1 PENGARUH ART DRAWING THERAPY TERHADAP TINGKAT KECEMASAN
LANSIA DI POSYANDU FATIMAH SURAKARTA
Alex Dwi Prasela1), Febriana Sartika Sari2), Irna Kartina3)
1)Mahasiswa Prodi Keperawatan Program Sarjana Universitas Kusuma Husada Surakarta [email protected]
2)3)Dosen Prodi Keperawatan Program Sarjana Universitas Kusuma Husada Surakarta
Abstrak
Lansia dengan kondisi perubahan fisik, perubahan mental, perubahan psikologis, dan penyakit akan menimbulkan kecemasan. Ketika kecemasan terjadi terus-menerus, tidak rasional dan intensitasnya meningkat, maka kecemasan dapat mengganggu aktivitas sehari-sehari dan disebut sebagai gangguan kecemasan. Art drawing therapy diharapkan dapat memperbaiki dan menunjang penurunan tingkat kecemasan pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh art drawing therapy terhadap tingkat kecemasan lansia.
Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Rancangan penelitian yang digunakan dalam adalah Quasi Eksperiment dengan menggunakan pre and post test nonequivalent control. Penelitian dilakukan di Posyandu Fatimah Surakarta wilayah kerja Puskesmas Sibela Surakarta. Penelitian ini menggunakan tehnik purposive sampling dengan responden sejumlah 40 lansia. Analisa data dengan menggunakan uji wilcoxon dan Mann Withney.
Hasil uji wilcoxon terdapat perubahan tingkat kecemasan pada kelompok perlakuan dan kontrol dengan nilai bahwa P Value 0,000 dan hasil uji Mann Withney terdapat perubahan tingkat kecemasan nilai P value 0,041<0,05 yang berarti ada perbedaan antara tingkat kecemasan kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.
Kesimpulan terdapat pengaruh art drawing therapy terhadap tingkat kecemasan lansia di Posyandu Fatimah Surakarta
Kata Kunci : Lansia, Kecemasan, Art Drawing Therapy Daftar Pustaka : 41 (2010-2019)
2
STUDY PROGRAM FOR BACHELOR NUSING FACULTY OF HEALTH SCIENCE UNIVERSITY OF KUSUMA HUSADA SURAKARTA 2020
Alex Dwi Prasela
The Effect Of Art Drawing Therapy On The Anxiety Level Of The Elderly In Posyandu Fatimah Surakarta
Abstract
Elderly with conditions of physical changes, mental chenges, psychological changes, and illness will cause anxiety. When anxiety occurs continuously, is irrational and the intensity increases, it can interfere with daily activities and is known as an anxiety disorder. Art drawing therapy is expected to improve and support the reduction of anciety levels in the elderly. This study aims to determine the effect of art drawing therapy on the level of anxiety in the elderly.
This research uses quantitative research. The research design used in this is a Quasy Experiment using pre and post test nonequivalent control. The research was conducted at Posyandu Fatimah Surakarta, the working area of Puskesmas Sibela Surakarta. This study used a purposive sampling technique with 40 elderly respondent.
Data analysis using Wilcoxon and Mann Withney test.
Thw Wilcoxon test result showed a change in the level of anxiety in the treathment and control groups with a value that the P value wass 0,000 and the result of the Mann Withney test showed a change in the anxiety level of the P value 0,041<0,05, which means that there was a difference between the anxiety level of the treathment group and the control group.
The conclusion is that there is an effect of art drawing therapy on the level of anxiety in the elderly at Posyandu Fatimah Surakarta.
Keywords : Elderly, Anxiety, Art Drawing Therapy Bibliography : 41 (2010-2019)
3 PENDAHULUAN
Proses penuaan merupakan suatu proses alami yang tidak dapat dicegah dan merupakan hal yang wajar dialami oleh orang yang diberi karunia umur panjang, dimana semua orang berharap akan menjalani hidup dengan tenang, damai serta menikmati masa pensiun bersama anak dan cucu tercinta dengan penuh kasih sayang, tidak semua lanjut usia dapat mengecap kondisi idaman ini (Hamid, 2010). Menurut World Health Organization (WHO, 2014), mencatat terdapat 600 juta jiwa lansia di seluruh dunia, sedangkan jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2018 adalah 23 juta jiwa dan diperkirakan meningkat menjadi 20% antara tahun 2018-2050 (Kemenkes RI, 2018). Perubahan fisik pada lansia lebih banyak terjadi pada penurunan atau berkurangnya fungsi alat indera dan sistem saraf mereka seperti penurunan jumlah sel dan cairan intra sel, sistem kardiovaskuler, sistem pernapasan, sistem gastrointestinal, sistem endokrin dan sistem musculoskeletal.
