28
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 32
A. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 32
B. HASIL PENELITIAN ... 34
1. Penyajian Data data ... 35
A. Data 1 ... 36
B. Data 2 ... 37
C. Data 3 ... 38
D. data 4 ... 40
E.data 5... 40
2. Analisis Data ... 40
3. PEMBAHASAN ... 42
BAB V 46.PENUTUP ... 46
A. KESIMPULAN ... 46
B. SARAN ... 46
DAFTAR PUSTAKA... 47
Lampiran 1 : Pedoman wawancara ... 49
PEDOMAN WAWANCARA ... 49
LAMPIRAN 2 ... 51
Hasil Wawancara ... 51
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Konveyor ... 11
Gambar 2. 2 Crane... 12
Gambar 2. 3 Truck ... 12
Gambar 3. 1 Hubungan interaktif alur analisis data penelitian ... 29
Gambar 4. 1 KM PUL MANDIRI ... 34
Gambar 4. 2 Perbaikan Block Crane ... 37
Gambar 4. 3 Perbaikan Wire Rope ... 38
Gambar 4. 4 Konveyor Palka 3 Rusak ... 39
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sektor transportasi dalam fungsinya sebagai unsur penunjang dan perangsang memiliki peranan yang sangat besar dalam pembangunan, baik dibidang ekonomi, politik, sosial budaya maupun pertahanan dan keamanan.
Selain itu peranan transportasi sangat penting dalam pembangunan wilayah, khususnya Indonesia yang menuntut penyediaan jasa transportasi kian meningkat baik darat, laut dan udara dalam jumlah maupun mutunya, kalau tidak transportasi laut misalnya akan kehilangan pangsa dan beralih ke jenis transportasi lain seperti transportasi udara dan transportasi darat, demikian juga sebaliknya.
Kapal merupakan sarana angkutan yang penting di negara kepulauan seperti negara Indonesia untuk hubungan antar pulau atau antar negara, karena kapal dianggap sebagai sarana transportasi yang sangat memegang peranan penting.
Oleh karena itu, pengoperasian alat angkutan laut memerlukan biaya yang tinggi, sehingga kecepatan dan ketepatan waktu berlabuh di pelabuhan untuk keperluan bongkar-muat mutlak diperlukan, karena apabila terjadi keterlambatan maka akan membawa dampak kepada biaya pelabuhan .
Pengertian bongkar muat Kegiatan Bongkar Muat adalah kegiatan memindahkan barang-barang dari alat angkut darat, dan untuk melaksanakan
kegiatan pemindahan muatan tersebut dibutuhkan tersedianya fasilitas atau peralatan yang memadai dalam suatu cara atau prosedur pelayanan.
Lancarnya operasi kapal, tentunya dikenal sebagai demorage yakni biaya yang dikenakan kepada kapal apabila terlambat dari waktu yang ditentukan untuk berlabuh disuatu pelabuhan. Kecepatan dan ketepatan bongkar di suatu pelabuhan tergantung dari kelancaran pengangkutan darat (delivery) ke pemilik, di mana apakah setelah dibongkar dari kapal langsung di muat di truk (trucking) dikirim kepada pemilik barang ataukah ketempat gudang pelabuhan. Apabila pengangkutan darat langsung ke pemilik barang, maka sudah tentu pembongkaran muatan menjadi lamban, sehingga dapat menyebabkan keterlambatan kapal untuk memenuhi waktu yang telah ditentukan di pelabuhan. Keterlambatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adalah umur kapal sudah tua, mesin kapal sering mengalami kerusakan dan sebagainya yang akan membawa konsekuensi biaya tinggi, maka perawatan dan perbaikan atas fasilitas-fasilitas transportasi dan fasilitas penunjangnya terus ditingkatkan agar kelancaran kegiatan operasi kapal tetap terjamin. Untuk perusahaan pelayaran, kapal merupakan ujung tombak untuk mendapatkan penghasilan, karena salah satu tujuan perusahaan pelayaran adalah memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya sebagai hasil dari jasa angkutan, untuk kemajuan suatu perusahaan, maka perusahaan pelayaran harus untung artinya pemasukan harus lebih besar dari pengeluarannya, dengan demikian biaya operasi harus ditekan sekecil mungkin. Pendapatan maupun biaya operasi sangat dipengaruhi oleh perawatan kapal yang dilaksanakan dengan baik dan berfungsi menunjang kelancaran operasi kapal.
3
Oleh karna itu pengoperasian alat angkutan laut memerlukan biaya yang tinggi, sehingga kecepatan dan ketepatan waktu berlabuh di pelabuhan untuk keperluan bongkar-muat mutlak diperlukan, karena apabila terjadi keterlambatan maka akan membawa dampak kepada biaya pelabuhan
Permasalahan tersebut dalam suatu karya ilmiah yang berbentuk skripsi yang berjudul :
“FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KETERLAMBATAN
WAKTU BONGKAR MUAT KAPAL MV PUL MANDIRI DI
PELABUHAN”
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang penulis bahas adalah : Apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya keterlambatan waktu bongkar muat?
C. BATASAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, terjadinya keterlambatan waktu bongkar muat di kapal disebabkan karena akan merugikan pihak ekspedisi karena kapal yang bersandar di pelabuhan harus membayar sewa perharinya.
Akibatnya pihak ekspedisi atau distributor barang akan menaikkan harga jual barang di pasaran guna menutupi kerugian akibat waktu tambat kapal yang terlalu lama.
