• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efektivitas Aplikasi Bacillus Thuringiensis Israelensis (Bti) terhadap Pemberantasan Larva Aedes aegypti

N/A
N/A
Dimas Sabila R.H @XI MIPA 3_11

Academic year: 2023

Membagikan "Efektivitas Aplikasi Bacillus Thuringiensis Israelensis (Bti) terhadap Pemberantasan Larva Aedes aegypti"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

Judul: Efektivitas Aplikasi Bacillus Thuringiensis Israelensis (Bti) untuk Membasmi Jentik Aedes Aegypti di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Berpencahayaan di Kelurahan Rawasari dan Kelurahan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat. Positif Jentik Aedes aegypti di Kelurahan Rawasari dan Kelurahan Cempaka Putih Barat Jakarta Pusat………..39 Tabel 4.

Latar Belakang Masalah

Untuk mengatasi kasus demam berdarah ini, ada satu pilihan alat yaitu bioinsektisida yang merupakan obat nyamuk alami yang berasal dari jenis bakteri gram positif bernama Bacillus thuringiensis israelensis (Bti). Selain itu, pemerintah juga telah melakukan survei entomologi untuk melihat efektivitas penerapan Bacillus thuringiensis israelensis (Bti) dalam menurunkan angka kejadian demam berdarah.

Rumusan Masalah

Kajian entomologi bertujuan untuk mengetahui kepadatan dan sebaran vektor demam berdarah yang diamati berupa larva Aedes aegypti.

Hipotesis

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Tujuan Khusus

Mengenali Karakteristik Tempat Sampah Berlampu dalam Uji Ekivalensi di Kecamatan Rawasari dan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat. Untuk mengetahui efektivitas Bti dalam menurunkan jumlah jentik Aedes aegypti di tempat pembuangan sampah terang di Kelurahan Rawasari dan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat.

Manfaat Penelitian

  • Manfaat Bagi Peneliti
  • Manfaat Bagi Perguruan Tinggi
  • Manfaat Bagi Pemerintah
  • Manfaat Bagi Masyarakat

Penerapan Bti untuk keberadaan jentik Aedes aegypti di tempat pembuangan sampah terang di Kelurahan Rawasari dan Kelurahan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat. Wadah berisi jentik Aedes aegypti sebelum dan sesudah intervensi di Kelurahan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat.

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Demam Berdarah Dengue (DBD)

Etiologi Demam Berdarah Dengue (DBD)

Identifikasi Aedes aegypti

Efek yang terjadi bila distimulasi adalah larva langsung menyelam selama beberapa detik kemudian kembali lagi ke permukaan air. Sedangkan saat mengambil oksigen dari udara bebas, larva meletakkan siphonnya di atas permukaan air sehingga perutnya menggantung di atas permukaan air. Efek yang terjadi bila distimulasi adalah pupa akan bergerak cepat dan menyelam selama beberapa detik, kemudian kembali ke permukaan air.

Ciri khas nyamuk dewasa ini adalah kecapi, sepasang garis putih sejajar di tengah dada, dan lekukan putih tebal di tepinya. Belalai berwarna hitam, sculletum bersisik lebar berwarna putih, dan perut bergaris putih pada bagian pangkal.

Gambar 2.3 Larva Aedes, Anopheles dan Culex. 7
Gambar 2.3 Larva Aedes, Anopheles dan Culex. 7

Habitat

Perkembangan nyamuk Aedes aegypti khususnya jentik dipengaruhi oleh makanan yang ada pada media khususnya mikroorganisme yaitu bakteri dan spora jamur.

Perilaku Nyamuk Dewasa

Bionomik Aedesaegypti

Tempat Penampungan Air (TPA) yaitu tempat penyimpanan air untuk kebutuhan sehari-hari seperti drum, toples, bak mandi, ember, dll. Tempat bukan tempat penyimpanan air (non-TPA), yaitu tempat penyimpanan tetapi bukan untuk kebutuhan sehari-hari seperti tempat minum hewan peliharaan, barang bekas (kaleng, ban dan botol), vas bunga, wadah dispenser air dan lain sebagainya. Tempat penampungan air alami buatan, seperti lubang pohon, lubang batu, batok kelapa, pohon pisang, dll.

Faktor Lingkungan Fisik

Selain itu, jenis, warna, dan kemampuan wadah menyerap air juga berhubungan dengan kepadatan larva Aedes aegypti. Wadah yang terbuat dari bahan kasar yang dapat menyerap air dan berwarna gelap merupakan tempat bertelur yang baik bagi Aedes aegypti dibandingkan dengan wadah yang terbuat dari bahan halus dan kering.Perkembangan embrio pada telur memerlukan kadar air tertentu yang diperoleh melalui cara imbibisi. Misalnya keramik merupakan bahan wadah yang tidak dapat menyerap air, sehingga dapat mempengaruhi perkembangan embrio dan menurunkan persentase penetasan telur, sehingga secara tidak langsung mengurangi kepadatan larva Aedes aegypti.14.

