PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Hukum Islam menentukan derajat kedewasaan seseorang ketika mencapai pubertas, bukan usia, karena usia seseorang mencapai pubertas akan berbeda-beda.3 Meskipun hukum Islam tidak menentukan usia minimal untuk menikah, namun diyakini usia minimal untuk menikah menjadi dapat ditentukan. Selain itu, sejumlah kalangan menyambut baik putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dengan putusannya nomor 22/PUU-XV/2017 tentang penilaian substantif Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang menyatakan batasan usia bagi laki-laki yang menikah adalah 19 tahun dan perempuan 16 tahun, diubah menjadi keduanya 19 tahun sebagaimana tertuang dalam undang-undang nomor 16 tahun 2019.5. Mahkamah Konstitusi (MK) dalam putusannya nomor 22/PUU-
Perubahan aturan ini berdampak pada aturan lain, khususnya aturan yang berada di bawahnya, seperti ketentuan Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 15 ayat (1), yang berbunyi “Demi kemaslahatan keluarga dan rumah tangga, perkawinan hanya dapat dilangsungkan oleh calon pengantin pada umur yang ditentukan dalam Pasal 7 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 yaitu calon suami harus berada pada usia berusia minimal 19 tahun, dan calon istri harus berusia minimal 16 tahun.” Fenomena peningkatan dispensasi nikah juga terjadi di wilayah hukum Pengadilan Agama Kabupaten Madiun, pada tahun 2019 terdaftar sebanyak 92 perkara, tahun 2020 terdaftar sebanyak 175 perkara, dan pada tahun 2021 tercatat permohonan dispensasi nikah sebanyak 143 perkara. Perubahan undang-undang perkawinan berdampak pada meningkatnya permohonan dispensasi nikah, bahkan Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung Republik Indonesia mencatat dalam laporan tahunannya.
Menurut penulis hal ini sangat menarik untuk dilakukan penelitian karena penulis berpendapat bahwa pasca perubahan undang-undang perkawinan terjadi peningkatan permohonan cerai khususnya di Pengadilan Agama Kabupaten Madiun.
Rumusan Masalah
Judul yang diposting adalah “Fenomena Perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Madiun Tahun 2022)”.
Tujuan Penelitian
Mengetahui dan memahami pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan permohonan dispensasi nikah di Pengadilan Agama Kabupaten Madiun. Mengetahui dan memahami pertimbangan hukum hakim dalam menolak permohonan dispensasi nikah di Pengadilan Agama Kabupaten Madiun.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran mengenai dampak pemberian dispensasi nikah di Pengadilan Agama Kabupaten Madiun, permohonan dispensasi nikah dan pengaturan hukum Islam.
Telaah Pustaka
Kedua, tesis Tofik Nurbit Rohir dalam tesisnya yang berjudul “Alasan Permohonan Cerai dan Dalil-dalil Hakim dalam Putusannya dalam Berkas Perkara Pengadilan Agama Purbalingga Tahun 2012-2015”. Tesis ini mengkaji tentang alasan pemohon mengajukan gugatan cerai dan pengaruhnya terhadap keputusan hakim berdasarkan berkas tersebut. Tesis ini berbeda dengan penelitian penulis karena mengkaji faktor-faktor penyebab usulan perceraian di lokasi penelitian yang berbeda dengan penelitian penulis.11.
Ketiga, Tesis Rahmawati IAIN Kendari Sulawesi Tenggara (2019), dalam tesisnya yang berjudul “Pertimbangan Hakim Dalam Mengabulkan Putusan Dispensasi Nikah Bagi Anak Minderage Dalam Perspektif Maslahah” skripsi ini membahas tentang pertimbangan Hakim dalam mengabulkan permohonan dispensasi perkawinan ibu di bawah umur. mengenai pertimbangan hakim dalam mengabulkan putusan dispensasi perkawinan di bawah umur mengenai putusan hakim dalam hal ini sesuai dengan permasalahan terutama dalam rangka nafkah, karena dapat menghindari pergaulan bebas dan dapat. 11Tofik Nurbit Rohir, Faktor-Faktor Penyebab Permohonan Cerai Nikah dan Dalil-dalil Hakim dalam Putusannya dalam Berkas Perkara Pengadilan Agama Purbalingga Tahun Skripsi (Purwokerto: IAIN Purwokerto, 2016). Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang penulis bahas, karena penelitian ini membahas aspek-aspek yang harus dipenuhi dalam pengambilan keputusan masalah perkawinan.
Namun penelitian ini dapat menjadi referensi bagi penulis dalam pembahasan mengenai dispensasi perkawinan setelah undang-undang perkawinan mengalami perubahan.13.
