FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI WANITA MELAKUKAN CERAI GUGAT
( Studi Kasus di Kelurahan Parupuk Tabing Kecamatan Koto Tangah Padang Sumatera Barat )
ARTIKEL E JURNAL
SAPRIDA OKTENSIS NPM :10070001
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
STKIP PGRI SUMATERA BARAT PADANG
2014
Factor That Cause Of Woman Does To Part Sue
(Case Study At Parupuk Tabing's Sub-District Koto Tangah's District West Sumatra Moorland)
Oleh :
Saprida Oktensis* Fachrina** Faishal Yasin**
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat* Dosen Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat**
ABSTRACT
Base data of Religion Justice office brazes 1 a. Deserts West Sumatra at gets that divorce litigates at Parupuk Tabing's sub-district Koto Tanggah's district West Sumatra Moorland of year 2011 until 2013 available 13 woman that does to part sue. To the effect of observational it identifies and description is factors that cause of woman does to part sue at Parupuk Tabing's sub-district, Koto Tanggah's district, West Sumatra moorland. This research utilize kualitatif's approaching with descriptive type. Data collecting tech is done with interview and studi documents. Analisis is data utilizes model Milles and Huberman. Result of this research that factor that cause of woman does to part sue at Parupuk Tabing's sub- district Koto Tangah's district Suamtera's Moorland West: 1. husband goes to stay out / family, 2. inharmonious that reverential marks sense violence in family (KDRT), 3. economic problem.
Keywords: Factor, woman , divorce litigates PENDAHULUAN
Undang – undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 membedakan antara perceraian atas kehendak suami dan dengan perceraian atas kehendak istri. perceraian atas kehendak suami disebut cerai talak dan perceraian atas kehendak istri disebut dengan cerai gugat (Latif, 1985:202).
Pengadilan Agama Kelas 1 A Padang merupakan salah satu lingkungan peradilan dalam kekuasaan kehakiman yang
menangani perkara perceraian, termasuk juga perkara cerai gugat yang menduduki rangking yang tertinggi kasus perkara yang masuk di Pengadilan Agama Padang.
Penggadilan Agama Padang merupakan istansi hukum yang menangani perkara bagi rakyat pencari keadilan khususnya yang beragama Islam diwilayah hukum kota Padang. Setiap tahunnya, di Pengadilan Agama Kelas 1 A Padang perkara cerai gugat
(permohonan cerai diajukan istri) selalu mendominasi perkara cerai talak (permohonan cerai diajukan suami).
Jumlah cerai gugat dan cerai talak yang ada di Pengadilan Agama Kelas 1 A Padang, selama 3 tahun belakangan dari tahun 2011 – 2013 tercatat jumlah cerai gugat selalu lebih tinggi dari cerai talak dimana terdapat 943 cerai talak dan 2004 cerai gugat.
Berdasarkan data perkara perceraian Per-kecamatan di kota Padang yang dilakukan di kantor Pengadilan Agama Kelas 1 A Padang terlihat bahwa kecamatan Koto Tangah menduduki peringkat nomor satu dalam kasus perceraian selama 4 (empat) tahun belakangan. Pada tahun 2013 tercacat 206 perkara perceraian baik itu cerai talak maupun cerai gugat yang terjadi di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang.
Kecamatan Koto Tangah merupakan salah satu kecamatan yang paling banyak/besar angka perceraian di Kota Padang. Dimana, Kecamatan Koto Tangah mempunyai 13 kelurahan. Dari data alamat
informan yang peneliti dapatkan dari Kantor Pengadilan Agama Kelas 1 A Padang, dimana terlihat bahwa Kelurahan Parupuk Tabing jumlah cerai gugat lebih tinggi dari jumlah cerai gugat di kelurahan lainnya.
Jumlah perempuan yang melakukan cerai gugat yang bertempat tinggal di Kelurahan Parupuk Tabing Kecamatan Koto tangah, yaitu pada tahun 2011-2013 tercatat sebanyak 13 perempuan melakukan cerai gugat di kantor Pengadilan Agama Kelas 1 A Padang.
Berangkat dari permasalahan diatas, maka penelitian ini mengkaji lebih lanjut tentang cerai gugat.
Untuk itu penulis mengambil judul:
“Faktor yang Melatarbelakangi Wanita Melakukan Cerai Gugat ( Studi Kasus di Kelurahan Parupuk Tabing Kecamatan Koto Tangah Padang Sumatera Barat)”.
Berangkat dari penjelasan di latarbelakang di atas maka pertanyaan dalam penelitian ini adalah : “Apa Faktor-faktor yang melatarbelakangi wanita melakukan cerai gugat di Kelurahan Parupuk
Tabing Kecamatan Koto Tangah Padang Sumatera Barat ?
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sedangkan tipe penelitian ini adalah deskriptif, informan dalam penelitian ini berjumlah 14 orang.
Teknik pengumpulan data adalah wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan skema model analisis data interaktif yang melibatkan tiga alur kegiatan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi model Milles dan Heberman (Usman, 2009:85).
HASIL PENELITIAN
A. Suami Pergi Meninggalkan Rumah/Keluarga
Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan terhadap perempuan yang menggugat cerai suaminya ke Pengadilan Agama Kelas 1 A Padang, dan bertempat tinggal di Kelurahan Parupuk Tabing, Kecamatan Koto Tangah, ditemukan fakta bahwa terdapat 3 (tiga) informan yang mengatakan telah lama ditinggal oleh suaminya (bukan
meninggal) untuk jangka waktu yang cukup lama yang disertai dengan tidak terpenuhinya nafkah lahir dan batin untuk kebutuhan rumah tangga.