Nyamuk Aedes aegypti betina lebih suka menyimpan telurnya di wadah air terbuka yang berwarna gelap, dan terutama di tempat yang terlindung dari penerangan terutama sinar matahari.15. Menurut Nelson, nyamuk Aedes aegypti lebih suka bertelur dan berkembang biak di genangan air bersih yang biasa digunakan untuk mandi atau minum (wadah TPA) dibandingkan di genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah atau yang lebih alami (non TPA). wadah). 16.

Faktor Lingkungan

Ukuran Kepadatan Populasi Aedes aegypti

Bacillus thuringiensis

Hal ini mendorong larva Aedes aegypti lebih mudah mempercepat laju penyerapan endotoksin Bacillus thuringiensis H-14, yang pada akhirnya larva Aedes aegypti akan mati. Kristal protein beracun akan masuk ke serangga sasaran melalui mulut dan larut karena suasana basa. Protein yang teraktivasi akan berikatan dengan protein reseptor pada permukaan sel epitel usus.

Penggunaan Bti sebagai insektisida dinilai menguntungkan karena memiliki beberapa manfaat lain, salah satunya adalah pemberantasan nyamuk Aedes aegypti. Insektisida Bti tidak mempunyai aktivitas spektrum luas sehingga daya bunuhnya hanya terfokus pada serangga sasarannya.

Kerangka Konsep

Populasi yang dicakup dalam penelitian ini adalah seluruh wadah TPA yang dilengkapi penerangan di Kelurahan Rawasari dan Kelurahan Cempaka Putih Barat Jakarta Pusat. Desa Rawasari ditetapkan sebagai wilayah intervensi dan Desa Cempaka Putih Barat sebagai wilayah kontrol. Karakteristik TPA dengan Penerangan di Kelurahan Rawasari dan Kelurahan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat Kelurahan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat.

Indeks sebaran dan kepadatan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Rawasari dan Kelurahan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat, merupakan daerah penularan demam berdarah yang tinggi. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan berdasarkan karakteristik TPA dan pencahayaan pada uji kemiripan di Kelurahan Rawasari dan Kelurahan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat.

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen untuk mengetahui efektivitas penerapan Bti dalam pemberantasan jentik Aedes aegypti. Peneliti mengamati jentik Aedes aegypti di TPA yang diberi penerangan sebelum aplikasi dan satu bulan setelah aplikasi Bti.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Populasi dan Sampel Penelitian

Di semua TPA terpilih, kami mencatat keberadaan larva Aedes aegypti pada populasi target.

Kerangka Sampel

  • Besar Sampel
  • Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple random sampling yang dilakukan pada seluruh tempat sampah di Kecamatan Rawasari dan Kecamatan Cempaka Putih Barat Jakarta Pusat. Pengambilan sampel larva dilakukan dengan metode single larva, yaitu diambil satu larva dari setiap wadah yang ada di rumah warga kemudian diidentifikasi di bawah mikroskop.

Rencana Manajemen dan Analisis Data

  • Alokasi dan Pemilihan Subyek
  • Pengumpulan Data dan Manajemen Penelitian
  • Analisis Data

Pemilihan sampel larva dilakukan dengan metode single larva yaitu diambil satu ekor larva dari setiap wadah di rumah warga yang terdapat larva. Larva tersebut kemudian diamati menggunakan mikroskop untuk mengidentifikasi jenis jentik nyamuk menggunakan kunci identifikasi untuk mendapatkan data penelitian sebelum penerapan Bti. Sebulan kemudian, peneliti bersama Jumatic mendatangi rumah warga untuk mengambil sampel ulang jentik dengan metode single larva, yakni diambil satu jentik dari setiap wadah di rumah warga yang terdapat jentik di dalamnya.

Larva kemudian diamati dengan mikroskop untuk mengetahui jenis jentik nyamuk dengan kunci identifikasi sehingga dapat diperoleh data penelitian dengan aplikasi Bti. Uji ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang bermakna antara pemberian Bacillus thuringiensis israelensis (Bti) dengan kepositifan larva Aedes aegypti di Kecamatan Cempaka Putih.

Alat dan Bahan

Di Kecamatan Cempaka Putih Barat (55,5%) dan Kecamatan Rawasari (51,7%), tidak terdapat perbedaan bermakna antara daerah asal wadah dengan sumber air pada wadah yaitu p > 0,05. Di Kecamatan Cempaka Putih Barat (59%) dan Kecamatan Rawasari (49%), tidak terdapat perbedaan bermakna antara daerah asal wadah dengan volume air wadah, p > 0,05. Di Pengadilan Negeri Cempaka Putih Barat (93,5%) dan Pengadilan Negeri Rawasari (91%), mayoritas ditemukan di tempat pembuangan sampah yang tidak diberikan diskon.

