• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

Tesis ini merupakan kajian singkat mengenai Propaganda dalam film (Analisis wacana kritis terhadap teknik propaganda anti-Jerman dalam film Stalingrad). Sn selaku pembimbing skripsi ini, yang selalu memberikan masukan dan motivasi agar skripsi ini dapat terselesaikan. Dimana propaganda digunakan untuk menjangkau individu-individu yang dimanipulasi secara psikologis dan disatukan menjadi satu organisasi (sudut pandang) maka metode khusus yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wacana propaganda yang terkandung dalam film Stalingrad dan bagaimana teknik propaganda yang bersifat generalisasi berfungsi untuk menentukan tujuan dari pelaku propaganda, dalam hal ini Rusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wacana propaganda yang terdapat dalam film Stalingrad dan bagaimana teknik propaganda generalitas yang mencolok berperan dalam menetapkan tujuan pelaku propaganda, dalam hal ini Rusia. Selain itu, untuk melengkapi data, peneliti menggunakan dokumentasi dari buku-buku yang berkaitan dengan topik penelitian ini.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah film merupakan media propaganda yang cukup ampuh karena popularitas film dan bentuknya sebagai media hiburan membuat penonton atau penonton tidak mengetahui makna atau maksud lain di balik film yang mereka tonton.

Latar Belakang

Film pertama yang dikenal sebagai film propaganda adalah film tentang Dreyfus Affair di Perancis pada tahun 1896 (Jowwet dan O'donnel, 2006). Propaganda sendiri tidak hanya terjadi pada masa perang, propaganda juga bisa muncul pada masa damai, namun sejarah mencatat bahwa sebagian besar film propaganda dibuat dan ditampilkan pada masa perang atau konflik. Film propaganda Nazi Jerman Im Wald von Katyn (1943), film Hollywood Confessions of a Nazi Spy (1939).

Contoh film propaganda yang diproduksi negara lain antara lain Battleship Potemkin buatan Uni Soviet (1925) dan Hearts of the World (1918) buatan pemerintah Inggris. Pasca Perang Dunia II, perebutan pengaruh antara Uni Soviet dan Amerika yang kita kenal dengan Perang Dingin juga memunculkan film-film propaganda seperti Top Gun (1986), I Was a Communist for the FBI ( 1951) ), dan lain-lain (Cull, Culbert dan Welch, 2003).

ااديِدَس اّلّ ؤ

Rumusan Masalah

Tujuan Dan Manfaat Penelitian

Dari uraian latar belakang di atas, pada titik puncaknya, penelitian ini ingin menjawab pertanyaan: “Apa saja teknik propaganda anti-Jerman yang digunakan dalam film Stalingrad?”. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan penelitian di bidang ilmu komunikasi khususnya komunikasi massa. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi para pembuat film dalam mempersiapkan konsep sebuah ide film.

Kami berharap penelitian ini dapat menjadi kontribusi bagi penelitian selanjutnya serta evaluasi terhadap film-film yang telah dianalisis.

Tinjauan Pustaka

Dalam penelitian ini, peneliti juga menyimpulkan bahwa kepentingan dan ideologi sutradara menentukan bagaimana suatu konsep tertentu digambarkan dalam film. Sebab, jihad yang dihadirkan dalam film Jalan Panjang Menuju Surga tidak sesuai dengan makna jihad dalam Islam yang sebenarnya, berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits. Tidak ada upaya konfirmasi dari pembuatnya mengenai konsep jihad dalam film tersebut, sesuai dengan apa yang dijelaskan Dian Rousta dalam penelitiannya.

13 Penelitian kedua adalah karya Aminah Dewi Ratna, mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga angkatan 2006, dengan topik penelitian “Wacana Pluralisme Agama dalam Film “?” (Pertanyaan)”. Dalam proses analisis data disini terdapat kesamaan dengan penelitian yang ingin dilakukan peneliti yaitu dengan menggunakan dokumentasi dari buku-buku yang berkaitan dengan topik penelitian ini. Dari penelitian ini peneliti sampai pada kesimpulan, wacana pluralisme agama yang terdapat dalam film “?” (Pertanyaan) merupakan pluralisme agama yang bersumber dari pemahaman akan perbedaan yang kemudian diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari untuk mewujudkan perdamaian antar umat beragama.