Mengingat luasnya pembahasan maka penulis membatasi masalah hanya berkisar pada penyebab terjadinya keterlambatan waktu bongkar muat yaitu :
1. Penelitian hanya dilakukan pada saat waktu bongkar muat kapal taruna saat melakukan praktek laut (prala)
D. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan karya ilmiah ini yaitu untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya keterlambatan waktu bongkar muat.
E. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan karya ilmiah ini adalah : 1. Sebagai bahan masukan bagi para pembaca khususnya taruna Politeknik
Pelayaran Surabaya tentang pemahaman penyebab terjadinya keterlambatan waktu bongkar muat karena penggolongan jenis muatan 2. Sebagai bahan acuan bagi para pembaca dan para masinis, khususnya bagi
penulis sendiri yang nantinya akan bekerja di atas kapal jika menghadapi persoalan yang serupa selama melakukan pelayaran sehingga dapat mengetahui langkah-langkah yang harus di ambil sebagai tindakan penanganan terhadap kejadian yang serupa.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. LANDASAN TEORI
1. PENGERTIAN BONGKAR MUAT 3
Pengertian Bongkar Muat Menurut Dirk Koleangan, pengertian kegiatan Bongkar Muat adalah sebagai berikut : Kegiatan Bongkar Muat adalah kegiatan memindahkan barang-barang dari alat angkut darat, dan untuk melaksanakan kegiatan pemindahan muatan tersebut dibutuhkan tersedianya fasilitas atau peralatan yang memadai dalam suatu cara atau prosedur pelayanan. Menurut F.D.C. Sudjatmiko (1993 ; 348) : Bongkar Muat adalah pemindahan muatan dari dan keatas kapal untuk ditimbun ke dalam atau langsung diangkut ke tempat pemilik barang dengan melalui dermaga pelabuhan dengan mempergunakan alat pelengkap bongkar muat, baik yang berada di dermaga maupun yang berada di kapal itu sendiri. Sedangkan menurut Subandi (1989 ; 27) yaitu: “Bongkar muat adalah sebuah rangkaian kegiatan perusahaan terminal untuk melaksanakan pemuatan atau pembongkaran dari dan ke atas kapal” pengertian Bongkar- Muat menurut Amir M.S (1999 ; 105) : Pekerjaan membongkar barang dari atas dek atau palka dan menempatkannya ke atas dermaga (kade) atau ke dalam tongkang atau kebalikannya, memuat dari atas dermaga atau dalam tongkang dan menempatkannya ke atas dek atau ke dalam palka dengan menggunakan derek kapal. Menurut Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 33 (2001 ; 5) : Kegiatan Bongkar Muat adalah kegiatan bongkar muat barang dari dan atas ke kapal meliputi kegiatan pembongkaran barang dari palka kapal ke atas dermaga
di lambung kapal atau sebaliknya (stevedoring), kegiatan pemindahan barang dari dermaga di lambung kapal ke gudang/lapangan penumpukan atau sebaliknya (cargodoring) dan kegiatan pengambilan barang dari gudang/lapangan dibawa keatas truk atau sebaliknya (receiving/delivery).
Bongkar-Muat menurut PP. No. 17/1988 didefinisikan sebagai: “Suatu kegiatan jasa yang bergerak yang membongkar ataupun memuat benda atau barang baik dari kapal atau ke kapal yang meliputi dari kegiatan stevedoring, cargodoring dan receiving-delivery”. Keputusan Menteri Perhubungan berdasarkan Undang-undang No.21 Tahun1992, KM Suryo No.14 Tahun 2002, Bab I Pasal 1, Bongkar muat adalah: Kegiatan bongkar muat barang dari dan atau ke kapal meliputi kegiatan pembongkaran barang dari palka kapal ke atas dermaga di lambung kapal ke gudang lapangan penumpukan atau sebaliknya (stevedoring), kegiatan pemindahan barang-barang dari dermaga di lambung kapal ke gudang lapangan penumpukan atau sebaliknya (cargodoring) dan 22 kegiatan pengambilan barang dari gudang atau lapangan di bawa ke atas truk atau sebaliknya (receiving/delivery).
a. Stevedoring : Pekerjaan membongkar barang dari kapal ke dermaga /tongkang /truk atau memuat barang dari dermaga/tongkang/truk ke dalam kapal sampai dengan tersusun dalam palka kapal dengan menggunakan derek kapal atau derek darat.
b. Cargodoring : Pekerjaan melepaskan barang dari tali/jala-jala (eks tackle) di dermaga dan mengangkut dari dermaga ke gudang/lapangan penumpukan selanjutnya menyusun di gudang lapangan atau
7
sebaliknya. Receiving/delivery : Pekerjaan memindahkan barang dari timbunan/tempat penumpukan di gudang/lapangan penumpukan dan c. menyerahkan sampai tersusun di atas kendaraan di pintu
gudang/lapangan penumpukan atau sebaliknya.
Di dalam KM.Suryo No.25 Tahun 2002 ini juga menyebutkan bahwa kegiatan bongkar muat dibedakan menjadi :
a. Bongkar muat direede adalah : Pekerjaan membongkar dari kapal yang tidak bersandar di dermaga ke tongkang di lambung kapal selanjutnya megeluarkan dari tali/jala-jala (eks tackle) dan menyusun di tongkang serta membongkar dari tongkang ke dermaga atau sebaliknya.
b. Bongkar muat langsung ke atau dari dermaga (kade losing/loading) adalah pekerjaan membongkar muatan atau barang dari kapal langsung ke dermaga dan selanjutnya mengeluarkan dari tali/jala-jala (eks tackle) serta menyusun di truck/ tongkang atau sebaliknya.