Perubahan fisik yang nyata dapat dilihat membuat lansia merasa minder atau kurang percaya diri jika harus berinteraksi dengan lingkungannya (Santrock, 2012). Keadaan ini cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.
Kondisi pada lansia yang disertai dengan
perubahan fisik, perubahan mental, perubahan psikologis, dan penyakit maka akan menimbulkan kecemasan pada lansia (Irawan, 2013).
Kecemasan adalah hal yang normal di dalam kehidupan karena kecem asan sangat dibutuhkan sebagai pertanda akan bahaya yang mengancam. Namun ketika kecemasan terjadi terus-menerus, tidak rasional dan intensitasnya meningkat, maka kecemasan dapat mengganggu aktivitas sehari-sehari dan disebut sebagai gangguan kecemasan (Hawari, 2011). Gangguan kecemasan adalah salah satu gangguan mental yang umum dengan prevalensi seumur hidup yaitu 16%-29% (Hawari, 2013). Angka kejadian kecemasan di Indonesia sekitar 39 juta jiwa dari 238 juta jiwa penduduk (Heningsih dkk, 2014).
Prevalensi kecemasan di provinsi Jawa Tengah pada tahun 2013 sampai 2018 mengalami kenaikan dari sebelumnya 4,6%
naik menjadi 8% (RISKESDAS, 2018).
Apabila kecemasan tidak segera ditangani maka akan muncul beberapa gejala dari kecemasan baik fisik maupun psikis. Gejala fisik meliputi peningkatan detak jantung, pernapasan meningkat, gemetar, lemah, keluar keringat, ujung jari terasa dingin dan lelah. Gejala psikis meliputi perasaan adanya bahaya, kurang percaya diri, tegang, tidak bisa konsentrasi, tidur tidak nyenyak,
4
gelisah dan kebingungan (Hawari, 2011). Kecemasan dapat dikurangi dengan obat-obat farmakologis dan psikoterapi, penanganan kecemasan secara farmakologi yaitu dengan pemberian obat Selektive Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI), ansiolitik, antidepresan, obat penenang dan pengobatan nyeri saraf. Namun obat-obat farmakologis memiliki efek samping seperti gangguan saluran cerna, anoreksia, mual muntah, mengantuk, gangguan fungsi seksual, gangguan pada kandung kemih serta gangguan penglihatan. Maka dari itu perlu ada teknik alternatif dengan cara nonfarmakologi yang lebih murah, mudah dan aman (Irawan, 2013) Art therapy merupakan kegiatan terapi menggunakan kombinasi alat gambar, warna dan media dengan maksud agar subjek mampu mengekspresikan emosinya dan memperoleh gambaran psikologi subjek (Malchiodi, 2018). Art Therapy memiliki banyak manfaat dan juga kelebihan, beberapa manfaat dari Art therapy dalam konteks masalah psikologis yaitu dapat meningkatkan awareness atau kesadaran akan masa kini, membantu mengidentifikasi respon emosional, merasakan koneksi antara tubuh, pikiran dan jiwa (body, mind and soul), dapat memperkuat self image dan mampu merasakan emosi yang ada di dalam diri (Pambudi, 2016).
Peneliti melakukan wawancara dengan pengurus Posyandu lansia dan didapatkan data 40 lansia yang sering mengalami tanda-tanda dari kecemasan, seperti peningkatan detak jantung, gemetar, sulit konsentrasi dan tidur tidak nyenyak.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Art Drawing Therapy terhadap tingkat kecemasan lansia di Posyandu Fatimah Surakarta.
