• Tidak ada hasil yang ditemukan

fenomena sosial interaksi masyarakat perumahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "fenomena sosial interaksi masyarakat perumahan"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)FENOMENA SOSIAL INTERAKSI MASYARAKAT PERUMAHAN (STUDI KASUS PERUMAHAN GRAHA ASRI KOTA MAKASSAR). SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana pada Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Oleh DIRMAN NIM 10538 2722 13. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR JULI, 2017.

(2)

(3)

(4) UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN. SURAT PERNYATAAN. Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama. : DIRMAN. NIM. : 10538 2722 13. Program Studi. : Pendidikan Sosiologi. Jurusan. : Pendidikan Sosiologi. Judul Skripsi. : Fenomena Sosial Interaksi Masyarakat Perumahan (Studi Kasus Perumahan Graha Asri Kota Makassar). Dengan ini menyatakan bahwa: Skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah asli hasil karya saya sendiri, bukan hasil jiplakan dan tidak dibuat oleh siapapun. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.. Makassar, Juli 2017 Yang Membuat Pernyataan. DIRMAN NIM 10538 2722 13. iv.

(5) UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN SURAT PERJANJIAN. Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama. : DIRMAN. NIM. : 10538 2722 13. Program Studi. : Pendidikan Sosiologi. Jurusan. : Pendidikan Sosiologi. Fakultas. : Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut: 1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini, saya akan menyusunnya sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun). 2. Dalam penyusunan skripsi ini, saya akan melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas. 3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam menyusun skripsi ini. 4. Apabila saya melanggar perjanjian pada butir 1, 2 dan 3, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku. Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.. Makassar,. Juli 2017. Yang Membuat Perjanjian. DIRMAN NIM 10538 2722 12. v.

(6) MOTO DAN PERSEMBAHAN. Ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta. ( Albert Einstein ). Memulai dengan penuh keyakinan Menjalankan dengan penuh keikhlasan Menyelesaikan dengan penuh kebahagiaan. Kupersembahkan karya ini buat: Kedua orang tuaku, saudaraku, dan sahabatku, atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis mewujudkan harapan menjadi kenyataan. vi.

(7) ABSTRAK. Dirman. 2017. Fenomena Sosial Interaksi Masyarakat Perumahan (Studi Kasus Perumahan Graha Asri Kota Makassar. Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Nurlina Subair dan Pembimbing II Tasrif Akib. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Untuk mengetahui hubungan sosial terhadap perumahan Graha Asri di Kota Makassar. 2) Untuk mengetahui pola interaksi terhadap masyarakat sekitar pada perumahan Graha Asri di Kota Makassar. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Tekhnik pengumpulan data yang digunakan yaituwawancara dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini sebanyak 30 orang. Adapun pemilihan informan pada penelitian ini menggunakan purposive sampling. Dengan kriteria informan yaitu warga perumahan graha Asri Kota Makassar. Tekhnik analisis data yang digunakan yaitu, reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Tekhnik pengabsahan data yaitu triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Hubungan sosial yang terjadi pada Perumahan Graha Asri Kota Makassar yakni mereka hampir semua saling kenal mengenal dalam hal ini kontak sosial mereka masih terjalin dengan baik.2) Pola interaksi sosial yang terjadi pada Perumahan Graha Ari Kota Makassar yakni mereka masih selalu memperhatikan antara sesama dan masih kuat hubungan siolidaritasnya.. Kata Kunci : Fenomena Sosial Interaksi. vii.

(8) viii. KATA PENGANTAR. Assalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh Alhamdulillah Rabbil ‘Alamin, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang karena-Nya kita hidup dan hanya kepada-Nya kita kembali. Dari-Nya segala sumber kekuatan dan inspirasi terindah dalam menapaki jalan hidup ini, Dialah yang memberikan begitu banyak nikmat khususnya kesehatan dan kesempatan sehingga skripsi yang berjudul " Fenomena Sosial Interaksi Masyarakat Perumahan Graha Asri Kota Makassar" dapat penulis selesaikan. Shalawat dan taslim semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. yang merupakan uswatun hasanah atau suri tauladan yang baik bagi ummat manusia sampai akhir zaman. Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari kesempurnaan. Akan tetapi, berkat pertolongan dan petunjuk dari Allah Swt. dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan walaupun dalam wujud yang sederhana. Oleh karena itu ucapan terima kasih dan penghargaan yang teristimewa dengan segenap cinta dan hormat penulis haturkan kepada kedua orang tuaku Ayahanda terhormat Moling dan Ibunda tercinta Wangi yang telah mencurahkan segala kasih sayang dan cintanya serta doa restu yang tak henti-hentinya untuk keberhasilan penulis. Semoga apa yang beliau berikan kepada penulis bernilai kebaikan dan dapat menjadi penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.. viii.

(9) ix. Terima kasih penulis ucapkan kepada beberapa pihak yang telah sangat membantu selama penulis menyusun skripsi ini yaitu diantaranya : 1. Dr. H. Abd. Rahman Rahim, S.E., M.M., sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar. 2. Erwin Akib, M.Pd., Ph.D., sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. 3. Dr. H. Nursalam, M.Si., sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar. 4. Dr. Muhammad Akhir, S.Pd., M.Pd., sebagai sekretaris Jurusan Pendidikan Sosiologi FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar. 5. Dr. Nurlina Subair, M.Si. dan Tasrif Akib, S.Pd., M.Pd., sebagai Pembimbing I dan II, yang telah meluangkan waktunya membantu dan membimbing penulis. 6. Drs.Nurdin M.Pd, sebagai Penasehat Akademik atas bimbingan dan nasihat yang sangat berharga selama penulis menuntut ilmu di Universitas Muhammadiyah Makassar. 7. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas bimbingan, arahan, dan jasa-jasa yang tak ternilai harganya kepada penulis. 8. Terkhusus kepada narasumber atas segala informasi dan kerjasamanya yang baik selama penulis melaksanakan penelitian..

(10) x. 9. Teman-teman seperjuangan Jurusan Pendidikan Sosiologi angkatan 2013 terkhusus kelas C yang telah bersama-sama berjuang keras dan penuh semangat dalam menjalani studi dalam suka dan duka. Kebersamaan ini akan menjadi sebuah kenangan yang indah. Hanya Allah Swt. yang dapat memberikan imbalan yang setimpal. Semoga aktivitas kita senantiasa bernilai ibadah di sisi-Nya. Sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan karya ini. Semoga saran dan kritik tersebut menjadi motivasi kepada penulis untuk lebih tekun lagi belajar. Amiinn. Wassalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.. Makassar, Juli 2017. Penulis,.

(11) DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN SAMPUL .................................................................................. i LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................ ii. PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................. iii. SURAT PERNYATAAN ................................................................................ iv. SURAT PERJANJIAN ................................................................................... v. MOTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................... vi. ABSTRAK ....................................................................................................... vii. KATA PENGANTAR..................................................................................... viii. DAFTAR ISI ................................................................................................... xi. DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiii. DAFTAR GAMBAR....................................................................................... xiv. BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1. A. Latar Belakang ................................................................................... 1. B. Rumusan Masalah .............................................................................. 5. C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 5. D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 5. E. Defenisi Operasional.......................................................................... 6. BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................ 8. A. Kajian Pustaka.................................................................................... 8. 1. Konsep Fenomena Sosial ............................................................. 8. 2. Fenomena Sosial dalam Perspektif Teori Interaksonisme Simbolik ...................................................................................... 13 3. Interaksionisme Simbolik ........................................................... 18 4. Substansi dan Sejaran dalam Perspektif Interaksionisme Simbolik ..................................................................................... 22 5. Manusia dan Makna dalam Perpektif Interaksi Simbolik ........... 26 B. Penelitian Relevan............................................................................. 39 C. Kerangka Pikir .................................................................................. 41 xi.

(12) xii. BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 44 A. Jenis Penelitian ................................................................................. 44 B. Lokasi Penelitian .............................................................................. 44 C. Informan Penelitian........................................................................... 44 D. Fokus Penelitian ............................................................................... 45 E. Instrumen Penelitian.......................................................................... 45 F. Jenis dan Sumber Data Penelitian ..................................................... 46 G. Teknik Pengumpulan Data ............................................................... 47 H. Teknik Analisis Data ........................................................................ 47 I. Teknik Pengabsahan Data ................................................................. 48 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN.................................. 51 A. Gambaran Umum Kota Makassar..................................................... 51 B. Hasil Penelitian ................................................................................ 68 C. Pembahasan Penelitian...................................................................... 72 BAB VI PENUTUP........................................................................................... 82 A. Simpulan .......................................................................................... 82 B. Saran ................................................................................................. 82 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 83 LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP. xii.

(13) DAFTAR TABEL. No. Tabel. Judul. Tabel 4.1. Luas Wilayah Kota Makassar Menurut Kecamatan ................. xiii. Halaman 51.

(14) DAFTAR GAMBAR. No. Gambar. Judul. Halaman. Gambar 2.1 Kerangka Pikir...................................................................... 43. Gambar 4.1 Peta Kota Makassar.............................................................. 52. Gambar 4.2. 52. Peta Kecamatan Rappocini................................................... xiv.