Mengacu pada beberapa pengertian diatas mengenai Bongkar Muat, maka penulis mencoba membuat suatu kesimpulan yaitu bongkar muat adalah suatu proses kegiatan pemindahan barang dari dan ke atas kapal dengan menggunakan alat bongkar muat yang tersedia di Pelabuhan tempat kegiatan bongkar muat itu dilaksanakan. Adapun kegiatan bongkar barang muatan kapal berlangsung sesuai dengan urutan :
a. Ship operation : Operasi menurunkan muatan langsung ke truk atau ke gerbong kereta api dan/atau ke tongkang, dan melalui gudang/lapangan penumpukan.
b. Quay transfer operation : Operasi pemindahan barang dari dermaga khususnya ke gudang atau lapangan.
c. Storage atau sheld & yard operation : Operasi penyusunan barang secara teratur di gudang/lapangan.
d. Receiving & delivery operation : Operasi serah terima barang yang dapat berlangsung di lokasi dermaga (ke truk atau ke tongkang), dan di sisi darat gudang atau lapangan penumpukan.
2. SARANA PRASARANA PELABUHAN KURANG MEMADAI a. Penyediaan Alat Bongkar Muat
Menurut Capt . Sudjatmiko 1993 pelaksanaan bongkar muat di kapal dilakukan oleh pihak peruasahaan bongkar muat, baik itu mengenai penyediaan tenaga kerja dan alat–alat yang berhubungan dengan peralatan bongkar muat. Namun biasanya untuk peralatan bongkar muat khususnya crane darat perusahaan bongkar muat menyediakan dengan jalan menyewa dari pihak pelabuhan. Keberadaan peralatan bongkar muat seperti crane darat dan rubber tyred gantry yang beroperasi dengan baik merupakan salah satu faktor penunjang kelancaran bongkar muat barang di pelabuhan.
Lebih banyak peralatan yang digunakan dalam proses bongkar muat, akan lebih banyak jumlah muatan yang dapat ditransfer perjam dan mampu mengurangi terjadinya keterlambatan pada pengoperasian kapal. Tidak semua barang/muatan dapat dibongkar atau dimuat dengan peralatan bongkar muat yang ada dikapal. Seperti halnya muatan berat yang di muat oleh kapal ada yang dapat dibongkar dengan menggunakan crane kapal
9
dan ada yang tidak dapat dibongkar dengan menggunakan crane kapal.
Sehingga pemuatan dilakukan dengan menggunakan crane darat karena SWL crane kapal tidak mampu melakukan pekerjaan tersebut. Oleh karena itu diperlukan crane darat untuk melaksanakan hal tersebut yang biasanya disiapkan oleh pihak perusahaan.
b. Penyediaan Kendaraan (truck)
Penyediaan Kendaraan (truck) yang Akan Mengangkut Muatan Kontainer Terjadinya keterlambatan pemuatan juga sering disebabkan karena kurangnya kendaraan yang akan mengangkut kontainer dari gudang penyimpan an ke dermaga. Oleh karena itu sebelum kapal sandar sebaiknya pihak pelabuhan juga mengusahakan kendaraan yang akan mengangkut muatan ke kapal sehingga pihak kapal tidak perlu menunggu muatan yang akan dimuat. Sehubungan dengan hal ini, maka untuk menghindari terjadinya keterlambatan di pelabuhan khususnya pada saat akan memuat kontainer maka pihak perusahaan seharusnya menyediakan peralatan tersebut dengan mengoptimalkan pemakaian dan jumlah agar dapat memberikan pelayanan yang maksimal kepada pengguna jasa pelabuhan, mengingat masih banyak pelabuhan dengan kemampuan pelayanan jasa tambat dermaga yang kecil dibandingkan dengan arus permintaan pelayanan kapal yang masuk ke dermaga tersebut dan membutuhkan pelayanan jasa tambat dermaga untuk pelaksanaan bongkar muat, maka pihak pelabuhan dituntut untuk mengadakan peralatan bongkar muat khususnya untuk pelayanan muat yang tidak dapat
dilakukan dengan peralatan kapal secara optimal sebanding dengan kemampuan jasa tambat bagi kapal-kapal yang sandar atau ada di dermaga. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh pihak pelabuhan dalam menyediakan peralatan bongkar muat antara lain:
1) Tingkat permintaan sekarang dan kapasitas peralatan 2) Stok / jumlah peralatan yang ada
3) Kemungkinan permintaan dimasa mendatang.
Adapun akibat yang terjadi jika peralatan bongkar muat pada pelabuhan sangat rendah (minim) antara lain:
1) Peralatan tidak tersedia jika diperlukan
2) Dermaga hanya bekerja dengan peralatan yang relative kecil 3) Penanganan barang akan sulit dilakukan
4) Biaya akan naik seiring dengan naiknya waktu kapal di pelabuhan 5) Transportasi akan terlambat
Tingginya penumpukan akan lebih rendah dari yang diharapkan kelancaran pelaksanaan bongkar muat di dermaga sangat ditentukan oleh tersedianya peralatan bongkar muat oleh pihak pelabuhan yang diharapkan dapat menghindari / mencegah terjadinya keterlambatan (delay) pada pelabuhan.
3. ALAT BONGKAR MUAT
a. Konveyor (conveyor) adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengangkut atau memindahkan material. Mulai dari material curah hingga material satuan. Menggunakan konveyor Anda bisa
11
memindahkan materi secara mudah dari satu tempat ke tempat lain secara kontinu berapapun jumlahnya.
Gambar 2. 1 Konveyor
b. Crane kapal adalah alat bongkar muat yang dirancang khusus di atas kapal yang digunakan sebagai alat pengangkat. Crane bekerja dengan mengangkat material yang akan dipindahkan, memindahkan secara horizontal, kemudian menurunkan material di tempat yang diinginkan.
