Untuk mengetahui proses atau langkah-langkah program penerjemahan Al-Quran dalam penggunaan bahasa. Pada abad ke-13 M, terdapat upaya untuk menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia secara manual.
Fokus Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Kami berharap dengan adanya penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai program penerjemahan Al-Qur’an khususnya dalam penggunaan bahasa dan bahasa daerah pada umumnya. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan program penerjemahan Al-Qur'an dalam penggunaan bahasa serta meningkatkan wawasan detail penggunaan bahasa.
Definisi Istilah
Bahasa suku Used menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat banyuwangi, karena dengan bahasa tersebut masyarakat banyuwangi mempunyai jati diri tersendiri dibandingkan dengan masyarakat lain di Indonesia. Walaupun secara geografis tidak hanya masyarakat banyuwangi saja yang menggunakan bahasa ini, seperti yang terjadi di kota Jember khususnya desa Glundengan kecamatan Wuluhan dan beberapa tempat lainnya, namun dialek masyarakat banyuwangi dan luar banyuwangi berbeda. karena pengaruh suku jawa dan madura.
Sistematika Pembahasan
Sedangkan yang membedakan penelitian ini adalah pada objek penelitiannya, dimana peneliti pada penelitian sebelumnya terjemah Al-Quran karya H.B. Kesamaan dalam penelitian ini adalah kesamaan penggunaan variabel penelitian yaitu pembahasan terjemah Al-Qur’an.
Kajian Teori
18 Anwar Nurul Yamin, Taman Mini Alternatif Ajaran Islam Kajian Al-Quran, (Bandung: PT Teen Rosdaskarya, 2004), 101. Ulama ahli al-Qur'an dari Universitas Al-Azhar Mesir, Muhammad Husain al-Dzahabi, memberikan definisinya sendiri mengenai penerjemahan Al-Quran. Hingga saat ini, belum ada satu pun ulama atau faqih yang melarang penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa lain.
Tujuannya adalah untuk berdakwah tentang agama Islam dan mengenalkan syariat serta hakikat Al-Quran kepada semua orang.44. Penerjemahan Al-Qur'an telah menjadi bagian sejarah bagi para cendekiawan muslim sejak zaman dahulu hingga sekarang. Kegiatan menerjemahkan, khususnya menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa asing, bukanlah suatu perbuatan mudah yang dapat dilakukan oleh sembarang orang.
Selain itu dimaksudkan untuk memudahkan para pembaca memeriksa makna sebenarnya demi menjaga keaslian Al-Qur'an itu sendiri.48. Dalam konteks ini, bahasa Al-Qur'an dan bahasa terjemahannya sendiri adalah bahasa Indonesia.
Subyek Penelitian
Pendekatan kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami subjek, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, secara holistik dan melalui uraian dalam bentuk kata dan bahasa, dalam konteks alam tertentu dan dengan menggunakan wawasan ilmiah yang berbeda. metode.58. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan deskriptif. Penelitian lapangan deskriptif merupakan penyelidikan terhadap kenyataan keadaan di lapangan dengan cara mengamati secara langsung untuk memperoleh informasi.
Dalam menggunakan teknik purposive sampling ini, peneliti menentukan subjek penelitian yang paling sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditentukan, yang dilakukan dengan sengaja tanpa direncanakan terlebih dahulu untuk mendapatkan keakuratan.
Teknik Pengumpulan Data
Wawancara adalah suatu peristiwa atau proses interaksi antara pewawancara dengan sumber informasi atau orang yang diwawancarai melalui komunikasi langsung.62. Esterberg mengusulkan berbagai jenis wawancara, yaitu wawancara terstruktur, wawancara semi terstruktur, dan wawancara tidak terstruktur.64. Tujuannya adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka dan jawaban yang diperoleh mencakup seluruh variabel dengan informasi yang lengkap dan mendalam.
Pengetahuan tentang bagaimana proses penerjemahan Al-Qur’an dilakukan dalam penggunaan bahasa, meliputi metode penerjemahan, referensi terjemahan, dan langkah-langkah dalam proses penerjemahan. Metode dokumentasi merupakan suatu cara pengumpulan data dengan cara menelaah bahan-bahan dokumentasi yang ada dan relevan dengan tujuan penelitian. jurnal, prasasti, risalah rapat, ceramah, agenda dan lain sebagainya.66 Cara ini digunakan untuk memperoleh data tentang keadaan umum dan tulisan yang memuat permasalahan atau persoalan yang berkaitan dengan judul skripsi. Teknik pengumpulan data dokumentasi dengan cara meninjau catatan dokumen yang ada untuk mempelajari pengetahuan atau fakta yang ingin diteliti.67.