Sehingga sang istrilah sendiri yang harus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Dimana pada saat sekarang ini banyak fenomena yang sangat merisaukan dan mencemaskan para istri. Mereka hidup tanpa disertai oleh suami-suami yang sangat mereka sayangi. Baik suaminya pergi karena kesengajaan, atau karena kondisi yang memaksanya, atau suaminya menghilang tanpa diketahui kabar serta nasib yang menimpanya.
Hal ini terjadi karena suami mereka pergi dari rumah disebabkan karena terjadinya pertengkaran, dan juga suami pergi dengan alasan untuk bekerja, namun tak kunjung kembali dalam jangka waktu yang cukup lama. Bila suami berpergian dan dalam waktu yang cukup lama, tanpa kabar dan berita berwarti kebutuhan lahir dan bathin istri tidak akan terpenuhi.
Undang-undang Perkawinan No.
1 Tahun 1974 dijelaskan bahwa
putusnya perkawinan atas keputusan pengadilan salah satunya adalah dalam hal kepergian salah satu pihak tanpa kabar berita untuk waktu yang lama.
B. Ketidakharmonisan yang Disebabkan Karena Adanya Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)
Kekerasan dalam lingkup rumah tangga juga ditemui dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-undang No 23 Tahun 2004 tentang kekerasan dalam rumah tangga yang menyatakan bahwa : “kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga”. Dimana kekerasan dalam rumah tangga merupakan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain yang berupa serangan fisik, seksual, psikologis, ataupun ekonomi yang
menimbulkan efek negatif secara fisik, emosional, dan psikologis atau menimbulkan rasa sakit dan kesengsaraan pada diri seseorang.
Perilaku kekerasan yang terjadi dalam keluarga bukan merupakan sesuatu yang muncul secara kebetulan, melainkan sesuatu perilaku yang muncul karena terdapat kondisi-kondisi tertentu
yang memancing dan
memunculkannya. Penyebab yang menjadi pemicu munculnya kekerasan dalam rumah tangga sangat beragam, misalnya masalah keuangan, masalah anak, perbedaan pendapat, pekerjaan, adanya pihak ketiga dan lain sebagainya.
Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974 No 1 disebutkan apabila salah satu pihak melakukan kekejaman atas penganiayaan berat yang membahayakan terhadap pihak lain maka seorang istri diperbolehkan untuk melakukan gugat cerai terhadap suaminya.
C. Masalah Ekonomi
Setiap pasangan suami istri pasti mengingginkan keluarga yang sejahtera dan bahagia. Tetapi tidak semua pasangan suami istri
mendapatkannya. Masalah ekonomi lebih sering menjadi penyebabnya, hal ini disebabkan karena ketidakmampuan suami dalam mendapatkan penghasilan yang lebih untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari. Perceraian yang disebabkan oleh masalah ekonomi ini sangat
beragam. Mulai dari
ketidakmampuan orang tua untuk membiayai pendidikan anak- anaknya, tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari mulai dari makanan, pakaian dan juga tempat tingal yang nyaman.
Seperti salah satu tanggung jawab suami yaitu memberi nafkah lahir dan bathin keluarga agar terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan. Namun ternyata, tidak semua suami mengerti dan memahami tentang peranannya dalam rumah tangga yang menjadi tanggung jawabnya. seperti suami yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, penghasilan sedikit atau tidak berpenghasilan rutin.
Karena dengan ekonomi yang rendah seringkali kebutuhan rumah tangga tidak tercukupi, sehingga menyebabkan sering terjadi
percekcokan dalam rumah tangga dan tidak sedikit sang istri melakukan tuntutan cerai kepada suaminya yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dimana teori tindakan rasionalitas instrumental adalah tindakan rasionalitas yang paling tinggi ini meliputi pertimbangan dan pilihan yang sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan alat yang dipergunakan untuk mencapainya (Jhonson, 1986:219).
Secara sadar wanita tersebut melakukan cerai gugat terhadap sang suami tanpa adanya paksaan.
Keputusan untuk bercerai mereka pilih untuk mencapai tujuan yang mereka kehendaki dan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
KESIMPULAN
A. Faktor yang melatarbelakangi wanita melakukan cerai gugat (studi kasus di Kelurahan Parupuk Tabing Kecamatan Koto Tangah Padang Sumatera Barat ).
1. Faktor suami pergi meninggalkanru mah/keluarga
Bahwa faktor yang melatarbelakangi wanita menggugat cerai suaminya karena sudah lama ditinggal oleh suaminya (bukan meninggal).
Dimana suami mereka pergi dari rumah disebabkan karena terjadinya pertengkaran, dan juga suami pergi dengan alasan untuk bekerja, namun tak kunjung kembali dalam jangka waktu yang cukup lama.
2. Faktor ketidakharmonisan yang di sebabkan karena adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
Kekerasan dan pertengkaran yang disebabkan sang suami sering melakukan kekerasan fisik (KDRT) seperti memukul, menampar, berkata kasar/kotor, kurang perhatian dan bahkan menendang.
3. Faktor Ekonomi
Masalah ekonomi menjadi penyebab istri melakukan cerai gugat. Hal ini di sebabkan karena setiap kali sang suami memberikan uang selalu saja tidak mencukupi dan juga tidak tetap sehingga untuk menghidupi
keluarga dan memenuhi kebutuhan rumah tangga selalu saja kurang.
DAFTAR PUSTAKA
Jhonson, Paul dan Doyle. 1986.
Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Latif, M. Djamil. 1985. Aneka Hukum Perceraian di Indonesia. Jakarta : Ghalia Indonesia
Undang-undang Perkawinan Tahun 1974 No. 1
Undang-undang Perceraian Tahun 1994 No. 1 Undang-undang Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) Tahun 2004 No. 23
Usman, Husaini. 2009. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta : Bumi Aksara