Gambar 2. 2 Crane
c. Truck trailer adalah salah satu sarana prasarana yang di sediakan pelabuhan untuk proses bongkar muat di atas kapal sering kita jumpai keterlambatan armada tersebut karena faktor lalu lintas pelabuhan yang sagat padat ,hal itu bias menyebabkan keterlambatan delivery pesanan ke tempat tujuan , begitu juga proses bongkar muat di atas kapal
Gambar 2. 3 Truck
13
4. PENYEBAB KETERLAMBATAN BONGKAR MUAT
Menurut Dirk Koleangan (2008;241) kurang terampilnya ABK yang mengoperasikan peralatan bongkar muat di atas kapal,Nahkoda dan Mualim I sangat berperan penting dalam memberikan pelatihan pelatihan, seperti pelatihan tentang penguasaan pengoperasian alat bongkar muat dan bagaimana pemeliharaan dan pemberian grease pada alat bongkar muat yang digunakan. Anak buah kapal (ABK) yang masih baru maupun yang sudah lama tetap dianggap penting dan perlu untuk mengikuti pelatihan- pelatihan ini agar lebih familiar demi kelancaran proses bongkar muat di atas kapal. Untuk ABK baru, hal-hal yang perlu diperhatikan dan diberikan pada saat pelatihan adalah seperti dibawah ini :
a. Pemahaman tentang prosedur kerja pada saat melaksanakan kegiatan bongkar muat muatan, serta pemahaman tentang tugas dan tanggung jawab setiap ABK.
b. Prosedur tentang bagaimana pengoperasian alat bongkar muat.
Pengenalan akan alat-alat keselamatan terutama yang disiapkan pada kegiatan bongkar muat muatan serta bagaimana mempergunakan alat- alat tersebut.
c. Sebelum melaksanakan bongkar muat ABK kapal harus megecek Kembali peralatan bongkar muat yang akan di gunakan, supaya tidak terjadi kerusakan pada saat melakukan proses bongkar muat ,yang akan meghambat proses bongkar muat.
Setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh perwira diharapkan dapat juga dikuasai oleh anak buah kapal (ABK) , diajarkan melalui pengarahan
pada saat pertama kali berada diatas kapal kemudian dilanjutkan pada setiap saat akan melakukan kegiatan bongkar muat muatan sampai anak buah kapal dapat mengerti dengan baik dan menguasai betul akan tugas dan tanggung-jawabnya pada setiap kegiatan bongkar muat. Untuk anak buah kapal (ABK) yang sudah lama hal-hal yang perlu diberi peningkatan lagi, yaitu sebagai berikut:
a. Lebih meningkatkan keterampilannya dalam menggunakan alat-alat bongkar muat.
b. Lebih memperhatikan dan merawat peralan kapal agar tidak terjadi kerusakan pada saat melakukan bongkar muat.
c. Memberikan contoh cara kerja yang baik dan benar kepada ABK yang baru berada diatas kapal pada setiap kegiatan bongkar muat muatan dan juga pada saat kerja harian.
5. KEGIATAN OPERASI BONGKAR MUAT BARANG
a. PENUNJUKAN PELAKSANAAN KEGIATAN BONGKAR MUAT BARANG
1) Pemilik barang atau perusahaan pelayaran (termasuk agennya) berhak menunjuk Perusahaan Bongkar Muat( PBM).
2) Dalam hal penunjukan kepada perusahaan untuk dapat memindahkan hak pelakasanaannya kepada PBM
3) PBM kemudian mengajukan PKBM ke Otoritas Pelabuhan untuk kemudian Otoritas Pelabuhan (OP) mengeluarkan surat Pemberitahuan Kegiatan Bongkar Muat (PKBM) kepada masing- masing PBM.
15
b. PENGAJUAN PERMOHONAN PELAYANAN BONGKAR MUAT BARANG
Sebelum mengajukan Permohonan Pelayanan kapal dan Barang (PPKB) serta Bongkar Muat Barang, PBM terlebih dahulu
1) mengajukan permohonan pemakaian fasilitas bongkar muat dengan memenuhi berbagai persyaratan yang ditentukan dalam dokumen Surat Perjanjian Kerjasama Parsial yang dipersiapkan perusahaan 2) PBM paling lambat 2 x 24 jam sebelum kedatangan kapal
mengajukan formulir Permohonan Pelayanan Kapal dan Barang (PPKB) dan bongkar muat barang kepada pihak divisi Pelayanan kapal yang terkait yang dilampiri :
a) Dokumen Kapal (Manifast, Packing List).
b) Surat Keterangan Asal Barang (SKAB).
c) Surat Pemberitahuan Kegiatan Bongkar Muat (PKBM) yang telah mendapatkan persetujuan Otoritas Pelabuhan.
d) Surat Permohonan Pelaksanaan Muat untuk Kegiatan Pemuatan.
e) Surat Perjanjian Kerjasama Parsial yang telah ditandatangani kedua belah pihak (Pelindo dan PBM) bagi PBM.
c. PERENCANAAN KEGIATAN BONGKAR MUAT BARANG
1) Dalam waktu paling lambat 2 x 24 jam sebelum kedatangan kapal di pelabuhan Pelayanan Kapal melakukan hal-hal sebagai berikut :
a) Menerima Permohonan Pelayanan Kapal dan Barang (PPKB) dan bongkar muat barang dari pelanggan yang di lampiri : a. Dokume Kargo ( Manifast, Packing List)
b. Surat Keterangan Asal Barang (SKAB)
c. Surat Pemberitahuan Kegiatan Bongkar Muat (PKBM) yang telah mendapat persetujuan Otoritas Pelabuhan
d. Surat Permohonan Pelaksanaan Muat untuk kegiatan pemuatan
e. Surat Perjanjian Kerjasama Parsial yang telah ditanatangani kedua belah pihak (PERUSAHAAN dan PBM)
b) Melakukan klasifikasi tarif sesuai jenis kemasan
c) Berkoordinasi dengan Instansi Kepelabuhanan terkait dengan rencana bongkar muat.
