PENDAHULUAN
BatasanMasalah
Agar penelitian lebih terarah dan fokus, maka dibatasi pada masalah pelarangan mantan narapidana pengedar narkoba, kejahatan seksual terhadap anak dan korupsi.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi akademisi serta dapat memberikan informasi dan referensi bagi mahasiswa hukum selanjutnya dan penulis sejenis.
Penelitian Terdahulu
Fitalen Ramdona dengan judul “Analisis Pasal 4 ayat (3) Peraturan KPU Nomor 20 Tahun 2018 tentang Tidak Diikutsertakannya Mantan Narapidana Narkoba, Kejahatan Seksual terhadap Anak, dan Korupsi dalam Seleksi Calon Anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota””. Tesis ijazah ini membahas latar belakang ketentuan ayat 3 pasal 4 PKPU no. hierarki peraturan perundang-undangan 5 Perbedaannya terdapat pada tesis. Fokusnya pada analisis ayat 3 Pasal 4 Aturan KPU, sedangkan tesisnya membahas larangan pencalonan mantan narapidana anggota parlemen, kejahatan seksual terhadap anak. dan korupsi pada Pasal 7(1) huruf h dan berkaitan dengan fiqh siyasa. 5 Fitalena Ramdona, Analisis Pasal 4 ayat (3) Peraturan No. 20 Komisi Pemilihan Umum Tahun 2018 tentang tidak diikutsertakannya mantan terpidana pengedar narkoba, pelaku kejahatan seks anak dan korupsi dalam pemilihan calon anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota, (Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, 2019).
Alam Sahri dengan judul “Analisis Hukum Terhadap Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Larangan Calon Wakil Legislatif Mantan Narapidana Tipikor Dari Perspektif Hukum”, skripsi ini membahas tentang hukum positif dalam kaitannya dengan PKPU no. . 20 Tahun 2018. - Terpidana korupsi untuk menjadi calon anggota legislatif, serta hukum Islam, melihat PKPU Nomor 20 Tahun 2018 yang melarang mantan narapidana korupsi menjadi calon anggota legislatif.
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian hukum normatif (Normative Law Research) Penelitian hukum normatif merupakan penelitian hukum yang memposisikan hukum sebagai bangunan sistem norma, peradilan, dan juga perjanjian. Menurut Sorjono Soekanto, penelitian hukum adalah suatu bentuk kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu atau lebih fenomena hukum tertentu dengan cara menganalisisnya. Penelitian hukum normatif disebut juga penelitian hukum doktrinal atau disebut juga penelitian kepustakaan atau penelitian dokumen, yang dilakukan atau diarahkan hanya pada peraturan tertulis atau bahan hukum lainnya.
8 Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta: Pustaka Mahasiswa, 2017), Cetak IV, h. Pendekatan yang penulis ambil dari pendekatan di atas adalah pendekatan hukum (state approach) dan pendekatan komparatif (comparative Approach). Pendekatan hukum merupakan pendekatan yang dilakukan dengan cara menganalisis seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan hukum. sedang diselidiki. . Bahan hukum utama yang digunakan terdiri dari UUD 1945, Al-Qur'an dan Hadits, serta dokumen resmi yang memuat ketentuan hukum.13 Dokumen tersebut antara lain UU Pemilu dan Peraturan KPU.
Bahan hukum sekunder diperoleh dari buku-buku tentang pokok-pokok hukum dan pandangan-pandangan para ulama yang berpendidikan tinggi. Dalam penelitian ini bahan hukum sekunder terdiri dari buku-buku di bidang hukum, artikel ilmiah dan jurnal. Mengenai teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan pengumpulan bahan hukum primer dan sekunder, yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan serta tinjauan Islam terhadap Al-Qur'an dan hadis, dan menggabungkan bahan hukum tersebut untuk dikorelasikan dengan penelitian ini. .
Sistematika Penulisan
Mengenai teknik analisis data, penulis menggunakan dua jenis metode, yaitu: Metode deduktif, yaitu metode yang digunakan untuk menyajikan materi atau teori yang bersifat umum untuk selanjutnya diuraikan dan diterapkan, atau menyajikan teori yang bersifat umum kepada pembaca. dijelaskan selanjutnya. dan diterapkan secara khusus dan rinci. Sedangkan metode induktif merupakan metode analisis yang dimulai dari fakta-fakta tertentu kemudian ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum. Hal inilah yang mendasari penyusunan bab-bab berikutnya agar bab yang satu runtut dan sistematis dengan bab yang lain.
Bab kedua berisi kajian teori, teori-teori yang berkaitan dengan tema yang akan diangkat dalam penelitian ini, Undangan, KPU, Konsep Legislator dan Maslahah Mursalah. Bab ketiga yang berisi tentang pembahasan, bab ini merupakan inti yaitu menganalisis data-data dan landasan teori yang telah disampaikan dan dikemukakan pada bab sebelumnya khususnya mengenai larangan pencalonan anggota legislatif terhadap sebelumnya. hukuman, kejahatan seksual terhadap anak dan korupsi dalam perspektif fiqh siyasa.
