• Tidak ada hasil yang ditemukan

Farah Sabila Syadza 1512000163 ETS Psikologi Forensik

N/A
N/A
zee

Academic year: 2024

Membagikan "Farah Sabila Syadza 1512000163 ETS Psikologi Forensik"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Farah Sabila Syadza 1512000163 ETS Psikologi Forensik

1. Definisi luas diberikan oleh Monahan dan Loftus (1982) menjelaskan Psikologi Forensik sebagai cabang psikologi yang dapat diaplikasikan dalam area hukum dan peradilan. Sedangkan salah satu definisi sempit dijelaskan oleh Blackburn (1993), dimana psikologi forensik diartikan sebagai penerapan kajian psikologi di proses peradilan. Dari perspektif kepolisian, psikologi forensik dilihat sebagai ilmu yang membantu pengungkapan kejahatan dalam proses hukum. Kajian psikologi forensik lebih menekankan pada aspek

terapan psikologi; sedangkan definisi luas biasanya menjelaskan bahwa kajian psikologi forensik dilakukan baik pada aspek pengembangan riset dan terapan di proses hukum dan peradilan. Dan menurut Bartol dan Bartol (2008) Psikologi Forensik adalah upaya penelitian yang memeriksa aspek perilaku manusia yang terkait dengan proses hukum dan peradilan (misal:

memori dan kesaksian, pembuatan putusan hakim dan juri, perilaku krimimal), dan penerapan profesi psikologi dalam dan atau dengan kaitan dengan sistem hukum, yang mencakup sistem hukum pidana dan perdata, serta interaksi antara keduanya.

2. Profesional psikologi forensik adalah psikolog forensik, dan peran mereka adalah

mengumpulkan, mempelajari, dan menafsirkan dengan benar berbagai data psikologis yang dapat memberikan elemen penting untuk uji coba. Psikolog forensik juga bisa bekerja sama dengan pengacara, ahli, jaksa, dan hakim. Faktanya, psikolog forensik bertindak sebagai ahli ketika menawarkan kesaksian profesional mereka dalam persidangan tertentu, memberikan data dan pengetahuan yang menarik untuk bekerja sama dengan Kehakiman dan memastikan bahwa keadaan kasus dapat diklarifikasi, setidaknya dalam hal apa yang menjadi perhatian. untuk aspek psikologis dan/atau psikopatologis tertentu dari beberapa atau semua pihak yang terlibat. Saat ini, psikolog forensik tidak hanya tertarik untuk memahami mengapa perilaku seperti itu terjadi, tetapi juga membantu meminimalkan dan mencegah tindakan tersebut. Psikolog forensik biasanya memiliki tugas melakukan otopsi psikologi, wawancara investigasi pelaku, wawancara para saksi, dan melakukan criminal profiling atau mencari gambaran perilaku dan profil pelaku.

5 fungsi Psikolog Forensik antara lain yaitu mengetahui kondisi kejiwaan pelaku tindak

pidana, membantu pendekatan psikis pada proses penyidikan, memberi masukan dalam proses penyidikan, menemukan kejanggalan-kejanggalan psikis, mengungkap motif pelaku tindak pidana

3. Asesmen psikolog forensik diantaranya, yaitu wawancara klinis, penggunaan alat tes psikologi seperti tes kecerdasan dan tes kepribadian. Pomerantz (2014) menyebutkan sebuah survey yang dilakukan terhadap para psikolog forensik yang terpercaya dan berpengalaman memeriksa penggunaan tes-tes tertentu untuk tujuan forensik, menunjukkan bahwa tes yang menerima dukungan terkuat (direkomendasikan) adalah tes-tes kepribadian objektif seperti Inventory Kepribadian Multifase Minnesota-2 (MMPI-2), dan tes-tes kecerdasan dengan reliabilitas dan validitas terbukti seperti Skala Inteligensi Wechsler untuk dewasa (WAIS).

MMPI-2 digunakan untuk mengukur kesehatan mental, medikal dan dan preposisi pekerjaan. Tujuannya adalah untuk mengetahui kepribadian seseorang, terutama gangguan-gangguan psikologis yang ada di dalam diri seseorang, seperti gangguan anti sosial, gangguan seksual, gangguan depresi, kehohongan. Dan juga dapat digunakan untuk evaluasi kesehatan mental tersangka (alat forensik kesehatan mental).

(2)

Tujuan dari WAIS yaitu untuk mengungkap intelligensi orang dewasa. Tujuan pemisahan verbal dan performence IQ adalah untuk keperluan diagnosa jika misalnya seseorang mendapat handicap dalam bidang verbal atau cultural.

4. Dengan adanya psikolog forensik, seseorang yang diduga melakukan suatu tindak pidana benar- benar dapat ditelaah terlebih dahulu, apakah benar-benar bersalah atau tidak, dan melalui psikologi forensik dapat ditentukan hukuman apa yang paling sesuai terhadap pelaku tindak pidana tersebut. Praktisi psikologi forensik berperan langsung dalam lapangan dengan memberikan layanan professional psikologi seperti asesmen kondisi mental pelaku, interogasi pelaku kejahatan, dan menjadi saksi ahli dalam persidangan. Contohnya, dalam sebuah lapas, diperlukan kemampuan untuk memberikan intervensi maupun terapi dengan teknik-teknik pendekatan yang sesuai (psikologi klinis) bagi narapidana agar mengurangi permasalahan kriminal dan mengatasi kesejahteraan psikologis penghuni lapas. Pada penanganan pelaku, korban maupun saksi baik pada usia dewasa, remaja, hingga anak-anak, maka dibutuhkan pemahaman ahli (psikologi perkembangan) agar dapat disesuaikan dengan tahapan

perkembangannya. Menurut Probowati (dalam Agung, 2016) yaitu pada area polisi, psikologi forensik membantu dalam melakukan penyelidikan kepada saksi, korban, dan juga pelaku. Pada area kejaksaan, psikologi forensik berperan dalam membantu jaksa dengan memberikan pemahaman mengenai bagaimana memahami kondisi psikolgis pelaku maupun korban, serta memberikan pelatihan mengenai gaya bertanya untuk saksi dalam persidangan. Peran psikologi forensik dalam pengadilan cukup terbatas, yaitu hanya bisa menjadi saksi ahli di persidangan dan hal ini dapat dilakukan apabila psikolog forensik diundang oleh ahli hukum

Referensi

Dokumen terkait