2) Melaksanakan operation planning meeting, yang membahas : a) Tanggal pembongkaran/pemuatan dan penumpukan
b) Jumlah barang yang akan dibongkar/dimuat langsung atau melalui penumpukan
c) Alokasi Gudang/lapangan penumpukan
d) Pengaturan penumpukan/ pembongkaran/ pemuatan e) Kebutuhan SDM (Foreman, heker, Tally< TKBM, dsb) f) Kesiapan alat bongkar muat (mekanis dan non mekanis) g) Kesiapan alat angkut (truck,dsb)
h) Target produktivitas
i) Perkiraan waktu pelaksanaan bongkar muat
17
j) Rencana kebutuhan operasi k) Stowage plan
3) Pihak Pelabuhan divisi Pelayanan kapal Menerbitkan Surat Pemberitahuan Kerja (SPK) kepada PBM
4) Divisi Pelayanan kapal (PPSA) membuat dan mencetak Estimasi Perhitungan Biaya (EPB) yang trdiri atas biaya-biaya :
a) Jasa Dermaga
b) Kerjasama Penggunaan Fasilitas c) Penumukan Gudang/Lapangan d) Pemakaian Alat
5) Berdasarkan EPB, PPSA menerbitkan Surat Perintah Membayar (SPM) kepada PBM dalam rangkap 3 dan didistribusikan kepada:
a) Lembar pertama dan kedua kepada Mitra Kerja (PBM) sebagai dasar pembayaran ke Bank yang ditunjuk
b) Lembar ketiga sebagai arsip Pelabuhan Cabang Tanjung Perak PBM melakukan penyetoran dana ke rekening (aplikasi CMS) atau warkat dana bank yang ditunjuk. Bukti penyetoran (asli) dari bank 6) kemudian diserahkan kepada perusahaan (Keuangan) untuk
dilakukan pengecekan. Apabila saldo rekening PBM kurang maka bukti penyet.
7) Bukti setoran dikembalikan ke PBM untuk diselesaikan dengan Bank yang bersangkutan, dan apabila dana mencukupi maka Pelindo membutuhkan tanda lunas pada bukti setor Bank dan
menyerahkan ke PPSA dan PBM sebagai syarat bahwa pelayanan dapat diberikan
8) (PPSA) kemudian menetapkan rencanapenambatan kapal dalam meeting PPSA, dan hasil penetapan pelayanan tambat dan bongkar muat dibuatkan Berita Acara didistribusikan
9) Berdasarkan berita acara hasil penetapan PPSA pada operation planning, PBM menyiapkan :
a) Alat bongkar muat
b) Alat angkut untuk kelancaran bongkar muat c) SDM operasional (Tally, TKBM)
6. PENGERTIAN BONGKAR MUAT
a. Berdasarkan perencanaan dan kesiapan peralatan B/M dan SDM, PBM melakukan kegiatan bongkar muat :
1) Bongkar muat secara Langsung
2) Bongkar muat via gudang atau lapangan penumpukan 3) Membuat daily report atau disebut juga laporan kegiatan b. Setelah pelaksanaan bongkar muat selesai :
1) PBM membuat laporan akhir kegiatan B/M dan penggunan alat B/M kemudian diserahkan ke Pelindo (Terminal) untuk proses perhitungan biaya realisasi pelayanan, dilampiri dengan :
a) Daily report b) Damage cargo list
c) Bukti pemakaian alat B/M
19
d) Bukti Pemakaian Ruang Penumpukan (BPRP) apabila ada penumpukan barang
2) Membuat lanjutan kegiatan pemantauan ,yang dituangkan dalam job sheet kegiatan atau laporan Kerja Bongkar Muat (LKBM) 3) Melakukan proses perhitungan yang terdiri atas biaya-biaya :
a) Jasa dermaga
b) Kerjasama penggunaan fasilitas c) Penumpukan gudang/lapangan d) Pemakaian alat.
7. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KETERLAMBATAN BONGKAR MUAT
a. Faktor internal
Menurut Capt. Istopo faktor dari dalam yang mempengaruhi terlambat nya waktu bongkar muat kapal .
1) Kurang bersih nya ruang palka saat setelah proses tank cleaning ,mengakibatkan kapal di perintahkan keluar dermaga untuk melaksanakan tank cleaning kembali hingga surveyor menyatakan siap untuk loading.
2) Stowage plan adalah sebuah gambaran rencana pemuatan di atas kapal , apabila pada saat melakukan kegiatan bongkar muat di atas kapal tidak sesuai dengan stowage akibat nya adalah kesalahan memuat muatan di atas kapal contoh jika memuat muatan container otomatis jika tidak sesuai dengan stowage plan akan menyebabkan
over stowage dan tentu saja hal tersebut menghambat proses bongkar muat di atas kapal .
3) Dinas jaga Dalam melaksanakan dinas jaga dek terdapat hal-hal yang harus mendapatkan perhatian khusus demi terlaksananya pekerjaan yang bertanggung jawab, dalam proses bongkar muat tugas dinas jaga adalah mengawasi buruh dalam melakukan proses bongkar muat supaya sesuai dengan stowage plan.