METODOLOGI
Penelitian ini dilakukan dari bulan Juni- Juli tahun 2020 berlokasi di Posyandu Fatimah wilayah kerja Puskesmas Sibela Surakarta. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Eksperiment dengan menggunakan pre and post test nonequivalent control. Rancangan penelitian yang digunakan adalah pre and post test nonequivalent control yang artinya responden penelitian dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok perlakuan dan satu kelompok kontrol sebagai perbandingan. Penelitian ini menggunakan uji normalitas dengan Shapiro Wilk. Pada kelompok perlakuan dan pada kelompok kontrol memiliki
5 nilai signifikansi <0,05, maka data
penelitian tidak berdistribusi normal maka penelitian menggunakan uji wilcoxon. Sedangkan untuk mengetahui perbedaan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol menggunakan uji Mann Withney. Apabila p value <0,05 maka H0 ditolak Ha diterima, yang artinya ada pengaruh Art Drawing Therapy terhadap tingkat kecemasan lansia. Sedangkan apabila p value >0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak, yang artinya tidak ada pengaruh Art Drawing Therapy terhadap tingkat kecemasan lansia.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Tingkat kecemasan lansia pre test pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. (n=40)
Kecemasan
Perlakuan Kontrol
Mean 55,85 55,70
Median 60,00 56,00
Standar Deviasi
1,70 1,41
Max 83 78
Min 21 30
Range 62 48
Berdasarkan tabel 1. Hasil penelitian diketahui bahwa tingkat kecemasan pada pre test pada kelompok perlakuan memiliki nilai median 60 termasuk dalam kategori kecemasan berat. Sedangkan pada kelompok kontrol memiliki nilai median 56 termasuk dalam kategori kecemasan berat, adapun respon perilaku dan emosinya terlihat dari perasaan tidak aman, verbalisasi yang cepat dan blocking. Sejalan dengan penelitian (Heningsih, 2014) menyatakan nilai median tingkat kecemasan lansia adalah berada pada kategori kecemasan berat.
Tidak mendapat dukungan keluarga, kesepian, tekanan hidup dan penyakit fisik merupakan faktor yang dapat menyebabkan kecemasan (Suprianto, 2013). Menurut asumsi peneliti, pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol hasilnya sama yaitu semua lansia masuk dalam kategori kecemasan berat.
Tabel 2. Tingkat kecemasan lansia post test pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. (n=40)
6
Kecemasan
Perlakuan Kontrol
Mean 32,35 41,35
Median 32,00 38,00
Standar Deviasi
1,18 1,40
Max 55 72
Min 19 26
Range 36 46
Berdasarkan tabel 2. Hasil penelitian diketahui bahwa tingkat kecemasan pada post test pada kelompok perlakuan memiliki nilai median 32 termasuk dalam kategori kecemasan ringan, adapun respon perilaku dan emosi dari orang yang mengalami kecmasan ringan adalah tidak dapat duduk tenang, tremor halus pada tangan, suara kadang-kadang meninggi. Sedangkan pada kelompok kontrol memiliki nilai median 38 termasuk dalam kategori kecemasan sedang, adapun respon perilaku dan emosi adalah gerakan yang tersentak- sentak, meremas tangan, sulit tidur dan perasaan tidak aman. Hasil data menunjukkan bahwa responden mengalami penurunan tingkat
kecemasan setelah diberikan intervensi art drawing therapy yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kecemasan.
Malchiodi (2018) menyimpulkan berdasarkan pendapat dari beberapa ahli bahwa proses membuat kreasi seni dapat mengembangkan kemampuan koping pasien terhadap gejala-gejala kesehatan.
Koping yang tidak baik juga dapat mempengaruhi tingkat kecemasan (Ryanis, 2019). Menurut Kelliat (2012) koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah dan respon terhadap situasi yang mengancam. Koping tidak dapat dikatakan sesuai atau tidak sesuai, salah atau benar, baik atau buruk, karena suatu strategi mungkin efektif pada situasi tertentu tetapi tidak pada situasi lain. Menurut asumsi peneliti, pada kelompok perlakuan masuk dalam kategori kecemasan ringan sedangkan pada kelompok kontrol masuk dalam kategori kecemasan sedang.
Tabel 3. Perbedaan tingkat kecemasan kelompok perlakuan dan kelompok kontrol pada lansia di Posyandu Fatimah Surakarta. (n=40).
7 Varia
bel
Tingkat kecemasan
Kelo
mpok Kontrol Perlakuan
Fase
Pre test
Post test
Pre test
Post test
Min 30 26 21 19
Max 78 72 83 55
Mean 55,70 41,35 55,85 32,35 Medi
an 56,00 38,00 60,00 32,35 Rang
e
2 26
P
value 0,041
Berdasarkan tabel 3. Hasil penelitian diketahui hasil uji Mann Withney bahwa ada perbedaan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan nilai p value 0,041 <
0,05 yang artinya ada perbedaan antara tingkat kecemasan kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan penurunan tingkat kecemasan pada kelompok perlakuan dari nilai maksimal 83 menjadi 55. Hal ini sejalan dengan penelitian Fatimah (2018) yang menunjukkan bahwa art drawing
therapy dapat membantu responden yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaaanya. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Ramdaniati (2019) bahwa responden yang diberikan art drawing therapy mampu mengungkapkan perasaan lebih baik.