(15) 1. BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Fenomena berasal dari bahasa Yunani; phainomenon, "apa yang terlihat", fenomena juga bisa berarti: suatu gejala, fakta, kenyataan, kejadian dan hal-hal yang dapat dirasakan dengan panca indra bahkan hal-hal yang mistik atau klenik. Kata turunan adjektif, fenomenal, berarti: "sesuatu yang luar biasa". Fenomena terjadi di semua tempat yang bisa diamati oleh manusia. Suatu kejadian adalah suatu fenomena. Suatu benda merupakan suatu fenomena, karena merupakan sesuatu yang dapat dilihat. Adanya suatu benda juga menciptakan keadaan ataupun perasaan, yang tercipta karena keberadaannya. Fenomena adalah rangkaian peristiwa serta bentuk keadaan yang dapat diamati dan dinilai lewat kaca mata ilmiah atau lewat disiplin ilmu tertentu. Fenomena sosial adalah gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dan dapat diamati dalam kehidupan sosial. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan suatu gejala tidak bisa yang tengah terjadi di masyarakat. Fenomena sosial lahir dari perilaku manusia dalam kehidupan sosialnya yang membentuk suatu gejala sosial yang akhirnya menjadi sebuah fakta atau kondisi tertentu. Gejala sosial pada dasarnya bisa terjadi pada kondisi yang berada dalam perumahan terutama pada perumahan. Namun proses ini patut untuk ditinjau lebih lanjut pengaruhnya terhadap hubungan sosial individuindividu yang mendiaminya. Asumsi awalnya adalah kecenderungan 11.

(16) 2. masyarakat di dalam perumahan untuk lebih individualistis karna adanya sekat-sekat yang secara nyata memisahkan kawasan yang di sebut dengan kawasan umum. Pemisahan tersebut memunculkan satu kelas sosial baru, yaitu kelas menengah, yang secara sistem ekonomi terpisah dengan kelas bawah. Norma yang berlaku di dalam kelas ini pun berbeda. Kuntowijoyo (1987) menyatakan bahwa masyarakat kelas bawah masih bersifat tradiosonal memegang teguh norma-norma komunal. Komunal yang di maksudkan yaitu untuk menunjukan adanya norma solidaritas dan partisipasi sebagai ideologi. Perumahan merupakan produk globalisasi yang menjawab tuntunan dan kebutuhan masyarakat kelas menengah atas dan atas mengenai gaya hidupnya, keinginannya, kepribadiannya, kondisi lingkungannya, dan organisasi sosialnya. Rasa akan kepemilikan ruang dan material yang di rasakan oleh penghuni perumahan akan mendorong terciptanya karakteristik hubungan social yang unik di antara penghuni di dalamnya. Namun sering kali hubungan social yang unik pada konteks perumahan di konotasikan secara negative sebagai individualistik, ekslusifisme, dan jauh dari nilai-nilai budaya lokal. Penilaian ini mungkin akan selalu muncul jika kita melihat dari sudut pandang keberadaan perumahan dengan daerah atau lingkungan sekelilingnya. Hal ini kemudian melahirkan istilah gated community atau komunitas berpagar (Sunyoto,2014). Sebenarnya terdapat kajian menarik tentang bagaimana sebenarnya profil dan kegiatan yang ada di dalam suatu perumahan itu sendiri dengan memahami berbagai unsur tersebut, kita dapat lebih bijaksana dalam memandang perumahan tertentu sebagai sebuah lingkungan sosial.. 2.

(17) 3. Terdapat setidaknya tiga parameter yang dapat di gunakan untuk mengukur kualitas social dalam sebuah perumahan, yaitu indentitas komunal, proses social, dan kontruksi social (Sunyoto,2014) yang berada di dalam lingkungan perumahan tersebut. Indentitas komunal berkaitan dengan kultur (budaya) penghuni atau kelompok penghuni dalam perumahan tersebut, struktur sosial yang terbangun di dalamnya, dan kepribadian atau actor social di balik terbangunnya system sosial dalam sebuah perumahan. Dalam konsep-konsep tersebut masih terlihat abstrak kecuali kita bisa masuk ke dalam lingkungan perumahan dan mendalami berbagai informasi di dalamnya. Beberapa perumahan di Kota-Kota besar yang memiliki tradisi budaya yang kuat dapat menjadi objek yang sangat representative untuk di kaji atau di ti. Misalnya di Makassar, perumahan menjadi menarik di kaji karena lokasinya yang berada di pusat Kota sehingga bersinggungan dengan budaya lokal yang kental. Di dalam kegiatan sosial yang “positif” dan respon terhadap budaya lokal tersebut bila di perhatikan atau di implementasikan dalam sebuah perumahan sebenarnya dapat mengurangi stigma negative yang ada di masyarakat non penghuni perumahan dalam memandang keberadaan perumahan tersebut. Bahkan hal ini dapat menambah daya tarik sebuah perumahan karena tidak hanya menawarkan lingkungan yang serba mewah, namun juga lingkugan sosial budaya yang terbangun positif di dalamnya selain itu, ikatan sosial budaya yang di upayakan dapat menekan rasa individualistik bagi pihak penghuni perumahan.. 3.

(18) 4. Pembangunan perumahan di Kota Makassar semakin meningkat seiring dengan berjalannya perkembangan Kota dan pertumbuhan jumlah penduduk. Meningkatnya pembangunan perumahan dapat dilihat dengan banyaknya lokasi perumahan yang berada di Kota Makassar, baik perumahan bersubsidi maupun perumahan. Pembangunan perumahan pada umumnya dapat mengakibatkan terjadinya suatu pergerkan dari masyarakat yang tinggal dalam perumahan Graha Asri Kota Makassar. Pengaruh dari pembangunan perumahan Graha Asri Kota Makassar terhadap suatu pergerakan dapat diketahui dengan melihat besarnya bangkitan dan tarikan pergerakan yang dihasilkan oleh pembangunan perumahan Graha Asri Kota Makassar tersebut. Dengan adanya perumahan Graha Asri Kota Makassar Kota Makassar maka ada beberapa fenomena-fenomena atau gejala sosial yang terjadi di perumahan Kota Makassar yaitu kurangnya solidaritas antar keluarga yang di sebabkan karena kesibukan individu yang mengakibatkan pola interaksi masyrakat semakin rendah. Namun proses ini patut untuk ditinjau lebih lanjut pengaruhnya terhadap hubungan sosial invidu-individu yang mendiaminya. Asumsi awalnya adalah kecenderungan masyarakat di dalam perumahan untuk lebih individualistis karena adanya sekat-sekat yang secara nyata memisahkan kawasan yang disebut dengan kawasan umum. Berdasarkan uraian sebelumnya maka peni tertarik mengkaji lebih lanjut dengan Judul “ Fenomena Sosial Interaksi Masyarakat Perumahan ( Studi Kasus Perumahan Graha Asri Kota Makassar ) ”.. 4.

(19) 5. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana hubungan sosial masyarakat perumahan Graha Asri di Kota Makassar ? 2. Bagaimana pola interaksi masyarakat perumahan Graha Asri di Kota Makassar ?. C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui hubungan sosial terhadap perumahan Graha Asri di Kota Makassar. 2. Untuk. mengetahui. pola interaksi terhadap masyarakat sekitar pada. perumahan Graha Asri di Kota Makassar.. D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari Penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat teoritis Penelitian. ini. akan. memberikan. sumbangsi. ilmu. pengetahuan. pengembangan ilmu social pada umumnya dan ilmu sosiologi pada khususnya dan pengetahuan terutama yang yang berkaitan dengan fenomena sosial perumahan (studi kasus perumahan Graha Asri Kota Makassar). 5.

(20) 6. 2. Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi masyarakat agar fenomena social masyarakat perumahan (studi kasus perumahan Graha Asri Kota Makassar). E. Defenisi operasional 1. Fenomena sosial adalah gejala-gejala atau peristiwa - peristiwa yang terjadi dan dapat diamati dalam kehidupan sosial. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan suatu gejala tidak bisa yang tengah terjadi di masyarakat. Fenomena sosial lahir dari perilaku manusia dalam kehidupan sosialnya yang membentuk suatu gejala sosial yang akhirnya menjadi sebuah fakta atau kondisi tertentu. 2. Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup dan semi terbuka di mana sebegian besar interaksi adalah antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok. Kata masyarakat sendiri berakar dari kata dalam bahasa arab, musyarak. 3. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau hunian yang di lengkapi dengan prasarana lingkungan yaitu kelengkapan dasar fisik lingkungan, misalnya penyediaan air minum, pembuangan sampah, tersedianya listrik, yang memungkinkan lingkungan pemukiman berfungsi sebagaimana mestinya.. 6.

(21) 7. 4. Yang di maksud dengan perumahan adalah perumahan yang di jaga ketat oleh satpam-satpam atau security dan di lengkapi fasilitas-fasilitas mewah dan hanya orang tertentu yang biasa memasuki perumahan tersebut.. 7.

(22) 8. BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. A. Kajian Pustaka 1. Konsep Fenomena Sosial Fenomena berasal dari bahasa Yunani; phainomenon, "apa yang terlihat", fenomena juga bisa berarti: suatu gejala, fakta, kenyataan, kejadian dan hal-hal yang dapat dirasakan dengan panca indra bahkan hal-hal yang mistik atau klenik. Kata turunan adjektif, fenomenal, berarti: "sesuatu yang luar biasa". Fenomena terjadi di semua tempat yang bisa diamati oleh manusia. Suatu kejadian adalah suatu fenomena. Suatu benda merupakan suatu fenomena, karena merupakan sesuatu yang dapat dilihat. Adanya suatu benda juga menciptakan keadaan ataupun perasaan, yang tercipta karena keberadaannya. Fenomena adalah rangkaian peristiwa serta bentuk keadaan yang dapat diamati dan dinilai lewat kaca mata ilmiah atau lewat disiplin ilmu tertentu. Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, diartikan sebagai hal-hal yang dinikmati oleh panca indra dan dapat ditinjau secara ilmiah (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia : 1997). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia juga diterangkan bahwa persamaan dari fenomena adalah gejala yang berarti hal atau keadaan, peristiwa yang tidak biasa dan patut diperhatikan dan adakalanya menandakan akan terjadi sesuatu (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990:227). 8 8.