4) Bentuk palka yang tidak sesuai dengan muatan akan menyulitkan tenaga kerja bongkar muat untuk melaksanakan bongkar muat, karena akses untuk buruh masuk palka sangat susah atau susah di jangkau oleh buruh itu sendiri. Maka akan mengakibatkan resiko terjadinya keterlambatan waktu bongkar muat di suatu pelabuhan, hal ini dapat merugikan pihak perusahaan dan pihak pengguna jasa.
b. Faktor external
Menurut Capt. Hyronimus A.faktor-faktor dari luar kapal yang mempengaruhi kegiatan bongkar muat kapal .
1) Faktor alam seperti cuaca buruk atau hujan lebat adalah menghentikan kegiatan bongkar muat demi keselamatan barang dan pekerja di pelabuhan.
2) Kurang terampil nya buruh dalam mengoprasikan alat bongkar muat adalah salah satu faktor penyebab terjadinya keterlambatan waktu bongkar muat karena dalam melakukan proses bongkar muat membutuhkan buruh atau tenagan kerja yang terampil dalam melakukan kegiatan bongkar muat .
21
Sarana prasarana pelabuhan Salah satu faktor penyebab keterlambatan memuat karna akibat peralatan bongkar muat yang bermasalah.Faktor peralatan pada pelabuhan mempunyai faktor dominan dalam menentukan proses bongkar muat. Tanpa peralatan bongkar muat yang memadai, maka proses bongkar muat akan menjadi terkendala.
Variabel peralatan sebagai penyebab keterlambatan bongkar muat sangat banyak, Peralatan Bongkar Muat diperlukan dalam mendukung dan melaksanakan kegiatan bongkar muat tersebut. Faktor penyebab utamanya adalah kurang nya perawatan pada alat-alat bongkar muat tersebut ,sehingga terjadinya kerusakaan pada alat saat waktu bongkar muat di laksanakan Kerusakan alat merupakan suatu kondisi menunggu.
1) perbaikan peralatan yang mengalami kerusakan pada saat melakukan bongkar muat.
Menunggu kedatangan truk merupakan kondisi saat kapal yang sedang melakukan bongkar muat menunggu truk sebagai sarana pemindahan barang. Keterlambatan truk mengakibatkan pembongkaran atau pemuatan harus terhenti, dikarenakan truk merupakan satu-satunya kendaraan pemindah barang dari kapal ke
gudang atau ketempat tujuan lain. Akibat menunggu kedatangan truk, crane tidak bekerja sesuai jadwal, karena barang yang di muat atau dibongkar berasal dari truk. Apabila truk terlambat datang dari dan ke gudang, maka pekerjaan crane juga menjadi terhambat yang menyebabkan terjadinya keterlambatan muatan .
1) perbaikan peralatan yang mengalami kerusakan pada saat melakukan bongkar muat.
Menunggu kedatangan truk merupakan kondisi saat kapal yang sedang melakukan bongkar muat menunggu truk sebagai sarana pemindahan barang. Keterlambatan truk mengakibatkan pembongkaran atau pemuatan harus terhenti, dikarenakan truk merupakan satu-satunya kendaraan pemindah barang dari kapal ke
gudang atau ketempat tujuan lain. Akibat menunggu kedatangan truk, crane tidak bekerja sesuai jadwal, karena barang yang di muat atau dibongkar berasal dari truk. Apabila truk terlambat datang dari dan ke gudang, maka pekerjaan crane juga menjadi terhambat yang menyebabkan terjadinya keterlambatan muatan .
23
Mulai
Faktor penyebab keterlambatan bongkar muat
Factor buruh atau pekerja di atas kapal
Pengumpulan data
Metode pengumpulan data
Penarikan kesimpulan Analisa kesesuaian
PENDAHULUAN Data primer:
1.Survei 2.Wawancara 3.Observasi
Identifikasi permasalahan B. KERANGKA PENELITIAN
BAB III
METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN
Dalam kesempatan penelitian ini dilakukan pendekatan secara analisis kualitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang bertujuan memahami situasi, peristiwa, peran, interaksi dan kelompok.
Menyimpulkan bahwa metode penelitian kualitatif adalah suatu proses investigasi. Metode ini digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah,sebagai eksperimen dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambil sampel sumber, teknik pengumpulan dengan triangulasi, analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna.
B. LOKASI PENELITIAN
Tempat yang digunakan untuk melaksanakan penelitian ini yaitu pada saat penulis melaksanakan praktek layar diatas kapal MV. PUL MANDIRI dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan penelitian ini yaitu selama penulis melaksanakan praktek berlayar selama 12 bulan pada semester 5 sampai semester 6.
C. JENIS DAN SUMBER DATA
Pada bagian ini akan dipaparkan tentang jenis data, sumber data, dan teknik pengumpulan data berdasarkan data, fakta, serta informasi yang pernah dilakukan selama melaksakan praktek berlayar. Paparan tersebut sebagai berikut
25
1. Jenis Data a) Data primer
Menurut Umar, data primer merupakan data yang diperoleh langsung di lapangan oleh peneliti sebagai obyek penulisan. Diambil saat taruna sedang melaksanakan dinas jaga dan meneliti kegiatan bongkar muat di kapal sebagai narasumbernya.
b) Data Sekunder
Menurut Sugiyono, data sekunder adalah data yang tidak langsung diberikan kepada peneliti, misalnya penelitian harus melalui ,yaitu selama penulis melaksanakan praktek berlayar selama 12 bulan pada semester 5 sampai semester 6.