Metode Penelitian
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan melakukan penelitian secara cermat dan pencatatan secara sistematis.18. Dalam analisis data kualitatif akan dilakukan tiga tahap yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan serta verifikasi dalam proses analisis. Kemudian data-data yang telah dipusatkan dan ditipologikan (dimodelkan) akan disusun secara sistematis untuk dapat disimpulkan sehingga dapat ditemukan makna dari data tersebut.
Agar kesimpulannya lebih mendalam dan akurat, dapat digunakan data baru sehingga diharapkan hasil penelitiannya lebih sempurna.22. Perluasan observasi akan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan terhadap data yang dikumpulkan.23 Dengan perluasan observasi ini, peneliti akan mengkaji apakah data tersebut terkait dengan fenomena pemisahan kawin di masa pandemi. Apabila data yang diperoleh selama ini ternyata tidak benar, maka peneliti akan melakukan observasi yang lebih luas dan mendalam untuk memperoleh data yang dipastikan kebenarannya.
Triangulasi diartikan sebagai pemeriksaan data dari berbagai sumber dengan cara yang berbeda dan waktu yang berbeda.24 Dalam penelitian ini, peneliti memeriksa keabsahan data terkait fenomena dispensasi nikah di masa pandemi.
Sistematika Pembahasan
Bab ketiga, merupakan penyajian data yang memuat tentang penetapan putusan perkara penyelesaian perkawinan di Pengadilan Agama Kabupaten Madiun Tahun 2022. Bab keempat : merupakan pembahasan dengan menggunakan analisis atau kajian teori yang ditulis pada bab II. Yang meliputi analisis pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan dan menolak permohonan dispensasi nikah di Pengadilan Agama Kabupaten Madiun.
Bab ini berisi simpulan dan saran yang berfungsi untuk memudahkan pembaca dalam menangkap intisari penelitian yang dilakukan.
TEORI KEMANFAATAN HUKUM DAN PERNIKAHAN
Teori Kemanfaat Hukum
Hukum Pernikahan di Indonesia
Kata Nikah terdapat pada ayat 230 surat Al-Baqarah (2) yang artinya: Maka jika suami menolak (setelah talak dua kali), maka dia tidak boleh menikahi wanita tersebut sampai dia menikah dengan pria lain. Wirjono Prodjodikoro menyatakan bahwa pengertian perkawinan adalah hidup bersama antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang memenuhi syarat-syarat yang tercantum dalam peraturan tersebut, baik agama maupun negara.17 Ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari pengertian perkawinan di atas. Dalam Islam perkawinan bukan hanya sekedar hubungan atau perjanjian perdata biasa, tetapi mempunyai nilai ibadah dan Pasal 2 Kompendium Hukum Islam (KHI) menegaskan bahwa perkawinan adalah suatu akad yang sangat kuat, dilakukan dengan mentaati perintah. kepada Allah SWT dan dengan melaksanakannya merupakan nilai ibadah kepada Allah SWT..19.
Kaitannya dengan bidang perkawinan adalah bahwa keharmonisan perkawinan merupakan bagian dari hakikat perkawinan, begitu pula dengan kebutuhan atau kewajiban calon pengantin, laki-laki dan perempuan, persetujuan dan dua orang saksi. 23Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: PT. a) Shigot ibarat akad nikah dengan syarat :. Meskipun dalam hukum Islam tidak ada pengaturan mengenai batasan usia menikah bagi calon suami, namun demikian juga dengan batasan usia calon istri, juga tidak menekankan adanya ketentuan tersebut.
Perkawinan yang dilakukan di luar batas minimal Undang-Undang Perkawinan batal demi hukum tanpa adanya dispensasi nikah dari pengadilan. Batasan umur perkawinan menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terdapat pada BAB II Syarat-syarat Perkawinan pasal 6 ayat tahun harus mendapat izin dari kedua orang tuanya”. Dan pada ayat (3) “Ketentuan mengenai keadaan salah satu atau kedua orang tua dalam Undang-undang ini pasal 6 ayat 3 dan (4), berlaku juga dalam hal:
Batasan umur perkawinan menurut Kompilasi Hukum Islam Pasal 15 ayat (1), yaitu: “Demi kemaslahatan keluarga dan rumah tangga, perkawinan hanya dapat dilangsungkan oleh calon mempelai yang telah mencapai umur sebagaimana ditentukan dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yaitu calon suami harus berusia minimal 19 tahun dan calon istri minimal berusia 16 tahun. Dan pada ayat (2): “Bagi calon pengantin yang belum mencapai umur 21 tahun, harus mendapat persetujuan sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat dan (5) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. 29. Sedangkan batasan umur perkawinan menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer), BAB IV tentang perkawinan, Pasal 29, yaitu: “Laki-laki yang belum mencapai umur penuh 18 (delapan belas) tahun dan perempuan yang telah mencapai umur perkawinan. belum mencapai umur penuh 15 (lima belas) tahun, tidak diperkenankan mengadakan perkawinan.