(23) 9. Fenomena sosial merupakan sesuatu hal yang disaksikan dengan panca indra serta dapat dinilai dan diterangkan secara ilmia. (prof.Dr.Buchary Lapau,dr.MPH: 2011). dan fenomena sosial adalah yakni suatu fakta yang kita temui di lapangan. ( Freddy Rangkuti : 2011). Berdasarkan kesamaan dalam kehidupan sosial dan pekerjaan sosial, dan intensinya hubungan interaksi dalam sebuah masyarakat dan lingkungan, akan terbentuk komunitas sosial berdasarkan kesamaan. Hubungan emosional antara individu dengan individu lain telah ada sejak manusia dilahirkan sehingga potensi ikatan emosional inilah yang membuat manusia senantiasa cenderung untuk hidup bersama dan saling membutuhkan dan memenuhi kebutuhan antara satu dengan yang lain. Menurut Mc Iver dan Charles (dikutip oleh Abustam dan dan Irwansyah, 2010:13 ) mengatakan bahwa perasaan komonitas ( community sentiment ) memiliki unsur-unsur, antara lain: a. Seperasaan : sebagai in group kepentingan-kepentingan individu diselaraskan dengan kepentingan-kepentingan komonitsnya, sehingga merasakan komonitasnya sebagai struktur sosial masyarakat. b. Sepenanggungan : setiap invidu sadar akan pada status dan perannya dalam komonitasnya sehingga saling menyadari status dan perannya untuk membantu sesame anggota komonitasnya. c. Saling memerlukan : setiap individu dalam komonitasnya merasakan dirinya bergantung pada komunitasnya, meliputi kebutuhan fisik dan. 9.

(24) 10. kebutuhan psikologinya. Kebutuhan fisiknya meliputi makanan,sandan, dan perumahan. Fenomena sosial terjadi ketika manusia menganggap segala sesuatu yang dialaminya adalah sebuah kebenaran yang absolut. Menurut Soerjono Soekanto (1998) fenomena atau masalah sosial suatu ketidaksesuaian anatara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. a. Masalah sosial terbagi menjadi empat yaitu: 1) Masalah sosial dari faktor ekonomi, seperti kemiskinan, pengangguran. 2) Masalah sosial dari faktor biologis, seperi penyakit menular. 3) Masalah sosial dari faktor psikologis, seperti penyakit syawat, bunu diri, dll. 4) Masalah sosial dari faktor kebudayaan, seperti perceraian , pencurian, dan kenekalan remaja. b. Beberapa masalah sosial dewasa ini : 1) Disorganisasi keluarga : perpecayahan keluarga sebagai suatu unit karena anggotanya gagal memenuhi kewajibannya yang sesuai dengan peranan sosialnya. Bentuk Disorganisasi keluarga : a) Keluarga yang tidak lengkap karna hubungan di lua nikah. b) Buruknya komonikasi antar anggota keluarga, dll. Dampak Disorganisasi keluarga : a) Hancurnya tatanan norma sosial b) Kurangnya kasih sayang bagi anak akibat cerai. 10.

(25) 11. c) Terjadinya percekcokan, perselisihan dan tindakan criminal lainnya. 2) Kemiskinan Kemiskinan adalah keadaan seseorang yang tidak memiliki harta untuk memenuhi stndar kehidupan yang ada di lingkungannya. Sebab-sabab kemiskinan: a) Rendahnya pendidikan b) Sumber daya alam yang tidak mendukung c) Pemusatan kegiatan ekonomi pada pusat kelompok akibat kemiskinan d) Sumber daya manusia rendah e) Kriminal tinggi f) Habisnya sumber daya alam 3) Penyimpangan Secara umum perilaku menyimpang dapat didevinisikan bahwa setiap perilaku yang dinyatakan suatu pelanggaran terhadap normanorma kelompok atau masyrakat (Horton & Hunt : 191). Dengan demikian, apabila sesorang atau kelompok orang yang tidak mematuhi nilai dan norma yang sudah berlaku di masyarakat, ia dinyatakan telah berbuat penyimpangan atau diviation. Dari uraian itu kita bisa menyimak bahwa nilai dan norma di mayarakat merupakan ukuran menyimpang atau tidaknya suatu perbuatan. Nilai dan norma kadang mengalami perubahan atau pergeseran. Oleh karena itu suatu. 11.

(26) 12. tindakan yang pada masa lampau dianggap penyimpangan, sekarang mungkin dianggap sebgai kewajaran bahkan terpuji. Contoh : sekarang banyak pemuda memakai perhiasan semula hanya di pakai oleh kaum wanita seperti kalung, gelang, dan anting-anting. Kini dianggap hal yang biasa bahkan sebgai mode. Dulu ada pemuda yang seperti demikian dianggap sebagai orang berperilaku meyimpang. 4) Kenekalan Remaja Remaja adalah masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa ( Zakaria Darajat; 1990 : 23 ). Masalah kenalakan remaja mulai mendadat. perhatian masyrakat secara khusus sejak. terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal ( Juvenile Court 1899 : 62 ) di linois, Amerika Serikat. 4) Penyalahgunaan Narkotika Dewasa. ini. banyak. menyalahgunakan. narkotika. yaitu. menggunakannya tanpa seizin dengan tujuan untuk memperoleh kenikmatan dan menghilangkan steress. Seperti ecanduan, merusak tubuh dan jiwa bahkan bisa berakibat kematian. Narkotika banayk macamnya, antara lain : heroin, morfin, ganja, dan kokain. Narkotika apabila digunakan tidak pada tempatnya serta melebihi dosis akan merusak organ-organ tubuh, merusak syaraf yang mengatur dan mengendalikan daya pikir. Si pemakai tidak dapat berfikir secara jernih dan rasioal. Akhirnya ia cenderung melakukan perbuatanperbuatan yang asusila.. 12.

(27) 13. 5) Perkelahian Pelajar Dari tahun ke tahun kasus perkelahian pelajar atau tawuran semakin memperhatinkan karena bukan saja secara kuantitas jumlah pelajar yang terlibat emakin meningkat, namun secara kualitas pun semakin meningkat. Dalam arti, perkelahian tidak hanya cukup menggunakan batu , kayu, besi, bahkan menggunkan senjata tajam sehingga meranggut korban. Fasilitas-fasilitas umum pun kadang menjadi sasaran pengrusakan. Mereka yag tidak tahu apapun menjadi korban. Umumnya perkelahian pelajar diawali dengan adanya adanya konflik perorangan atau beberapa orang yang berlainan sekolah. Dengan adanya rasa solidaritas antar sesame teman, pada akhirnya perkelahian menjadi meluas antar sekolah. Dari beberapa pengertian tersebut maka disimpulkan bahwa fenomena sosial adalah gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dan dapat diamati dalam kehidupan sosial. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan suatu gejala tidak bisa yang tengah terjadi di masyarakat. Fenomena sosial lahir dari perilaku manusia dalam kehidupan sosialnya yang membentuk suatu gejala sosial yang akhirnya menjadi sebuah fakta atau kondisi tertentu. 2. Fenomena Sosial Dalam Perspektif Teori Interaksinisme Simbolik Harbert Mead dan Harbert Blumer sebenarnya berada di bawa payung ‘perspektif fenomenologi’ dan termasuk dalam paradigma definisi sosial ( Rossides,1978; Soeprapto, 2002). Perspektif fenomenologis adalah mewakili. 13.

(28) 14. semua pandangan ilmu sosial yang menganggap ‘kesadaran atau jiwa manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial. Pandangan fenomonologi atau teori interaksinisme simbolik juga sering di sebut teori dalam ‘perspektif interpretif’ (Johnson dan Hunt, 1984; Mulyana, 2002). Ada beberapa pandangan penting tentang teori interaksinisme simbolik Harbert Mead dan Harbert Blumer dalam memahami fenomena sosial atau tindakan sosial individu dalam masyarakat. Interaksionisme Simbolik dalam memahami realitas sosial budaya, baik versi Harbert Mead dan Harbert Blumer, adalah: sejatinya realitas sosialbudaya itu tidak pernah ada di dunia nyata, melainkan secara aktif ‘diciptakan’ ketika manusia bertindak terhadap dunia dan lingkungannya sekitarnya. Apa yang nyata bagi manusia tergantung pada definisi interprestasi atau penafsiran, dan pandangan individu itu sendiri, jadi manusia dalam melakukan dalam sesuatu selama proses sosial adalah mendasarkan pada pemahamannya dan pengetahuan sendiri tentang dunia dan lingkungannya, apakah sesuatu itu bermakna atau berguna bagi hidupnya. Manusia mendefinisikan objek fisik dan non fisik adalah berdasarkan kegunaan dan tujuannya (Mulyana, 2002; Soeorapto, 2002). Dalam pandangan teori interkasionisme simbolik Harbert Mead dan Harbert Blumer, manusi selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu, baik menyangkut pandangan tentang diri dan lingkungannya, oleh karna itu memahami manusia harus dengan pendekatan dinamika dan kontekstual serta menyelami pikiran atau pandangannya (Poloma, 1979, Mulyana 2002).. 14.