2. Sumber data.
Data-data yang dikumpulkan nanti berasal dari hasil wawancara dengan beberapa informan, juga melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang tampak pada obyek penelitian serta dari buku, buku petunjuk (instruction manual book) diatas kapal, dan internet
3. Teknik pengumpulan data.
Dalam penyampaian sebuah hasil penelitian kedalam sebuah tulisan tentunya harus disusun secara sistematis sesuai tujuan penelitian.
Untuk mempeoleh data-data tersebut secara akurat dan bisa dijamin tingkat validitasnya, maka di perlukan beberapa macam metode pengumpulan data yang didasarkan pada suatu data, fakta, dan informasi
yang pernah dialami oleh penulis pada saat melaksanakan praktek berlayar selama kurang lebih satu tahun.Kemudian dari data, fakta dan informasi yang telah terkumpul tersebut menjadi bahan acuan dalam penyusunan Karya Ilmiah Terapan.
Metode pengumpulan data ada beberapa macam tergantung dari bagaimana penyampaian hasil penelitian tersebut nantinya. Namun demikian dari sekian banyak metode penelitian tidak satu metodepun yang dianggap paling sempurna. Tiap-tiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.Agar tulisan dapat memenuhi kriteria-kriteria yang diwajibkan, maka harus dilengkapi dengan metode pengumpulan data lebih dari satu. Adapun beberapa teknik pengumpulan data yang dapat dilakukan berupa:
a) Metode wawancara
Metode wawancara ini sangat efektif untuk mendapatkan penjelasan yang lebih rinci mengenai pertanyaan-pertanyaan atau banyak hal yang tidak dipahami dalam hal permasalahan yang berhubungan dengan topik yang akan dibahas, diantaranya tentang purifier beserta permasalahan.Wawancara ini dilakukan oleh penulis pada jam kerja atau pada waktu senggang secara berdiskusi.Dalam metode ini data yang diperoleh lebih praktis dan obyektif, karena tidak semua permasalahan diatas kapal dapat dijabarkan secara rinci dalam buku petunjuk (instruction manual book) maupun buku lainnya, melainkan juga berdasarkan atas pengalaman seluruh crew kapal terutama di anjungan atau bridge.
27
a. Metode Observasi
Dalam hal ini penulis melakukan pengamatan langsung di kapal saat melakukan prala, tentang penyebab pada proses terlambat nya waktu bongkar muat kapal di pelabuhan, penyebab internal maupun external serta cara mengatasinya, sehingga data yang didapatkan benar-benar berasal dari narasumbernya langsung. Sementara objek yang akan diamatai langsung oleh penulis yaitu :faktor terlambat nya waktu bongkar muat kapal di pelabuhan.
b. Metode Studi Pustaka
Adalah suatu cara penelitian untuk mengumpulkan data dengan menggunakan buku-buku referensi dan literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang diadakan.
c. Metode Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dengan membaca arsip-arsip yang ada dikamar anjugan atau bridge. Dan segala permasalahan yang dialami oleh penulis sehubungan dengan proses kerja bongkar muat yang kemudian penulis dapat menganalisa dan mengkaitkannya dengan peranan buruh dan awak kapal tersebut. Teknik ini juga digunakan untuk membandingkan keterlibatan kinerja awak kapal dan buruh .
1. PEMILIHAN INFORMAN
Dalam pengumpulan data informan yang diharapkan bisa memberikan informasi pada saat praktek berlayar di atas kapal adalah seluruh crew kapal terutama di bagian deck dan informan lain yang dapat memberikan data yang diperlukan serta dari dosen pembimbing karya ilmiah ini.
2. TEKNIK ANALISA DATA
Kegiatan yang dilakukan setelah memulai langkah-langkah untuk menganalisa yaitu untuk mengadakan penelitian di kapal untuk mengetahui situasi dengan bekal pengetahuan yang di dapatkan dari studi
kepustakaan. Data yang telah diperoleh diolah sesuai dengan teori dan metode yang telah kita tetapkan dari awal sebelum kita melakukan pengumpulan data. Data yang telah kita olah kemudian kita analisa hasil yang diperoleh.Kegiatan analisis data secara garis besar dalam bagian ini adalah mengurangi data dari tiap kasus secara terpisah ke dalam unit unit yang dapat dikelola, mencari pola, menemukan apa yang penting dari tiap kasus sehingga dapat dipelajari untuk dijadikan data awal.
Menurut Miles dan Huberman, proses analisis data deskriptif melalui 3 alur kegiatan yang berlangsung secara bebarengan yaitu :
(1) reduksi data atau penyederhanaan data (2) paparan atau sajian data
(3) penarikan kesimpulan atau verifikasi adalah melihat keteraturan, pola,penjelasan, kemungkinan konfigutrasi,aliran sebab
29
akibatdan proposi. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat dalam gambar di bawah ini.
Gambar 3. 1 Hubungan interaktif alur analisis data penelitian.
Sumber: milles &huberman, 1994
a) Reduksi data
Reduksi data adalah suatu pemilihan pemuatan perhatian pada penyerderhanaan dan transformasi data mentah atau data kasar yang muncul dari catatan tertulis dilapangan.Dalam penelitian kualitatif reduksi data berlangsung secara terus menerus selama pengumpulan data masih berlangsung. Hal ini akan dilakukan oleh peneliti pada kegiatan setiap memperoleh data.
b) Penyajian data
Penyajian data dalam penelitian kualitatif dimaksudkan untuk menyederhanakan informasi yang komplek ke dalam informasi yang sederhana , selektif,dan membantu pemahaman tentang maknanya.