Tanda dan Makna Pluralisme Agama dalam Film "?" (Tanda tanya) seperti yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh yang bermain dalam film tersebut. Citra yang sangat kuat yang ingin ditunjukkan sutradara menentukan segalanya dalam film ini. 14 bertujuan untuk mendeskripsikan simbol-simbol terapi wicara dari sudut pandang public speaking dalam film The King's Speech.

Penelitian ini bertujuan untuk mengamati tanda-tanda yang dianggap penting dalam penyajian terapi wicara dari sudut pandang public speaking dalam film tersebut. Hasil analisis tersebut kemudian diuraikan berdasarkan analisis terapi wicara dalam perspektif public speaking sesuai dengan praktik terapi wicara dari film The King’s Speech. Dalam meneliti film Stalingrad, poin yang ingin kami capai adalah analisis terhadap praktik propaganda yang terkandung dalam film tersebut.

Landasan Teori

  • Film Sebagai Komunikasi Massa
  • Propaganda
  • Teori Wacana

16 Dalam sejarah media massa tercatat media massa pertama kali ditemukan setelah ditemukannya mesin cetak. Komunikasi massa bukanlah suatu siklus komunikasi yang memerlukan timbal balik antara komunikator dan komunikator. Namun perlu disampaikan lebih mendalam bahwa pola pikir saat ini mengenai istilah propaganda tidak sama dengan propaganda yang muncul di awal.

McQuail menegaskan, media massa saat ini dianggap sangat penting untuk propaganda. Untuk menjelaskan bagaimana propaganda dilakukan, ada tujuh teknik propaganda yang Filene kategorikan untuk memetakan bagaimana propaganda berlangsung. Teknik ini digunakan dengan tujuan untuk menimbulkan rasa takut dan menimbulkan prasangka dengan kata-kata negatif, sehingga menimbulkan opini yang kurang baik.

Teknik ini biasanya digunakan untuk menciptakan kata, frasa, slogan, atau pernyataan yang dikaitkan dengan nilai dan keyakinan yang dianut kuat oleh audiens tanpa memberikan informasi atau alasan yang mendukung. Teknik ini digunakan untuk mentransfer otoritas dan persetujuan dari sesuatu yang kita hormati, dan kita menghormati apa yang ditawarkan oleh propagandis. Oleh karena itu, dalam teknik ini, para propagandis seringkali menggunakan simbol-simbol untuk menggugah emosi dan memenangkan persetujuan penonton.

Teknik ini dilakukan dengan mendekati juru bicara propaganda sebagai tokoh, seseorang yang dapat dipercaya oleh khalayak dan mempunyai kepentingan yang sama dengan khalayak. Teknik ini dapat digunakan dengan melakukan pendekatan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan perasaan penonton sehingga penonton menjadi terlibat secara emosional. Teknik ini digunakan oleh propagandis yang memilih kasus terbaik untuk pihaknya dan kasus terburuk untuk lawannya.

Hal ini merupakan upaya untuk menunjukkan dukungan masyarakat terhadap sang propagandis agar semakin banyak orang yang bergabung dengannya.Teknik ini menggunakan psikologi masyarakat, bahwa mereka selalu ingin berada di pihak yang menang. Dari ketujuh teknik tersebut, inilah teknik propaganda yang pertama kali ditemukan, yaitu propaganda perang yang dilakukan pada era Nazi Jerman.

METODE PENELITIAN

  • Jenis Penelitian
  • Subjek dan Objek Penelitian
  • Metode Pengumpulan Data
  • Metode Analisis Data
  • Metode Keabsahan Data

Dalam penelitian ini data yang disajikan adalah gambaran adegan-adegan yang mengandung unsur propaganda yang terkandung dalam film Stalingrad. Subyek penelitian ini adalah film Stalingrad, sedangkan objek penelitiannya adalah wacana propaganda yang terdapat dalam film Stalingrad. Observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala-gejala yang tampak pada objek penelitian.