(29) 15. Interaksi simbolik dalam memahami individu baik versi Harbert Mead dan Harbert Blumer, adalah : bahwa individu merespon suatu situasi simbolik. Individu merespon lingkungan termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial budaya ( tindakan sosial di masyarakat) berdasarkan makna yang terkandung dalam objek tersebut. Ketika invidu menghadapi situasi, responnya bukan bersifat mekanis, tidak juga di tentukan oleh objek itu (eksternal seperti pandangan fungisional structural), melainkan ditentukan oleh diri, jiwa, pikiran invidu dalam mendefinisikan, menafsirkan atau menginterpretasikan situasi itu sesuai dengan kedalaman makna yang terkandung dalam situasi itu, jadi invidu bersifat aktif bukan pasif (Ritzer, 2001). Dalam pandangan teori intraksionisme simbolik, hakikat, makna seesuatu adalah produk intaraksi sosial, karna itu makna tidak melekat pada objek melainkan dinegoisasikan melalui penggunaan bahasa. Makna yang di interpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi atau kondisi yang dialami dan ditemukan individu dalam proses intreraksi sosial. Harbert Mead dan Harbert Blumer mengatakan bahwa dengan bahasa manusia memungkinkan untuk menjadi mahluk yang sadar dari (self conscious) dalam proses interaksi sosial. Kunci dari proses interaksi adalah symbol. Symbol merupakan sesuatu yang berada. Semua interaksi sosial antar individu atau antar kelompok adalah melibatkan suatu pertukaran symbol. Interasionisme simbolik dalam memahami tentang pikiran (Mind), yaitu pikiran adalah kemampuan manusia dalam mengunakan symbol untuk menunjukkan objek di sekitarnya, atau pikiran adalah kemampuan memahami. 15.

(30) 16. symbol (Turner, J.,1982). Pikiran lebih merupakan proses daripada struktur karena dalam pandangan fungsional structural, pikiran adalah bagian dari struktur. Sedangkan diri (self) pada dasarnya adalah kemampuan untuk menempatkan seseorang sebagi subjek sekaligus objek. Diri (self) tidak mungkin ada tanpa adanya pengalaman sosial. Setiap diri itu berkembang ketika orang belajar mengambil peranan orang lain dalam proses interaksi sosial. Tindakan manusia dalam proses interaksi sosial tidak di tentukan oleh factor eksternal akan tetapi melainkan ditentukan faktor internal, yaitu pikirannya, motivasinya, dan pengetahuannya, dalam pandangan hidupnya. Jadi kualiatas faktor internal tersebut itulah yang membentuk objek menilai berdasarkan makna dan memutuskan untuk berbuat berdasarkan makna itu ( Turner,J., 1982; Poloma, 2000). Interaksionisme simbolik dalam memahami tentang masyarakat, Harbert Mead dan Harbert Blumer, bahwa masyarakat sebagai suatu organisai interaksi tergantung pada pikiran atau pandangan invidu-individu dalam masyarakat. Masyarakat juga tergantung pada kapasitas diri individu. Dengan demikian masyarakat secara terus menerus akan terjadi perubahan, karena pikiran individu terus berubah melalui interaksi simbolik (Turner, J., 1982). Masyarakat sebagai penyaji sistem sosialisasi yang dinamik, dan fenomena sosial budaya itu sendiri di rumuskan individu-individu dari proses interaksi dan sosialisasi melalui sejumlah tingkat yang berbeda (Soekanto,. 16.

(31) 17. 2002). Teori interaksionisme simbolik Harbert Blumer adalah bertumpu pada tiga premis utama yaitu: a. Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka. b. Makna itu diproleh dari hasil interaksi sosial yang di lakukan dengan orang lain. c. Makna-makna tersubut di sempurnakan di saat proses interaksi sosial sedang berlangsung ( Soeparto, 2002 ). Dari penjelasan tersebut maka asumsi dasar teori interaksionisme simbolik Harbert Mead dan Harbert Blumer adalah: a. Individu adalah rasional dan produk dari hubungan sosial. Individu bukanlah merupakan kepribadian yang terstruktur, pasif, terdeterminasi oleh faktor eksternal, tetapi invidu adalah sosok dinamis. b. Masyarakat adalah dinamis dan berevolusi, menyediakan perubahan dan sosialisasi yang baru dari invidu. Masyarakat dan kelompok slalu berubah dan tergantung oleh pikran dari invdu itu sendiri. c. Realitas sosial adalah bersifat individu dan sosial yang dinamik. Invidu memiliki pikiran untuk menginterpretasikan situasi, menilai tindakan orang lain dan tindakannya sendiri. d. Interaksi sosial adalah meliputi pikiran, bahasa, dan kesadaran terhadap diri sendiri, interaksi sosial mengarah pada komonikasi non verbal, bahasa menciptakan pemikiran dan kelompok.. 17.

(32) 18. e. Sikap dan emosi invidu dan kelompok di pelajari melaui bahasa, kebenaran, ide, sikap, dan prespekti, semua di konseptualisasikan sebagai sebuah proses dari apa yang dia amati selama berinteraksi, pola aktivitas sosial itu sendiri memiliki aspek kreatif dan spontan (Turner,J.,1982; Kinloch, 2005). 3. Interaksionisme Simbolik. 1). George Harbert Mead Banyak sumbangan teori George Harbert Mead (1972) dalam sosiologi dan dianggap sebagai pemikir sejarah interaksionisme simbolik, di antaranya adalah: a. Mind, Self, dan Society Self menurut George Harbert Mead merupakan suatu konsep kedirian dalam suatu organisme fisik. Dimensi kedirian memiliki dua makna yaitu dari dalam dimensi objek yang di sebut dengan “me” dan diri dalam di mensi subjek yang “I”. kedirian dalam dimensi objek merupakan tahap awal kedirian dalam dimensi subjek, karena dalam pengalaman hidup manusia merupakan bentuk pengalaman yang tidak langsung, impersonal dan objektif. Inilah yang menjadi ciri khas manusia dalam kedriaanya bisa menjadi objek dalam dirinya sendiri, dalam konteks tersebut manusia akan mampu mencpai kesadaran diri (self consciousness). Unsur kunci dalam kesadaran ini adalah symbol, karena semua interaksi individu manusia melibatkan pertukaran symbol. Inti pemikiran George Harbert Mead adalah tentang interaksionisme simbolik.. 18.

(33) 19. Dalam konteks hubungan dengan manusia yang lain, manusia melalui proses sosialisasi dalam berbgai tahap yaitu: a) Tahap bermain (play stage) pada tahap ini seseorang anak akan bermain peran sesuai dengan peran yang diaangap penting bagi dirinya. Contohnya biasanya anak laki-laki akan bermain seperti peran yang dilaukan oleh bapaknya seperti bermain membajak, mencangkul dan lain-lain. b) Tahap memainkan peran (generalized other) pada tahap ini seseorng individu telah mampu berperan sesuai dengan kebiasaan dan nilai-nilai umum dalam masyarakat. Contohnya menjadi polisi. Pembahasan George Harbert Mead selanjutnya adalah tentang society, menurut George Harbert Mead mayarakat di pandang bukanlah dalam tingktan makro namun dalam analisis George Harbert Mead masyarakat merupakan organisasi sosial dimana pikiran (mind) dan kedirian ( self ) itu hadir, itulah yang membentuk masyarakat ( society ). Intinya adalah interaksi memiliki kesadaran atas makna simbolik yang di gunakan. b. Tindakan Menurut George Harbert Mead (1972) ada empat tahap yang harus di lalui yang saling berhubungan dan merupakan suatau kesatuan yang dialektis. Ke empat tersebut meliputi implus, perspsi, manipilasi, dan komsumsi. a) Implus, adalah tahapan dorongan hati yang meliputi rangsangan spontan yang berhubungan dengan indra dan reaksi terhadap stimulus yang di terima. Contohnya baik manusia ataupun binatang reaksi untuk mencari makanan.. 19. akan memberikan.

(34) 20. b) Persepsi adalah merupakan tahapan mengdakan penyelidikan dan beraksi terhadap rangsangan yang berkaitan dengan implus, yaitu memiliki kemampuan. untuk. merasakan. dan. memahami. stimulus. melalui. pendengara, penglihatan, senyuman dan sebagainya. c) Manipulasi adalah tahapan penentuan tindakan yang berkaitan dengan objek. Inilah yang membedakan manusia dengan binatang karena manusia memiliki peralatan untuk memanipulasikan objek. d) Komsumsi adalah tahapan untuk menikmati hasil dari reaksi berdasarkan stimulus. Contohnya makan. Keempat tahapan tersebut tidak dikaji secara persial atau bahkan memisahkan antara satu dengan yang lain, keempat tahapan tersebut merupakan proses hubungan yang dialektis. c. Gerak Tindakan tidak hanya melibatkan satu orang tapi melibatkan dua orang. Gerak isyarat ‘gesture’ adalah gerakan dari orang yang pertama yang bertindak sebagai stimulus yang membangkitkan respon yang tepat bagi orang yang kedua. George Harbert Mead menyebut hal tersebut sebagai percakapan gerak isyrat. George Harbert Mead juga membagi gerak isyarat dalam bentuk gerak signifikan dengan gerak non signifikan. Gerak signifikan adalah gerak yang memerlukan pemikiran. d. Tindakan dan Interasksi Berkaitan dengan tindakan dan interaksi, George Harbert Mead (1972) membagi perilaku manusia menjadi perilaku yang terang-terangan dan. 20.

(35) 21. perilaku yang tersembunyi. Perilaku tersembunyi merupakan perilaku yang melibatkan symbol-simbol dan makna-makna sedangkan perilaku terangterangan adalah perilaku aktual yang yang di lakukan seorang aktor. Tindakan sosial adalah tindakan yang mempengaruhi orang lain. Di dalam proses interaksi sosial, setiap orang mengkomonikasikan secara simbolik maknamakna kepada orang lain yang terlibat, dengan kata lain dalam interaksi sosial terjadi proses sosial saling mempengaruhi dengan menggunakan simbol. Menurut George Harbert Mead, manusia mempunyai sejumlah kemungkinan tindakan dan pemikiran sebelum ia memulai tindakan yang sebenarnya dengan memulai pertimbanagan . karna itu, dalam tindakan manusia terdapat suatu proses mental yang tertutup yang mendahului proses tindakan yang sesungguhnya. Berfikir menurut George Harbert Mead adalah suatu poses individu berinteraksi dengan dirinya sendiri dengan memilih dengan menggunakan symbol-symbol yang bermakna. Melalui proses interkasi dengan dirinya sendiri itu, individu memilih mana diantara stimulus yang tertuju padamya akan ditanggapinya. Dengan demikian, individu tidak secara langsung menaggapi stimulus, tetapi dahulu memilih dan kemudian memutuskan stimulus yang akan ditanggapinya. Symbol atau tanda yang di berikan oleh manusia dalam melalukan interaksi mempunyai makna-makna tertentu, sehingga dapat menimbulkan komonikasi. Menurut George Herbert Mead, komonikasi secara murni baru terjadi bila masing-masing pihak tidak saja memberikan makna pada perilaku mereka. 21.