Miles dan Huberman, menjelaskan bahwa penyajian data adalah cara yang lebih baik dan utama bagi analisis kualitatif yang valid. Dengan penyajian data maka seorang penganalisis dapat melihat
sesuatu yang terjadi, menemukan kesimpulan dan pengambilan tindakan selanjutnya.
c) Penarikan kesimpulan
Miles dan Huberman, menjelaskan bahwa sejak awal pengumpulan data penganlisis sudah mulai bekerja untuk mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan, pola penjelasan serta bentuk yang mungkin terjadi, alur sebab akibat dan proposi rencana-rencana. Setelah reduksi data dan penyajian data selesai selanjutnya di teruskan dalam pembuatan kode-kode pola. Sedangkan analisa data di tempuh dengan cara bertahap, yaitu data yang diperoleh secara periodik dianalisis terlebih dahulu kemudian disusun dengan pengumpulan data berikutnya dan di analisis lagi, begitu seterusnya sampai pengumpulan data cukup, cara ini ditempuh sesuai langkah tiga tahap kehadiran peneliti, dan cara ini lebih mudah di lakukan untuk peneliti pemula.
Penyajian data merupakan kegiatan terpenting yang kedua dalam penelitian kualitatif. Penyajian data yaitu sebagai sekumpulan informasi yang tersusun member kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan .
Penyajian data yang sering digunakan untuk data kualitatif pada masa yang lalu adalah dalam bentuk teks naratif dalam puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan halaman. Akan tetapi, teks naratif dalam jumlah yang besar melebihi beban kemampuan manusia dalam memproses informasi.
Manusia tidak cukup mampu memproses informasi yang besar jumlahnya;
31
kecenderungan kognitifnya adalah menyederhanakan informasi yang
kompleks ke dalam kesatuan bentuk yang disederhanakan dan selektif atau konfigurasi yang mudah dipahami. Penyajian data dalam kualitatif sekarang ini juga dapat dilakukan dalam berbagai jenis matriks, grafik, jaringan, dan bagan. Semuanya dirancang untuk menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu padan dan mudah diraih. Jadi, penyajian data merupakan bagian dari analisis.
DAFTAR PUSTAKA Amir M.S (1999 ; ). pengertian bongkar muat. [Online]
[https://www.google.com/search?q=PENGERTIAN+BONGKAR+MUA T&oq=PENGERTIAN+BONGKAR+MUAT+&aqs=chrome..69i57j69i5 Di akses pada tanggal : 7 juni 2019
Capt. Hyronimus A. (1991). faktor external penyebab keterlambatan bongkar muat [Online] 2019.
https://www.google.com/search?q=faktor+penyebab+terjadinya+keterlambat ab+bongkar+muat&oq=faktor+penyebab+terjadinya+keterlambatab+bongkar+
muat+&aqs=chrome
Di akses pada tanggal : 7 mei, 2019
Capt. Istopo . faktor internal penyebab keterlambatan bongkar muat . oktober 29, 2011. [Online] 2019
https://www.google.com/search?q=faktor+penyebab+terjadinya+keterla mbatab+bongkar+muat&oq
Di akses pada tanggal :10 mei, 2019
Capt . Sudjatmiko 1993. sarana pra sarana di pelabuhan. macam macam sarana prasarana di pelabuhan . [Online] 2019.
https://www.google.com/search?q=sarana+prasarana+pelabuhan&oq=sar ana+prasarana+pelabuhan+&aqs=chrome..69i57j0l2.8573j0j9&sourceid
=chrome&ie=UTF-8 .
Di akses pada tanggal : 18 mei 2019
Dianto Dkk . menurut alat bongkar muat di pelabuha.1999. alat-alat bongkar muat kapal di pelabuhan . [Online] 2019
https://www.google.com/search?safe=strict&ei=3LvsXK-
aKYffrQHRh6Yg&q=alat+bongkar+muat&oq=alat+bongkar+muat&gs_
l=psy-ab.12...0.0..9416...0.0..0.0.0...0. .... gws-wiz.WcQh-GXk8II.
Di akses pada tanggal : 18 mei 2019
Dirk Koleangan [2008;241]keterlibatan pihak bongkar muat . keterlibatan sesama pihak di pelabuhan pada saat bongkar muat . [Online] oktober 29, 2011.
https://www.google.com/search?q=prosedur+bongkar+muat&oq=prosed ur+bongkar+muat+&aqs=chrome..69i57j69i59l3j69i61j69i60.6563j0j9&
sourceid=chrome&ie=UTF-8
Di akses pada tanggal : 10 mei, 2019
F.D.C. Sudjatmiko (1993 ; 348). pengertian bongkar muat. [Online]
[https://www.google.com/search?q=PENGERTIAN+BONGKAR+MUA
T&oq=PENGERTIAN+BONGKAR+MUAT+&aqs=chrome..69i57j69i5 9l3j0l2.7470j0j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8
Di akses pada tanggal : 7 juni 2019
KM suryo No.25 Tahun 2002. contoh bongkar muat di km suryo . [Online] maret 16, 2015. http://bagasalbany.blogspot.com/2002/03/tentang-bongkar- muat-kapal.html.
Di akses pada tanggal : 9 juni 2019
Moloeng, 2004,. Contoh penelitian . [Online] maret 16, 2004.
http://bagasalbany.blogspot.com/2002/03/teknik penelitian kapal.html.
Di akses pada tanggal 15 juni 2019
Subandi (1989 ; 27). pengertian bongkar muat. [Online]
[https://www.google.com/search?q=PENGERTIAN+BONGKAR+MUA T&oq=PENGERTIAN+BONGKAR+MUAT+&aqs=chrome..69i57j69i5 9l3j0l2.7470j0j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8
Di akses pada tanggal : 7 juni 2019
Istopo,Capt, 1999, kapal dan muatannya edisi -II, Koperasi Karyawan BP3IP ,BP3IP Jakarta