Analisis Data
Peluang, yaitu segala peluang yang ada sebagai akibat dari kebijakan pemerintah yang dinilai memberikan peluang bagi penerjemahan untuk tumbuh dan berkembang di masa depan. Analisis SWOT artinya analisis berdasarkan Kekuatan-Kelemahan-Peluang-Ancaman, yaitu Kekuatan-Kelemahan-Peluang-Keterbatasan. Analisis SWOT menggunakan matriks evaluasi faktor internal (IFE) dan matriks evaluasi faktor eksternal (EFE), dimana IFE mencakup kekuatan dan kelemahan dan EFE mencakup peluang dan tantangan.
Matriks SWOT menunjukkan delapan bidang, yaitu dua bidang di sebelah kiri menunjukkan faktor eksternal (peluang dan ancaman), dua bidang teratas menunjukkan faktor internal (kekuatan dan kelemahan), dan empat bidang lainnya mewakili isu-isu strategis yang muncul sebagai akibat dari krisis. pertemuan faktor internal dan eksternal. Menurut Setiawan Hari Purnom dan Zulkieflimansyah, berdasarkan hasil analisis SWOT terdapat empat alternatif strategi yang tersedia yaitu strategi SO, WO, ST dan WT. Strategi WO (strategi meminimalkan kelemahan dan memanfaatkan peluang) Ancaman (T) Strategi ST (strategi yang..menggunakan kekuatan dan mengatasi ancaman).
Keabsahan Data
Dalam penelitian ini peneliti memerlukan data yang valid yaitu dengan melakukan wawancara langsung kepada panitia program penerjemahan untuk memperoleh data yang akurat. Untuk menghindari kekeliruan dan kekeliruan dalam data yang dikumpulkan maka sangat perlu dilakukan suatu proses pengecekan keabsahan data tersebut. Dengan kata lain, triangulasi sumber adalah proses pengecekan atau perbandingan hasil wawancara dengan tim penerjemah, termasuk ketua penerjemah dan anggota penerjemah.
Tahap-Tahap Penelitian
Metode dan Rujukan Penerjemahan
Proses penerjemahan Al-Qur’an ke dalam penggunaan bahasa melibatkan metode yang lebih kompleks dibandingkan dengan penerjemahan Al-Qur’an dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Meskipun terjemahan Al-Quran dengan penggunaan bahasa nampaknya mengacu pada Al-Quran dan terjemahan bahasa Indonesia khusus yang diberikan kepada penerjemah oleh Kementerian Agama, namun terjemahan ini bukan sekedar terjemahan terjemahan resmi dari bahasa Indonesia. Kementerian Agama dalam penggunaan bahasa. Proses penerjemahan ini juga melibatkan individu yang memiliki pemahaman terhadap Al-Qur'an dan tentunya memahami Penggunaan Bahasa.
Syamsudini, selaku Ketua Panitia Pelaksana Program Terjemah Al-Quran Menggunakan Bahasa mengatakan: “...Kita terjemahkan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Menggunakan, namun kita harus ahli dalam bahasa Al-Quran. -Al-Quran dan terjemahan bahasa Indonesia khusus yang diberikan kepada penerjemah menjadi tolak ukur dalam menerjemahkan Al-Quran dalam penggunaan bahasa dengan menggunakan gabungan metode dan pendekatan penerjemahan Harfiyyah dan tafsiriyyah. Al-Quran karya Kementerian Agama RI yang khusus diberikan kepada tim penerjemah Al-Quran Bidang Penggunaan Bahasa, dan bukan terjemahan Al-Quran karya Kementerian Agama RI yang telah tersebar luas ke masyarakat umum.
Langkah-Langkah Penerjemahan
Hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran dan terjemahannya dalam penggunaan bahasa diusahakan mencapai hasil yang maksimal. Secara umum, Pak. Tahapan Syamsudini dalam menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam Penggunaan Bahasa sebagai berikut. Hal ini disebabkan karena sulitnya menemukan orang yang memiliki kompetensi pengetahuan al-Qur'an dan sekaligus mampu menggunakan bahasa tersebut.
Hal ini disebabkan sulitnya menemukan individu yang memiliki pemahaman tentang penggunaan bahasa dan pengetahuan Al-Qur’an pada saat yang bersamaan. Penerjemahan Al-Quran dalam penggunaan bahasa dilakukan dengan membagikan 30 juz Al-Qur'an kepada 17 anggota tim penerjemah. Setelah adanya inisiatif Rektor UIN KHAS Jember dan pergantian pimpinan di Kementerian Agama RI dari Fahrur Rozi menjadi Yaqut Cholil Qoumas, maka program penerjemahan Al-Quran dalam Penggunaan Bahasa dapat dilanjutkan kembali.