(36) 22. sendiri, tetapi memahami atau berusaha makna yang oleh pihak lain. Dalam hubungan ini, George Herbert Mead mengemukakan dua kecenderungan fungsional dalam argument bahasa dan komonikasi serta hubungan dengan perkembangan manusia. Pertama, bahwa manusia dapat mengarahkan orientasi perilaku mereka pada konsekuensi-konsekuensi yang paling positif kedua, sebagai kenyataan bahwa manusi terlibat dalam interaksi makna yang kompleks dengan orang lain, dapat memaksa mereka untuk cepat berinteraksi dengan apa yang diinginkan orang lain. Pada awal perkembangannya, interkasi simbolik lebih menekankan studinya tentang perilaku manusia pada hubungan interpersonal, bukan pada keseluruhan kelompok atau masyarakat. Proporsi paling mendasar dari interaksi simbolik adalah perilaku dan interaksi manusia itu dapat di bedakan, karna ditampilkan lewat symbol dan maknanya. Mencari makna dibalik yang sensual menjadi penting dalam interksi simbolis. 4. Substansi dan Sejarah dalam Prespektif Interaksionisme Simbolik Interkasi simbolik merupakan salah satu prespektif teori yang baru muncul setelah adanya teori aksi (action theory) sebagaimana yang di kembangkan oleh (Max Weber; 1987 : 27). Sebagai teori yang baru muncul setelah teori aksi (action theory). Teori interaksi simbolik berkembang pertama kali di Chicango University dan dikenal aliran Chicango. Tokoh utama dari teori ini berhasil dari berbagai Universitas di luar Chicango, diantaranya Jhon Dewey dan Cooley filosof yang semula mengembangkan. 22.

(37) 23. teori interaksi simbolik di Michigan Uneversity kemudian pindah ke Chicango dan banyak memebri pengaruh kepada W.I. Thomas dan G.H.Mead. a. George Herbert Mead George Herbert Mead. lahir tahun 1863 di Massachussets. Umur. sebelas tahun ia sekoalah di Kolese Oberlin. Setelah lulus, ia mengajar sebentar di sekoalah dasar pekerjaan itu Cuma berlangsung empat bulan karena ia di pecat gara-gara terlalu sering mengusir keluar anak-anak yang suka rebut di sekolah. Pada tahun 1887, George Herbert Mead masuk Harvard University mengambil filsafat dan psikologi. Lewat gurunya, Josia Royce, ia menaruh minat besar pada filsafat Hegel. Pada masa-masa itu, George Herbert Mead bertemu sejumlah orang-orang berpengaruh ataupun sekedar karya mereka, misalnya William James, Helen Castle (wanita yang kelak di sontingnya di Berlin), Mead sempat berhubungan dengan Jhon Dewey dan Charles Horton untuk alasan akademis. Mead sangat di pengaruhi oleh teori evolusi Darwin, bahwasanya organisme secara berkelanjutan terlibat dalam usaha penesuaian diri dari lingkungannya sehingga dia melihat pikiran manusia sebagai sesuatu yang muncul dalam proses evolusi alamia. Pemunculan itu memungkinkan manusia untuk menyesuaikan diri secara lebih efektif dengan alam. b. Harbert Blumer Harbert. Blumer. berpendidikan. di. Universitas. Misaori.. Dia. mendapatkan gelar B.A. dan M.A. pada tahun 1921 dan 1922 secara berturut-. 23.

(38) 24. turut. Kemudian pindah ke Universitas Chicago. Di sini dia mengalami pengaruh yang kuat tentang pemikiran Harbert Mead. Secara lengkap gelar Ph.D-nya didapat pada tahun 1929. Dia tinggal di Chicago untuk beberapa tahun, kemudian pada tahun 1950 dia pindah ke Berkeley, dan menetap selamanya di Kota Berkeley. Perhatian intelektualnya berfokus pada psikologi sosial, perilaku kolektif dan system hubungan dengan Negara massachusetis (Negara bagian Amerika Serikat). Dia bertanggung jawab terhadap perkembangan istilah interaksi simbolik dan dia membuat kontribusi besar terhadap perkembangan istilah interaksi simbolik dan dia membuat kontribusi besar terhadap model ini sebagai teori dalam sosiologi. Karya-karyanya sebagian besar berupa artikel mengenai kerja sama antar Negara, perilaku kolektif,. dan. sistem. hubungan. dengan. Negara. Masssauchusetis.. Bagaimanapun, koleksi karyanya sangat otoritatif, yaitu interaksi Simbolik, prespektif dan metode (1969); karya ini berhubungan dengan diskusi-diskusi kita saat ini. Harbert Blumer sangat memeperhatinkan perkembangan teori interaksi simbolik tentang masyarakat, interaksi simbolik berhubungan dengan karakter yang ganjil dan jelas, interaksi sebagaimana telah diletakkan diantara manusia. Keganjilan ini terdiri dari timbal balik dan interpretasi simbolik. Sosiologi menurut perspektif ini adalah menyangkut proses penafsiran manusia, baik secara individu maupun kelompok entang tindakan manusia sebagai masyarakat, sebuah paradigm konseptualisasi masyarakat sebagai sebuah sistem tentang proes penafsiran.. 24.

(39) 25. Menurut banyak pakar pemikiran George Harbert Mead, sebagai tokoh sentral, teori ini, berlandaskan pada beberapa cabag filsafat antara lain pragmatisme dan behaviorisme. Pragmatisme dirumuskan oleh John Dewey. William James, Charles Peirce, Josiah Royce, aliran filsafat ini memiliki beberpa pandangan yaitu : Realitas yang sejati tidak pernah ada di dunia nyata, melainkan secara aktif di ciptakan ketika kita bertindak terhadap dunia. Percaya bahwa mengingat dan melandaskan pengetahuan mereka tentang dunia pada apa yang terbukti berguna bagi mereka. Behavorisme. menurut Mead, manusia harus di pahami berdasarkan pada apa yang mereka lakukan. Namun, manusia punya kualitas lain membedakannya dengan mahluk lain, termasuk manusia, adalah dengan mengamati perilaku mereka secara langsung dan seksama. Mead menolak gagasan itu, menurutnya pengamatan atas perilaku luar manusia semata menafikan kualitas penting manusia yang berbeda dengan kualitas alam. Interasionisme simbolik menurut George Herbert Mead mempelajari tindakan sosial dengan mengunakan tehnik intropeksi untuk dapat mengetahui sesuatu yang dapat melatarbelakangi tindakan sosial itu dari sudut actor. Jadi, interaksi simbolik memandang manusia bertindak bukan semata-mata karna stimulus dan respon, melainkan juga didasar atas makna yang di berikan terhadap tindakan terebut. Menurut George Herbert Mead manusia mempunyai sejumlah kemungkinan tindakan dalam pemikiran sebelum ia memulai tindakan yang. 25.

(40) 26. sebenarnya, seseorang terlebih dahulu berbagai alternative tindakan itu melalui pertimbangan pemikirannya. Karna itu, dalam proses tindakan manusia terdapat suatu proses mental yang di tutup yang mendahului proses yang sebenarnya. 5. Manusia dan Makna dalam Prespektif Interaksi Simbolis George Herbert Mead memandang realitas sosial dengan kecamata psikologi sosial sebagai sesuatu proses yang dinamis bukan statistis. Manusia maupun aturan sosial “akan jadi”, bukan sebagai fakta yang sudah lengkap dan terminasi. George Herbert Mead meni bagaimana proses individu menjadi anggota organisasi (mayarakat). George Herbert Mead menagawalinya dengan diri (self) yang menjalani internalisasi interpertasi subjektif atas realitas truktur yang lebih luas. “diri” ini berkembang ketika orang belajar, mengambil peran orang lain. Manuia di amping itu mampu memahami diri sendiri. a. Defenisi Masyrakat PerKotaan Masyarakat perKotaan sering disebut urban community. Masyarakat Kota memprlihatkan sifat yang lebih mementingkan Rasionalitas dan sifat rasional ini erat hubungannya dengan konsep gesellchaff atau association. Mereka tidak mau mencampuradukan hal-hal yang bersifat emosional atau yang menyangkut perasaan pada umumnya dengan hal-hal yang bersifat rasional, itulah sebabnya tipe masyarakat itu disebut netral dalam perasaanya. Menurut Max Weber. Kota adalah apabila penghuni setempatnya. dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal.. 26.

(41) 27. b. Defenisi Masyarakat Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah system semi tertutup dan semi terbuka di mana sebegian besar interaksi adalah antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok. Kata masyarakat sendiri berakar dari kata dalam bahasa arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan. antara. entitas-entitas.. Masyarakat. adalah. sebuah. komunitas yang interdependen saling tergantung satu sama lain. Pada umumnya, istilah masyarakat di gunakan untuk mengacuh sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. setempat c. Defenisi masyarakat setempat Masyarakat setempat adalah suatu wilayah kehidupan sosial yang di tandai oleh suatu derajat hubungan sosial tertentu yang menjadi dasar adanya masyarakat setempat adalah lokalitas serta perasaan masyarakat sssetempat tersebut. Pada umumnya anggota masyarakat setempat memiliki ikatan soliadritas yang kuat sebagai pengaruh kesatuan tempat tinggalnya. d. Defenisi perumahan Perumahan adalah kelompok rumah. yang berfungsi. sebagai. lingkungan tempat tinggal atau hunian yang di lengkapi dengan prasarana lingkungan yaitu kelengkapan dasar fisik lingkungan, misalnya penyediaan air minum, pembuangan sampah, tersedianya listrik, yang memungkinkan lingkungan pemukiman berfungsi sebagaimana mestinya.. 27.