Gambar yang dihasilkan pada sesi pertama dengan tema menggambar tentang perasaannya sebelum berada di tahap usia lanjut dengan menggunakan media kertas gambar dan pensil warnaa, sebagian besar lansia menggambar anggota keluarga dalam satu rumah.
Sesi kedua dengan tema menggambarkan tentang perasaannya saat ini setelah berada di tahap usia lanjut dengan menggunakan media kertas gambar dan spidol warna, sebagian besar lansia menggambar tentang lansia yang sedang berkumpul dengan sesama lansia lain. Sesi ketiga dengan tema menggambar tentang hal yang diharapkan untuk kedepannya dengan menggunakan media kertas gambar dan krayon, sebagian besar lansia menggambar tentang pemandangan alam.
8
Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pemberian art drawing therapy lebih efektif diberikan kepada lansia karena dapat mengekspresikan perasaannya melalui gambar yang dibuat dan dapat meningkatkan motorik dan kognitif lansia dalam menyelesaikan masalah yang dialaminya saat ini. Sedangkan pada kelompok kontrol hanya diberikan senam lansia sehingga hanya dapat meningkatkan motoriknya saja.
Peningkatan koping lansia pada kelompok kontrol tidak signifikan dibandingkan dengan kelompok perlakuan menggunakan art drawing therapy, karena lansia lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaannya pada sebuah media berupa menggambar.
Kekuatan art drawing therapy bagi lansia yang mengalami kecemasan dapat memfasilitasi untuk proses kreatif, mengungkapkan ekspresi diri dan mengeksplorasi diri. Pengalaman dalam menggambar, melukis ataupun aktivitas artistik lainnya melibatkan proses di otak dan terlihat melalui reaksi tubuh.
Diketahui bahwa gambar yang dilihat, dibayangkan ataupun digambar dapat
mengaktifkan visual cortex pada otak.
Proses pembuatan gambar terhadap emosi dan pikiran dapat memberikan efek yang menenangkan dan dapat mengatasi keluhan-keluhan fisik pada pasien yang mengalami masalah emosional seperti kecemasan.
KESIMPULAN
Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pemberian art drawing therapy lebih efektif diberikan kepada lansia karena dapat mengekspresikan perasaannya melalui gambar yang dibuat dan dapat meningkatkan motorik dan kognitif lansia dalam menyelesaikan masalah yang dialaminya saat ini.
Sedangkan pada kelompok kontrol hanya diberikan senam lansia sehingga hanya dapat meningkatkan motoriknya saja.
Peningkatan koping lansia pada kelompok kontrol tidak signifikan dibandingkan dengan kelompok perlakuan menggunakan art drawing therapy, karena lansia lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaannya pada sebuah media berupa menggambar.
DAFTAR PUSTAKA
Adriana, S. N. & Satiadrama, M. P.
(2011). Efektifitas Art Therapy Dalam Mengurangi Kecemasan Pada Remaja Pasien Leukimia.
9 Indonesia Journal of Cancer.
Volume 5. No. 1. Halaman 31- 47. Diakses pada tanggal 03
Oktober 2019.
http://indonesianjournalofcance r.or.id/ejournal/index.php/ijoc/a rticle/view/104.
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang.
Boehm, K. dkk. (2014). Arts Therapies for Anxiety, Depression, and Quality of Life in Breast Cancer Patient: A Systematic Review and Meta-Analysis.
Review Article. Germany : University of Applied Sciences.
Cindy, A. R. (2014). Pengaruh Art Therapy Terhadap Peningkatan Keterampilan Sosial Pada Anak Jalanan Di Jalan Tanjung Putrayudha II Malang.
Dharma, K. (2011). Metodologi Penelitian Keperawatan.
Depok : Info Media.
Dinkes Jateng. (2018). Profil Kesehatan
Provinsi Jawa Tengah.
Semarang : Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Dinkes Surakarta. (2017). Profil Kesehatan Kota Surakarta.
Surakarta : Dinas Kesehatan Surakarta.
Efendi, F dan Makhfudli. (2016).
Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktek dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Endra, F. (2017). Pedoman Metodologi Penelitian (Statistika Praktis).
Sidoarjo : Zifatama Jawara.
Hamid A. (2010). Artikel Kementrian Sosial RI, Penduduk Lanjut Usia di Indonesia dan Masalah Kesejahteraan. Jakarta.
Diakses Pada Tanggal 12
september 2019.
http://www.Kemenkos.go.id.
Hawari, H. D. (2011). Manajemen Stress,Cemas dan Depresi.
Jakarta : FK UI.
Hawari, H. D. (2013). Manajemen Stress, Cemas dan Depresi.