Pengamatan secara langsung dilakukan terhadap obyek-obyek yang berada pada lokasi terjadinya peristiwa, sehingga pengamat langsung berada pada lokasi kejadian, sehingga pengamat berada pada obyek yang diteliti. Observasi tidak langsung adalah observasi yang tidak dilakukan pada lokasi terjadinya peristiwa, atau dengan kata lain pengamat tidak ikut serta secara langsung dalam kegiatan atau proses yang diamati. Dalam teknik ini, data sekunder yang berkaitan dengan objek penelitian diperoleh dari sumber tertulis seperti buku, internet, majalah dan sumber lain yang relevan dengan objek penelitian tersebut, untuk memberikan informasi analisis penelitian tentang wacana propaganda dalam film.

Maka dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah model analisis wacana Sara Mills yang termasuk dalam salah satu model analisis wacana kritis selain analisis model Fairclough atau Van Dijk yang banyak digunakan dalam bidang analisis wacana kritis. Model analisis wacana Sara Mills merupakan metode yang lebih melihat struktur realitas hubungan dalam teks dan memecah hierarki teks yang melekat pada posisi hubungan antar objek, serta menentukan bagaimana pencipta dan penciptanya. penonton diposisikan. . Keabsahan data merupakan konsep yang diwujudkan peneliti untuk memvalidasi data yang diperoleh dalam keadaan sebenarnya.

Keaslian data sendiri bertujuan untuk membuktikan bahwa apa yang diamati peneliti sesuai dengan kenyataan sebenarnya. 36 data yang digunakan orang lain ketika membandingkan hasil wawancara, observasi dan dokumen dengan objek penelitian (Moloeng, 2004:330). Dalam penelitian ini, dari keempat jenis triangulasi tersebut, peneliti hanya menggunakan teknik review triangulasi teoritis yaitu kemudian membandingkan hasil akhir penelitian dengan perspektif teoritis yang relevan untuk menciptakan lebih banyak pengetahuan untuk memperoleh kebenaran.

Kesimpulan

91 Pada tataran wacana, dalam pandangan analisis wacana Sara Mills, pada dua tahapan analisis, yaitu posisi subjek-objek dan posisi pembaca atau khalayak, kita menemukan bahwa pada tataran posisi subjek-objek, pihak Rusia diwakili oleh tokoh utama Kapten Gromov yang menduduki posisi subjek yaitu narator dari objek yang dinarasikan yaitu pihak Jerman. Hal ini bisa kita lihat dari seluruh aspek film, baik dari segi penokohan, tokoh, alur, dan setting. Dalam film Stalingrad bercerita tentang posisi tentara Jerman yang selalu gagal membuat strategi untuk menguasai sebuah bangunan yang dikuasai tentara Rusia.

Plot semacam ini telah membentuk hierarki di mana Kapten Gromov adalah pihak kanan (protagonis) dan otomatis tentara Jerman menjadi lawannya. Dalam pola ini, masyarakat akan diidentikkan dengan pihak yang berada di puncak kebenaran. 92 Dari segi propaganda, ada satu kecenderungan dalam film Stalingrad, yaitu konteks sejarah tidak disajikan dengan baik.

Dalam film ini, karakter Khan dan Henz merupakan sosok yang memperkuat asumsi penonton tentang sejarah kelam Jerman yang beredar di masyarakat, seperti: Genosida dan kediktatoran Hitler. Sikap tersebut kemudian digunakan dalam film Stalingrad, yakni memanipulasi dialog atas nama sejarah dan menutupi fakta lain terkait pihak lawan sehingga objek propagandanya didiskreditkan. Alangkah baiknya jika ditujukan misalnya untuk propaganda lingkungan hidup, propaganda pendidikan dan lain sebagainya yang dapat mempengaruhi masyarakat untuk lebih sadar dan bergerak maju.

Selain itu, praktik propaganda dalam film masih dimungkinkan untuk dieksplorasi kembali dari sudut pandang analitis atau perspektif lain di luar analisis tersebut. Hal ini secara alami akan berkontribusi pada pengetahuan yang lebih luas seiring dengan semakin kompleksnya ilmu pengetahuan tertentu. Karya sastra sebagai media perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni; Analisis wacana kritis novel “The Devil’s Dance” karya Saddam Hussein.

Referensi

Dokumen terkait