(42) 28. Menurut WHO, rumah adalahstruktur fisik atau bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk kesehatan keluarga dan individu (komisi WHO mengenai kesehatan dan lingkungan, 2001). e. Defenisi perumahan Yang di maksud dengan perumahan adalah perumahan yang di jaga ketat oleh satpam-satpam atau security dan di lengkapi fasilitas-fasilitas mewah dan hanya orang tertentu yang biasa memasuki perumahan tersebut.. B. Teori Solidaritas Sosial Mekanik Dan Organik. 1). Emile Durkheim Emile Durkheim mengacu pada dua tipe solidaritas sosial yaitu mekanik dan organik. Solidaritas mekanik adalah suatu mayrakat yang dicirikan karena semua orang generalis, dalam kegiatan-kegiatan yang mirip dan memiliki tanggung jawab yang mirip, sedangkan solidaritas organik adalah suatu masyrakat yang dicirikan disatukan oleh perbedaan-perbedaan di antara individu dalam masyarakat, memiliki kegiatan dan tanggung jawab yang berbeda, sehingga solidaritas organik dicirikan dengan diferiansi dan spesifikasi. a. Solidaritas Mekanis Emile Durkheim,mengatakan ciri khas yang pailing penting dari solidaritas mekanis itu terletak pada tingkat homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan, sentiment, dan sebaginya. Homogenitas serupa itu hanya. 28.

(43) 29. mungkin kalau pembagian kerja division of labor bersifat terbatas. Model solidaritas seperti ini biasa di temukan dalam masyrakat primitif atau masayrakat tradiosonal yang masih sederhana. Dalam masyakat seperti ini pembagian kerja hamper tidak terjadi. Seluruh kehidupan dipusatkan pada sosok kepala suku atau kepala adat. Solidaritas mekanis didasarkan pada suatu ‘kesadaran kolektif (collective consciusness’) yang dilakukan masyarakat dalam bentuk kepercayaan dan sentimen total di antara para warga masyarakat. individu dalam masyarakat seperti ini cenderung homogen dalam banyak hal. Keseragaman tersebut berlangsung terjadi dalam seluruh aspek kehidupan, baik sosial, politik, bahkan kepercayaan atau agama. Doyle Paul Jhonson (1996) secara terperinci menegaskan indikator sifat kelompok sosial atau masyarakat yang di dasarkan pada solidaritas mekanis, yakni: 1. Pembagian kerja rendah 2. Kesadaran kolektif kuat 3. Hokum represif dominan 4. Invidualitas rendah 5. Konsensus terhadap pola normative penting 6. Adanya keterlibatan komonitas dalam menghukum orang yang menyimpang. 7. Secara relative sifat ketergantungan rendah 8. Bersifat primitif atau pedesaan. Contoh masyarakat suku kajang yang berada di kabupaten bulu kumba Sulawesi Selatan yang masih menganut tipe solidaritas sosial mekanik, karena. 29.

(44) 30. Masyrakat kajang memiliki sifat homogenitas diantara semua kalangan masyarakat seperti memakai baju hitam, anti teknologi dan keprcayaan kepada agama islam. Homogenitas itulah yang mempersatukan masyarakat suku kajang. Fakta sosial yang dikemukakan oleh Emile Durkheim menjelaskan bahwa dalam masyarakat terdapat adanya cara bertindak manusia yang umumnya terdapat pada mayarakat tertentu yang sekaligus memiliki eksistensinya sendiri, dengan cara dan dunianya sendiri terlepas dari manifestasi- manifestasi individu, contoh yang paling sederhana adalah adanya norma-norma yang menggiring masyrakat untuk berubah. Berangkat dari fakta sosial mengenai perubahan. Dia menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi dengan tatanan yang ada di masyarakat. Menurut Emile Durkheim, perubahan yang terjadi adalah karna adanya solidaritas yang didasarkan pada pembagian kerja sehingga pembagian kerja adalah syrat hidup bagi mayarakat modern karena merupakan kajian moral. Ia menunjukkan pembagian kerja tersebut sebagai salah satu sumber terpenting dalam solidaritas karena pada dasarnya manusia hidup yang saling bergantung sehingga perlu adanya aturan-aturan yang mengatur hubungan masyrakat. Emile Durkheim membagi solidaritas tersebut menjadi dua macam, yaitu solidaritas mekanis dan solidaritas organis. Solidaritas mekanis didasarkan atas persamaan. Persamaan dan kecenderungan untuk berseragam, inilah yang membentuk struktur sosial masyarakat segmenter dimana masyarakat bersifat homogen dan mirip satu. 30.

(45) 31. sama lain. Apabila salah satu segmen itu hilang maka tidak akan berpengaruh besar terhadap segmen yang lainnya. Ciri masyarakat dengan solidaritas mekanis ini ditandai dengan adanya kesadaran kolektif dimana mereka mempunyai kesadaran untuk hormat pada ketaatan karena nilai-nilai keagamaan masih sangat tinggi. Hukuman yang terjadi bersifat represif yang di balas dengan penghinaan terhadap kesadaran kolektif. sehingga. memperkuat kekuatan diantara mereka. b. Solidaritas Organis Solidaritas organis terjadi di mayarakat yang ralatif kompleks dalam kehidupan sosialnya namun terdapat kepentingan bersama atas dasar tertentu. Solidaritas organis muncul karena pembagian kerja bertambah besar. Solidaritas ini di dasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi. Ketergantungan ini di akibatkan karena spesialisasi yang tinggi di antara keahlian individu. Spesialisasi ini juga sekaligus mengurangi kesadaran kolektif yang ada dalam masyarakat mekanis. Akibatnya, kesadaran dan homogenitas dalam kehidupan sosial tergeser. Keahlian yang berbeda dan spesialisasi itu, muncullah ketergantungan fungsional yang bertambah anatara individu-individu yang memiliki spesialisasi dan secara relative lebih otonom sifatnya. Menurut Durkheim, (1895) itulah pembagian kerja yang mengambil alih peran yang semula di dasarkan oleh kesadaran kolektif. Contoh dalam solidaritas organis ialah Doyle Paul Jhonson (1996), pun secara terperinci menegaskan indikator sifat kelompok sosial atau masyarakat pada solidaritas organis, yaitu, yakni:. 31.

(46) 32. 1. Pembagian Kerja Tinggi 2. Kesadaran kolektif lemah 3. Hukum restitutif/memulihkan dominan 4. Individualitas tinggi 5. Konsensus pada nilai abstrak dan umum penting 6. Badan-badan control sosial menghukum orang yang menyimpang 7. Saling ketergantungan tinggi 8. Bersifat industrial perKotaan Contohnya pada masyarakat Kota Makassar yang telah menganut solidaritas organik, karena masyarakat di persatukan karena perbedaan, termasuk dalam pekerjaan, hal yang bersifat diferensiasi dan spesialisasi, dengan ciri individualitas yang sangat tinggi. Namun heterogenitas tersebutlah mempersatukan masyarakat Kota Makassar. Sumber analisa Durkheim mengenai pembedaan tersebut yaitu didasarkan pada bukunya The Division Of sLabour In Society. Tujuan karya ini adalah untuk menganalisa pengaruh kompleksititas dan spesialisasi pembagian kerja dalam struktur sosial dan perubahan-perubahan yang diakibatkannya dalam bentuk-bentuk pokok - pokok solidaritas sosial. Solidaritas organis lebih mengarah ke penghapuasan konsep kolektifitas artinya setiap individu berperan sebagaimana orang mempunyai peran dan fungsi masing-masing yang saling bergantung dan tidak dapat diambil alih orang lainnya. Maka dikenal dengan pembagian kerja yang jelas dan terstruktur yang tidak berkelompok sebagaimana segmen-segmen dalam. 32.

(47) 33. solidaritas mekanis sehingga mengharuskan semua elemen bekerja sama. Sedangkan secara umum, solidaritas membawa dampak positif dan negatif. Solidaritas dikatakan positif apabila mengahsilkan hal-hal baik yang berguna dan tidak merugikan di masyrakat. Contohnya adalah cerita Andrea Hirata dalam sang pemimpi. Aria dan Ikal bertekad mewujudkan mimpinya dengan belajar lebih giat dan semangat bersekolah. Karena rasa solidaritas dan persamaan yang tekad, keduanya berkomitmen untuk saling mendukung satu sama lain. Bersama-sama mewujudkan miminya dengan bersekolah bersama. Susah dan senang bersama demi cita-cita. Solidaritas dikatakan negatif apabia membawa dampak dan nilai negatif yang tidak baik bagi masyarakat. Misalnya pada geng motor yang sering meresahkan warga. Rasa persamaan kekuatan bersama dirasakan sangat kuat yang membuat geng motor tersebut semakin kompak dan kuat rasa persatuannya. sehingga. mereka. semakin. lihai. dalam. memerankan. keburukannya di masyarakat. Apabila salah satu anggota tidak mengikuti aturan yang ada di dalamnya maka dianggap bukan merupakan anggota geng dan akan dikucilkan. Hal tersebut membawa dampak masyrakat. terdapat. adanya suatu tatanan kerja sama baik yang bersifat segmenter maupun non kolektif yang mempunyai sifat positif dan negative masing-masing. C. Teori tentang Perumahan Ada beberapa pengertian mengenai rumah dan perumahan menurut The Dictionary Of Real Estate appraisal dalam rahma (2010) pengertian property perumahan adalah tanah kosong atau sebidang tanah yang di. 33.