Antara Desa Rawasari dan Desa Cempaka Putih Barat pola perkembangan larva tidak berbeda nyata. Penerapan Bacillus thuringiensis israelensis (Bti) belum bisa dikatakan efektif mengurangi keberadaan jentik Aedes aegypti di tempat pembuangan sampah dengan penerangan di Kelurahan Rawasari dan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat.

Kriteria Inklusi, Kriteria Eksklusi, dan Drop Out

  • Kriterian Inklusi
  • Kriteria Eksklusi
  • Kriteria Drop Out

Identifikasi Variabel

Definisi Operasional

Masalah Etika

Berdasarkan karakteristik jenis wadah TPA dengan pencahayaan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara daerah asal wadah dengan jenis wadah di Desa Cempaka Putih Barat dan Desa Rawasari yaitu p > 0,05. Di kedua wilayah tersebut, yaitu Desa Cempaka Putih Barat dan Desa Rawasari, jumlah kontainer tanpa tanaman atau ikan paling banyak ditemukan. Di Kecamatan Cempaka Putih Barat (83%) dan Kecamatan Rawasari (88%), jumlah kontainer yang terkuras terbanyak dalam seminggu terakhir.

Hasil penelitian menunjukkan sebelum dan sesudah penerapan Bti di Desa Rawasari dan Desa Cempaka Putih Barat, HI > 10%, CI. Efektivitas cairan Bacillus Thuringiensis israeliensis terhadap kepadatan populasi jentik Aedes aegypti di Desa Cempaka Putih Barat dan Cempaka Putih Timur.

HASIL PENELITIAN

Data Umum

Kecamatan Cempaka Putih memiliki luas wilayah 468,69 hektar, dengan jumlah penduduk 79.076 jiwa dan kepadatan penduduk 16.872/km2. Berdasarkan referensi Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Pusat Jakarta, kecamatan di Kecamatan Cempaka Putih yaitu Rawasari, Cempaka Putih Barat, dan Cempaka Putih Timur merupakan zona merah DBD.5.

Data Khusus

  • Indeks distribusi dan kepadatan populasi larva Aedes aegypti
  • Karakteristik TPA dengan pencahayaan
  • Keberadaan larva Aedes aegypti pada TPA dengan pencahayaan 26

Kecamatan Cempaka Putih Barat dan Kecamatan Rawasari memiliki kontainer yang paling banyak ditemukan, yaitu Kecamatan Cempaka Putih Barat (89,8%) dan Kecamatan Rawasari (80%). Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa penurunan keberadaan jentik lebih banyak terjadi di Desa Rawasari sebagai wilayah intervensi dibandingkan di Desa Cempaka Putih Barat sebagai wilayah kontrol. Dari data yang diperoleh berdasarkan indeks sebaran dan kepadatan populasi jentik Aedes aegypti terlihat adanya penurunan indeks rumah (HI), indeks wadah (CI) dan indeks Breteau (BI) pada periode tersebut. pemeriksaan awal dan kedua. pemeriksaan di kedua wilayah tersebut, yaitu Desa Cempaka Putih Barat sebagai wilayah kontrol dan Desa Rawasari sebagai wilayah intervensi.

Keberadaan jentik Aedes aegypti di TPA lampu di Kelurahan Rawasari dan Kelurahan Cempaka Putih Barat Jakarta Pusat Tabel 4.2.3 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara keberadaan jentik Aedes aegypti sebelum dan sesudah penerapan Bti di TPA lampu di Kelurahan Rawasari dan Cempaka . Putih Barat. Meskipun jumlah tempat pembuangan sampah penerangan yang terdapat di Desa Rawasari dan Desa Cempaka Putih Barat menunjukkan perbedaan jumlah yang cukup besar, namun tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam sebaran jentik Aedes aegypti.

Tabel 4.2.2 Karakteristik TPA dengan Pencahayaan pada Kelurahan  Cempaka Putih Barat dan Kelurahan Rawasari, Jakarta Pusat
Tabel 4.2.2 Karakteristik TPA dengan Pencahayaan pada Kelurahan Cempaka Putih Barat dan Kelurahan Rawasari, Jakarta Pusat

DISKUSI

Indeks distribusi dan kepadatan populasi larva Aedes aegypti

Parameter yang digunakan untuk mengetahui kepadatan populasi jentik Aedes aegypti adalah House Index (HI) yang menunjukkan tingkat sebaran jentik Aedes aegypti, Container Index (CI) yang menunjukkan kepadatan jentik Aedes aegypti, dan Breteau Index (BI). ) sebagai indikator indeks sebaran dan kepadatan populasi jentik Aedes aegypti 20,21. Semua data tersebut tidak dapat diuji secara statistik karena data yang dianalisis hanya data dari TPA, sedangkan angka HI, CI, BI berasal dari seluruh container yang ada.