KAJIAN TEORI
Teori Perundang-Undangan
Peraturan perundang-undangan sesuai dengan Pasal 1 ayat 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang menurut tata cara yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. . KPU merupakan komisi negara yang berperan sebagai pendukung lembaga utama, sehingga kedudukan KPU tidak bisa disamakan dengan lembaga negara yang diatur dalam UUD 1945. Sebelum amandemen tahun 1945. Konstitusi, sistem ketatanegaraan Indonesia mengakui Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai lembaga tertinggi negara.
Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan pasal 5 sampai dengan 23, pasal 43 sampai dengan 51 dan pasal 65 sampai dengan 96. Sesuai dengan asas lex superior derogate lex inferiory yang artinya hukum yang lebih tinggi lebih diutamakan daripada undang-undang. hukum yang lebih rendah, yaitu menurut hierarki hukum. PKPU ini melanggar UU Pemilu, dimana UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017, Pasal 240(1)(g) tidak melarang mantan narapidana untuk menjadi anggota legislatif, asalkan bersedia jujur dan terbuka kepada publik. publik bahwa mereka adalah mantan narapidana.
Peraturan perundang-undangan menurut pasal 1 ayat 2 undang-undang no. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dengan tata cara yang ditetapkan dalam peraturan tersebut.46 1. Tidak hanya itu, pasal 8 ayat (2) Undang-undang tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menyatakan bahwa ada peraturan perundang-undangan yang diakui dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diatur oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau dibuat atas dasar suatu kekuasaan tertentu. Menurut Hans Nawiasky, norma dasar negara memuat norma hukum yang menjadi dasar pembentukan konstitusi atau hukum dasar suatu negara (staatsverfassung), termasuk norma pengubahnya.
Menurut Maria Farida Indrati, di Indonesia hanya undang-undang yang dapat berkedudukan sebagai peraturan formil dan peraturan materil. Sesuai dengan ketentuan Pasal 72 Undang-Undang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh DPSH dan Presiden disampaikan kepada Presiden oleh pimpinan DPR untuk disahkan menjadi undang-undang. Penetapan jangka waktu tidak dibayar selama 7 (tujuh) hari dipandang tepat untuk persiapan segala sesuatu yang berkaitan dengan penerbitan pengesahan Undang-undang tersebut oleh Presiden dan.
Pengumuman peraturan perundang-undangan dalam Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan tetap dilakukan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia, Lembaran Negara Republik Indonesia, Lembaran Daerah, Tambahan Lembaran Daerah atau Lembaran Daerah Provinsi. Ketentuan Pasal 89 UU Pembentukan Peraturan Daerah lebih maju perluasannya, tidak hanya menjadi kewenangan pemerintah saja, namun pemekaran dilakukan bersama-sama oleh DPR dan pemerintah. Sebab dalam UUD 1945, pada Pasal 28D ayat (3) yang berbunyi: “setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan”.
TeoriMashlahahMursalah
PEMBAHASAN
Tinjauan Fiqih Siyasah Terhadap Pencalonan Anggota Legislatif
PENUTUP
Saran
Pengaturan hak politik warga negara harus dituangkan dalam undang-undang khusus yang tidak diatur oleh KPU, sehingga tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di atasnya maupun peraturan perundang-undangan di bawahnya. Korupsi adalah kejahatan luar biasa dan sulit bagi pelakunya untuk tidak mengulanginya lagi. Presiden seharusnya mengeluarkan Perppu yang melarang mantan narapidana mencalonkan diri di legislatif. Bagir Manan, Peraturan Perundang-undangan, Yogyakarta: Kanisius, 2007 Daud Abu Busroh, Ilmu Pengetahuan Negara, Jakarta: Bumi Aksara, 2015.
Ismatullah, Deddy og Beni Ahmad Saebani, Constitutional Law Reflections on Constitutional Life in the Republic of Indonesia, Bandung: Pustaka Setia, 2018. Manan, Abdul, Legal Politics Comparative Studies in Islamic Constitutional Practices and Western Legal Systems, Jakarta: Kencana, 2016 Soekanto, Soerjono, og Sri Mamudji, Normative Legal Research Brief Overview, (rev.ed) Jakarta: Rajawali Press, 2011.
Suryana, Model Praktis Metode Penelitian Buku Ajar Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, Universitas Pendidikan Indonesia, 2012. Peraturan KPU No. 20 Tahun 2018 tentang Pengangkatan Anggota Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Daerah/Kota. Adlan, Andriko dan Sanur Tarihoran, “Filsafat Politik Islam Mengenai Kedudukan Mantan Narapidana Sebagai Anggota Legislatif”, Jurnal Hukum Islam ALHURRIYAH, Vol.
Aneka Rahma, “Analisis Hukum Kebijakan PKPU (Mantan Narapidana Tidak Boleh Mencalonkan Diri Anggota Legislatif) Sistem Jurnal STAI Bumi Silampai. Prosiding ISID, 318-123, no.