(48) 34. kembangkan, digunakan atau di sediakan untuk tempat kediaman, seperti single family houses, apartemen, rumah susun. Berdasarkan undang-undang No.4 tahun 1992 tentang perumahan dan pemukiman : a. Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan aran pembinaan keluarga. b. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkukan hunian yang di lengkapi dengan sarana dan prasarana lingkungan. D. Teori tentang Lokasi Perumahan Graha Asri Lokasi merupakan tempat dimana sesuatu berada. Terkait dengan lokasi maka salah satu faktor yang menentukan apakah suatu lokasi menarik untuk di kunjungi atau tidak adalah tingkat aksesibilitas. Tingakat aksebilitas adalah tingkat kemudaahan untuk mencapai suatu lokasi di tinjau dari lokasi lain di sekitarnya (tarigan dalam Rahma, 2010). Tingkat aksesibilitas di pengaruhi oleh jarak, kondisi prasarana berhubungan, kesediaan berbagai sarana penghubung termasuk frekuensinya dan tingkat keamanan serta kenyamanan untuk melalui jalur tersebut. E. Teori Tentang Lingkungan Perumahan Lingkungan memiliki dua aspek dimensi yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial, yang termasuk dalam lingkungan sosial adalah semua interaksi sosial anatara di antara masyararakat ( Peter & Olsen dalam Rahma, 2010). Konsumen dapat berinteraksi dengan orang lain baik secara langsung. 34.

(49) 35. maupun secara mengamati. Sedangkan yang termasuk lingkungan fisik adalah semua aspek non manusia dalam lingkungan dimana perilaku konsumen terjadi (peter & Olsen dalam Rahma, 2010).. B. Hubungan Sosial Hubungan sosial (Zaman, 2014) diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan-hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Di bawah ini faktor pendorong hubungan sosial sebagai berikut: 1. Kontak Sosial Kontak sosial adalah hubungan antara satu orang atau lebih melalui percakapan dengan saling mengerti tentang maksud dan tujuan masingmasing dalam kehidupan masyarakat. Berdasarkan prosesnya, kontak sosial ada 2 macam, yaitu: a. Kontak Primer, yaitu kontak sosial yang dilakukan secara langsung. b. Kontak Sekunder, yaitu kontak sosial yang dilakukan oleh media atau perantara. 2. Adanya Komunikasi Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain yang dilakukan secara langsung atau melalui media agar terjadi saling memengaruhi di antara keduanya. Komunikasi dapat dilakukan secara:. 35.

(50) 36. a. Verbal, dengan menggunakan kata-kata secara lisan. b. Nonverbal, dengan menggunakan bahasa isyarat atau bahasa tubuh. Komponen yang harus ada dalam komunikasi diantaranya pengirim pesan (sender), penerima pesan (receiver), pesan (message), umpan balik (feedback). Jenis-jenis hubungan sosial sebagai berikut: a. Hubungan antar invidu Hubungan ini bia sangat jelas atau konkret, tapi bisa pula tidak. Pada saat dua individu bertemu, interaksi sosial pun sudah mulai sebab adanya pihak lain yang dapat mengakibatkan perubahan dalam diri masing-masing. Dengan kata lain terjadi aki dan reaksi seperti penyebabnya antara lain bau minyak wangi, bau keringat yang menyengat, suara sepatu yang keras waktu berjalan. b. Hubungan antar kelompok Hubungan di sini orang-orang berinteraksi atas nama kelompok sebagai satu kesatuan bukan sebagai pribadi seperti kelompok si A dengan si B saling berinteraksi untuk mencapai kepentingan masingmasing. c. Hubungan antara invidu dengan kelompok Hubungan di sini berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Interaksi tersebut lebih mencolok apabila terjadi benturan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan kelompok. contohnya penyelanggaraan rapat umum akabar dengan seseorang pembicara. 36.

(51) 37. dipodium, seperti pengajian atau kampanye yang sering kita liat di TV atau secara nyata di sekitar kita.. C. Interaksi Sosial Menurut Walgito (Fatnar, 2014) interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dengan individu lain, individu satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, jadi terdapat adanya hubungan yang saling timbal balik. Interaksi sosial merupakan salah satu cara individu untuk memelihara tingkah laku sosial individu tersebut sehingga individu tetap dapat bertingkah laku sosial dengan individu lain. Interaksi sosial dapat pula meningkatkan jumlah atau kuantitas dan mutu atau kualitas dari tingkah laku sosial individu sehingga individu makin matang di dalam bertingkah laku sosial dengan individu lain di dalam situasi sosial (Santoso, 2010). Menurut Soekanto (2012), interaksi sosial merupakan kunci semua kehidupan sosial karena tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Soekanto (2012), mengemukakan bahwa bentuk-bentuk interaksi sosial yaitu (1) kerja sama yang berarti suatu uasaha bersama antara perorangan ataukelompok untuk mencapai suatu tujuan, (2) akomodasi, sebagai suatu proses di mana orang perorangan saling bertentangan, kemudian saling mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan, (3) persaingan, diartikan sebagai suatu proses di mana individu atau kelompok bersaing mencari keuntungan melalui bidang kehidupan dengan cara menarik perhatian atau mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan. 37.

(52) 38. kekerasan atau ancaman, dan (4) konflik/pertentangan, adalah suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha memenuhi tujuan dengan jalan menantang pihak lawan dengan ancaman atau kekerasan. Menurut pemaparan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan interaksi sosial merupakan kesanggupan individu untuk saling berhubungan dan bekerja sama dengan individu lain maupun kelompok di mana kelakuan individu yang satu dapat mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu lain atau sebaliknya, sehingga terdapat adanya hubungan yang saling timbal balik. Di bawah ini adalah interaksi jenis-jenis pola interaksi sosial: a. Interaksi Sosial Antar Invidu Apabila dua orang bertemu, walaupun kedua orang tersebut tidak saling berbicara, sebenarnya interaksi sosial telah terjadi karena diantara mereka sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahanperubahan dalam perasaan maupun syaraf kedua orang tersebut. b. Intraksi Sosial antar Kelompok Interaksi sosial antara satu kelompok dengan kelompok lainnya terjadi sebagai suatu kesatuan dan bukan menyangkut pribadi-pribadi sebagai anggota dari kelompok yang bersangkutan. c. Interaksi sosial antara individu dengan kelompok sosial Interaki sosial antar individu dengan kelompok berbeda-beda sesuai dengan keadaan setiap hubungan itu. Misalnya interaksi antara seorang guru dengan siswanya di kelas. Contohnya guru yang menghadapi siswa-siwa di. 38.

(53) 39. kelas pada awalnya akan berusaha menguasai para siswanya agar interaksi sosial bisa berlangsung dengan seimbang.. B. Penelitian yang Relevan a. Altim Setiawan. 2005. Fenomena Kawasan Permukiman yang Individualis. Perancangan. permukiman. yang. mengakodasi. interaksi. sosial. merupakan suatu salah satu konsep dalam melibatkan masyrakat dalam pembangunan. kawasan. pemukiman.. Konsep. juga. ternyata. mampu. meningkatkan kawasan bersama terhadap lingkungan. Membangun pagar tinggi di halaman rumah dan membentengi kawasan pemukiman bukan solusi yang tepat. Justru efek yang di timbulkan akan semakin memperlebar kesenjangan sosial antara masyrakat pemukiman baru dan masyarakat di sekitar permukiman (kampung) yang pada akhirnya akan meningkat vondalisme. b. Arief Rahman. 2015. Dampak Pembangunan Perumahan Kawasan Pinggiran Kota Terhadap Masyarakat Setempat, (Studi Kasus Kecamatan Gedebage, Bandung). Hubungan sosial antar warga sekitar area perumahan tetap harmonis, munculnya kelas baru yaitu penghuni perumahan menimbulkan kecemburuan dari warga setempat, warga setempat merasa bahwa penghuni perumahan bukan merupakan bagian dari masyarakat yang ada karena mereka tidak bersedia mengikuti norma bersama. Hubungan antar warga setempat dengan penghuni perumahan bagi beberapa orang masih terjalin karena faktor kesukuan atau agama. Pembangunan perumahan tidak cukup dirasakan. 39.

(54) 40. dmpaknya terhadap pendidikan warga setempat. Hal ini mengacu pada tidak adanya perbaikan fasilitas pendidikan seperti sekolah bagi warga setempat. Namun, angka melanjutkan sekolah sedikit meningkat, empat orang mengatakan lebih banyak orang yang melanjutkan jenjang pendidikan pasca pembangunan perumahan pengaruh pembangunan terhadap mata pencaharian warga cukup signifikan, banyak warga yang berganti profesi menjadi pekerja di perumahan, warga juga merasa bahwa mencari lapang kerja menjadi lebih mudah setelah adanya perumahan. Adapun biaya hidup cenderung masih sama saja tanpa peningkatan c. Ambar Teguh Sulistiayani. 2002. Problema dan kebijakan perumahan di perKotaan Keberadaan perumahan melekat pada suatu kawasan, berarti secara mutlak rumah berdiri membutuhkan lahan. Guna terpenuhi persyaratan perumahan yang memadai dan lingkungan yang baik maka sebuah rumah memerlikan lahan yang cukup. Sementara itu penyediaan lahan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan perumahan semakin sempit khususnya di perKotaan, permasalahan serupa menjadi semakin menonojol dari waktu ke waktu seiring dengan kebutuhan pertumbuhan perKotaan itu sendiri. Pertumbuhan perKotaan yang ditandai dengan bertambahnya keperluan fasilitas. Kota. baik. secara. kuantitatif. maupun. kualitatif. dan. keanekaragamannya juga harus di topang dengan lahan yang cukup luas. Pada saat kedua permasalahan ini muncul, yaiutu problem lahan perumahan dan lahan untuk sarana dan prasarana Kota ini di permukaan secara serentak maka akan menjadi semakin kritis. Bagaimana pun kedua kebutuhan yang saling 40.