Karakteristik TPA dengan pencahayaan

Terdapat perbedaan nyata antara masyarakat di Kecamatan Cempaka Putih Barat yang lebih sering membuang air mandi dibandingkan dengan masyarakat di Kecamatan Rawasari yang status ekonomi dan tingkat pendidikannya relatif rendah. Hal ini disebabkan sebaran jentik Aedes aegypti di kedua wilayah tersebut, termasuk wilayah endemis demam berdarah.5. Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan Kevin dkk bahwa Bti tidak efektif menurunkan positif jentik Aedes aegypti yang tersebar di Kecamatan Cempaka Putih.35.

Hubungan kondisi lingkungan, wadah dan perilaku masyarakat dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di daerah endemis demam berdarah dengue di Surabaya. Pengendalian terpadu vektor virus demam berdarah dengue, Aedes aegypti (linn.) dan Aedes albopictus (skuse) (diptera:culicidae).

Keberadaan larva Aedes aegypti pada TPA dengan pencahayaan . 30

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

Surveilans terhadap tempat perkembangbiakan Aedes Aegypti di tempat penyimpanan air rumah tangga di masyarakat yang menggunakan air olahan. Hubungan Tempat Perkembangbiakan Vektor Dengan Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Terhadap Demam Berdarah Dengue di Kota Batam dalam World Medicine Review. Pedoman pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD) oleh petugas pemantau jentik (jumantik).

Kajian Indeks Larva Aedes Aegypti dan Hubungannya dengan Masyarakat WTP dalam kaitannya dengan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Palembang Sumatera Selatan Tahun 2005. Hubungan Faktor Lingkungan dan Perilaku Masyarakat dengan Keberadaan Vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kerja Puskesmas Denpasar Selatan I.

Tabel 1. Container larva Aedes aegypti sebelum dan setelah intervensi di  Kelurahan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat
Tabel 1. Container larva Aedes aegypti sebelum dan setelah intervensi di Kelurahan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat

Gambar

Gambar 2.3 Larva Aedes, Anopheles dan Culex. 7
Tabel 4.2.2 Karakteristik TPA dengan Pencahayaan pada Kelurahan  Cempaka Putih Barat dan Kelurahan Rawasari, Jakarta Pusat
Tabel 4.2.2 menunjukkan bahwa jenis kontainer TPA dengan pencahayaan  yang lebih banyak banyak digunakan pada kedua daerah adalah bak mandi, pada  Kelurahan Cempaka Putih Barat (57,4%) dan Kelurahan Rawasari (48,8%)
Tabel 4.2.3 Keberadaan Larva Aedes aegypti pada TPA dengan Pencahayaan  di Kelurahan Rawasari dan Kelurahan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat
+4

Referensi

Dokumen terkait

1.4 Pengaruh Perbedaan Jenis Bahan Kontainer terhadap Kepadatan Populasi Larva Nyamuk Aedes aegypti L.. di Lingkungan FKIP

GAMBARAN VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE DITINJAU DARI KEPADATAN NYAMUK DAN INDEKS LARVA Aedes aegypti DI KELURAHAN JRAKAH KECAMATAN TUGU KOTA SEMARANG.. Penyakit demam

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui toksisitas bakteri Bacillus thuringiensis isolat Madura terhadap berbagai instar larva nyamuk Aedes aegypti dan pengaruh toksin

Perbedaan kematian larva nyamuk Aedes aegypti pada berbagai dosis yang diberikan pada penelitian ini terjadi karena jumlah alkaloid karpaina yang diterima oleh larva

Tabel 4.3 memperlihatkan tidak didapatkan perbedaan bermakna antara proporsi rumah positif larva di daerah kontrol dan intervensi sebelum pemberian Bti yang berarti

Pengaruh Faktor Sosiodemografi dan Lingkungan terhadap Kepadatan Populasi Larva Nyamuk Aedes aegypti di Desa Benculuk, Kabupaten Banyuwangi; Dian Prima Agustina;

Data yang diperoleh dimasukkan pada tabel distribusi frekuensi untuk mengetahui konsentrasi efektif larutan daun papaya terhadap kematian larva aedes aegypti,

Pada toksin Cry protein, ICP yang dimakan oleh larva serangga akan melarut di dalam usus serangga, kemudian mengalami konversi menjadi toksin yang aktif secara biologis