Kelebihan dan Kekurangan Terjemahan Al-Qur’an Bahasa using
Pak Khusna Amal juga menjelaskan tahap selanjutnya adalah pemutakhiran MOU/Surat Perjanjian Kerja dengan Leaktur Litbang Kemenag RI pada tanggal 21 Mei 2021. Selain itu, pakar Menggunakan Bahasa juga diundang untuk mengkritik dan meningkatkan hasil terjemahan. dan catatan dari tim validator. Tahapan ini diulang beberapa kali hingga akhirnya diputuskan bahwa proses penerjemahan Al-Quran ke dalam penggunaan bahasa telah mencapai tahap akhir sesuai dengan standar proses yang ditetapkan oleh Dosen Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agama RI. 95.
Seperti yang disampaikan oleh pihak Used Banyuwangi yang juga merupakan verifikator program penerjemahan Al-Quran ke bahasa yang digunakan, yaitu Bpk. Samsul Ma'arif, “Penggunaannya masyarakat khususnya masyarakat daerah lebih paham, kadang yang dimaksud dalam bahasa Indonesia ambi seng karena bahasa daerah.”96 Hal senada juga disampaikan Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas, dalam pengantar Penerjemahan Al-Qur'an dalam Penggunaan Bahasa. Melalui penerbitan Al-Qur'an dalam bahasa Banyuwangi diharapkan masyarakat dapat meningkatkan kemampuannya dalam memahami kandungan Al-Qur'an dan menggunakannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari97. Misalnya pada catatan kaki terdapat terjemahan “iktikaf” maka dijelaskan “iktikaf yoiku ono nang jerone masji daoso niat marekno dewek langingine Allah”.98 b. Kekurangan terjemahan Alquran dalam penggunaan bahasa.
Analisis SWOT Program Terjemah Al-Qur’an dalam Bahasa Using
Berikut hasil wawancara dengan berbagai Panitia Program Penerjemahan Al-Quran dalam penggunaan bahasa. Terdapat faktor internal yang mendukung program penerjemahan Al-Quran penggunaan bahasa, antara lain: Abdul Qodir Armaya yang turut serta dalam proses validasi menjadikan penerjemahan Al-Qur'an penggunaan bahasa semakin sempurna.
Koordinasi antar berbagai pihak merupakan bagian yang sangat penting dalam menyelesaikan proses penerjemahan Al-Qur’an ke dalam penggunaan bahasa. Tidak semua elemen masyarakat banyuwangi menerima/mendukung proses penerjemahan Alquran menggunakan bahasa yang dilakukan UIN KHAS Jember. Panitia harus melakukan sosialisasi kepada perguruan tinggi negeri dan negeri tentang adanya program penerjemahan Al-Qur'an dalam menggunakan bahasa.
Pembahasa Temuan
Proses penerjemahan dan validasi Al-Quran menggunakan bahasa memakan waktu kurang lebih 2 bulan, Oktober dan November 2018. Setelah beberapa kali diskusi, program penerjemahan Al-Quran menggunakan bahasa akhirnya dianggap selesai. dosen Kementerian Agama RI. Dalam proses penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa, terdapat beberapa faktor internal/pendukung dan juga faktor eksternal/penghambat.
Sulit untuk menemukan orang yang memiliki keterampilan dalam menggunakan bahasa dan memahami Al-Qur'an. Terjadi pergantian manajemen di Kemanag Pusat dan Covid 19 yang menyebabkan program penerjemahan Al-Qur'an Penggunaan Bahasa terhenti. Tidak semua istilah dalam Al-Qur'an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan ke dalam Penggunaan Bahasa.
Saran
Peluang penerjemahan ini adalah agar hasil terjemahannya dapat memudahkan masyarakat pengguna Banyuwangi dalam memahami Al-Qur'an dan juga dapat dijadikan referensi untuk menerjemahkan Al-Qur'an ke bahasa daerah lainnya. Ancaman penerjemahan ini membuat seluruh elemen masyarakat banyuwangi yang diwakili oleh Dewan Kesenian Blambangan tidak menerima/mendukung program penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Menggunakan UIN KHAS Jember.
DAFTAR PUSTAKA
Ah., M.Si selaku penandatangan MOU kerjasama program penerjemahan Al-Quran dalam penggunaan bahasa.