(55) 41. bersebrangan ini memiliki modus yang sama, dengan demikian lahan yang di butuhkan menjadi semakin luas. Pertumbuhan Kota yang pesat membutuhkan lahan yang luas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pusat-pusat kegiatan Kota, seperti prasarana jalan, pusat-pusat industri, mall, supermarket, jaringan transportasi, terminal, pasar, hotel, kawasan pusat pemerintahan dan masih banyak lagi.. C. Kerangka Pikir Fenomena sosial adalah gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dan dapat diamati dalam kehidupan sosial. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan suatu gejala tidak bisa yang tengah terjadi di masyarakat. Fenomena sosial lahir dari perilaku manusia dalam kehidupan sosialnya yang membentuk suatu gejala sosial yang akhirnya menjadi sebuah fakta atau kondisi tertentu. Manusia tidak seperti bintang yang lebih rendah , manusia di bekali dengan segala kemampuan berfikir dan merenung dan kemampuan berfikir manusia itu di bentuk oleh proses interaksi sosial dalam kehidupan kelompok, dalam interaksi sosial orang belajar makna dan symbol yang memungkinkan mereka menerapkan kemampuan khas mereka sebagai manusia yakni berfikir. makna dan simbol memungkinkan orang melanjutkan tindakan (action) dan interaksi khas manusia. Orang mampu memodifikasi atau mengubah makna dan symbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi bedasarkan interpretasi mereka atas situasi tertentu.. 41.

(56) 42. Orang mampu melakukan modifikasi dan perubahan ini karena kemampuan mereka berinteraksi dengan dirinya sendiri yang memungkinkan mereka memeriksa tahapan-tahapan tindakan, menilai keuntungan dan kerugian yang relative dan kemudian memilih salah satunya. Pola-pola tindakan dan interaksi yang jalin menjalin itu membentuk kelompok dan masyarakat bagaimana supaya solidaritas di dalam Perumahan Graha Asri bisa dikatakan sebagai manusia yang saling berinteraksi demi mencapai tujuannya. masyarakat di persatukan karena perbedaan, termasuk dalam pekerjaan, hal yang bersifat diferensiasi dan spesialisasi. Solidaritas masyarakat didasarkan atas persamaan. Persamaan dan kecenderungan untuk berseragam, inilah yang membentuk struktur sosial masyarakat segmenter dimana masyarakat bersifat homogen dan mirip satu sama lain. Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah system semi tertutup dan semi terbuka di mana sebegian besar interaksi adalah antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok. Kata masyarakat sendiri berakar dari kata dalam bahasa arab, musyarak. Perumahan adalah kelompok rumah. yang berfungsi. sebagai. lingkungan tempat tinggal atau hunian yang di lengkapi dengan prasarana lingkungan yaitu kelengkapan dasar fisik lingkungan, misalnya penyediaan air minum, pembuangan sampah, tersedianya listrik, yang memungkinkan lingkungan pemukiman berfungsi sebagaimana mestinya.. 42.

(57) 43. Yang di maksud dengan perumahan adalah perumahan yang di jaga ketat oleh satpam-satpam atau security dan di lengkapi fasilitas-fasilitas mewah dan hanya orang tertentu yang biasa memasuki perumahan tersebut Fenomen Sosial Interaksi Masyarakat. Hubungan Sosial. Pola Interaksi Sosial. Antar Individu. Antar Kelompok. Antar Individu dengan Kelompok. Gambar 2.1. Kerangka Pikir. 43.

(58) 44. BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian Jenis Penelitian yang digunakan dalam Penelitian adalah Penelitian kualitatif.. Penelitian kualitatif adalah suatu proses Penelitian yang. menghasilkan deskripsi dari orang-orang atau perilaku dalam bentuk kata-kata baik lisan maupun tulisan. Salah satu ciri Penelitian kualitatif adalah bersifat deskriptif data yang dikumpulkan dalam bentuk kata-kata, gambaran dan bukan angka. Metode Penelitian kualitatif ini juga sering disebut metode Penelitian naturalistik, karena Penelitiannya dilakukan pada kondisi yang salamiah (naturalsetting). (Sugiyono,2013:89). Data data tersebut lebih banyak bercerita mengenai objek Penelitian sehingga tujuan Penelitian dapat tercapai.. B. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di perumahan Graha Asri Kota Makassar karena lokasi ini sangat tepat untuk mendapatkan data yang diinginkan peneliti.. C. Informan Penelitian Pemilihan. sampel. menggunakan. teknik. purposive. sampling.. Purposive Sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan. 44 44.

(59) 45. pertimbangan tertentu dengan maksud menemukan apa yang sesuai dengan tujuan Penelitian. Disini peni mengambil sampel dengan memilih orang-orang yang dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan sehingga akan memudahkan peni menjelajahi objek atau situasi sosial yang diteliti. (Sugiyono, 2013: 218-219).. D. Fokus Penelitian. Fokus Penelitian ini adalah mendata persepsi masyarakat terhadap Fenomena Sosial terhadap Masyarakat perumahan Graha Asri Kota Makassar.. E. Instrumen Penelitian Instrumen ini adalah merupakan alat untuk keperluan dalam Penelitian, seperti kamera, alat perekam, lembar observasi, dan peni itu sendiri. 1. Berdasarkan data di bagi atas dua kelompok yaitu: a) Data kuantitatif, yaitu data yang terbentuk angka atau data numerik, data yang di kumpilkan misalnya jumlah penduduk, jumlah angka pekerjaan dan sebagainya. b) Data kualitatif, yaitu data yang terbentuk bukan angka atau menjelaskan secara deskripsi tentang kondisi lokasi Penelitian seacara umum. 2. Menurut sumber data di bagi menjadi dua kelompok , yaitu:. 45.

(60) 46. a) Data primer, di peroleh melalui observasi lapangan yaitu suatu tehnik penyaringan data melalui pengamatan langsung pada objek Penelitian serta melakukan interfiu beberapa pihak yang terkait dengan data yang di butuhkan hal pencatatan data dengan melihat langsung keadaan sebenarnya menyangkut hal-hal yang relevan dengan permasalahan yang diangkat dalam Penelitian ini, data-data dari hasil kusioner seperti karakteristik masyarakat yang meliputi fenomena sosial terhadap masyarakat perumahan Kota Makassar. b) Data sekunder, dengan observasi pada intansi terkait dengan Penelitian yaitu salah satu teknik penyaringan data melalui instansi guna mengetahui data kualitatif pada objek Penelitian. Data ini bersumber dari beberapa instansi terkait dalam bentuk tabulasi maupun deskriptif jenis data yang di butuhkan mencangkup jumah penduduk, pekerjaan, usia dan pendidikan.. F. Jenis dan Sumber Data Data adalah penunjang. yang. sangat. penting dalam sebuah. Penelitian. Semakin banyak data yang diperoleh maka semakin bagus pula hasil akhir dari suatu Penelitian. Data primer adalah sumber data yang diperoleh secara langsung dari sumber asli atau pihak pertama, sedangkan data sekunder adalah sumber data yang diperoleh peni dari sumber yang sudah ada. Jenis data yang digunakan dalam penilitian ini adalah jenis data primer.. 46.

(61) 47. G. Teknik Pengumpulan Data Dalam Penelitian ini menggunakan beberapa cara dalam pengumpulan data yaitu: 1. Wawancara, baik secara formal maupun informal. Wawancara ini bertujuan untuk memperkuat apa yang telah didapat dari observasi langsung. Dalam Penelitian ini digunakan tekhnik wawancara mendalam (indepth iterview) yaitu dengan mengumpulkan sejumlah data dari informan dengan menggunakan daftar pertanyaan dengan merajuk pada pedoman wawancara yang telah disusun secara sistematis agar data yang ingin diperolah lebih lengkap dan valid. 2. Dokumentasi berupa gambar dan juga foto. Salah satu kelebihan dari dokumentasi ini adalah secara tidak langsung dapat mempresentasi realitas.. H. Teknik Analisis Data Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. (Sugiyono,2013:244).. 47.

(62) 48. Untuk menganalisis data, Penelitian ini menggunakan analisis data model interaktif Milles dan Huberman yaitu terdapat tiga proses yang berlangsung secara interaktif. Pertama, reduksi data, yaitu proses memilih, memfokuskan, menyederhanakan, dan mengabstraksikan data dari berbagai sumber data misalnya dari catatan lapangan dokumen, arsip, dan sebagainya, sedangkan proses mempertegas, memperpendek, membuang yang tidak perlu, menentukan fokus, dan mengatur data sehingga kesimpulan bisa dibuat. Kedua, penyajian data, seperti merakit data dan menyajikan dengan baik supaya lebih mudah dipahami. Penyajian bisa berupa matrik, gambar, skema, jaringan kerja, table dan seterusnya. Ketiga menarik kesimpulan/verifikasi, proses penarikan kesimpulan awal belum masih kuat, terbuka dan skeptic. Kesimpulan akhir akan dilakukan setelah pengumpulan data berkahir. (Sugiyono, 2010:246).. I. Teknik Keabsahan Data Dalam Penelitian kualitatif, data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peni dengan apa yang sesungguhnya terjadipada obyek Penelitian. Untuk menguji keabsahan data dalam Penelitian kualitatif dapat digunakan uji kredibilitas. Menurut Sugiyono (2013: 270) untuk menguji kredibilitas suatu Penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu:. 48.

Referensi

Dokumen terkait

This research has designed a software system to detect the abnormalities of pulmonary X-Ray Thorax images based on GLCM using backpropagation neural network.. Chest X-ray of