Jakarta : FK UI.
10
Helmi, Ringga. (2014). Drawing Art Fail. Jenis-Jenis Gambar.
Selamart Menikmati : Underpass Kebun Raya Bogor.
Heningsih dkk. (2014). Gambaran Tingkat Ansietas Pada Lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta.
Skripsi. Surakarta : STIKes Kusuma Husada Surakarta.
Herawati, Novi. (2013). Pengaruh Senam Lansia Terhadap Tingkat Kecemasan Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin Kabupaten Padang Pariaman.
Padang : Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang.
Hidayat, A. A. A. (2011). Metode Penelitian Keperawatan dan Tehnik Analisa Data. Jakarta : Salemba Medika.
Hidayat, A. A. A. (2014). Metode Penelitian Kebidanan dan Tehnik Analisa Data. Edisi 2.
Jakarta : Salemba Medika.
Irawan, H. (2013). Gangguan Depresi pada Lanjut Usia. Dokter
Intership RSUD Datu Sanggul Tapin Kalimantan Selatan Indonesia. CDK-210/vol.40 no.11, th. 2013.
Jaman, E. C. dkk. (2018). Art Therapy Sebagai Bentuk Dari Activity Therapy Bagi Penderita HIV Yang Mengalami Kecemasan.
Jakarta : Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta.
Kelliat, B. A. (2012). Manajemen Kasus Gangguan Jiwa. Jakarta : EGC.
Kemenkes RI. (2018). Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI.
Kritiyaningsih, D. (2011). Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Depresi Lansia. Jurnal Keperawatan.
Diakses Pada Tanggal 06
Oktober 2019.
http://www.dianhusada.ac.id.
Lestari, T. (2015). Kumpulan Teori Untuk Kajian Pustaka Penelitian Kesehatan.
Yogyakarta : Nurhamedika.
Malchiodi, Cathy. (2018). Art Therapy
11 Changes Lives. Diakses Pada
Tanggal 09 Oktober 2019.
http://cathymalchiodi.com.
Mahardika, B. (2013). Implementasi Metode Art Therapy dalam mencerdaskan emosional siswa. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Nenk. (2010). Masalah Kesehatan Jiwa Pada Lanjut Usia. Diakses Pada Tanggal 10 November 2019.
http://www.epsikologi.com/eps i/lanjutusia_detail.asp?id=182.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2012). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Nursalam. (2016). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.
Pambudi, Eduardus. (2016). Manfaat Art Therapy Yang Sangat Bermanfaat Untuk Teknik Terapi, Diakses Pada Tanggal
15 November 2019.
htpp://www.psikoma.com/manf aat-art-therapy.
Permatasari, A. E. dkk. (2017).
Penerapan Art Therapy Untuk Menurunkan Depresi Pada Lansia Di Panti Werdha X.
Jakarta : Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta.
Pieter, Herry zan. (2011). Pengantar Psikologi Dalam Keperawatan.
Cetakan I. Jakarta : Kencana Prenada Media Grup.
Ramdaniati, N.F.R (2019), Pengaruh Art Drawing Therapy Terhadap Tingkat Depresi Pada Ibu Post Partum Blues Di Wilayah Kerja Puskesmas Sibela Surakarta. Skripsi.
Surakarta : STIKes Kusuma Husada Surakarta.
Riskesdas, (2018). Hasil Utama RISKESDAS. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI.
Ryanis, G. M. (2019). Pengaruh Terapi Seni Origami Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Lansia Di Panti Werdha Dharma Bhakti Surakarta.
12
Skripsi. Surakarta : STIKes Kusuma Husada Surakarta.
Sarah, (2010). Kajian Teoritis Pengaruh Art Therapy Dalam Mengurangi Kecemasan Pada Penderita Kanker. Fakultas Psikologi : Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Sari, N. (2016). Penerapan Art Therapy Pada Anak Penderita Leukemia Yang Mengalami Kecemasan.
Medan : Fakultas Psikologi Universitas Potensi Utama.
Santrock, J. W. (2012). Psikologi Pendidikan. Terjemahan : Wibowo, T. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Suprianto, T. (2013). Pengaruh Terapi Psikoreligius Terhadap Penurunan Tingkat Ansietas Pada Lansia Penderita di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Sejahtera Pandaan Pasuruan.
Vol 2 no. 1. Pasuruan : Universitas Brawijaya.
Sugiono (2013). Statistik Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.
World Health Organization (WHO).
(2014). World Health Statistic.
http://searo.who.int/EN/Section 313/Section1520.htm. Diakses Pada Tanggal 16 Oktober 2019.