Perkawinan anak atau perceraian adalah perkawinan yang terjadi antara sepasang suami istri atau salah satu calon yang ingin menikah pada usia di bawah batas usia perkawinan yang ditentukan oleh peraturan hukum perkawinan. Selain itu, sejumlah kalangan menyambut baik putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dengan putusan Nomor 22/PUU- menikah berusia 19 tahun dan istri berusia 16 tahun, diubah menjadi keduanya berusia 19 tahun sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019.31.
Profil Pengadilan Agama Kabupaten Madiun
Haromain dan Ibu Shafurah Pada tahun 1990, Pengadilan Agama Kabupaten Madiun menerima dua orang hakim tetap yaitu Bpk. Mengenai faktor-faktor yang menjadi dasar kedudukan Hakim Agama Madiun dalam mengabulkan permohonan dispensasi nikah dalam perkara Nomor 45/Pdt.P/2022/PA.Kab.Mn berdasarkan Pasal 1 UU No. untuk dispensasi usia perkawinan di Pengadilan Agama Madiun biasanya mengutamakan asas kemanfaatan hukum.
Mekanisme berlangsungnya perkawinan ini selanjutnya adalah kedua orang tua calon pengantin mengajukan dispensasi nikah ke pengadilan agama.6. Salah satu faktor yang menjadi dasar pandangan hakim Pengadilan Agama Madiun dalam mengabulkan permohonan dispensasi nikah pada Perkara Nomor 45/Pdt.P/2022/PA.Madiun berdasarkan Pasal 7 UU No. macam perkara yang harus ditangani oleh Pengadilan Agama Madiun, termasuk perkara dispensasi nikah.
Berdasarkan putusan hakim di atas, penulis menganalisis alasan hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun dalam mengabulkan permohonan dispensasi nikah sesuai kebutuhan. Dasar hukum hakim Pengadilan Agama Madiun mengeluarkan putusan dispensasi nikah dalam perkara nomor 48/Pdt.P/2022/PA.Kab.Mn jelas menggunakan sumber hukum yaitu ketentuan peraturan perundang-undangan tertulis dan undang-undang tidak tertulis. Berdasarkan putusan di atas, penulis akan menganalisis pertimbangan hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun terkait penolakan permohonan dispensasi nikah.
Penulis berpendapat, penolakan hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun adalah tepat karena anak tersebut masih sangat kecil jika dikabulkan. Dari beberapa dampak negatif tersebut, nampaknya hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun mempertimbangkan hal tersebut dalam memutus permohonan cerai karena berpendapat bahwa menghindari kerugian yang lebih besar harus diutamakan daripada memperoleh keuntungan. Bahwa Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun mengabulkan permohonan pengecualian perkawinan dalam perkara no. 45/Pdt.P/2022/PA.Kab.Mn sesuai dengan teori kesesuaian hukum yang seharusnya mencegah terjadinya pelanggaran hukum dan norma kesusilaan dalam jangka panjang.
Pertimbangan hakim dalam mengambil putusan penolakan permohonan dispensasi nikah di Pengadilan Agama Madiun sesuai dengan teori kemanfaatan hukum. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Kewenangan Peradilan Agama Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Dispensasi Perkawinan.
Penetapan Hukum Hakim dalam Dispensasi Kawin Pada
Penetapan Hukum Hakim dalam Dispensasi Kawin Pada
ANALISIS PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENGABULKAN
Kesimpulan
Tergantung pada jenis kasusnya, dilihat fakta hukum dan kaidah ushul fiqh, dimana pencegahan kerugian harus diutamakan daripada perolehan kemaslahatan. Karena tidak ada alasan yang kuat untuk mengabulkan pengecualian terhadap anak pemohon dan anak tersebut masih ingin melanjutkan pendidikannya, maka majelis hakim memutuskan untuk tidak mengabulkan permohonan tersebut. Kedua, juri memutuskan bahwa perempuan tersebut masih terlalu muda, serta tidak mampu secara mental dan fisik.
Oleh karena itu, untuk menghindari hal-hal yang merugikan anak pemohon, maka permohonan pemohon untuk diberikan dispensasi bagi anaknya dinyatakan tidak cakap.
Saran
Wahib Latukau, Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun, Wawancara Pengadilan Agama Kabupaten Madiun, 22 April 2022, 08.00 WIB. Setelah menyelesaikan studi pada jenjang tertinggi, penulis melanjutkan studi tinggi di Kampus IAIN Ponorogo, lulus pada bidang Hukum Keluarga Islam di Fakultas Syariah dan fokus pada bidang Pengacara.